Welcome Guest
[Log In]
[Register]
| ||
|---|---|---|
![]() Summer 2016 Time: Juli-Agustus 2016 Temperature: 28-33 Celcius |
TERM 4Timeline: 2016/2017 Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001 Kuota Registrasi: 27/45 Kuota Murid Spesial: 2/2 Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2 Kuota Visualisasi Asia: 7/7 Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5 Daftar lebih lengkap |
[+] Langkah Bermain [+] Peraturan [+] Daftar Visualisasi [+] Formulir Registrasi [+] Jadwal Term 4 [+] About Tower Prepatory [+] Plots [+] Disclaimer and Credits [+] Wikia (On Development) |
|
|
|
|
| Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012. Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login: |
| [Kelas Gabungan] Kelas Medis 2015/2016; Terbuka, tentu saja. | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Dec 22 2012, 05:57 PM (1,505 Views) | |
| Post #1 Dec 22 2012, 05:57 PM | Nurse |
|
Kapan lagi, sosoknya akan terlihat dihadapan beberapa siswa dengan tujuan selain untuk mengobati mereka? Hanya untuk tahun ini hal tersebut akan terjadi, sebuah kelas tambahan untuk setidaknya memberi sedikit pengetahuan pada para siswa mengenai beberapa hal dasar mengenai medis. Meski kelas ini mengambil waktu di hari bebas mereka satu-satunya. Kelas di hari minggu? Ia yakin para siswa tersebut langsung menguap mendengarnya. Sayangnya, kelas ini bersifat wajib apalagi jika mengincar untuk mengikuti program work study di rumah sakit. Mereka semua, siswa-siswi dari tingkat 1 hingga 3 yang jumlahnya tak dapat dihitung hanya dengan jari kaki, sudah berdiri saling berdampingan. Ada yang perempuan-perempuan, laki-laki, dan juga perempuan serta laki-laki. Sama sekali tak masalah baginya. Asal mereka tahu batasan saja untuk saat ini, tak dikendalikan oleh hormon-hormon bergejolak. "Kemarin, kita sudah belajar soal CPR, kan? Aku pun sudah menunjukan cara melakukannya pada kalian." Sebuah senyum ditunjukan kepada murid-muridnya, langkah kakinya terdengar menggema di ruangan kosong luas satu-satunya di rumah sakit ini saat hak sepatunya bertemu dengan ubin yang keras. Di dinding terdapat skema yang menjelaskan mengenai cara melakukan CPR secara detail, sehingga ia tak perlu menjelaskan lagi untuk yang kesekian kalinya. "Untuk hari ini, kalian sudah kupasang-pasangkan seperti ini," memasang-masangkan dengan cara menarik satu siswa dan kemudian ia letakan di samping siswa lainnya, sebuah kegiatan yang mengambil waktu hingga 30 menit lamanya, "kenapa? Karena aku ingin kalian mempraktikan CPR pada satu sama lain secara bergantian, hati-hati karena objek kalian adalah manusia biasa. Aku siap untuk langsung mengobati kalian jika ada yang rusuk yang patah, tapi kalian harus tetap hati-hati." Well, selalu ada sedikit insiden kecil. Untungnya, wanita berusia menjelang 30-an itu sudah menjadi seorang ahli dalam bersikap dalam keadaan gawat. "Waktu kalian satu jam untuk melakukannya, aku dapat memperhatikan kalian semua di sini, jadi jangan kira aku tak akan melihat jika ada yang tak melakukan," matanya melirik ke jam dinding, "dan praktek dimulai sekarang!" Minggu, 3 