Theme style: Light | Dark
Welcome Guest [Log In] [Register]

Announcements

Situations
Informations
Links

Summer 2016
Time: Juli-Agustus 2016
Temperature: 28-33 Celcius

TERM 4


Timeline: 2016/2017
Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001

Kuota Registrasi: 27/45
Kuota Murid Spesial: 2/2
Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2
Kuota Visualisasi Asia: 7/7
Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5
Daftar lebih lengkap

[+] Langkah Bermain
[+] Peraturan
[+] Daftar Visualisasi
[+] Formulir Registrasi
[+] Jadwal Term 4
[+] About Tower Prepatory
[+] Plots
[+] Disclaimer and Credits
[+] Wikia (On Development)
Chatbox
Important Info
Twitter Feed

Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012.

Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login:

Username:   Password:
Locked
  • Pages:
  • 1
  • 9
I want you~ I need you~ I love you~; Pesta Awal Tahun Ajaran 2014/2015
Topic Started: Jun 16 2012, 06:56 PM (1,319 Views)
Headmaster
Kimono-nya pas dipakai, cihuy. Tidak terlalu longgar dan juga tidak terlalu sempit. Matanya melirik ke arah jajaran staff sekolah yang sekarang memakai kimono juga sama dengan dirinya. Ia tentu saja berhasil memaksa mereka semua menggunakan kimono agar sama seperti dirinya. Untuk apa jabatan Kepala Sekolah kalau ia tidak bisa memaksa anak buahnya melakukan apa yang ia inginkan, eh? Jabatan Kepala Sekolah itu harus dipergunakan baik-baik. Meski jabatan tersebut tidak perlu dipergunakan untuk memaksa adiknya yang juga staff sekolah. Michael itu paling mudah dibujuk. HA. Dari mereka masih balita juga selalu seperti itu.

"Selamat datang semuanya! Welcome, welcome!"

Mencoba meniru gaya salah satu tokoh di film yang bercerita soal anak-anak yang saling membunuh itu, lho, yang pakaiannya selalu eksentrik. Nama filmnya sih sudah jelas ia lupa. Kalau ingat, ajaib sangat deh. Tidak seperti tahun lalu, sekarang ia tidak memegangi kaleng soda. Tapi justru memegang segelas teh hijau yang masih panas, itulah kenapa ia baru saja menyemburkan teh yang baru saja ia minum. Panas, terlalu panas. Terbatuk-batuk dulu sebentar dan kemudian mengelap mulutnya menggunakan lengan kimononya. Jika tidak ada yang tahu, sekarang ia sedang berdiri di balik podium, menatap murid-murid baru yang sedang berada di mejanya masing-masing. Tidak ada kursi omong-omong, hanya ada meja pendek yang di atasnya terdapat berbagai macam makanan Jepang. Untuk duduknya ada alas duduk. Kenapa seperti itu?

Karena tema pesta awal tahun ajaran tahun ini adalah Jepang. Jangan tanya dapat ide darimana.

"Nah, semoga kalian merasa nyaman dengan posisi kalian sekarang, siapa tahu pesta yang selanjutnya tidak akan dibuat senyaman ini," ini masih pembukaan, kok, tenang saja, ia masih akan berbicara panjang lebar, "nah untuk Ms. Brighton dan Ms. Vivica, bagaimana rasanya pertama kali bisa pulang, eh? Apakah menyenangkan?" kata siapa Headmaster tidak murah hati? Buktinya ia bisa memberikan hadian seperti itu, "nah yang lain juga, kalau mau bertemu keluarga kalian lagi jadi siswa terbaik seperti mereka, jangan jadi sampah."

Plak. Tamparan virtual ke pipinya. Virtual, berarti tidak ada yang benar-benar menamparnya.

"Ah, aku tidak akan berbicara banyak-banyak kali ini, tampaknya ada yang ingin membuat keributan mungkin di pesta ini?" tertawa renyah, "Bagi yang belum mau makan silahkan menari, hati-hati jangan menginjak kaki orang, siapa tahu kaki itu akan menjadi kaki yang menendang bokongmu besok."

Kurang bijak apa ia?

"Silahkan berpesta! Silahkan merusuh bagi yang mau merusuh!"

