|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Pelatihan #50 | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday May 11 2013, 08:00 PM (3,804 Views) | ||
| Lisette Bass | Saturday May 11 2013, 08:00 PM Post #1 | |
|
Day One. Don't you think this Hunger Games will be huge, hmm? Tentu saja akan sangat besar. Pesertanya saja ada empat puluh delapan orang. Dan sebuah kehormatan bagi seorang Lisette Andromeda Bass menjadi salah satu perancang arena tahun ini. Quarter Quell—don't you think so too? Tee-hee. Gadis awal dua puluh tahun itu sedang berada di bangku yang disediakan untuk jejeran orang ternama Capitol, mereka-mereka yang terlibat dengan pembuatan Arena. Pengawasan pelatihan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan namun bagus dijadikan acuan bagi mereka untuk menerka siapa yang bertahan dan siapa yang tidak layak bertahan. Sementara gadis ini sendiri mengeset matanya hanya ke kawanan karier—tentu. Terlebih pilihan karier tahun ini sampai ada delapan orang, dengan beberapa nama yang tidak kalah familiar. DDR, you sure doesn't want to move on, hmm? Sebenarnya tak begitu banyak perubahan di pos-pos yang dilakukan oleh sang gadis dan partnernya lakukan tahun ini. Aron tidak berencana meninggalkan posisinya sebagai perancang arena karena berhasil membuat distrik kesayangan Capitol mengecap kejayaannya lagi, mungkin. Entahlah. Intinya; posnya tak banyak berbeda. Pos pelatihan tahun ini ada sepuluh. Mengantisipasi peserta yang terlalu banyak sehingga satu pos akan dihuni oleh beberapa orang banyaknya. Pos pertama tetap jatuh pada tanaman beracun dan penawarannya. Mungkin untuk tahun-tahun lalu pos ini akan terlihat tidak berguna, namun sedikit spoiler—gadis Bass ini menyukai segala sesuatu yang berbau enak namun mematikan. Racun—adalah salah satu hal dari sedikit yang disukainya secara benar-benar, kau tahu. Pos kedua, pos dimana senjata-senjata bergelatakan rapi dengan beberapa pengawas latihan yang ada. Berbagai macam senjata mulai dari tombak, pedang, gada, trisula, kapak semua senjata berat lengkap baik yang terbuat dari perak, perunggu, bahkan karet. Persenjataan lengkap di pelatihan namun di arena belum tentu demikian. Pos ketiga disediakan pos ketangkasan, pos yang sama dengan dengan pos palang rintangan pada tahun lalu. Disediakan berbagai palang rintangan dengan perangkap-perangkap lengkap dengan pengawasnya yang akan membantu jika dibutuhkan. Pos keempat sendiri adalah pos gulat. Kekuatan selalu yang dipentingkan oleh para karier dan Capitol. Pos ini sendiri terletak didekat tempatnya duduk saat ini. Pos kelima adalah pos kamuflase. Pos dimana mereka diajarkan untuk menyamarkan diri menggunakan bahan-bahan di alam liar. Meski sayangnya—untuk tahun ini, mereka akan mendapat celakanya jika berusaha kabur. Capitol need more blood, darl. Pos keenam adalah pos sasaran. Ketepatan dalam melempar pisau dan ketepatan dalam memanah dibutuhkan di pos ini. Dimana para peserta dapat unjuk gigi dalam kemampuan mengukur ketepatan dan keakuratan mereka. Pos ketujuh sendiri adalah pos dimana mereka akan diajari untuk bertahan hidup di alam liar. Setidaknya Liz berbaik hati membiarkan para peserta itu mengerti bagaimana rasanya bertahan di alam liar dan memanfaatkan hal di sekelilingnya. Pos kedelapan adalah pos angkat beban. Dimana berjejer barbel sederhana hingga bola besi seberat dua puluh kilogram—dia yakin banyak yang punya tenaga berlebih tahun ini. Pesertanya bisa saja melempar dan mematahkan beberapa tulang leher yang lain, kan? Pos kesembilan adalah pos jerat. Pos dimana para peserta dituntun untuk membuat jerat dan menajamkan ketangkasan dan pemikiran mereka untuk mengungguli mereka-mereka yang kuat dan berbadan besar. Liz masih memikirkan anak-anak perempuan untuk hal ini, kau tahu. Dan yang terakhir adalah pos perlindungan. Dimana pos ini diajarkan teknik-teknik perlindungan dalam bela diri dan apa saja yang harus dihindari jika ingin bersembunyi. Walau Liz sendiri yakin mereka tak akan bisa bersembunyi darinya, kau tahu. Tee-hee. Nah cukup lengkap, kan? Baik hati kan, gadis ini? Mari mulai saja latihannya kalau begitu, peserta. Jangan terlalu menumpuk di satu post, 'kay?
