|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Pelatihan #50 | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday May 11 2013, 08:00 PM (3,800 Views) | ||
| Lisette Bass | Saturday May 11 2013, 08:00 PM Post #1 | |
|
Day One. Don't you think this Hunger Games will be huge, hmm? Tentu saja akan sangat besar. Pesertanya saja ada empat puluh delapan orang. Dan sebuah kehormatan bagi seorang Lisette Andromeda Bass menjadi salah satu perancang arena tahun ini. Quarter Quell—don't you think so too? Tee-hee. Gadis awal dua puluh tahun itu sedang berada di bangku yang disediakan untuk jejeran orang ternama Capitol, mereka-mereka yang terlibat dengan pembuatan Arena. Pengawasan pelatihan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan namun bagus dijadikan acuan bagi mereka untuk menerka siapa yang bertahan dan siapa yang tidak layak bertahan. Sementara gadis ini sendiri mengeset matanya hanya ke kawanan karier—tentu. Terlebih pilihan karier tahun ini sampai ada delapan orang, dengan beberapa nama yang tidak kalah familiar. DDR, you sure doesn't want to move on, hmm? Sebenarnya tak begitu banyak perubahan di pos-pos yang dilakukan oleh sang gadis dan partnernya lakukan tahun ini. Aron tidak berencana meninggalkan posisinya sebagai perancang arena karena berhasil membuat distrik kesayangan Capitol mengecap kejayaannya lagi, mungkin. Entahlah. Intinya; posnya tak banyak berbeda. Pos pelatihan tahun ini ada sepuluh. Mengantisipasi peserta yang terlalu banyak sehingga satu pos akan dihuni oleh beberapa orang banyaknya. Pos pertama tetap jatuh pada tanaman beracun dan penawarannya. Mungkin untuk tahun-tahun lalu pos ini akan terlihat tidak berguna, namun sedikit spoiler—gadis Bass ini menyukai segala sesuatu yang berbau enak namun mematikan. Racun—adalah salah satu hal dari sedikit yang disukainya secara benar-benar, kau tahu. Pos kedua, pos dimana senjata-senjata bergelatakan rapi dengan beberapa pengawas latihan yang ada. Berbagai macam senjata mulai dari tombak, pedang, gada, trisula, kapak semua senjata berat lengkap baik yang terbuat dari perak, perunggu, bahkan karet. Persenjataan lengkap di pelatihan namun di arena belum tentu demikian. Pos ketiga disediakan pos ketangkasan, pos yang sama dengan dengan pos palang rintangan pada tahun lalu. Disediakan berbagai palang rintangan dengan perangkap-perangkap lengkap dengan pengawasnya yang akan membantu jika dibutuhkan. Pos keempat sendiri adalah pos gulat. Kekuatan selalu yang dipentingkan oleh para karier dan Capitol. Pos ini sendiri terletak didekat tempatnya duduk saat ini. Pos kelima adalah pos kamuflase. Pos dimana mereka diajarkan untuk menyamarkan diri menggunakan bahan-bahan di alam liar. Meski sayangnya—untuk tahun ini, mereka akan mendapat celakanya jika berusaha kabur. Capitol need more blood, darl. Pos keenam adalah pos sasaran. Ketepatan dalam melempar pisau dan ketepatan dalam memanah dibutuhkan di pos ini. Dimana para peserta dapat unjuk gigi dalam kemampuan mengukur ketepatan dan keakuratan mereka. Pos ketujuh sendiri adalah pos dimana mereka akan diajari untuk bertahan hidup di alam liar. Setidaknya Liz berbaik hati membiarkan para peserta itu mengerti bagaimana rasanya bertahan di alam liar dan memanfaatkan hal di sekelilingnya. Pos kedelapan adalah pos angkat beban. Dimana berjejer barbel sederhana hingga bola besi seberat dua puluh kilogram—dia yakin banyak yang punya tenaga berlebih tahun ini. Pesertanya bisa saja melempar dan mematahkan beberapa tulang leher yang lain, kan? Pos kesembilan adalah pos jerat. Pos dimana para peserta dituntun untuk membuat jerat dan menajamkan ketangkasan dan pemikiran mereka untuk mengungguli mereka-mereka yang kuat dan berbadan besar. Liz masih memikirkan anak-anak perempuan untuk hal ini, kau tahu. Dan yang terakhir adalah pos perlindungan. Dimana pos ini diajarkan teknik-teknik perlindungan dalam bela diri dan apa saja yang harus dihindari jika ingin bersembunyi. Walau Liz sendiri yakin mereka tak akan bisa bersembunyi darinya, kau tahu. Tee-hee. Nah cukup lengkap, kan? Baik hati kan, gadis ini? Mari mulai saja latihannya kalau begitu, peserta. Jangan terlalu menumpuk di satu post, 'kay?
