Theme style: Light | Dark
Welcome Guest [Log In] [Register]

Announcements

Situations
Informations
Links

Summer 2016
Time: Juli-Agustus 2016
Temperature: 28-33 Celcius

TERM 4


Timeline: 2016/2017
Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001

Kuota Registrasi: 27/45
Kuota Murid Spesial: 2/2
Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2
Kuota Visualisasi Asia: 7/7
Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5
Daftar lebih lengkap

[+] Langkah Bermain
[+] Peraturan
[+] Daftar Visualisasi
[+] Formulir Registrasi
[+] Jadwal Term 4
[+] About Tower Prepatory
[+] Plots
[+] Disclaimer and Credits
[+] Wikia (On Development)
Chatbox
Important Info
Twitter Feed

Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012.

Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login:

Username:   Password:
  • Pages:
  • 1
  • 2
  • 4
[Kelas Gabungan] Kelas Medis 2015/2016; Terbuka, tentu saja.
Topic Started: Dec 22 2012, 05:57 PM (1,507 Views)
Deandre Hayes
Perihal medikasi itu sudah mendarah daging bagi keluarga Hayes.

Kakeknya adalah asisten si dokter gila dari kamp konsentrasi. Pergi bertandang ke Amerika dan menjadi apoteker yang tak lebih dari sisi gelap yang gemar bereksperimen dengan racun. Dilain pihak, Eaton Hayes, ayahnya —berkecimpung dalam dunia tangis dan galau dan harus jadi penghibur muka dua bagi para pasiennya yang punya masalah kejiwaan.

Dan rupanya tidak cuma kakek dan ayah.

Ibunya bisu, tapi wanita itu menjadi matron rumah sakit semenjak ia kecil, dan kakak perempuannya, Abigail yang dipercaya Deandre bahwa gadis itu punya otak sekecil kacang, rupanya cukup pintar membedakan obat-obatan terlarang, dan masih hidup karena pintar menakar dosis.

Konklusi….

“Ahoy partner, siapa jadi siapa nih?”

Are you joking?

“Serius aku gak ngerti apa-apa, mendingan kau dulu deh yang mulai, gimana?”

Are you serious now?

Gadis ini bisa membaca pemikirannya semudah membalikan telapak tangan. Walau sebenarnya memang pemuda Hayes itulah yang membiarkan sang Sinclair untuk melakukannya dengan begitu bebas. Ya… Ia menginjikan karena memang tak ada yang perlu disembunyikannya. Latar belakangnya sudah kelewat fantastis dan CPR ini menggelikan. Pemuda itu bisa mempraktekan bagaimana cara membunuh seseorang dalam dua menit daripada bersusah hati menyelamatkan orang dari batas ambang kematian.

"Sana. Pura-pura" mati "—pingsan."


Partner: Lucian Sinclair.
Edited by Deandre Hayes, Dec 23 2012, 01:12 AM.
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Kirin Pewrett
Kelas tambahan, medis, Hari Minggu.

Haaaaah.

Rasanya Kirin bisa mengomel sepanjang hari hanya gara-gara ini. Walaupun sebenarnya, tidak ada hal penting yang akan dilakukannya hari ini.

Dia tahu CPR itu yang mana. Hidup di daerah yang penghuninya sedikit dan rumah sakit yang jaraknya jauh, menyebabkan mereka harus menguasai teknik-teknik medis dasar. Dan CPR ini penting, apalagi di tempat sedingin rumahnya. Latihan melakukan CPR juga penting bagi murid-murid yang usianya masih belia ini. Tapi ya, jangan Hari Minggu kenapa?

Melakukan gesturnya yang biasa saat mengajak seseorang untuk berkelompok. Tepuk pundak untuk mendapatkan perhatiannya lalu tunjuk diri sendiri. "Denganku?"

Mau saja ya, dia malas cari-cari orang lagi.

"Korban atau penolong?"

Pilihannya cuma dua, kan? Lebih baik ditentukan di awal terlebih dahulu.

partner?
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Kate Karter
Oke, ini benar-benar sebuah kesialan yang datang secara mendadak. Kate Karter sedang menikmati hari liburnya yang sangat sedikit itu dan tiba-tiba saja ada kelas medis di hari minggu yang membuatnya harus datang ke rumah sakit ini.

Mulanya memang terdengar menarik. Tapi ternyata, yang harus mereka lakukan disini adalah CPR.

Dan ini tidak semenarik yang ia kira karena ia tidak terlalu tahu banyak soal penanganan semacam ini dan bagaimana langkah-langkahnya. Meskipun sudah ada penerangannya, tetap saja Kate tak mengerti. Jadi, lebih baik ia tetap diam disini dan biarkan anak lelaki ini melakukan segala yang ia tahu.

