Theme style: Light | Dark
Welcome Guest [Log In] [Register]

Announcements

Situations
Informations
Links

Summer 2016
Time: Juli-Agustus 2016
Temperature: 28-33 Celcius

TERM 4


Timeline: 2016/2017
Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001

Kuota Registrasi: 27/45
Kuota Murid Spesial: 2/2
Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2
Kuota Visualisasi Asia: 7/7
Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5
Daftar lebih lengkap

[+] Langkah Bermain
[+] Peraturan
[+] Daftar Visualisasi
[+] Formulir Registrasi
[+] Jadwal Term 4
[+] About Tower Prepatory
[+] Plots
[+] Disclaimer and Credits
[+] Wikia (On Development)
Chatbox
Important Info
Twitter Feed

Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012.

Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login:

Username:   Password:
Locked
1st Grade: Biology (2013/2014); lesson: Microscope
Topic Started: Apr 22 2012, 08:54 AM (1,976 Views)
Venti Noire
Perhatiannya kembali buyar ketika seseorang yang tadi diajak Ve berbicara mulai berkata lagi. "Tidak ingat? Baiklah, lupakan." melirik preparatnya sebelum melanjutkan. "Tapi milikmu lebih bagus. Punyaku terlalu tebal." mengangkat kedua bahu, lalu tersenyum samar.

Kembali pada praktiknya. Kali ini tangannya memegang-megang pemutar makrometer sekrup, menaik turunkan tabung mikroskopnya dengan hati-hati. Berusaha mencari posisi yang tepat agar dapat melihat sel objek yang sedang ditelitinya. Belum berhasil. Selnya belum terlihat sempurna. Beberapa kali sempat terlihat, namun itu hanya bayangan buram. Tidak jelas.

Beralih ke preparat yang masih diam di meja preparat. Mungkin Ve tidak menempatkannya dengan baik, sehingga ia tidak bisa melihat dengan jelas sel bawang yang sedang ia periksa. Dalam keadaan seperti ini, entah bagaimana caranya Ve masih memikirkan rambutnya. Bagaimana penampilannya sekarang? Dengan posisi masih merunduk memperhatikan mikroskop, serta rambut pendeknya yang sebagian jatuh ke depan dan menutupi wajahnya, mungkin saat ini dirinya seperti gadis yang sedang memakai setengah batok kelapa.

Ha.

Meracau.

Senyuman kecil terbentuk di wajahnya. Senyuman yang lebih ditujukan kepada dirinya sendiri. Namun buru-buru Ve menghilangkannya, karena kalau ada yang melihatnya sedang senyum-senyum mungkin Ve dikira gadis gila yang terjebak di dalam Tower Prep. Hih. Jadi ia buru-buru memasang tampang biasa lagi. Sesaat sebelum ada seseorang yang mengagetkannya dengan sebuah tepukan ringan di bahunya.

Terkejut. Segera menoleh ke arah sumber suara. Anak itu lagi. Kenapa? Tidak terlihat? Eh, tidak salah dia bertanya pada Ve? Kau pikir milik Ve sudah terlihat, boy? "Err... mungkin kau belum mengatur diafragmanya, jadi cahayanya tidak masuk." menjawab asal.

Jamie Aberwitch
Dice: 11 + [result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result]
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Daniella Brighton
Perhatiannya entah mengapa beralih pada gadis yang bersurai pendek yang berinteraksi dengan pemuda yang sebelumnya pernah akan bertengkar dengan Loki Sundstrom. Ah. Kenapa pikirannya pasti larinya ke sosok Mr. Funny nya? Sekarang saja ia belum sempat menyapanya, mungkin karena mereka berdua sama-sama sibuk. Disibukkan penelitian bawang-bawang yang konon ditakuti manusia vampire. Ih.

Gambar yang dipantulkan cermin dan lensa okuler sudah semakin jelas. Entah kenapa ia malah berdebar-debar. Berarti sebentar lagi ia selesai? Semoga saja! Karena sehabis itu ia harus menggambar, dan ia tidak begitu ahli dengan bidang seni. Malah ia sendiri tidak tahu bakatnya apa. Kecuali menjadi ninja dengan mudah. Hanya tinggal memakai kemampuannya, yah meskipun belum sesuka hatinya sih.

