Theme style: Light | Dark
Welcome Guest [Log In] [Register]

Announcements

Situations
Informations
Links

Summer 2016
Time: Juli-Agustus 2016
Temperature: 28-33 Celcius

TERM 4


Timeline: 2016/2017
Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001

Kuota Registrasi: 27/45
Kuota Murid Spesial: 2/2
Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2
Kuota Visualisasi Asia: 7/7
Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5
Daftar lebih lengkap

[+] Langkah Bermain
[+] Peraturan
[+] Daftar Visualisasi
[+] Formulir Registrasi
[+] Jadwal Term 4
[+] About Tower Prepatory
[+] Plots
[+] Disclaimer and Credits
[+] Wikia (On Development)
Chatbox
Important Info
Twitter Feed

Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012.

Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login:

Username:   Password:
Locked
[New York] You're Dead Wrong; babang only. / mayday parade
Topic Started: Sep 8 2012, 10:02 PM (204 Views)
Lorenna Lynn
Masih berbalut seragam, gadis itu melangkah dengan wajah tertekuk. Terlipat bak rok lipit yang ia kenakan. Surai cokelatnya yang tergerai terlihat bergelung menutupi lehernya yang jenjang. Di balik senyum yang dia tebarkan, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.

Pagi tadi diadakan semacam Open House di sekolahnya. Semua orang tua diundang untuk hadir, menyaksikan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh putri-putri mereka tercinta. Ayahnya muncul, tentu saja. Walau hanya sebentar sebelum ia harus pergi ke tempat lain. Setidaknya Gustavo datang, itu poinnya....setidaknya begitu yang ia kira.

....Karena benaknya berkata lain.

Geram.

Lorenna gerah dengan keadaannya yang seperti itu. Ia bahkan hanya bertukar pandang sekali dengan orangtua tunggalnya. Dia sempat menimbang-nimbang omelan apa yang akan dia hadiahkan untuk ayahnya itu, saat bertemu nanti. Ini kesekian kalinya sejak tahun ajaran sekolah berlangsung, ayahnya menghadiri acara dengan acuh tak acuh. Gustavo memang sangat sibuk, bukankah dia tahu itu sejak lama? Tapi hanya untuk bertemu dalam acara sekolah putrinya saja apakah akan merugikan seluruh perusahaannya? Gadis itu tidak mengerti.
Dia kesal sebenarnya. Iri. Melihat teman-temannya yang kedatangan dua orang tua lengkap. Sedangkan dirinya hanya diam termangu, manik birunya tidak betah berlama-lama dipaksa menikmati pemandangan harmonis antara orang tua dan anak. Memandang apa yang tak pernah ia rasakan secara utuh.

Dia pulang, kembali ke singgasananya.  Membanting diri di atas sofa panjang berbalut suede halus yang terletak di ruang keluarga. Otaknya menari-nari liar, menawarkan hal-hal yang harus dikerjakan kepada pemiliknya. Resep baru eksperimennya, acara televisi puluhan seri yang belum disentuhnya. Sungguh, sebenarnya dia sedang tidak bersemangat melakukan apapun. Sampai suara terbukanya pintu depan yang memecah keheningan.

"Hey,” kata gadis itu sambil menghela napas.

Menyapa siapapun yang membuka pintu rumah. Firasatnya mengatakan yang datang itu Prim. Kedua pemuda yang ia sebut saudara biasanya belum sampai rumah di waktu seperti ini.



TL: beberapa bulan sebelum tiba di Tower Prep
Edited by Lorenna Lynn, Sep 20 2012, 08:03 PM.
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
Victor Vergennes
Jalanan siang itu ramai. Para pejalan kaki yang berlalu lalang tak ada habisnya di seluruh penjuru kota. Manusia ada sepanjang mata memandang. Para entitas yang dikejar-kejar waktu, terlihat dari pandangan yang terfokus. Langkah lurus yang berjarak besar-besar, sebisa mungkin memangkas durasi. Berusaha mengekang apa yang terus berjalan tanpa peduli. Mengejar Kronos.

