Welcome Guest
[Log In]
[Register]
| ||
|---|---|---|
![]() Summer 2016 Time: Juli-Agustus 2016 Temperature: 28-33 Celcius |
TERM 4Timeline: 2016/2017 Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001 Kuota Registrasi: 27/45 Kuota Murid Spesial: 2/2 Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2 Kuota Visualisasi Asia: 7/7 Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5 Daftar lebih lengkap |
[+] Langkah Bermain [+] Peraturan [+] Daftar Visualisasi [+] Formulir Registrasi [+] Jadwal Term 4 [+] About Tower Prepatory [+] Plots [+] Disclaimer and Credits [+] Wikia (On Development) |
|
|
|
|
| Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012. Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login: |
| [Kelas Gabungan] Kelas Medis 2015/2016; Terbuka, tentu saja. | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Dec 22 2012, 05:57 PM (1,506 Views) | |
| Post #21 Dec 23 2012, 06:17 PM | Kate Karter |
|
Whoah, bodoh. Ini kan cuma pura-pura, mengapa Kate malah lanjut tertidur seperti ini? Kate memaksakan dirinya untuk membuka kelopak matanya yang semula tertutup setelah merasakan pundaknya ditepuk untuk kedua kalinya, yang pasti oleh si anak lelaki itu. Anak lelaki itu mengisyaratkan pada Kate untuk melihat petunjuk dalam melakukan CPR. Ya, point selanjutnya adalah... memberikan nafas dari mulut ke mulut? Apa?! Ini kan cuma pura-pura, berarti, nafas buatannya bisa pura-pura, kan? "Bisa pura-pura, tidak?" tanya Kate kepada partnernya itu sambil harap-harap cemas. "Well, kalau misalkan tidak bisa, apa boleh buat. Ikuti saja prosedurnya" Ujar Kate sambil mengangkat bahu. Tsche, mengapa kelas medis ini sangat merepotkan, eh? Partner: Miguel Husky Iya sip diizinin
|
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #22 Dec 23 2012, 07:01 PM | Kirin Pewrett |
|
Apa yang ada di pikiran murid-murid remaja saat disuruh melakukan CPR? Ciuman. Di bibir. Dan Kirin merasa keren karena dia tidak menganggap bahwa pelatihan CPR ini adalah kesempatan untuk mencium seseorang atau menekan-nekan dada seseorang. Partnernya bisa perempuan, bisa lelaki, kan? Ah yang mana pun juga dia tidak peduli. Dia sudah lama tidak melakukan latihan CPR, bisa gawat jika lupa. Dan partnernya adalah laki-laki. Seseorang yang sepertinya bernama drakula, maksudnya, Bram Stoker siapalah itu. "Oh kau." Mengangkat bahunya, "oke," berlutut di sebelah pemuda yang langsung berbaring, "silakan berpura-pura sulit bernapas, batuk-batuk, atau tidak bernapas sekalian." Memperhatikan pemuda itu dengan ekspresi serius. "You know, mendalami peran sebagai korban?" Mengangkat sebelah alisnya. Ehem, itu tidak penting, sebenarnya. Toh apapun yang akan dilakukan oleh Bram Stoker ini, dia tetap harus melakukan CPR, kan? Partner: Yale Stoker [hasil]32&32,1d50,0,32&1d50[/hasil] |
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #23 Dec 23 2012, 09:03 PM | Miguel Husky |
|
"Bisa pura-pura, tidak?" Seharusnya memang bisa. Mengingat bahwa ini hanya tes biasa dalam pemenuhan mata pelajaran seperti biasa, pura-pura memberi napas buatan harusnya bisa dibenarkan. Lain halnya kalau dihadapkan dengan korban sungguhan yang harus ditolong segera, mana mungkin pura-pura. Jadi tadi itu hanya semacam formalitas, untuk memperingatkan bahwa prosedur selanjutnya memang seperti itu. Selain itu juga bahwa Miguel tak mau main-main dengan tahap berikutnya. Tentu dengan isyarat kakak kelasnya yang menanyakan bisa pura-pura atau tidak, pemuda itu langsung