|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Pelatihan #50 | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday May 11 2013, 08:00 PM (3,805 Views) | ||
| Lisette Bass | Saturday May 11 2013, 08:00 PM Post #1 | |
|
Day One. Don't you think this Hunger Games will be huge, hmm? Tentu saja akan sangat besar. Pesertanya saja ada empat puluh delapan orang. Dan sebuah kehormatan bagi seorang Lisette Andromeda Bass menjadi salah satu perancang arena tahun ini. Quarter Quell—don't you think so too? Tee-hee. Gadis awal dua puluh tahun itu sedang berada di bangku yang disediakan untuk jejeran orang ternama Capitol, mereka-mereka yang terlibat dengan pembuatan Arena. Pengawasan pelatihan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan namun bagus dijadikan acuan bagi mereka untuk menerka siapa yang bertahan dan siapa yang tidak layak bertahan. Sementara gadis ini sendiri mengeset matanya hanya ke kawanan karier—tentu. Terlebih pilihan karier tahun ini sampai ada delapan orang, dengan beberapa nama yang tidak kalah familiar. DDR, you sure doesn't want to move on, hmm? Sebenarnya tak begitu banyak perubahan di pos-pos yang dilakukan oleh sang gadis dan partnernya lakukan tahun ini. Aron tidak berencana meninggalkan posisinya sebagai perancang arena karena berhasil membuat distrik kesayangan Capitol mengecap kejayaannya lagi, mungkin. Entahlah. Intinya; posnya tak banyak berbeda. Pos pelatihan tahun ini ada sepuluh. Mengantisipasi peserta yang terlalu banyak sehingga satu pos akan dihuni oleh beberapa orang banyaknya. Pos pertama tetap jatuh pada tanaman beracun dan penawarannya. Mungkin untuk tahun-tahun lalu pos ini akan terlihat tidak berguna, namun sedikit spoiler—gadis Bass ini menyukai segala sesuatu yang berbau enak namun mematikan. Racun—adalah salah satu hal dari sedikit yang disukainya secara benar-benar, kau tahu. Pos kedua, pos dimana senjata-senjata bergelatakan rapi dengan beberapa pengawas latihan yang ada. Berbagai macam senjata mulai dari tombak, pedang, gada, trisula, kapak semua senjata berat lengkap baik yang terbuat dari perak, perunggu, bahkan karet. Persenjataan lengkap di pelatihan namun di arena belum tentu demikian. Pos ketiga disediakan pos ketangkasan, pos yang sama dengan dengan pos palang rintangan pada tahun lalu. Disediakan berbagai palang rintangan dengan perangkap-perangkap lengkap dengan pengawasnya yang akan membantu jika dibutuhkan. Pos keempat sendiri adalah pos gulat. Kekuatan selalu yang dipentingkan oleh para karier dan Capitol. Pos ini sendiri terletak didekat tempatnya duduk saat ini. Pos kelima adalah pos kamuflase. Pos dimana mereka diajarkan untuk menyamarkan diri menggunakan bahan-bahan di alam liar. Meski sayangnya—untuk tahun ini, mereka akan mendapat celakanya jika berusaha kabur. Capitol need more blood, darl. Pos keenam adalah pos sasaran. Ketepatan dalam melempar pisau dan ketepatan dalam memanah dibutuhkan di pos ini. Dimana para peserta dapat unjuk gigi dalam kemampuan mengukur ketepatan dan keakuratan mereka. Pos ketujuh sendiri adalah pos dimana mereka akan diajari untuk bertahan hidup di alam liar. Setidaknya Liz berbaik hati membiarkan para peserta itu mengerti bagaimana rasanya bertahan di alam liar dan memanfaatkan hal di sekelilingnya. Pos kedelapan adalah pos angkat beban. Dimana berjejer barbel sederhana hingga bola besi seberat dua puluh kilogram—dia yakin banyak yang punya tenaga berlebih tahun ini. Pesertanya bisa saja melempar dan mematahkan beberapa tulang leher yang lain, kan? Pos kesembilan adalah pos jerat. Pos dimana para peserta dituntun untuk membuat jerat dan menajamkan ketangkasan dan pemikiran mereka untuk mengungguli mereka-mereka yang kuat dan berbadan besar. Liz masih memikirkan anak-anak perempuan untuk hal ini, kau tahu. Dan yang terakhir adalah pos perlindungan. Dimana pos ini diajarkan teknik-teknik perlindungan dalam bela diri dan apa saja yang harus dihindari jika ingin bersembunyi. Walau Liz sendiri yakin mereka tak akan bisa bersembunyi darinya, kau tahu. Tee-hee. Nah cukup lengkap, kan? Baik hati kan, gadis ini? Mari mulai saja latihannya kalau begitu, peserta. Jangan terlalu menumpuk di satu post, 'kay?
