Welcome Guest
[Log In]
[Register]
| ||
|---|---|---|
![]() Summer 2016 Time: Juli-Agustus 2016 Temperature: 28-33 Celcius |
TERM 4Timeline: 2016/2017 Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001 Kuota Registrasi: 27/45 Kuota Murid Spesial: 2/2 Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2 Kuota Visualisasi Asia: 7/7 Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5 Daftar lebih lengkap |
[+] Langkah Bermain [+] Peraturan [+] Daftar Visualisasi [+] Formulir Registrasi [+] Jadwal Term 4 [+] About Tower Prepatory [+] Plots [+] Disclaimer and Credits [+] Wikia (On Development) |
|
|
|
|
| Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012. Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login: |
| [KLUB FOTOGRAFI] Deep of Field; [Open u/ anggota Klub] | |
|---|---|
| Topic Started: Jun 25 2012, 10:29 AM (137 Views) | |
| Post #1 Jun 25 2012, 10:29 AM | Markus Miller |
|
D1 mark II. Lawas memang, tapi untuk kamera sampai tahun dua ribut dua puluh pun rasanya tidak ada kamera yang bisa mengalahkan kamera yang dimilikinya beberapa tahun yang lalu. Warisan dari sang ayah, fotografer yang tidak terlalu terkenal hanya bisa di sejajarkan dengan Nigel Barker dibanding dengan Ansel Adams. Terlalu komersil! Dirinya terduduk di kursi besi yang bisa di lipat dengan kaki di atas meja. Sesekali tangannya bermain dengan helai kain kuning yang menyentuh lensa L series 100mm-400mm secara lembut dan hati-hati, walaupun ia tahu benar sebuah filter UV menjadi penutup sempurna lensa agar cahaya tidak sedikit pun bersifat merusak. Siulannya terdengar seiring angin yang berhembus masuk melewati garis-garis ventilasi berdebu tipis, tangannya masih sibuk dengan kegiatannya sendiri. Ruang klubnya memang sepi, sekalipun ada yang datang mungkin hanya satu dua orang. People think they are too cool for this, yeah—apapun itu alasannya ia sama sekali tidak peduli. Dirinya terlanjur jatuh cinta dengan fotografi, sesepi apapun ia tidak akan pernah menutup, mengunci rapat, dan meninggalkan ruangan yang ditempatinya untuk waktu yang lama. and we don't care about their own faults talkin' 'bout our own style all we care 'bout is talking talking only me and you satu bait kini disenandungkannya, santai, tidak ada yang dipaksakan. Seperti seorang yang sedang dengan kegiatannya sendiri. Sesekali kedua bibirnya meniupkan karbon dioksida demi debu yang mudah berpindah tempat dengan hembusan anginnya. “Done” Senyumnya sumringah melihat lensa yang sering disebut termos kini bersih dari debu yang mengganggu karyanya. Menutup dengan cap lalu menempatkan secara hati-hati di dalam dry box. “Oh kau, ikut klub ini? kalau ya masuk lah…diklat akan mulai saat lainnya berkumpul” sambil menunjuk beberapa kursi lipat yang sudah berbaris rapih. “Tidak terlalu banyak memang” ya apa boleh buat, terlalu banyak klub yang mungkin jauh lebih menarik. Salah satu tangannya di masukan ke dalam saku celananya dengan tangan kanannya menempatkan kacamatanya yang miring. Yup! Ia sedang mengenakan kacamatanya saat ini. "Namamu?"
