Welcome Guest
[Log In]
[Register]
| ||
|---|---|---|
![]() Summer 2016 Time: Juli-Agustus 2016 Temperature: 28-33 Celcius |
TERM 4Timeline: 2016/2017 Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001 Kuota Registrasi: 27/45 Kuota Murid Spesial: 2/2 Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2 Kuota Visualisasi Asia: 7/7 Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5 Daftar lebih lengkap |
[+] Langkah Bermain [+] Peraturan [+] Daftar Visualisasi [+] Formulir Registrasi [+] Jadwal Term 4 [+] About Tower Prepatory [+] Plots [+] Disclaimer and Credits [+] Wikia (On Development) |
|
|
|
|
| Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012. Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login: |
| 1st Grade: Biology (2014/2015); lesson: taxonomy | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Jun 24 2012, 05:11 PM (3,129 Views) | |
| Post #91 Jul 3 2012, 07:25 PM | Ariana Carter |
|
Berapa lama dia terdiam? Menunduk untuk menutupi bahwa sebenarnya kedua matanya berair karena tak kuat menatap layar laptop terlalu lama. Apa yang akan dikatakan teman-temannya jika melihat Rian seperti ini? Dan, oh maaf tak ada yang mempedulikan Rian selama ia berada di Tower Prep, bahkan Rian sendiri tak yakin kalau kedua orang tuanya mempedulikan Rian. Sesaat setelah Rian mengangkat kepalanya dan perlahan mengusap kedua matanya--semoga tak ada yang mengetahui hal itu. Rian baru menyadari kalau sudah banyak anak yang berhasil menyelesaikan kelas ini dan dia tertinggal. Rian hanya menghela napas dan kemudian kembali melanjutkan menyelesaikan ujiannya. Kursor laptopnya terarah ke bawah gambar seekor penguin dengan rambut berwarna kuning di atas kepalanya. Berpikir sebentar dan kemudian menuliskan Eudyptes schlegeli di kotak yang tersedia. Bukannya sok pintar atau apa, tapi dia memang masih ingat, dulu Iriana adik tiri Rian yang cerewet dan sok pintar itu pernah berceramah panjang lebar mengenai hewan tersebut dan tentu saja menyebutkan nama ilmiah hewan itu. Ternyata berguna juga, meskipun sebenarnya Rian tak terlalu mendengarkan perkataan anak perempuan itu. Ya siapa sih yang suka diomeli? Memang sih secara tidak langsung tapi tetap saja Iriana memang anak yang sangat cerewet. Entah apa yang ada di pikiran ayahnya untuk membawa Iriana, anaknya dengan wanita lain, tinggal bersama Rian dan ibunya. Mungkin ibunya dulu tak mau menanggung beban mengasuh Iriana, cih ibu macam apa itu? |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #92 Jul 4 2012, 11:20 AM | Albert Hanford |
|
Seperti Albert kemukakan sebelumnya, hanya dengan memandang kedelapan gambar tersebut sepintas, semua siswa akan dapat menebak nama umum dari kedelapan binatang tersebut. Pendapat Albert ini semakin menguat ketika dia menyadari bahwa beberapa binatang itu tampak familiar dan beberapa kelewat populer. Salah satunya adalah gambar kedua yang sekarang sedang dicermati Albert. Binatang di dalam gambar itu sungguh kelewat populer, karena Albert tidak dapat melupakan peran binatang itu dalam sebuah film keluarga klasik yang dulu sempat ditontonnya bersama-sama dengan keluarganya. Untuk sesaat pikiran Albert memutar cepat bagian-bagian film keluarga klasik tersebut yang Albert ingat. Putaran ulang itu melambat ketika seekor singa jantan terjatuh ke kawanan 'wildebeest' yang sedang berlari. 'Wildebeest,' Albert mengingat nama binatang yang dahulu sempat ditanyakannya kepada orang tuanya sambil memejamkan matanya selama satu atau dua detik. 