Edited by Lisette Bass, Saturday May 11 2013, 08:04 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Replies: | |
|---|---|
| Tume Tinkham | Sunday May 12 2013, 07:38 PM Post #41 |
![]()
|
POS 6 Meleset. Melesetnya cukup jauh. Mungkin ada setengah meter dari target sehingga membunyikan bunyi benturan mengerikan antara lantai dan pisaunya. Dan ini membuatnya malu. Tume sengaja membiarkan dirinya terlihat sibuk untuk menyembunyikan rasa malunya meskipun dia yakin tidak ada yang mau bersusah payah memperhatikan gerak-gerik dari distrik bawah macam dia. Dirinya hanya pajangan saja di tempat ini. Bisa dicoba lagi. Mengumpulkan tekadnya, bocah berambut cokelat ini mengambil pisau lain. Ia menghela napas dan melemparnya sekali lagi. Dan lemparan berikutnya mengenai papan target meskipun masih cukup jauh dari titik tengah. Ini membuat semangatnya bangkit. Paling tidak dia sudah berhasil mengenai sasaran. Istilahnya, bila dia mengincar kepala musuh maka dia sudah bisa mengenai perutnya. Hahaha. Tume memang pandai sekali menyemangati dirinya sendiri. Bahkan seseorang dengan umur seperti dia pasti akan sulit membidik tepat sasaran. Jadi, dia harus berbangga diri. Diam-diam Tume bingung ke mana kawan dari Distrik Sepuluh. Sejauh ini mereka belum kelihatan. Mungkinkah mereka lupa, eh? Rasanya tidak. Masih banyak yang perlu ia lakukan di pos yang satu ini. Tume berharap dia bisa belajar lebih banyak lagi. Maka dari itu, sambil menikmati euforia setelah membidiknya, bocah ini berjalan menuju papan sasaran dan mencabut pisau dari sana. Ia juga memutari papan sasaran itu demi mengambil pisau salah sasarannya yang pertama. Pemandu yang ada di pos itu memberikan kata-kata semangat untuknya dan putra Tinkham ini tersenyum kepada orang baik hati itu. Omong-omong Tume yakin Capitol sengaja menempatkan semua pemandu agar mereka yang kesulitan bisa belajar lebih cepat. Tapi, Tume ingin belajar sendiri lebih dulu. Dia memilih untuk mencoba sekali lagi tanpa dibimbing. Semangat! Edited by Tume Tinkham, Sunday May 12 2013, 07:42 PM.
