Welcome Guest
[Log In]
[Register]
| ||
|---|---|---|
![]() Summer 2016 Time: Juli-Agustus 2016 Temperature: 28-33 Celcius |
TERM 4Timeline: 2016/2017 Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001 Kuota Registrasi: 27/45 Kuota Murid Spesial: 2/2 Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2 Kuota Visualisasi Asia: 7/7 Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5 Daftar lebih lengkap |
[+] Langkah Bermain [+] Peraturan [+] Daftar Visualisasi [+] Formulir Registrasi [+] Jadwal Term 4 [+] About Tower Prepatory [+] Plots [+] Disclaimer and Credits [+] Wikia (On Development) |
|
|
|
|
| Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012. Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login: |
| 1st Grade: Biology (2013/2014); lesson: Microscope | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Apr 22 2012, 08:54 AM (1,977 Views) | |
| Post #11 Apr 24 2012, 11:10 PM | Venti Noire |
|
Berkali-kali lapisan demi lapisan bawang merah terbuang percuma. Tidak butuh, tidak dipakai karena terlalu tebal dan tidak cocok untuk diteliti. Sudah Ve bilang kalau dia buruk dalam membuat preparat? Bahkan hanya preparat bawang merah saja, dia tidak bisa menghasilkan preparat yang bagus. Masih terlalu tebal kalau boleh bilang. Tapi inilah usaha terakhir yang bisa dilakukan Ve sebelum bawangnya habis terbuang percuma. Sudah lebih tipis dari yang sebelum-sebelumnya, jadi bisa dikatakan cukup. Ve tidak mau berurusan dengan bawang-bawangan lagi. Menaruh pisau kecilnya di samping lengan kirinya dan segera menyempurnakan preparat yang baru saja dibuat. Memberikannya satu tetes air yang sebenarnya tidak diperlukan karena bawang sendiri sudah sedemikian basah untuk bisa diteliti. Satu langkah lagi dan selesai dengan preparatnya. Akhirnya Ve menutup preparat bawang tersebut dengan kaca penutup yang lebih kecil. Tersenyum tipis karena berhasil mendapatkan preparat dengan usahanya sendiri. Namun kemudian matanya bereaksi lagi. Ve menutup kedua matanya, mengerjap-ngerjapkannya dua kali sampai kembali normal. Kepalanya pening sesaat sebelum akhirnya berhenti. Membuka matanya dan ya, kembali dalam jeratan tidak menyenangkan. Preparat, mikroskop, dan segala beda yang ada di atas meja mulai berwarna hitam lagi. Sigh. Kesal sendiri karena menyesali matanya yang bereaksi di saat yang tidak tepat. Sudahlah. Kembali pada tugasnya. Biarkan saja matanya yang terus-terusan melihat warna-warna di samping benda-benda yang dilihat matanya. Nanti juga normal lagi. Toh benda mati ini. Menurut hasil pengamatannya, benda mati memiliki warna yang sama. Semuanya hitam dan kadang memiliki hawa dingin. Entah itu memang perasaann Ve saja, atau benar adanya. Jadi uhm... tugasnya sekarang mengatur mikroskopnya benar? Oke. Cahaya mana cahaya... DICE: 2 + [result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result] op-in kalo ada =)) |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #12 Apr 25 2012, 07:48 AM | Daniella Brighton |
|
Setelah bertemu mata dengan gadis Vivica lalu mendengar jawaban singkat darinya. Hanya bisa membuat Daniella di sini tersenyum ramah saja. Ya, meskipun sebenarnya ada reaksi yang lebih manis dari hanya sekedar nothing. Selama Daniella Brighton tidak dilempari laba-laba, itu sama sekali tidak masalah. Gadis bersurai merah wortel itu pun kembali berkonsentrasi pada tugas biologinya untuk melihat seperti apa dalamnya bawang itu serta harus menggambarnya, sedangkan gadis bermarga Brighton ini masih sibuk menyesuaikan cahaya dan pembesaran gambar. Sambil mengamati melalui lensa okuler, sekrup pemutar kasar diputar secara perlahan