Januari 2016 pukul 10.00. Untuk pasangan, ditentukan melalui post. Orang yang post sebelum/setelah kalian adalah pasangan kalian. Untuk prakteknya, gunakan kode dice roll 1d50, jika kalian sudah mendapatkan angka prima sebanyak 3 kali, maka kalian sudah berhasil melakukan CPR. Praktek dilakukan secara bergantian, misal: A berpasangan dengan B, maka terserah mereka A yang melakukan praktek terlebih dahulu dan B yang menjadi objek atau sebaliknya. Jika A terlebih dahulu, jika A sudah mendapatkan angka prima sebanyak 3 kali, maka B sudah boleh melakukan post praktek dan A yang menjadi Objek. A tidak boleh reply sebelum B reply. Saat dalam posisi menjadi Objek, tidak perlu mencantumkan dice roll dalam post. Pertanyaan? Silahkan lewat topik pertanyaan atau mention ke @TowerPrepRPG. |
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #2 Dec 22 2012, 07:06 PM | Miguel Husky |
|
Masa’ putra dokter tidak bisa CPR? Itulah yang akan dibuktikan Miguel. Putra dokter tentu harus cakap dalam hal pertolongan pertama, tentu saja. Baik itu pertolongan pertama akibat kecelakaan kecil, sampai hal-hal serius seperti henti napas yang tiba-tiba. Sekalipun pemuda itu tak mengikuti kegiatan kepalangmerahan di sekolahnya dulu, namun seingatnya ia pernah mempelajari hal itu dari ayahnya di rumah. Tentu seorang dokter hewan sekalipun harus bisa melakukan pertolongan pertama pada manusia. Iya, ayahnya memang dokter hewan. Tentu seperti yang telah disebutkan tadi, seorang dokter, apapun, harus bisa melakukan pertolongan pertama pada manusia. Mau dokter hewan, dokter gigi, dokter bedah, apapun itu tentu harus bisa. Menurut hematnya, sih. Lihat itu. Senyum mengembang di wajahnya. Hampir-hampir senyumnya bertransformasi lebih lanjut menjadi senyum penuh kesombongan sebelum dengan cepat si pengajar menyeret si pemuda dan memasangkan secara paksa. Untunglah. Lagipula semahir-mahirnya Miguel dalam hal ini, siapa tahu ia akan menemui banyak kesalahan di tes nanti. Namanya juga manusia. Ralat—manusia mutan. Kemudian dengan isyarat sederhana membiarkan partnernya menjadi objek sedangkan Miguel sendiri menjadi penolong. Ayahnya biasa bilang, kalau mau jadi penolong harus memperkenalkan diri dulu. Tujuannya agar korban mengenali penolong dan tidak curiga apakah si penolong itu mau menolong atau berniat jahat. Setelah mempertimbangkan bahwa ini hanya kelas, batal. “Oke, tahap pertama. Periksa respon kesadaran. ASNT. Awas,” katanya sambil melambai-lambai di depan mata objeknya, “Suara,” kemudian bersuara memanggil nama objeknya sambil menepuk pundak perlahan, “Nyeri,” mencubit lengan atas rekannya dengan buku jari kedua telunjuk dan jari tengah, “Tekan.” berusaha menekan tulang dada dengan buku jari kedua jari tengah, “Eh. Ups maaf.” tambahnya sekiranya gerakan terakhir cukup mengganggu. “Nah, kau mau kuanggap sadar atau tidak sadar?” Partner: <next poster> Banyak angka prima: - Dice: [hasil]24&24,1d50,0,24&1d50[/hasil] sumber |
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #3 Dec 22 2012, 09:23 PM | Kate Karter |
|