|
![]() |
|
| Ferina Secret | Sunday May 12 2013, 08:02 PM Post #42 |
![]()
|
Practice makes perfect. (Yea, apapun itu.) Alih-alih merangsek menuju salah satu pos setelah mendengarkan penjelasan dari salah satu instruktur, Ferina Secret membiarkan pandangnya beradaptasi dengan apa yang akan dihadapinya saat ini. Dara tidak akan membiarkan dirinya terbuai oleh fasilitas Capitol yang kelewat... luxury, by any means. Tidak ada gunanya menikmati tempat yang akan menjadi pemberhentian terakhirnya, kau tahu, walau apa yang diserap matanya sejak ia menginjak tanah Capitol sungguh berbeda dengan distrik asalnya. "Well, then..." Ferina menghela napas, mulai berkeliling. Diperhatikannya pos demi pos yang terlewat, bibirnya terlipat—menimbang-nimbang, pos mana yang harus dikunjunginya. Yang paling familiar tentu saja adalah pos yang menangani jerat, then again, salahkah untuk merasa sedikit bosan? Seiring dengan perpindahan pemandangan pos, sebelah alis gadis itu terangkat ketika sedang memerhatikan mereka yang bergulat di pos empat, pula sedikit mendelik mendengar desis pisau yang dilempar di pos keenam. Satu putaran terlewati, kembali ke pos pertama—herbologi. Tungkainya melangkah lagi. Sulung Secret menginginkan pelatihan di mana pada akhirnya dia bisa memanfaatkan pelatihan tersebut seandainya arena bersikap kelewat keji padanya. Pelatihan yang, bagaimana cara mengatakannya, seimbang dengan kemampuan yang dimiliki. Muluk, kah? Satu putaran saja tidak cukup. [result]8&8,1d10,0,8&1d10[/result] |
![]() |
|
| Scarlet Reed | Sunday May 12 2013, 08:04 PM Post #43 |
![]()
|
Ayolah, dunianya telah berubah sejak pengumuman yang diadakan kali terakhir. Hari, dimana ia berujung pasrah. Tepat di saat yang sama pula, kengerian akan maut yang menjemput itu semakin menghantuinya saja. Ia takut. Ia kelewat takut untuk menghadapi kemungkinan terburuk lainnya. Jasadnya, ia mungkin bakal kembali ke dsitrik kelahiran dengan keadaan telah menjadi jasad. Kedengarannya mengerikan, asal kau tahu. Ia bakal merindukan keluarganya di rumah. Sangat. Pandangannya mengedar ke sekitar, ia mungkin tengah mencari pos perhentian mana yang dianggapnya paling menarik. Mungkin atau kenyataannya, gadis ini hanya bingung, ketika rasa pesimistis itu mencuat dari dalam hatinya. Perasaan yang membuat batinnya bertambah yakin, manakala tak satupun dari kegiatan tersebut mampu ia kuasai dengan sebaik-baiknya. Ia bisa saja melakukannya dengan baik, tetapi belum tentu sebaik yang lainnya. Ingatlah, lima tidak akan berarti banyak bagi kesejahteraan Capitol. Percayalah, tak jarang dari mereka yang lebih mengutamakan distrik karier. Benar apa kata hatinya semula, toh ia hanya bisa pasrah sembari mengharapkan kemungkinan terbaik alih-alih keberuntungan. Mukjizat, semacamnya lah. Masing-masing pos, berisikan tema kegiatan yang berbeda. Yang menjadi masalahnya adalah setiap kali dalam tahap mencoba, selalu saja ada yang lebih baik, dan terus begitu. Hingga kemudian, semakin besar kemungkinan gadis ini memercayai, bahwa kemampuannya masih terhitung dangkal dibandingkan yang lainnya. Gadis ini, bukannya tambah semangat, melainkan justru sebaliknya. Hatinya yang dongkol malah semakin menjadi-jadi. Dongkol, dan berujung pada mogok-melakukan-apapun. Bleh. Masalahnya, salah satu dari sekian banyak pos tersebut (yang tentu saja, ia tidak berminat menyebutkannya secara satu per satu), ia mesti memilih salah satu di antaranya. Mula-mula, memang hanya memilih satu. Terus saja melakukan hal yang serupa sampai akhirnya, ia pun sukses bertandang ke seluruh pos. Sebenarnya, sama saja. OP-IN || [result]10&10,1d10,0,10&1d10[/result] |