agar tabung mikroskop naik. Pada saat demikian, gambar dapat teramati meskipun belum begitu jelas. Untuk memperoleh gambar yang lebih jelas, sekrup pemutar halus diputar sehingga dapat diamati gambar yang lebih jelas dan lebih fokus. Ah. Ternyata cukup sulit juga menyesuaikan mikroskop ini agar bisa digunakan semaksimal mungkin. Lapisan bawang yang telah diiris dan diberi air sedikit masih terlihat buram melalui mikroskop yang masih sibuk diatur oleh Gadis Brighton yang berasal dari kota tidak pernah tidur. Bohong. Semua orang pasti membutuhkan tidur. Ternyata pelajaran Biologi ini cukup menyenangkan mungkin bagi Lorelei Vivica akan lebih menyenangkan ketika menggambarnya. Tetapi, Brighton hanya bisa menggambar seadanya. Dulu ia pernah menggambar matahari hanya dengan satu bulatan dan beberapa garis mengelilingi bundarannya. Menggambar rumah-rumahan dan semacamnya. Ya, sudah, mari berkonsentrasi kembali. Lorelei Vivica *komat kamit*6 + [result]2&1,1d2,1,2&1d2+1[/result] |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #13 Apr 25 2012, 10:21 AM | Loki Sundstrom |
|
Visualisasi yang tertangkap oleh Kristal biru kehijauannya tidak lebih hanya guratan-guratan halus dengan warna yang absurd. Torehan yang dilakukan tidak lebih terlihat seperti lukisan abstrak yang tidak dapat dimengerti semua orang. Sigh. Sampai kapan kelas ini harus berlanjut? Ia sudah terlanjur mati bosan. Entah ia salah potong atau microskopnya sudah mensabotase penglihatannya. Preparat yang ia lihat diasumsikan potongan yang tidak bagus. Grr— geram. Kalau bukan karena pelajaran mungkin dengan senang hati si sulung Sundström beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Tidur. Memang mau apa lagi dikamar, hm? Jemarinya mengatur diafragma lensa dari microscope'nya, membuang potongan bawang yang diasumsikannya bukan potongan bawang yang bagus. Sudut pelipisnya mendapati sang adik yang sedang sibuk dengan potongan bawangnya. Tanpa terasa kembaran kurvanya membentuk senyuman tipis, jarang-jarang melihat Thor sefokus itu. Biasanya atensi si bungsu mudah sekali teralihkan, mungkin microscope cukup menarik untuk si adik kembar tak serupa itu. Menolehkan kepalanya bermaksud untuk kembali bertugas justru ia menangkap surai terang yang sangat familiar. Dan atau Daniella yang jelas bukan Ella— Pfff, rasanya ingin sekali tertawa terbahak setiap ia mengingat hal itu. Dan pun sibuk dengan preparatnya, ingin menyapa pun rasanya tidak ada alasan logis yang mendukung si sulung Sundström mengeluarkan suaranya. Sigh. Kembali ketugasnya, sekali lagi Loki memotong tipis setipis mungkin. Diskrip Ade//Dan— 2 + [result]2&1,1d2,1,2&1d2+1[/result] cenderung pasif tp Op-in |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #14 Apr 26 2012, 01:56 PM | Lorelei Vivica |
|
Sigh—Lorelei menghela nafas panjang. Praktikum biologi ini ternyata tidak semudah yang dibayangkannya, meskipun tugas yang diberikan cukup sederhana—membuat gambar dari preparat bawang. Hanya saja prosesnya yang cukup berbelit-belit dan menyita konsentrasi dan kesabaran benar-benar...sesuatu sekali. Rasanya Lorelei ingin cepat-cepat menggambar dan mengumpulkan tugasnya saja tanpa melalui proses yang rumit ini. Oke—gadis bersurai dark brunette ini sudah berhasil membuat preparat dengan baik, juga sudah mengatur cermin. Now what? Mengatur diafragma? Where the hell is that thing? Oh—rupanya diafragma ada di bagian bawah dan di atas cermin. Katanya fungsi diafragma ini untuk mengatur banyaknya sinar yang masuk ya? Jadi ternyata menggunakan cermin saja tidak cukup ya. Hmph. Lorelei mulai menggeser diafragma dengan tangannya sambil