Well, sepertinya kelas ini akan menarik untuknya. Dulu, waktu Kate masih berusia enam tahun, dan saat itu ia masih sangat akrab dengan kedua orang tuanya, ia mengutarakan cita-citanya dengan penuh percaya diri seperti anak-anak seumurannya pada umumnya. Tanpa malu-malu, Kate kecil mengatakan kepada kedua orang tuanya bahwa ia ingin menjadi seorang perawat. Kalau perlu, jadi dokter jika ia bisa. Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata keinginan itu perlahan-lahan mulai pudar. Dirinya tak lagi menginginkan profesi itu lagi. Ia berubah menjadi gadis yang tak peduli dengan sekitar. Dan dirinya menjadi tak mudah untuk merasa simpati apalagi berempati dengan entitas lainnya. Meskipun jika terdesak, pastilah ia akan menolong. Dan ia dipasangkan dengan seorang pemuda—yang sepertinya siswa yang baru berada di tempat ini tahun ini—untuk melakukan CPR. Nampaknya, pemuda ini lebih mengerti banyak tentang teknik-teknik yang digunakan pada saat melakukan CPR. Jadi, Kate memutuskan untuk pasrah menjadi pasien. “Oke, tahap pertama. Periksa respon kesadaran. ASNT. Awas,” ASNT? Apa itu? Sepertinya Kate memang tidak tahu banyak soal CPR. “Suara,” Baik, Kate hanya mengerenyit bingung sambil menatap anak lelaki itu ketika ditepuk pundaknya. "Nyeri" Lalu dengan lancangnya sang entitas mencubit lengan atas Kate. "Awww!" Kini dia berhasil membuat Kate benar-benar merasa nyeri. “Tekan.” Setelah itu, Kate menatap marah ke arah pemuda itu. Berani-beraninya... dia sudah bertindak lancang kepada Kate. “Nah, kau mau kuanggap sadar atau tidak sadar?” Karena Kate malas untuk memperhatikan dan bertindak sok peduli dengan apa yang sedang mereka pelajari, akhirnya Kate memilih pilihan terakhir saja. "Tidak sadar. Aku ingin ini semua cepat berlalu" Jawab Kate singkat. Partner: Miguel Husky PMIIW |
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #4 Dec 22 2012, 09:37 PM | Andrei Fortellone |
|
Miapah ada kelas di hari minggu…. Rei menguap malas. Bukan, bukan karena ia kurang tidur (meski Rei termasuk morning person dan otomatis jam tidurnya di bawah rata-rata), tapi karena Rei bosan. Malas, ya, malas. Karena hari minggu begini enaknya jogging sambil main bola, atau nonton cartoon network sambil menirukan gerakan-gerakan yang ia lihat. Bukannya menghadiri kelas yang tidak berhubungan dengan olahraga. Iyalah, hari minggu itu hari libur absolut yang tak bisa diganggu gugat, no? Eh, tapi ini praktik kan? Bukan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan buku yang tebalnya entah-berapa-halaman-membayangkannya-saja-sudah-bikin-ngantuk-parah, kan? Sedikit semangat mulai muncul di benaknya. Sedikit loh, sedikit. Dan semoga saja kelas ini tak akan menjadi semembosankan kedengarannya. Semoga saja. Rei menoleh pada partner-nya, anak yang dipasangkan dengannya. Senyum ramah sebentar sebelum berkata, “Biar aku aja duluan yang jadi objek. Gimana?” Rei memilih belakangan saja. Alasannya? Satu, Rei buta medis. Dua, dengan belakangan, Rei dapat mengetahui cara melakukannya yang sebenarnya. Karena Rei belajar cepat melalui penglihatan dan gerakan. {{ partner: (siapa yaaaa?) angka prima: - // [hasil]34&34,1d50,0,34&1d50[/hasil] }} Edited by Andrei Fortellone, Dec 22 2012, 09:37 PM.
