Welcome Guest
[Log In]
[Register]
| ||
|---|---|---|
![]() Summer 2016 Time: Juli-Agustus 2016 Temperature: 28-33 Celcius |
TERM 4Timeline: 2016/2017 Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001 Kuota Registrasi: 27/45 Kuota Murid Spesial: 2/2 Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2 Kuota Visualisasi Asia: 7/7 Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5 Daftar lebih lengkap |
[+] Langkah Bermain [+] Peraturan [+] Daftar Visualisasi [+] Formulir Registrasi [+] Jadwal Term 4 [+] About Tower Prepatory [+] Plots [+] Disclaimer and Credits [+] Wikia (On Development) |
|
|
|
|
| Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012. Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login: |
| 2nd Grade: Biology (2014/2015); lesson: cells | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Jun 24 2012, 06:02 PM (1,750 Views) | |
| Post #11 Jun 24 2012, 08:11 PM | Olivia Satchel |
|
"Ya dewaa.. dikit lagi!" Semangkaa!! "YESH, SELESAI!" B-baru dua.. Aloha, ternyata perjuangan Olivia Satchel di kelas Biologi masih panjang, sobat. Tiga puzzle tersisa dan sebelum menyelesaikan salah satunya Olivia bengong dulu, refreshing ceritanya. Ia lebih mengenyakan diri pada kursinya, menarik nafas kemudian mengeluarkannya dengan gaya refleksi yang tenang dan rileks. "Fuuhh.." Haah, rasanya menyelesaikan dua puzzle dalam sekejap bagi Olivia Satchel itu sesuatu ya. Apa mungkin dalam menyusun puzzle kali ini Olivia bersemangat? Karena apa? M-masa karena kehadiran guru favoritnya itu sih.. aduh.. Aduh, kenapa aduh? Tidak kok, bukan apa-apa. Bahkan tidak ada yang namanya rasa dag-dig-dug. Kalian pikir Olivia terpesona dengan Biology pasti ya? Saking terpesonanya sampai-sampai bakat rendahannya dalam menyusun puzzle tiba-tiba meroket jadi tinggi begini. Hng—tapi bisa saja sih Biology punya sesuatu terpendam yang bikin Olivia semangat. Di tengah-tengah memikirkan Biology tiba-tiba dia malah dihantui mimpi Arthur Franchot jadi penata lampu. I-ini sebetulnya apa sih.. YA DEWA INI APA? Harusnya Olivia konsen, ya dewa, konsen. Ini pelajaran, bukan saatnya jadi pemimpi. Buru-buru Olivia menegakan duduknya kembali dan menghadap layar kembali. Lalu mulai cap cip cup untuk ketiga kalinya. Hng—naphthalene. Kenapa cobaan hidupnya jadi semakin susah begini? Kenapa? Tapi Olivia harus semangat. Ya, semangat. Tidak ada konsetrasi tapi tidak ada semangat untuk Olivia. Naphthasomething, serbu! #3 Naphthalene :3
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #12 Jun 24 2012, 08:16 PM | Lorelei Vivica |
|
Cantik. Begitulah penilaian Lorelei terhadap sel Streptococcus yang gambarnya baru saja terlihat dengan utuh di layar monitornya. Dominasi warna biru dengan bentuk sel yang bulat-bulat bergerombol yang membentuk suatu barisan manis—dilatari dengan warna abu gelap kehitaman. Lagi-lagi gadis ini tertawa dalam hati, senyuman halus yang merekah di parasnya tersamar. Mungkinkah hanya dirinya satu-satunya yang merasa bahwa gambar-gambar yang diperlihatkan oleh puzzle tersebut sebenarnya gambar yang luar biasa indah dengan warna yang menawan? Bukannya Lorelei seorang penganut ajaran agama yang taat, tapi kali ini ia benar-benar takjub akan bagaimana Tuhan telah menciptakan makhluk hidup dengan cara yang sangat menakjubkan. Sejenak termenung memandangi warna biru di hadapannya. Warna biru selalu bisa membuat hati gadis pendiam ini lebih tenang dari biasanya. Rasa kesal yang semula melandanya di awal kelas karena teringat akan praktikum biologi tahun lalu yang merepotkan perlahan menghilang. Justru kini, kalau ia boleh meminta—ia akan meminta sang Guru baik hati yang sedang bersantai menunggu siswanya selesai mengerjakan tugasnya ini untuk menambah lebih banyak puzzle lagi. Sungguh, diberikan seratus puzzle macam ini lagi Lorelei tidak akan keberatan. Uhm—mungkin tidak sampai seratus juga. Kedua matanya bisa sakit jika benar-benar harus menyelesaikan seratus puzzle macam begini lagi. Selanjutnya, puzzle ke-empat yang harus diselesaikannya jatuh pada sel tumbuhan. Kini ia semakin tak sabar melihat bagaimana jadinya bentuk sel tersebut setelah menjadi puzzle yang utuh. Klik. Puzzle #4 Plant Cell open interaksi kalau ada yang mau