melihat melalui lensa okuler—mengira-ngira apakah asupan cahaya sudah dirasa cukup. Okay, this should be enough. Lorelei menghela nafas sekali lagi—biner hazelnya menatap ke sekelilingnya, semua orang tampak sibuk masing-masing. Sosok seorang pemuda dengan surai agak tembaga tampak menoleh kesana-kemari tertangkap oleh Kristal kembarnya. Sepertinya Thor Sundstrom—kalau tidak salah namanya. Terlihat kebingungan. “Hey, can you do it or not?” tegur Lorelei—mungkin terdengar sedikit galak karena Lorelei mengucapkannya dengan ekspresi datar. Thor Sundstrom. Hasil sebelumnya= 6 + [result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result] |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #15 Apr 26 2012, 04:09 PM | Daniella Brighton |
|
Hanya ada guratan yang buram, belum terlalu jelas. Daniella Brighton masih tetap serius meneliti bawang yang sedang ditangkap oleh manik hijaunya. Entah mengapa surai merahnya mengganggu. Ia merogoh pada sakunya mengambil tali ikat untuk rambutnya. Jari jemarinya menyisir surainya yang bergelombang, tapi mudah untuk diatur. Meraih sekumpulan rambutnya dan dikucir satu. Kini ia sudah tidak terganggu dengan surai wortelnya itu, kebiasaan untuk menyibak rambut ke belakang telinganya pun mendadak lenyap. Mungkin Daniella terlalu asyik dalam penelitiannya ini sehingga ia tidak menyadari sepasang mata memandangnya, meskipun hanya sepersekian detik saja. Tetapi jika sepasang kristal hijaunya bertemu mata dengan pemilik mata itu, napasnya akan tertahan. Penelitiannya bisa menjadi buyar. Kini perhatiannya kembali pada preparatnya, preparat yang dibuatnya sudah memuaskan hanya tinggal diteliti dan disesuaikan penglihatan dan pembesarannya. Kini ia kembali mencari cahaya agar tampak lebih jelas. Tetapi, kali ini perhatiannya kembali terganggu, ia menoleh pada Mr. Funny yang kini sedang memotong bawang dengan potongan yang sebisa mungkin harus tipis, wajahnya yang datar itu benar-benar datar. Namun hal itu membuat seulas senyum simpul pada kedua kurva kembarnya. Jika ia menyapanya, bukannya ia bisa terkejut dan yang diiris bukanlah bawangnya, tetapi jarinya. Lebih baik Daniella menyapa Loki Funny Sundstrom setelah tugasnya kelar. Lalu matanya kembali menoleh pada Lorelei Vivica yang bertanya pada pemuda yang pernah bertemu di dinding perimeter. Kalau tidak salah, Thor... Jon-Thor. Oke, kembali fokus, Dan. Deskrip Loki, Lorelei, Thor. Hasil sebelumnya 8 + [result]2&1,1d2,1,2&1d2+1[/result] *komat-kamit kasih sesajen* Edited by Daniella Brighton, Apr 26 2012, 04:09 PM.
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #16 Apr 28 2012, 10:04 AM | Venti Noire |
|
Lensa matanya ditempelkan kepada lensa okuler mikroskop tersebut. Mencoba mencari cahaya di ruangan Biologi ini. Mengatur mikroskop konvesional itu tidak semudah yang dikira, kawan. Ve berkali-kali harus memegang lengan mikroskop dan memutarnya ke arah datangnya cahaya. Terkadang, Ve sampai harus pindah posisi ke arah lain di mejanya agar mendapat cahaya yang pas. Hih. Kalau begini caranya Ve jadi kesal. Untungnya Ve berhasil mengatur cermin sehingga cahaya bisa masuk ke dalam mikroskop sebelum ia berhasil membuat hancur mikroskop tersebut. Jangan salahkan kalau Ve tidak terlalu suka dengan pelajaran yang menyangkut masalah alam serta organ dalam. Apalagi kalau praktiknya diharuskan meneliti sesuatu pakai mikroskop. Terlalu lama melirik lensa mikroskop membuat matanya pegal. Tidak nyaman. Kalau sudah begitu, jangan harap Ve mau mengerjakan tugasnya dengan sempurna. Praktiknya saja sudah ogah, bagaimana mau dapat hasil sempurna? Tapi kembali lagi pada