'Gambar ini mudah,' dia kembali berpikir dengan semangat yang lebih positif lalu kembali membuka buku kunci determinasinya dan mencoba menelusuri identitas 'wildebeest'. Beberapa detik berlalu, dan Albert segera menyadari bahwa pengetahuan Biologinya masih kurang. Penelusurannya beberapa kali membawanya ke keluarga kerbau-kerbauan dan terkadang dia malah menemukan nama Latin sebuah spesies kambing gunung. Setelah beberapa kali mengulangi penelusurannya, barulah Albert dapat mengetikkan kata "Connochaetes gnou" di kotak yang tersedia di bawah gambar nomor dua dengan puas. 'Jadi meskipun binatang-binatang ini tidak asing, ternyata membutuhkan waktu untuk mencari tahu nama Latin mereka,' Albert menyimpulkan sementara kedua ujung mulutnya tertekuk sedikit ke atas. Ternyata guru Biologinya memang tidak akan memberikan ujian yang kelewat mudah kepada murid-muridnya. |
![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #93 Jul 4 2012, 01:17 PM | Theodore Holzsager |
|
Kali ini ia lebih yakin jawabannya benar daripada soal nomor satu—elang sialan itu. Pft, padahal mengerjakannya boleh melihat buku tapi tetap saja, mengisinya tidak terlalu mudah karena banyak spesies hewan yang memiliki cabang lagi dan mirip-mirip gambarnya. Untungnya rusa kutub yang ia kira awalnya banteng itu gambarnya bisa dibedakan sendiri. Lanjut nomor berikutnya. Sial... Memaksakan diri untuk tidak menoleh ke samping cukup sulit. Seharusnya ia fokus pada layar laptop saja dari tadi jadi sekarang pikirannya tidak kemana-mana. Sialan. Gara-gara gadis itu ia jadi mengingat-ingat lagi kejadian memalukan di danau. Ia sudah coba lupakan, dan setidaknya hari ini ia sedang lupa sama sekali dengan peristiwa itu hingga ia terpandang gadis itu. Sial (lagi), kenapa harus saat ulangan begini? Mungkin sehabis kelas ini, ia akan coba mengajak gadis itu bicara. Untuk apalagi? Karena masalahnya dengan gadis itu sampai sekarang belum tuntas. Dan yang menanggung hanya dirinya sendiri—perasaan bersalah yang sebetulnya tidak perlu kalau gadis itu mau percaya. Baiklah. Fokus, fokus, fokus… Ia mengguncang kepalanya tak terlalu kentara, berharap pikirannya bisa kembali jernih. Nomor tiga selanjutnya? Gambar buaya, jelas, bukan alligator. Right? Tanpa berlama-lama ia langsung membuka buku kunci determinasinya. Terdapat lebih dari satu gambar buaya yang tertera di buku, ia putuskan yang paling mirip adalah Crocodylus porosus.. The saltwater crocodile. Merupakan jenis buaya yang habitat nya di sungai-sungai dan di laut dekat muara. Dikenal juga dengan nama estuarine crocodile—buaya muara. Ia menulis nama latin buaya itu dalam text box. Nomor tiga, done. |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #94 Jul 4 2012, 04:41 PM | Erlina Marley |
|
Once again. Nomor tiga dan sudah jelas itu adalah gambar buaya, tapi itu buaya air asin atau air tawar? Tapi kalo di gambar kayanya itu buaya air tawar atau buaya rawa, yang ada di film yang buayanya banyak terus makanin manusia, eh. Ah satu lagi menuju kebebasan, wohooo. Hoam, Erlina menguap (lagi). Erlina jadi terbayang buaya beneran makan manusia, dih. Di danau tower prep ada buayanya ga ya? Kalo kecebur taunya ada buaya gede terus di makan, heh ngawur. Di danau harus berhati-hati,siapa tau ada buaya terminator,eh. Apakah Biology pernah melihat binatang-binatang buas seperti beruang,buaya,berang-berang,elang dan lainnya? Erlina tidak yakin Biology pernah melihatnya secara langsung, ah siapa tahu dan siapa peduli. Erlina membuka bukunya, malas mencari tapi kalo ga di cari nanti ga bisa keluar. Tapi kalo di cari males. Cari aja deh,semangat! Dapat! Nama latinnya Crocodylus porosus kan? Bener dong, kalau salah? Ya salah aja sih,peduli amat. Erlina bangkit dari duduknya berjalan meninggalkan kelas Biology itu dengan rasa penuh kemenangan. Out |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #95 Jul 4 2012, 07:34 PM | Hildr Norgaard |