Edited by Markus Miller, Jun 25 2012, 10:52 AM.
|
![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #2 Jul 3 2012, 06:57 PM | Ariana Carter |
|
Terlalu malas untuk mendatangi kegiatan Klub Fotografi dan terlalu bosan untuk berdiam diri di kamarnya. Ironis. Gadis Carter itu menghela napas sekali dan kemudian segera berjalan menuju ruang klub. Setidaknya Rian tak terlalu menyesal memilih Klub Fotografi, selain karena dia ingin belajar menggunakan kamera ada segudang alasan lain mengapa Rian tak memilih klub lainnya. Klub olahraga terlalu membuang tenaga, klub jurnal? Membaca tulisan yang terlalu banyak saja Rian tidak kuat apalagi jika ia yang disuruh menulis artikelnya. Membayangkannya saja Rian tidak sanggup. Langkah kakinya terhenti di depan pintu masuk, kalau dia ingin kabur masih sempat, siapa tahu ketua Klub Fotografi tak mengenali Rian sebagai salah satu anggota klubnya. Tapi, niatnya diurungkan saat melihat seorang pemuda yang tampaknya lebih tua dari Rian. Mirip Tobias dalam imajinasinya. Rasanya ada yang mengaduk-aduk isi perut gadis Carter itu saat melangkah masuk. Pemuda itu sedang sibuk membersihkan kamera miliknya dan tidak menghadiri keberadaan Rian? Rian hanya bisa berdeham pelan, mencoba memberi tahu bahkan ada orang lain di tempat ini dan pemuda itu akhirnya menyadari kehadiran Rian. Diklat ya? Oh. Pemuda itu menawari Rian untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia dan Rian hanya menuruti perintah pemuda itu. Kemudian melihat ke sekelilngnya, tak ada orang? Baru Rian yang datang? Wah. "Rian, maksudku Ariana Carter." Jawab Rian saat pemuda berkacamata itu menanyai namanya. Sebenarnya sih tak masalah jika dia memanggilnya Rian, siapa peduli? "Jadi, diklatnya seperti apa?" Basa-basi sebentar tak apa kan? Lagi pula belum ada yang datang. CMIIW .////. #hoi |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #3 Jul 5 2012, 06:48 PM | Annabeth Hemington |
|
Fotografi, the only good thing in Tower Prep. Seulas senyum terpampang di wajahnya. Melihat kelas fotografi sudah di hadapannya. Tangannya segera meraih gagang pintu. Ruangan kosong di penuhi dengan sinar matahari. Hanya seseorang yang ia lihat di sana, lelaki bersama kameranya. Annabeth membawa kamera slr tua milik kakaknya. Annabeth menggenggam lensa kameranya yang berukuran 85mm yang di kalungkan di lehernya. Tidak sebesar milik lelaki itu. Annabeth sebenarnya cuma kadang meminjam kamera kakaknya tanpa mengerti cara penggunaannya, tapi paling tidak ia bisa belajar disini. Seperti cara mengendalikan iso atau lainnya. “Oh kau, ikut klub ini? kalau ya masuk lah…diklat akan mulai saat lainnya berkumpul” Annabeth melihat sekeliling ruangan, menghirup bau kesunyian. Beberapa saat pandangannya semakin jelas. Melihat ciri-ciri lelaki yang akan menjadi guru panduan fotografinya, by the way, apakah namanya sama seperti guru-guru lain? Mr.Fotografi? tapi jadinya aneh sekali. "Namamu?" Tanpa sadar lelaki itu berbicara kepada Annabeth. Tatapan Annabeth awalnya masih cengo, seperti orang bodoh, akhirnya Annabeth menjawab dengan gugup. "A-annabeth, Annabeth hemington. Murid kelas 2" |
![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #4 Jul 14 2012, 11:21 AM | Victoria Lee |
