|
TENTANG INDOCAPITOL THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI AFFILIASI [hunger games] TRAINING CENTER ARENA | ![]() Selamat datang di INDOCAPITOL. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games trilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan masuk menjadi penghuni dari salah satu distrik dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Semoga keberuntungan menyertai kalian. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. TERM #4 : 2188 - 2189 Kuota Asia: 2/2 (Raven Cleavage & Isaiah Grimmsey) - 0/2 ( ... & ... ) Penduduk Capitol: 8/8 Kuota Topik AU: 5/5 Distrik Satu: 1/2 || Distrik Dua: 1/2 || Distrik Empat: 0/2 Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | |
Jangan lupa untuk turut memberikan suara untuk gathering akbar kolaborasi dengan Tower Prep RPG dan Battle Royale RPF, lho! ┌(・。・)┘♪└(・。・)┐♪┌(・。・)┘ Segenap staff Indonesian Capitol mengucapkan, 'YANG GAK IKUTAN KASIH SUARA, GAK GAHOL!' Batas waktu volunteer atau mengajukan diri sebagai peserta, paling lambat 30 April 2013 pukul 05.00 WIB. |
||
| Waktu | Update |
|---|---|
| Rabu, 5 Juni 2013; 23:00 WIB | TOPIK TIGA ARENA DITUTUP. YAY. (ノ◕ヮ◕)ノ*:・゚✧ |
| Kamis, 6 Juni 2013; 12:30 WIB | TOPIK TIGA ARENA DIBUKA. YAY. (ノ◕ヮ◕)ノ*:・゚✧ |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Seluruh Member | Silahkan cek Seputar Post dan Pemungutan Suara |
| Seluruh Peserta | Silahkan cek Daftar Pembina & Asisten Pembina Permainan, Pelatih, dan Peserta Quarter Quell ke-2 (Hunger Games ke-50). |
| Seluruh Peserta | Silahkan cek Panduan Quarter Quell ke-2 (Hunger Games ke-50). |
| Cornucopia - Feast - Enam Besar | |
|---|---|
| Topic Started: Saturday Jul 14 2012, 07:03 PM (2,698 Views) | |
| Seneca Crane | Saturday Jul 14 2012, 07:03 PM Post #1 |
![]()
|
Guncangan ringan sekali lagi seiring dengan letusan meriam untuk yang kedelapan belas. Alesia Russo menutup hidangan pembuka dan membuka makanan intinya. Sepuluh menit guncangan ini menuju pesta akhir. Feast. Pesta untuk enam besar. Kemudian suaranya sendiri mulai bergaung. Memberikan sambutan dari ruang Pembina Permainan di Capitol dan bersamaan dengan dinding-dinding labirin berubah dan menampakkan Cornucopia. Lima meter tak jauh dari muka terompet, terdapat sebuah meja panjang. Panem, Arena, dan Enam Peserta. "Selamat siang, Peserta. Tentu satu setengah bulan ini berat sekali untuk kalian." Chuckle. "Oleh karena itu, kubiarkan kalian beristirahat dulu. Ada enam ransel. Dengan angka bertuliskan distrik kalian dan nama depan kalian. Di dalam sana, semua yang kalian butuhkan ada." Ini permainannya. Arena ini milik Seneca Crane. Labirin ini ada karena idenya. Dan semua kengerian di dalamnya sudah disalurkan dengan baik serta tertata. Capitol mengharapkan pertunjukan menarik, Crane muda itu memberikannya. Dengan baik. Hai, Corialonus. Aku minta gaji lebih tinggi setelah ini. Empat Karier masih tersisa nyaris tanpa cacat di dalam Arena. Enam tas. Enam ransel. Enam sokongan untuk menjadi pemenang. Empat di antaranya yang paling besar bertuliskan angka Satu dan Empat. Sungguh miris mengingat ternyata kemampuan Dua hanya sampai disitu. Untuk Satu, perempuan: sebuah ransel yang berisikan roti distrik satu, obat-obatan, dan salep. Meredakan rasa sakit dan beberapa luka gores yang ada di permukaan kulit gadis Lore. Monoton, memang. Kau berharap senjata? Yah, mimpi saja sana. Larangan pengiriman senjata sebagai sponsor sedang ia terapkan disini. [HP +50 (sponsor), +5 (sponsor yang kurang dari yang telah dikirim), & HP +10 (feast)] Untuk Satu, laki-laki: sama persis dengan perempuan. Hanya saja, lebih terpusat pada obat-obatan. Yang satu ini terlihat sangat kepayahan. Pribadi dalam opini Seneca, melihat pemuda yang begitu haus dengan kemenangan, mungkin sebagian besar pembina permainan berharap ia menang. Oh. Ini hadiah dari Sembilan, omong-omong. Mengherankan. Bukannya diberikan pada Chloe, tetapi pemuda ini. Pft. [HP +37 (sponsor hibahan dari Klaus), +27 (sponsor hibahan dari distrik Sembilan, Klaus), +5 (sponsor yang kurang dari yang telah dikirim), & HP +10 (feast)] Untuk Dua; laki-laki: permainan menarik. Dan sponsor yang datang untukmu terlalu banyak, tuan. Seharusnya Capitol memberikan atensi padamu dengan perkiraan pas. Tidak tiap kali kau sekarat, lalu parasut perak itu berhenti di atas kepalamu. [HP +10 (feast) & HP +25 (sponsor hibahan dari Solanin)] Untuk Empat, laki-laki: atensi Capitol berpusat padanya. Panem berhutang padanya? Atau sikap tenang dan santai itu yang membuat Capitol penasaran jika pemuda Empat keluar sebagai pemenang. Roti distrik Tiga, perban, roti distrik Empat, roti distrik Delapan, obat godokan Capitol, dan beberapa multivitamin ada di ransel bertuliskan angka Empat. Karier, eh? Kerjamu lumayan, Evertsen. [HP +50 (sponsor hibahan dari Sean), +17 (sponsor dari distrik