Theme style: Light | Dark
Welcome Guest [Log In] [Register]

Announcements

Situations
Informations
Links

Summer 2016
Time: Juli-Agustus 2016
Temperature: 28-33 Celcius

TERM 4


Timeline: 2016/2017
Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001

Kuota Registrasi: 27/45
Kuota Murid Spesial: 2/2
Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2
Kuota Visualisasi Asia: 7/7
Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5
Daftar lebih lengkap

[+] Langkah Bermain
[+] Peraturan
[+] Daftar Visualisasi
[+] Formulir Registrasi
[+] Jadwal Term 4
[+] About Tower Prepatory
[+] Plots
[+] Disclaimer and Credits
[+] Wikia (On Development)
Chatbox
Important Info
Twitter Feed

Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012.

Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login:

Username:   Password:
  • Pages:
  • 1
  • 2
[G] Walk By.; OOC
Topic Started: Apr 26 2013, 10:49 PM (926 Views)
Reuel Shade
“Kau bakal baik-baik saja kalau kutinggal, kan?”
Stop worrying about me, lil’bro. I’ll be fine by myself.
Fine kepalamu. Awas kalau sampai ada tambahan luka sewaktu aku kembali.”
Dan Regulus tergelak, sumbang.



Tadinya, Reuel berniat keluar dari kompleks rumah sakit sebentar saja.

Cuma sebentar—

Rencananya hanya mampir ke apartemen kecil milik Regulus dan mengambil baju ganti serta benda kebutuhan sehari-hari macam sikat gigi dan odol. Kemudian ke toko terdekat untuk berbelanja barang-barang lain yang diperlukan selama beberapa hari ke depan hingga sulung Shade diizinkan lepas dari status pasien rawat inap. Karena (tidak heran) tak ada yang mengurusi Regulus itu meskipun yang bersangkutan sedang berada dalam kondisi super tak berdaya dengan balutan perban di sekujur tubuh bagai mumi. Untung saja Reuel sedang libur, dan memutuskan mengunjungi kakaknya itu—meski sama sekali tak menyangka bahwa waktu kunjungannya tepat saat Regulus masuk rumah sakit.

Sinting.

—apa daya takdir berkata lain.

Sayangnya, jalanan San Fransisco ini teramat asing bagi si bungsu. Ditambah dengan satu fakta super buruk mengenai kemampuan terpendam seorang Reuel Shade: buta arah parah. Meskipun tangan telah menggenggam kertas yang bertuliskan alamat dengan bonus denah yang digambar asal-asalan untuk menunjukkan bagaimana caranya menuju apartemen Regulus dari rumah sakit tempatnya menginap—Reuel masih saja tetap kebingungan saat menghadapi belokan.

Singkat kata: dia nyasar.

Menjelang senja di awal Januari, bocah empat belas tahun berdiri di pinggir jalan kota yang tidak familiar baginya dengan tatapan hampa, setengah frustasi. Harap-harap cemas akan adanya taksi yang melintasi jalan raya supaya bisa membawanya langsung ke tujuan tanpa perlu menghadapi masalah. Tapi sudah hampir satu jam—menurut arloji yang melingkar pergelangan tangan kiri, yang menutupi bekas luka bakar di sana—dia menanti, dan tak ada taksi kosong yang mau mengangkutnya.

Tembok mana tembok?


Awal Januari 2016. Sekitar San Fransisco, entah bagian mana. #... CMIIW.
Open buat satu yang lagi di sekitar sini yo. \' '/
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Replies:
Reuel Shade
Haa.

Ada helaan napas panjang darinya saat melihat anggukan kepala sebagai jawaban. Tidak heran sebanarnya, mengingat waktu beranjak semakin malam dan angin yang berhembus semakin kencang. Reuel menurunkan ransel sejenak untuk dapat melepaskan jaket (...sembari misuh-misuh dalam hati karena kaget dengan hawa dingin yang tahu-tahu menerpa tubuh kurusnya) dan menaruh lapisan penghangat tambahan itu tepat di atas kepala gadis. “Pakai itu,” ujarnya seraya meyandang ranselnya di punggung lagi.

