Welcome Guest
[Log In]
[Register]
| ||
|---|---|---|
![]() Summer 2016 Time: Juli-Agustus 2016 Temperature: 28-33 Celcius |
TERM 4Timeline: 2016/2017 Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001 Kuota Registrasi: 27/45 Kuota Murid Spesial: 2/2 Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2 Kuota Visualisasi Asia: 7/7 Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5 Daftar lebih lengkap |
[+] Langkah Bermain [+] Peraturan [+] Daftar Visualisasi [+] Formulir Registrasi [+] Jadwal Term 4 [+] About Tower Prepatory [+] Plots [+] Disclaimer and Credits [+] Wikia (On Development) |
|
|
|
|
| Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012. Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login: |
| [Kelas Gabungan] Chemistry 2015/2016; Siswa tingkat 1,2, dan 3 | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Dec 20 2012, 11:06 PM (1,072 Views) | ||
| Post #21 Dec 23 2012, 05:24 PM | Olivia Satchel | |
|
Olivia Satchel + Nachelle Poxleitner 5 + [hasil]2&1,1d2,1,2&1d2+1[/hasil] Tunggu, sebentar. Ya, hening sejenak. "Eeehhh, Nachelle," jadi ceritanya baru ngeh kalo yang dia ajak itu si junior yang paling sering ia temui. Yep, siapa lagi kalau bukan Nachelle Poxleitner. Well, sebetulnya junior kedua yang paling sering ia temui. Tapi sepertinya lama-lama dia mulai jarang ketemu yang satu lagi. Iya, yang satu lagi itu, lhoo. Si itu--ah, atau tidak usah dibahas saja. Lanjut, deh. "Wah, sesuatu banget kita bisa ketemu lagi, jadi partner pula, kita kayak perangko sama amplop ya," tentunya dalam batas pertemanan antara senior dan junior saja. Tidak lebih, tidak macam-macam. Maksimal Olivia akan menganggap juniornya yang satu ini seorang adik karena mereka sama-sama pirang. "Omong-omong, tidak usah ragu panggil aku Olivia, lho. Kenapa tadi malah jadi panggil pakai senior lagi?" Dan ia berbicara seraya meraih botol minyak dengan tangannya sendiri, tidak jadi minta dibantu. Habis, kalau sudah ngobrol dengan juniornya ini, semua jadi seru. Mungkin karena pertemuan pertama mereka yang unik, atau hal lain? Ah, entahlah. "Oh, ya, aku tuangin minyaknya. Tegur aja kalau kebanyakan," karena kau harus tahu, Olivia paling buruk dalam mengukur tanpa alat bantu. Satu-satunya teknik ukur tanpa alat yang bisa ia lakukan hanyalah menentukan sepuluh sentimeter sama saja dengan tinggi dahinya. "Kamu amatin hasilnya, ya," yaa, tentu saja Olivia memberi juniornya itu tugas supaya adil. Sebenarya sih ia punya ide lain. Biarkan dirinya menyelesaikan percobaan sementara Nachelle akan menuntaskan esai mereka. Memang ide yang jahat. Makanya Olivia ragu, nih. Kimia bikin labil saja, deh. |
![]() ![]()
|
|
| ^^^ | Offline | |
| Post #22 Dec 23 2012, 06:13 PM | Deandre Hayes | |
|
Deandre Hayes & Kirin Pewrett Akumulasi praktikum (14) Pada awal, Deandre punya dua premis, tapi kesimpulan dapat mudah ditarik ketika sang partner masih terlihat layak tak punya otak untuk masalah ini. Ow, no offense. Siapa juga yang suka dengan kimia. Dirinya jelas tidak. Dan lebih dari itu, ia, muak. Sejak kecil, tempat macam laboratori sudah menjadi bayangan nerakanya. Bau racikan telah mengantikan harumnya kantong poutpuri untuk kamar tidur. Sementara kakeknya si tua bangka memang tak pernah harum bunga sehingga Deandrepun ragu untuk mengenal. Alih-alih, ia telah dilatih untuk punya penciuman tajam seperti anjing-anjing polisi yang mengendus opium, dan dibiasa dengan rasa steril rumah sakit yang membuat sang pemuda geli —ya, kalaupun ada satu anak dikelas itu yang begitu cinta kimia, mungkin Deandre akan melempar topeng kakunya untuk pecah dan tertawa terbahak-bahak. Haha. Tawa, layak tawa satiris. Kelas ini memuakan. Sepasang biner hijau sang Hayes kini memperhatikan datar bagaimana minyak dan air tengah berusaha melepaskan diri satu sama lain. Deterjen sialan dan "Proses Emulsi." bergumam seraya pandangan Deandre kini berpindah. Melirik sekilas pada si gadis yang tengah menatap layar didepan. "Hmph.. which one do you prefer?" —atau, lebih kasarnya, yang mana yang bisa kau jawab dan yang mana yang tidak nona manis. Edited by Deandre Hayes, Dec 23 2012, 06:14 PM.
