Welcome Guest
[Log In]
[Register]
| ||
|---|---|---|
![]() Summer 2016 Time: Juli-Agustus 2016 Temperature: 28-33 Celcius |
TERM 4Timeline: 2016/2017 Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001 Kuota Registrasi: 27/45 Kuota Murid Spesial: 2/2 Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2 Kuota Visualisasi Asia: 7/7 Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5 Daftar lebih lengkap |
[+] Langkah Bermain [+] Peraturan [+] Daftar Visualisasi [+] Formulir Registrasi [+] Jadwal Term 4 [+] About Tower Prepatory [+] Plots [+] Disclaimer and Credits [+] Wikia (On Development) |
|
|
|
|
| Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012. Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login: |
| [G] I shall not be at peace; Open for 3 (c) Emily Bronte | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Apr 27 2013, 07:49 AM (301 Views) | ||
| Post #1 Apr 27 2013, 07:49 AM | Thalia Trandahl | |
|
San Francisco, Awal Musim Panas 2016 “I shall not be at peace,” moaned Catherine, recalled to a sense of physical weakness by the violent, unequal throbbing of her heart, which beat visibly or audibly under this excess of agitation. She said nothing further till the paroxysm was over; Then she continued, more kindly— [Emily Bronte, Wuthering Height] Selalu saja San Fransisco. Gadis bersurai coklat ini akan selalu kembali ke San Fransisco bagaimanapun keadaannya. Tapi satu hal yang selalu direncanakannya, dia selalu berencana untuk menghabiskan musim panasnya membaca buku-buku itu lagi. William Shakespeare, Emily Bronte, Agatha Christie dan juga mencari beberapa sajak karya Ralph Waldo Emerson dari internet meskipun Mark kurang setuju ketika gadis Trandahl ini terlalu berkutat pada bukunya. Dan untuk saat ini, entah apa yang ada di pikiran Mark. Mark membawanya pergi ke sebuah tempat liburan keluarga. Lengkap dengan kolam renang dan beberapa anak muda bercengkrama satu sama lain. Ada banyak hal yang Thalia khawatirkan. Dia takut bukunya terciprat air, oleh karena itu dia tak membawanya. Dan untuk saat ini, kekhawatirannya melebihi kekhawatiran Hercule Poirot ketika ada korban baru dalam perjalanannya ke Sungai Nil. Thalia tak bisa berenang. Sama sekali tak bisa. Oleh karena itu gadis ini lebih memutuskan untuk duduk-duduk di sebuah kafe kecil. Duduk-duduk di mejanya sementara payung di atas kepalanya menamengi dirinya dari sengatan cahaya matahari musim panas. Entah bagaimana, Thalia tak ada masalah dengan kulit peach pucatnya. Tak ada kekhawatiran sama sekali akan hal tersebut malahan. Thalia merogoh tasnya, berharap menemukan sesuatu. Dan akhirnya, menemukan sebuah buku lain. The Tale of Two City. Oh god, terima kasih banyak. Siang hari. Kafenya terletak agak jauh dari kolam renang. Edited by Thalia Trandahl, Apr 27 2013, 07:50 AM.