![]() |
|
| Tume Tinkham | Sunday May 12 2013, 08:13 PM Post #44 |
![]()
|
POS 6 Singkatnya, Tume melakukan kegiatan melempar pisau beberapa kali lagi sebelum akhirnya dia menyerah untuk membidik di target yang diinginkan. Memang susah untuk bisa membidik tepat sasaran. Menurutnya, Gutsche yang akan lebih mahir daripada dia untuk hal ini. Dia kangen sekali pada kakaknya itu. Hening. Ia beristirahat sejenak di pos ini. Duduk di pinggir sambil meluruskan kaki ke depan. Tume memperhatikan bagaimana peserta lain berlatih. Mereka menimbulkan suara berisik dari mulut dan juga alat-alat latihan mereka. Gelombang peserta berikutnya satu per satu memasuki pos dan bocah Tinkham ini bahkan sudah kehabisan sepertiga dari tenaganya hari ini. Menurutnya, bila hal macam begini terjadi di arena dia bisa habis dalam waktu kurang dari satu hari. Tapi, Gutsche bilang kepadanya untuk melupakan kalkulasi matematika di arena. Sejauh ini kalkulasi seperti itu tidak pernah benar, katanya. Bolehlah kalau begitu Tume percaya kepada saudaranya itu. Sejauh ini Gutsche lebih bijaksana kalau menyangkut soal nyawa meskipun dia lebih suka mendengar informasi lebih jauh dari Irish yang pernah merasakan seperti apa itu arena daripada orang yang belum pernah menginjakkan kakinya di arena. Iseng-iseng Tume meraih sebuah busur. Berat. Ia yakin tidak akan menggunakan senjata berat macam itu di arena. Bahkan untuk membentangkannya saja pasti sudah butuh tenaga. Sekarang dia hanya berharap di arena bisa menemukan senjata yang jauh lebih manusiawi untuk anak berumur dua belas tahun. Mungkin dia mesti lebih berkawan dengan pisau. Nah, bagaimana kalau dia berjalan-jalan ke pos lain? Kiranya dia sudah cukup di pos ini. Pos 6 ke pos >>> [result]7&7,1d10,0,7&1d10[/result] Edited by Tume Tinkham, Sunday May 12 2013, 08:15 PM.
|
![]() |
|
| Yasmine Silvertongue | Sunday May 12 2013, 08:32 PM Post #45 |
![]()
|
Berlatih. Berada di dalam satu ruangan dengan jumlah peserta yang berlipat ganda. Berani bertaruh, tahun-tahun sebelumnya dimana hanya terdapat dua puluh empat anak manusia berseragam pakaian untuk latihan pun udara terasa sudah sesak. Aura dan segala campuran emosi yang tertahankan karena mereka semua akan kembali berada dalam jarak sedekat ini dalam hitungan hari, di arena sesungguhnya. Capitol baik hati, tentu ingin mempersiapkan anak-anak mereka dengan sebaik mungkin, bukan begitu? Gadis ini yang telah hampir setiap hari menghilang di balik pepohonan hutan kini merasa bingung di hadapan sepuluh pos yang ada. Apa yang bisa ia lakukan? Tepatnya, apa yang bisa ia lakukan tanpa menarik perhatian terlalu banyak? Malam pertama kedatangannya di Capitol saja sudah terasa cukup aneh dengan kehadiran lelaki dari distrik tersohor, distrik Satu. Ia hanya tidak ingin menjadi sasaran empuk di awal. Freida turut serta, ia kehilangan penglihatan akan dua tribut lelaki dari Sepuluh. Si mungil Tume dan Harry, terutama Harry. Kemana pula pemuda itu? Baru ia tahu ternyata ia begitu berbakat dalam menghilangkan diri dari kerumunan. Ini kesempatan terbaik yang dimiliki Yasmine, dan ia tahu betul itu. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin, kalau kata orangtuanya. [result]7&7,1d10,0,7&1d10[/result] |
![]() |
|
| Colleen Roosophire | Sunday May 12 2013, 08:39 PM Post #46 |
![]()
|