|
![]() ![]()
|
|
| ^^^ | Offline | |
| Post #23 Dec 23 2012, 07:13 PM | Nachelle Poxleitner | |
|
Olivia Satchel & Nachelle Poxleitner 7 + [hasil]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/hasil] Kenapa mereka sesering itu bertemu bersama? Jangan tanya pada Nachelle. Mungkin karena Tower Prep tak seluas benua amerika (well, hal itu jelas) atau mungkin mereka sama-sama rajin, atau memang.. ya mereka bertakdir untuk sering bertemu. Tak perduli di kelas, di luar kelas, atau di kegiatan klub ia selalu menemui surai pirang milik Seniornya, maksudnya, Olivia. Agak aneh memang menyebutnya dengan nama saja. "Perangko dan Amplop? Bukannya itu Senior—boleh kupanggil Oliv saja?—Oliv semacam perangko dan Amplop dengan Art—" Lebih baik ia tak melanjutkan kata-katanya lagi deh, entah kenapa Nachelle berpikir bahwa itu jauh lebih baik. Lebih baik berfokus kepada praktikum di depannya daripada nanti ia kehabisan waktu hanya karena menggosip, toh menggosip bukannya sebuah hal yang tidak baik? Jadi setelah Oliv menuangkan minyaknya, ia ditugasi untuk menjawab pertanyaannya, tapi bukannya lebih baik menyelesaikan praktikumnya dulu baru menjawab pertanyaannya? Jadi Nachelle lebih suka menunggunya. "Awas, Liv. Jangan sampai tumpah minyaknya, susah membersihkannya." |
![]() ![]()
|
|
| ^^^ | Offline | |
| Post #24 Dec 23 2012, 08:06 PM | Aston Lighter | |
|
Aaron Waltham & Aston Lighter AP: 3 + [hasil]2&1,1d2,1,2&1d2+1[/hasil] Aston menyadari bahwa perjalanannya untuk seorang ninja tidak akan pernah mulus dan lurus, layaknya jalan tol. Kehidupannya pasti akan berliku, penuh kerikil, dan tanjakan layaknya jalanan di sebuah pegunungan. Namun, satu hal yang dia tidak mengerti adalah kenapa pelajaran kimia harus belajar tentang air dan minyak? Ninja seharusnya belajar membuat ramuan mengunakan bahan-bahan aneh yang akan berubah warna jika dicampurkan dan, pada tingkat yang sangat ekstrim, meledakkan ruangan percobaannya. Bukan, dua jenis cairan yang bahkan tidak bisa menyatu, seperti ini. Aston jelas tidak berminat pada kelas ini, matanya sejak tadi sibuk melirik ke kanan dan ke kiri, mengamati percobaan yang dilakukan orang lain alih-alih mencari partner hingga seseorang menyodorkan sebuah botol hasil percobaannya pada Aston. "Hmm," Aston mengambil botol itu, mengoyang-goyangkannya sambil mengamati kedua cairan dalam botol itu layaknya seorang peneliti. "Mungkin, karena ini." Tangannya dengan sigap memutar botol itu hingga terbalik, sementara kemampuannya untuk memanipulasi cahaya bekerja menampilkan citra dari air dan minyak yang menyatu menghasilkan citra berupa cairan kekuningan. "Jika botolnya diletakkan terbalik, keduanya bisa menyatu." Seorang pesulap yang baik, tidak akan pernah membeberkan rahasianya. Maka, dengan sigap Aston memutar kembali botol itu sebelum, pemuda di hadapannya itu mengetahui trik kecilnya dan membiarkan visualisasinya kembali seperti semula. Minyak di atas dan Air di bawah. "Atau, dengan menambahkan ini," tanpa memberikan kesempatan pada pemuda itu untuk mencoba sendiri, Aston menambahkan detergen ke dalam botol itu dan mengocoknya hingga menjadi cairan keruh berwarna keputihan. "Jangan tanya alasannya, sungguh aku tidak tahu. Aku hanya melakukan seperti yang dilakukan mereka," tangannya menunjuk pada murid-murid lain. Well, Aston Lighter adalah calon ninja bukan bapak rumah tangga yang akan mengurusi tentang minyak dan air serta sabun. |
![]() ![]()
|
|
| ^^^ | Offline | |
| Post #25 Dec 24 2012, 02:44 AM | Kirin Pewrett | |
|
Kirin Pewrett + Deandra Hayes 14 Proses Emulsi. Singkat, padat, dan sangat jelas. Gadis muda ini tidak paham. Dia belum membaca buku kimia pada malam sebelumnya. Seandainya sudah pun, kemungkinan besar dia tidak akan ingat apa yang dibacanya kemarin, mengingat kondisi tubuhnya yang sedang tidak fit. Yang dipikirkannya dari tadi cuma kembali ke kamar, ke kasur tercintanya, dan tidur. Apalah itu emulsi. "Oh." Prefer yang mana katanya. "Nomor satu dan dua." Meletakkan botol lalu meraih pena untuk menulis jawaban dari pertanyaan di layar, secepat yang dia bisa. Entah apakah jawabannya salah atau benar, yang penting jawab.