Edited by Lisette Bass, Saturday May 11 2013, 08:04 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Replies: | |
|---|---|
| Mario Spielberg | Sunday May 12 2013, 09:14 PM Post #51 |
![]()
|
Jadi latihan? Spielberg usia tanggung itu melangkahkan kaki dengan santai tanpa berfikir hal-hal yang mengerikan. Ia sejujurnya sudah tidak lagi mengkhawatirkan soal kematian ataupun kembali ke distrik. Menyerah? Tidak juga, hanya Mario ingin menikmati detik-detik takdirnya dengan santai supaya hidupnya lebih bermakna. Setidaknya jika hal seperti ini disiarkan dan dilihat keluarganya, Mario tidak akan membuat mereka khawatir ataupun kecewa dengan kepengecutan dan hal-hal tak pantas lainnya. Benar, dia lebih memilih tewas di arena alih-alih menangis cengeng meratapi nasibnya. Sekarang dia menginjakkan kaki di arena latihan sendirian omon-omong. Niatnya memang mau bergabung dengan teman sedistrik yang tentu saja saat Quartel Quell macam ini jadi dua kali lipat yang berarti ada tia orang lagi selain dia. Tapi Mario Spielberg bukan pemuda ramah tamah yang bisa dikenal orang dan menjadi teman baik. Ia sendiri meragukan ia akan mendapat semacam teman dalam arena. Bahkan teman satu distrik pun ia tidak ingat siapa saja dengan begitu jelas. Kalau teman dari distrik? Ia mungkin hanya ingat satu nama, gadis pemberi roti yang sudah membantu mengisi perutnya. “…” Lupakan narasi panjang lebar tak berguna, jadi dimana ia harus berlatih pertama hem? [result]7&7,1d10,0,7&1d10[/result] |
![]() |
|
| Shinzo Kawabata | Sunday May 12 2013, 09:30 PM Post #52 |
![]()
|
Pos TIGA Ia memilih pos yang nampaknya rumit. Ketangkasan sepertinya. Habisnya Shinzo mendeteksi adanya palang-palang rintangan yang sepertinya minta dilewati. Hahaha. Padahal dia ingin yang santai saja sebenarnya. Sayang sekali, pemandu yang bertugas di pos itu segera menyapanya dan meminta Shinzo mengikuti wisata keliling pos. Dia dijelaskan mengenai bagaimana peserta akan melewati pos itu dan apa hikmah dari belajar di pos ini. Shinzo mendengar dengan separo tak berminat tetapi berusaha terlihat profesional dengan menampakkan anggukkan kecil seolah-olah dia paham apa yang akan dia petik hikmahnya dari tempat ini. Menurut Shinzo, dia akan dikuras tenaganya—meskipun pemandu itu meyakinkan pemuda dari distrik delapan itu bahwa dia telah memilih pos yang tepat—seketika itu juga. Nah, dari bagian mana dia memulai? Kebingungan, putra Kawabata ini akhirnya melirik ke pemandu yang dengan lincahnya mengarahkan pemuda ini untuk memulai dari titik awal di mana di situ Shinzo diharapkan berlari melintasi deretan batu yang berukuran besar serta kecil yang berhamburan—lengkap dengan ketajaman tertentu—sesuai dengan medan arena yang memang berat dan dalam lima meter berhadapan dengan palang kayu setinggi pinggang Shinzo di mana pemuda ini buru-buru meloncat setinggi mungkin dan berhasil melompati palang itu dan sebelum dia berpuas diri, sudah ada palang lain yang jauh lebih besar daripada sebelumnya dengan atas dibubuhi duri-duri besi yang mengerikan. Lompat? Tidak. Shinzo memilih untuk membungkuk dan lewat dari sisi bawah saja sementara pemandunya memberinya amukan bahwa dia harusnya melompatinya dan bukan lewat jalur bawah. Oke, guys. Ini pos yang berat. |