Lalu habis itu apa? Ia masih menyesuaikan sekrup dan memperjelas gambar. Kemudian sebelumnya ia melirik kembali Mr. Funny, entah kenapa ia tersenyum, padahal sepasang mata mereka saja tidak bertemu.

"Apakah kau sudah selesai?" tanya Daniella kepada gadis bersurai pendek yang bernama Venti Noire. Tipe gadis yang selalu semangat sepertinya.


Bismillah....
Hasil 12 + [result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result]
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Annabeth Hemington
Kelas biology? ahhh no! siapa sih yang menyukai biology? Seperti orang-orang lain Annabeth sangat tidak menyukai biology apalagi fisika atau kimia. Annabeth masuk ke kelas biology itu, terpaksa atau ia tidak akan mendapat nilai di kelas ini. Annabeth duduk di kursi kosong, Annabeth melihat mikroskop di depannya. ahh.. nooo! mikroskop membuat Annabeth makin gak niat.

Setelah beberapa saat, guru di depan menerangkan dan memperkenalkan diri, "....mr cool?" Annabeth sedikit berbisik. Nama teralay yang pernah ia dengar. Tanpangnya sih lumayan, yahh.. tidak seperti guru-guru tua yang biasanya berlalu-lalang di London.

"Preparat bawang? what the..."

Lalu Annabeth melihat bawang itu didepan matanya, you gotta be kidding me hmmmm Annabeth mulai memparat bawang itu dengan hati-hati supaya mendapat hasil yang baik hopefully.. Annabeth tidak pernah menghadapi hal seperti ini sebelumnya, sarung tangannya juga mengganggunya untuk mengupas bawang itu, kalau Annabeth melepaskan sarung tangannya bisa-bisa bawang itu menjadi warna hitam, umm tidak mau itu terjadi Annabeth harus merelakan sarung tangannya tersayat-sayat.

Annabeth lelah, tapi ia sih tetap mencoba, melihat orang lain berhasil Annabeth tidak mau kalah. Ternyata melihat cell bawang harus bersusah payah dulu.


[result]2&1,1d2,1,2&1d2+1[/result] <-hopefully good~ op-in!
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Daniella Brighton
Ingin sekali ia menjerit kegirangan, tentu saja tidak dilakukannya. Ia tidak mau dikeluarkan dari kelas biologi ini bukan? apalagi setelah pantulan penampakan sel bawang sudah terlihat jelas. Lalu apa yang harus dilakukannya? Tahap selanjutnya? Ia memilin surai merah yang dikucir tinggi. Sampai akhirnya ia ingat harus menggambar penamapakan sel bawang itu bukan?

Ia beranjak dari tempatnya, berjalan menuju depan kelas untuk menggambil kertas kosong. Langkahnya begitu ringan, itu memang disengaja, tentu ia tidak mau membuat orang menjadi tidak konsentrasi dengan tugasnya masing-masing bukan? Ya, ia pun akhirnya berjalan pelan-pelan. Ia pun tidak mau terlihat menonjol, kalau bisa ia memakai kekuatannya untuk hilang. Ini hanya suatu kebetulan meskipun ia tidak percaya kebetulan jika dirinya berhasil menyelesaikan pada awal.

Setelah mengambil kertas kosong, ia pun kembali ke tempat mikroskop berserta preparatnya berada. Mengintip kembali dari lensa okuler dan menatapi guratan halus yang ada dalam sel bawang. Ia pun menggambarnya dengan hati-hati, meskipun ia tidak bisa menggambar, bukan berarti gambarnya itu tidak rapi atau asal-asalan bukan?

Akhirnya ia merasa gambarnya cukup rapi dan sesuai dengan penampakan yang ada. Ia pun kembali bangkit untuk menyerahkan kertas hasil pekerjaannya, tidak lupa mencantumkan nama, Daniella Brighton kepada Mr. Cool di depan kelas.

"Silakan," Ujarnya dengan suara lirih, tentu jari jemarinya tidak bisa menyibakkan surai merah wortelnya karena ia memang dikucir. Setelah mengumpulkannya, ia kembali ke tempatnya. Dan memperhatikan yang lain. Dengan tangan yang menopang kedua pipinya, ia memerhatikan Loki Sundstrom yang masih sibuk dengan tugasnya. Ia akan berada dalam kelas sampai bel berbunyi. Untuk saat ini, ia hanya memuaskan dirinya untuk melihat Loki, jika tertangkap, ia akan mengalihkan pandangannya.