Menyodorkan kertas itu pada partnernya yang terkesan pintar. "Boleh kau betulkan kalau menurutmu salah." Kemudian, gadis ini menggeser peralatan-peralatan praktikum mereka supaya ada tempat baginya untuk melipat tangan lalu meletakkan kepalanya. Sudah ya, dia capek mengangkat kepala. Kalau tadi cuma meriang, sekarang ditambah dengan pusing. Tsah. "Namaku Kirin Pewrett, kelas 2, ngomong-ngomong." Menoleh sebentar supaya suaranya terdengar jelas lalu kepalanya kembali lagi pada posisi semula. Tenggelam dalam lipatan tangannya. |
![]() ![]()
|
|
| ^^^ | Offline | |
| Post #26 Dec 24 2012, 10:41 AM | Caleb Raymone | |
|
Caleb Raymone & ........ [hasil]2&1,1d2,1,2&1d2+1[/hasil] Kimia itu apa? Oh, minyak telon. Si Raymone satu ini mana mengerti yang namanya hal-hal berbau sains. Jangankan sains, si sastra inggris saja dia gagal. Toh, ia sendiri bukan pujangga yang pantas untuk membuat romantika berbahasa dengan sebuah puisi. Buat apa yang namanya kimia kalau besar nanti ia lebih memilih untuk menjadi penerus perusahaan ayahnya. Buat apa kimia kalau isi otaknya cuma game? Enggak guna. Good god, yang penting unsur kimia udara yang ia ketahui ada dua: O2 dan CO2. Iya, kan? itu mengandung unsur udara, kan? Mendingan pelajaran olahraga dan matematika. Olahraga gunanya supaya Caleb bisa sehat dan kuat nan kekar. Matematika gunanya supaya ia tidak mudah tertipu saat menghitung-hitung duit. Kesimpulannya, matematika itu gunanya hanya untuk ngitung duit supaya tak salah. Dan lagi, buat apa juga kelasnya digabung. Ya, jelas-jelas yang tahu lebih banyak si seniornya, dong. dan dengan ini tugasnya kemungkinan lebih banyak dilakukan oleh seniornya. Apalagi kalau partner-an sama yang lihai kimia. Kelihatannya enak, tuh. Caleb bisa numpang nilai tanpa kerja sedikitpun. Yah, walaupun ia harus membantu juga sedikit-sedikit sih. Tapi kalo dapat partner seangkatan dengannya ya tidak apa. Ia akan pasang muka pintar sepintar-pintarnya, melaksanakan ‘no action, talk only’ dan ujung-ujungnya bakalan menjadi numpang nilai juga. Life is good, mate. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau asalkan masih niat untuk melakukannya. Contohnya saja si Caleb. Ia bisa melakukan numpang nilai kalau ia niat untuk bantu sedikit dan bicara layaknya profesor. Ah, tidak-tidak. Untuk kelasnya kali ini setidaknya ia bisa kerja juga. Walaupun tidak semaksimal yang Einstein lakukan. Bahah. Partner kerja, mana partner kerja kimia? “Sama aku, yuk!” nyeletuk sembarang saja ke murid lain yang ada didekatnya. |
![]()
|
|
| ^^^ | Offline | |
| Post #27 Dec 24 2012, 06:08 PM | Dawn Llewellyn | |
|
Caleb Raymone & Dawn Llewellyn Dice: [hasil]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/hasil] Ada yang baru, nih! Apa? Bukan, bukan tempat riset baru buat tidur sayangnya. Bukan juga bantal baru nan empuk yang sebenarnya sangat Dawn butuhkan. Dan bukan pula kebijakan baru yang memperbolehkan murid-murid seenaknya keluar masuk pemakaman. Ada pengajar baru. Sebenarnya sih bagi Dawn ini bukan hal penting, toh hari-harinya banyak dihabiskan dengan bolos kelas dan tidur seharian. Informasi ini menjadi penting karena, entah kenapa, Dawn terdampar di kelas Kimia. Suatu fakta yang sebenarnya mengejutkan bahkan bagi diri Dawn. Dawn masuk kelas dan tak tertidur? Oho. Rekor. Dan buktinya hari ini memang rekor. Gadis Llewellyn ini mampu menghadiri kelas Kimia dan belum menguap sampai detik ini. Entah karena tadi menjelang ke kelas ia sudah memenuhi kebutuhan tidurnya hari ini atau memang suara pengajar perempuannya bukan jenis suara tukang dongeng yang bisa bikin ngantuk hanya dengan beberapa