Edited by Lisette Bass, Saturday May 11 2013, 08:04 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Replies: | |
|---|---|
| Patricia Bronwyn | Tuesday May 14 2013, 02:28 PM Post #91 |
![]()
|
Pos #9 - Post Kedua Jerat ini hubungannya terlalu erat dengan simpul. Untungnya ia bukan pemula lagi di bidang membuat simpul. Dengan tali yang tersedia ia sudah mengikat beberapa bagian jadi satu. Pandangannya kembali bergulir mengelilingi Pos Jerat. Ia menelan ludah begitu menyadari kebanyakan penghuni pos ini adalah distrik karir. Ia belum sempat mengenali yang lainnya selain para karir kecuali gadis yang kalau ingatannya tidak salah bersalah dari Distrik Sepuluh. Setidaknya guna pos ini bukan untuk bergulat atau semacamnya. Seandainya iya, bisa-bisa ia sudah sedari tadi diajak gulat dengan gadis-gadis distrik karir itu, ditambah lagi mungkin sekarang ia sudah jatuh dan tergeletak lemas karena baru saja dihantam berkali-kali di tiap bagian fatal pada tubuhnya. Belum masuk arena saja sudah sekarat, bagaimana kalau sudah berebut senjata dan ransel nantinya? Mungkin tanpa ditunggu-tunggu sebilah pisau akan dilempar begitu saja ke arahnya, ke arah bagian yang fatal dan sedetik kemudian nyawa pun melayang. Hah, lagi-lagi fokusnya malah ke hal itu. Jadi lupa tadi jeratnya sampai mana. Secara teknis jeratnya hampir jadi. Tapi sebagai orang yang hampir selalu memastikan apakah hasilnya sudah sempurna atau belum, ia masih terus membetulkan ikatan talinya, mengencangkan atau membuat kendur. Walaupun ia tahu ini belum arena, tapi ia yakin arena tidak akan menyediakan waktu seluang yang diberikan tempat pelatihan. Lagi-lagi ada pendatang baru di pos ini. Ia sempat melihatnya tapi ia tidak mau repot-repot mengingat lagi anak dari distrik mana itu. Yang penting ingat wajah, bukan distrik. Kalau tahu orangnya yang mana dan pernah melihat orang itu melakukan sesuatu yang menurutnya dalah sebuah strategi, jadi ia sudah tahu dan di arena nanti bisa awas terhadap mereka. |
![]() |
|
| Antonio Shadowsong | Tuesday May 14 2013, 03:40 PM Post #92 |
![]()
|
[POS 2] - 1 Ya, ia memilih pos dua, melihat banyak orang berada di pos yang sama seperti pos tujuh tadi itu bikin pusing—lebih pusing lagi kalau nanti ada yang rebutan senjata atau apa. Itu... bodoh. Antonio kemudian menjauhi keramaian menuju pos dua, di mana ada banyak sekali senjata-senjata di sana, serta pengawas pos. Gada, trisula, pedang, kapak, tombak—banyak juga ya, tapi apa nanti Antonio akan menemui semua kelengkapan ini jika sudah masuk arena Hunger Games? Sebaiknya jangan berharap lebih. "Mohon bantuannya." Antonio membungkuk sopan kepada seorang petugas pada posnya. Kemudian ia berjalan memilih senjata yang ingin digunakan. Jika dibilang ingin, maka sebenarnya Antonio ingin menggunakan semua senjata yang ada di pos ini. Tapi Antonio tidak boleh serakah, ia harus memilih sebilah pedang yang menjadi pilihan pertamanya. Mari kita coba. Antonio mulai berjalan pelan menuju manekin target di depannya, kemudian ia mencoba sejurus tebasan beberapa kali yang sengaja ia targetkan di bagian perut manekin sebelum akhirnya ia coba untuk menebas kepala manekin hingga putus. Namun hasilnya menurut Antonio mengecewakan, karena hanya lehernya tinggah setengah dan tidak tertebas sama sekali. Jika manusia yang terkena imbasnya, mungkin sudha bisa langsung mati. Tapi Antonio belum puas, ia ingin kepala itu putus seperti ia memutus kepala manusia sungguhan. Maka ia pun menebas kepala manekin itu sekali lagi hingga kepalanya putus. "..." Tidakkah ini m e n y e n a n g k a n ? |