POS 4: POST #2 Oke. Jadi gadis dari Enam itu setuju untuk bergulat dengannya, 'kan? Bagus deh. Langsung mulai saja. Dia tidak perlu mempedulikan perkataan sang pemuda bernama Urie Tommy itu. Yang dikatakan oleh pemuda itu hanya lah sesuatu yang tidak berguna. Tentu saja Colleen akan bersenang-senang mengalahkan sampah dari Enam itu. "Kalau begitu, ayo kita mulai." Dirinya berjalan pelan ke arah gadis Enam tersebut, bersiap-siap untuk menarik lengan sang Enam dan melemparnya. Tapi sebelum Colleen bisa melakukan hal itu, sebuah tangan asing menariknya dan melemparnya. Tangan siapa itu? Punya gadis Enam itu? Sepertinya bukan. Punya Urie? Sepertinya tangannya terlalu kurus untuk seorang laki-laki. Sebelum dirinya terbanting ke tanah, maniknya menangkap sosok yang melemparnya tersebut. Sosok itu adalah sosok gadis dari Tiga. Bibirnya membentuk senyuman setelah melihat aksi dari sang Tiga. Berani juga. Dan dilanjutkan dengan tubuhnya yang membanting tanah dengan suara yang cukup kencang. Colleen kembali berdiri. Bibirnya masih membentuk senyum misterius itu. " So you want the hard way?" Lalu Colleen berlari menerjang tubuh gadis dari Tiga. Menabrakkan tubuhnya pada sang dara. Bermaksud melanjutkan sisa acara penghabisannya di lantai. Berganti target? Boleh saja. Toh jika Tiga ini kalah, mungkin Colleen akan melawan yang Enam nantinya. Let us begin. Altessa dan Irvette. Deskrip Urie. Kalau genap berhasil [result]5&5,1d10,0,5&1d10[/result] |
![]() |
|
| Tume Tinkham | Sunday May 12 2013, 08:50 PM Post #47 |
![]()
|
POS 7 Sudah tiga pos dia kunjungi dan ini akan menjadi pos keempatnya. Ia belum memasuki setengah pos yang ada di sini. Keringat sudah mengucur di dahinya. Mungkin ini akan menjadi pos terakhirnya sebelum dia beristirahat hingga esok harinya lagi. Hm. Kakinya diarahkan tidak jauh. Dia berhenti di pos samping pos sasaran. Pos yang satu ini belum bisa ia tebak apa maknanya karena tidak ada satu pun aktivitas di sana. Rupanya ini termasuk salah satu pos yang kurang digemari walaupun tadi ia sempat melihat ada peserta dari distrik lima bermain di daerah ini—ke mana pemuda dari distrik lima ini pergi dia sudah tidak ambil pusing. Dengan langkah pasti Tume memasuki pos itu dan menyapa pemandu yang ada di sana. Pemandu di tempat ini terlihat agak mengantuk. Mungkin karena posnya kurang laku barangkali. Tume memberikan cengiran dan segera saja bocah laki-laki ini digiring menuju satu titik di mana di situ banyak semak-semak dengan pepohonan dan bebatuan berserakan. Pemandunya berjongkok. Tume ikut berjongkok di sampingnya. Dalam waktu beberapa menit pemandu itu sudah berbicara mengenai cara menyalakan api untuk menghangatkan diri. Katanya, di arena cuaca bisa berubah mendadak dan malam bisa menjadi begitu dingin. Oleh karena itu, keterampilan menghangatkan diri adalah yang utama. Tume mencoba. Ia menggesek batu-batu yang ada di pos itu untuk menyalakan api. Tapi, gagal. Hah. Di saat itu dia melihat sosok lain yang bergerak masuk ke dalam pos yang sama dengannya. “Hei, Yasmine!” Yasmine Silvertongue. |
![]() |
|
| Hada Atala | Sunday May 12 2013, 08:56 PM Post #48 |
![]()
|
Astaga, pada rajin amat sih ikut latihan. Hada benar nggak habis pikir deh lihat kelakuan para peserta Hunger Games Quarter Quell kedua di ruangan ini. Semangat bener ya diajak latihan...sudah nggak sabar mau saling membunuh atau memang sangat antusias untuk bertahan hidup? Yang jelas, Hada sih bukan kedua-duanya. Dibilang bernafsu...nggak, tapi dibilang pasrah dan rela mati juga nggak... Gimana ya? Kadang-kadang dia masih denial kalau dia adalah peserta perwakilan dari Distrik Empat tahun ini. Siapa sih yang benar-benar siap dilempar ke Arena gitu aja? Eh, peserta dari Distrik Karier yang lain mungkin begitu sih, mungkin cuma Hada doang yang kesiapan mentalnya masih ngambang tertinggal di lautan ya. Tapi seenggaknya dia harus tetap mencoba bertahan hidup, kan? Supaya Mom dan Hana nggak cemas dan sedih melihat nasib si Bungsu Atala yang mempertaruhkan nyawa bagi Capitol ini. Ah ya, satu lagi. Kalau memang memungkinkan, dia ingin melindungi keberadaan satu nyawa lagi di Arena. Karena nyawa anak itu mungkin jauh lebih berharga daripada nyawanya sendiri. Omong-omong, pergi kemana anak itu ya? Gesit banget udah hilang lagi dari pandangannya. Pos : [result]6&6,1d10,0,6&1d10[/result] |