![]() |
|
| Kathleen Halvorsen | Sunday May 12 2013, 10:07 PM Post #53 |
![]()
|
[Pos 10] Pos untuk melatih bersembunyi. Ya, kurang lebih begitulah. Mungkin post ini dapat berguna baginya, mungkin. Ketika sudah tak ada orang lagi yang dapat ia ajak aliansi, mungkin bersembunyi bisa menjadi satu-satunya opsi yang tersisa. Walaupun bersembunyi toh bukan suatu jalan keluar. Tetap saja nanti Kathleen akan ditemukan, suatu hari nanti. Jadi entahlah, mungkin ia mempelajari ilmu ini hanya untuk membeli waktu. Berkamuflase, ya. Mungkin itu satu-satunya cara, Kathleen mengikuti setiap instruksi yang diperagakan oleh instrukturnya. Mungkin ia benar-benar tak mengharapkan banyak hal dari seorang gadis distrik dua belas tahun yang masih berusia empat belas tahun. Kathleen harus menepis segala pikiran buruknya, ia pasti bisa bertahan selama mungkin di arena. Lalu untuk apa bertahan lebih lama? Sejak kapan gadis Halvorsen ini menjadi mencintai rasanya menderita seperti itu, apa namanya, masokis? Ia menyelesaikan tugas yang diberikan di pos sepuluh ini, sangat membantu, sungguh. Dan gadis Halvorsen ini tidak sedang berusaha melakukan sarkasme, Kathleen benar-benar berpikir bahwa itu dapat ia terapkan nanti, kalau ia memang bertahan lebih lama. Sekarang rasanya sudah waktunya untuk pindah pos, eh? Ke mana selanjutnya, hm? pindah pos (...) [result]9&9,1d10,0,9&1d10[/result] |
![]() |
|
| Shinzo Kawabata | Sunday May 12 2013, 10:09 PM Post #54 |
![]()
|
Pos TIGA Shinzo masih harus melewati begitu banyak palang rintangan sekaligus. Ada yang tingginya hanya selutut tetapi melebar sehingga dia harus membuat timing mendarat sedikit lebih jauh daripada yang sebelumnya. Ada juga yang jarak antara palang satu dan yang lainnya begitu dekat sehingga dia harus buru-buru meloncat lagi sebelum wajahnya kena sabet batang pohon yang dibiarkan mengayun melalui sisi di mana dia berhenti sedetik lebih lama. Ketika ia mendapati palang dengan tinggi sepinggang untuk ketiga kalinya, Shinzo kewalahan dan mengikuti jalur bawah sama seperti yang dilakukannya di palang keduanya tadi daripada dia mencoba melompatinya dan tungkainya kena hantam palang karena tidak sampai. “IYA. IYA. ITU MEMANG HARUS DILOMPATI. MAAF. MAAF!” Ia berteriak bahkan sebelum pemandunya protes. Pemuda ini menarik napas untuk menenangkan dirinya. “Itu hanya refleksku, oke?” Heran. Padahal menurut Shinzo dirinya bisa lewat dari sisi manapun itu. Di arena nanti tentu dia tidak perlu melompati semuanya, bukan? Dia bisa lewat sisi bawah. Toh di bawahnya ada celah. Tapi, Shinzo tidak mau kelihatan sok benar di sini. Lagi pula, dia tidak tahu seperti apa desain arena tahun ini. Capitol selalu mengubah arena dari waktu ke waktu seingatnya. Tidak ada jalan lain selain memikirkan kemungkinan terburuk. “Istirahat sebentar, boleh?” Ia meminta tenggat waktu kepada pemandunya yang dengan perasaan tidak puas memberinya izin. Shinzo kemudian duduk di atas salah satu palang perintang dan memperhatikan aksi dari peserta lain. Sama sekali tidak ada peserta yang tertarik untuk berada di pos yang sama dengannya. Hah. Keputusan mereka memang benar. Pos yang satu ini makan tenaga sekali. Edited by Shinzo Kawabata, Sunday May 12 2013, 10:22 PM.