SELESAI~ Sujud syukur
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Jamie Aberwitch
"Tidak ingat? Baiklah, lupakan" kata anak perempuan yang duduk disampingnya. Serius lho, Jamie tidak ingat kalau dirinya pernah mengeluh.

Lalu tiba-tiba dengan randomnya anak perempuan itu mengatakan kalau potongan bawang Jamie lebih bagus dari punyanya. "Ahhhh... Terima kasih. Itu karena di rumahku dulu, aku sering memotong bawang. Tapi punyamu juga bagus kok hahahaha," kok tiba-tiba Jamie tertawa ya? Aneh deh.

Kok gak keliatan ya? Itu adalah sebuah tanda tanya besar dalam pikiran Jamie. Memang sih JAmie tu gatek kalau soal mikroskop, tapi ya sudah lah, namanya juga takdir. Sekali gatek yah, selamanya akan gatek.

"Err... mungkin kau belum mengatur diafragmanya, jadi cahayanya tidak masuk."

"Ooooohhh.... Musti diatur ya? Hahahahaha, maaf ya saya gatek begini," kata Jamie sambil tertawa pelan. "Ngomong-ngomong nama saya Jamie, Jamie Aberwitch. Salam kenal."

"Preparat bawang? what the..."

Tiba-tiba ada suara seseorang yang berteriak begitu. Dengan refleks, Jamie segera menengok ke arah suara tersebut. Dan ia mendapati seorang anak perempuan yang sepertinya dikenalnya. "Kamu benci praktek ini? Sama aku juga," kata Jamie pada anak perempuan pirang itu sambil mengajaknya untuk tos. Serius deh, Jamie pernah bertemu anak ini di suatu tempat tapi Jamie lupa.

"Kamu ingat aku? Aku Jamie Aberwitch. Sepertinya kita pernah bertemu?"


Venti Noire dan Annabeth Hemington
5+
[result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result]
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Venti Noire
Sekali lagi melirik ke arah mikroskopnya. Menaikturunkan makrometer dan mikrometer dengan hati-hati. Sebelum suara yang sama muncul lagi. Menoleh. "Oke... Trims." mengangkat kedua alis. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Laki-laki itu bersikeras untuk menganggap preparat bawang milik Ve bagus. Baiklah. Terserah saja. Mungkin itu contoh perilakunya yang tidak ingin membuat Ve merasa minder dengan preparatnya yang kurang bagus. Meh. Ve tidak butuh hiburan sepertinya.

Tersenyum tipis untuk menanggapi sang pemuda berbicara padanya. Tangannya mengetuk-ketukan kuku jarinya ke meja praktiknya. Tidak sabar. Rasanya ingin cepat-cepat menyelesaikan praktiknya dengan baik, setelah itu berlalu dari sini. Namun kenyataan bahwa dirinya diajak bicara oleh seorang anak, membuat gadis Noire itu tidak bisa berkonsentrasi maksimal. Sehingga dirinya hanya diam, menunggu lawan bicaranya menyelesaikan kalimatnya.

"Tak apa, Jamie. Santai saja. Aku Venti Noire. Panggil Ve, saja." satu senyuman kembali dilayangkan oleh Ve. Setelah itu? Kembali berkutat pada mikroskopnya. Beberapa menit, sebelum suara lain datang. Menoleh mencari asal sumber. Ini bukan suara laki-laki yang tadi, bukan ini bukan suara Jamie. Ini suara wanita dan sepertinya Ve mengenalnya.

"Hai, Dan. Uhm. Belum. Mungkin sebentar lagi." tersenyum kembali. Tadinya Ve ingin bertanya lebih lanjut kepada Daniella mengenai perkembangan praktiknya. Namun Ve mengurungkan niatnya, ketika melihat Daniella sudah disibukan kembali oleh mikroskop miliknya. Mungkin sebentar lagi akan selesai. Dan itu benar. Tepat setelah Ve berpikiran begitu, Daniella maju ke depan kelas untuk mengambil selembar kertas yang disediakan. Wow. Cepat juga Daniella mengerjakannya.

"Cepat sekali, Dan. Hebat." mengangkat alis, keheranan, kemudian nyengir jumawa. Uhm. Kalau mau selesai dengan cepat, berarti harus bsia bergerak cepat juga. Baiklah. Kembali pada mikroskop.