Tiga) ,+23 (sponsor dari Distrik), +23 (sponsor hibahan dari Alethea; distrik) , +21 (sponsor distrik hibahan dari Mirabelle Chase), & HP +10 (feast)] Untuk Lima; laki-laki: halo lagi, Ledbury. Belum berniat menyusul saudara kembarmu, rupanya. Seharusnya Blaine memberikan pertunjukan sama menariknya denganmu. Lima bertahan hingga enam besar. Hingga pesta ini. Ada multivitamin dan pereda nyeri dalam tas paling mungil di meja. Milikmu, ya. [HP +10 (feast)] Untuk Sembilan; perempuan: bertahan rupanya. Ransel yang sama kecilnya dengan sokongan yang juga sama persis. Hanya obat pereda rasa nyeri. Kau bisa bertahan hingga detik ini, nona. Tapi untuk pulang? Sepertinya Katarina sudah pasrah saja menerima bahwa Sembilan punya nasib sama dengan sebelumnya. Sepertinya, oke. Opini semata. [HP +10 (feast)] Selesai. Enam ransel itu sudah berdiam manis di atas meja. Menunggu pemiliknya untuk maju dan mengambil ransel masing-masing. Pintarlah. Jangan mengambil ransel milik peserta lain kalau kau mau hidup. Kallian sudah mendapatkan hak masing-masing. Pemuda Crane tidak menginginkan kalian curang dalam labirinnya. Sedikit saja kalian melirik ransel distrik lain, labirin siap berubah untuk yang berani mengambil resiko tersebut. Dia serius, sobat. Jangan macam-macam. OOC? Intip di Panduan di Dalam Arena. Post pertama dalam topik ini diharuskan off roll dan deskripkan saja kalian mengambil ransel masing-masing. Peserta diperbolehkan mulai menyerang setelah keenam karakter melakukan post. Edited by Seneca Crane, Sunday Jul 15 2012, 10:19 AM.
|
![]() |
|
| Blaire Ledbury | Sunday Jul 15 2012, 10:36 AM Post #2 |
|
DISTRIK LIMA HP: 29 (sudah ditambah 10 HP dari Feast) // AP: - // KS: - // offroll Tawa yang berada di antara kata-kata Seneca Crane itu entah kenapa terdengar... mesum. Baiklah, Blaire harus mengakui dibandingkan memikirkan soal Seneca Crane itu mesum atau tidak, tetap saja dia sudah berada di depan jurang maut, menunggu siapapun yang berbaik hati mendorongnya jatuh. Iya, dia masuk enam besar. Iya, dia satu-satunya laki-laki dari distrik bukan karier yang tersisa. Sisanya? Hanya gumpalan daging berambut merah yang tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Satu setengah bulan ini membuat Blaire menjadi tidak berdaya sampai kelelahan untuk berniat hidup sekalipun. Untuk memulai deskripsi memelasnya, Blaire mendapatkan luka yang cukup dalam akibat serangan singa mesum. Setelahnya, dia diserang oleh Magnus dengan senjata pedang di beberapa tempat. Untung Magnus tidak mesum sekalipun ada gosip penyimpangan seksual pria itu yang membuatnya jadi tampak mesum. Setelahnya, Blaire mendapatkan sponsor sehingga rasa sakitnya diobrak-abrik, namun diserang muttan mesum bernama Pierce. Pakai bakar-bakaran bagian sensitif Blaire pula—mungkin niatnya bikin Blaire terasa hot tapi itu justru membuatnya merasa Pierce semakin mesum. Terutama menemukan fakta Pierce adalah hasil dari kemesuman Capitol pada Alethea, sebagai anak pertama dari dua muttan bersaudara. Sisanya, Blaire diserang oleh Zinnia yang menuntut Blaire membunuhnya, namun gagal dan malah berbalik diserang. Kenapa inti Hunger Games di mata Blaire Ledbury hanya penuh perilaku mesum? Dia tidak ingin dikenang sebagai peserta dengan julukan 'pria mesum yang ditindaki mesum'. Soalnya, tindakan Blaire mendukung. Dia tadi mencengkram bahu Zinnia yang menangis dan memelas. Kalau ditangkap dari sudut berbeda, Blaire jelas akan dianggap sebagai penjahatnya. Untunglah sepuluh menit setelah meriam ke-18 meletus, mereka dituntut kembali ke Cornucopia. Blaire mengetahui itu sebagai 'Pesta'—namun dia juga tahu apa yang terjadi di sana sebaik namanya. Baginya ini adalah Mandi Darah jilid 3. Dua puluh empat dibagi dua menjadi dua belas di empat Arena, lalu dibagi dua lagi menjadi enam sampai Pesta. Dia tidak yakin ingin melihat bagaimana di tiga besar. Yang jelas dia harus pergi. Dia sudah mengatakan pada Zinnia untuk tetap hidup dan mencari jawaban. Bersama-sama agak berlebihan namun Blaire pasrah saja kalau dilumat Zinnia. Begitu ransel mereka tiba dalam jangkauannya, Blaire berlari cepat sekali sampai darah tampak berkibar di belakangnya. Sekejap dia menyambar ransel miliknya, menoleh sekilas pada Zinnia lalu pada ransel milik Satu, namun kemudian pergi kembali, mencari tempat aman untuk memulihkan diri. Gestur tadi adalah saran agar Zinnia juga cepat-cepat mengambil ransel miliknya dan bahwa Blaire tidak berminat mengusik ransel milik peserta lainnya. Isi ranselnya? Multivitamin. Blaire tertawa parau. Apa yang Capitol harapkan dengan obat itu—menimpuk peserta lain? Sekalian saja kasih dia obat kuat biar makin menegaskan citra pria yang terkait mesum. Namun, Blaire toh tetap melahapnya. Air mata mengucur, bercampur darah dari wajah yang digilasnya. Tetap saja, dia adalah orang yang brengsek. Tetap saja, dia tetap menginginkan hidup. Tetap saja, dia menunggu dalam diam peserta lain menyerangnya, kalau bukan dihabisi sendiri oleh mutt atau perubahan Arena mendadak. |