|
Selanjutnya ya? Apapun itu Hilda harus menyelesaikan semua yang ada, menyelesaikan apa yang sudah dikerjakan, bukan karena Hilda tidak suka biologi bukan pula karena hal apapun tapi mengisi soal dengan bahasa latin hanya dengan bantuan ciri-ciri yang ada dilayar laptop itu agak susah. Ditambah kebanyakan ciri-ciri hewan seperti itu dibagi dalam beberapa golongan. Jadi tidak boleh sembarangan walau pun mereka masih satu spesies. Lalu Hilda kembali dipusingkan dengan hal-hal kecil, kembali harus membedakan satu makhluk dengan makhluk yang lain masih satu family, karnivora, hidup di dua alam, banyak menghabiska waktu antara berjemur dan di dalam air, kulitnya sering dijadikan bahan tas, sepatu, sabuk, dompet lalu lain-lain mungkin jas kulit dari kulit mereka atau apapun. Sigh Menggerakkan kursornya dan men-zoom gambar hewan berkaki empat yang merayap, melata, reptil punya ekor panjang, bukan cicak jelas-jelas. Tubuh besar berkulit besar dan tidak bisa jalan zig-zag hmm hilda belum pernah melakukan percobaan sebenarnya tapi jika disuruh coba, Hilda tidak akan mau terima kasih banyak. Cari mati namanya. Setelah yakin dengan semua hal yang sudah diperhatikan dari gambar tersebut, bentuk tubuh, besarnya, bentuk giginya, moncong yang dimiliki, bagaimana mereka bertahan hidup, ciri-ciri fisik dari satu dan yang lain membedakan, Gadis kecil ini yakin dengan seyakinya mengisi kotak kosong dibawah reptil berkaki empat itu dengan tulisan miring. Crocodylus niloticus Dan menghentikannya menghela nafas sesaat memeriksa tidak ada kesalahan dari yang awal sampe yang dikerjakan sekarang. 4/8 |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #96 Jul 5 2012, 02:08 PM | Ariana Carter |
|
Hening. Bukan tanpa alasan tadi Rian sempat memikirkan kedua orang tuanya, bahkan Iriana, adik perempuannya yang selalu membuat masalah dengannya. Ada sebuah perasaan yang mengganjal di pikirannya setiap Rian mencoba mengingat-ingat tentang kedua orang tuanya. Bukan rasa rindu, oke sedikit memang, tapi tak sebanyak rasa yang tak dapat ia jelaskan tersebut. Gadis Carter itu menggigit bibir bawahnya dan menggeleng pelan, mencoba kembali fokus ke tugas Biologi yang belum ia selesaikan. Berdeham dan kemudian kembali menggeser kursor laptop miliknya ke salah satu gambar yang belum dia jawab. Kursor tersebut terarah ke gambar nomor 1, sejenis burung. Tak banyak yang Rian tahu tentang burung, kecuali burung gereja yang sering hingga di dahan pohon di dekat rumahnya, burung berwarna coklat dan bertubuh kecil itu selalu ada dimanapun, mungkin. Tapi tidak di Tower Prep. Apa di tempat ini tak ada hewan yang hidup? Mungkin Headmaster tidak menyukai hewan, jadi dia tidak memperbolehkan hewan untuk hidup dan tinggal di tempat ini. Mungkin juga Headmaster tak mau repot-repot mempekerjakan office boy tambahan untuk merawat hewan-hewan tersebut dan Rian juga berpikir seperti itu. Burung yang ada di kotak nomor 1 sepertinya masih bersaudara dengan burung elang, dilihat dari paruhnya yang bengkok, menandakan kalau makanan utama hewan tersebut adalah daging dan juga kaki-kaki burung tersebut yang memiliki kuku tajam, lumayan untuk bisa mencengkeram erat mangsanya sebelum akhirnya dimakan habis. Osprey? Pandion haliaetus. |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #97 Jul 5 2012, 03:02 PM | Arthur Franchot |
