Welcome Guest
[Log In]
[Register]
| ||
|---|---|---|
![]() Summer 2016 Time: Juli-Agustus 2016 Temperature: 28-33 Celcius |
TERM 4Timeline: 2016/2017 Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001 Kuota Registrasi: 27/45 Kuota Murid Spesial: 2/2 Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2 Kuota Visualisasi Asia: 7/7 Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5 Daftar lebih lengkap |
[+] Langkah Bermain [+] Peraturan [+] Daftar Visualisasi [+] Formulir Registrasi [+] Jadwal Term 4 [+] About Tower Prepatory [+] Plots [+] Disclaimer and Credits [+] Wikia (On Development) |
|
|
|
|
| Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012. Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login: |
| 1st Grade: Biology (2013/2014); lesson: Microscope | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Apr 22 2012, 08:54 AM (1,973 Views) | |
| Post #1 Apr 22 2012, 08:54 AM | Biology |
|
Susah ya jadi guru ganteng. Kerjaannya buka kelas melulu. Tugasgurukanemangbukakelaswoy. Pria yang masih berusia tujuh belas tahun (di era Musashi) itu menghela napas panjang. Ditutupnya layar laptop sebelum ia melangkahkan kaki dari Ruang Guru menuju Gedung Pembelajaran. Cih, sejak dulu ia heran mengapa ruang untuk ngaso dan ruang untuk mengajar harus dipisah gedungnya. Apa gunanya ngaso kalau pada akhirnya harus berjalan lagi menuju ke gedung seberang? Kalau kekuatannya bisa berlari cepat seperti The Flash, sih, tidak apa-apa. Masalahnya yang bisa ia lakukan hanya mereplika DNA orang, cuy. Kalau ia pernah menyerap DNA jaguar sih, mungkin ia bisa berlari kencang. Tapi bagaimana caranya menyerap DNA jaguar jika tidak menyentuhnya? Dan bagaimana caranya menyentuh jaguar tanpa harus kehilangan nyawa? Ah, sudahlah. Kenapa dia jadi meracau begini, sih? Bisa-bisa gajinya dipotong si kepsek kalau dia ketahuan mengeluh terus. “Morning, class.” Ya, pokoknya dia tidak perlu menceritakan bagian ketika ia berjalan ke kelas—itu membosankan. “Welcome to Tower Prep. Aku akan menjadi gurumu untuk mata pelajaran ini. Seperti kalian memanggil guru kalian yang lain, aku juga harus dipanggil dengan nama mata pelajaran yang kuajar—Biology. Tapi aku tidak keberatan jika kalian mau memanggilku Mr. Cool.” Emangdasarsembaranganbanget. “Jadi, untuk kesempatan pertama ini, aku beri tugas yang mudah saja,” dia berdeham. “Di hadapan kalian sudah terdapat mikroskop. Dan karena itu mikroskop konvensional—” enak saja mau pakai mikroskop elektron, “—aku mau kalian buat preparat bawang dan mengatur mikroskop sampai mendapat visualisasi sel bawang. Kalau sudah dapat, ambil kertas ke depan dan gambar penampakkan sel bawang tersebut.” Meski sekolah ini menggunakan sistem paperless, masa mau menggambar menggunakan laptop? Tidak otentik, ah. “Kalian boleh mulai sekarang. Yang sudah selesai, boleh main laptop sepuasnya sampai bel berbunyi. Dan oh, kusarankan yang gila belanja untuk bergegas, karena tiga orang pertama yang menyelesaikan tugas ini dapat tambahan kredit dariku.” Lihat? Guru yang satu ini sangat baik hati dan ganteng, kan? Teknis
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #2 Apr 22 2012, 09:23 AM | Daniella Brighton |
|