![]() |
|
| Madeleine Lethbridge | Tuesday May 14 2013, 05:23 PM Post #93 |
![]()
|
pos [result]5&5,1d10,0,5&1d10[/result] ____ Sudah sampai di tahap pelatihan. Hoo.. Tungkainya menjejak pelan-pelan, memperhatikan dengan tanpa teman kepada tributes lain yang tampak sudah mulai masuk ke pos masing-masing. Mereka semua tampak lihai dan kuat, dan berbahaya, dan patut diwaspadai. Mungkin, untuk sekarang, nyaris semua wajah-wajah itu terlihat amat ramah dan bersahabat.. tapi di saat ‘pembantaian’ kelak, semua wajah bahagia itu akan luruh, hilang seketika dan diganti dengan raut muka berbalur darah sehabis membunuh sesama rekan. Madeleine tahu, tahu sekali tentang runutan-runutan hal yang akan terjadi. Dan maka karena hal itu lah, ia memilih untuk tidak terlalu melibatkan diri dalam bersosialisasi dan menjalin hubungan. Karena toh semua akan saling membunuh nantinya. Untuk apa mencari teman bila sekedar sementara? (Ya, walau kadang ia pikir satu-dua teman akan bisa membantunya menenangkan diri selama sebelum mereka menjejak Arena, well.) “Ng..” kedua iris emerald Madeleine memandang satu per satu pos yang telah disediakan. Rentang satu sampai sepuluh, dan di tiap pos telah ada materi atau hal yang khusus dipersiapkan untuk bekal non-materiil mereka kelak saat bertempur; kemampuan, skill. Ini adalah tempat mereka akan dilatih dengan ideal. Madeleine mendesah. Jika dikatakan bahwa Distrik Dua adalah memiliki kelebihan dengan label mereka sebagai distrik kesayangan, well, tak ada yang bisa mengelak. Namun, tetap, pengecualian berlaku untuk beberapa oknum yang tidak berlapang dada menerima pelatihan-pelatihan yang selama ini dilakoni. Madeleine Lethbridge mungkin memang telah mengenal dan cukup familiar dengan pos-pos yang telah ada, namun, ya, tetap saja.. dia merasa masih sangat awam untuk bisa mahir dalam mengatasi rintangan atau tugas apa pun yang ada di pos-pos sana. Ha, kalau sudah begini, ia pilih pos paling dekat saja, pft. |
![]() |
|
| Pietronella Hart | Tuesday May 14 2013, 06:44 PM Post #94 |
![]()
|
POS 9. Ia semacam dipecundangi oleh simpul. Jemarinya masih berusaha, sibuk memilin antar tali yang hitungannya cukup tebal. Diameternya besar jika dibandingkan dengan seutas benang. Maka dari itu, tenaga yang dibutuhkan untuk mengikatnya pun menjadi jauh lebih besar pula. Kesabarannya memang sudah habis, tetapi ia bukan sosok yang ditiup angin saja langsung hilang pantang. Sesekali mendengus, mengetahui bahwa arahnya memilin ternyata salah. Mau tak mau, ia kembali membongkarnya, dan memasangkan ke arah yang seharusnya. Merepotkan, sangat, terlebih bagi pemula seperti gadis ini. Untung saja, sedikitnya, Hart pernah mengajarkan hal ini