|
![]() |
|
| Aidy Joselin | Sunday May 12 2013, 10:13 PM Post #55 |
|
POS 10 Ia sadar diri, gadis lemah sepertinya memang amat sangat memerlukan pelatihan, meskipun ia tahu ia tidak akan mungkin menguasai semuanya dalam waktu yang relatif singkat. Tapi setidaknya, ada beberapa keahlian yang mampu ia kuasai dari sini untuk digunakannya nanti pada saat permainan neraka itu dimulai. Banyak pos-pos yang mengarjakan keahlian yang berbeda-beda disini, dara Joselin ini sampai bingung untuk memulainya dari mana. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk memulai dari pos yang paling ujung terlebih dahulu, pos perlindungan, karena Aidy rasa, apapun yang diajarkan di pos tersebut, amat sangat membantunya nanti ketika berlindung pada saat Hunger Games nanti. Langkahnya mantap, seperti langkah si gadis lemah dari lima yang juga melangkah mantap menaiki podium pada saat namanya disebut pada hari pemungutannya. Tiba-tiba, gadis bersurai merah ini mendengar seruan dari seseorang, memanggil namanya kalau tidak salah dengar. Iris birunya menangkap sosok entitas yang memanggilnya tersebut, seorang pemuda yang berasal dari distrik yang sama dengannya, Pinoy Annelli, yang namanya ikut terambil bersamanya di hari pemungutan yang lalu. "Hallo..." Balasnya sambil terus melangkah ke pos yang ditujunya. Ketika mereka sampai, nampaknya belum ada yang datang kesini. Sepertinya jarang ada yang memilih pos ini, apa mereka menganggap sepele pos ini karena merasa dapat melindungi diri mereka sendiri? Ataukah karena letak pos ini yang berada di ujung, sehingga pos ini menjadi pos yang terakhir dilirik oleh peserta yang lain? Entahlah, tapi Aidy sedikit bersyukur karena pos ini tidak terlalu ramai, sehingga hanya sedikit peserta yang akan melihat kemampuannya nanti. Lebih banyak kemampuan yang terekspos, lebih membahayakan, bukan? Disela-sela penjelasan si pemandu, Pinoy bertanya pada Aidy, “Mana yang lain?” Benar juga. Ini Quell, dimana pada tahun ini, peserta yang diambil dari tiap distriknya dua kali lipat lebih banyak dari Hunger Games di tahun-tahun sebelumnya. Namun, yang terlihat disini hanyalah dirinya dan Pinoy. Lalu, dua peserta lain dari distriknya ada dimana? tak lama kemudian, seorang gadis datang menghampiri pos dimana ia berada. ia tidak terlalu ingat nama gadis itu, tapi seingatnya, gadis itu berasal dari distrik penghasil batu bara. Namun, gadis itu tidak lama. Karena setelah berada di pos berlindung, gadis itu pindah ke tempat lain. Kemudian, kemunculannya disusul oleh seorang gadis bersurai sama dengannya, kemerahan, yang kalau tidak salah juga berasal dari distrik yang sama dengan Aidy, lima. "Hey, Scarlet" Sapanya pada gadis yang baru datang itu. "Pemuda yang itu... kemana?" Yeah, pemuda itu, yang juga dari distriknya. Aidy memang tidak terlalu menghafal nama-nama peserta, selain jumlahnya banyak, Aidy pun juga jarang bersosialisasi dengan mereka. Maka, maklumi saja jika Aidy tidak menyebutkan nama. Interaksi dengan Pinoy Annelli. Menyapa Scarlet. Op-in |
![]() |
|
| Patricia Bronwyn | Sunday May 12 2013, 10:14 PM Post #56 |
![]()
|