|
Benar nggak benar, lanjut saja. Arthur Franchot melihat-lihat gambar yang lain. Apa lagi ya? Beruang? Lumba-lumba? Penguin? Duh, ini kok soalnya nyusahin amat deh. Sebenarnya memang nggak sulit, tapi malas saja mengerjakan yang beginian. Arthur bahkan sampai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, lalu mulai memusatkan konsentrasinya pada deretan kotak-kotak berisi gambar hewan di layar laptopnya. Lanjut random saja, lah. Buka buku, kalau ketemu salah satunya, langsung ketikkan saja. Jadi itu yang ia lakukan; membuka-buka halaman demi halaman buku kuncinya yang tercinta. D'ooh, beneran malas deh, tapi kalau nggak diselesaikan dia tidak bisa keluar dong. Dan nilainya bisa jelek, dong. Nanti bisa-bisa dia tidak dipulangkan selamanya ke rumah. Menyeramkan.. sudahlah, cari saja dulu. Ah, ini. "Ursus arctos." Untuk si beruang unyu. 2/8 |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #98 Jul 5 2012, 05:11 PM | Albert Hanford |
|
Albert tidak berlama-lama merenungkan rasa hormatnya terhadap tingkat kesulitan sesungguhnya quiz kali ini. Dia akan memiliki banyak waktu nanti malam, tetapi dia harus mengerjakan quiz ini secepat mungkin apabila dia ingin mengumpulkan semua jawabannya tepat waktu. Maklum, sistem yang diintegrasi dan dikomputerisasi ini memiliki ketepatan waktu yang cukup mengerikan. Berbicara tentang mesin, ya. Mata Albert segera melanjutkan ke gambar nomor tiga dan otaknya segera penuh dengan satu kata: "buaya". 'Soal mudah!' merupakan pikiran Albert sesaat sebelum dia membuka buku kunci determinasi dan menemukan bahwa "buaya" itu adalah sebuah familia. Sepengetahuannya, nama ilmiah itu disusun oleh nama genus dan spesies, bukan familia. 'Apakah aku harus menebak secara acak?' pikir Albert sementara keningnya mengernyit saat dia kembali memandangi gambar nomor tiga. Jujur saja, pikirannya tadi memang merupakan jalan yang mudah dan sesaat terdengar brilian, tetapi idealisme Albert mencegahnya untuk mengambil jalan mudah itu. Dia masih memiliki waktu, karena itu dia tidak boleh menyerah begitu saja. Akhirnya dengan tekad baru (walau harus Albert akui, tekad ini semakin menipis seiring berjalannya waktu), Albert memutuskan untuk membuka buku kunci determinasinya dan menantang lembaran familia 'Crocodylinae'. Sekarang, ketika dia melihatnya dengan lebih seksama, Albert baru menyadari bahwa beberapa genus di bawah familia itu telah punah sehingga pencariannya seharusnya cukup mudah. Sekarang ketika pencarian Albert sudah sampai genus 'Crocodylus', Albert kembali mendapatkan kesulitan untuk menentukan ciri-ciri fisik yang membawanya mendapatkan genus si buaya. Terus terang, bagaimana membedakan lokasi distribusi populasi seekor hewan hanya dengan sebuah gambar? Jangan jawab dengan memperbesar gambar tersebut, karena Albert sudah mencobanya dan hal itu terbukti tidak berhasil. Setelah beberapa puluh detik yang terasa seperti beberapa menit, Albert pun mengusap wajahnya. Dia menyerah memandangi latar gambar si buaya yang sama sekali tidak informatif (maksudnya, rumput seperti itu bisa tumbuh di mana saja, kan?) dan beralih kepada buku kunci determinasinya dengan malas. Tanpa bertanya kepada idealismenya, Albert pun mengambil nama pertama di bagian Asia-Australia, yakni bagian yang pertama dilihatnya, lalu mengetikkan, "Crocodylus porosus," di kotak jawaban. 'Persetan dengan idealisme.' |