“Anu, kak. Izin prosedur selanjutnya.” Err, anak lelaki ini begitu formal. Tapi baguslah, Kate paling tidak suka dengan orang yang tidak memiliki etika.

Kate hanya diam saja tanpa menjawab, tanpa mengangguk, tanpa menggeleng. Memangnya jawaban apa yang harus diberikan? 'Ya, silahkan saja'. Atau 'Tidak, kau tak kuizinkan'. Karena Kate tahu, apapun jawaban Kate, anak lelaki ini pasti tetap akan meneruskannya karena sedang mengerjakan tugas. Jadi, daripada ia membuang-buang tenaga untuk menjawab pertanyaan sepele seperti itu, lebih baik ia diam.

Selanjutnya, dahi Kate ditekan dan dagunya diangkat. Huh, haruskah menempuh langkah yang serumit ini hanya untuk melakukan CPR saja? Seingatnya, adegan di televisi saat melakukan CPR lebih mudah daripada ini. Hanya membaringkan, menekan, lalu memberikan nafas buatan lewat mulut.

Mulut?

Kate merasakan ada yang mendekat ke mulutnya, perasaan Kate tidak enak, awas saja kalau pemuda ini berani-beraninya menjahili Kate dengan memasukkan serangga atau semacamnya, tak akan Kate ampuni!

Penasaran, Kate mengintip apa yang sedang anak lelaki itu lakukan. Ternyata dia sedang mendekatkan telinganya ke mulut Kate. Buat apa? Tak tahu. Kate serahkan saja semuanya pada anak ini.

"Sudah belum? Kau sedang apa, sih?"


Partner: Miguel Husky
Santai aja, kok ' ')/
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Miguel Husky
Untunglah partnernya yang ternyata kakak kelas ini tidak lantas kabur gara-gara prosedur Angkat Dagu Tekan Dahi tadi. Kalau kabur, bagaimana kelangsungan kelas medis ini? Toh semakin cepat Miguel menyelesaikan CPR, semakin cepat kakak kelasnya ini memulai praktek dengan si pemuda sebagai objek, semakin cepat pula keluar di kelas minggu ini.

Yah, meski akui saja, beberapa prosedur agak—apa namanya—pribadi.

"Sudah belum? Kau sedang apa, sih?"

“Tadi memeriksa dengan mendengar dan merasakan ada atau tidaknya napas.” lalu kembali konsentrasi.

Untuk prosedur selanjutnya, pemuda bermanik cokelat itu tak mau main-main dengan mengandalkan hapalan. Ia melihat dinding terdekat yang menampilkan tata-cara kegiatan yang sedang semua murid praktikkan hari ini. Syukurlah ternyata semua prosedur sudah cukup benar sampai tadi. Mungkin beberapa improvisasi dari tata cara yang tertera di dinding dengan pelajaran dengan ayahnya suatu waktu. Tak apa lah. Hanya saja prosedur selanjutnya membuat matanya terbelalak.

Jika napas korban tidak terdengar atau tidak terasa, berikan napas buatan dengan menutup hidung kemudian meniupkan udara dari mulut ke mulut 2 kali dalam waktu 2 detik. Bersamaan dengan itu perhatikan dada korban apakah bergerak atau tidak.


Mulut ke mulut? Perhatikan dada korban? Glek.

Untuk ini nampaknya Miguel harus mendapat izin yang lebih resmi. Maka kakak kelas yang sedari tadi berbaring menjadi objek, ditepuknya perlahan di pundak tanpa sepatah kata pun karena gugup. Kemudian dengan ragu menunjuk dinding terdekat yang menampilkan prosedur CPR. Berharap kakak kelasnya langsung mengerti apa maksudnya dan tahu sedang akan memasuki prosedur yang mana.

“Jadi...boleh?” pada masa ini semoga Miguel masih menjaga profesionalismenya. Iya, maksudnya tidak berpikir macam-macam dan fokus pada pertolongan saja. Semoga.


Partner: Kate Karter
Banyak angka prima: - (pffft)
Dice: [hasil]15&15,1d50,0,15&1d50[/hasil] (haminahaminahamina)
aduh kak lupa lagi mohon izin udah berbaring sebelumnya.. #geplaked
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Heathcliff Hartford
Ih serem beudh ya kakagh.

