Welcome Guest [Log In] [Register]

MAY THE ODDS BE EVER IN YOUR FAVOR



[ INACTIVE ]
TERM 9: 2193 - 2194




[+] Topik AU: 4/5
[+] Visualisasi Asia: 3/3
[+] Capitol: 5/5
[+] Distrik Satu: 4/5
[+] Distrik Dua: 4/5
[+] Distrik Empat: 5/5
[+] Distrik Tiga Belas: 2/5
[+] Balita/Dewasa: 5/5



IndoCapitol


TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL
PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH
PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI
TRAINING CENTER || ARENA




Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain.

PEMENANG
HUNGER GAMES 54



{DISTRIK 1}



KREIOS EPHRAIM


MUSIM PANAS



21,3° - 23,6° C
21 Juni - 20 September
Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan.



WAKTU INDONESIA BAGIAN BARAT (JAKARTA)




Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

TWITTER & CHATBOX


Twitter
Chatbox



FORUM LOG
Waktu Update
Sabtu, 11 April 2015 Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out!

PEMBERITAHUAN
Kepada Informasi
Semua Member Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum
Semua Member Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2)
Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda.

Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru.

Bergabunglah bersama kami!

Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum:


Username:   Password:
Add Reply
I Wrote A Letter For You; Credit sama kayak judul
Topic Started: Wednesday Jul 16 2014, 03:22 AM (148 Views)
Nicotiana Hernandez
Member Avatar

Dibaca dulu biar afdol



1.BORN TO DIE


Apa rasanya seperti ini? Apa ini yang kau rasakan ketika puluhan ribu pasang mata memandang sosokmu, meneriakkan namamu, memandang penuh dengan rasa penasaran bagaimana suatu saat kau kedua tangan akan mencabut satu persatu nyawa, apa yang kau rasakan sama sepertiku pada saat kereta kuda menarik dan mempertontonkan tubuh keduapuluh empat peserta dengan busana yang kadang hanya mampu mengepalkan tangan. Hingga rasanya aku mampu mendengar setiap ucapan bisik-bisik mereka, mempertanyakan hubunganku denganmu.

Apakah mereka selalu seperti itu?

Selalu ingin tahu seperti apa hubunganku dan denganmu, tapi bukankah seharusnya mereka tahu hubungan kita? Apa kau tahu dan mungkin ini juga yang kau rasakan, ketika harus menyembunyikan semua agar tidak mengetahui seperti apa perasaanmu saat berhadapan dengan sepasang puluh ribu mata yang menantikan setiap aksimu. Seperti itu juga aku memasang topeng untuk tidak menunjukkan bahwa ada segala macam perasaan bimbang, takut, kebanggaan dan kebencian yang jika saja kubuka topeng ini akan membuatku jatuh karena seluruh perasaan benciku pada mereka, akan membuat seluruh jiwaku hilang akal dan membuatku kalah dalam permainan ini. Seperti yang pernah kau lakukan, aku melakukan hal yang sama tersenyum, meyakinkan bahwa hal semacam ini tidak akan menyurutkan hasratku untuk berhenti.

Gaun indah yang membalut tubuh, suara tepuk tangan dan teriakan ibarat gemuruh langit yang tidak akan berhenti mereda. Pertanyaan retrotis dari apa aku sanggup melampaui dirimu yang mampu dari tiga besar dan terjatuh karena ledakan dari kalangan bawah membuatku tersenyum tipis sekaligus makin menoreh kebencianku padamu, seakan aku tidak akan mampu melebihi dirimu yang bagi kedua orang itu sempurna dan aku—berada dalam bayang-bayangmu saja. Hingga pertanyaan masalah pribadi, aku tidak tahu dari mana pria itu mendapatkan info bahwa aku pernah berbincang berdua saja dengan salah satu karir, tapi bukankah itu hal yang biasa? Atau mereka—cih! Aku lupa kalau mereka sanggup melakukan apa saja.

Apa kau tahu?