|
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #5 Dec 22 2012, 09:54 PM | Sierra Karter |
|
Sungguh kali ini ia akan bermain suster-susteran? Uhm, bisa dibilang bukan ‘bermain’, melainkan ‘belajar’ menjadi suster. Karena, kali ini, ia akan mempelajari bagaimana caranya melakukan CPR. Sangat seru, bukan? Yup, sewaktu masih di panti asuhan dulu, Sie sering bermain suster-susteran bersama teman-temannya di panti asuhan tersebut. Dan sekarang, ternyata Sierra dapat melakukannya lagi! Dengan disisipi ilmu pengetahuan juga. Lebih baik seperti ini, bukan? Belajar sambil bermain. Uhm, sebenarnya mungkin hanya Sie yang menganggap bahwa ini adalah permainan. Tapi, siapa peduli? Yang penting dapat mengikuti kelas dengan baik, kan? Kali ini Sie dipasangkan dengan pemuda yang sempat bertemu dengannya di danau waktu itu, Rei. Beruntung, karena ia dipasangkan dengan orang yang telah dikenalnya. Maklum, ia tidak mengenal banyak siswa di Tower Prep ini. “Biar aku aja duluan yang jadi objek. Gimana?” Sambil tersenyum, Sie menjawab, "Ah, ya. Sepertinya itu ide yang bagus, Rei. Kebetulan aku senang jika berperan menjadi perawat" "Langkah pertama adalah memeriksa respon korban, dengan cara menepuk pundaknya seperti ini" Ujar Sierra sambil menepuk pundak Rei. Partner: Rei Fortelonne Angka Prima:- KS: [hasil]14&14,1d50,0,14&1d50[/hasil] |
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #6 Dec 22 2012, 11:03 PM | Blair P. Vysocinazlinkarlonvsky |
|
Konyol. Yah, Blair audah tahu bagaimana konyolnya sekolah ini semenjak ia membuka matanya dan mendapatkan dirinya di sebuah kamar—kamar tak dikenalnya dengan dua ranjang lainnya. Terdiam tanpa sepatah katapun keluar dari birainya, percuma ia protes, toh tetap saja kelas harus dihadirinya kalau ia tak ingin mendengar kata-kata mutiara dari Whisper atau mungkin yang jelas sebuah detensi? Persetan dengan detensi. Detensi dari sekolah dengan kurikulum tak jelas dan sangat menyebalkan dan konyol tentunya. Kata yang seharusnya tak lewat dari deskripsinya tentang sekolah satu ini. Kini terbukti bagaimana konyolnya sekolah ini. CPR. Kenapa harus ada? Kenapa tak membiarkan saja orang tersebut meninggal? Mungkin saja sudah waktunya. Buat apa diselamatkan pula? Dunia itu keras dan kejam, jadi buat apa hidup kembali? Sesuatu yang membuat seseorang tenarkah? Lalu harga diri mereka naik satu tingkat? Tolol. Beberapa entitas berasumsi begitu, namun tidak untuknya. Jika ia mati ya sudah, biarkan ia mati, untuk apa hidup terbelenggu di sebuah sekolah yang berada entah dibagain bumi sebelah mana yang mungkin saja berada di luar bumi seperti film yang ditontonya dengan wajah bosan tentang penjara di luar bumi. Sebuah tangan menariknya yang mengartikan partner. Siapa dia? Entahlaha. Blair sama sekali tak menoleh sedikitpun. “Ayo cepat kau duluan yang berbaring dan jadi korban praktikum pertama dan tidak usah berpikir atau berkata yang aneh-aneh seperti sakit atau apa.” Ya, Blair memang tidak ingin berurusan dengan sosok yang lemah atau cerewet. Lagipula kalau tulangmu patah Blair siap mencoba menghentikan peredaran darah di tubuhnya sebagai praktikum lain sampai guru kelas ini memperbaiki tulang entitas ini dan kalau tak bisa diperbaiki, ya sebut saja. Takdir. Walaupun Blair sejujurnga tak pernah terlalu percaya dengan hal yang disebut takdir atau kebetulan yang terkadang dopercayainya juga di beberapa waktu ketika memang otaknya tak berfungsi dengan baik. Partner' ')/ [hasil]10&10,1d50,0,10&1d50[/hasil] |
