Welcome Guest
[Log In]
[Register]
| ||
|---|---|---|
![]() Summer 2016 Time: Juli-Agustus 2016 Temperature: 28-33 Celcius |
TERM 4Timeline: 2016/2017 Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001 Kuota Registrasi: 27/45 Kuota Murid Spesial: 2/2 Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2 Kuota Visualisasi Asia: 7/7 Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5 Daftar lebih lengkap |
[+] Langkah Bermain [+] Peraturan [+] Daftar Visualisasi [+] Formulir Registrasi [+] Jadwal Term 4 [+] About Tower Prepatory [+] Plots [+] Disclaimer and Credits [+] Wikia (On Development) |
|
|
|
|
| Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012. Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login: |
| 2nd Grade: Biology (2014/2015); lesson: cells | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Jun 24 2012, 06:02 PM (1,744 Views) | |
| Post #1 Jun 24 2012, 06:02 PM | Biology |
|
Demi apa dia sudah harus mengajar lagi? Musim panas sudah selesai? Demi apa? Ngeh. Padahal dia belum sempat ambil cuti dan pergi jalan-jalan. Katanya, Laguna Beach di Orange County terdengar menggugah. Matahari yang bersinar terik, es limun yang melepaskan dahaga, juga gadis-gadis muda nan cantik yang bisa diajak kencan. Hah. Kenapa juga yang dulu ia memilih pekerjaan ini? Masa lajangnya jadi tidak bisa dinikmati dengan baik. Tapi waktu itu, pilihan ini terdengar jauh lebih menggiurkan dibanding harus menjadi agen rahasia. Walau kelihatannya menjadi NCIS itu seru, tapi banyak yang harus dikorbankan bukan? “Halo.” Sapaannya terdengar biasa saja. Ya iyalah, orang lagi nggak mood ngajar. “Berhubung ini masih pertemuan pertama di semester baru, kita bermain saja, ya? Aku sedang malas memberikan materi. Kecuali ada yang mau sok pintar dan maju menggantikanku sebagai guru.” Sana, sekalian melamar pekerjaan ke Headmaster untuk menggantikannya. Biar dia bisa bersenang-senang menikmati musim panasnya yang tertunda. “Coba akses situs di depan ini,” ia menunjuk layar depan kelas yang menunjukkan nama situs yang ia maksud. “Kalian lihat ada tautan menuju lima puzzle?” Bukan puzzle yang jika dirangkai akan menampakkan gambar Winnie The Pooh atau Mickey Mouse, lho. Basi banget kalau itu sih. “Nah, selesaikan puzzle itu. Bisa lima-limanya akan lebih bagus.” Sudah? “Ya, ya. Kerjakan dengan baik, ya.” Sementara Biology ingin ongkang kaki dulu sejenak, mengkhayal tentang musim panas yang sudah lewat juga rasa limun yang akan sangat menyegarkan di kala sekarang. Teknis
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #2 Jun 24 2012, 06:54 PM | Lorelei Vivica |
|
Demi apa Lorelei Vivica harus belajar Biologi lagi? Sungguh tidak perlu ia jabarkan secara mendetail bagaimana gadis bersurai cokelat gelap ini begitu tidak menyukai mata pelajaran yang satu ini? Ingat tahun lalu ketika dirinya harus berurusan dengan keparat bawang? Benci. Benar-benar merepotkan dan menyita cukup banyak energi dan waktu hanya untuk sekadar mengiris bawang dan melihatnya dari balik lensa okuler miskroskop—kemudian menggambar sel penampang epidermisnya. Ya, ia masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas—dan sesungguhnya ia berharap tidak akan bertemu dengan peralatan menyebalkan itu tahun ini. Ia boleh berlega hati. Tidak ada lagi praktikum menyusahkan seperti tahun lalu. Ketika sang guru yang memang entah sangat terobsesi dengan penampilan dan wanita itu masuk ke dalam kelas dan dengan basa-basi terlebih dahulu sebelum akhirnya menyuruh seisi kelas untuk mengakses sebuah situs. Untung saja bukan semacam situs mesum—pfft. Hanya situs berisikan lima puzzle sel yang diacak randomly. Jadi hanya itu tugasnya? Merangkai kembali dan menyelesaikan puzzle-puzzle tersebut? Astaga. Lelucon macam apa lagi ini. Jangan katakan saking malasnya Biology mengajar, ia hanya menyuruh mereka bermain dengan puzzle layaknya siswa taman kanak-kanak. Lorelei menghela nafas dalam. Seperti biasa, menggerutu dalam hati. Namun akhirnya mulai mengerjakan puzzle yang pertama. Puzzle #1 Red Cell CMIIW Edited by Lorelei Vivica, Jun 24 2012, 08:17 PM.