|
![]() ![]()
|
|
| Quote ^^^ | Offline | |
| Post #2 Apr 27 2013, 11:14 AM | Donna River | |
|
Dad bilang kondisi Granna memburuk. Hal itulah yang akhirnya membuat keluarga River terdampar di San Francisco. Kali ini lengkap dengan kakaknya, Samuel. Makhluk paling menyebalkan yang pernah hidup di dunia ini. Dan kali ini adalah kali kedua Donna terdampar di daratan San Francisco. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ini bukanlah liburan yang menyenangkan. Menjenguk Granna ditambah adanya Sam, dan sedang musim panas. Bukan kombinasi yang sebenarnya Donna inginkan. Namun hari ini, hari ketujuh mereka berada di San Francisco, Dad memaksa Donna dan Sam untuk menikmati liburan mereka dengan meletakan mereka di tempat yang dapat dibilang, lumayan jauh dari rumah sakit tempat Granna dirawat intensif. Padahal, beberapa bulan yang lalu (Januari tepatnya), Granna masih dirawat di rumahnya. Oke. Jadi di sanalah Donna berada. Di sebuah tempat liburan keluarga bersama dengan Samuel River, kakaknya tercinta. Saking cintanya Donna kepada Sam, sampai-sampai terbesit di kepalanya untuk membuang kakak satu-satunya itu ke Timbuktu. "Sana kau pergi. I want to smoke somewhere." Kata Sam begitu mereka sampai di tempat ini, kemudian melenggang meninggalkan Donna dengan sebuah tas berisi bajunya, dan baju kakaknya. Donna tidak perlu menjawab perkataan Sam. Sam tidak pernah membutuhkan jawaban Donna. Entah apa yang membuat Sam begitu benci padanya. Dan entah apa yang membuat Donna begitu benci pada Sam. Tidak ada alasan yang pasti. Mereka hanya saling benci. Donna berjalan ke arah kolam dan memutuskan untuk berenang sebentar. Sudah seminggu ini Donna tidak melakukan olahraga. Kecuali kalau mengganti channel dan berjalan ke dapur dapat dihitung sebagai olahraga. Setelah cukup lama berenang, Donna memutuskan untuk menyudahinya dan segera pulang. Gadis yang kini hanya berbalut pakaian renang dan handuk putih itu berjalan menuju kafe yang cukup dengan kolam renang itu, sekadar untuk duduk dan menyiapkan pakaiannya. Dan di sanalah Donna melihat seorang gadis, mungkin seumuran dengannya. Mungkin lebih muda, mungkin lebih tua beberapa tahun dari Donna. Entahlah. Yang jelas ia tidak basah. Donna tersenyum tipis ke arah gadis di hadapannya, kemudian handphone dalam tasnya berdering pelan.
Sial. Donna menghela napas panjang. "Boleh aku duduk di sini? Kosong kan?" Donna tersenyum manis, sembari mengeringkan surai ikal cokelatnya. Join ya. PMIIW
|
![]()
|
|
| Quote ^^^ | Offline | |
| Post #3 Apr 27 2013, 01:54 PM | Thalia Trandahl | |
|
If you will stand by me in my resolve I’ll waste no time of trouble whipping him Oedipus at Colonus—William Shakespeare Gadis Trandahl ini tahu kalau seharusnya dia menikmati musim panasnya. Namun alih-alih berenang dan melakukan hal-hal semacam itu, Gadis Trandahl ini lebih memilih untuk membenamkan dirinya ke dalam buku. Dia harap dia bisa membaca lebih lama musim panas ini. Namun mendengar rencana-rencana baru Mark, sepertinya tidak mungkin. Termasuk rencana Mark untuk mengajaknya ke Florida. Florida seharusnya menjadi tempat untuk menyenangkan—untuk siapapun. Namun kalau pun Trandahl muda ini boleh memilih tempat yang paling ingin dikunjunginya, Trandahl akan membuatkan daftar panjang yang membuatnya ragu kalau-kalau Mark bisa