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #7 Dec 22 2012, 11:06 PM | Miguel Husky |
|
Sebenarnya butuh berapa juta detik untuk menyadari bahwa partnernya kali ini adalah perempuan. Bukan perempuan biasa malahan. Kalau ditilik dari wajahnya, bukan satu angkatan dengannya malah, berarti besar kemungkinan kakak kelas. O-ow. Apalagi ada beberapa tahap di awal tadi yang sedikit menyakitkan dan...pribadi? Ah, apa tadi kakak kelasnya semacam mengaduh? Tambah lagi gerakan terakhir yang sedikit pribadi membuat kakak kelasnya melemparkan tatapan marah yang membuat Miguel menyesal. “Maaf kak. Prosedur semata. Selain itu aku mencoba profesional dengan tidak berpikiran macam-macam tadi.” katanya sembari tersenyum ramah. Semoga ia mengerti. Kemudian setelah kakak kelasnya memutuskan untuk berakting tidak sadar, Miguel mengangguk dan bersiap pada prosedur setelahnya. Omong-omong soal prosedur, pikiran pemuda Husky tentang prosedur CPR buyar seketika. Entah karena tatapan marah tadi atau memang murni lupa. Sama saja efeknya. Berhubung pemuda Husky buyar ingatannya, ia segera mencuri pandang ke arah dinding-dinding ruangan. Di sana tertempel jelas prosedur DPR. Syukurlah. Semoga Tuhan memberkati siapapun yang memasang itu. “Selanjutnya buka jalan napas,” gumamnya, “ada dua metode, ADTD dan Jaw Thrust Manuever.” berhenti sejenak untuk berpikir. Jaw Thrust Manuever kalau tak salah untuk korban dengan tulang leher patah ya? Kebetulan sekali Miguel lupa. Kalaupun ia ingat sepertinya ia juga belum tentu akan melakukan itu. “Oke kita pakai ADTD saja ya.” lebih kepada monolog. Sadar aksi selanjutnya akan mengusik kakak kelas itu sekali lagi, Miguel meminta izin dengan lebih sopan. “Anu, kak. Izin prosedur selanjutnya.” Tanpa menunggu jawaban, pemuda beriris cokelat terang itu langsung melaju ke tahap selanjutnya, ADTD—Angkat Dagu Tekan Dahi. Sesuai deskripsi, Miguel mengangkat dagu, perlahan, dan menekan dahi dalam waktu bersamaan. Kemudian setelah jalan napas terbuka, mendekatkan telinga ke mulut kakak kelasnya untuk mendengar ada atau tidaknya napas selama kurang lebih 10 detik. Wah, semoga untuk tindakan ini partnernya tidak lantas semakin marah dan kabur. Partner: Kate Karter Banyak angka prima: - Dice: [hasil]21&21,1d50,0,21&1d50[/hasil] oh iya lupa dari tadi... izin godmod kak m(_ _)m |
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #8 Dec 22 2012, 11:13 PM | Heathcliff Hartford |
|
Nyanko. Cliff masih tidak mengerti kenapa ada pelajaran seperti ini. Buat apa ya? Seperti Cliff mau nyemplung ke medan perang besok saja. Bukannya mereka menjamin keamanan di Tower Prep ya? Lalu ini apa, pakai disuruh berpartner lagi, kalau misalnya ia yang dibuat berpraktek pertama, nanti kesannya uke dong, diseluruh kelas, di depan anak-anak kelas satu ini? Cih, siapa yang uke, Cliff bukan uke kok, sip. Matanya memindai orang-orang disini, seluruh tingkat pertama, kedua, dan ketiga tumpah ruah dalam satu ruangan, pemuda dan pemudi. Kira-kira ada tidak ya salah satu kenalannya yang mau diajak berpartner, mendengarkan semua rancauan Cliff juga selagi dia melakukan tugasnya. Ah, Eureka! Itu, gadis Vysocinazlinkarlonvsky, sendirian kayaknya, tarik-tarik boleh kan? Pasti nggak marah kan? Ya, masa cantik-cantik marah sih, jadi Cliff menarik Vysocinazlinkarlonvsky deh, eh ternyata dia setuju, tumben sekali nggak bersikap seperti biasa, apa karena belum tahu ya kalo partnernya Cliff? "Vysocinazlinkarlonvsky.." Berusaha bicara dengan nada sedatar mungkin, tapi mana mungkin? Mana bisa Cliff datar? "KENAPA AKU KAMU UKE-IN?" To the point sekali, nuff said. Partner: Blair Vysocinazlinkarlonvskycchi. |