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #13 Jun 24 2012, 08:28 PM | Daniella Brighton |
|
Adakah yang merasakan hal yang sama seperti Daniella Brighton? Terlalu melihat banyak warna membuat indera penglihatannya lelah. Mungkin berbeda dengan teman-teman sekelasnya yang lebih familiar dan akrab dengan macam-macamnya warna yang ada. Seperti ketua klub lukis, mungkin? Lorelei Vivica? Bukankah ia memang terbiasa dengan warna-warna serta gradasi warna yang menurut gadis bersurai merah wortel merah ini sama saja. Sebelumnya yang ia lihat hanyalah warna merah, hanya merah. Tidak ada warna merah muda dan merah gelap. Bukannya ia mengidap buta warna, tentu bukan, ia hanya tidak peka untuk membedakan warna-warna itu. Setelah dipermainkan dengan warna merah, kini ia bergantian dengan puzzle sesuai dengan perintah gurunya yang dikenal sebagai 'Biology'. Tanpa nama depan dan marganya, untuk menjaga identitasnya? Apakah suatu saat nanti ia juga harus menjaga privasi bahkan memalsukan identitasnya? Terlalu banyak pikirannya menjadi bercabang, oh, ya, sekarang warna puzzle itu didominasi dengan warna biru... atau... ungu? Astaga... mungkinkan ia memadukan warna merah dari puzzle sebelumnya dengan warna puzzle yang sekarang? Ungu? Perpaduan merah dan biru... ungu? Sebaiknya ia memang beristirahat. Ia memejamkan matanya. Inhale. Exhale. Puzzle keempat, Streptococcus. Entah apa itu. Gadis bermarga Brighton ini terlalu lelah untuk mengetahuinya lebih jelas. Seperti ini kan bentuk lengkapnya dari puzzle keempatnya? Betapa ia membutuhkan untuk memejamkan matanya sejenak. Gadis bermanik hijau ini mabuk warna. Bukan pewarna dari makanan, tetapi memang warna. puzzle 4 (Streptococcus) |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #14 Jun 24 2012, 08:33 PM | Olivia Satchel |
|
Oh, sungguh, segalanya terasa fast paced. ... Lihat bagaimana Olivia Satchel memutar-mutar sekitar sepuluh kali kepingan terakhir puzzle naphthalene sampai matanya juga ikut berputar-putar seperti orang bosen nunggu buffering. Sampai pada akhirnya ia pun menemukan posisi kepingan terakhir itu dengan benar dan.. "SELEZAAIII!!" Dua lagi, Lip, dua, DUA! Ya dewa, benar-benar hari ini Olivia sedang dewa banget ya. Yang kini dilakukan Olivia malah cuma bisa speechless sampai nyaris menitikan air mata (err—ini lebay tapi serius..). Tahu-tahu dia sudah mengecup kepala layar miliknya sampai lima kali kemudian memeluknya. Haah.. benar-benar ya. Sungguh, ter-la-lu. Andai Papa Bane ada di sini, bayangkan seberapa bangganya beliau melihat putri satu-satunya berkutat dengan puzzle dan tak perlu lagi pakai sembunyi di balik sofa. Ini rekor untuk Olivia, bung, rekor! Kalau Papa Bane saja sudah seperti itu, bagaimana dengan Bibi Alexis? Kalau mood beliau sedang standar sih pasti dia sama-sama speechless seperti Olivia begini, bahkan sama-sama nyaris menitikan air mata juga. Tapi kalau moodnya senang.. oh, beware, Bibinya yang satu itu sekalipun rada cebol dan hobi pakai sepatu hak tinggi, kalau lompat berlomba dengan kangguru. Ah, pokoknya Olivia mau sekarang juga Papa Bane dan Bibi Alexis di sini. SEKARANG! "........" Balik lagi ke cap cip cup. Yak, sel tanaman. Tidak jauh-jauh dari hewan kan? Setahu Olivia begitu sih. Yang beda cuma ada dan tidak adanya dinding sel. Aih, tumben pintar kau, Lip. Mungkin sudah sepintar Lorelei Vivica. "Eh, woi, Lele, udah berapa puzzle?" Seenaknya ya.. seenaknya.. Berasa FP serius... *plak* Interaksi ke Lorelei, PMIIW :> #4 Plant Cell :3