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #3 Jun 24 2012, 07:05 PM | Daniella Brighton |
|
Gadis bersurai merah wortel ini kini bukan lagi berada di kota yang tidak pernah tidur, New York. Di mana kedua orang tuanya menyambut kepulangannya untuk menghabiskan musim panasnya berkumpul bersama dengan putri tunggalnya. Tidak ada lagi deru suara mesin dari luar jendela penthouse-nya, tidak ada lagi kericuhan aktivitas para penghuninya. Kini ia telah duduk di kelas biologi pertemuan pertamanya, membuatnya semakin sadar bahwa musim panas telah usai. Sepasang manik hijaunya memperhatikan bagaimana pria yang masih bisa dikatakan muda itu menyapa kelasnya dengan setengah-setengah. “Berhubung ini masih pertemuan pertama di semester baru, kita bermain saja, ya? Aku sedang malas memberikan materi. Kecuali ada yang mau sok pintar dan maju menggantikanku sebagai guru.” Terima kasih, gadis ini perlu waktu yang singkat untuk mengembalikan rutinitasnya sebagai siswa tower prep ini, bukan siswa yang sedang berlibur kembali. Tahun kedua, ya? Tidak terlalu buruk. Apalagi tahun kedua ini hubungannya semakin membaik dengan pemuda Sundstrom itu. Sesuai intruksi yang diberikan dirinya membuka situs yang diperintahkannya. Menyusun puzzle? Seperti mencari teka-teki bukan? Sepertinya bukan hal yang terlalu buruk juga bukan? Baik mari kerjakan dengan baik, last but not least. Anggap saja ia tidak terlalu pintar untuk menyusun berbagai hal seperti ini. Mari puzzle yang pertama akan diselesaikannya adalah sel binatang. Yes? Okay. Puzzle 01 (Animal Cell) PMIIW |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #4 Jun 24 2012, 07:16 PM | Olivia Satchel |
|
Demi apa ketemu Biology lagi? Ahey~ Yap, musim panas sudah usai, sobat. Dan Olivia Satchel keberuntungannya berpuluh-puluh kali di bawah Daniella Brighton dan Lorelei Vivica yang diberi kesempatan pulang ke rumah dan dapat mendobrak pintu kemudian dengan toa berteriak Momma, Dadda, Imma hommmmeee!!, menghambur dalam pelukan. Ah, ya, bisa dibilang Olivia kangen rumah. Dia kangen Mama Joanna yang cantik serta tingkah lakuknya yang random kalau sedang haid, Papa Bane yang baik hati dan tidak sombong, semuanya. Termasuk Cella, Drake dan Ken yang mungkin membencinya karena mendadak hilang tahun lalu. Hold on, buddies! Six years to go! Berasa artis yang fansnya meringis-ringis minta ketemu, huh. Omong-omong, ya, di kelas Biologi pertama pada tahun keduanya ini Olivia Satchel sudah duduk manis dengan rambut digerai (yang malah semakin berantakan karena menyisirnya sambil berkhayal Arthur Franchot jadi penata lampu..). Biology seperti biasa—ya, kau tahu kan beliau bagaimana? Ehem. Lanjut, lanjut. Gurunya itu bilang, mereka disuruh mengakses sebuah link yang tempampang di layar. Okesiip, Mister Simple, Olivia pasti bisa deh.. .. eh, puzzle? A-apa jadinya kalau Olivia protes ya? Aduh, tapi seriusan deh, Olivia ga jago nge-puzzle. Huh, terima sajalah. Olivia memulai dengan cap cip cup untuk memilih puzzle mana yang susun duluan. Ah.. animal cell. Oke, Olivia suka hewan. Seharusnya dia bisa. Mula-mula ia menyusun beberapa puzzle, berjengit di kursinya begitu bertemu pasangan puzzle yang pas. "Yes.. yes.. YESH!" Norak. #1 Animal cell :3 Op-in :> |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #5 Jun 24 2012, 07:19 PM | Lorelei Vivica |
|
Bukan mau menyombongkan diri, tapi puzzle pertama yang dipilihnya terlalu mudah. Soal acak-mengacak dan merangkai kembali suatu imaji menjadi satu kesatuan yang utuh bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan oleh gadis penderita Synesthesia yang satu ini. Apalagi Lorelei Vivica juga salah satu—uhm, katakan saja, seorang penikmat seni yang sudah terbiasa dengan warna dan bentuk-bentuk yang solid maupun yang abstrak sekalipun. Gadis Vivica ini bersyukur dalam hati bawa kelainan yang dideritanya ini ternyata bisa berguna menghadapi soal-soal semacam ini. Bisa dibilang kini dirinya malas keasikan dan tenggelam dalam permainan merangkai puzzle digital ini. Surprisingly—sepertinya kali ini ia harus mengacungkan jempol bagi sang guru karena memberikan tugas semenarik dan semenyenangkan ini. Biology ternyata bukanlah seseorang yang sangat membosankan seperti dugaannya. Sorry for that, Sir—no hard feeling. Manik hazelnya kembali terfokus pada layar monitor di hadapannya, memilih puzzle sel hewan sebagai misteri yang harus diselesaikannya kali ini. Shall we? Terhanyut kembali dalam pikirannya. Puzzle #2 Animal Cell Edited by Lorelei Vivica, Jun 24 2012, 08:18 PM.
