Theme style: Light | Dark
Welcome Guest [Log In] [Register]

Announcements

Situations
Informations
Links

Summer 2016
Time: Juli-Agustus 2016
Temperature: 28-33 Celcius

TERM 4


Timeline: 2016/2017
Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001

Kuota Registrasi: 27/45
Kuota Murid Spesial: 2/2
Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2
Kuota Visualisasi Asia: 7/7
Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5
Daftar lebih lengkap

[+] Langkah Bermain
[+] Peraturan
[+] Daftar Visualisasi
[+] Formulir Registrasi
[+] Jadwal Term 4
[+] About Tower Prepatory
[+] Plots
[+] Disclaimer and Credits
[+] Wikia (On Development)
Chatbox
Important Info
Twitter Feed

Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012.

Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login:

Username:   Password:
The Sound Of Silence; D.B only
Topic Started: Jun 2 2013, 11:29 AM (461 Views)
Ash Michaelsen
Ash Michaelsen selalu disertai dengan keberuntungan milik Dewi Fortuna, nampaknya. Tiada hari tanpa keberuntungan menyertai gadis yang kini berumur enam belas tahun ini.

Bagaimana kabar seorang Skylar Michaelsen? Jujur saja, fokusnya selalu melampaui batas pemikiran seorang kakak yang baik. Namun, tentu saja, Ash selalu memberikan batasan-batasan yang krusial. Ah, peduli setan dengan segala tatanan batasan-batasan yang disandingkan dan disangkut pautkan dengan moralitas. Dia ini tidak memiliki Tuhan, namun dia masih cukup pintar untuk menelaah mana yang pantas atau tidak untuk dirinya.

Jadi, jangan pernah meminta gadis enam belas tahun ini untuk melakukan hal ini itu. Jangan pernah meminta dengan lagak diktator. Perlakukan gadis ini dengan baik, ia dapat menjadi seorang malaikat; perlakukan dengan kasar, dia dapat menjadi sosok terburuk dalam mimpi burukmu.


Waktu makan malam dan jam malam akan segera diberlakukan, kala itu. Gadis dengan surai berwarna coklat tersebut sedang berbaring di atas tempat tidur dorong khas rumah sakit. Tubuhnya direbahkan di atas kasur seolah itu adalah miliknya sendiri, sementara irisnya sesekali memperhatikan tiap pergerakan yang ada di ruangan minim kehidupan tersebut. Sesekali dahinya berkerut-kerut, memberitahu bahwa gadis tersebut sedang berpikir dengan keras.

Tentang apa? Tidak ada yang pernah benar-benar tahu apa yang sedang dipikirkan oleh mereka dipercaya berasal dari planet Venus ini.

Indera pendengarannya dipasang baik-baik, siap menerima suara dengan frekuensi yang dapat diterima oleh manusia. Yap, dia ini masih manusia walau gen di dalam tubuh sudah dengan secara sengaja dimodifikasi sedemikian rupa untuk membuat sebuah 'perubahan' baru.

Nostrilnya menghirup bau karbol yang menyengat, khas rumah sakit, tentu saja. Tidak memabukkan, dia diam-diam menikmatinya. Ketika mereka mengatakan bahwa harum bebauan di Rumah Sakit mengerikan dan memberikan sebuah kesan mistis, dia merasa bahwa harum tersebut memberikan sebuah hal bagi syarafnya, yaitu ketenangan.

Dia adalah tipikal pemberontak dan selalu bergerak mengikuti insting natural milik seorang Ash Michaelsen. Sarkasme sudah mendarah daging serta tak lagi menjadi sebuah hal yang 'hebat' untuk diperhatikan dengan seksama. Namun, dia selalu membayangkan dirinya dengan sayap-sayap imajiner miliknya, mengepakkan sayapnya dengan cahaya bulan yang membias dari belakang tubuhnya; persis seperti sosok malaikat.

Namun, yang ini, malaikat maut.

Hah. Lucu, bukan? Malaikat.

Ada sebuah suara derak pintu terdengar. Ada yang membukanya. Gadis itu memutar bola mata coklatnya dan mengangkat tubuh untuk mengintip siapa yang memutuskan untuk pergi ke tempat sedamai ini.

Dan di sana, berdiri gadis itu.

Gadis yang selalu membuat jantungnya meloncat-loncat tak karuan. Ya, dia, Daniella Brighton.
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Daniella Brighton
Kromosfer terlihat. Mungkin, akan lebih mudah dilihat ketika gerahana matahari. Lapisan itu menyala dengan terang. Selaras rasa panas yang berkuadrat ini menyiksa seolah dirinya sesuatu yang pankromatis. Permukaan kulitnya terlalu sensitif atau (mungkin) intensitas sinar matahari yang meningkat seiring terkikisnya lapisan ozon yang menaungi planet tempatnya berpijak. Cuaca ini melebihi dari kapasitas yang bisa ditolerir. Pemilik kedua zamrud ini merasa pening. Ia tidak bisa berpijak dengan baik di atas ranah, seolah gravitasi mulai berpaling dari si sulung Brighton.