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #15 Jun 24 2012, 08:40 PM | Lorelei Vivica |
|
Sepertinya Lorelei jauh lebih menyukai gambar sel Streptococcus dibandingkan dengan gambar sel tumbuhan. Sel tumbuhan ini terlihat—bagaimana mengatakannya? Absurd. Dipandanginya lekat gambar sel tumbuhan tersebut dan diteliti setiap detilnya bagaikan mesin pemindai. Karena keanehan bentuk dan warnanya inilah Lorelei membutuhkan waktu yang lebih lama daripada puzzle yang lainnya. Namun pada akhirnya, sang gadis tetap saja terpana dibuatnya. Mengingatnya pada gambar-gambar absurd karya seorang maestro macam Pablo Picasso. Tersenyum kecil. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengkaitkan setiap bentuk dan warna yang terekam oleh sepasang iris hazelnya ini dengan art—dengan dunia seni melukis lebih tepatnya. Dunia yang benar-benar dapat menghanyutkan seorang Lorelei Vivica dalam kerumitan warna yang tidak mudah dipahami orang awam. Ada arti lebih dari setiap warna yang tertoreh, juga dari setiap bentuk abstrak yang terlukiskan. Tak pernah ada kata yang bisa dengan mudah menjelaskan hal ini. Melamun. Dehaman pelan terdengar. Lorelei menatap sekali lagi puzzle terakhir yang harus diselesaikannya. Naphthalene—belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, jadi ia sendiri pun tidak memiliki ide gambar apa yang nanti akan terlihat setelah puzzlenya tersusun rapi. Merasa sayang tiba-tiba, mengingat tugas merangkai puzzlenya sebentar lagi akan selesai. "Eh, woi, Lele, udah berapa puzzle?" Baru saja hendak memulai menyelesaikan puzzlenya, ada seseorang yang menyapanya. Gadis bersurai pirang bernama Olivia Satchel, kalau tidak salah. Mereka tidak pernah berinteraksi sebelumnya. Dan Lele? Panggilan itu cukup membuat Lorelei memberikan tatapan datar pada gadis Satchel. “Ini sedang mengerjakan yang terakhir,” jawab Lorelei datar, sedatar ekspresinya. Puzzle#5 Naphthalene finish | Olivia Satchel |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #16 Jun 24 2012, 08:43 PM | Daniella Brighton |
|
Tidak terasa, berikutnya adalah puzzlenya yang terakhir. Setelah dipermainkan kepekaan warnanya oleh kepingan-kepingan puzzle tersebut. Sekarang ia menikmati bagaimana puzzle terakhir memberikan warna yang didominasi jingga. Seperti warna langit ketika senja, di mana matahari akan bergantian dengan bulan. Tidak ada lagi terik matahari yang menyengat sepertinya uang dirasakannya saat musim panas. Rasanya memang hangat, merasakan semua warna menyentuh dan berkenalan dengannya. Sepertinya terlalu berkhayal, ya? Mungkin karena mabuk warna yang dideritanya, sungguh membuatnya terhanyut dan malah berpikir ke sana kemari. Sungguh ia menginginkan menghabiskan sore hari duduk bersama dengan pemuda Sundstrom di tepi danau, dengan warna senja seperti puzzle yang ada di hadapannya. Ah. Seperti warna daun musim gugur! Tentu saja, kalau kata orang dari negara matahari terbit, 'Momiji'? Benar bukan? Untuk yang kali terakhirnya, ia menikmati menyusunnya. Mungkin karena mengetahui sebentar lagi bebannya berkurang dan selesai. SELESAI! Ia menoleh pada gadis bersurai cokelat gelap yang sepertinya sedang berbincang dengan gadis bersurai pirang. Ah. Syukurlah Lorelei Vivica mempunya teman yang banyak. Olivia memang orang yang menyenangkan. Puzzle 5 Naphtalene Deskrip Lori dan Olip. Terlalu pusing untuk menyapa. Edited by Daniella Brighton, Jun 24 2012, 08:45 PM.