meladeninya. Pertama, Koloseum di Roma. Kedua, Menara Eiffel. Ketiga, Sungai Nil. Meskipun perjalanan ke sungai nil nanti terkesan horor mengingat salah satu buku Agatha Christie yang berjudul Pembunuhan Di Sungai Nil. “Boleh aku duduk di sini? Kosong kan?” Sebuah suara yang membuat Thalia tersadar dari lamunannya. Gadis itu mendongak dan mendapati sosok seorang gadis berparas asiatik. Thalia membalasnya dengan sebuah senyuman sebelum akhirnya menambahkan. “Tentu, silahkan” Thalia tak tahu kalau akan ada turis asing—bisa jadi—di San Francisco. Yah, dia sudah pernah ke Chinatown dan bertemu dengan sekumpulan orang berparas asiatik. Dan gadis ini—sepertinya ini kali pertama Thalia melihatnya. “Kau asli San Francisco? Atau mungkin… tengah liburan ke San Francisco?” tanya Thalia penasaran. Bisa jadi dia bukan orang San Francisco. |
![]() ![]()
|
|
| Quote ^^^ | Offline | |
| Post #4 Apr 27 2013, 03:37 PM | Donna River | |
|
She was fat, and ugly. Everybody won't play with her. Singkat cerita, itulah kisah masa kecil Donna ketika ia masih duduk di bangku Elementary School. Sam tidak mau mengakuinya sebagai adik. Anak-anak perempuan yang tergolong populer mencemoohnya. Ia hampir tidak memiliki teman. Tidak. Sebenarnya dari awal, Donna bukanlah anak yang jelek. Namun timbunan lemak yang bergelambir di dagu pasti tidak menarik untuk dilihat. Kemudian ibunya, mulai membuat anak gadisnya diet. Mengurangi porsi makan, menambah porsi olahraga. Anorexia dan bulimia yang menjadi tren diharamkan oleh wanita asal Jepang itu. Renang adalah santapan wajib bagi ten-years-old Donna. Hingga akhirnya setelah satu tahun penuh melakukan diet ketat, Donna berhasil mencapai berat badan ideal. Berenang. Setiap kali melihat kubangan raksasa dengan air jernih di dalamnya, Donna selalu teringat satu tahun diet ketat ala ibunya. Gadis yang baru saja menginjak lima belas tahun itu dapat dibilang tergila-gila dengan olahraga air, salah satunya berenang. Setelah menghabiskan satu minggu tanpa olahraga, akhirnya Donna dapat menggerakan seluruh otot tubuhnya. Donna tersenyum mendengar jawaban gadis Kaukasoid di hadapannya. "Thanks, bay the way." Kemudian Donna duduk di salah satu bangku pantai dekat gadis itu. Setidaknya, supaya tidak merasa terlalu... Kau tahu... Lonely? Sementara ia menunggu abangnya yang kini pergi ke negeri antah-berantah. Donna masih mengeringkan seluruh tubuhnya, ketika ia mendengar pertanyaan gadis itu. “Kau asli San Francisco? Atau mungkin… tengah liburan ke San Francisco?” Donna menggigit bibir bawahnya dan tersenyum tipis. "Tidak. Aku dari New York. Well... Tidak bisa dibilang liburan sih. Keluarga kami sedang menjenguk Granna. Alzeimernya semakin parah akhir-akhir ini." Sebut saja Donna tipikal yang bisa cerita sana-sini seenak jidat. "Kalau kamu? Asli San Francisco?" Donna berbalik tanya. Iya. Donna juga tipikal yang biasa sok-kenal-sok-dekat. In case, ia hanya berusaha bersikap ramah kepada semua orang. Donna bukan Sam yang punya prinsip kalau-kau-tidak-kaya-kau-bukan-temanku. Donna sudah curcol sedikit, tanpa mengetahui nama gadis Kaukasoid di hadapannya. "Well... Aku Donna. Kau?" Tanya Donna, sekali lagi dengan seulas senyum manis. |
![]()
|
|
| Quote ^^^ | Offline | |
| Post #5 Apr 28 2013, 06:51 AM | Thalia Trandahl | |
|