Di benaknya, Reuel bisa membayangkan ekspresi mencemooh kakaknya dan olok-olok macam ‘bocah ingusan sok gentleman’ yang disertai dengan kekehan tawa mengejek jika sampai ketahuan bertingkah seperti ini. Tapi—well, anak perempuan yang ada di sisinya ini sudah berbaik hati menawarkan bantuan sedari tadi tanpa diminta. Tanpa imbalan, pula. Nggak tahu diri namanya kalau dia membiarkannya begitu saja.

“Apaan,” dia mengernyit protes mendengar permintaan dara, “nggak ada itu acara pesan-pesan. Nanti tergantung aku sedang bawa permen karet rasa apa.” Ya kali dia harus selalu menyiapkan permen karet rasa cola dan membawanya kemana-mana untuk berjaga-jaga seandainya kebetulan bertemu lagi dengan gadis itu. Yang benar saja. Kerutan halus di kening semakin bertambah sewaktu Donna memaksakan ponselnya untuk digenggam Reuel. Gadis ini nggak takut apa kalau tahu-tahu dia kabur membawa ponselnya?

Haa.

Lagi, Reuel menghela napas panjang. Dia ini mungkin memang takdirnya selalu merepotkan orang lain, ya. “Bukan rumahku, sih, apartemen punya kakakku,” ...right, nggak penting untuk disinggung saat ini. Alisnya sesaat kemudian naik, agak heran dengan kata-kata ‘harus ikut’. “Orangtuamu nanti bagaimana?” Bisa-bisa dia dituduh menculik anak orang—no thanks. Ah.Nah, nggak usah.” Ponselnya dikembalikan. “Aku naik itu saja.” Gendik kepala ke arah jalan.

Tuh, dari kejauhan kelihatan ada taksi di ujung sana.

Akhirnya.
Edited by Reuel Shade, Apr 30 2013, 02:11 PM.
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Donna River
Lebih hangat.

Setidaknya itu yang Donna rasakan ketika sebuah jaket mendarat di atas kepalanya. Donna mendongakan kepalanya dengan tatapan mata polos. Tidak mengerti mengapa tiba-tiba Reuel melakukan hal itu. Padahal udara cukup dingin, dan ia yakin kalau tidak memakai jaket pasti sangat dingin. Donna membiarkan jaket itu terhempas di atas kepalanya, kemudian menatap manik laki-laki itu. "Terima kasih..." ujarnya pelan. "Tapi, apa kau tidak kedinginan?" Suara sopran gadis empat belas tahun itu mengalir dari bibirnya, kemudian ujung-ujung bibirnya tertarik membentuk seulas senyum. Padahal Donna baru bertemu Reuel, tetapi laki-laki di hadapannya mau begitu baik meminjamkan jaketnya pada Donna.

Donna memandang wajah anak laki-laki itu, kemudian melihat perubahan ekspresinya. Donna tersenyum geli. "Iya iya--" menahan tawa kecil "--nggak request apa-apa deh." Tambah Donna seraya menaikan jari telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaan membentuk tanda peace. Kemudian senyum gadis berdarah Asia-Amerika itu memudar perlahan, mendengarkan perkataan Reuel dengan hati-hati.

Kalau saja Samuel memiliki apartment sendiri, Donna tidak akan pernah mengunjunginya. Tidak. Akan. Donna pasti akan senang kalau bisa memiliki saudara yang bisa cocok dengannya. Maksudnya, saudara yang benar-benar saudara. Bukan saudara yang hanya bisa menindas dan menghinanya. Samuel adalah satu-satunya saudara yang Donna miliki, dan ia membenci Donna. Ah. Orang tua. Sebenarnya Donna bisa saja minta dijemput Dad. Tapi...

Ponselnya kembali di tangannya.

“Aku naik itu saja.”

Syukurlah.