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #17 Jun 24 2012, 08:53 PM | Hal Abrams |
|
Bagaimanapun juga, ia harus bisa lebih aktif dan lebih menonjol. Ya, seperti saran dari Psychology. Terbukti, orang-orang yang aktif berhasil menjadi siswa-siswi terbaik dan mendapatkan hadiah yang benar-benar diinginkan oleh Hal: pulang. Kedengarannya mungkin cheesy, tapi ia benar-benar membutuhkannya. Bukan karena ia anak mami yang butuh kembali ke pelukkan sang ibunda, tapi ada berbagai hal di dunia sana yang belum diselesaikannya sehingga ada beban yang memberatkannya. Harus aktif. Bagaimanapun juga. Akan lebih bagus lagi jika ia mendapat hadiah untuk siswa terbaik. Hal menghela napas sambil mengetikkan alamat yang dimaksud sang guru. Koneksi di sini lumayan cepat (atau sebenarnya ini offline page?) sehingga situs yang dimaksud langsung terbuka. Ia memutuskan untuk mengerjakan secara runtut. Mulai dari puzzle yang pertama. Animal cells. "First puzzle" Suara familiar ditangkap telinga. Menoleh, ditemukannya si teman sekamar; membuatnya mengulas senyum kecil. "Yeah, good luck on that, mate." gumamnya sambil terkekeh dan menekan tautan menuju puzzle animal cells. Puzzle-nya agak menjebak, ia akui. Lagipula, nilainya biasa-biasa saja dalam biologi. Tapi karena ini pertemuan pertama, rasanya puzzle-puzzle ini menjadi pengenalan untuk pembahasan-pembahasan pada pertemuan mendatang. "SELEZAAIII!!" Kepalanya menengadah kaget begitu mendengar teriakkan tersebut. Olivia Satchel, kalau tidak salah itu namanya, nampak bersemangat sekali. Apa benar dia sudah selesai? That's very fast, really. Namun toh, Hal memutuskan untuk tidak menggubrisnya dan melanjutkan puzzle-nya. Santai saja; dunia belum kiamat esok. (Nampaknya.) (Atau setidaknya ia harap begitu.) Puzzle #1: Animal Cell Interaksi ke Nathaniel Gilbert dan mendeskripsikan teriakkan Olivia Satchel, if I may. Open interaksi. |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #18 Jun 24 2012, 09:01 PM | Olivia Satchel |
|
Coba tebak. Olivia menyelesaikan puzzle sel tanamannya tidak pakai neko-neko, hanya dengan semangat membara dalam hati (eleuh..). Sehingga dalam waktu singkat, puzzle itu pun 75% persen selesai. Olivia sebetulnya sudah mau teriak, tapi buru-buru dia gigit bibir dan pasang satu-persatu kepingan puzzle terakhirnya. Tek. "Yes.. yes.. yes.. YE—" "Ini sedang mengerjakan yang terakhir." K-kenapa poker face begitu ya? Hening sejenak digunakan Olivia dengan cap cip cup dalam bisikan (ya—siapa tahu Lorelei pokerfes karena itu). Beuh, ternyata Olivia tidak usah pakai cap cip cup lagi, toh, sudah puzzle terakhir.. ..eh, demi apa udah yang terakhir? Olivia mengerjap-ngerjap, hanya setengah percaya. Dalam hati cuma bisa berbisik demi apa seribu kali. Lorelei bilang dia juga sudah puzzle terakhir. Yang berarti.. "HAH! Aku juga sudah yang terakhir kok, nih nih!" Menunjuk-nunjuk layarnya sendiri yang masih menggambarkan puzzle streptococcus yang acakadul. Sebelum sempat dikasih hadiah poker face lagi, Olivia buru-buru fokus pada layarnya. "Keping ini.. di sini.. ya.. ana ini.. itu..ah, siip," Papa Bane, Bibi Alexis, Olivia berharap kalian berdua di sini, lho. Beneran deh, bukan cuma karena kangen, tapi Olivia juga mau Ayah dan Bibinya itu melihat bahwa Olivia sekarang sudah bisa menyusun puzzle. Olivia sudah bisa jadi anak membanggakan. Ya, membanggakan, mungkin kedua sosok yang ia inginkan kehadirannya itu akan dengan berjamaah berkata; Azeeekk. Itu, yang namanya Ayah dan Bibi yang gaul. "Cihuy! Dikit lagi, Le!" Pasti habis ini dapat hadiah poker face lagi deh, pasti. Ke Lorele :> Dan yap... FINIZHED! \m/(=o=)\m/ #5 Streptococcus :3