setuju. Baru saja ia akan berkata Tentu saja, kak ketika— "Well, kalau misalkan tidak bisa, apa boleh buat. Ikuti saja prosedurnya" Pipi memerah seketika. Ya Tuhan, partnernya ini baru saja mengiyakan prosedur selanjutnya! Bagaimana mungkin Miguel tak langsung malu? Jantungnya berpacu lebih cepat. Namun rasanya hampir tak sanggup melakukannya akibat rasa malu ini. Memang hal normal tentu saja ketika seorang laki-laki akan mencium—dalam hal ini napas buatan mulut ke mulut—seorang perempuan untuk pertama kali. Oh ya ampun. Sekalipun menjunjung tinggi profesionalisme dan mencamkan ini semua tes belaka nampaknya tak bisa mengusir rasa malunya sedikit pun. Bahkan mungkin akan lebih baik kalau partnernya laki-laki saja. Cap homo nampaknya jauh lebih baik dari rasa malu ini. Lagipula kalau partnernya laki-laki, tak akan ada perasaan khusus saat melakukan napas buatan dan memerhatikan dada. Sedangkan ini... “Be-benar kak?” Sudah pernah lihat orang jangkun gagu, bersemu merah, dan malu-malu? Kalau belum, lihat Miguel sekarang. Partner: Kate Karter Banyak angka prima: - bismillah Dice: [hasil]29&29,1d50,0,29&1d50[/hasil] bismillah |
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #24 Dec 23 2012, 09:42 PM | Kate Karter |
|
Kate ingat, dahulu petugas rumah tangganya pernah mengatakan kepadanya bahwa gadis berzodiak Pisces itu sangat perfeksionis, profesional, dan menjunjung tinggi totalitas dalam bekerja. Sebenarnya, dulu Kate tak mengerti, apakah petugas rumah tangganya itu sedang membanggakan diri sendiri atau mencoba untuk meramal Kate. Jadi, Kate putuskan untuk tidak terlalu mempercayai perkataan petugas rumah tangganya tersebut. Namun sekarang, Kate merasakan apa jawabannya. Disini, ia merasa seperti orang yang ingin mengerjakan sesuatu secara tuntas sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan. Ia ingin hasil yang sempurna sehingga ia bisa mendapatkan nilai yang bagus untuk kelas ini. “Be-benar kak?” Sepertinya partnernya mulai gugup dengan prosedur yang harus mereka lakukan selanjutnya. Kate sendiri sebenarnya juga begitu. Namun, perasaan gugupnya itu telah ditutupi oleh reaksi tenangnya yang dominan, sehingga perasaan gugupnya tidak terlihat jelas. "Kalau memang diharuskan seperti itu, berarti memang harus dilakukan. Lagi pula, setelah kupikir-pikir, pura-pura tidak akan membuahkan hasil yang bagus. Disini kau ingin mendapatkan hasil yang terbaik, kan?" Jelas Kate panjang lebar. Walaupun sebenarnya, ia sedikit tak rela melakukan prosedur yang satu ini. Karena itu berarti, bibir lelaki ini harus menyentuh—atau bisa dibilang, sedikit mencium—bibirnya. Sementara, sebenarnya ia memiliki prinsip rahasia yaitu yang boleh menyentuh—atau mencium—bibirnya hanyalah lelaki yang dicintainya. Namun dalam prosedur memang harus begitu, dan ia tidak suka melakukan sesuatu secara tidak total. Jadi... "Lakukanlah" Perintah Kate. Partner: Miguel Husky |
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #25 Dec 23 2012, 09:44 PM | Heathcliff Hartford |
|