#9 - Post Pertama Ini sebetulnya pos yang sedari tadi menarik perhatiannya, karena tujuan pos ini adalah membuat sesuatu, atau lebih tepatnya membuat suatu rancangan. Pekerjaannya di distrik mengharuskannya untuk selalu membuat rancangan sesuatu dengan benar. Salah sedikit, kau tentu tahu akibatnya, 'kan? Panem keras. Karena itulah semua orang bekerja, bahkan yang di bawah 18 tahun banyak yang rela kerja paruh waktu, sehingga bukan disebut hal biasa lagi. Pos jerat cenderung sepi. Begitu manik cokelatnya bergulir, ia menemukai dua gadis dari distrik karir—salah satunya masih anak kecil, satu lagi tingkahnya yang begitu. Tidak berniat mendekat, seberapa muda dan sekecil apapun mereka yang namanya karir tetap saja berbahaya, di mata siapapun. Badan kecil berarti cerdik, ya 'kan? Dan cerdik artinya lebih cepat, tanggap, dan lihai. Coba kau tambahkan 'dalam membunuh' pada tiga kata tadi. Buru-buru ia mengalihkan pandangan. Kalau terlalu lama memperhatikan malah nantinya ia disaut dan hal yang macam-macam terjadi. Ini baru pelatihan, arena masih melayang rendah di atas kepala dan sebentar lagi akan jatuh. Itu tandanya masalah tidak akan semakin surut, malah akan semakin naik. Jadi kini ia lebih memilih memandang alat-alat yang tersedia. Jerat itu keren, omong-omong. Dulu adik laki-lakinya pernah membuat jerat tak sengaja yang mencelakakan Phoebe dan Pierre sebagai pembuat jerat itu sendiri. Keduanya terjatuh dengan konyol dan tertawa pada akhirnya, padahal hidung mereka bisa bengkok gara-gara itu. Apakah kalau ia membuat jerat di arena nanti korbannya akan mengalami patah hidung? Entahlah. Ranting-ranting di hadapannya seolah minta segera diikat satu sama lain sehingga menjadi jerat yang berfungsi. Jadi ia tinggal gunakan otaknya saja. |
![]() |
|
| Shinzo Kawabata | Sunday May 12 2013, 10:19 PM Post #57 |
![]()
|
Pos TIGA Shinzo memutuskan untuk menyudahi istirahatnya dan melanjutkan latihannya di pos itu hanya untuk menuntaskan beberapa rintangan lagi sebelum dia pamit dari sana. Ia beralasan masih ingin mencicipi pos lain—dan dia dikejar waktu—sambil berjanji untuk kembali lagi ke pos ini bila dia sempat. Padahal Shinzo sudah mencoret pos ini sebagai salah satu pos yang harus ia kunjungi. Yah, menyenangkan hati orang lain toh tidak apa-apa. Dia bisa bertahan lama di arena kalau banyak yang suka padanya—dengan kata lain dia bicara soal sponsor. Keringatnya mulai mengucur deras dan dia berhasil menamatkan rintangan di pos itu—lubang yang tertutup rapi dengan dedaunan hingga terjangan sulur-sulur yang sempat menyulitkannya—dengan penuh penderitaan. Pemandunya jelas tidak begitu suka dengan aksinya dan Shinzo bertaruh dia akan meminta pemuda ini mengulanginya lagi dari awal sebelum Shinzo membeberkan alasan yang sudah ia rancang tadi di kepalanya. Mau tidak mau dia diizinkan untuk pergi dari pos itu dan mencari pos lain. Dalam hati Shinzo bersyukur mereka tidak memaksa dalam hal ini. Tubuhnya sudah tidak kuat kalau disuruh mengulang dari awal lagi. Er. Lalu, pos mana yang akan dia masuki sebagai pos keduanya? Ia harus jeli memilih karena tenaga dan waktunya terbatas. Ia harus menguasai beberapa pos penting dan memastikan dirinya aman ketika berada di arena dengan ilmu yang ia dapat dari latihan. Pindah ke pos [result]5&5,1d10,0,5&1d10[/result] Edited by Shinzo Kawabata, Sunday May 12 2013, 10:22 PM.