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #19 Jun 25 2012, 11:37 AM | Thor Sundstrom |
|
HAZEK. Jumpa lagi dengan Biology~ Eh, berima. Wuih kira-kira pelajaran biologi tahun ini ngapain ya? Motong-motong bawang lagi kah seperti tahun lalu? Atau kemudian berkembang menjadi menjagal ayam dan kemudian menggorengnya hingga akhirnya terjadilah acara paling hip ter-2014 di Tower Prep. ini, yaitu ‘Makan Nasi Uduk Bersama Biology Yang Super Caem’? Uuuuuh nasi uduuuuk. Mudah-mudahan sih bener kejadian ya. Jadi hari ini kita akan bermain bersama ayam mati? Eh uh, kok kasihan ya, ayamnya dijamah-jamah… Mudah-mudahan nanti malam Thor tak diganggu oleh ayam yang sudah terbelek di dalam mimpi, amin. Ogah juga dikejar-kejar sama ayam yang dadanya kebuka sampe keliatan organ dalamnya begitu. Aaaaaaaaaa itu sih horror! Eh ya masih mending sih daripada dikejar ayam hidup—ITU BARU HORROR YANG SESUNGGUHNYA. (Caps off.) Iya maklum ya soalnya Thor takut sama ayam hidup. “Berhubung ini masih pertemuan pertama di semester baru, kita bermain saja, ya? Aku sedang malas memberikan materi. Kecuali ada yang mau sok pintar dan maju menggantikanku sebagai guru.” Ihh Biology gabut bener. Gaji buta. Thor kecewa nih, kirain mau belek-belek ayam terus digoreng. Ternyata. Heeeeeh bermain apa pula nih? Kalau mempermainkan hatimu sih Thor dengan sukarela— “Coba akses situs di depan ini. Kalian lihat ada tautan menuju lima puzzle? Nah, selesaikan puzzle itu. Bisa lima-limanya akan lebih bagus.” —Puzzle? PUZZLE? I LOVE PUZZLES! Gile, Biology tahu apa yang Thor mau! Iya, Thor itu emang selalu mau KFC, tapi disini konteksnya bukan KFC, melainkan games! Yeah! Gamer macam Thor itu ya selalu cinta game. Makanya sampe sekarang susah move on dari mesin-mesin game di rumah… “Puzzle, puzzle~ I love puzzle, puzzle~” singsong sambil mencoba untuk menyusun puzzle pertamanya. Op-In tapi maapin ya kalo nggak dianggepin soalnya Thor anaknya fokus kalo soal game-game begini. ._. Puzzle #1
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #20 Jun 25 2012, 11:49 AM | Hal Abrams |
|
Baiklah, satu puzzle selesai. Kini ia bisa melihat penampilan langsung dari sel binatang secara utuh. Bentuknya semi bulat, dengan berbagai filamen-filamen di pinggir. Ada semacam bola air di tengah-tengah dan molekul-molekul yang terlihat melayang pada sebuah cairan. Hal bukan orang sains, jadi ia tidak begitu tahu namanya. Mitokondria? Vakuola? Yah, apapun itu, dia tidak peduli. Ini masih awal pertemuan, dan mereka menghabiskan waktu dengan bermain puzzle. Pertemuan hari ini harus ringan. Mengambil jeda, ia memandang ke sekitar. Daniella dan Lorelei, yang menjadi siswa-siswa terbaik tahun ajaran lalu, nampaknya sudah selesai. Astaga, bagaimana mereka bisa menyelesaikan tugas mereka secepat itu? Pantas saja mereka bisa menjadi siswa-siswa terbaik. Apakah gelarnya akan mereka pertahankan tahun ini? Oh, nampaknya Olivia juga sudah selesai. Sepertinya orang-orang ini harus diajari sedikit bagaimana caranya bersantai. Bahkan Biology di depan kelas saja terlihat seperti tidak niat. (Not really kidding.) Menghela napas, Hal menggerakkan cursor dan menekan tautan menuju puzzle yang kedua. Puzzle sel tanaman. Sekitar tiga puluh dua potongan kembali harus ia taklukkan. Hah, semoga saja tangannya tidak keburu lemas karena terlalu sering menekan cursor. (Ngomong-ngomong, apa kabar teman sekamarnya?) Puzzle #2: Plant Cell |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Kelas Sains · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:58 AM Jul 11
|
Hosted for free by ZetaBoards · Privacy Policy
















7:58 AM Jul 11