![]() |
|
| Reef Evertsen | Sunday Jul 15 2012, 11:58 AM Post #3 |
![]()
Pemenang Hunger Games #48
|
DISTRIK 4 HP: 223 Nyaris saja ia kembali menikam Chloe Whitmore jika labirinnya tidak bergerak dan membawa mereka ke Cornucopia, dimana terdapat enam ransel dengan angka-angka yang diyakini Reef sebagai distrik-distrik asal peserta yang masih tersisa—Satu, Dua, Empat, Lima, Sembilan. Suara Seneca Burung Bangau menggema, memberitahu bahwa ransel itu memang ditujukan untuk mereka. Segelintir memori membawa Reef menuju kata feast. Ini sudah enam besar, kan? Ah. Dia lupa kalau Karier sudah bubar sejak kematian Solanin. Dalam posisi terduduk, ia memandangi peserta-peserta lain. Dengan luka di sekujur tubuh, mereka tetap berjalan menghampiri ransel di depan. Reef sudah ogah berlari seperti yang dilakukan Blaire Ledbury hingga membuat darahnya di punggungnya berkibar (…lo kata bendera?). Toh, peserta lain juga pasti lelah secara mental dan fisik, dan tidak berminat untuk mengambil ransel milik peserta lain. Kalaupun ada yang menyerangnya, Reef sudah siap dengan trisula di tangan kirinya. Lantas ia berjalan kembali menjauhi Cornucopia, mencari tempat yang aman untuk mulai menggeledah isi tasnya yang gemuk itu. Karena seberat ini, ia jadi curiga isinya bom, asal tahu saja. Tapi ternyata dugaannya salah. Ada berbagai macam barang yang bisa dikonsumsi di dalam tasnya, seperti roti dan obat-obatan. Yang mengejutkan, ada tiga buah roti dengan bentuk berbeda. Yang satu adalah roti yang ia kenal baik—roti berbentuk ikan dengan bau asin bak laut. Pastilah roti dari distriknya, yang eksistensinya begitu dirindukan Reef. Satu roti lainnya adalah satu roti pipih dengan butiran-butiran hitam di atasnya, sementara yang satunya lagi berbentuk kotak seukuran mulut. Ia pun mencoba mengingat-ingat rekaman Hunger Games tahun-tahun lalu yang ditontonnya. Rasanya ia mengetahui asal kedua roti ini— Distrik Delapan dan Tiga. Distrik asal Mirabelle dan Sean. “…” Oh, betapa baiknya kawan-kawan kecilmu itu. …siapa kau sebenarnya? Mengetahuiku malah akan membuat semangatmu turun, Evertsen muda. Sebaiknya kurahasiakan identitasku sampai nanti. Apa maumu? Mauku? Tentu saja agar kau tidak terlihat lemah dan memalukan, bocah berponi. Enam Besar dan belum membunuh siapa-siapa? Aku terkejut. Tapi jika kau terus-terusan begini, kau yakin mau menang? Aku punya strategi sendiri. Strategi? Terus berlari sampai mati diterjang mutt hewan? Tolol. Orang macam kau tidak pantas memenangi permainan ini. Berisik! Well, duh. Kasihan sekali orang-orang yang menghibahkan sponsor kepadamu, terutama orang-orang dari distrik rendahan itu. Pada akhirnya kau akan mati konyol di si— TUTUP MULUT BEJATMU, BEDEBAH! Aku akan memenangkan permainan ini dengan caraku sendiri dan jangan coba-coba untuk memengaruhiku lagi! Ya, ya, ya—kalau itu memang maumu. Membosankan. Selamat berjuang, deh. Kepalanya terasa sakit lagi. Untung saja multivitamin dan obat-obatan yang ditegaknya cukup untuk mengatasi rasa sakit tersebut. Roti-roti yang tadi hanya dipandanginya juga kembali memulihkan staminanya. Perban yang tersedia digunakannya untuk menutup luka di sekitar pinggang dan lengan atas (oh, andai saja ada Alethea yang pandai dalam hal begini, sebab ia benar-benar payah dalam memperban dirinya sendiri). Ia pun mampu berdiri kembali dan menatap orang-orang di sekitarnya—lawan-lawannya. Tidak ada lagi aliansi atau persahabatan. Semuanya ditentukan di sini; apakah ia akan menang atau kalah, apakah ia akan tetap hidup atau mati, apakah ia akan menepati janjinya kepada Aletha untuk pulang atau tidak. Tapi di sisi lain, masih ada yang mengusik pikirannya. Suara itu—siapa? 400++ words. Referensi roti Distrik 8 dan Distrik 3. CMIIW. |
![]() |
|
| Zinnia Lore | Sunday Jul 15 2012, 04:28 PM Post #4 |
![]()
|
DISTRIK 1 HP: 109 Just be yourself 'til the end... Nama pemuda itu Blaire, katanya. Zinnia membalas dengan anggukan di sela sedu sedan tangisnya. Pemuda itu terus mengucapkan kata-kata. Bahwa dirinya telah dimaafkan karena telah membunuh Wynona Breeze, bahwa pemuda itu takkan membunuhnya pun takkan membiarkan Zinnia membunuhnya dan banyak lagi hal-hal yang membuatnya semakin terheran-heran. Blaire terlalu baik dan itu membuatnya waspada. Selama ini, seumur hidupnya, tak ada orang yang memperlakukan dirinya seperti Blaire. Mama saja tak bisa memaafkannya padahal ia tak membunuh Papa. Tapi Blaire memaafkan dirinya yang jelas-jelas telah membunuh Wynona. Semua ini terlalu aneh. Membuatnya sedikit tergoncang. Bagaimana kalau Blaire hanya pura-pura? Lalu di saat ia lengah, pemuda itu akan memenggal kepalanya, mungkin. Zinnia menghela napas, perlahan-lahan menghentikan sedu sedannya. Blaire