Pelajaran Biologi, bukannya membencinya seperti pelajaran Matematika. Tetapi, kalau sudah membedah hewan-hewan apalagi katak atau ternyata harus bertarung dengan laba-laba, berarti Daniella lebih memilih untuk melenyapkan diri. Kabur. Guru Biologi dari Tower Prep itu bernama Biology, memang sudah peraturannya setiap guru dipanggil dengan nama sesuai mata pelajaran dan namanya dirahasiakan. Menarik. Meminta murid-muridnya untuk memanggilnya Mr. Cool, kalau itu membuat murid-muridnya mendapatkan ekstra nilai. Ya, berarti Daniella akan memanggil Cool-ehe alias Kulehe (kumal). “—aku mau kalian buat preparat bawang dan mengatur mikroskop sampai mendapat visualisasi sel bawang. Kalau sudah dapat, ambil kertas ke depan dan gambar penampakkan sel bawang tersebut.” Ah. Pada ujungnya mereka harus menggambar? Boleh tidak hanya menggambar dua gunung dengan matahari yang entah tenggelam atau terbit. Kemudian ada jalan yang membelah dua gunung itu, di sampingnya terdapar gambar sawah-sawah. Bolehkah? Mungkin ia akan segera mendapatkan nilai F tanpa banyak cing-cong. Lalu di hadapan Daniella Brighton terdapat mikrosop. Ia pun mengikuti intruksi dari sang guru untuk membuat preparat dari kaca. Ia menyiapkan preparat yang terdiri dari bahan-bahan yang telah disediakan seperti kaca preparat, kaca penutup, bawang, air, pipet, dan pisau kecil. Sebenarnya Daniella tidak begitu mengerti, ia hanya mengikuti intstruksi dengan melirik murid-murid yang mengerjakannya juga, ia melihat si Sulung Sundstrom. Ingin menyapanya, namun ia harus mengerjakan preparat ini. Ya, setidaknya sudah setengah jalan. Tidak bisa langsung bim salam bim. Untuk kelas pertama ini lebih baik untuk mengerjakan tugasnya terlebih dahulu. Semoga tidak ada kesalahan yang memalukan dirinya. Atau tidak ada laba-laba secuil apapun merayap ke tangannya. Deskrip Loki Sundstrom. *komat kamit* Hasil: [result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result] |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #3 Apr 22 2012, 10:07 AM | Lorelei Vivica |
|
Biology, eh? Lorelei sedikit bersyukur bahwa pelajaran yang satu ini tidak dimulai sangat pagi. Tidak terbayang olehnya harus bergumul dengan ilmu sains di hari Senin pagi, bisa-bisa ia seharian menguap di kelas. Holly cow. Pria macam apa yang baru saja memperkenalkan diri sebagai guru mata pelajaran Biology ini? Meminta anak didiknya untuk memanggilnya dengan Mr.Cool, Lori hanya tersenyum sinis. Lagi-lagi guru nyeleneh. Kemudian suara beratnya menginstruksikan apa yang harus dikerjakan pagi ini, membuat preparat bawang dan melihat visualisasi mikroskopnya...kemudian menggambarenampakan sel bawang itu--aha! The best part of this class. Menggambar? Dengan senang hati Lorelei melakukannya. Mendengar itu saja tiba-tiba Lorelei merasa antusias mengerjakan kewajibannya. Bagaimana caranya? Oke--just do it, Lorelei. Meskipun tidak begitu yakin, Lorelei mulai menyiapkan preparatnya. Kaca preparat, kaca penutup, bawang, air dan pisau kecil sudah disediakan di meja hadapannya. Pertama ia memotong bawang itu dengan pisau kecil yang telah disediakan, kemudian mengirisnya tipis sekali dan ditaruhnya di atas kaca preparat yang bersih. Apa perlu ditambahkan air? Hmmm--lapisan bawang ini sudah cukup berair sih. Lorelei mengambil kaca penutup. Betul, begini kan caranya? Lorelei melihat ke sekelilingnya dan menemukan sosok gadis yang menjadi teman sekamarnya yang sedang berkutat dengan mikroskopnya. Tampaknya tidak mengalami kesulitan yang berarti. deskrip Daniella Brighton. Op-in [result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result] |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #4 Apr 22 2012, 10:30 AM | Venti Noire |
|