kenyataan. Dia di sekolah. Benar. Dan harus mematuhi segala peraturan sekolah yang tidak menyenangkan. Dia harus belajar kalau mau dapat nilai. Ya, tidak boleh melanggar aturan. Tidak boleh bolos. Salah sedikit mungkin ada hukuman yang bakal menantinya. Tidak tahu sih. Belum pernah. Uhm. Jangan sampai. Iris abu-abunya beralih ke arah teman-temannya. Mereka semua sepertinya santai-santai saja. Sedang menjalankan tugas mereka dengan fokus dan serius. Entah kenapa rasanya hanya Ve sendiri yang kerepotan? Dan uhm. Lebih baik segera meneruskan praktiknya daripada meracau sendirian. 5 + [result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result] |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #17 Apr 28 2012, 01:50 PM | Jamie Aberwitch |
|
Apa!!!! Mikroskop??? "Cih!!" Itulah kata pertama yang keluar dari mulut Jamie ketika mendengar kata mikroskop. Ya mau bagaimana lagi. Jamie benar-benar membenci yang namanya eksperimen mencari sel. Karena harus pakai mikroskop. Tingkat keribetan pakai mikroskop tuh sama dengan tingkat keribetan kalau melihat orang nungging di tengah jalan raya. Membingungkan kan? Mana harus mencari sel lagi. Aduh, jadinya makin malas. Tapi Jamie sudah terlanjur berada di kelas biologi ini, jadi mau gak mau Jamie harus melakukan percobaan ini. Jamie berlari mondar-mandir untuk mengambil bahan-bahan percobaan. Kaca preparat, kaca penutup, bawang, segelas air, pipet, dan tidak lupa sebuah pisau kecil. Jamie mulai memotong bawangnya. Biasanya Jamie gagal dalam step ini, mau ketebalan lah, kebesaran lah, kekecilan lah, atau ketipisan lah. Tapi hari ini Jamie tidak gagal. Dengan hebatnya Jamie langsung mendapatkan potongan yang bagus dan tepat. Lalu Jamie melanjutkan ke langkah-langkah kerja berikutnya. Pada tahun pertama Jamie ini, ia harus mendapatkan sederet nilai sempurna di rapotnya. Karena itu semangat dalam diri Jamie langsung membara-bara. Bahkan orang yan duduk di sebelahnya bisa merasakan panasnya semangat Jamie. Walaupun Jamie benci eksoerimen ini, tapi dia harus tetap semangat. [result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result] open interaksi ya Edited by Jamie Aberwitch, Apr 28 2012, 01:53 PM.
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #18 Apr 29 2012, 03:53 PM | Daniella Brighton |
|
Dengan rambut merah yang dikucir satu dan tinggi membuatnya lebih mudah untuk melihat guratan halus pada lapisan bawah yang telah diiris sebelumnya. Menjadi preparat yang bisa dibilang bagus. Perhatiannya kembali terpecah karena mendengar suara Lori alias Lorelei Vivica menyapa Thor Sundstrom. Mungkin jika belum mengenal Lori, pasti akan ketakutan. Nada yang datar dan wajah yang datar bukan berarti dirinya juga judes atau jutek. Tetapi kesannya memang seperti itu sih. Ketika bertemu dan mendapatkan bahwa dirinya adalah teman sekelasnya. Pasti Thor terlihat seperti yang tidak bisa mengerjakan tugansya, makanya Lori bisa menyapanya. Daniella Brighton mengerjapkan matanya, menyadari ia harus membereskan praktek biologinya. Kembali berkutat dengan menyesuaikan lensa positif dan lensa okuler. Untuk pembesaran penglihatan akan bagaimana isinya bawang itu sebenarnya. Mengintip dari lensa okuler dengan menyesuaikan kembali sekrup pengarah. Ah, sudah terlihat lebih jelas. Namun belum cukup jelas untuk bisa digambar. Tentu saja jika ia menghasilkan yang terbaik bukan? Apakah ia perlu meneteskan air dari pipetnya? Entahlah yang penting ia bisa melihat lebih jelas. Deskrip Lori dan Jon-Thor hasil 10 + [result]2&1,1d2,1,2&1d2+1[/result] |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #19 Apr 29 2012, 07:24 PM | Venti Noire |
