Theme style: Light | Dark
Welcome Guest [Log In] [Register]

Announcements

Situations
Informations
Links

Summer 2016
Time: Juli-Agustus 2016
Temperature: 28-33 Celcius

TERM 4


Timeline: 2016/2017
Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001

Kuota Registrasi: 27/45
Kuota Murid Spesial: 2/2
Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2
Kuota Visualisasi Asia: 7/7
Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5
Daftar lebih lengkap

[+] Langkah Bermain
[+] Peraturan
[+] Daftar Visualisasi
[+] Formulir Registrasi
[+] Jadwal Term 4
[+] About Tower Prepatory
[+] Plots
[+] Disclaimer and Credits
[+] Wikia (On Development)
Chatbox
Important Info
Twitter Feed

Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012.

Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login:

Username:   Password:
Sabina Olson
Topic Started: Apr 30 2013, 07:25 PM (481 Views)
Sabina Olson
Data Siswa

Posted Image

Nama Lengkap : Sabina Olson
Tempat Tanggal Lahir : Toronto, 18 Maret 2001
Domisili : Toronto, Ontario, Kanada

Anggota Keluarga

Nama Ayah : Knox Olson
Pekerjaan Ayah : Diplomat
Nama Ibu : Karen Olson
Pekerjaan : Penyanyi
Saudara/I : Vale Olson ( Young Sister—5 y.o )

Ciri Fisik : Iris hijau, redhair, vanilla fragrance, tinggi, tubuh padat berisi (ideal), kulit putih kemerahan, pipi tembam.

Latar Belakang : Keluarga Olson adalah salah satu keluarga paling berpengaruh di Toronto. Ayahnya—Knox Olson adalah petinggi negara, seorang diplomat yang jarang sekali ada di rumah. Ibunya Karen Olson adalah seorang penyanyi yang tengah naik daun, kedua orangtua Sabina jarang berada di rumah. Meski hidup dengan latar belakang keluarga menengah keatas, Sabina tidak tumbuh menjadi anak manja. Ia terlihat mandiri, Sabina memiliki adik perempuan yang masih kecil, Vale. Termasuk kakak yang sangat protektif terhadap adiknya. Sejak kecil ia dikenalkan oleh dunia sosial dan diajarkan melihat dunia oleh ayahnya, sedangkan di waktu luang ia sering belajar bernyanyi bersama ibunya.

Karakteristik : Sopan, lemah lembut, pokerface, over protective, introvert, berkepribadian ganda; bila merasa tertekan dalam satu kondisi ia akan menyakiti dirinya sendiri secara tidak sadar.

Tambahan : memiliki banyak luka sayatan di pergelangan tangan.

Ability : Empathic Echoes

Penjelasan Ability : Kemampuan untuk menerima dan mengirim emosional sekilas kenangan, atau citra mental yang berhubungan dengan keadaan emosional tertentu saat ini atau masa lalu. Kekuatan ini berasal dari Empati. Kemampuan ini membuat Sabina dapat melihat hantu atau peristiwa masa lampau yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri, seringkali ia merasa tertekan oleh kemampuan ini karena melibatkan emosinya sehingga ia menjadi seorang yang masochist.

Batas Kemunculan Awal : Pertama kali terjadi saat usianya 6 tahun, terjadi saat ia pertama kali menginjakkan kaki di gedung sekolah formalnya yang ternyata bekas gedung pembantaian disana ia dapat melihat tragedy yang terputar secara nyata, Sabina semoat histeris dan menangis karena ia tidak bisa mengontrol kemampuan ini, hingga akhirnya dia trauma dan memilih untuk tidak sekolah di sekolah formal. Kemampuan ini beberapa kali terjadi apabila ia melakukan mobilitas, kerap kali merasa tertekan dan pada akhirnya ia sering melukai diri sendiri.

Perkembangan Ability : -

Visualisasi : Karen Gillian

Latar Belakang Visualisasi : Aktris
Edited by Sabina Olson, May 1 2013, 01:05 AM.
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Arrabel Stal

Posted Image
Silahkan post Pengalaman Pertama serta Kedatangan Anda untuk diproses secara lebih lanjut.

PS: Perkembangan Abiliti tolong dihapus dan dikosongkan saja ya Nak :)
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Sabina Olson
PENGALAMAN PERTAMA



Sudah dengar desas-desusnya?

Keluarga Olson akan pindah, katanya puteri mereka; Sabina menderita gangguan jiwa.

Hurr hurr, naas sekali nasibmu sayang. Kabar burung itu bukan sekadar isapan jempol, keluarga Olson dikenal sebagai keluarga dengan literature bangsawan, intelektual mereka diakui dunia, Knox seorang diplomat setia pada negara dan Karen seorang ibu dengan suara emas perpaduan keduanya tentu menghasilkan anak-anak yang sempurna bukan? Ya, Sebbie dan Vale. Hasil pernikahan keduanya. Mereka anak yang manis, pelengkap keluarga kecil. Kasat mata, tidak ada yang aneh dengan keduanya. Kaki mereka ada dua, tangan mereka ada dua juga, semua panca indera mereka lengkap—sangat lengkap. Berfungsi dengan sangat baik dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan, bila perlu lima bukanlah jumlah genap, tahu?