paragraf awal perkataannya. Meski tidak ngantuk, Dawn tetap malas-malasan tentu saja. Ekor matanya melirik dan mengamati penghuni kelas yang kelihatannya kelebihan glukosa—semangat abis. Atau mungkin mereka tidak pernah mencoba hal ini sebelumnya di rumah. Jadi seperti anak-anak yang mendapatkan mainan baru, semangatnya kelebihan dosis. “Hmmm.” Dawn memandangi bahan-bahan pratikum mereka kali ini. Berharap kalau semua item akan menyelesaikan permasalahannya masing-masing. Bergerak sendiri hingga Dawn tinggal berleha-leha menanti semua tercampur. Sayang, ability Dawn tidak berhubungan dengan pengendalian semua elemen yang disediakan. Dawn hanya bisa mengeluarkan asam. “Sama aku, yuk!” Ada juga ya yang mau sekelompok dengannya? Awalnya Dawn malah mau kabur saja dari kelas karena malas mencari pasangan dan membuat kelompok. “Boleh.” “Jadi…kau mau mengerjakan semua ini dan membiarkanku tidur di pojokan sana?” Heh. |
![]() ![]()
|
|
| ^^^ | Offline | |
| Post #28 Dec 26 2012, 06:24 AM | Olivia Satchel | |
|
Olivia Satchel + Nachelle Poxleitner 10 + [hasil]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/hasil] "Iya, panggil Oliv saja terus. Lebih enak didengarnya kok," dan entah bagaimana otomatis ia menepuk-nepuk punggung juniornya yang bermarga Poxleitner itu. "Eh, apa maksudmu tadi? Art? Guru favoritku bukan Art," atau Nachelle belum menyelesaikan kalimatnya sehingga Olivia tidak tahu kalau Art yang dimaksud adalah tiga huruf terdepan dari nama seseorang? Yang berarti masih ada beberapa huruf lagi dan--oke, skip. Lanjut praktikum saja, supaya semua ini cepat berakhir dan Olivia bisa sempat-sempatnya selonjoran di kelas ini sekalipun dia punya firasat bakal ditampol habis-habisan oleh wanita baru yang mengajar mereka. Wajahnya agak galak, ya, omong-omong. "Iyyyep, minyaknya udah dituang," percobaan ini memang sebetulnya mudah kok. Tapi Olivia malas saja menjawab soal-soalnya. Sudahlah, dia sudah mengerti, secara basic. Kimia tidak perlu dibuat serinci itu. Lagipula, Olivia tidak tertarik dengan kimia, dan ia juga yakin di kelas ini banyak anak yang tidak begitu tertarik dengan pelajaran ini. "Nah, saatnya mengamati," ia menundukan kepalanya dan mulai memelototi botol percobaannya. Hanya sebentar, kemudian tegap lagi. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi dengan air dan minyaknya. Kemudian tahap akhir, masukan deterjen. Satu sendok ia ambil dan clup. "Nach, perhatiin lagi, ya. Terus kerjain dua soal pertama." |
![]() ![]()
|
|
| ^^^ | Offline | |
| Post #29 Dec 26 2012, 07:51 PM | Nachelle Poxleitner | |
|
Olivia Satchel + Nachelle Poxleitner 13 [selesai] Mereka mengerjakan prakteknya dengan cukup cepat, ya? Hanya perasaannya atau memang benar begitu. Mereka sudah menyelesaikan praktek mereka, sekarang waktunya mengerjakan soal-soal yang sudah dituliskan oleh Chemistry. Ya, sayang sekali guru yang satu ini biarpun baru pertama kali mengajar disini, ia tetap memberikan soal-soal esai yang Nachelle bahkan--yang pernah diberi gelar best student--tak begitu menyukainya. Memang siapa yang senang disuruh menulis esai seperti itu? Nachelle yakin, tak ada satupun yang suka menulis esai semacam ini. "Okelah, kukerjakan dua soal pertama, dua soal berikutnya kau yang mengerjakan ya, liv?" Masih aneh menyebutnya dengan nama depan saja. Well, lupakan saja deh, ia masih memiliki tugas yang harus ia kerjakan. Hanya perasaannya saja atau pelajaran kali ini masih kimia dasar, bukan yang melibatkan pencampuran zat yang membuat bom atom atau sejenisnya. Ya, siapa tahu guru baru mereka dapat membantu mereka meledakkan Tower Prep, tak ada yang tahu.