Aku membencimu karena kau tidak pernah memperlihatkan kelemahan dirimu di depanku atau mereka, aku begitu membencimu karena kau seperti tidak memiliki titik kelemahan, dan aku membencimu ketika kau menunjukkan sedikit ekspresimu pada orang lain, bukan padaku, dan mereka. Dan aku semakin membenci ketika tubuhmu terjatuh penuh dengan luka dan kembali tanpa ada setitik napas. Seakan takdir tidak pernah mengijinkanku untuk melampaui batas kemampauanmu. Seperti ketika disaat aku harus menunjukkan kemampuanku, menghacurkan satu persatu manekin yang telah mereka persiapkan. Apa yang aku inginkan sama sekali tidak terpenuhi, aku selalu kalah darimu. Selalu dan akan selalu kalah.

Apa yang tidak aku punya tapi mereka punya?

Jika kau mau tahu. Karena kau, aku menolak permintaan seorang gadis yang jauh lebih tua dariku, menolak untuk menggantikan posisi diriku berdiri disini, mewakili tiap distrik hanya untuk membuat mereka bangga, mengorbankan nyawa setiap tahunnya untuk dipersembahkan pada dewa demi kelangsungan hidup. Bodoh mungkin ya aku bodoh, menolak sebuah kehidupan lagi, tapi kau lebih bodoh dariku, hanya untuk memastikan seperti apa takdirmu mengajukan dirii menggantikan salah satu diantaranya dan lihat apa yang kau terima—kematian.

‘Stupid girl'.

Mungkin itu yang akan kembali kau katakan untuk membalas kata-kataku. Seharusnya kau tahu, karena dirimulah aku kini berdiri di Cornucopia. Berdiri memandang mereka tanpa pernah merasa takut. Apa setelah dentuman itu melantunkan melodinya tubuhku masih ada disini? Apa ketika semua ini berakhir, aku akan kehilangan siapa diirku? Kehilangan apa yang aku yakini, dan tidak bisa melampaui dirimu?

‘We’re born to die.’

Kau selalu mengucapkan hal itu, hingga akhirnya kini aku mengerti, berdiri memandangi mereka, bediri menunggu lantunan meriam mengudara. Seperti ibarat menunggu kematian yang perlahan menghampirimu. Seakan mengisyaratkan, sejauh mana kakimu pergi melangkah, kematian akan datang menjemputmu. Membuatku kini tahu seperti apa perasaanmu.

Dentuman meriam berbunyi…

Dan ini akan menjadi alunan lagu kesedihan bagi mereka yang ditinggalkan. Bukankah begitu, brother?
Edited by Nicotiana Hernandez, Wednesday Jul 16 2014, 03:32 AM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Nicotiana Hernandez
Member Avatar

2. LIFE TO DIE



Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya berada di posisimu. Kuakui dulu aku meremehkan apa yang terlihat di depan mata, layar yang menggambarkan visual bergerak, percikan darah sampai bermandikan aroma amis. semua tragedi yang pernah aku anggap bahwa, kalian hanyalah orang-orang bodoh yang tidak sanggup bertahan hidup dari permainan itu, selain membuat malu dan tidak pernah kembalinya lagi orang-orang yang berada disana dalam keadaan utuh kecuali seonggok tubuh mereka yang tidak memiliki nyawa. Kini aku mengerti, brother. Aku memahaminya. Cornucopia, dan duapuluh empat orang yang mengelilinginya, wajah tegang mereka, ketakutan yang tersimpan mungkin selintas terlihat, mengabaikan apa yang diriku emban begitu juga mereka, disinilah takdir kami yang juga mungkin akan menjadi tempat bersemayam untuk selama-lamanya tanpa pernah bisa melihat lagi seperti apa masa depan, tanpa pernah bisa lagi menggapai apa yang diinginkan. Tempat menyerahkan mimpi-mimpi yang aku punya maupun mereka punya.