Donna menghela napas panjang, kemudian tersenyum. "Ah. Kalau begitu kau bisa pulang sekarang..." Entah kenapa Donna juga merasa lega. Donna melepaskan jaket milik Reuel kemudian menyodorkannya kepada empunya. "Kau pasti membutuhkannya. Kan udara sedang dingin." Donna tersenyum manis.

So, isn't time to say goodbye?
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Reuel Shade
"Kedinginan, kok."

(shrugs.)

Bohong kalau berkata hal yang sebaliknya; dan Reuel adalah anak yang anehnya tak bisa berkata dusta meski hanya untuk bertingkah sok kuat sekalipun. Biar saja jikalau imaji gentleman yang mungkin sempat melintasi pikiran lawan bicara tercoreng oleh kata-katanya barusan. Dia toh tak mengharap bakal dipandang sebagai pahlawan, sikapnya di sini didasari oleh keinginan balas budi. Tahulah, ego laki-laki. Dia sedari tadi ditawari macam-macam, sudah sepantasnya ganti memberikan sesuatu. Setidaknya, begitu menurutnya. "Sudah kupakai seharian, jadi agak bau. Tapi masih bersih," dia mengernyit, "mungkin, sih."

Siapa tahu jaketnya bakal langsung dikembalikan karena anak perempuan itu jijik dengan berbagai macam bakteri yang menempel pada permukaan kain, atau karena tak senang dengan aroma yang menguar darinya. Kekhawatiran-kekhawatiran sepele. Namun di hadapan Donna ini, Reuel rasanya tak perlu cemas what-so-ever. Senyum yang selalu menghiasi paras gadis itu menyenangkan, dan menenangkan, juga menular. Maka sesaat kemudian sudah ada lengkung yang terpulas pada bibir anak Shade.

He's just a boy in front of her. And that's good.

...right?


Tangannya diangkat, menggesturkan panggilan, dan sesaat kemudian taksi yang dinanti pun berhenti tepat di depan mata. Setelah sekian lama dia menunggu, kesabaran yang hampir habis akhirnya membuahkan hasil. Akhirnya ya, akhirnya. Reuel tak segera masuk ke dalam sana, tho. Masih ingin mengakhiri percakapan dengan Donna terlebih dahulu. "Bawa saja," jaketnya itu. "Aku bisa pinjam jaket kakakku nanti." Sepertinya di dalam taksi juga bakal cukup hangat dibandingkan di luar sini. "Minta nomormu, omong-omong."

Supaya dia bisa menagih jaketnya lagi saat berlibur ke tempat ini selanjutnya. Sekalian memenuhi janji lain. Hmm. Reuel menautkan alis dan mengusap tengkuk sebelum mengimbuhi dengan pertanyaan lain, "Ponsel itu bisa dihubungi pakai telepon umum, kan?" ...ketahuan deh gapteknya.
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Donna River
Entah Donna harus merasa bersalah atau bagaimana begitu mendengar jawaban itu. Polos. Jujur. Donna tersenyum manis. Entah mengapa ia merasa semakin hangat. Bukan hanya karena jaket itu, tetapi, karena Reuel tidak bersikap sok kuat dan sok gentleman seperti laki-laki lain. Donna lebih menyukai orang-orang yang bersikap dan mengutarakan sesuatu apa adanya, bukan sikap pura-pura karena ingin dianggap kuat atau semacamnya. Donna mengangguk. "Tidak apa-apa.", Donna tersenyum. "Terima kasih banyak, ya..." Tenang saja, Donna bukan tipikal suka pilih-pilih seperti Sam kok.

Dia tersenyum.

Donna menahan napas singkat. Donna kira Reuel tipikal cowok yang cuek dan tidak bisa tersenyum. Pipi Donna terasa hangat. Peranakan River ini kemudian mengangkat tangannya, dan meletakan kedua telapak tangannya di atas pipi. Semoga pipinya terlalu bersemu. Kemudian mata beriris sewarna cocoa itu melihat taksi semakin mendekat. Bawa saja? Di udara sedingin ini? Donna menatap Reuel dengan tatapan polos. Ternyata ungkapan don't judge the book by its cover itu ada benarnya juga. Mungkin penilaian Donna terlalu dini. Toh Reuel tidak sedingin yang ia kira.