tak mungkin pura-pura, kan? Jika ingin membunuhnya, sejak tadi pun ia sudah pasrah. Tak ada alasan untuk Blaire berbohong padanya. Dan, tepat ketika ia melepaskan diri dari pemuda itu, tanah kembali bergetar. Buru-buru Zinnia berjongkok, mengambil pedang untuk berjaga-jaga. Saat gempa berhenti, lagi-lagi mereka telah berpindah tempat. Kembali ke Cornucopia. Pesta. Enam peserta tersisa sekarang. Dan tak jauh dari muka terompet, enam buah ransel berjejer di atas meja. Ia melihat ransel miliknya di sana. Mungkin berisi sesuatu untuk mengobati luka parah di perutnya. Dipandanginya orang-orang yang mulai bergerak, ia pun mencoba untuk berlari sambil menyeret pedangnya. Diambilnya ransel yang ditujukan untuknya dan ia kembali mencari tempat aman. Kakinya membawa ia ke tempat di mana Blaire berada. Roti, obat-obatan dan salep. Hanya itu yang ada di dalam ranselnya. Tak ada perban untuk menutupi lubang di perutnya akibat ditembus dengan lembing. Zinnia menjilat bibir bawahnya, melahap roti dari distrik satu dengan cepat, membuatnya kembali teringat pada rumah. Pada Zephaniah. Dan, ia tersenyum. Pedih. Ia tahu, ia takkan pulang. Tak ingin pulang. Ia akan menebus dosanya di tempat ini. Ia akan membiarkan dirinya menjadi santapan setan karena dosa-dosanya. Pikiran itu membuatnya merasa lebih baik daripada pulang dengan membawa rasa bersalah yang takkan pernah hilang seumur hidupnya. Sebentar lagi, pedang di tangannya mungkin akan kembali merengguti nyawa peserta. Atau mungkin nyawanya yang akan tercabut pergi. Segera... setelah ia mengobati luka-lukanya dengan salep dan menelan obat yang dikirim para sponsor yang entah bagaimana masih berharap pada gadis kecil menyedihkan seperti dirinya. Ia pun telah menetapkan lawannya. Pemuda itu. Mataharinya. |
![]() |
|
| Arch Halmington | Monday Jul 16 2012, 02:17 AM Post #5 |
![]()
|
DISTRIK 2 HP : 107 ಠ_ಠ || OFFROLL Nothing hurts my world just affects the ones around me *** Untuk detik terakhir...dia tidak menyerah. Dia berhasil menuntaskan tugasnya tadi. Membunuh pemuda dari distrik tiga itu. Ketika pedang panjangnya menembus batang tenggorokan pemuda itu, brengsek ini yakin pemuda itu tidak akan lama bertahan. Pun ketika pemuda itu berjalan ke arah pemuda dari fistrik Empat, Reef. Entah hubungan apa yang di bagi oleh mereka yang titelnya berbeda, karier dan non-karier. Dia tidak peduli. Fisik pemuda ini telah rontok. Dia terduduk memegang lukanya yang bersimbah darah dan dengan tololnya mengambil sokongan hidup yang di beri oleh Capitol, parasut perak yang tadi jatuh tepat di sebelahnya. Di liriknya notes kecil yang ternyata berasal dari Akins. Lalu segalanya runtuh. Runtuh bagai visualisasi yang pertama kali di tangkap oleh biner biru elektrik ini membawa ketenangan, sekarang menjadi neraka darah. Rasa-rasanya dia menjadi satu-satunya yang menanggung dunia ini untuk tetap utuh. Dari Solanin. Terima kasih untuk percakapan menyenangkan di malam sunyi itu, ujarnya. Kau harus pulang, Arch-angel. Harus. BOOOM! Tidak pernah. Tidak pernah di rasakan olehnya bahwasanya dia akan kembali menanggung beban berat. Nyawanya kembali di sambung. Di sambung oleh tali yang di namakan tali beban. Sekali sudah dia merasakan nyawanya berada di ujung tanduk. Ketika berada di dalam Labirin dan si cewek sial dari distrik rendahan yang entah siapa itu berani melawannya. Mendesaknya sedemikian rupa hingga parasut perak berisikan segala perobatan canggih milik Capitol berhasil membuatnya kembali terjaga dan berusaha membantai gadis itu. Kali ini... dia pun di sudutkan oleh pemuda dari distrik Tiga, distrik tidak-elit. Di sudutkan sedemikian rupa hingga akhirnya kembali turun parasut perak memperpanjang nafasnya. Memperpanjang sebuah nyawa di raga yang rusak dengan hati dan jiwa yang tak kalah rusaknya dari seorang mesin pembunuh ini. Tugasnya kini bertambah... —dia bagai di paksa bekerja rodi oleh para cecunguk Capitol. Sekarang Arch sudah tahu, bahwa hanya tersisa enam orang yang masih selamat dari pesta darah yang baru saja terjadi. Sudah saatnya puncak dari Hunger Games ini di mulai. Semua hanya makanan pembuka dan saat ini—hidangan yang sesungguhnya muncul. Terkadang bahkan pemuda ini lupa bahwa saat ini dia di tayangkan di seluruh penjuru Panem. Dia tidak memikirkan apakah performanya telah bagus atau tidak. Dia tidak memikirkan hal-hal lain selain tugasnya. Tujuannya di lahirkan ke dunia ini. Menyingkirkan tribut rendahan yang tidak pantas menyandang gelar pemenang Hunger Games dan memenangkan permainan ini seperti yang di harapkan si Tua Bermouth. Seperti yang harusnya terjadi, karier distrik Dua menang. Seharusnya, menang dengan kebanggaan dan kekuatan absolut. Namun terpikir olehnya, untuk apa dia menang? Dia tidak punya tujuan hidup. Alasan untuk hidup. Takdir berkata bahwa dia akan menjadi mesin pembunuh dan dia melaksanakan