Untuk saat ini, belum ada hal yang menarik. Sekolah ya sekolah. Belajar tetap belajar. Belum ada hal menarik seperti belajar kemampuan hebat mereka, atau melawan sesuatu menggunakan kemampuan mereka. Ve diwajibkan untuk menghabiskan waktu kesehariannya di tempat ini, di ruang pembelajaran yang tiap satu setengah jam ganti kelas. Bosan tahu tidak? Setelah melewati kelas-kelas memusingkan seperti Matematika dan Fisika, sekarang dirinya harus mengikuti kelas Biologi—sesuai jadwal yang diberikan. Kenapa eksakta semua? Ve lebih menyukai belajar kesusastraan dibandingkan pelajaran eksakta. Serius. Tapi mau misuh-misuh macam apa pun, mau tidak mau Ve harus mau mengikuti kelas. Kalau tidak, huruf F jelas terpampang dengan indahnya di buku rapornya—kalau Tower Prep menyediakan rapor di akhir tahun ajaran nanti. Alhasil Ve hanya bisa pasrah dan mengikuti rombongan remaja lima belasan yang mulai memadati Kelas Biologi. Mengambil tempat favoritnya, di tengah ruangan. Di belakang meja yang di atasnya terdapat mikroskop konvesional lengkap dengan perlengkapan pendampingnya. Jadi, kali ini kita akan melakukan praktik? Jawabannya, ya. Praktik melihat sel bawang. Hoo. Yang bentuknya seperti batu-bata ditumpuk itu ya, kalau tidak salah? Baiklah. Mister Biology sudah memberikan pembukaan, serta tugas, sekarang tinggal bagaimana murid-muridnya bekerja. Kelihatannya bakal lama kalau tidak segera memulai. Jadi, Ve segera memulai praktiknya dengan menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan. Mulai dari kaca preparat, penutup preparat, bawang utuh, air, pipet tetes, serta pisau kecilnya. Lengkap sudah. Tinggal memulai. Melihat sekelilingnya. Sejauh mana teman-temannya membuat preparat. Mungkin sudah sampai meneliti? Ve saja baru mulai mengiris bawang hingga irisan tipis. Dia tidak pandai membuat preparat yang bagus omong-omong. Tidak bisa memanfaatkan pisau kecil dengan baik, mungkin karena Ve jarang menggunakan pisau di rumah. Tshce. Kalau sudah begini, jadi menyesal tidak belajar memasak pada Ibu dahulu. Bismillah: [result]2&1,1d2,1,2&1d2+1[/result] |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #5 Apr 22 2012, 12:26 PM | Loki Sundstrom |
|
Bolehkah Loki muntah ditempat saat mendengar sapaan Prof di depan kelas? Hari ini hari pertama ia datang ke kelas biology namun sang guru sudah sukses membuat dirinya muak dengan ucapan yang baru saja di sebutkannya. ‘Mr. Cool’ katanya. Padahal si sulung Sundström tidak mendapati sisi manapun dari Prof didepannya yang dingin, secara harfiah. “—aku mau kalian buat preparat bawang dan mengatur mikroskop sampai mendapat visualisasi sel bawang. Kalau sudah dapat, ambil kertas ke depan dan gambar penampakkan sel bawang tersebut.” Eh? sepertinya ada yang salah dengan pendengarannya, alih-alih preparat, Loki justru mendengar sebagai keparat. Sampai sempat ia mengerutkan keningnya mencoba menelaah apa yang baru saja Prof katakan di depan kelas. Sampai sebuah kata yang cukup logis didapatkannya berakhir dengan angguk-anggukan kecil tanda mengerti. Menggambar, eh? sesungguhnya pemuda ini tidak berbakat dengan keahlian menarikan tinta atau arang ke atas kertas putih. Bisa-bisa yang digambarnya justru hanya titik abu-abu atau sketsa kasar bergambar burung hantu. Entah kenapa Loki gemar sekali dengan hewan yang selalu bangun pada malam hari itu. Berbanding terbalik dengan dirinya yang seperti ayam mati kalau sudah tertidur. Rasanya ada yang memperhatikan— hah mungkin hanya perasaannya saja. Siapa coba yang mau memperhatikan pemuda yang memiliki kecenderungan pendiam dan membosankan? Thor? Meh— paling sedang mencari celah untuk keluar dari kelas dan melanjutkan gamenya. Mengambil peralatan yang sudah di sediakan Loki mulai mengerjakan tugasnya sendiri, memang mau sama siapa lagi? [result]2&1,1d2,1,2&1d2+1[/result]<< terserah deh, mau interaksi? |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #6 Apr 22 2012, 04:26 PM | Thor Sundstrom |
|