Mereka memang bagai selai dengan roti, bagai baju dan celana. Kemana-manapun nggak bisa dipisahkan. Senang sih, kalau ditakdirkan memang selalu bersama dengan gadis Vysocinazlinkarlonvsky ini. Daripada dengan pemuda lain,.. karena Cliff masih lurus, plis ya. "Siapa bilang aku lemah?" Cliff memasang muka dengan emote D: "Aku belum menunjukkannya saja kok, suatu hari nanti, neng." Sekarang sih, tugasnya hanya terbaring, terpaksa setuju diapa-apakan oleh gadis Vysocinazlinkarlonvsky ini, tapi nggak papa deh, paling tidak kalau memang gadis itu mematahkan rusuknya, atau mematahkan tulang-tulang apanya Cliff, ia bisa melirik Nurse yang diam-diam juga cantik. Eh, nevermind. Kalau Blair tau soal hal itu bisa-bisa Cliff dipenggal sungguhan kepalanya. "Jangan dipenggal, kamu mau punya cowok yang nggak punya kepala?" Plislah, Cliff. Dimana-mana orang dipenggal kepalanya juga otomatis mati kali. Ia mendekatkan wajahnya, Cliff dapat merasakan surai pirangnya jatuh diatas permukaan kulit kecoklatan Cliff, ah, akhirnya, setelah sekian lama, ini pasti seperti adegan-adegan di film-film itu ya, semakin lama semakin dekat, membuat Cliff semakin berdebar. Tuh, uke banget kan ya Cliff itu. Tapi masih in-denial dong, ketularan gadis Vysocinazlinkarlonvsky nampaknya. "Yaaah, tadi dekat sekali loh, Vysocinazlinkarlonvskycchi. Tunggu giliranku saja ya." Sekarang Cliff pasang emote :> di mukanya. "Lanjutkan saja pekerjaanmu, hampir selesai kan? Partner: Blair Vysocinazlinkarlonvskycchi. |
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #26 Dec 23 2012, 11:07 PM | Miguel Husky |
|
Terlambat untuk berganti pasangan. Terlambat juga untuk mencari orang lain untuk menggantikan si pemuda. Lagi, kalau digantikan, bukan mustahil nilainya juga digantikan. Lalu sia-sialah semua prosedur yang ia laksanakan sedari tadi. Percuma. Lebih baik pergi ke ruang fitness dan berlatih sendiri ketimbang membuang waktu dengan percuma. Tambah lagi, bisa-bisa tak dianggap jantan dengan lari dari masalah. Tidak. "Kalau memang diharuskan seperti itu, berarti memang harus dilakukan. Lagi pula, setelah kupikir-pikir, pura-pura tidak akan membuahkan hasil yang bagus. Disini kau ingin mendapatkan hasil yang terbaik, kan?" Mengangguk setuju. Ya. Inilah tujuannya. Mendapatkan hasil yang terbaik. Bukan hanya pekerjaan sia-sia. Tujuannya pula membuktikan dia anak siapa. Tak mungkin putra seorang dokter takluk pada tes CPR. Tak mungkin putra seorang dokter hilang profesionalismenya hanya karena pasiennya—dalam hal ini partner tes—adalah perempuan. Nampaknya lain waktu pemuda itu harus mengucapkan terima kasih atas dorongan semangat yang diciptakan kaka kelasnya. Nanti. Kalau ada nanti. Kalau setelah selesai tes nanti gerombolan kakak kelas tak mencegatnya atau lebih parah, menghabisinya karena dengan lancang mencium—atas dasar napas buatan—pada kakak kelas. Itu nanti. Sekarang ya sekarang. Biar Miguel membuktikan benar adanya ia seorang putra dokter. Pemuda bermanik cokelat memantapkan tujuannya tepat setelah partnernya memerintah untuk segera melakukan prosedur selanjutnya. Kini si pemuda ada di samping lengan kiri kakak kelasnya. Masih gugup dan bergetar, tapi ditahan sekuat tenaga demi sebuah pembuktian. Membungkuk, menutup hidung partner dengan tangan kanan kemudian melakukan prosedur. Seprofesional mungkin. Sekarang mari berdoa tak ada kakak kelas yang menunggu di pintu keluar dengan bogem mentah siap dilayangkan. Oh, segera setelah prosedur selesai, Miguel mengangkat tubuhnya. Sesegera mungkin. Partner: Kate Karter Banyak angka prima: 1 bismillah Dice: [hasil]8&8,1d50,0,8&1d50[/hasil] bismillah.. semoga cepet selesai supaya giliran ;;A;; |
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #27 Dec 24 2012, 12:21 AM | Aaron Waltham |
|