terhadapnya. Sedikit. Lagi, memangnya berguna di saat seperti ini? Bahkan, kegagalannya sekarang saja patut diacungi jempol. Seorang laki-laki yang rupanya telah berada lebih dulu di pos yang sama. Tak peduli, semula ia tak lihat, anggap saja begitu. Mencibir, ketika mendengar nama depannya disebut tanpa permohonan izin terlebih dahulu. Oh, tentu saja, ia agak risih mendengar seorang asing menyapanya, seolah mereka kawan lama. Bukannya menjawab, gadis ini hanya mendelik ke arah entitas tersebut. Melemparkan pandangan menilai. Memalukan. Ia merasa begitu payah, manakala mengetahui bahasan mereka akan menjadi sedemikian rupa. Ia tak sekalipun, memintai siapapun, untuk diajarkan apapun. Period. "No, thanks." Ia menolak, mudah saja baginya. Intonasinya terdengar datar, tanpa ekspresi. Gadis Hart mungkin tengah menyembunyikan kegagalannya barusan, meski tahu, hal tersebut bakal berarti sia-sia. "Urusi saja milikmu sendiri." Kali ini, ia menyuarakannya tanpa keinginan untuk menghadap ke arah lawan bicaranya. Delapan. Ia tak butuh pertolongan dari delapan, sayangnya. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan gadis ini guna menyelesaikan simpulnya. Usahanya, kentara sekali buru-buru. Kalau mereka menilai sebagaimana rupa dan keindahan simpul tersebut di sesi pribadi, maka ia bisa saja berada di urutan paling bawah. Bedebah. Yang penting, miliknya selesai. Tak peduli kalaupun terlihat tak karuan, berantakan, dan hal buruk semacamnya. Toh, asal mereka masuk ke dalam jerat. Semisal renggang, gerakannya cukup cepat untuk menghantam lawannya dengan bogem mentah. Mudah, jauh lebih mudah dibandingkan berkutat dengan tali temali. Jerat yang dibuatnya tidak terlalu besar, asal ia lemparkan begitu saja. Sementara itu, tubuhnya beringsut. Next? "Aku duluan, omong-omong." Semata, ia masih mau bermain-main dengan yang namanya ramah tamah. Shinzo Kawabata || [result]8&8,1d10,0,8&1d10[/result] |
![]() |
|
| Ferina Secret | Tuesday May 14 2013, 08:36 PM Post #95 |
![]()
|
/ 8 / Pos delapan. ...o, well. Tidak ada alasan khusus mengapa sulung Secret berakhir memilih pos angkat beban—kiranya, mulailah dengan pos yang paling sepi. Ini akan membantunya fokus, dan jika dibandingkan dengan gulat atau ketangkasan... mengangkat beban jauh lebih aman. Tidak ada yang bisa menebak apa yang menanti di arena, jadi lebih baik berjaga-jaga. Mungkin Ferina akan menyingkirkan batang pohon rubuh yang menghalangi jalannya. Mungkin Ferina akan mengangkat sesuatu yang begitu berat. Kekuatan fisik adalah basic dari segala pelatihan, jadi ia kira, ia akan melatih kekuatan fisiknya terlebih dahulu. Rambut yang sewarna dengan mentega leleh, juga obsidian yang memandangnya tajam, adalah pemandu yang menunggu di pos delapan. Warna matanya sama sekali tidak kelihatan natural, gadis itu berasumsi, barangkali dipakaikan lensa kontak. Ferina berdiri di dekatnya. Kedua biner itu dingin, tetapi tidak tahu harus memandang ke mana. Menunggu instruksi pertama sang pemandu. "Alrighty," ia memulai, dan Ferina berkedip, "Kulihat struktur tubuhmu cukup baik. Bagaimana dengan bola-bola ini? Beratnya kira-kira duapuluh