sebagaimana takdir menginginkannya. Sebagaimana ayahnya menginginkannya. Sebagaimana Capitol menginginkannya. Namun semua itu mulai terasa salah. Sosok gadis yang kini terbujur kaku di sebelahnya, rekan sedistriknya, si gadis Myron menyadarkannya. Gadis itu lebih pantas hidup. Dia punya keluarga yang menunggunya di rumah sana. Dia bahkan menganggap distrik Dua, tempat itu sebagai rumah. Sedangkan Arch? Tidak. He doesn't even know where his home— Namun dia di beri beban. Beban seberat bumi ini untuk pulang. Pulang kemana? Ke distrik Dua? ...buat apa? Mencicipi nikmatnya menjadi pemenang? Menikmati hidup tenang di desa pemenang dan bertetangga dengan Akins dan Brutus? Merasakan tepukan bangga ayahnya dan sorak sorai distrik Dua yang menyambutnya sebagai pemenang Hunger Games ke-empat puluh delapan? Mendapat tatapan penuh benci dari Tiga karena telah membantai kedua tribut mereka? Pun dengan distrik lain yang sama membencinya hingga ke tulang-tulang serta nadi mereka. Menikmati kembali mewahnya Capitol dan menjadi bagian dari orang aneh itu? Bukan. Bukan itu. Tapi untuk membayar seluruh kesalahan-kesalahanmu. Membayarnya dengan apa? Salahnya apa? Dia berbuat benar, kan? Dia melaksanakan tugasnya. Dia berhasil menyingkirkan kecoa-kecoa menjijikkan itu dan berhasil bertahan hidup hingga sekarang—meski sudah dua kali dia sekarat. Sedikit lagi dia akan bisa mencicipi kemenangan yang di dambakan oleh setiap penduduk distrik Dua itu. Dia akan menjadi Iblis terbaik di antara semuanya. Iblis yang tertangguh dan berhasil menjadi bagian dari harapan Panem. Menjadi orang yang cukup punya kuasa di distriknya. Pulang dengan bangga ke distriknya, distrik Dua. Namun dia salah— —tidak akan pernah ada yang pulang dari Arena. Jadi untuk apa dia menang? Dengar, Arch. Dengar di dasar hatimu. Dengar bisikan bidadari itu. Kau ingin menang karena kau memang ingin menang. Kau kuat, kau tangguh, kau tidak ingin mati, kan? Kau. Takut. Mati. Your ego and pride will never let you die, easily. You're the Lucifer. *** When sins deep in my blood You'll be the one to fall *** Bumi kembali bergetar dan labirin kembali berubah. Saat ini dia masih tetap berada di Arena. Menunggu ajal menjemput, atau melawan ajal yang datang. Dinding-dinding labirin menunjukkan Cornucopia. Sisa enam pejuang yang masih berada di Arena. Empat laki-laki dan dua perempuan. Arch masih bisa melihat sosok gadis menyusahkan saat masih di Bloodbaths dulu. Masih bertahan hingga sekarang. Bahkan rasa dendam akibat luka yang di torehkan gadis itu masih membekas di dirinya membuat dirinya bukan main marahnya. Namun saat ini dia harus tenang. Mulai saat ini, strategi dan otak masuk dalam pola pikirnya. Dia tidak bisa sembarangan main bantai begitu saja. Anggaplah perpanjangan hidup yang di berikan Capitol adalah suatu kesempatan baginya. Demi menuntaskan segalanya. He's insane and he'll never stop. Terimalah kenyataan bahwa saat ini, sang mesin pembunuh, benar-benar telah berubah menjadi Iblis. The Lucifer. |
![]() |
|
| Magnus Leclancher | Monday Jul 16 2012, 10:42 AM Post #6 |
![]()
|
Distrik 1 104 [kalau salah tolong benerin] || Off Roll Yang benar saja, kenapa hama itu masih hidup disini? Kenapa Zinnia tidak tebas mati saja sekalian? HAH! Lemah! Terlalu lemah sampai mungkin ia mampu menempeleng kepala mahluk pecinta darah yang tidak mampu membunuh hama laknat dari distrik rendahan. Enam? Bangga kah seorang Magnus Leclancher mendapatkan posisi enam besar? Tentu saja. TIDAK!!! Bagaimana mungkin ia bisa berbangga diri sementara tahun lalu terdapat seorang bocah kecil berusia dua belas tahun menempati posisi lima besar? Kakaknya? Mati terbunuh tanpa lengan. HAH! MAMPUS!!!! Kalian para hama pergi saja cepat-cepat, mengais pengampunan, atau minta dibunuh secara manusiawi mungkin—oleh mutt! Jangan meminta hal yang paling mustahil dari perwakilan distrik paling pertama, my dear. Magnus Leclancher tidak sudi membunuh hamanya dengan cara yang wajar, terlalu cliché. Sebuah adegan mutilasi tentunya tidak hanya membuat para penduduk Capitol terduduk pada ujung kursinya sambil menggenggam sandaran tangannya sendiri. Tapi termasuk dirinya sendiri, memuaskan hasrat bermain. Menghilangkan rasa bosannya akan kehidupan di distrik pertama. PESTA!!!! Akhirnya!!! Penutupan cantik dari karir yang masih mendominasi, pandangannya berawal tertuju pada pasangannya, si mahluk kecil yang entah mengapa mem[unyai obsesi tertentu dengan darah, tentu saja ia akan menyukai bagian inferno ini. Satu anjing dari distrik dua, terlihat seperti kelelahan. HAH! Sudah siap untuk mati sepertinya. Dan yang terakhir siapa lagi kalau bukan satu-satunya perwakilan dari distrik empat, mahluk yang tidak pernah disangka dirinya bisa masuk kedalam empat besar. Selebihnya? Mereka hanya hama laknat yang siap untuk mati? Aliansi sudah tidak berlaku disini. Siapa yang akan diserang dirinya? Ekor mata melirik kearah anjing dan ikan secara bergantian, sementara menimbang yang mana yang akan di habisi nyawanya paling awal. Sementara hama laknat sudah pasti si kecil haus darah ini mengincar mereka sejak awal. Ready—Steady— |