![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #99 Jul 7 2012, 06:53 AM | Amethyst Fliederfield |
|
Setelah gambar pertamanya ia tebak tanpa melihat buku kunci dikotomi-- si Paus Beluga itu, kini maniknya kembali tertuju ke layar. Sisanya, tak ada yang ia tahu. Maksudnya, nama latinnya. Kini, memang saatnya membuka buku tebal itu, ya. Dimulai dari mana? mungkin para penguin bersurai kuning itu. Animalia... chordata... aves. Maniknya terus memindai tiap cabang kunci di lembar buku itu. Sphenisciformes. Ordo untuk penguin. Untung saja ia tahu ordo bagi para burung tanpa sayap itu. Akan susah payah kalau ia harus menggunakan kunci dari awal. Yap! mulai dari sini, ya? Iya, iya, sebenarnya Amethyst tahu itu jenis penguin apa. Rockhopper penguin. Penguin bersurai kuning dengan tampang yang garang dibandingkan penguin lain-- seperti Emperor Penguin contohnya. Hanya saja menemukan nama latinnya yang tepat bisa jadi hal yang cukup melelahkan, seperti sekarang ini. Ia menemukan tiga subspesies. Southern Rockhopper penguin, Eudyptes (chrysocome) chrysocome. Northern Rockhopper penguin, Eudyptes (chrysocome) moseleyi. Dan yang satunya Eastern Rockhopper penguin, Eudyptes (chrysocome) filholi. Bingung, kan. Apalagi ia tidak bisa melihat ciri fisiknya dengan jelas karena hanya disediakan gambar tampak depan. 7. Eudyptes chrysocome Jemarinya mengetikkan kata-kata itu. Daripada pusing mau tulis subspesies yang mana, lebih baik lanjut ke nomor berikutnya sebelum waktunya habis. 2/8 |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #100 Jul 8 2012, 05:14 PM | Theodore Holzsager |
|
Begitu jemarinya selesai mengetikkan jawaban nomor tiga, cepat-cepat ia membuka kembali buku kunci determinasinya. Tanpa berlama-lama langsung beralih pada nomor selanjutnya—gambar berang-berang. Bahkan tidak memberi kesempatan bagi pikirannya untuk melenceng kemana-mana lagi. Kembali fokus (atau setidaknya berpura-pura fokus seperti ini lebih baik). Dimulai dengan menganalisis ordonya. Hewan tersebut termasuk dalam kelompok hewan pengerat, ordo Rodentia kalau tidak salah. Ia mulai mencari di buku (lebih tepatnya menebak-nebak) famili yang sesuai dengan mamalia pengerat tersebut. Pasti Castoridae? Karena seingatnya, berang-berang memiliki nama latin yang berawalan dari 'c' dan ada 'tor-tor'-nya—castor. Dan ternyata memang benar. Ah akhirnya ada juga soal yang mudah ...(disamping soal buaya tadi). Ia mendapati banyak gambar berang-berang dalam klasifikasi famili dengan genus castor tersebut. Tugasnya sekarang tinggal membedakan spesies mana yang tepat dengan gambar berang-berang di laptopnya. Nah, di situ lah bagian yang membuat malas.Tidak terlalu mudah membedakan spesies mana yang tepat, meski gambarnya sudah diperbesar, karena tetap mau dibagaimana pun gambarnya hanya terlihat dari satu sudut. Sedangan di buku, pose hewan tersebut bermacam-macam. Bisa jadi gambarnya terlihat begitu berbeda padahal sebetulnya hewan yang sama. Jadi bingung. Castor canadensis Yang mana sajalah, asal cepat selesai. 4/8 |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Kelas Sains · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:58 AM Jul 11
|
Hosted for free by ZetaBoards · Privacy Policy









7:58 AM Jul 11