Grin. Ia kemudian berbalik untuk menyiapkan rencananya. Nah, penyambutan tahun ini lebih baik kan daripada tahun lalu?
OOC:
  • Timeline pesta ini adalah tepat sesudah orientasi, kurang lebih pukul 10 pagi.
  • Baca post saya baik-baik untuk deskripsi keadaan seperti apa.
  • Latar belakang musik: Heavy Rotation - AKB48.
  • Siswa/siswi dilarang menghampiri meja staff, namun staff diperbolehkan menghampiri siswa/siswi.
  • Untuk makanan, silahkan deskripsikan apa pun jenis makanan yang ada di atas meja asalkan makanan tersebut adalah makanan khas Jepang. Untung minuman hanya ada teh hijau.
  • Siswa/siswi baru menggunakan seragam yang sama yang digunakan saat orientasi. Siswa/i lama menggunakan seragam biasa kecuali sukarela memakai kimono.
  • Happy RP-ing!
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Olivia Satchel
Tumben, Headmaster baik hati, jujur, tidak sombong, dermawan, bijaksana, penuh pencitraan, dan terlihat begitu hot dengan kostumnya hari ini.

"Aishiteru, senseii!" Hush, belajar dari mana kamu ngomong begitu, Lip? Hah, omong-omong, jajaran staf Tower Prep pada pesta kali ini terlihat hot semua ya. Iya, Olivia jujur kok, makanya dia tak segan-segan berteriak seperti tadi, kemudian bertepuk tangan dan menepuk-nepuk meja pendek ala Jepangnya dengan rusuh maksimal (b-bisa gitu?).

Baidewai.. ehem, kenapa yang boleh pakai kimono cuma para staf? Kenapa murid tidak? Seragam merah abu-abu ini membosankan sekali tahu, fuu.. Curang, curang. Pokoknya sebelum akhir pesta, Olivia harus bisa menjambret kimononya Psychology (W-WOI!) atau seminimalnya.. kimono Biology. Atau kalau mau lebih praktis dan cari mati kenapa tidak ambil kimononya Headmaster saja? Biar sekalian merusak imej beliau yang baru saja terbangun oleh tema Jepang nan kinclong ini.

Hng... beneran cari mati.

"Silahkan berpesta! Silahkan merusuh bagi yang mau merusuh!"

Sudah saatnya ya? Oh, ya, sudah saatnya untuk ketiga anggota Trio Goyanggg (n-namanya random..) beraksi kalau begitu. Kebetulan lagunya juga mendukung. Hush, siapa bilang Olivia tidak kenal girl band Jepang ternama, AKB48 itu? Dan lagunya yang paling ngetrend, Rotasi Berat? Dengan latar belakang lagu yang menceritakan 48 perempuan yang kayaknya nih ya.. gak dapet-dapet pacar, rotasi kehidupannya terasa lebih berat, dan jadilah, cewek-cewek itu..

..hng, nonton sendiri deh video clipnya. Heuh.

"AYO VIVI, KITA MAJU!" Menarik-narik tangan Vivian Wilson sekuat yang ia bisa. Masa bodo putus, toh, animal mimicry kan? Pasti dia bisa meniru bintang laut yang tangannya kalau copot bisa cepat tumbuh lagi. "WOI, KAMU JUGA LENKA!" Beralih pada pasangan flamenco Vivi dan menarik-nari kerah bajunya. "AYO CEPET!"

Sabar.. sabar..
W-webe, disengajain post #curcol. Udah diizinin PMnya Vivi & Lenka buat narik-narik mereka ' 'b op-in buat yang mau nyorakin #siapakamusiapa
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Hugh Higham
Kalau boleh jujur, Hugh jauh lebih suka acara pesta tahun lalu. Lagunya memang terdengar lebih enak yang ini dibandingkan sebelumnya (yang sebelumnya terlalu keras), tapi tema pestanya tetap tidak lebih baik yang sekarang. Yang dulu ada sup ikan dan cupcake supermanis bernama red velvet, sekarang ada... makanan absurd.

Hugh belum pernah mencoba makanan-makanan itu sebelumnya. Memang terlihat enak, tapi beberapa juga terlihat aneh. Maksudnya—barusan saja Hugh melihat menu yang mirip-mirip ikan mentah. Lalu ada gumpalan hijau-hijau ngejreng, itu apa? Patut dicurigai. Ditambah lagi kondisi mejanya.

Kenapa mejanya pendek sekali? Tidak ada kursi, hanya ada alas duduk. Lalu mereka makan sambil kaki dilipat, begitu? Bisa pegal nanti. Hugh lebih suka pakai kursi. Bisa tidak ia meminjam kursi ke salah satu staff sekolah? Siapa tahu mereka mengizinkan. Dan ngomong-ngomong soal staff sekolah, kostum mereka lucu. Tapi Hugh tidak akan pernah berniat mengenakan kostum seperti itu. Terlihat merepotkan dan... aneh.