Pindah sejatinya mengajarkanmu untuk meninggalkan, menyuruhmu untuk melihat segala al baru dengan adaptasi ulang. Pindah berarti membuka lembaran lama dan menggantinya dengan lembaran baru. Bukan perkara khusus bila keluarga Olson melakukan pindah rumah, nomaden katakanlah. Kepindahan ini karena tugas, Knox Olson terlalu cinta akan negara hingga ia siap untuk dipindah kemana saja. Setahun di London bukan suatu hal yang buruk, namun negara tetap memanggilnya kembali. Ya, Kanada butuh seorang Olson untuk posisi yang lebih tinggi. Pejabat negara itu sepertinya memiliki hidup yang lengkap bersama istri setia bersuara emas.Karen Olson pun menganggap kepindahan ini bukan sebuah perkara sulit.

Puteri-puteri mereka sudah siap menempati rumah baru, rumah bergaya mediterrania klasik bernuansa cokelat. Aroma rempah-rempah memenuhi ruangan ketika pintu besar terbuka, menyambut sang pemiliki baru. Tiap-tiap individu menempati ruang mereka masih-masing, Baik Vale maupun Sebbie tidur di ruang terpisah, enggan berbagi tempat. Vale tergolong egois sebagai anak kecil. Usianya baru menginjak dua tahun namun tak begitu menyukai seorang dewasa kecuali ibunya. Hmm, jadi bagaimana ketika gadis kecil mereka Sebbie mulai beranjak untuk memasuki akademi? Ia butuh ilmu pengetahuan untuk hidup. Paling tidak sekadar mengetahui isi dunia. Maka Knox mendaftarkan puterinya pada sekolah formal. Anggapan sekolah baru, dunia baru. Ah itu sudah lagu lama, ketika tiba waktunya Sebbi sudah siap.

Bangunan akademik itu menyambutnya dengan tembok bata bergaya eropa klasik, ada pagar jaring yang mengelilingi, di arah Barat ada menara menjulang tinggi beratap kubah, jendela-jendela mereka dihiasi ukiran huruf-huruf kuno. Aroma rotan menusuk, para siswa disini dikenal sangat aktif, rata-rata dikenal berpengaruh dengan perkembangan dunia. Satu hari berada di sekolah ternyata tidak seburuk yang ia kira karena kabar burung sudah jelas, anak baru tidak akan diterima khalayak. Oh ya? Ttapi title bangsawan yang melekat di dalam dirinya mampu membuat Sebbie diterima oleh lingkungannya. Charisma menarik, sungguh.

“Sebbie?”

“Ya?”

“Kau bisa lihat aku?”

“Tentu saja…”

“Ikutlah…”

“Kemana?”

Kedua tungkainya melangkah, menari diatas keramik, melewati lorong. Suhu mendadak dingin temperaturenya nyaris mengalahkan musim dingin. Namun hangat menyelimuti, gadis itu dengan gaun putihnya,, surai cokelat keemasan, dengan sudut mata yang lancip dan sorot sendunya membawa Sabina pada satu ruangan. Boleh ia duga ini gudang, gadis itu menyingkir menyuruhnya membuka pintu gudang. Tidak ada keraguan bahkan ketakutan apapun disana, jemarinya meraih kenop keabuan dan memutarnya kearah kanan hingga ada bunyi klik terdengar.

Putih, paparan sinar menyakiti retinanya. Sabina mengangkat tangan, menyilangkannya tepat di depan mata, sinar itu menyakitkan. Sisi Timur mengundangnya, sebuah teriakan menggangu telinganya, menoleh dan keadaan rupanya kembali nyata. Sabina hafal betul bangunan yang dilihatnya—gedung sekolah barunya. Seseorang datang, Sabina bergerak tergesa mencari tempat perlindungan. Teriakannya semakin dekat, nyaring dan menyakitkan, pilu karena teriakan perempuan itu diiringi tangisan. Menyeru tolong dan sakit, bulu romanya bergidik. Ia mengintip dari sela-sela tanaman menjalar, seorang lelaki memakai jas hutan dari plastic dan sebuah topi, wajahnya tak tampak. Sabina menajamkan penglihatannya, menganalisa dari kejauhan siapa yang dilihatnya.

Gadis yang menuntunnya.

Tidak, ini bercanda…

Ia menepuk pipinya, sayangnya sakit.

Perang dalam hati bukan perang sembarangan, ia merenggut bajunya, ketika gadis itu menoleh ke samping dalam keadaan telentang dan wajahnya sudah lebam, Ujung bibirnya terkoyak mengeluarkan likuid kental berwarna merah, salah satu matanya biru dan pelipisnya sudah mengeluarkan darah, laki-laki itu mengeluarkan benda dari balik celananya. Apa? Mengilap, perak, tidak! Itu pisau?