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #9 Dec 23 2012, 12:02 AM | Lucianne Sinclair |
|
Padahal ia sudah kegirangan tiada tara karena akhir minggu datang juga, tapi rasanya semakin lama tidak ada yang namanya akhir minggu disini. Apalagi sekarang ia sudah harus berkumpul demi kelas. Yup! Kelas di hari minggu, rasanya inign sekali ia cepat-cepat keluar dari tempat ini. Buku bacaan baru di download semalam tapi apa daya semua rencana harus ditunda demi kelas. CPR? Yang benar saja? Lagi pula ada acara apa tiba-tiba sekolahnya mengajarkan hal seperti ini ke semua murid? Bukannya ada dokter sekolah? Setidaknya para murid yang gila dengan medikasi? Dirinya? Paracetamol saja suda menjadi obat wajib yang menurutnya bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Berpasangan pula, rasanya ingin sekali ia kabur dari kelas ini. “Ahoy partner, siapa jadi siapa nih?” Walaupun sudah diterangin berkali-kali pun rasanya ia masih clueless dengan apapun yang harus dilakukannya. “Serius aku gak ngerti apa-apa, mendingan kau dulu deh yang mulai, gimana?” partner : | |
![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #10 Dec 23 2012, 12:05 AM | Blair P. Vysocinazlinkarlonvsky |
|
Awalnya... Blair memang tak tahu siapa partnernya dan tidak mau melakukaan hal bodoh ini sebenarnya—kalau sebuah tangan tak menariknya untuk melakukaan praktikum dan ya, ini tersangka yang telah menariknya untuk melakukaan praktikum tolol dan sungguh tolol. Ah, kenapa entitas ini yang menariknya? Kenapa tidak yang lain? Sungguh Blair hanya bingung bagaimana pemuda idiot satu ini bisa berpasangan dengannya untuk praktik satu ini. Bukan takdir tentunya. "Well, idiot.... Kau sudah uke sejak pertama aku mengenalmu dan kau tak perlu menunduhku aku meng-ukekanmu dan lebih baik kau diam sebelum pisau beda membelah dada hingga perutmu. Atau kau tak ingin tulang rusukmu patah. Oke?" Datar. Blair memang bukan dokter, seorang aktris yang melakukaan adegan CPR, atau lainnya yang pernah melakukaan hal ini jadi bukan masalahkan kalau tulang rusuk pemuda ini patah—oh, tapi yang jelas Blair tak mau mengurusnya kalau kedua tangan dan kakinya masih bisa sanggup digerakan... Setidaknya ia masih bisa bergerak walaupun tak bisa bangun tentunya. Ya, Blair tahu kalau pemuda ini memang itunya tapi setidaknya masih ada perawat dan Headmaster yang mau mengurusnya kalau tulang rusuk pemuda ini patah bahkan remuk sekalian. "Well, anggap saja masih ada napas yang terdengar." Sebab gadis Vysocinazlinkarlonvsky ini tak mau melakukaan CPR yang lebih melanjut. Dimana ia harus menutup hidung pemuda ini dan memberikan napas buatan dari mulut ke mulut yang... Tolol, dungu, dan idiot kalau dilakukaannya. Heathcliff Hartford [hasil]3&3,1d50,0,3&1d50[/hasil] |
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
|
|
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Rumah Sakit · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
1:58 AM Jul 12
|
Hosted for free by ZetaBoards · Privacy Policy











1:58 AM Jul 12