kilogram." Telunjuk si wanita mengarah pada tiga buah bola logam bercorak garis hitam dan merah yang memiliki pegangan di atasnya. Duapuluh kilogram itu... katakanlah, lumayan berat, bisa disamakan dengan berat anak umur enam sampai lima tahun. Ferina mengangguk tegas, dan si pemandu tersenyum. Bukan tipikal senyum `berjuanglah`, senyumnya adalah senyum yang menantang; seolah ia benar-benar tertarik dengan kemampuan Ferina. Ha. Maka gadis itu berjalan menghampiri, menggenggam pegangan bolanya erat. Ditariknya napas dalam-dalam sebelum berusaha mengangkat tangannya. [result]2&2,1d10,0,2&1d10[/result] >> yang berhasil cuma 4, 5, 6, 7, 9. |
![]() |
|
| Kyle Blackthorn | Tuesday May 14 2013, 09:00 PM Post #96 |
![]()
|
POS 1 Dia sendirian di pos satu ya. Kok merasa sendirian begitu ya. Tidak sedih, tidak. Agak merasa senang malah, karena para peserta lain ini tidak paham betapa pentingnya pos nomor satu ini. Bisa saja ada kemungkinan hidupnya bertahan lebih lama karena dia tahu bahwa buah beri yang ini beracun sedangkan jamur yang itu tidak. Selalu ada kesempatan untuk hidup, kan? Selalu. Semoga saja pos satu ini benar-benar berguna ya. Semoga. Kyle masih fokus mendengarkan penjelasan dari instruktur pada pos ini. Soalnya dia benar-benar butuh pengetahuan soal mana yang boleh dimakan dan mana yang tidak. Soalnya selama ini Kyle ini makan apa saja yang terlihat bisa dimakan. Untungnya dia belum pernah menemukan buah yang beracun. Kalau pernah? Mana mungkin Kyle bisa terpilih ikut Hunger Games dan berada di sini sekarang? Dia jelas lebih senang karena bisa berada di sini. Kenapa? Soalnya makanan di sini enak-enak! |
![]() |
|
| Jester Holt | Wednesday May 15 2013, 10:45 AM Post #97 |
|
Latihan, eh? Pemuda itu mendengus, kala jenjangnya menginjak lantai Pelatihan. Suasana dan tata ruang tempat itu tak jauh berbeda dengan gedung pelatihan di distriknya. Hanya saja perlengkapan dan senjatanya begitu lengkap, dengan kualitas yang sangat bagus. Dalam sekilas lirik, pemuda ini langsung menetapkan pos-pos yang akan dia kunjungi, seperti pos senjata, pos gulat, pos sasaran. Meski tampak pos-pos lain yang sama sekali tak berguna macam mempelajari racun dan pos tali-temali. Apa gunanya hal itu kalau dia adalah seorang karier yang bisa mendapatkan persediaan dan perlengkapannya di Cornucopia dan mendapat tambahan dari sponsor yang pasti tertarik padanya, eh? Nothing. He's one of The Careers, after all. Bahkan karier yang datang dari distrik Dua, distrik kesayangan Capitol, eh? Dimana dia dilatih ytiap tahunnya untuk bersiap dengan Arena terlebih dia dilatih menjadi seorang Penjaga Perdamaian dan sudah terbiasa dengan segala luka-luka dan pertarungan. Tak ada senjata yang tampak asing di tempat ini yang belum pernah dia coba. Pemuda ini yakin mereka-mereka yang berada dari kalangan bawah sama sekali tidak pernah melihat persenjataan selengkap ini karena dilihat dari tubuhnya saja, mereka tampak tidak terawat dengan baik. Mendengus pelan, pemuda itu. Menyedihkan sekali, isn't it? Ia turun dari lantai dua sendirian, sudah terlambat daripada rekanannya yang lain. Langkahnya namun tetap