Jamie Aberwitch, Daniella Brighton
Dice: 14 + [result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result]
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Lenka Cho
"..."

Kelas Biologinya—juga sesuatu. Kelas matematika, kelas sejarah, kelas biologi, lalu selanjutnya kelas apalagi? Ah ya, kelas olahraga, kelas kemampuan khusus yang harus diikuti masing-masing anak dan seterusnya. Oh wow, berasa sedang mengikuti pelajaran di sekolah seperti biasanya saja ya? Bedanya adalah ia tidak mengenal siapapun disini, orang asing semua dimana-mana. Dan yang didapatinya berparas sejenis dengannya setahunya ada tiga orang termasuk dengan dirinya, yang ketiganya juga berada di asrama timur bersama dengannya.

Biologi biasanya bukan merupakan subjek yang khusus ia sukai, ah semuanya saja pada dasarnya tidak kau sukai, Lenka. Terserah deh, karena bagaimanapun juga mereka akan tetap mendapati hal seperti ini selama tujuh tahun lamanya. Bahkan tanpa bertemu anggota keluarga dan teman-teman mereka yang dulu, menyedihkan. Bagaimana kabar Mac yang sedang pedekate dengan si gadis bergigi tonggos entah siapalah namanya itu sekarang? Ingin lihat, padahal sebelum ia pada akhirnya diculik kemari katanya besok ia akan menyatakan perasaannya.

Yang tentunya sembari diintip oleh dirinya dan teman-teman lainnya, bah.

Sekarang hal tersebut hanya menjadi sebuah mimpi belaka, karena mimpinya sudah selesai dan ia harus segera menyiapkan kaca preparatnya sendiri. Payah, fasilitasnya payah, kenapa tidak pakai mikroskop yang jauh lebih canggih saja sih. Sulking, sulking, tapi pada akhirnya mengerjakan juga. Tidak tahu harus berinteraksi dengan siapa dan malahan terlanjur terlalu serius mengerjakan bagiannya.

Kalau tidak jadi bagus, awas saja.


[result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result]
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Anneline Preston
Hanya senyum canggung yang dia timbulkan untuk membalas sapaan pagi Biology untuk seluruh siswa yang ada di kelas ini. Yah, tahu sendiri bagaimana Anne. Bukannya dia yang tidak sopan, tapi Anne memang tak pandai untuk bersikap pada setiap orang yang ditemuinya, bahkan untuk membalas sapaan yang sifatnya universal sekalipun (walau ya... tentu saja mungkin Biology juga tidak melihat senyum yang sebenarnya tidak layak disebut senyum tersebut).

Jadi hari ini akan melakukan apa? Hm, semoga saja menyenangkan dan tidak membahayakan sehingga membuat gadis ini mengeluarkan ability secara tidak sengaja, namun entahlah apa yang akan keluar. Suasana suram dengan angin dingin berhembus menggetarkan tulang-tulangmu, mungkin? Ah sudahlah tak ada gunanya memikirkan hal tersebut karena yang terpenting sekarang adalah fokus kepada pelajaran yang diberikan.

Imbalannya kredit katanya. Tapi sayangnya Anne tidak sedang berminat untuk berbelanja dan lebih berminat untuk kembali ke kamar lalu mendengarkan musik hingga akhirnya tertidur dengan lelapnya. Tak peduli apa yang mungkin dikatakan kawan sekamarnya. Tapi itu hanya sebatas kalau Anne tertidur, tapi kalau sudah terjaga? Hm, tentu itu lain lagi ceritanya.

Maniknya berkeliling melihat sekitar. Woah, ternyata sudah ada yang mulai mengerjakan dengan cepat. Telat sekali ya Anne. Iya cukup telat dan karena itulah kini gadis Preston ngebut mempersiapkan preparat yang akan digunakannya. Dari mempersiapkan kaca lalu mengiris bawang dengan perlahan sekali (ya, dia ingat apa yang dikatakan Martha untuk selalu memotong bahan percobaan dengan sangat tipis sekali agar hasilnya bagus). Selain itu, tentu gadis ini harus berhati-hati karena jika tidak, bisa saja jarinya yang tergores oleh pisau kecil dan itu memalukan.

Hm.