Gadis itu tsundere dari sana, dari jaman matahari masih terbit dari sebelah timur. Eh, dari timur atau barat ya? Cliff sungguh lupa. Tapi kenapa ia juga mau disuruh-suruh sebegitu cepatnya, mungkin karena refleks Cliff agak lambat, dengan kata lain, kadang-kadang ia suka lemot begitu. Ya, mungkin karena pelajaran di Tower Prep jarang membiarkannya ongkang-ongkang. Hari minggu seperti ini saja mereka tetap belajar, what kind of sorcery is this?

"Neng aku bukan uke.." Suaranya melemah, belum waktunya menunjukkan ke-seme-annya. Cliff sih pengennya jadi kuudere, tapi masalahnya ia susah diam, jadi ya, begini deh. "Bukannya seharusnya kau mengobatiku? Kok malah kesannya seperti mau membunuh gitu..."

Ini Cliff lagi menunggu sesuatu. Sesuatu yang, ya tahulah, bagian nafas buatan. Harusnya gadis Vysocinazlinkarlonvsky itu sudah jago dong, bukannya mereka berdua sudah pernah uhukberciumanuhuk. Ya, rasanya memberi 'nafas buatan' nggak sesusah itu kan?

Satu menit, dua menit, tiga menit...

"Well, anggap saja masih ada napas yang terdengar."

Nggak seru, pasti ia hanya malu melihat orang-orang disini, apalagi kalau ternyata akhirnya gadis Vysocinazlinkarlonvsky itu berakhir menikmati sesi 'pemberian nafas buatan'nya, Ya, sekali tsun memang tetap tsun, sudah mengalir di darahnya kali ya.

"Curang, ayo lakukan saja. Nanti nilaimu dikurangi loh."

Memanfaatkan kesempatan dengan baik dong walaupun ia disini sebagai pasien.

partner: Blair Vysocinazlinkarlonvsky
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Blair P. Vysocinazlinkarlonvsky
Mengecek segala macamnya, mulai dari degup jantung (yang berdetak aneh), lalu pernapasan, dan seluruhnya sudah selesai. Kini bagian yang cukup aneh untuk dilakukannya. Yah, Blair memang tak ingin melakukannya pada seseorang yang masih bernapas seperti pemuda ini—terutamaia entitas konyol seperti pemuda ini yang bertemu dengan pelajaran yang bisa saja disebut sebagai pelajaran gila. Kenapa tak biarkan saja mereka mati? Kalau mereka hidupun mereka bisa saja menyesalinya karena luk di tubuh mereka yang mungkin tak bisa sembuh selamanya.

“Tidak usah berbicara dengan nada bodoh dan pura-pura lemah seperti itu. Pertama, kau sudah bodoh sejak awal karena tingkahmu. Kedua, aku benci orang lemah.”

Mendesah pelan diakhir kalimatnya sembari mengecek segala sesuatunya kembali. Ya tentu saja pemuda ini masih hidup lantas, mengapa Blair harus membuka jalur pernapasan? Lalu tingkahnya yang—masih—saja konyol cukup mengulur waktu. Seperti tadi, berbicara dengan suara sopran tentang perihal tak jelas. Lalu sekarang mengatakan kalau Blair lebih mirip seorang pembunuh ketimbang sosok yang ingin menyembuhkan pemuda ini, membuat gadis bersurai pirang ini menghela napas panjang berkali-kali untuk membuatnya berhenti berbicara meskipun Blair yang memang harus berbicara panjang lebar.

“Lantas, apa yang harus kulakukaan? Memenggal kepalamu sekalian? Well, setelah itu kau pasti tak akan merasa sakit lagi.”

Tidak peduli bagaimana nanti orang berpikir tentang dirinya, salahkan saja pemuda yang tak bisa berhenti berbicara ini yang membuat Blair meladeninya untuk berbicara panjang lebar agar sekali saja, pemuda ini bisa berhenti berbicara. Namun, sepertinya persentase pemuda ini untuk diam di kelas ini hanya 2% sedangkan sisanya berbicara.

Mendekatkan wajahnya beberapa centi sehingga surai pirangnya menutupi sisi wajah pemuda tersebut. Menutup hidungnya lalu mendekatkan bibir miliknya dengan bibir milik si cerewet ini—menyisahkan jarak 1 hingga dua centi lalu kembali mengangkat kepalanya. Tersenyum dengan satu ujung bibir yang terangkat dan melipat tangannya.

“Napasmu sudah terasa jadi kau memang dianggap masih bernapas.”