santai, berjalan tanpa mengindikasikan niatan dia ingin buru-buru latihan sama sekali. Biru elektriknya menyusuri ruangan itu, tampak sudah pos-pos di sekelilingnya sudah dipenuhi oleh berbagai macam orang. Pemuda ini tidak terlalu peduli dengan para distrik bawah, sebisa mungkin dia ingin menghindari kontak dengan orang-orang rendahan itu. Namun kalau memang hal tersebut diperlukan untuk membuat mereka lengah, tak ada salahnya dilakukan. Lagipula semua sama di sini, semuanya musuh. Tidak ada yang namanya teman, hanya musuh dan aliansi yang akan menjadi musuh juga, rite? KDK: CMIIW. ROLL: [result]3&3,1d10,0,3&1d10[/result] |
![]() |
|
| Altessa Lychnia | Wednesday May 15 2013, 12:18 PM Post #98 |
![]()
|
p o s - 6 Meleset. Dari apa yang ia pikirkan, Altessa hanya kurang konsentrasi. Atau mungkin, dipengaruhi oleh beberapa sakit di tubuhnya setelah mendalami pos gulat tadi? Tapi, dia belum menyerah. Kalau ternyata dia bisa menguasai melempar pisau, mungkin saja akan sangat menguntungkan di dalam arena nanti. Tapi yang jelas, dia akan terus melempar pisau sampai akhirnya berhasil. Kalau sudah berhasil, mungkin dia akan berpindah ke pos lain. Tangannya kembali mengambil sebilah pisau. Bulir kebiruannya menyorot satu sasaran, yang jaraknya memang terbilang tidak dekat dengan tempatnya berpijak sekarang. Tentu saja, namanya juga pos sasaran, sudah pasti melakukannya dari kejauhan. Tarik nafas, hembuskan. Diingatnya kembali penjelasan yang diberikan oleh sang pemandu, siapa tahu ada langkah yang tidak ia lakukan atau salah ia lakukan? Nah, dia tidak punya talenta alaminya. Walau dia masih memiliki niat sampai berhasil melempar pisaunya dengan tidak meleset. "Hng." Fokus, fokus. Anggap saja didepannya itu orang, atau siapapun yang paling ia benci dan ingin dia bunuh segera. Siapa tahu akan lebih menolong, hm? Altessa mengambil jarak, kemudian mengangkat tangannya yang memegang erat pisau lempar tersebut, dan tentu saja melepaskannya dengan sedikit dorongan. Melihat sampai mana pisau itu terlempar, apakah tertancap ke sasaran apa tidak. [result]8&8,1d10,0,8&1d10[/result] (berhasil kalau prima) |
![]() |
|
| Coraline Estelle | Wednesday May 15 2013, 08:48 PM Post #99 |
|
ENAM— "..." Ya ampun, Rem. Bolehkah Coraline Estelle mengheningkan cipta selama beberapa menit untuk anak bersurai merah—muaha, merah—itu? Agaknya dia masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, otaknya masih belum bisa mencerna apa itu kata Hunger Games sesungguhnya. Polos, iyalah umurnya saja masih berapa? Jauh berbeda dengan umur Cora atau Altessa atau Calyx yang tidak ada suaranya sama sekali semenjak kedatangan mereka ke Capitol. Berbeda sekali ketika Cora pertama kali bertemu dengan pemuda itu. "Hm. Apa ya?" Memasang wajah berpikir, seolah-olah kesulitan untuk menentukan makanan apa yang paling ia minati. Jawabannya sebenarnya mudah, makanan manis. Fakta bahwa Cora tidak akan sulit untuk menemukan makanan manis di tempat ini adalah hal yang membuatnya sedikit lega. Semacam suntikan adrenalin dan semangat, padahal memakan makanan manis juga belum tentu bisa membuatnya meraih gelar pemenang. Terlalu