![]() |
|
| Remy Browning | Sunday May 12 2013, 09:06 PM Post #49 |
![]()
|
POS 6 “Iya, sama!” Dengan anggukan cepat dan tawa khas bocahnya Remy Browning mengiyakan perkataan dari kakak cantik dari distrik delapan. Ya setidaknya dikelilingi dua kakak yang berwajah manis seperti mamah mungkin akan membuat perasaan rindu akan rumah yang diderita bocah keriting surai merah itu sedikit memudar. Binernya tampak asyik melihat beberapa alat yang dipilih baik kakak Distrik delapan maupun kakak Coral. Jadi dirinya pilih apa? Tidak, belum memilih lebih tepatnya, Remy takut mamah marah kalau Remy main lempar-lempar benda tajam. “Nyenyak juga dong kak!” Cengiran lucu sebentar sebelum lanjut mengoceh panjang lebar. “Di rumah Remy mana ada ruangan besar untuk tidur, apalagi dengan peralatan super lengkap dan nyaman, Remy rasanya malah mau ajak mamah menginap disini loh.” Ya, namanya juga bocah, tidak mengerti situasi sebenarnya. “Makanannya saja lebih enak dari masakan mamah, Remy suka kue pai nya, kakak suka apa?” Hening sebentar karena suara busur yang melesat tertangkap telinganya. “Uah! Kakak hebat!” Walaupun tidak kena sasaran sih ya.. “Kakak bisa membuat busurnya melesat, bagaimana caranya kak? Remy kagum melihatnya deh.” Tertawa kecil sambil menunjukkan ekspresi kagum yang tulus, mana ia tahu bahwa lesatan panah mungkin akan menghujamnya di arena nanti. “Kakak ajarin Remy juga dong! Kak Coral juga, latihan sama-sama yuk.” Tangan mungilnya meraih busur dan anak panah. Ya setidaknya main busur tidak berbahaya seperti main pisau menurutnya. |
![]() |
|
| Shinzo Kawabata | Sunday May 12 2013, 09:09 PM Post #50 |
![]()
|
Wow. Fantastis. Shinzo tidak bisa menutup kekaguman dirinya ketika sampai di ruang latihan dan menjumpai jumlah peserta yang sepertinya sudah hampir mencapai setengah dari jumlah peserta yang akan bermain di arena nanti. Dia belum terlambat kok. Belum. Ia masih punya jatah berlatih hari ini. Kata orang, lebih baik mengisi waktu dengan berlatih daripada diam di kamar sambil menghadap ke sketsa bersama pensil. Ah, dia kangen dengan distrik delapan jadinya kalau begini. Padahal dia sudah berjanji di dalam dirinya untuk membanggakan distriknya itu. Kok sekarang malah menjadi cengeng begini? Hei, dia sudah dapat dikatakan pemuda yang mungkin meraih gelar sebagai pemenang dan membanggakan distriknya. Dia tidak boleh cengeng untuk saat ini. Semangatnya harus dihimpun dan sekarang adalah waktunya untuk berlatih sekaligus mengeluarkan bakat terpendam miliknya—siapa tahu dia ternyata jago sesuatu dan belum menyadarinya. Oke. Inilah Shinzo Kawabta! Dia mulai melangkah ke tengah ruangan dan melihat-lihat pos demi pos. Dia tertarik pada pos tertentu tetapi inginnya bisa mencicipi semua pos. Oleh karena itu, pemuda dari distrik delapan ini memutuskan untuk masuk ke pos secara acak, pos mana yang lebih dekat dengannya saat itu. Mudah-mudahan di pos pertamanya ini nanti Shinzo akan belajar banyak. Dia ini masih terlalu polos dalam urusan bantai-membantai sehingga begitu peduli untuk meningkatkan ilmunya melalui sesi latihan. [result]3&3,1d10,0,3&1d10[/result] |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |















9:33 PM Jul 11