Duduk bersila menempati salah satu meja, hal-hal di atas tadi itulah yang kini sedang bergumul dalam kepalanya. Makanan di hadapan berupa daging dimasak matang warna kecoklatan, dengan bau yang sedap. Untuk mengkonsumsi ini, Hugh tidak begitu keberatan. Di dekatnya ada pula makanan yang mirip ikan mentah itu—dagingnya warna merah muda segar—disertai mangkuk kecil berisi kuah cokelat yang agak kental, dan gumpalan hijau-hijau ngejreng tadi.

Buat hidangan kedua, Hugh akan mencobanya nanti saja. Sekarang menu yang ia dengar bernama yakiniku itu ingin ia nikmati lebih dulu. Aromanya benar-benar menggoda. Nyam. Dan ngomong-ngomong, Silas ke mana? Bryce juga belum terlihat...


op-in..
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Yudhistira Jayamahe
"nah yang lain juga, kalau mau bertemu keluarga kalian lagi jadi siswa terbaik seperti mereka, jangan jadi sampah."

Kalimat barusan itu langsung meraih seluruh atensi dara asli Jogja ini, menyebabkan keningnya berkerut-kerut dan sepasang kristalnya menyorot tak percaya. Kaget. Baru kali ini ia mengetahui bahwa mereka semua yang ada di sini, termasuk dirinya, baru bisa bertemu dengan keluarga masing-masing jika menjadi siswa yang terbaik. Yang mana berarti, sebaliknya—

“..kalau bukan siswa terbaik, nggak bakalan bisa ketemu sama keluarga?”

Whoo, tidak bisa dong!

“Aku mau pulang sekarang juga.”

Kalimatnya itu ya, tidak ditujukan pada satu orang secara khusus. Dilolntarkan begitu saja di tengah-tengah ruangan saat pidato dari orang yang di depan sana baru saja usai. Tapi.. tidak sekarang-sekarang amat sih. Yang dihidangkan adalah masakan khas Jepang, lho, jika melihat kostum dan tatanan ruangan ini. Sushi dan takoyaki itu kan, makanan kesukaan Mahe! (Makanan apa sih yang tak disukai olehnya?) Jadi, mungkin, 'sekarang'-nya itu bisa dimaksudkan secepatnya setelah menikmati makanan. Khas orang Jawa. Oke.

Mahe bergegas mendekati satu meja, lekas duduk di tempat yang tersisa dan langsung saja berbinar-binar begitu melihat apa yang terdapat di atas permukaan meja. Sushi itu mahal, bisa makan gratis begini rasanya.. seperti ada di surga. Oh astaga. Sembari mengambil sebuah piring kecil berisi potongan daging salmon, dan satu piring lain berisi sushi dengan topping belut, Mahe bertanya pada seorang yang ada di dekatnya.

“Yang tadi pidato itu, siapa sih?”

Omong-omong, seolah memanggil Mahe ya? Lagunya itu. Eh.
duduk satu meja sama Hugh Higham, boleh? ' '/
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Lorelei Vivica
Upacara, pesta dan segala acara yang penuh dengan aktivitas manusia—Lorelei Vivica tidak suka.

Sigh. Kenapa juga siswa tingkat dua harus berpartisipasi di Pesta Awal Tahun Ajaran yang baru? Bukankah tidak ada hubungannya? Seharusnya pesta ini untuk menyambut siswa-siswa baru yang malang, bukan? Lalu kenapa ia ada di Aula Besar ini sekarang, hmm?

Seolah Upacara Akhir Tahun belum cukup menyebalkan untuknya—terlebih ketika sang Headmaster memintanya untuk maju ke panggung untuk mendapatkan penghargaan sebagai salah seorang Best Student. Basa-basi dan formalitas yang kaku—so useless.
Masih jelas dalam ingatannya, pesta awal tahun ajaran setahun yang lalu. Ia hanya duduk di sebuah meja tanpa sedikitpun ingin menyentuh hidangan yang tersaji—hanya Daniella Brighton yang dulu teman sekamarnya yang mengajaknya berbicara. Parahnya, tahun ini bahkan mereka tidak menyediakan kursi dan meja untuk para siswa.

Mengenakan kimono sebagai kostum? Pfft…sama sekali tidak pantas. Para pengajar itu justru malah terlihat seperti badut sirkus. Kimono hanya pantas dikenakan oleh orang-orang Jepang—jangan kalian rusak imej itu.

