Theme style: Light | Dark
Welcome Guest [Log In] [Register]

Announcements

Situations
Informations
Links

Summer 2016
Time: Juli-Agustus 2016
Temperature: 28-33 Celcius

TERM 4


Timeline: 2016/2017
Batas Usia: 1 Juli 2000- 31 Juni 2001

Kuota Registrasi: 27/45
Kuota Murid Spesial: 2/2
Kuota Pemilik 2 Kemampuan: 2/2
Kuota Visualisasi Asia: 7/7
Kuota Kelahiran Luar Amerika & Kanada : 4/5
Daftar lebih lengkap

[+] Langkah Bermain
[+] Peraturan
[+] Daftar Visualisasi
[+] Formulir Registrasi
[+] Jadwal Term 4
[+] About Tower Prepatory
[+] Plots
[+] Disclaimer and Credits
[+] Wikia (On Development)
Chatbox
Important Info
Twitter Feed

Selamat datang di roleplay forum Tower Prep, sebuah forum mengenai sekolah bagi murid-murid hasil percobaan pemerintah Amerika, dimana hasilnya mereka jadi memiliki kemampuan-kemampuan lebih dibandingkan manusia lainnya. Kami akan kembali membuka open registrasi untuk term ke-3 pada tanggal 25 Agustus 2012.

Jika kalian sudah menjadi anggota forum ini, silahkan login:

Username:   Password:
[302B]Pelajaran Tambahan; Mencoba R-18?
Topic Started: Jul 3 2013, 01:52 AM (268 Views)
Chemistry
"Bu-bukan," ujarnya, mendesah. "Bukan seperti itu, seharusnya."

Wanita muda ini tidak tahu apa yang ada di dalam otak muridnya itu. Bisa-bisanya dirinya memberikan waktu luangnya untuk bocah yang memiliki keanehan. Oh, mereka semua memang memiliki hal yang tidak wajar. Kasusnya dengan bocah yang sedang berada di dalam kamar tidurnya itu bukannya menjauhi guru semacam Chemistry, melainkan melekat terus. Atau, memang bocah itu menyukai kondisinya yang tersiksa karena ulahnya?

Telapak tangannya mendarat di puncak kepala muridnya, menempelengnya. Seharusnya seorang panutan tidak melakukan hal ini, tidak etis. Hah, sejak kapan juga ia peduli adanya keetisan dalam ajar-mengajar di tempat ini (pula)? "Soal semudah itu... kau tidak bisa? Otakmu itu isinya apa?"

Kali ini, dirinya menghela napas panjang. Dirinya dibuat depresi karena kapasitas otak yang dimiliki seorang muridnya ini. Kemudian Chemistry beranjak untuk membuka jendela agar asap rokoknya tidak mengepul dalam kamar tidurnya. Lalu sepasang safirnya melihat lengan pemuda malang itu yang dipenuhi bekas sundutan rokok. Nah, sudah dikatakan pemuda itu memiliki otak yang miring? Masih mau-maunya dekat dengan Chemistry meski disayang-sayang dengan cara yang lain?

Gincu merahnya kembali mengisap rokok, kemudian mengembuskan asap itu keluar jendela. Ini isapan yang terakhir. Putung rokok pun dimatikan lalu ia kembali melangkah mendekati murid yang mendapatkan pelajaran tambahan di meja sudut kamarnya.

Dia merunduk, membiarkan surai hitam kelamnya menjuntai. Melihat tulisan tangan, bahkan gambar absurd di atas kertas soal-soal kimia. "Apa, sih, yang kamu bisa?"

Kesabaran itu juga ada batasnya, tahu.
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
Timothius Summerfield
Bukan?

Menurutnya ini sudah benar. Sangat benar, malah. "Tapi--ACK!" Belum sempat memberi protes, kepalanya sudah kena pukul duluan. Tim hanya mengusap-usap ubun-ubun dengan telapak tangan, berusaha menghilangkan rasa nyeri sekaligus mengembalikan pandangannya yang sekejap tadi berkunang-kunang. Bibirnya menukik turun karena bahkan tanpa Madame Chemistry perlu bertanya pastilah beliau tahu bahwa isi kepala Timothius itu penuh. Penuh dengan hal-hal tidak berguna, seperti Lorelei Vivica contoh kasusnya.

Tim terbatuk.

Batuk. Batuk.

Meski kemampuannya beracun tapi begini-begini ia tidak kuat asap rokok. Bebannya sedikit berkurang saat jendela dibuka dan angin segar masuk, membuat hidungnya kembang kempis dan dadanya naik turun--mencari oksigen. Pada akhirnya tangannya hanya menggores-gores tanpa makna di atas kertas, rumus-rumus hanya berlalu lalang di sekitar otaknya tanpa ada satupun yang menempel. Ada huruf besar-besar di sana. 'LV'. Louis Vuitton? Bukan. Lord Voldemort? Juga bukan. Lustin Vieber? Apalagi. Ia masih menggores-gores dengan satu tangan menyangga dagu ketika sinar yang tadinya masuk kini tertutupi bayangan tinggi semampai.

Dan bayangan tinggi semampai ini punya wangi yang enak. Tim mendongak, menatap, senyumnya lebar. "Mata Madame Chemis bagus." Pujian kecil hanya agar gurunya yang satu itu tidak habis kesabaran atau bekas sundutan rokok di lengannya nanti bakal bertambah lagi.


Quote ^^^ Offline [profile]
Chemistry
Macam berbicara dengan si muka rata atau tanpa wajah, kau tahu?

Pengajar kimia ini mendengar suara erangan yang berasal dari murid laki-laki yang seharusnya bersyukur memiliki kesempatan langka. Hei, perihal ini memang sangat langka. Dirinya bukanlah seseorang yang berdedikasi sebagai seorang guru. Pemilik safir itu hanya terpaksa berada di sini. Terpaksa selalu merasa bersalah jika bertemu dengan pengajar matematika di tempat ini.

Lalu ia memberikan tatapan tajam kepada sang penuntut ilmu, tatapan yang mengancam: Apa mau protes cara didikku ini, heh?. Bertepatan dengan perubahan ekspresi menyedihkan yang terpatri pada wajah si bocah yang sepertinya sedang bergonjang-ganjing dengan masalah asmara. Patah hati, yes?

Spasi di antara mereka menipis. Surai hitam yang menjuntai itu bahkan menyentuh permukaan meja. Yang dirinya dapatkan bukanlah jawaban soal-soal yang telah diperbaiki. Justru senyum bodoh dari pemuda Summerfield. Lalu apa yang dikataka bocah itu? Dirinya memiliki mata yang bagus. Well, matanya memang bagus dalam arti masih berfungsi dengan baik. Ia tak menggunakan kacamata. "Hei, memujiku tak akan membuatmu menjadi ahli pelajaran kimia, tahu."

Apalagi mendapatkan nilai A pada mata pelajarannya. Mustahil. Baginya, nilai A itu hanya milik Tuhan.

Tapi, patut dicoba?

"Itukah yang kaukatakan pada gadis-gadis lain?" Ia terkekeh meremehkan. "Ayolah, kau berhadapan dengan seorang wanita, Summerfield."

Jadi, memiliki mata yang bagus itu sangat... biasa sekali.
Member Avatar


Quote ^^^ Offline [profile]
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Create a free forum in seconds.
Learn More · Register for Free
« Previous Topic · Kamar Tidur Guru · Next Topic »