Aaron mengangguk sekali, pertanda ia mendengar jawaban dari pasangan prakteknya. Pemuda itu merelaksasikan tubuh besarnya dengan nafas terputus-putus, benar-benar berusaha memenuhi perkataannya untuk pura-pura mati. Ia menunggu. Sedetik, dua detik… waktu seperti berjalan sepuluh kali lebih lambat dalam posisi seperti ini. Merasa sudah menunggu terlalu lama, Aaron kembali membuka pelupuk matanya. Ia mengernyit, alisnya naik sebelah ketika ia menemukan gadis berambut merah yang menjadi pasangannya tersebut belum melakukan apapun. Ekspresi gadis itu juga tidak meyakinkan—dari sudut pandang Aaron di bawah sini, wajahnya yang sewarna porselen itu seolah berwarna lebih pucat lagi. “Kau oke?” Laki-laki itu bangun sedikit dan menumpukan tubuh bagian atasnya di kedua siku. Ia mengamati wajah pasangannya, merasa familiar dengan kulit porselen dan rambut merah di hadapannya—gadis ini teman seasramanya, kan? Ia sering melihat wajah ini berlalu lalang di Asrama Timur, meskipun nama dari gadis ini masih samar-samar di ingatannya. Menimbang-nimbang untuk sesaat, Aaron akhirnya memutuskan bahwa gadis itu baik-baik saja. Wajah pias yang ia lihat barusan itu hanya bayangannya saja. Pemuda itu kembali merebahkan diri dan memejamkan mata—namun, kali ini, ia menggenggam serta sepasang tangan milik pasangannya. Ia meletakkan jari-jari halus itu dalam posisi saling menumpuk di atas dadanya, tepat di atas jantungnya yang masih berdenyut teratur. Ia menangkupkan sepasang tangan itu dengan tangannya sendiri (which, in comparison, terasa jauh lebih kasar), menahannya beberapa lama agar tidak berganti posisi, sebelum ia mau melepaskan. “Now, anggap aku sedang sekarat. Let’s get this over with,” tukasnya singkat. Partner: Daphne Knightley. |
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #28 Dec 24 2012, 12:52 AM | Blair P. Vysocinazlinkarlonvsky |
|
Gadis ini mengangkat satu alisnya dan menatap pemuda yang berbaring di ranjang di rumah sakit masih dengan wajahnya seperti biasanya. Idiot dan sama sekali tak memiliki ekspresi sedih ataupun serius menurutnya, entah apa yang bisa membuat pemuda ini tumbuh seperti pemuda normal pada usianya. Apa perlu Blair bertekuk lutut di hadapannya agar pemuda ini tak mempermalukannya dimana saja kalau kebetulan mereka bertemu. Bukannya gadis ini bosan mendengar lelucon pemuda ini atau semacamnya, hanya saja pemuda ini bahkan tak bisa membedakan mana lelucon dan mana yang serius. Dan Blair sudah cukup bosan harus menjelaskannya. “Siapa yang bilang? Aku.” Jawabnya yang kembali ditimpal oleh pemuda Hartford setelah beberapa detik ia berhanti berbicara padanya. Menghela napas panjang lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Hartford. “Bahkan kau tak mungkin datang kalau aku harus memintamu datang mengunjungi kamarku.” Terkekeh pelan lalu kembali mempraktikan beberapa langkah melakukaan CPR. Hanya bercanda sebenarnya tapi entahlah, tipikal gadis ini memang selalu serius yang membuat beberapa entitas berpikir kalau ia memang serius—tapi, dengan pemuda satu ini? Well, Blair tak perlu merasa begitu khawatir jika melihat sikapnya yang memang tak pernah bertingkah seperti orang serius atau sebagainya. Memenggal kepala? Bukan suatu hal yang sulit dilakukannya. “Nope. Oleh sebab itu kita putus sebelum kupenggal kepalamu... Keberatan?” Tuturnya sembari merunduk memperhatikaan bagian pergelangan tangan si pemuda. Mencari dimana denyut jantung bisa dirasakannya... Yah, merupakan satu tahap-tahap hampir akhir dimana penyelamat haru mengecek denyut jantung sosok yang ingin diselamatkannya. Menemukannya di bagian pergelangan tangan lalu beralih ke arah leher mencarinya, entah dimana. “Oh dear...” Sosok ini memang bukan pemuda... Melainkan bocah kanak-kanak. “Kubilang jangan panggil namaku dengan embel-embel cchi. Apa yang harus kulakukan agar kau berhenti? Idiotnya...” Mendesah pelan masih dengan tangan yang mencari denyut di leher pemuda Hartford. Kelipo' ')/ [hasil]9&9,1d20,0,9&1d20[/hasil] |