Sepatunya berkeletak ringan tiap kali tungkainya membawanya ke destinasi yang diinginkan oleh─gadis bukan lagi kata yang tepat untuknya─wanita muda Brighton. Seharusnya, bisa saja, ia meminta tolong kepada pemudanya untuk membantunya. Namun, ada kalanya egosentrisitas itu tidak hanya mengenai diri sendiri. Ini menyangkut terlepas dari anggapan lemah ataupun dependensi. Hal itu termasuk bentuk sebuah egosentris, bukan?

Ia rindu kepada pemudanya yang bisa membuat seorang Daniella mengalami depersonalisasi, Loki Sundstrom. Akhir-akhir ini, pertemuan keduanya semakin jarang. Takut. Ia takut relung itu memisahkannya, membuat jarak antara dirinya dan pemudanya. Ia tidak mau mengalami rasa sesak yang membuat dirinya remuk, cukup Alexei Brighton. Adik laki-lakinya sendiri.

Jari jemarinya membuka pintu. Terdengar suara jeritan pintu yang berderit. Atau, hanya pendengaran entitas berkromosom ganda ini yang mengelabuinya, seperti ilusi-ilusi di bawah suhu yang teramat panas. Fatamorgana.

Hal yang pertama didapatkan olehnya adalah realita bahwa dirinya tidaklah sendiri. Ada eksistensi yang lain.

Zamrudnya menangkap visualisasi yang tak lagi asing baginya. Brighton sulung ini pernah bertemu, bahkan melakukan konversasi (dan tidak satu-dua kali saja). Juniornya di tower prepatory ini, Michaelsen yang perempuan.

Daniella menyadari bahwa kehadirannya membuat dara muda Michaelsen itu terganggu dari pembaringannya. Sekejap, Daniella stagnan. Hanya berdiri, hanya bergeming. Kedua kurva kembarnya yang berwarna kelopak cherry blossom merekah membentuk lekukan simetri. Pelupuk matanya melengkung seperti pelangi. Lalu soprannya melantun, "Maaf, kehadiranku mengganggu istirahatmu, ya?"

Jemarinya menyibakkan anak surainya yang berlari dari kesatuannya. Merah wortel. Tungkainya kembali melangkah. Mencari-cari suster rupawan yang bekerja di tempat ini. Tidak ada. Ia penasaran apakah dirinya bisa memperoleh obat yang mengurangi pengaruh musim panas tahun ini.

"Kalau boleh tahu, di mana susternya?" tanyanya masih memindai tempat ini. Sesekali, tersenyum kepada gadis yang lebih dulu masuk ke wilayah ini.

Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Ash Michaelsen
Ashley Michaelsen selalu sadar bahwa sosok Hawa dengan surai yang baginya senada dengan warna langit di kala petang tersebut akan menjadi sebuah siluet yang selalu dirindukannya.

Dan ini, adalah kali kedua baginya untuk merasakan jantung yang berdentum-dentum seperti ini, kala melihat seorang kaum Hawa datang menghampiri lensa penglihatannya.

Ash memasang indera pendengaran dengan sangat baik. Hanya ada bunyi pegas pintu yang menutup secara otomatik, suara nafasnya dan bunyi bergemeletak langkahan milik sang Hawa, Daniella Brighton.

Dia takut.

Karena di ujung lidah ada kata-kata yang ingin disampaikan; di dalam hati ada teriakan-teriakan yang berasal dari pemikiran tergila dari otaknya yang gila. Semua, karena sosok tersebut. Padahal, Ash ada tipikal gadis apatis yang tidak akan pernah peduli dengan hal-hal yang di luar lingkup dirinya; di luar selaput tipis imajiner milik sosok berumur lima-belas tahun ini.

Terlebih ketika dia tahu bahwa sosok dengan marga Brighton tersebut melontarkan beberapa kata, sebuah kalimat pertanyaan, tepatnya.

"Tidak." Agak keras, intonasinya. Masih berusaha menarik diri dari perangainya yang apatis tersebut. "Ada apa?" Suaranya kini melembut, sebuah senyum miring terkulum di atas bibir berwarna merah muda miliknya tersebut.

Dia bertanya, di mana susternya?. Pertanyaan tersebut membuat dirinya, selama sepersekian detik terhenyak, ikut mengedarkan pandangan. Manik coklatnya bergerak, mencoba mencari-cari sosok kehidupan yang lain.

"Entah, mengapa?" Tukasnya seraya mengangkat diri untuk duduk, memberikan sebuah spasi kosong di sebelahnya; mempersilahkan sang Brighton sulung untuk berada di sebelahnya.

Jantungnya masih sama. Menari-nari, merayakan sebuah hal yang tidak pantas untuk dirayakan.
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
ZetaBoards gives you all the tools to create a successful discussion community.
« Previous Topic · Ruang Inap · Next Topic »