"nah untuk Ms. Brighton dan Ms. Vivica, bagaimana rasanya pertama kali bisa pulang, eh? Apakah menyenangkan?"

Lagi-lagi. Lorelei hanya bisa mengurut pelipisnya perlahan. Untung saja pertanyaan itu hanya basa-basi belaka karena gadis bersurai gelap panjang itu tidak perlu menghampiri sang penguasa sekolah untuk memberikan jawabannya. Ia jawab dalam hati saja: “so so. Nothing’s special.” Jawaban jujur, memang tidak ada drama yang terjadi ketika Lorelei bertemu kembali dengan sang Ibu setelah satu tahun lamanya terpisah. Ia bahkan terlanjur mempersiapkan diri untuk tidak bertemu dengan Agnete Vivica enam tahun ke depan.

Bosan. Tidak nafsu makan—dan musik mengganggu macam apa yang diputar ini? Membuat synesthesia yang di deritanya memunculkan imaji-imaji yang justru tidak menyenangkan dalam benak Lorelei.

Sakit kepala—Lorelei hanya berdiri di sudut ruangan yang sepi. Sepertinya ia akan keluar dari ruangan ini bahkan sebelum pestanya usai, persis seperti apa yang dilakukannya tahun lalu.


open interaksi-cenderung pasif.
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Morgana H. Evans
Ini hanya perasaan Morgan saja atau memang suasana pesta awal tahun ini terasa JAUH berbeda dari tahun lalu? Musik yang melatar belakangi suasana pesta yang sangat Jepang ini pun terdengar begitu keras—istilah kerennya, blaring. Morgan memang tidak tahu apa-apa tentang lirik lagu latar belakang yang diputar, kecuali untuk beberapa kata dalam bahasa Inggris namun hei, coba saja kau minta Morgan sebutkan semua nama makanan yang tersaji di meja.

Tidak seperti tahun kemarin juga, kali ini Morgana harus lesehan di atas alas duduk. Singkat kata, sepertinya semua kursi di aula besar sudah raib entah kemana dan digantikan si alas duduk yang dulu pernah membuat kaki Morgana kesemutan. Sebenarnya, gadis brunette bernama Morgana Heather Evans ini kapok lesehan di alas kaki seperti saat ini. Serius. Kapok banget.

Entah mengapa dua tahun kehidupannya di Tower Prep sudah berlalu dan suasana hatinya kunjung memburuk kian hari ia berada disini. Amarahnya melunjak dalam hati ketika ia mendengarkan Headmaster yang berkimono itu mengatakan 'murid sampah' atau sejenisnya. Serius, kalau bisa, dia ingin minum segelas the hijau yang ada di meja, meminta Tere mengejutkannya lalu memuncratkan the hijau yang ia minum di wajah sang Headmaster yang entah murah hati atau kesambet.

Dara brunette yang sedaritadi diam ini celingukan kesana kemari, mencari sosok sang sepupu yang ia cintai namun kue buatannyalah yang lebih dicintai sang sepupu bernama Theressia Evans. Morgan kemudian mengambil sepasang sumpit dan mulai makan untuk menenangkan moodnya. Sayangnya, sesuatu tak terduga malah terjadi.

Kerap kali Morgan gagal menggunakan sumpit yang ia pegang untuk menyantap dua buah sushi tuna kepal hingga terus-terusan jatuh di piringnya, bukan rok seragamnya, untungnya. Ish, ternyata memakai sumpit itu susah banget. Berkali-kali ia mencoba menggunakan sumpit itu dan berkali-kali pula ia gagal. Morgana mendesah kecewa sebagai tanda ia menyerah.

Bahkan, dia sampai berpikir kalau perlu, tempelkan saja trollface di sumpit yang tadi ia pegang seolah berkata 'U mad?' dan ada orang yang berbaik hati menempelkan muka rage face di wajahnya.

Op-in. Apa postnya aneh? Ya gitulah. Maklum webe + galau + kebanyakan buka 9gag ._.
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Teana Murano
Kalau siswa lain sedang mendengarkan pidato singkat yang diberikan oleh kepala sekolahnya, Teana sibuk dengan makanan-makanan aneh yang ada di hadapan matanya sekarang.

Ew.