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #29 Dec 24 2012, 08:31 PM | Kate Karter |
|
Sebenarnya Kate paling tidak suka dengan posisinya sebagai pasien seperti sekarang ini. Hanya bisa pasrah dan mengikuti prosedur yang tersedia. Tapi, prosedur tersebut kan dilakukan untuk menangani korban sungguhan. Sementara Kate saat ini sehat-sehat saja, dan mau tak mau harus melakukan semua ini hanya karena sedang berada dalam kelas. Jadi, seharusnya prosedur yang ini kalau bisa dilewati saja, toh Kate sekarang tidak membutuhkan nafas buatan. Tapi baiklah, beradasarkan asas totalitas yang dianutnya, ditambah dengan dirinya yang tak ingin memiliki nilai jelek (lagi) untuk tahun ini, jadi akhirnya Kate Karter yang biasanya banyak protes, sekarang memutuskan untuk diam dan (terpaksa) mengikuti prosedur. Lagi pula, hanya sebentar, hanya dua detik, dan ini pun hanya untuk kepentingan praktek CPR saja, tidak lebih. Jadi, hal ini tidak akan mempengaruhi dan menjadi masalah besar untuk Kate. "Sudah selesai? Atau masih ada prosedur lain yang harus dilakukan?" Rasanya Kate ingin mengakhiri ini semua secepatnya. Kau tahu, waktu hari liburnya jadi tersita untuk kelas ini. Partner: Miguel Husky Edited by Kate Karter, Dec 24 2012, 08:36 PM.
|
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| Post #30 Dec 24 2012, 09:56 PM | Miguel Husky |
|
Selesai. Satu prosedur. Prosedur yang cukup menegangkan, kalau boleh ditambahkan. Untunglah kakak kelasnya tadi memberi suntikan semangat. Kalau tidak, mungkin sekarang ia sudah meleleh atau kabur ke kamar asrama alih-alih menyelesaikan prosedur. Hanya saja, seperti katanya tadi, mari lihat apakah setelah semua ini selesai gerombolan kakak kelas akan mencegatnya atau tidak. Kalau selesai. Nope, harus selesai. "Sudah selesai? Atau masih ada prosedur lain yang harus dilakukan?" Nah, ini masalahnya. Masalahnya adalah prosedur selanjutnya lebih parah. Tekanan pada dada dengan kedua telapak tangan. Yang justru inti dari semua prosedur tadi, inti dari CPR. Kalau tak ada prosedur ini, mungkin tak akan dinamakan CPR. Kalau di awal tadi untuk memeriksa respon korban dengan ASNT pada bagian T, untuk Tekan, Miguel hanya menggunakan buku jari tengah dan menekan di tepat tulang dada, dengan sehati-hati mungkin agar tak mengenai begian penting. Sekarang? Dengan menggunakan kedua telapak tangan, mana mungkin bagian itu tidak kena? “M-masih ada. M-mungkin kakak tahu ini prosedur terakhir d-dan yang paling penting.” katanya terbata-bata, tahu resiko yang akan dialaminya. Untuk memberi gambaran, pemuda Husky meletakkan kedua tangannya pada dada pemuda itu sendiri, kemudian memeragakan maksud prosedur selanjutnya. Betapa ia berharap berpasangan dengan laki-laki saja. Partner: Kate Karter Banyak angka prima: 1 bismillah Dice: [hasil]42&42,1d50,0,42&1d50[/hasil] bismillah.. semoga cepet selesai supaya giliran ;;A;; pliiiiiis |
![]() ![]()
|
| Quote ^^^ | Offline |
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Rumah Sakit · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
1:59 AM Jul 12
|
Hosted for free by ZetaBoards · Privacy Policy









1:59 AM Jul 12