![]() |
|
| Chloe Whitmore | Monday Jul 16 2012, 09:47 PM Post #7 |
![]()
|
DISTRIK 9 HP: 24..? || Off roll Beradu, menyerang, dan membunuh satu sama lain. Bahkan sebelum ia mengetahui siapa pembunuh Klaus, kedua orang temannya lebih dulu menyusul. Ia melihat jelas tubuh sang kusir kereta labunya yang tak lagi utuh, Black Cyan. Kemudian, disusul oleh Sean yang sebelumnya sempat berhadapan dengan dua orang karier. Sementara dirinya, terlalu pengecut. Benar kata Reef, ia memang tidak pantas untuk hidup apalagi menang. Air matanya sarat, dan ia sendiri masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mauve, penyerangannya hanya dipusatkan pada muttan tersebut. Namun, toh, hal tersebut tidak berlangsung lama. Dua luka tusukan pada batang lehernya. Sekarat, namun ia masih diberi kesempatan untuk bernapas, entah akan bertahan sampai berapa detik ke depan. Penglihatannya tak lagi sejelas sebelumnya, kunang-kunang. Kepalanya pening bukan main. Andai saja, arenanya tetap seperti ini, mungkin ia sudah terbunuh di tangan Reef. Bersamaan dengan meriam yang diletuskan barusan, dinding-dinding labirin kembali berderak. Bergeser, mengantarkan mereka ke sisi lain labirin. Sembunyi, kata tersebut sama sekali tak ada artinya. Mereka kembali dipertemukan, kini bersisa enam kalau ia tak salah hitung. Dan ia bisa mengingat lokasi ini. Cornucopia, eh. Ia tak tahu siapa saja mayat yang bergelimpangan di sini beberapa minggu yang lalu. Akan tetapi, yang jelas, tempat ini akan menjadi medan dimana ruh-nya akan terpisah dari jasad. Malaikat pencabut nyawa yang biasa dicarinya, mungkin sudah menunggu di sini sedari lama. Mungkin tengah mempersiapkan tempat terbaik untuknya ketika menghembuskan napas terakhir, nanti. Seperti biasa, karier selalu mendominasi. Hanya minus dua dari enam. Satu masih utuh keduanya, dua dan empat hanya tinggal yang laki-laki. Non karier, keberuntungan hanya berpihak pada dirinya dan seorang peserta distrik lima Blaire Ledbury. Itupun, keduanya sudah tampak kepayahan. Oh, lihat saja nanti, karier akan bersikap layaknya penghuni distrik rendah yang kelaparan dan menganggap dirinya sebagai santapan. Reef bodoh, seharusnya langsung saja hunus jantung miliknya. Seharusnya, ia sudah mati. Yang benar saja, enam besar adalah saat dimana Capitol semakin menaruh harapan pada taruhan konyol yang mereka adakan. Sementara itu, ia kembali diberikan hak atas sebuah ransel. Tidak seberat ransel daun maplenya yang pertama. Kali ini, isinya hanya pereda rasa nyeri, seperti begitu. Lumayan untuk menunda kematian satu detik ke depannya. Seperti sebelumnya, ia tak pernah berubah. Ia tidak akan tega membunuh siapapun, ia pun tak berencana. Satu-satunya hal yang ingin diubahnya adalah ketakutannya pada kematian. Tindakannya yang selama ini cenderung pengecut, bukan tontonan bagus bagi sembilan. Oh, ia melupakan satu hal lainnya. Ya, Chloe harus mulai berpaling dari busurnya. Penyerangan jarak dekat lebih efektif. Mulai saja. Ya, bunuh saja dirinya sekarang. ...Itu kan yang kalian tunggu? CMIIW |
![]() |
|
| Arch Halmington | Monday Jul 16 2012, 10:06 PM Post #8 |
![]()
|
DISTRIK 2 HP : 107 ಠ_ಠ TARGET: ZINNIA || AP: [result]11&8,1d8,3,11&1d8+3[/result] || KS: [result]3&3,1d13,0,3&1d13[/result] ヽ(#`Д´)ノ ︵ ┻━┻ Di tatapnya Cornucopia. Tetap sama. Hanya saja enam tas berukuran berbeda-beda berada di terompet emas. Feast. Pesta yang di adakan oleh pembina permainan di Cornucopia. Hadiah bagi para pejuang yang masih bertahan di enam besar. Enam besar yang artinya lima korban lagi. Korban yang akan mengantarkan salah satu dari mereka merasakan kejayaan sang pemenang. Merasakan bagaimana rasanya pulang kembali ke rumah. Merasakan teror Arena yang tidak akan pernah berhenti hingga kau mati. Five more and it's over. Pemuda itu menggandeng ransel distriknya. Dia sempat mengambil ranselnya sesaat sebelum akhirnya dia memaksakan tungkainya untuk bergerak ke zona aman. Tidak berada di dekat tribut lainnya. Saat ini aliansi karier sudah runtuh, dia tidak bisa meremehkan begitu saja lawan-lawannya. Tubuhnya yang bertelanjang dada merasakan gelitik angin dingin dengan kesan suram kembali di Cornucopia. Dinding labirin masih menyisakan visualisasi kengerian di dalamnya. Arch dengan cepat memeriksa ranselnya dan parasut perak yang baru saja turun barangkali sepuluh menit yang lalu. Masih ada sisa perban yang belum terpakai. Obat penghilang rasa sakit telah habis memang, namun dia mendapat penggantinya. Dengan cepat pemuda itu mempersiapkan dirinya kembali dengan utuh. Seluruh perbannya di gunakan untuk menutup luka