|
Jangan layangkan pertanyaan mengapa ia memilih klub ini dan klub musik dibanding klub lainnya. Vick tidak suka dengan interaksi terlalu sering. Dan rasa-rasanya dibanding dengan klub lainnya, pribadinya lebih cocok di kedua ini. Kunci mulutmu rapat dan lakukan saja yang harus kau lakukan. Langkahnya santai menuju ruang klub. Ada denah di tangannya. Tolong, ia masih baru disini. Jadi wajar saja jika tadi ia sempat salah tempat. Bukannya ruang klub yang didapatnya tadi begitu keluar dari kamarnya, melainkan toilet. Brilian. Besok ia perlu gps khusus untuk sekolah asrama barunya ini. Keningnya bertaut begitu mendengarkan seseorang mulai melantunkan baitan lagu. Seingatnya, ia akan memasuki klub fotografi hari ini. Ruangan yang ditujunga berkutat pada objek dan kamera. Bukannya titi nada sempurna atau dentingan musik. Satu tangannya mulai mendorong pintu dan air mukanya datar melihat visualisasi di depannya. "Oh." Responnya hanya satu kata begitu orang yang ditangkap siluetnya oleh retina sang dara. Jadi ia orang pertama yang masuk dalam klub ini setelah pemuda berkacamata. Dilipatnya denah memalukan itu dan diselipkannya pada saku di rok panjangnya. Hazelnya menatap lekat kotakan dalam ruangan lalu menoleh sekali lagi begitu ditanyakan nama. "Victoria Lee. Vick saja. Trims." . . . "Biasanya memang sepi begini?" Kalau jawabannya adalah iya, artinya sang dara tidak salah memilih ekstrakurikuler di sekolah atau apapun sebutannya kini. |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #5 Jul 17 2012, 04:08 PM | Markus Miller |
|
Datang satu dan diikuti dengan yang lain. Ya! Memang tidak bisa datang terlambat juga, toh dirinya sendiri masih menyiapkan peralatan yang sekiranya dibutuhkan. Pantulan sinar matahari dari kaca optik sekilas menyilaukan menembus kacamatanya. Senyumnya terukir seraya tangannya menempatkan tangan kanannya ke dalam saku. “Ok! selamat datang untuk kalian, teruntuk lagi untuk siswa diatas tingkat satu” Apalagi saat kristal memandang sosok murid tingkat dua datang. Mayoritas perempuan, entah mereka berniat untuk bernarsis ria dengan kamera atau memang ternyata photography cenderung menarik perhatian kaum hawa dari pada kegiatan klub lainnya. “Ok! aku Markus Miller, kalian bisa memanggilku Mark. Diklatnya akan seperti apa? Uhm, sepuluh persen kebosanan sembilan puluh persen pilihan, mengerti?” Pasti tidak! Ia memang harus berhenti menggunakan bahasa tersirat. Senyumnya kembali terbentuk saat melihat sosok asiatik yang bertanya. “Well, biasanya? Yaaaa, tidak jauh seperti ini, walaupun aku cukup terkejut tahun ini ternyata mayoritas perempuan yang mendaftar. Makes me wondering where the boys are? Klub pastry? Hahahaha Just kidding, Bisa kita mulai?” Dengusnya menjadi sebuah tawaan kecil. Memang tidak ada salahnya seorang laki-laki berkutat dalam dapur, walaupun bayangan seorang menggunakan apron dengan gambar bunga dan renda selalu menghantui Markus. Sedikit hiburan untuk mengocok perutnya. “Disini aku akan menjelaskan tentang Deep of Field, karena aku tahu kalian pasti sudah mengerti betul apa itu kamera” lagi pula disini tidak di wajibkan berSLR ria. Cukup dengan kamera handphone yang dimiliki (tanpa applikasi kalau bisa). Pandangannya