“—aku mau kalian buat preparat bawang dan mengatur mikroskop sampai mendapat visualisasi sel bawang. Kalau sudah dapat, ambil kertas ke depan dan gambar penampakkan sel bawang tersebut.” Heh? Thor Sundström mengangkat kepalanya dari atas meja dan menatap Biology dengan sebelah mata terpejam. Bikin bawang jadi sekarat? Gimana caranya bikin bawang jadi sekarat? Dipotong-potong gitu? Ih kasian atuh bawangnya kalo dibikin sekarat, mending digoreng trus dimakan sama nasi uduk anget, bareng-bareng satu kelas. Wih uhuy banget kalo kelas biologi hari ini temanya ‘Menikmati Nasi Uduk Bersama Pak Biology Yang Super Caem’. Well okay, fokus Thor, fokus. Tidak mungkin tadi Biology bilang kalau murid-muridnya harus membuat bawang jadi sekarat; tidak logis kan? Thor jadi menyesal tadi sempat ketiduran ketika Biology bicara tentang apa yang harus dia lakukan saat ini. Well… apa sih yang harus dia lakukan? Celingak-celinguk. Heh. Ya habis, Thor tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Dilihatnya di dekatnya ada seorang gadis yang sibuk memotongi bawang. Ih. Buat apaan tuh? Digoreng? Atau dicemilin? Kok nyemilin bawang mentah sih? Tapi semua pikirannya yang kacau itu sirna ketika akhirnya melihat sang gadis menaruh potongan bawang yang sangat tipis ke atas bilah kaca yang sudah tersedia di meja masing-masing murid. Hooo. Thor manggut-manggut. Begitu toh caranya? Okesip, mari kita mulai! Tangan pemuda itu bergerak menyentuh pisau dan menggenggamnya canggung. Ish, biasanya kan megang remote Wii, ini disuruh megang pisau—ya kagok atuh. Dengan sangat hati-hati pemuda bungsu dari kembar Sundström itu menorehkan pisaunya pada bawang yang tersedia. Maaf ya bawang, kamu Thor potong-potong. Jangan marah ya, apalagi ngehantuin mimpi Thor—kecuali kalau kamu datengnya bareng nasi uduk dan ayam goreng… kalo itu mah super rela deh mimpi buruk edisi nasi uduk spesial begitu. Thor menoleh ke tempat dimana kakaknya duduk. Kakaknya itu sedang serius mengerjakan apa yang harus dikerjakan juga. Thor manggut-manggut lagi. Oh jadi kacanya ditutup ya? Eh ini bawangnya udah cukup tipis buat dijepit belum ya? Terus disanggulnya kapan? Heh. Bodo aaaaamat deh berapa juga :”| [result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result] | Op-In kok |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #7 Apr 23 2012, 08:52 AM | Daniella Brighton |
|
Daniella Brighton memperhatikan preparat yang berhasil dibuatnya, ternyata hasilnya bisa dikatakan bagus untuk orang yang pertama kali membuat preparat untuk penelitian seperti ini. Untung saja tangannya tidak teriris atau apapun. Rasanya gadis bersurai wortel ini ingin menjerit kegirangan. Namun tentu saja itu tidak dilakukannya. Ia tidak mau dikeluarkan dari kelas karena telah membuat kericuhan bukan? Baik, sekarang apa yang harus dilakukan? Sepasang kristal hijau pekatnya memandangi peralatan yang ada di depan. Ah, apa mikroskop tidak bisa mengatur dirinya sendiri? Apakah harus diurus dengan yang lain? Kenapa tidak bisa? Apalagi yang berada di hadapannya adalah mikroskop konvensional di mana sumber cahaya masih berasal dari sinar matahari yang dipantulkan dengan suatu cermin datar ataupun cekung yang terdapat dibawah kondensor. Cermin ini akan mengarahkan cahaya dari luar kedalam kondensor. Sebenarnya Daniella ini bukannya mengeluh, ia hanya bingung saja kenapa di zaman modern seperti ini masih menggunakan mikroskop seperti ini. Kecuali jika memang ingin menjadi peneliti baru harus bisa tahu cara menggunakannya. Tidak ada salahnya untuk belajar juga kan? Gadis bermarga Brighton ini memegang lengan mikroskop agar berada tepat dihadapannya. Lalu menyiapkan preparat dengan yang