Tidak, aku tidak pernah takut menghadapi apa yang ada dihadapanku kini. Mungkin sesaat rasa itu sempat menyusup dalam benakku. Bayangan akan kematian, raut wajah orang-orang yang ditinggalkan, dan meriam yang ditembakkan menggetarkan langit. Aku tahu tanda itu mengisyaratkan bahwa permainan telah dimulai. Permainan yang tidak akan dapat diulang kembali, karena ini bukanlah video game yang dapat diulang kembali setiap kali mati. Langit kembali meletus, gemuruhnya seolah membuat langit ikut menangis setiap satu nyawa yang menghilang. Aku hanya tahu pada saat tanda itu muncul, apa yang harus kulakukan adalah mempertahankan milikku sampai aku mampu melewati batas dirimu dan kau sendiri pada akhirnya mengakui aku mampu.

Tapi kenyataannya, aku tidak pernah bisa melebihi, bahkan melewati setitik bayanganmu pun saja tidak bisa. ‘Kenapa? Kenapa, brother? Apa yang salah dari diriku? APA!? Lihat saja, mereka terlihat bangga pada dirimu karena posisimu sampai pada kedudukkan ketiga, walau kau tidak kembali dalam keadaan hidup. Sedangkan aku, bertahan dalam Bloodbath pun hampir menguras seluruh tenagaku, luka-luka yang kudapatkan dari mereka. Mereka yang seharusnya menjadi korbanku, tapi sebaliknya akulah yang ingin mereka habisi. Kau tahu, sesaat rasanya aku ingin sekali tertawa. Benar, tertawa karena kebodohan dan ketidak mampuanku.

Entah berapa meriam yang telah terdengar menggetarkan langit, bahkan aku sendiri tidak menghitungnya. Terlalu sibuk dengan mereka, dan luka yang dulu pernah kau sebabkan kini meradang, melebar akibat mereka. Sakit, rasanya begitu sakit, dan aku hampir gila karena ketidak mampuanku, amarah yang menyusupi membuat seranganku berakhir dengan kesia-siaan semata. Kalau saja dia, pemuda yang pernah kujanjikan sesuatu tidak menolongku mungkin—nasibku sama seperti yang dan hanya dua; hidup atau berakhir dengan kematian.

Kreios Ephraim, pemuda distrik satu yang kujanjikan pada malam sebelum sesi wawancara terjadi. Janji membawa pemuda itu menuju tiga besar bersama diriku, dan disitulah kami akan mengakhir janji kami. Sama sepertimu, aku menginginkan mereka memandangku bahwa hanya aku yang dapat melewati batas kemampuanmu. Pada detik janji itu terucap aku pun menyadarinya. Aku sungguh menyadarinya, seakan itu adalah peringatan untuk tidak membuat janji yang tidak akan pernah bisa kupenuhi.

Kenyataannya, ketika aku merasakan tubuh ini mulai merasakan dingin, nafas terasa sesak dan pasokan udara seakan perlahan-lahan menghilang. Aku menyadarinya janji yang kubuat untuk pemuda itu tidak akan pernah bisa kutepati, termasuk bagaimana ketika perasaan ini berubah sepenuhnya pada pemuda satu itu. entah sejak kapan tidak akan pernah tersampaikan selamanya.

Aku mampu merasakan bagaimana darah terus keluar dari bagian kepalaku termasuk tubuh ini. Pandangan yang kini kian buram, membuatku hanya mampu membuat jalan mereka terhambat, kawan sedistriku dan pemuda satu itu. Tapi perhatian itu, rasa khawatir mereka, terutama ketika jemari hangat pemuda satu menyentuh wajahku, hingga aku merasakan bahwa kehangatan itu tidak akan pernah dapat kurasakan lagi.