Thalia mengangguk mengerti mendengar penjelasan gadis itu. Asli New York ternyata. Mengingatkannya pada rumahnya—rumahnya yang sebenarnya—yang terletak di pinggiran kota New York. Kecil, hangat dan menyenangkan. Jauh dari keramaian dan itulah tepatnya keadaan yang membuat Thalia merindukan tempat itu. “Kalau kamu? Asli San Francisco?” tanya gadis itu. “Oh well—tidak bisa dibilang asli sih. Lahir di San Francisco tinggal di New York. Aku juga sedang mengunjungi kakek-nenekku, hanya saja mereka tidak sakit. Hanya sekedar berkunjung,” ujarnya menggulum seulas senyuman. Kakek dan Nenekknya. Sudah tua, begitu rapuh dan pelupa. Bahkan Mark perlu mengingatkan berkali-kali kalau nama Thalia adalah Thalia bukan Thania atau Tamara atau beberapa nama lainnya yang diingat oleh Kakek dan Nenek Thalia. Bagaimanapun, Thalia tak ada masalah dengan hal tersebut. Yah, mereka orang tua kan? “Well… Aku Donna. Kau?” tanya gadis itu akhirnya. “Aku Thalia, salam kenal” ujarnya menggulam seulas senyuman. “Sepertinya kita punya beberapa kesamaan yah? Hanya saja… aku tidak bisa berenang,” tambahnya. “Kau menunggu seseorang atau tengah beristirahat?” tanya Thalia membuka sebuah topik. Well… Kalau Thalia sendiri, dia menunggu sepupu-sepupunya selesai berenang. Itu sama sekali tidak menyenangkan. |
![]() ![]()
|
|
| Quote ^^^ | Offline | |
| Post #6 Apr 29 2013, 05:11 PM | Donna River | |
|
Ah. Gadis ini juga dari New York. Setidaknya kini Donna memiliki satu kesamaan dengan gadis di hadapannya. Tempat tinggal Donna tidak bisa dibilang rumah. Mereka menyebutnya dengan condominium. Yap. Donna tinggal di semacam apartment, tetapi dengan kapasitas di atas rata-rata. Dad tidak mau membangun rumah, ia bilang akan lebih efisien kalau 'rumah' mereka berdekatan dengan bangunan kantor Dad. Mom juga tidak membantah apa-apa saat mengetahui Dad tidak berminat untuk membangun sebuah rumah yang benar-benar rumah. Rumah yang berdiri dengan pondasinya sendiri dan memiliki halaman pribadi. Donna sih tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Ia senang berada di antara bising dan padatnya kota New York. Dan kesamaan yang lain. Gadis ini juga mengunjungi kakek-neneknya. Donna tidak lagi memiliki kakek. Kakeknya meninggal saat berusia lima puluh tahun karena kecelakaan pesawat. Jadi, Donna tidak berkesempatan untuk mengenal kakeknya. Bahkan Donna tidak mengenal orang tua ibunya karena mereka berada di Jepang. Keluarga River tidak pernah berkunjung ke Jepang setelah ayahnya memiliki bisnis sendiri. Dan satu-satunya nenek yang ia miliki sekarang sudah semakin tua dan sakit dan bahkan mulai melupakan satu per satu memori yang beliau miliki. Termasuk Donna dan Samuel, dan menantunya Haruna. “Aku Thalia, salam kenal” Donna tersenyum. Tidak ada salahnya juga menambah teman. Tidak ada manusia yang diciptakan sama persis. Mungkin tempat tinggal mereka sama-sama di New York, tetapi sayangnya gadis ini --Thalia-- tidak bisa berenang. Donna tersenyum tipis. Kalau Donna sih tergila-gila dengan olahraga yang satu itu. Satu-satunya olahraga yang membuatnya tidak berkeringat dan tetap merasa dingin. "Wah... Sayang sekali kau tidak bisa berenang. Padahal asyik sekali loh... Kita bisa membakar kalori tanpa berkeringat." Donna mengulas senyum manis. "Yah... Semacam itulah... Menunggu kakak." Iya. Donna sedang menunggu Samuel sialan yang dengan tega menelantarkan adiknya untuk pergi merokok. Sebenarnya Donna tidak masalah kalau mereka berpencar, melakukan kegiatannya masing-masing. Tapi larangan untuk pulang sebelum Samuel kembali? Well. Itu lumayan menyebalkan. Donna yakin kalau Samuel itu semacam kerasukan iblis. Samuel dapat digolongkan sebagai daftar kakak yang tidak ingin dimiliki siapa pun. "Kau sendiri? Sedang menunggu seseorang?" |