Lalalala, omong-omong buku Nachelle ketinggalan hari ini, jangan protes kalau ia menjawab tidak tepat. |
![]() ![]()
|
|
| ^^^ | Offline | |
| Post #30 Jan 3 2013, 05:05 PM | Silver Hochterfer | |
|
Silver Hochterfer + Ciara Werkheiseir 9 + [hasil]3&2,1d2,1,3&1d2+1[/hasil] Tak ada satupun yang ia kuasai di kelas ini, kecuali pernyataan bahwa sulung Hochterfer tak pernah menganggap kimia sungguh-sungguh. Mengada-ada-kan benda yang tiada. Jahanam lah tempat yang pantas bagi sang pereka cipta yang terpegah alih-alih begundal tua yang sekarang sudah mati bongkok dengan tubuh yang semakin lama dirayapi usia dan hewan tanah yang tak kalah keji dengan yang digerogoti. Cih. Salivanya yang siap-siap dilontarkan keluar, meludah, katakanlah. Tetapi, tak lama kemudian, cairan tersebut meluncur kembali membasahi kerongkongannya yang rindu sarat air. Seburuk-buruknya sifat si brengsek ini, ia masih bisa menjaga diri untuk tidak menjadi sorotan intimidasi. Iya, walau inginnya mencampuri tabung reaksi dengan sembarang cairan, dan menumpahkannya tepat di wajah sang pengajar. Raganya enggan, ia muak dengan apa yang menjadi objeknya saat ini. Tak bisa dipercaya, ia bahkan mengikuti prosedur konyol atas titah Chemistry yang terhormat. Cairan kental itu mengucur pelan dari mulut tabung reaksi. Gadis di sebelahnya-lah yang berulah atas hal tersebut. Obsidiannya tak bergeming, tak mau lepas dari objeknya saat ini. Padahal, benarnya, otaknya sudah kelayapan tak jelas. Kedua telapak tangannya terkelungkup di tepian meja dalam diam, seolah turut mengamati. Ia belum berkata apapun, apalagi menimpali sejak dirinya menyetujui gadis anonimus untuk berpartner dengannya. Pengecualian, soal peringatannya terhadap sang hawa untuk memperhatikan objek serba berbau kimia yang sekarang menjadi mainannya. Wajar kalau lantas ia tak mampu menghapus rasa heran, kernyitan di dahi dengan perangai sosok tersebut. Megap-megap seperti orang yang saluran pernapasannya terhimpit, dan kekurangan oksigen, dan mati. End of discussion. Ia mendengus, kemudian berbalik menatap gadis tersebut. "No, you didn't—" bego. "—Your name, mind you?" Minyak dan airnya tidak bersatu. Kali ini, lengannya bergerak menyambar wadah detergen yang semula telah dipersiapkan. Total dice di postnya Miss. Werkheiseir harusnya 7 bukan 5. Kalau saya gak salah hitung. CMIIW. |
![]() ![]()
|
|
| ^^^ | Offline | |
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| « Previous Topic · Kelas Sains · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
7:57 AM Jul 11
|
Hosted for free by ZetaBoards · Privacy Policy











7:57 AM Jul 11