tajam mengelilingi ruangan dengan spidol yang sudah ada di tangannya, si raih dalam kantung celana. Menuliskan kata ‘DEPTH OF FIELD’ besar-besar "Depth of field – DOF, adalah ukuran seberapa jauh bidang fokus dalam foto. Depth of Field (DOF) yang lebar berarti sebagian besar obyek foto (dari obyek terdekat dari kamera sampai obyek terjauh) akan terlihat tajam dan fokus. Sementara DOF yang sempit (shallow) berarti hanya bagian obyek pada titik tertentu saja yang tajam sementara sisanya akan blur." Oh lihat disana sudah ada yang menguap! Sudah dibilang sebelumnya kelas ini sepuluh persen kebosanan sembilan puluh persen pilihan bukan? Pilihan untuk tidur, memperhatikan atau keluar kelas. “Ini adalah contoh dari foto DoF, (membuka projector lalu memperlihatkan beberapa foto hasil karyanya sebagai contoh) ah! Sehabis ini aku ingin meminta kalian untuk memegang kamera sendiri dan coba untuk foto objek apapun, boleh di dalam kelas, kebun, atau mana pun terserah kalian yang penting menggunakan teknik ini” Dan terdengarlah beberapa keluhan murid baru yang tidak mempunyai kamera. “Yang tidak punya kamera bisa pakai ini kok” mengangkat dry box tepat di atas mejanya. Sebuah kotak bening penuh dengan kamera pocket, beberapa diantaranya adalah toy cam. “Aku akan menunggu kalian disini, kalau ada yang kebingungan bisa tanya langsung”
|
![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #6 Jul 21 2012, 11:31 AM | Victoria Lee |
|
"Yea, maybe." Hanya itu yang terlontar dari bibir Lee muda mengenai klub... pastry? sembari ia memerhatikan dua gadis lainnya. Setidaknya ruang klub ini sepi. Mungkin akan lain ceritanya jika seseorang memutuskan untuk berteriak sok histeris alih-alih sedang berusaha menjadi pencari perhatian. Maniknya bertumbuk pada kamera yang ditawarkan oleh satu-satunya pemuda dalam ruangan itu. Hanya itu diklat yang diberikan. Ia melenggang keluar ruangan sejenak setelah diberi sebutlah tugas. Victoria tetaplah Victoria. Dia tipikal yang kurang suka basa basi. Dicarinya beberapa objek. Menangkapnya dengan lensanya. Membidiknya dengan metode yang sudah dilimpahkan panjang lebar tadi kemudian kembali. Kamera saku bukan satu dari sekian banyak jenis kamera yang menjadi favoritnya, tetapi hanya itu 'kan yang tersedia? Sampah. Bidikan depth of field miliknya sampah. Hal itu yang kemudian terbesit begitu sadar bahwa seingatnya objek-objeknya jauh dari kata sempurna. Ditatapnya datar kamera saku di tangannya sembari melihat ke arah pemuda yang sedari tadi dirasanya memberikan spesifikasi kegiatan dan diklat dalam klub ini. "Mark?" Panggilan itu terdengar sederhana. Ada dengus halus dari diri sang dara sebelum ia tahu bahwa mau tak mau menanyakan ruang gelap untuk mencetak film yang ada dalam kamera sakunya. Vick, yah, anggaplah ia begitu ceroboh sehingga lupa bahwa bisa saja ia meraih yang digital dibanding yang seperti ini. "Bisa kau antar aku ke ruang gelap? Well. Bukan digital, rupanya." Tangannya mengangkat kamera yang dibawanya tadi. Screw ya, ceroboh. Victoria Lee harus mengubah kebiasaannya agar meminimalisasi interaksi. Mulutnya memilih dikunci rapat sejauh ini. [edit_reason]....[/edit_reason] Edited by Victoria Lee, Jul 21 2012, 11:39 AM.