Mata membulat, lututnya gemetar, satu teriakan nyaring dengan semburat darah. Gadis itu menjerit, menahan perih, sakit. Sabina menyeruak dari tempat persembunyiannya, berusaha meraih apapun yang menyakiti sang gadis, ia berlari sekuat tenaga menghampiri keduanya. Sedikit lagi, sedikit saja sebelum teriakan itu menjadi keterdiaman panjang.

“TIDAK! HENTIKAAAAAN!! HENTIKAN!”

“Sebbie?!”

“JANGAN BUNUH JANGAN!”

“Sebbie?! Bangun!”

Kelopaknya terbuka memaksa, peluh menetes dari dahinya, keringat dingin bercucuran, mulutnya terbuka. Jantungnya mirip kuda yang berpacu di arena, hingga nafasnya tersenggal dan Sebbie meraih tangan guru yang membangunkannya, mengatakan bahwa ada pembunuhan di sekolah ini, ia bersikeras namun ditentang ketika menunjukkan tempat kejadian perkara ia hanya ditertawakan. Padahal gadis itu, gadis bergaun putih itu selalu ada diantara mereka yang menertawakan jasadnya.
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Sabina Olson
Kedatangan



Apapun yang ia katakan tidak ada yang percaya—termasuk ayahnya.

Logika mengalahkan dunia, fana berarti semu, dunia hanya satu. Puluhan psikiater sampai ahli kejiwaan apapun termasuk para cenayang di datangkan. Demi puteri mereka, Sabina. Terjaga sepanjang malam, teriakan menggaung di seluruh sudut ruangan, Vale lantas memandang Sebbie dengan kengerian. Baginya sang kakak telah berubah menjadi monster dalam wujud manusia. Lingkaran hitam dibawah matanya, duduk memeluk lutut ketika menjelang fajar. Karen nyaris terjaga sepanjang malam demi puterinya, demi malaikat kecil mereka menjelma menjadi setengah iblis dalam bayangan malam.

Hurr hurr, pedih sekali nasibmu sayang.

Rasanya pedih bila dikepung amarah, ketakutan merajalela sebagai wujud keputusasaan, Karen menyadari potensi dari dalam diri anaknya, sayangnya Knox menulikan telinganya. Tidak ada nyata sekalipun trik sulap, itu semu, rasional bisa menciptakan apapun yang diinginkan termasuk kemampuan merasakan alam lain selain dunia. Tekanan, Sabina tak bisa lolos kemanapun ia bersembunyi sekalipun di dalam kamar. Satu minggu sampai menjelang satu bulan, Karen menempati posisi simpati teratas, tanpa disadari puteri sulungnya mulai terbiasa dengan keadaan sekitar. Ia menjelma, menjadi gadis pendiam, tatapannya menyiratkan dua hal, membunuh dan menyayangi kehidupan. Suatu kali perak mengiris nadi, ia kehilangan banyak darah namun tak meninggalkan fana. Beruntung Tuhan masih menyayanginya, sekali dua kali bahkan puluhan kali percobaan bunuh diri hingga ia terpaksa ditemani sang ibu dan Karen rela mengambil liburan panjang dalam waktunya yang padat.


Butuh waktu 3 bulan—untuk dapat sembuh meski tak sepenuhnya.

Masa kritis itu sudah lewat, duka seperti lenyap, hanya diam menemani sang anak. Karen tahu Sabina butuh hiburan sekadar melihat dunia luar. Niatannya mengajak puteri sulungnya untuk melihat drama bersama, Knox tengah berada di luar negeri dan Vale masih terlalu kecil untuk ditinggalkan. Satu-satunya pelarian dari masa penyembuhannya, gedung pertunjukkan sudah menanti keduanya. Tiket sudah ditangan, Sabina meminta izin untuk pergi ke toilet sebentar barang lima menit saja. Bilik-bilik kecil terasa memanggil dan dering semakin nyaring. Mendadak telinganya sakit, ada begitu banyak suara yang didengarnya, kepalanya mendadak sakit. Telepon genggamnya bergetar, Sebbi mendorong pintu dengan kasar, meraba-raba dinding dan menyeret kedua tungkainya. Lagi—ia diserang paranoid luar biasa. Jemarinya gemetar merogoh saku dan mengeluarkan telepon genggamannya, menekan tombolnya sebelum segalanya menjadi gelap.

Ketiadaan ini menuntunnya pada kehidupan baru bernama kepindahan—

Bersamaan dengan mata yang terbuka, ia tidak tahu ada dimana.
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Whisper 121
Posted Image
Selamat, Anda secara resmi menjadi Siswa Baru Tower Prepatory. Selamat menjalani 7 tahun masa sekolah di sekolah ini.
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Enjoy forums? Start your own community for free.
« Previous Topic · 2016/2017 · Next Topic »