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #6 Jun 24 2012, 07:32 PM | Daniella Brighton |
|
Baik, puzzle pertama telah selesai. Animal Cell. Gadis bersurai merah wortel ini memang tidak terlalu ahli dalam menyusun puzzle dengan warna. Bahkan ia tidak pernah memainkan puzzle gambar boneka atau putri-putri yang ada di dongeng. Manik hijaunya tidak terbiasa. Kembali mengerjakan puzzle kedua sesuai intruksi dan gambar situs yang ada di dalamnya. Mari teruskan kembali. Lanjutkan! Apa hanya perasaannya saja atau memang puzzle yang kedua ini yang telah dipilihnya sedikit lebih susah dari sebelumnya? Warna biru yang lebih dominan memusingkannya tanpa ada perbedaan kontras yang bisa dilihat penglihatannya. Membuatnya sedikit terbingung-bingung. Menentukan mana potongan-potongan yang seharusnya berada di tempatnya. Ia mendesah napasnya. Dengan ekor mata yang mencari sosok pemuda Sundstrom. Oh, Lord! Biarkanlah gadis bersurai merah ini menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu, ia akan bisa menghabiskan waktunya terlebih dahulu. Plant Cell. Telah selesai, menyusunnya dengan susah payah. Semakin lama semakin menyenangkan, Ya? Puzzle 2 Plant Cell
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #7 Jun 24 2012, 07:51 PM | Olivia Satchel |
|
"Yes yes yes yes yes yes yes... YOOOOOOOHHHH!! SELESAI!" B-baru satu, lho, Lip. Tadi sudah dijelaskan, bukan? Olivia itu ga jago nge-puzzle, seriusan. Kalau dikasih puzzle sama Papa Bane, pasti Olivia langsung ngumpet di balik sofa. Oh, ya tentu saja itu kisah saat usianya masih lima tahun, jadi Olivia masih bisa nyelip ke bawah sofa dengan badannya kecilnya. Sekarang? Huh, boro-boro sofa, kulkas aja udah pelit ngasih lahan buat ngumpet. Ohoo, udah tinggal empat puzzle doang, lho. Olivia tumben bisa cepat ya nge-puzzle. Biasanya lemot dan jedanya lamaa banget. Orang yang pertama kali mengenalkan Olivia dengan puzzle adalah Bibi Alexis—kakaknya Mama Joanna. Beliau dengan sabar dan bentakan yang ditahan (keliatan banget deh, lehernya gerak naik-turun tiap lihat Olivia terbalik pasang puzzle) menuntun jalan lurus untuk keponakannya supaya bisa menyusun puzzle. Dan pada akhirnya, puzzle yang seharusnya bergambar kumbang jadi lebih mirip celana dalam Drake yang warnanya merah-merah polkadot. Huah.. ceritanya penting sekali. Kembali cap cip cup dan kali ini pilihannya jatuh pada puzzle sel darah merah. Sial.. sial.. SIAL! Olivia paling nggak jago soal biology beginian. Betulan deh, makanya sampai detik ini dia tidak ingat-ingat bedanya arteri dan vena. Oke, step 1, kalem. Mula-mula menyusunnya dengan wajah kalem, senyum di wajahnya, bahkan sesekali mengerling kencang begitu kesusahan cari puzzle di pinggir. "MANA SIH MANA?!" Ternyata susah juga ya untuk kalem. Hah, ujung-ujungnya juga dia tidak sadar sudah setengah jalan. #2 Red cell :3
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #8 Jun 24 2012, 07:58 PM | Lorelei Vivica |
|
Puzzle kedua? Done. Sel hewan ternyata memiliki bentuk yang absurd dan unik, ya? Selama ini Lorelei belum tahu seperti apa warna dan bentuk sel dari kebanyakan hewan yang ada. Lorelei terkekeh sendiri membayangkan sel hewan tersebut berbentuk seperti monster yang aneh, meskipun tidak menakutkan. Jangan heran bahwa terkadang gadis bertubuh jangkung kurus ini memiliki imajinasi yang berlebihan—malah imajinasinya seringkali berkembang tanpa ia inginkan. Lagi-lagi synesthesia. Sejenak mengalihkan pandangannya dari layar monitor dan memandangi seluruh isi kelas. Anak-anak yang lain tampak sedang sibuk—atau asyik merangkai puzzle seperti apa yang sedang dilakukannya. Mendapati sosok mantan teman sekamarnya, gadis dengan surai merah mencolok—Daniella Brighton. Oh tentu saja gadis itu pasti juga akan dengan mudah menyelesaikan puzzle yang diberikan. She’s the best student, after all. Kemudian pandangannya dikembalikan ke hadapan layar monitornya. Saatnya puzzle ketiga. Puzzle Streptococcus dengan warna biru yang mendominasi kelihatannya menarik untuk ditaklukkan. Tunggu dulu, streptococcus itu, sebenarnya sel apa sih? Semacam bakteri ya? Puzzle #3 Streptococcus
Edited by Lorelei Vivica, Jun 24 2012, 08:18 PM.