Kelipo' ')/
[hasil]7&7,1d50,0,7&1d50[/hasil]
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Yale Stoker
Masih pada pendiriannya. Bahwa melangkahkan kaki menuju kelas hanya ketika mereka tengah mengambil nilaimu. Sisanya? Tak berguna. Lagipula, untuk dirinya, toh ia bisa bertahan hanya dengan pendengarannya. Ketika ada beberapa anak yang berkomat kamit membacakan jawaban dari ulangannya. Ataupun mereka yang tengah belajar di luar sana.

Well, ia tak bergantung pada hal tersebut sepenuhnya pula. Terkadang ia membaca sekilas catatan yang ada atau deretan kata yang ada dan berimprovisasi dari hal tersebut.

Karena itu mungkin bisa dibilang bahwa mengerjakan sesuatu yang tertulis terhitung lebih mudah untuknya. Teori, bukan praktek seperti pelajaran satu ini. Membuat CPR, eh? Dibutuhkan kedekatan. Intim, seperti yang dikatakan orang, dan dengan cepat ia telah mendengar sedikit keluhan dari beberapa orang atau bahkan keantusiasan dari yang lain.

Untuk mendapati bibirmu menyentuh lawan jenis, eh? Setidaknya ia bersyukur telah menggosok giginya hari ini. Siapa pun yang mendapati dirinya sebagai pasangan tampaknya tak akan senang dengan kemampuannya.

"Denganku?"

Dirinya menoleh, mendapati seorang gadis yang berbicara kepadanya. Ia membuat gestur dengan jari yang menunjuk dirinya sendiri. Well, tampaknya jelas dirinyalah yang ditunjuk.

"Korban atau penolong?"

Tampaknya hal ini mengalir dengan mudah bagi sang gadis. Dan tampaknya ia pernah menghabiskan waktu dengan sang gadis pula. Mengenal, maksudnya. Tampaknya pada saat pertandingan konyol waktu itu. Nama? Jangan harap ia ingat.

"Korban saja. Aku tak mahir dalam hal ini," ujarnya, duduk di atas tanah dan berbaring. Harus melakukan itu, bukan?

Dan berharap bahwa sang gadis tak akan berlaku macam-macam atau merasa macam-macam atau apa pun. Hanya demi ilmu pengetahuan. Tanamkanlah pikiran itu dan semuanya akan berjalan dengan sempurna.

"Sudah gosok gigi," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Ya, ya, bersyukur karena sudah. Dan entah mengapa, ia teringat akan sosok gadis yang lain, yang tak dapat dihapuskan dari kepalanya dengan mudah. Bagaimana jika mendapati diri berpartner dengan orang tersebut, eh?

Tidak, ia tak pantas untuk melakukan hal tersebut.

Kirin
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Aaron Waltham
Frase Minggu pagi dan kelas medis itu seperti antonim. Lawan kata. Seperti gabungan minyak dan air yang pernah mereka pelajari sebelumnya di kelas kimia. Aaron tidak tahu hantu siapa yang berani merasukinya pagi ini sehingga dia bisa berpakaian dan menuju ruangan ini secara sadar—padahal, sudah jelas, kasur dan bantal yang ada di kamarnya terlihat jauh lebih menarik dari pelajaran medis ini.

Namun, setelah melihat-lihat materi yang akan dipraktekkan hari ini, Aaron tidak bisa bilang ia menyesal.

Aaron tidak tahu banyak soal istilah-istilah di dalam dunia medis. Namun separah-parahnya ia, Aaron sudah tidak asing dengan istilah CPR—meskipun, sering kali, CPR yang ia ketahui selalu menjurus ke arah lain, bukannya ke dunia medis. Kau tahu lah, tipikal adegan-adegan yang ada di serial penjaga pantai yang ditayangkan di TV pada tahun ‘90an. Adegan dimana ada pengunjung yang berenang terlalu jauh ke tengah dan nyaris tenggelam, kemudian datang si penjaga pantai berdada besar yang mengenakan bikini seksi berwarna merah menyala—diakhiri dengan penjaga pantai tersebut menyeret si pengunjung kembali ke pantai dan memberikan nafas buatan dengan disaksikan puluhan orang.

Oh, god. Sulit untuk berkonsentrasi dengan petunjuk di depan kelas ketika ia dibayang-bayangi seorang tante-tante pirang berdada besar yang hanya pernah ia lihat di layar laptop.

"Kau partnerku, ya," ujarnya mengajak-separuh-otoriter kepada murid yang berada di dekatnya. "Aku tidak tahu bagaimana caranya... Jadi, ah, kau bisa duluan," tambahnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

Laki-laki muda itu menyandarkan tubuhnya, mengintip partnernya dengan sebelah mata, sebelum menutup matanya sepenuhnya. “Do it right. Aku akan… berpura-pura mati saja.”
Nabrak Yale -__- || Cari partner.
Edited by Aaron Waltham, Dec 23 2012, 03:38 PM.
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Daphne Knightley
Jam berapa ini?