Sudah jadi? Belum, masih berusaha untuk membuat yang lebih baik.
*Tabok diceroll* keluar yang bagus ya ' ')/(._. ) [result]2&1,1d2,1,2&1d2+1[/result]
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Lenka Cho
Selesai dengan tugas pertamanya.

Mengamati kembali keadaan yang ada, sudah baguskah atau masih terdapat kecacatan pada tugas miliknya sendiri? Sepertinya sih tidak, Lenka juga tidak tahu apabila pekerjaannya menghasilkan sebuah hal yang bagus atau malahan sebaliknya. Seingatnya ia pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya, dan seharusnya apa yang diajarkan dulunya yang ia praktekkan sekarang sudahlah benar. Benar atau tidak, benar atau tidak. Terserah deh, yang penting ia masih harus melanjutkan proses yang ada menuju langkah selanjutnya.

Diamatinya kaca preparat yang tadi baru saja ia selesaikan. Setelah meletakkan irisan bawang yang sudah ia usahakan setipis mungkin, diletakkan di atas kaca preparat yang ada setelah pipet itu sendiri terisi air yang cukup untuk ditetesi pada permukaan kaca yang dimaksud. Yang membuatnya sulit adalah menutupnya dengan kaca preparatnya, berharap tak ada gelembung udara yang membuatnya akan gagal jika mulai dilihat dari mikroskop kemudian.

Sekarang, nah.

Karena mikroskopnya adalah mikroskop konvensional—astaga—maka dari segi pencahayaan pun mereka masih harus mengaturnya sebaik mungkin. Salahkan fasilitas sekolah yang tidak bisa langsung memakai mikroskop elektron saja, padahal penasaran juga bentuknya seperti apa karena sejujurnya juga belum pernah melihat bentuk mikroskop yang lebih canggih tersebut. Mengatur cerminnya saja terlebih dahulu, supaya mendapatkan pencahayaan yang pas.


3 + [result]2&1,1d2,1,2&1d2+1[/result]
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Annabeth Hemington
Masih berurusan dengan bawang.. Annabeth cukup kesal karena hasil preparat bawangnya gagal, Annabeth sedikit sedih, tentu saja ia sudah merelakan sarung tangannya dan bawangnya bisa dibilang menjadi tidak berbentuk. Annabeth coba lagi, tapi hasilnya selalu terlalu tebal. Annabeth cukup capek yah mau gimana lagi, Annabeth tidak bisa keluar kelas begitu saja. Setelah beberapa saat Annabeth mendapat satu lapis yang cukup pas untuk di mikroskopin.

Lalu tiba-tiba ada seseorang berbicara dari sebelah Annabeth,
"Kamu benci praktek ini? Sama aku juga," lalu anak itu mengangkat tangan, sepertinya ia mengajak Annabeth untuk tos. mm.. Annabeth pernah melihat anak itu, tentu saja! ia adalah anak kembar banyak yang ia temui di taman, walaupun ia cukup menyebalkan. Annabeth menerima tosnya sedikit awkward. Lalu Annabeth kembali berkutik dengan bawangnya, Annabeth sempat melihat bawang si kembar itu dan ia cukup bagus melakukannya, jauh lebih bagus dari Annabeth.

Annabeth selesai berurusan dengan bawang, sekarang mikroskop yahh..Annabeth tidak pernah menggunakan mikroskop sebelumnya ia hanya menaruh hasil bawangnya di atas kaca. Annabeth tahu ia harus mengotak-atik kaca atau sesuatunya dahulu seperti yang ia lihat di televisi-televisi, lalu Annabeth mencoba memutar beberapa hal di mikroskol itu, memang susah, bahkan Annabeth tidak tahu apa yang dia lakukan. Karena Annabeth sangat desprate ia break sebentar duduk di kursi lab,

"Kamu ingat aku? Aku Jamie Aberwitch. Sepertinya kita pernah bertemu?" kata anak kembar banyak itu, jadi nama anak itu adalah Jamie.. jamie aberwhat? "umm.. iya kita pernah bertemu di taman sebelumnya, by the way namaku Annabeth Hemington, kau bisa memanggilku Anna." kata Annabeth sambil memberi senyuman manis dimukanya.


Jamie Aberwitch
2+[result]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/result]
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Free Forums. Reliable service with over 8 years of experience.
Learn More · Register Now
Go to Next Page
« Previous Topic · Kelas Sains · Next Topic »
Locked