|
Mengosok-gosokan tangannya dengan tidak sabar. Gusar. Entah kenapa praktiknya terasa begitu lama dikerjakan. Mungkin karena kali ini Ve berkutat sendirian dengan mikroskop? Karena biasanya, di sekolahnya yang dahulu tugas seperti ini selalu dibagi-bagi dalam kelompok-kelompok kecil. Jadi, mungkin salahnya juga yang tidak pernah memperhatikan ketika teman-temannya memperlakukan mikroskop dengan cara yang seharusnya. Alhasil, kebingungan sendiri ketika melakukannya sendirian. Menaruh kaca preparat di meja preparat dengan hati-hati. Kalau mau tahu, Ve pernah beberapa kali mematahkan kaca preparat tersebut. Tidak banyak, mungkin sekitar dua atau tiga kaca preparat yang pecah jika ada praktik menggunakan mikroskop seperti ini. Jangan salahkan dirinya jika tangannya tidak bisa diam. Tidak bisa memegang dengan baik barang-barang yang seharusnya ia perhatikan dengan baik. Namun di sini, di Tower Prep ini, semoga saja dirinya tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukannya saat praktik di sekolah lama. Kaca preparat sudah diletakan di mejanya. Sekarang Ve sedang mendekatkan mata normalnya ke lensa okuler. Kenapa Ve menyebut matanya dengan kata mata normal? Well, tahu sendiri bagaimana jadinya kalau mata Ve sudah melakukan hal-hal aneh lagi. Seperti tadi. Yeah. Untungnya hal itu berlangsung sebentar saja. Karena Ve tidak bisa membayangkan nasib praktiknya jika matanya terus-terusan bereaksi seperti itu. Tidak nyaman, tentu saja. Tetap fokus, sampai suara seseorang cukup mengejutkannya. Ve mengangkat kepalanya, mencari sumber suara. Di kelas yang setenang ini, tidak heran suara sekecil apa pun bisa terdengar telinga. Berusaha berbisik. "Kau? Kenapa menggerutu seperti itu?" mengangkat kedua alis, meminta jawaban sambil sesekali melirik ke arah Mister Biology. Takut kalau memergoki Ve sedang mengajak ngobrol anak orang. "Preparatmu bagus." berbisik lagi, kali ini sambil tersenyum. Satu kalimat terakhir sebelum ia kembali berkonsentrasi kepada pekerjaannya lagi. Jamie Aberwitch. Dice: 8 + [result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result] |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #20 Apr 29 2012, 11:32 PM | Jamie Aberwitch |
|
"Kau? Kenapa menggerutu seperti itu?" "Aku? Menggerutu? Kapan?" kata Jamie memasang muka polos pada seorang anak perempuan yang melakukan praktek dekat dengan Jamie. Memangnya kapan Jamie menggerutu. Seingat Jamie dia hanya mengeluarkan sepatah kata karena adanya mikroskop. Masa kata itu dibilang menggerutu. Ya bisa dibilang juga sih. Tapi menurut Jamie itu bukan menggerutu. Malahan itu seperti luapan emosi. "Preparatmu bagus." Kata anak perempuan itu lagi. "Wah, terima kasih. Punya kamu juga bagus," Jamie tersipu. Kalau dipuji gitu, Jamie biasanya akan kesemsem. Tapi kali ini dia memasang reaksi lain agar terlihat seperti seseorang yang gagah. "Eeeemmmm.... Bisa bantu aku?" tanya Jamie pada anak perempuan itu sambil menepuk pundaknya. "Aku sudah berusaha untuk melihat sel bawang ini. Tapi kok gak keliatan ya?" Memang sih Jamie agak gatek kalau disuruh pakai mikroskop, namanya juga benci mikroskop. Venti Noire. Masih open ya 3+ [result]2&1,1d2,1,2&1d2+1[/result] Edited by Jamie Aberwitch, Apr 29 2012, 11:37 PM.
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
![]() Our users say it best: "Zetaboards is the best forum service I have ever used." Learn More · Sign-up for Free |
|
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Kelas Sains · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:58 AM Jul 11
|
Hosted for free by ZetaBoards · Privacy Policy








7:58 AM Jul 11