sayatan panjang di dadanya. Hatinya yang tertusuk oleh belati pemuda dari Tiga itu dengan ajaib telah berhenti pendarahannya akibat obat godokan Capitol. Saat ini dia merasa kembali sehat. Keletihan dan kepedihan yang dia rasakan satu jam yang lalu seperti di bawa pergi semuanya oleh obat godokan Capitol ini. Seperti rasa semu yang muncul hanya untuk membohongi bahwa semua baik-baik saja. Setelah segala persiapannya selesai, dia menatap dalam diam lawan-lawannya. Belum menetapkan sasaran siapa yang harus dia lawan selanjutnya. Bau anyir darah dan debu dari pertempuran sebelumnya masih tercetak jelas. Dia bukannya tengah mempersiapkan diri di wawancara di depan seluruh penduduk Panem. Dia hanya mempersiapkan diri untuk pesta selanjutnya. Pesta dimana dia akan menjadi bintangnya. Dia berjanji akan menepati dan mengerjakan semua beban yang di timpakan padanya. Seperti menjadi mesin pembunuh bagi Capitol padahal dia tidak ingin. Dan sekarang dia akan berjuang memanggul beban yang di berikan oleh Solanin untuknya agar pulang ke rumah menggantikannya. Yang untungnya bebannya saat ini sejalan dengan keinginannya. Ego and Pride, huh? The Lucifer. Namun dia masih merasakan kemarahan dan kebencian yang mendalam. Yang seharusnya tidak boleh dia rasakan sekarang. Pasalnya kebencian dan kemarahannya ini untuk Capitol. Yah, dia yang selama ini menjadi anjing bagi Capitol akhirnya dapat merasakan marah luar biasa untuk Capitol. Rasa marah yang mengganggunya karena semua ini seharusnya tidak akan terjadi jika Capitol tidak membuat permainan terkutuk ini. Si gadis ikan tidak akan mungkin mati dan mungkin masih tetap akan memamerkan cengiran bodohnya di depan pemuda ini yang dapat membuat pemuda ini merasakan sesuatu yang lain. Solanin tidak akan mati dan masih akan tertawa mengejeknya sembari mereka berdua meminum teh Earl Gray yang hangat tapi pahit. ...dan gadis itu tidak akan berubah menjadi gila. Si gadis Satu, Zinnia Lore. Coklat batangan-nya. Lalu seketika itu juga dia mengerti siapa yang harus dia lawan. *** Nothing will last in this life Our time is spent constructing Now you're perfecting a world Meant to sin *** Pemuda itu menggerakkan tungkainya dan menatap sosok peremupuan bersurai pirang itu dingin. Gadis ini sama sekali tidak pantas berada di Arena. Lihat saja bagaimana tadi dia melawan para kecoa-kecoa yang masih saja ingin bertahan hidup itu. Bagaimana perempuan itu dengan baiknya mempertemukan kedua mayat dari sepuluh dan tujuh. Lalu di lanjuti dengan perlawanannya pada pemuda rambut merah yang terlihat so... dramatic and—Pathetic. Jangan kau kira dia tidak mengerti dengan sekali lihat bahwa Solanin saja jauh lebih baik daripada gadis ini. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkannya begitu saja. Gadis itu sudah gila karena berada terlalu lama di Arena ini. Satu-satunya yang bisa di perbuat oleh pemuda ini adalah mempercepat kepergian si gadis. Biar dia dengan tenang menyusul Solanin dan si gadis ikan di alam sana. Walau sosok gadis menyusahkan yang saat itu berada di Cornucopia itu jelas sama menggodanya baginya. Rasa manis balas dendam itu mungkin tidak akan dia rasakan. Saat ini, ada baiknya dia mempercepat kepergian gadis Satu ini. Kalau memang takdir berkata lain, bahwa dialah yang seharusnya mati di tangan gadis kecil ini, Pun dia tidak akan membiarkan itu terjadi begitu saja. Dia akan tetap terus melawan. Kembali teringat pelukan kecil dan singkat yang di berikan sesaat setelah Iblis ini membunuh gadis dari Tiga. Arch mengeraskan rahangnya. Dalam senyum kaku dan dingin dia berkata, "Kau tampak sama bodohnya seperti tempo lalu, Gadis coklat, Zinnie." Sayang sekali aku harus membunuhmu— Aliansi karier telah berakhir, bukan? Pemuda yang kini bertelanjang dada itu mengayunkan tongkatnya mengincar lengan kanan sang gadis. |
![]() |
|
| Magnus Leclancher | Monday Jul 16 2012, 11:28 PM Post #9 |
![]()
|
Distrik 1 HP: 104 AP:[result]11&8,1d8,3,11&1d8+3[/result] || KS: [result]3&3,1d13,0,3&1d13[/result] || Targer: Hi, Blaire :”) Binernya terpejam dengan bayangan sosok penduduk Capitol yang sedang duduk dengan rahang menegang memandang lekat-lekat layar. Tidak pengecualian penduduk distrik dimana perwakilannya masih dapat hidup. Ah! Tentu saja beberapa diantaranya masih di dominasi karir, bahkan distrik paling pertama masih terdapat sepasang dibanding lainnya yang hanya bersisa satu. Ekor mata kini melirik kearah perwakilan dari distriknya, gadis haus darah. Beralih ke seekor anjing yang sepertinya sudah tidak sabar mendengar pluit yang akan ditiupkan untuk menyerang. Seekor ikan terlihat segar bugar dengan begitu banyak hibahan, jauh dibanding dengan tribute lainnya. Apalagi kedua hama yang beberapa kali tebas rasanya sudah dapat menghilangkan nyawa mereka. Tidak lama lagi, Leclancher! Saatnya membalas seorang yang sedang sebelumnya