Kalau sudah berada di hari yang namanya 'Minggu' Daphne lebih suka tidur seharian di kamarnya. Sayang sekali hari ini ia harus menghadiri kelas pagi yang merusak siklus tidur pada hari minggunya. Seharusnya Daphne sudah mulai beradaptasi dengan siklus kehidupan barunya ini, sudah beberapa bulan juga ia menetap di sekolah aneh yang bahkan lokasinya pun tidak jelas.

Sekarang mereka harus mempraktekkan CPR? Bersama senior-senior mereka juga? Daphne harus berpartner dengan siapa? Gadis bersurai merah ini tak memiliki banyak teman disini, jadi untuk berpartner sesungguhnya adalah sebuah siksaan kecil baginya. Bagimana caranya? Apakah ia hanya akan diam-diam menarik-narik tangan orang terdekat yang terlihat tak memiliki partner?

Itu memalukan, bagaimana kalau ia malah memukul atau menampar Daphne?

Berpartner ya. Nampaknya dari cara-cara yang terpikir oleh gadis ini, yang bagus dipraktekkan hanyalah bertanya langsung, kepada siapa saja. Semoga masih ada yang mau berpartner dengannya. Dan semoga jangan laki-laki, entah bagaimana jadinya saat memberi nafas buatan itu.

Tiba-tiba seseorang mengajaknya berbicara—apakah benar ia mengajaknya bicara? Bukan orang lain? Tapi setelah menoleh ke kanan kiri secara awkward nampaknya memang ia yang dimaksud oleh pemuda itu. Kenapa harus pemuda, biarpun sebelum sampai disini, ia juga tak memiliki teman perempuan—hanya Dad dan kakaknya, Miles, tapi tetap saja, bersama laki-laki itu agak memalukan.

"Aku.. duluan?"

Daphne juga tidak mengerti, jadi apa yang harus ia lakukan? Apakah ini termasuk prosedur memberi nafas buatan?

"Baiklah."

Semoga perasaan malunya dikalahkan oleh keinginan untuk belajar,


Aaron Walfham
[roll]1d50[/roll]

ETA: edit deskripnya, menyesuaikan.
Edited by Daphne Knightley, Dec 23 2012, 04:01 PM.
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Brynn A. Davis
Ini hari Minggu yang hebat bagi Brynn.

Bukannya bermalas-malasan di kamarnya—misalnya melakukan perawatan kecantikan seperti mengenakan masker diwajahnya atau dirambut cokelat halusnya—ia malah harus duduk di kursi kelas medis. Dan apa yang akan ia pelajari kali ini?

Well, hold your breath.

CPR bersama dengan seseorang, karena praktek ini harus dillakukan dengan berkelompok yang terdiri dari dua orang.

Dan karena ini kelas gabungan—yang berarti setiap murid tingkat satu hingga tiga dipersilakan mengikutinya—maka Brynn dipastikan memiliki pasangan yang tingkat posibilitas dikenalnya sangat rendah. Tidak, ini bukan masalah besar baginya. Hanya saja...

Seriously?

Meski pun tidak memiliki latar belakang edukasi medis yang cukup, Brynn sedikit paham mengenai CPR. Tekan dada lalu berikan napas buatan. Hmm... Kedengarannya menantang. Tapi bagaimana jika pasangannya belum menyikat giginya—well, ini memang bukan kelas untuk berciuman, tapi tetap saja mereka harus saling menyentuhkan mulutnya, right?—atau bagaimana dengan bakteri?

Memikirkannya saja sudah membuat rambut halus ditubuh Brynn meremang.

Baiklah. lupakan. KIni saatnya bagi Brynn untuk bersikap profesional dengan tugasnya. Ya, mencari seorang pasangan yang rela ia beri—dan memberi—napas buatan. Setelah itu ia bisa enyah dari tempat ini.

Nah, sekarang ada satu masalah yang belum terpecahkan:

siapa partner-nya?

"Mau berpasangan denganku tidak?" Brynn mendekati seseorang yang sepertinya masih belum berpasangan.

Semoga saja benar begitu.



Partner, anyone?
Edited by Brynn A. Davis, Dec 23 2012, 05:23 PM.
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
Go to Next Page
« Previous Topic · Rumah Sakit · Next Topic »
  • Pages:
  • 1
  • 2
  • 4