Apa seperti ini rasanya, brother? Ketika masa kehidupan akan mencapai titik akhir, aku tidak ingin mati. Mati dalam kesia-siaan sebelum semuanya apa yang kuinginkan tercapai. Untuk pertama kalinya aku tidak ingin mati dalam keadaan seperti ini, aku hanya ingin mati setelah menepati janjiku, setelah semua keinginanku untuk melampaui batas kemampuanmu tercapai. Hanya pada saat itu aku rela melepas jiwa dari raga ini. Sayangnya ekpresiku berkata lain. Aku tersenyum seolah tidak pernah terjadi apa-apa pada tubuh ini, tubuh yang akan jatuh dalam satu tarikkan nafas panjang. Bergerak sendiri menyentuh Ephraim, menyerahkan kalung bersimpol tapak beruang yang menjadi pelindungku selama ini, mengutarkaan bagaimana perasaanku pada pemuda itu.

“If you remember me, then I don't care if everyone else forgets.”

Aku tidak peduli, tidak peduli seperti apa perasaan pemuda itu padaku, walau kutahu dia memiliki hubungannya hati dengan peserta terdahulu dan aku hanyalah sosok yang tidak mampu menepati janji hingga akhir hanyatku. Harapan kecilku hanyalah, ia mengingatku, sosok gadis empatbelas tahun yang memiliki mata biru sepertinya. Mengingatku bukan sebagai peserta Hunger Games ke-54 yang mati mengenaskan, tapi sebagai Nicotiana Hernandez, gadis distrik dua yang membuatmu berekspresi hampir seperti ingin menangis.

Dan kini aku merasakan apa yang kau rasakan, brother. Satu tarikan nafas panjang melepasas jiwa dari raga yang kudiami selama hampir limabelas tahun, ucapan selamat tinggal yang dibisikkan oleh mereka pada raga kaku dapat kudengar dan aku hanya mampu terdiam membisu melihat jasadku sendiri. Aku tidak bisa melakukan apapun, tidak mampu menyentuh rekan sedistriku maupun pemuda satu. Seiring itu pula meriam kembali bergemuruh, seakan menahan tangis yang akan ia keluarkan pada saat puncaknya nanti.

Seiring dengan itu aku yang tidak mampu lagi menyentuhnya bahkan ia yang mungkin saja tidak merasakan kehadiranku pun mungkin saja tidak dapat mendengar apa yang kubisikan ditelinganya;

“Aku ibarat sang pemberi janji yang tidak pernah bisa memenuhi dan biarlah kalung itu menjadi pelindungmu, menggantikan diriku untuk menghantarkanmu menjadi pemenang.”

Kau pernah merasakan hal yang seperti ini bukan, brother? Atau pasti setidaknya pernah menduga akan ada penghiantan diantara mereka. Kekejaman Capitol dan keinginan untuk hidup itulah yang memotivasi mereka, bukan begitu brother? Seandainya, seandainya jika jiwa ini masih memiliki tubuh, kau pastilah tahu apa yang kupikirkan dan mengganggap hal itu adalah hal terbodoh. Mungkin kau membenciku atas dasar tindakkanku menaruh perhatian lebih pada distrik satu, sama seperti aku membenci perhatianmu pada distrik satu. Kini aku tahu ‘kita tidak bisa membenci seseorang tanpa sebab alasan khusus, karena kebencian itu tercipta kita tidak akan tahu kapan perasaan itu akan mulai berubah.’ Itu bukan yang ingin kau katakan padaku.

Dan pada akhir permainan ini aku melihatnya, brother. tubuhnya telah kehilangan dua anggota tubuh, dan tergeletak seakan nyawanya hampir menuju akhir, setelah meriam terakhir berdesing memekakkan telinga, aku tahu dialah pemenangnya. Walau tanpa janjiku yang tidak mampu kupenuhi dari awal aku tahu dia akan menjadi pemenangnya. Untuk kesekian kalinya aku tahu suaraku mungkin tidak akan bisa terdengar ditelinganya.

‘Kreios Ephraim, ijinkalah aku menjadi malaikat pelindungmu sampai detik nafas terakhir jiwamu terlepas dari raga.’



.:: The End ::.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Free Forums. Reliable service with over 8 years of experience.
« Previous Topic · Fanfictions · Next Topic »
Add Reply


Theme design by Drama, theme coding by Lewis. of Outline and edited by Ntin, Ubi, and Ilma.