sedang bermain-main dengan dirinya. Oh ya! Seekor hama laknat dari distrik lima yang mampu membuat segaris luka ditubuh tegapnya. Jangan harap ia akan melepaskanmu begitu saja, tolol! Serangan bertubi-tubi yang didapatkan dari mutt pun tidak menambah satu pun rasa kasihan. Kasihan? PFff—tidak bercanda kan? Ini Arena bung! Maaf untuk tidak maaf. Sebuah serangan terlontarkan dari seekor anjing yang sudah tidak bisa diam, yang berkeinginan untuk mencabik tubuh seorang Zinnia. MAN! Memang seekor anjing di pelakukan sebaik pun tetap saja ANJING!!! Masih ada animal instict yang sudah tidak terkendali dalam tubuh perwakilan dari distrik dua. Ingin membantu? Nah! Leclancher memiliki masalahnya sendiri. Dengan ransel yang sudah bersandar di punggungnya secepat mungkin ia melancarkan serangan menuju hama laknat berambut merah. Terlihat tidak lebih cantik dibanding tikus got! “Bersiap untuk mati lagi?” Senyumnya terbentuk seraya sebuah ayunan pedangnya mengarah ke kaki. Sekali lagi, memutuskan salah satu alat untuk bergerak sepertinya sudah menjadi kebiasaan terbarunya selama di Arena. |
![]() |
|
| Zinnia Lore | Tuesday Jul 17 2012, 09:51 AM Post #10 |
![]()
|
DISTRIK: 1 HP: 98 || AP: [result]11&8,1d8,3,11&1d8+3[/result] TARGET: Arch || KS: [result]13&13,1d13,0,13&1d13[/result] You're taking the fun out of everything And making me run when I don't want to think You're taking the fun out of everything I don't want to think at all Capitol dan permainan gilanya. Zinnia mendesah pelan. Dan dirinya, Zinnia Lore, yang menjadi salah satu pion dalam permainan. Ingin menyangkal tapi jauh di lubuk hatinya ia tahu bahwa sejak awal Capitol telah menggerakkan setiap langkahnya. Memindahkannya dari arena yang satu ke arena yang lain. Membuatnya bertarung dengan perasaan yang campur aduk. Awalnya, ia mengira ia akan bersenang-senang di tempat ini. Ia pikir, ia akan menikmati pesta darah yang selama ini ia sukai. Zinnia tak pernah mengira bahwa sisi kemanusiaannya justru akan kembali di saat-saat terakhir. Membuatnya seperti gadis kecil tolol yang hanya bisa menangis meratapi nasib. Membuatnya merasa begitu lemah dan tak berdaya dengan segala luka di tubuhnya. Ia merasa pedih melihat orang-orang yang tak bersalah dibantai dengan kejam di tempat ini. Ia merasa menjadi pendosa dengan menjadi salah satu orang yang membantai mereka. Sekalipun dosa itu sebenarnya adalah milik Capitol. There's no other way There's no other way All that you can do Is watch them play Capitol hanya bisa menonton. Dan, tak ada pilihan lagi bagi Zinnia selain ikut memainkan permainan ini. Sampai titik darah penghabisan. Yang tersisa sekarang hanya enam orang termasuk dirinya. Ia bisa melihat Magnus, rekan sedistriknya yang tak diduga begitu menikmati pembantaian ini. Ia bisa melihat Reef yang entah bagaimana sudah sejak awal terlihat tidak terlalu antusias dengan ide menghabisi seluruh non-karir. Lalu ada gadis berambut merah dan Blaire. Dua orang non-karir yang cukup beruntung atau justru sial karena bisa sampai babak ini? You're making it clear when I don't want to think You're taking me up when I don't want to go up anymore Sesungguhnya ia sudah ingin berhenti. Namun ketika matanya tertuju pada Arch—mataharinya—ia pun tahu bahwa ia masih harus berjuang. Sedikit lagi. Jika ia ingin mati, ia ingin Arch yang menghabisi nyawanya. Walaupun pemuda itu takkan pernah tahu perasaan yang ia pendam padanya. Perasaan aneh yang seharusnya tak muncul antara dirinya dengan seorang pemuda dari distrik dua. Arch mengerikan, ia melihat bagaimana pemuda itu membunuhi lawan-lawannya. Tanpa belas kasihan tersirat di wajah itu. Tapi kenapa ia tak bisa memalingkan wajah dari Arch? Sekalipun ia tahu, jika ia mendekat... matahari hanya akan menyakitinya. Membakarnya. Gadis Lore itu berdiri, berjalan menghampiri pemuda yang rupanya juga memandang ke arahnya. Mereka saling mendekat. Pedang digenggamnya di tangan kanan. Dibunuh atau membunuh. Ia takkan membiarkan Arch membunuh lebih banyak lagi. Biarlah dirinya jadi yang terakhir. "Kau tampak sama bodohnya seperti tempo lalu, Gadis coklat, Zinnie." Lalu tanpa aba-aba, tiba-tiba saja lengan kanannya telah lepas dari tubuhnya, jatuh begitu saja di tanah. Zinnia mengerang kesakitan, ia jatuh berlutut di samping lengannya. Diambilnya pedang dari genggaman tangan kanannya itu dengan tangan kiri, menggenggamnya kuat-kuat sambil menggigit bibir bawahnya agar ia tak menangis. Zinnia mendongak, menatap Arch. Pemuda itu... begitu menyilaukan. Zinnia menusukkan pedang ke arah perut Arch kemudian dengan tangan kirinya. There's no other way All that I can do is watch you play I'll watch you play.... There's No Other Way - Blur |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
|
|
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 48 · Next Topic » |












4:51 AM Jun 20