muluk juga. Targetnya? Dua belas besar apakah terlalu dengar muluk-muluk? Apa seperti punuk merindukan bukan, ha? "Kok kayaknya semua enak ya, Rem." Tertawa renyah setelah menyelesaikan kalimatnya. Mungkin menjadi teman yang baik bagi Remy bisa membuat bocah itu senang dan bisa melupakan fakta kalau sebentar lagi nyawanya akan menjadi incaran empuk peserta dari Distrik Karier. Kedua maniknya memperhatikan gerak-gerik gadis dari Delapan. Dia hebat. Mungkin sudah terbiasa menggunakan senjata seperti panah atau melempar sesuatu ke sasaran. Seumur-umur, Cora tidak pernah berurusan dengan senjata tajam. Bahkan dengan pisau dapur, sesungguhnya sang ibu dengan keras melarang Cora untuk berurusan dengan dapur, terakhir kali ia berurusan dengan dapur yang terjadi bukanlah sebuah kejadian menyenangkan. "Yuk dicoba, Rem." Ujarnya kemudian mengambil sebuah pisau. Membidik sasaran yang berada beberapa meter di depan gadis Estelle itu. Menghela napas dan kemudian melempar pisau itu. Bukannya menancap pada papan sasaran, pisau itu malah terpelanting. Suaranya berdenting. Mengingatkan Cora pada suara para pekerja di distriknya. Sebuah kerinduan, eh? Remy dan Kristeen |
![]() |
|
| Patricia Bronwyn | Wednesday May 15 2013, 09:22 PM Post #100 |
![]()
|
Pos #9 - Post Ketiga Segini sudah selesai, semoga. Membayangkan bagaimana kalau ia membuat jerat yang betulan di arena nanti membuatnya berpikir siapa (atau apa) yang akan jadi korban. Akankah hanya hewan-hewan kecil yang bisa disantap? Atau kalau ia sedang beruntung langkah kaki seseorang bisa tertipu oleh tumpukan daun? Orang bilang di dunia ini tidak ada yang mustahil. Tapi berharap sesuatu yang hampir mustahil untuk terjadi memang bukan hal yang masuk akal. Lagipula, itu sama artinya dengan berdelusi. Dan delusi di dalam arena bisa disebut sebagai halang rintang yang bahkan lebih berbahaya daripada pisau yang melayang di udara. Bisa-bisa nanti kau sedang melamun, terlalu larut memikirkan langkah selanjutnya, tapi ternyata sudah ada yang menghentikanmu bahkan sebelum susunan langkahmu selesai dipikirkan. Seakan-akan arena adalah tempat di mana segala kesempatan akan jauh menipis daripada biasanya. Memang benar, sih. Tapi bagaimana caranya seseorang menang? Tentu mereka punya sedikit waktu untuk melakukan yang seperti itu, 'kan? Menggelengkan kepalanya lagi karena berpikiran yang seperti itu, sekali lagi ia memandang sekitar. Tidak ada tanda bahaya ataupun interaksi yang tiba-tiba dari para karir. Ia aman, sangat aman, tapi hanya untuk sekarang. Mungkin setelah ini karena pikirannya terlalu campur aduk ia sampai tidak sadar menghampiri pos yang mana, tahu-tahu saja yang gunanya untuk berduel? Matilah. Semua orang tahu, tewas sebelum arena dibuka itu menyedihkan. Dan karena ia tidak mau tampak menyedihkan, di mata siapapun, terutama Phoebe yang kini bisa menyaksikannya dari sudut manapun tanpa terlihat, maka ia meninggalkan jeratnya, melangkah ke pos lain dengan ekspresi sesantai mungkin. Sulit, ternyata. Pindah ke... [result]2&2,1d10,0,2&1d10[/result] |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |














9:33 PM Jul 11