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #9 Jun 24 2012, 08:00 PM | Daniella Brighton |
|
Benaknya semakin terasa berat, sungguh hal ini bukanlah keahlian gadis bermarga Brighton ini. Hanya saja ia tidak mau menyerah begitu saja, jangan pernah berhenti sebelum menyelesaikan apa yang telah dimulai. Kepalanya memiring melihat puzzlenya yang ketiga, sungguh ia tidak bisa membedakan kepingan-kepingan yang ada bagaimana warna itu begitu sama. Yang ia lihat bukanlah Sel darah merah, melainkan seperti kelopak bunga mawar. Ternyata di dalamnya terdapat kelopak bunga mawar berwarna merah seperti surainya bersemayam dan mengalir di dalam nadinya. Bukankah itu suatu hal yang sangat menarik? Ternyata suatu makhluk memang diciptakan benar-benar menjadi satu kesatuan yang sempurna. Baru saja dua puzzle yang dikerjakannya sekarang merupakan puzzle ketiganya, red blood sell. Bukankah ia telah mengatakan bahwa ini bukanlah keahliannya? Ya, memang. Ia tidak terbiasa untuk teliti membedakan kontras warna, menurutnya merah yang ada di dalam puzzle yang didapatkannya dari situs yang diberikan guru biologinya. Gradasi warna, benarkah itu namanya? Mungkin pelajaran tahun pertamanya lebih mengasyikkan, baginya. Menyesuiakan mikroskop dan menyiapkan preparatnya. Ya, itu jauh lebih membuatnya nyaman. Mungkin setelah puzzle ketiga ini selesai, sedikit lagi, kelopak bunga mawar ini akan dipersatukan dan membuat tugasnya berkurang. Bolehkan ia mengistirahatkan matanya sekejap? Indera penglihatannya terlalu banyak menerima warna yang begitu memabukkan. Meskipun begitu, ia telah menyelesaikannya. Last but not Least. Puzzle 3 Red Blood Cell
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #10 Jun 24 2012, 08:10 PM | Nathaniel Gilbert |
|
Puzzle? Hanya itu. Sungguh kreatif guru narsis itu membuat kelas biologi bagaikan di dalam neraka. Bukankah lebih baik jika mereka membahas banyak hal tentang biologi bukannya menyusun puzzle-puzzle tolol ini. Sama sekali tak berguna. Hanya akan menghasilkan sakit kepala. Puzzle. Permainan yang begitu di benci Pemuda Gilbert ini. Suatu pekerjaan yang hanya akan membuang-buang waktu hanya untuk sekedar menyusun kembali gambar? Lebih baik tidur, lebih terlihat berguna. Sungguh guru yang begitu sangat-sangat-sangat kreatif! Mudah bagi kedua gadis yang mendapat predikat Best Student untuk menyusun kepingan puzzle sialan ini. Bahkan mereka terlihat begitu bersemangat dengan tugas ini. Seperti para gadis yang menemukan barang favorit mereka. Ugh. Jangan tanya Nathan bagaimana ia bisa menyelesaikan puzzle-puzzlenya ini. "First puzzle" Bahkan untuk berguman saja ia terlihat malas. Puzzle #1: Animal Cell -______-' |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Kelas Sains · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:57 AM Jul 11
|
Hosted for free by ZetaBoards · Privacy Policy

















7:57 AM Jul 11