![]()
|
|
| Quote ^^^ | Offline | |
| Post #7 Apr 30 2013, 10:12 AM | Shiori Kojima | |
|
San Fransisco hari ini panas. Kalimat fakta, dan Shiori tak bisa menyangkal hal itu. Berjalan-jalan dengan sepatu berhak tinggi, wig, dan dua tas penuh berisi buku (baca: doujinshi, fanbook, photobook, dan tankoubon) tentunya menguras tenaga. Kini, ditambah lagi cuaca yang amat panas... energi gadis ini benar-benar habis. Seharusnya aku tidak usah ikut cosplay, gerutu Shiori dalam hati. Ada perasaan sesal di dalam dirinya karena tak memprediksikan seberapa panas cuaca di sini, dan seberapa tahan dia akan suhu yang membuat cacing menggelepar. Shiori amat sangat menyesal karena mengiyakan ajakan temannya untuk melakukan hal ini. Kini dengan tubuh lemas, yang ia perlukan hanya sedikit lagi sengatan sinar matahari, dan Shiori pun akan pingsan dalam hitungan detik. "Aku... butuh... tempat... dingin...," ujarnya dengan penuh rasa frustrasi. Masuk ke dalam hotel nampak menggiurkan, sayangnya hotel tempat gadis ini menginap lokasinya terlampau jauh dari tempatnya sekarang. Sehingga, Shiori pun memutuskan untuk pergi ke cafe terdekat, dan mengambil kursi terdekat pula. Ada dua orang yang tengah bercakap di sana? Biarlah, Shiori tak peduli. Dengan terburu-buru dia meletakkan barang bawaannya di atas meja. Oops—tanpa sengaja ada satu doujinshi dengan cover bergambarkan dua orang lelaki yang saling berpelukan. Shiori mendadak panik, dan segera memasukkan doujinshi itu kembali ke dalam tas. Dia tersenyum meminta maaf, disertai cengiran kecil. "...Maafkan aku," ujarnya. Dalam hati dia berharap agar dua orang ini tak berpikir macam-macam mengenai dirinya. "Dan, ah, aku boleh duduk di sini, 'kan?" Hanya memastikan saja. Siapa tahu mereka jijik melihat cover doujinshi tadi, dan mengusirnya. Cover doujinshi: KLIK Penampilan Shiori: INI PMIIW |
![]() ![]()
|
|
| Quote ^^^ | Offline | |
| Post #8 May 1 2013, 08:16 PM | Thalia Trandahl | |
|
Senang rasanya punya teman berbincang. Thalia tak pernah benar-benar punya teman mengingat seharian penuh dia menghabiskan waktunya membaja buku. Tahun lalu dia tergila-gila pada Emily Bronte dan membaca Wuthering Height berkali-kali. Sudah dihabiskannya berkali-kali seperti orang kesetanan. Dan entah kenapa, awal tahun ini Edgar Allan Poe dan Shakespeare mulai menarik perhatiannya. Gadis Trandahl ini memilih ekstrakulikuler drama. Bukan karena dia pandai berdrama, tidak. Dia bahkan punya ekspresi datar. Hanya saja, Thalia cukup bisa mengandalkan dirinya sebagai seorang penulis naskah drama semenjak Mr. Blummenfeld tahu bahwa lembar naskah Shakespeare adalah salah satu yang Thalia gemari. Dan musim semi lalu dia menyalinkan naskah drama Dr. Faustus untuk Mr. Blummenfeld. Singkatnya, dia mendapat penambahan poin. “Aku sedang menunggu sepupuku dan Ayahku, mereka masih berenang” ujar Thalia. “Mungkin kalau lain kali kita bertemu lagi, kau bisa mengajarkanku