Sosok tegap itu salah satunya.

Masih berseragam lengkap, minus blazer yang kini berada di tangan si pirang yang baru saja ia antarkan pulang. Kedinginan, katanya. Udara di kedai kopi yang baru saja mereka kunjungi beberapa derajat lebih rendah dari apa yang bisa ditoleril sang gadis. Sosok yang sudah bergelung dalam hangat selimut di kamarnya.

Secepat mungkin melangkah menuju gedung tinggi yang sudah tak jauh jaraknya. Sore ini dia sudah membuat janji dengan Joe. Janji yang tak bisa diundur, tak bisa dikompromi. Klien tukang tattoo terhebat di seantero New York itu tak hanya dia seorang. Harus pakai daftar tunggu, seandainya kau bukanlah bocah kaya dengan dompet tebal macam Victor.

"Yo."

Membalas sapaan Lorenna yang berada di atas sofa. Bisa dijamin adiknya itu kaget melihatnya di rumah ketika jarum jam belum menunjukkan angka ganda. Ia buru-buru melangkah menuju kamar untuk berganti pakaian. Tak bisa berbasa-basi lebih lama.

"Mau pergi ke tempat Joe. I'll be home late. Bye."

Tangan sudah berada di handel pintu, siap mendorongnya terbuka dan keluar dari sana.
Edited by Victor Vergennes, Sep 8 2012, 10:54 PM.

^^^ Offline [profile]
Lorenna Lynn
Victor. What a shocking surprise.

Mau tidak mau mengakui bahwa keberadaan entitas yang beberapa bulan lebih tua darinya itu sedikit mengusir bad mood-nya tadi. Hanya sedikit.

Setidaknya ia tidak sendirian sekarang.

Setelah balas menyapa, sosok itu melangkah dengan terburu-buru ke arah kamarnya. Mengganti pakaian dan segera hengkang dari tempat itu. Great. Langsung pergi begitu saja.

Belum sempat dia menanyakan alasan kepulangan kakaknya yang lebih cepat dari biasanya itu, serentetan kalimat meluncur cepat dari bibir yang bersangkutan.

Ke tempat Joe, katanya.

Dari sekian banyak tempat di New York yang gemar dinaungi Vic, tempat kerja Joe ini yang paling tak disetujui oleh Lorie. Tukang tattoo professional itu, well, dia memang belum pernah menemuinya secara langsung, tetapi tattoo yang ia lihat menghiasi leher sang kakak serta gadis...erm sobat baiknya itu terlihat memuaskan. Elegan, artistik. Hobi eksentrik yang dimiliki Victor sempat mengundang kerutan di alis dan sorot tak suka dari mata si Lynn, tetapi kini mungkin Lorenna harus menjilat ludahnya sendiri.

Karena sebuah tattoo terdengar menarik sekarang. Sangat...amat....menarik.

Dia bangkit mengejar sosok yang sudah menyentuh handel, berlari-lari kecil sebelum yang dimaksud melangkah lebih jauh dari daun pintu.

“Wait.”

Ah. Gadis itu sendiri tidak yakin, namun apa salahnya mencoba?

“Aku… mau ikut."

Berharap kakaknya mengamini permintaannya itu, Lorie melenggang keluar dari ruang tamu. Mungkin dirinya terdengar gila, tetapi dia tidak perlu berpikir dua kali untuk menjajal sesuatu yang baru saat ini.

Tangan satunya meraih garmen tebal pembungkus tubuh dari atas sofa, sementara tangannya yang bebas bersembunyi di balik saku roknya. Si surai gelap dengan wajah (yang sempat) terlipat beranjak dari tempat itu, meninggalkan bayangannya, meninggalkan kegusarannya,

Dulu ia mengira tubuhnya tak akan pernah berhias tinta. You're dead wrong, Lorenna.
Member Avatar


^^^ Offline [profile]
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Amerika Utara · Next Topic »
Locked