akan diteliti, untuk dilihat melalui mikroskop. Kemudian Daniella memutar revolver sehingga lensa obyektif dengan perbesaran lemah berada pada posisi satu poros dengan lensa okuler yang ditandai bunyi klik pada revolver. Terus, terus, apa lagi ya? Ia mendongakan kepalanya dan mendapati gadis Vivica mengamatinya. Aduh, jadi senang dilihat oleh gadis manis tetapi, entah kenapa ia selalu terlihat suram. Kenapa Brighton tahu? Lorelei alias Lori adalah teman sekamarnya. "Ada apa Lori?" tanya dengan ramah dan senyum yang tidak kalah ramahnya dengan nada bicaranya. Ingin ia menambahkan ada yang perlu dibantu? Namun, Daniella saja belum tentu mengerjakannya dengan benar. Jadi, tanya seperti itu saja tidak terlihat sok tahu bukan? Lorelei Vivica, Op-in. Hasil sebelumnya: 3 + [result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result] *komat-kamit* |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #8 Apr 23 2012, 10:02 AM | Lorelei Vivica |
|
Tanpa disangka, kedua biner hijau sang gadis teman sekamar, Daniella Brighton bertemu pandang dengan manik hazel Lorelei. Sambil tersenyum ramah, gadis bersurai merah wortel itu bertanya ada apa. Sebagai jawaban, Lorelei hanya menggelengkan kepalanya perlahan, “—nothing,”—ujarnya datar. Ia hanya ingin melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Daniella, itu saja. Tidak ingin berinteraksi lebih karena apa yang sedang mereka kerjakan sekarang perlu konsentrasi tingkat tinggi. Langkah kedua setelah menyiapkan preparat adalah…mengatur cermin bukan? Kaca preparat itu telah diletakkan di meja preparat dan dijepit agar tidak bergeser. Tapi visualisasinya belum terlihat karena Lorelei harus mengatur cahaya yang masuk ke dalam mikroskopnya. Untung saja ia mendapat meja yang bersebelahan dengan jendela—cahaya matahari bisa masuk dengan leluasa. Jadi ia hanya perlu mengatur cermin datar sedemikian rupa untuk memantulkan dan mengarahkan cahaya sampai gambar penampang preparat bawang terlihat jelas—kalau tidak, ia harus menggunakan cermin cekung. Perhatian gadis berkulit putih pucat dan berwajah tirus ini teralihkan oleh pemandangan di luar jendela sana. Beberapa saat pikirannya melayang pada ibunya, sang kurator seni di salah satu museum di Los Angeles. Bagaimana hidupnya tanpa Lorelei selama tujuh tahun ya? Lorelei segera mengalihkan pandangannya ke depan kelas, menanti instruksi selanjutnya dari Biology/Mr. Cool. interaksi dengan Daniella Brighton, masih terbuka untuk op-in. Hasil sebelumnya= 3 +[result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result] |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #9 Apr 23 2012, 12:34 PM | Sommermarchen Skarpsvard |
|
Biologi. Salah satu dari banyak hal yang disukai Sommermärchen Skarpsvärd dalam hidupnya. Tetapi dengan satu pengecualian. Tidak ada satu tetespun darah yang terlibat ketika dia sedang mempelajari hal tersebut. Tidak ada darah yang terlibat disini maksudnya adalah Sommermärchen tidak harus membedah makhluk-makhluk baik yang hidup maupun yang sudah tidak hidup lagi, yang masih bisa mengeluarkan darah ketika pisau yang dipegangnya membelah tubuh makhluk tersebut. Terserah mau anggap Sommermärchen pengecut atau apa, tetapi dia tidak memang sanggup melihat darah. Dia tidak sanggup melihat makhluk hidup yang bisa bergerak macam hewan atau manusia sesamanya berada dalam kesulitan, tetapi lebih tidak sanggup lagi melihat makhluk-makhluk rapuh itu berdarah. Sommermärchen takut dengan darah. Dia bahkan bisa pingsan bila yang dia lihat adalah darah dalam jumlah banyak dan ketakutannya itu sudah mencapai titik kulminasi. Bagaimana dia bisa mengidap