Ini apa pula. Gulungan nasi dan—sayur jadi satu, ikan mentah di atas nasi persegi panjang, makanan bentuk bulat-bulat oranye mengkilat yang kelihatannya tidak higienis sama sekali. Sesungguhnya, tempat ini benar-benar sekolah atau bukan, sih. Bagaimana kalau nanti ada yang mendadak sakit perut karena ternyata ada kuman-kuman tak kelihatan dalam irisan daging mentah itu? Atau mungkin, cacing-cacing mikroskopis?

Hii.

Sesungguhnya, Teana Murano lebih rela puasa selama satu hari penuh ketimbang harus mengisi perutnya dengan kudapan yang tidak ia kenal sama sekali. Lidahnya—ia berani menjamin—takkan terbiasa dengan nasi-nasi yang rasanya pasti aneh dan bumbu-bumbu masakan yang belum dan barangkali, takkan pernah ia cicipi seumur hidupnya. Masa bodoh dengan perihal bisa pulang atau tidak, deh.

"Tidak ada pasta atau masakan Barat sama sekali?"

Wajahnya menunjukkan kekecewaan yang jelas bisa dilihat oleh orang banyak. Bibir bawanya mencibir, menunjukkan rasa jijik aku-takkan-pernah-mau-makan-itu sembari mendorong piring-piring yang ada di hadapannya menjauh. Dipaksa oleh guru pun, Teana tidak akan memasukkan minis tersebut ke dalam mulutnya dan membuat ususnya mencerna semuanya.

"Yucks."

Ia tidak bakal menyentuh makanannya hari ini sama sekali. Beruntung kalau ada orang lain yang mau menghabiskannya sampai piring-piring tersebut licin tanpa sisa. Nanti Tea berikan hadiah pelukan gratis, deh. Ini bukan kali pertama Teana berpuasa sepanjang hari, kok. Sempat melakukannya juga beberapa waktu yang lalu, ha. Tidak akan sakit, tidak akan jatuh pingsan. Tidak merepotkan siapa-siapa. Tenang saja.
opewn ouo
Edited by Teana Murano, Jun 16 2012, 08:13 PM.
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Daniella Brighton
Sepasang manik hijau miliknya disajikan suasana baru yang sedang diramaikan dalam aula besar. Sebuah pesta penyambutan yang kental dengan identik dari negara di mana matahari terbit, negeri bunga Sakura. Tahun lalu bertemakan hutan seolah hanya angin lalu, waktu berlalu begitu cepat. Melihat para pengajar dan tidak terlupakan kepala sekolah mengenakan kimono. Pemandangan yang begitu jarang terlihat di tempat terpencil ini.

Di hadapannya tersedia sebuah meja yang tidak lebih tinggi dari lututnya, dengan alas duduk. Sebuah hidangan khas Jepang telah tersedia dengan megahnya. Sekolahnya ini sama sekali tidak tanggung untuk membuat sebuah acara yang meriah. Masih memperhatikan sekelilignya ketika tanpa terduga kepala sekolahnya menyebut nama marganya. Gadis Brighton itu sedikit terkesiap.

"nah untuk Ms. Brighton dan Ms. Vivica, bagaimana rasanya pertama kali bisa pulang, eh? Apakah menyenangkan?"

Kini sepasang iris hijaunya mengarah pada pria yang merupakan kepala sekolahnya. Tentu saja ia tidak akan menjawab dengan berteriak lantang, gadis ini masih berpegang teguh dengan tata krama dan etika yang begitu estetis. Kedua kurva kembarnya membentuk sebuah lekuk sebagai tanggapan atas pertanyaan yang diberikan kepala sekolahnya yang mengaitkan dirinya. Musim panasnya kemarin dihabiskan dengan bersama keluarganya New York. Sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Estelle dan Steve Brighton. Belum lagi ketika tiba di tempat ini, ia menemukan sosok yang membuatnya rindu memiliki perasaan yang khusus untuknya. Pemuda Sundstrom.

Gadis Brighton ini bukanlah gadis yang suka memamerkan ke-khusus-annya di tempat umum, baginya perihal itu harus dijadikan sesuatu yang mengena untuk dirinya dan yang bersangkutan.

Kini ia melihat 'mantan' teman sekamarnya yang kini menjadi 'penghuni kamar sebelah' berdiri di sudut ruangan. Lorelei Vivica, Lori. Satu tahun rasanya tidak cukup membuat entitas itu lebih terbuka dengannya, bukannya memaksa. Jika itu memang yang membuat kedua entitas itu nyaman, Brighton ini sama sekali tidak keberatan.