"Minta nomormu, omong-omong."

Donna cukup sering yang satu ini. Tetapi entah kenapa begitu Reuel yang mengucapkannya, rasanya berbeda. Donna tersenyum, kemudian menganggukan kepalanya. Kemudian Donna memasukan tangannya ke dalam kantung varsity-nya yang lebih cocok dibilang kantung Doraemon. Siapa tahu ia membawa alat tulis atau semacamnya. Dan... Gotcha! Ia benar-benar merasa seperti Doraemon. Ternyata di dalam varsity-nya ada spidol mini. Sepertinya spidol itu memang selalu ada dalam varsity-nya.

"Eemm..."

Tapi Donna tidak punya kertas.

"Aku tulis di mana?"

Donna tersenyum lucu. Lagi-lagi gadis ini menganggukan kepalanya. Rambut cokelatnya bergerak-gerak ringan seiring dengan gerakan ringan di kepalanya. "Bisa kok..." Kemudian dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Donna menatap manik Reuel singkat, sebelum akhirnya mereka mengakhiri pertemuan singkat itu. Sementara itu, matahari di sebelah barat sana makin meringkuk, kembali ke peraduannya.
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Reuel Shade
“Hmmm,” ia menggumam lirih sembari menggaruk belakang kepala. Agak rikuh, rasanya. Canggung. Belakangan ini kan Reuel paling sering mengurusi kakak seayahnya, dan sulung Shade itu tak pernah berterima kasih dengan lisan. Lebih sering dengan perbuatan, atau malahan tidak sama sekali. Jadi, dia tidak begitu terbiasa dengan ungkapan terima kasih dari orang lain macam yang baru saja dikumandangkan Donna, apalagi jika kata terima kasih itu diulangi terus. Seharusnya satu kali saja cukup.

“Yaa. Sama-sama.” Alhasil, responnya singkat saja dan mungkin kedengaran kurang tulus. Ah, kemampuan berkomunikasi itu mungkin memang kelemahan dari para keturunan Shade, ya. Setelah kebebalan luar biasa dan sifat seenaknya sendiri yang khas—Reuel dan Regulus memiliki bakat berbicara yang sama-sama jongkok atau justru tiarap sekalian. Ayah keduanya pun sama saja. Pantas, tak ada yang memuji mereka supel selama ini. Tsk.

Kepala meneleng, sementara pandangannya mengamati bagaimana lawan bicara nampak sedang mencari-cari sesuatu setelah ia menuturkan permintaan nomor. Sempat dikiranya Donna akan mengeluarkan kartu nama yang bertuliskan identitas sekaligus dengan nomor telepon yang dapat dihubungi—namun kemudian yang dia lihat adalah sebuah spidol kecil. Tanpa kertas. Dan, gadis itu bertanya, "Aku tulis di mana?"

Reuel menggaruk-garuk kepalanya untuk yang kesekian kali, kebingungan. Dia pun sedang tidak memegang buku. Untuk mencari secarik kertas di dalam ranselnya—malas, ah. “Di sini saja,” pada akhirnya dia mengulurkan tangan, memposisikan telapak tangannya menghadap ke atas seperti sedang meminta. Spidol yang digenggam lawan sepertinya bisa digunakan menulis di atas kulit. Mungkin. Coba saja. Daripada tidak sama sekali. “Nanti kutelpon.” Janji lain.

Sopir taksi yang dipanggil agaknya mulai tak sabaran menanti, ditandai dengan suara klakson yang terdengar berkali-kali. Berisik.

Saatnya pergi.
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
« Previous Topic · Amerika Utara · Next Topic »
  • Pages:
  • 1
  • 2