fobia semacam itu adalah satu kisah yang panjang dan yang jelas tidak akan diceritakan sekarang karena sekarang adalah waktunya meneliti penampakan sel bawang. (Sommermärchen menghembuskan nafas lega ketika dilihatnya butiran bawang berada di atas mejanya alih-alih katak atau tikus putih.) Sebelumnya dia pernah mengerjakan eksperimen macam ini, dengan miksroskop yang sama persis dengan yang tersedia, sehingga dia cukup percaya diri untuk bisa melewati kelas biologi perdana ini dengan sukses. Dengan sigap perempuan muda tersebut memotong bawang setipis yang dia bisa, dengan hati-hati supaya tangannya tidak ikut tergores bilah pisau, lalu menaruhnya di atas kaca preparat, meneteskannya dengan air, lalu menutup kaca tersebut dengan potongan kaca lainnya. Sebelum menaruh kaca preparat tersebut di bawah mikroskop, dia berharap semoga tidak ada murid di kelas ini yang mengalami ketidakberuntungan ketika memotong bawang hingga terdengar jeritan dan ada yang mengeluh bahwa tangannya berdarah. Keberhasilan: [result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result] // interaksi terbuka (: |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #10 Apr 23 2012, 02:01 PM | Olivia Satchel |
|
Alhamdu.. Kata orang timur tengah. .. lillah. Dengan sedikit suara aahhh pada akhir kata membuatnya terdengar lebih segar dan berjiwa. Apaan deh. Lagian, kenapa juga memikirkan kata itu sekarang? Oh, pasti karena Olivia sebegitu bersyukurnya dapat kelas yang gurunya tumben-tumbenan nggak bebanin dengan segejibun materi hafalan dan hitung-hitungan (Mathematics dan History, pukul dia dengan suka cita, silahkan). Sudah lagi, sesuai dengan kata guru itu sendiri, namanya Mister Cool. Ah, jaman julukan begitu? Olivia punya yang lebih kece. "Kalau Mister Simple saja, bagaimana?" Semoga gurunya dengar. Aminin lima ratus kali. Selanjutnya Olivia sudah kembali memandangi mikroskopnya. Konvensional seperti yang ada di sekolah lamanya. Jadi Olivia tidak perlu tanya-tanya lagi bagaimana cara pakainya. Merasa pintar? Oh, tentu saja. Olivia itu kan gadis liar yang saking liarnya jadi naturalis dan nila biologinya bagus-bagus lho, sumpah. Mau bukti? Bagaimana kalau Olivia beri kalian sebuah pertanyaan? Mengapa hewan yang pertama kali dikloning itu domba? Jawabannya? Ya kalian yang jawab lah, Olivia kan cuma sok kreatif saja buat pertanyaan begitu. Jawaban yang ia dapatkan macam-macam, semuanya berbeda. Dan yang paling mengenaskan adalah jawaban untuk pertanyaan itu selalu dilontarkan saat Olivia sedang ada di kantin sekolah lamanya, keselek beribu-ribu kali mendengar berbagai jawaban super konyol. Dan tahukah intinya? Ia sendiri tidak tahu sama sekali jawaban pertanyaannya sendiri. Namanya juga lebih baik bertanya daripada sesat di jalan. Tapi.. ini mah makin sesat ya? Oke, lanjut. Saatnya membuat preparat, dan Olivia paling ngenes dalam hal beginian. Dulu, pertama kali dia buat preparat juga dari bawang. Dan hasilnya? Setebal pasir di gurun. Nggaksegitunya. Ia sama sekali gagal dalam membuat potongan tipis. Kepalanya ditolehkan dan ia mendapati rekan satu kamarnya yang berhasil membuat preparat dengan baik. "Kok Somme bisa sih?" Sapaan macam apa itu? Ah, lanjut, ayo Olivia, berjuang! Dan ia pun mulai memotong dengan randomnya. [result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result] DDR dewaku yang terhebat.. *dilempar* Interaksi ke profesor di awal sedikit, terus ke |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Kelas Sains · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:57 AM Jul 11
|
Hosted for free by ZetaBoards · Privacy Policy












7:57 AM Jul 11