"Halo, Lori." Sapanya dengan mengulas sebuah senyuman ramah. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya merasa ada yang janggal dari Lori. Tentu gadis Vivica pasti mengerti sekali bahwa gadis bersurai merah wortel ini suka sekali berbasa-basi.

Sesaat menunggu jawaban dari Vivica, ia mengamati teman-teman seangkatannya yang sepertinya akan menikmati pesta ini. Seperti tahun lalu, mereka memang orang-orang yang sangat ramai.

Lalu sepasang iris hijaunya mencari entitas pemilik biner biru kehijauan yang dipanggilnya Mr. Funny. Namun tentu saja, ia kembali menyimak apa yang akan diucapkan oleh Lori. Sebelumnya ia menambahkan ucapannya kembali. "Tidak mau duduk atau mengisi perutmu?"


Lorelei Vivica. Op-IN (deskrip Olip, Vivi, Lenka)
Mencari sosok Mr. Funny. Dan berdiri di pojokan menemani Lori
[edit_reason]Membenarkan deskrip[/edit_reason]
Edited by Daniella Brighton, Jun 16 2012, 08:39 PM.
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Erlina Marley
Pesta dengan gaya jepang, para staff mengenakan baju kimono,oh untunglah murid disini tidak perlu memakainya, apa jadinya jika erlina memakai baju seperti itu? absurd. Makanannya..Unik sangat unik,erlina ingin mencobanya satu-satu tapi kalo makanannya beracun dan dia tiba-tiba kejang di tempat ini? not cool.

Erlina masih mendengarkan pidato headmaster,untung tidak terlalu panjang. Boleh merusuh? Erlina bukan perusuh,tentu saja bukan. Satu lagi jika ingin pulang harus menjadi siswa berprestasi? Apakah erlina bisa? semoga saja,tidak mungkin bisa tahan tujuh tahun tanpa pulang sama sekali.

Lagu mulai di putar cukup keras 'I WANT YOUUUUU!! I NEED YOU!! I LOVE YOU!!!' hanya itu yang terdengar jelas oleh erlina dan 'seperti popcorn yang meletup-letup' hanya itu lirik yang erlina hapal dari lagu yang sedang di putar.

Beberapa orang ada yang mengobrol,makan,menari/berdansa/berjoget,sama saja. Erlina mencari tempat kosong untuk duduk, tidak ada kursi hanya ada alas duduk disini.

Ahh tempat kosong! ya ampun sedih aku sendiri...berbaur? nanti saja tunggu yang menghampiri? kalo tidak ada yang menghampiri? tidur lebih bagus

Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Kate Karter
Ah, pesta lagi. Dirinya sudah bosan menghadiri pesta-pesta. Tidak di Vancouver, tidak disini, ia harus berurusan dengan pesta. Semoga saja pesta yang akan dihadirinya ini tidak membosankan seperti pesta-pesta yang sering ia hadiri di Vancouver.

Dirinya memasuki ruangan yang terlihat sangat besar. Pastinya lebih besar dari kamarnya di asrama barat. DI ruangan ini, terlihat banyak sekali entitas dari yang sudah ia kenal, sampai yang belum pernah ia lihat sama sekali. Sepertinya acara ini akan seru.

Hazelnya mencari-cari seseorang. Ah, jangan berharap. Memangnya, kau tahu siapa dia?

Ia kembali melupakan niatannya. Lebih baik aku mencari Nach, Serene, Ann, Erlina dan.. Blair.

Ya, hanya mereka yang Kate benar-benar kenal. yang lainnya hanya kenal sambil lalu.

Ah, lebih baik lagi jika bertemu dengan Bree dan Elle. Mereka kan teman sekamarku.

ia mencari tempat duduk kosong, dan disanalah ia bertemu dengan Erlina. "Hey, aku duduk disini, ya"

Seorang pria yang baru saja memberikan kata sambutan, mempersilahkan semua yang hadir untuk menari. Tapi ia tak tahu harus menari dengan siapa. Sebenarnya ia ingin menari dengan Blair. Tapi anak itu tidak terlihat batang hidungnya sejak tadi. Oke, untuk saat ini lebih baik ia mengobrol dengan Erlina.

Duduk disamping Ms. Erlina. Sudah izin sebelumnya.

mencari sosok arjuna di keramaian
Edited by Kate Karter, Jun 16 2012, 10:59 PM.
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Fully Featured & Customizable Free Forums
Learn More · Sign-up for Free
Go to Next Page
« Previous Topic · Aula Besar · Next Topic »
Locked
  • Pages:
  • 1
  • 9