renang kali ya?” Ya—tentu saja. Thalia sudah berkali-kali meminta ijin di kelas Olahraga mengingat dia bukanlah seorang perenang yang handal. Tidak. Thalia sama sekali tak bisa berenang. Thalia sudah mencobanya berkali-kali namun dia merasa seperti seekor gagak yang ditenggelamkan diantara belukar gelap. Seseorang menjatuhkan sesuatu, Thalia tak sempat melihat apa itu karena dia sibuk berbincang dengan Donna. Kemudian sosok itu menanyakan kepada mereka apakah dia bisa duduk. “Tentu,” ujar Thalia menggulum seulas senyuman. “Umm… What was that if may I know?” tanya Thalia mengacu pada barang yang tadi buru-buru dimasukkan orang itu ke dalam tasnya. |
![]() ![]()
|
|
| Quote ^^^ | Offline | |
| Post #9 May 3 2013, 10:41 PM | Donna River | |
|
Donna mengeluarkan over-sized sunglassesnya dari dalam tas. Matahari bersinar terlalu terang dan terik. Donna tergiur untuk mengenakan kacamata-nya dan duduk manis di beach bench sambil menyesap lemonade dingin. Namun sepertinya kurang sopan kalau ia mengenakan sunglasses-nya sekarang. Apalagi Thalia sudah dengan baik hati menemaninya menunggu Samuel. Pada akhirnya, gadis berparas Asia ini hanya mempermainkan gagang sunglassesnya. "Kau suka membaca ya?" Tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Donna. Entahlah. Ia lebih banyak mengungkapkan sesuatu tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Ceroboh memang. Well, Donna juga suka membaca. Ia suka membaca novel anak-anak karya Roald Dahl. Mungkin mereka menganggap bacaan itu tidak semenarik novel karya Agatha Christie atau Conan Doyle. Tetapi bagi Donna, pesan moral yang disampaikan novel anak-anak itu lebih mengena. Mungkin karena dalam jiwa gadis empat belas tahun ini masih tersimpan jiwa anak-anak. Jadi, mereka sama-sama menunggu. Hanya saja, Thalia menunggu orang-orang yang melakukan kegiatan yang jelas di tempat yang jelas. Tidak seperti Donna yang ditinggalkan begitu saja entah ke mana dan tidak tahu kapan kembali. Donna lebih tergoda lagi untuk menggunakan ponselnya untuk menelepon ayahnya dan minta dijemput. Tetapi kalau tahu Samuel tidak ada bersama dengan Donna, dan Donna melapor kalau kakak satu-satunya itu kecanduan nikotin dengan tambahan ganja (ya, kakaknya merokok ganja), Samuel pasti dihabisi oleh ayahnya. Dan tidak perlu menunggu waktu untuk Donna menjadi sasaran Samuel setelah itu. “Mungkin kalau lain kali kita bertemu lagi, kau bisa mengajarkanku renang kali ya?” Donna tersenyum. "Dengan senang hati. Jadi... Kenapa kau tidak bisa berenang?" Padahal belajar berenang cukup menyenangkan bagi Donna. Kemudian perhatiannya teralihkan oleh sebuah, entahlah, apakah itu semacam majalah atau apa dengan gambar anime. Donna menoleh kepada orang tersebut. Mata gadis berdarah Asia itu membesar, terkejut. Seriusan sosok di hadapannya itu perempuan? Entahlah. Bagi Donna sosok di hadapannya itu cukup tampan untuk menjadi seorang pria. “Umm… What was that if may I know?” Donna menoleh ke arah Thalia, kemudian kembali kepada sosok di hadapannya. "Apa tadi itu semacam komik?" Krik. |
![]()
|
|
| Quote ^^^ | Offline | |
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
|
|
| « Previous Topic · Amerika Utara · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
3:25 PM Jul 11
|
Hosted for free by ZetaBoards · Privacy Policy





3:25 PM Jul 11