|
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #7 Jul 24 2012, 12:55 PM | Amethyst Fliederfield |
|
Telat. Sudah banyak orang berkumpul di ruangan klub fotografi ini. Wajarlah, ini pertama kalinya ia bertatap muka dengan para anggota lain. "Amethyst Fliederfield, salam kenal", ucap gadis bermata heterokrom ini kepada seisi ruangan begitu ia membuka daun pintu. "Maaf jika aku terlambat", ucapnya lagi, meski kelihatannya belum dimulai apa-apa. Amethyst segera mengambil kursi kosong dan duduk bergabung. Hoo, rupanya baru dimulai. Seorang lelaki memulai diklatnya yang ternyata singkat. Agak tak enak hati bagi Amethyst untuk berada di ruangan ini. Entahlah.. laki-laki, satu-satunya di ruangan ini yang tadi memperkenalkan diri sebagai Markus Miller, agaknya kecewa tak melihat kehadiran sesama jenisnya-- lelaki. Selain itu, sepertinya anggota di tahun pertama tak cukup penting karena tanpa kamera. Tapi, demi kesukaannya foto-memfoto, apa boleh buat. Apalagi diklat ini akan cukup berguna untuk meningkatkan kemampuan memotretnya. Dan kini lelaki itu menyuruhnya hunting di luar-- dengan berbagai jenis kamera saku yang ada bagi anak tahun pertama. Amethyst celingukan, berdiri dan memilih, dan pilihannya jatuh pada kamera digital. Sederhana, tak secanggih SLR yang ia lihat dipegang oleh anak tingkat dua. Melihat satu persatu anggota meninggalkan ruangan, ia pun demikian. Sepertinya kebun pilihan yang bagus. Siapa tahu ia beruntung menemukan spesies serangga aneh. Tungkainya melangkah menuju kebun, dilihatnya juga beberapa anak yang satu tujuan dengannya. Dibidiknya beberapa objek bunga dan serangga, tak ada yang spesial. Hanya satu yang menarik perhatiannya, rimbun bunga berwarna kebiruan dengan belalang kecil yang hinggap di antaranya. Jepret. Masa bodoh kalau fotonya ditertawakan. Puas. Ternyata hanya sedikit objek menarik di luar sana. Lalu apa yang harus aku lakukan? gumamnya. Lebih baik ia bertanya. Dilihatnya lelaki tadi sedang berbicara dengan seorang gadis berparas Asia mengenai ruang gelap. Akan mengganggukah? "Permisi", selanya sesopan mungkin. "Aku sudah selesai", lanjutnya sembari menyodorkan kamera digitalnya seraya tersenyum kepada mereka. "Lalu, harus bagaimana?" tanyanya lagi. boleh join klub? | boleh interaksi Markus dan Victoria? | hasil foto sudah aku pm | open interaksi juga dengan yang lain | maaf kalau salah .__. |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| Post #8 Aug 12 2012, 05:19 PM | Ariana Carter |
|
Jadi, Depth of Field? Kemudian mereka disuruh untuk memotret, tenang kameranya sudah disediakan. Baguslah karena seingat Rian, dia tak pernah membawa kamera kemari. Gadis Carter itu segera mengambil salah satu kamera yang sudah disediakan, tak perlu terlalu lama memilih, bukankah semua kamera sama saja, eh? Kan tadi pemuda yang memperkenalkan dirinya dengan nama Markus Miller itu hanya menyuruh mereka memotret sebuah objek. Setidaknya Rian lebih menyukai kegiatan seperti ini, yang biasa disebut praktik di lapangan ketimbang teori, jika saja tadi pemuda Miller itu menjelaskan terlalu lama tentang Depth of Field mungkin saja Rian sudah terlelap saking bosannya. Dia itu tipikal orang yang mudah bosan. Langkahnya dipercepat menuju kebun, lebih cepat lebih baik kan? Apa yang harus ia potret? Langit? Ah, langit terlalu membosankan untuk dipotret tak ada burung yang sedang terbang dan hampir tak ada awan di atas sana. Lalu? Ah, bunga. Tak banyak yang ia tahu tentang bunga, gadis Carter itu hanya tahu beberapa hal tentang tanaman cantik tersebut. Tentu saja karena gadis Carter itu bukan orang yang mudah tertarik dengan tanaman, lebih baik melakukan hal lain yang lebih berguna dari pada memandangi bunga yang ia sendiri tak tau namanya, seperti bunga yang jadi objek fotonya sekarang. Sekali jepret dan hasilnya tak terlalu buruk. Ah, tidak sangat buruk. Yaa, pertama kali memegang kamera, apa yang mau kau harapkan? Jepret. |
![]() ![]()
|
| ^^^ | Offline |
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
|
|
| « Previous Topic · Divisi Fotografi · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
10:47 PM May 19
|
Hosted for free by ZetaBoards








10:47 PM May 19