|
![]() |
|
| Maysilee Donner | Sunday May 12 2013, 10:39 PM Post #58 |
![]()
|
Pelatihan. Persiapan menuju suguhan utama. Lucu sekali, dilatih bersama-sama seperti ini. Ya, ya, Maysilee masih belum bisa menangkap humor dari semuanya, di mana semua orang bisa senyum-senyum belajar mengayunkan belati. Akan ada sedikit tatapan sengit dari balik punggung, dia tahu—lirikan sinis, kata-kata yang dirangkai di batin, tangan yang mengepal kuat di tonggak tombak tanpa sadar… sedikit strategi, barangkali, dan pengodean rahasia berjalan di bawah bisikan. Dia tahu apa pun bisa terjadi diam-diam di balik semua ini. Justru begitulah caranya bekerja, bukan? Serba diam-diam. Pertemuan diam-diam, konversasi diam-diam, kesepakatan diam-diam… beberapa langkah lagi, dan dia bakal muak. Maysilee diam dan menyimak, sementara sesekali matanya memindai area. Empat puluh tujuh yang lain, apabila belum ditambah penjagaan dan Nona Bass itu. Hnn. Dia mencari wajah rekan-rekan sedistriknya yang lain, berpikir mungkin itu akan membuatnya merasa less nervous—yah, tak juga ampuh. Bukan hanya mereka. sekian puluh orang di sini, tak juga satu pun yang pernah diajaknya bicara. Donner hanya mengamat, hanya berdiri diam, hanya bicara apabila diajak bicara; itu pun menyangkut cuaca, kalau bukan menanyakan keberadaan pendamping. Apabila tidak diharuskan memverbal, maka dia mengangguk. Annoying, yes. Tapi dia tidak bisa berpikir jauh-jauh dari tonggak bertuliskan `aman`. Itulah yang lebih menyebalkan dari dirinya. Mencari kenyamanan di segala sudut. Kalau tidak bisa mendapatnya, maka dia membayangkannya; setidaknya, itu akan membuatnya tidak begitu bingung akan sirkumstansi. Maysilee Donner berumur enam belas dan adalah segala-galanya dari anak perempuan Distrik Dua Belas yang tinggal di dalam toko manisan. Tolong, rendahkan ekspektasi. Jangan pikir dia akan bagus-bagus amat di pos-pos yang tersedia, atau mencetak skor cemerlang… dia tidak yakin, sendirinya. Entahlah untuk minggu-minggu ke depan seperti apa. Pilih pos, pilih pos. { [result]2&2,1d10,0,2&1d10[/result] } |
![]() |
|
| Shinzo Kawabata | Sunday May 12 2013, 10:48 PM Post #59 |
![]()
|
Pos LIMA Ini dia. Pos yang satu ini sepertinya tidak makan tenaga. Juga tidak ada peserta lain di tempat itu—peserta lai sibuk mengerumuni pos lain. “Salam.” Shinzo menyapa pemandu yang berada di sana. Seakan sudah siap dengan apa yang menantinya di pos itu, pemuda ini melihat sekeliling dari pos tempatnya berpijak saat ini dan melihat paduan dari alam mini yang disuguhkan di depan matanya. Tempat ini tidak seluas pos sebelumnya tetapi cukup memberi gambaran kepada peserta bila mereka masuk ke tempat ini maka akan berhadapan dengan apa. Shinzo seketika itu juga merasa tertarik dengan pos tempatnya berada saat ini. Pos yang menurutnya tidak makan banyak tenaga ini mengajarinya cara untuk menyamar. Iya, menyamar. Pemandu itu bilang begitu. Dan Shinzo sedikit tertarik karena dia lumayan suka merancang dengan pensil dan juga kuas. Jadi, sedikitnya dia tidak merasa kesulitan di pos yang satu ini. Beberapa menit kemudian Shinzo sudah disibukkan dengan membuat tumpukan dedaunan di atas dirinya dan menyusunnya sealamiah mungkin untuk menutupi dirinya—dia sengaja menyisakan kegiatan lukis-melukis dirinya di bagian akhir. Orang bilang paling aman tidur di atas pohon tetapi kalau memang di sekitarnya tidak ada pohon atau pohonnya terlalu mungil untuk dipanjati maka dia bisa menutupi dirinya dengan tumpukan dedaunan dan membiarkan hidungnya bernapas di celah dedaunan—tentunya setelah memilih titik aman untuk berbaring. Dia bisa tidur dua jam dengan cara seperti itu. Keren, ya, pos ini. |
![]() |
|
| Exodus Kruchev | Sunday May 12 2013, 11:16 PM Post #60 |
![]()
|
POS 7 Pos pertama yang dikunjungi pemuda ini ternyata belum disinggahi oleh peserta manapun. Good. Dia memang tidak membutuhkan kerumuman orang di depan pos yang akan dimasuki. Semakin sepi, semakin baik untuk Kruchev ini. Dia sedang dalam tahap uring-uringan (tapi tak terlihat dari luar) karena tidak berhasil menyelundupkan rokok ke kamarnya. Jika biasanya dia mampu meresapi sekian banyak batang rokok demi memuaskan nafsu jasmaninya, kali ini tidak ada lagi iming-iming kebahagiaan yang diberikan untuk Exodus. Tidak ada lagi tembakau dan nikotin dalam jangkauannya. Sial, brengsek sekali Capitol di sini. Keep calm and move on, Exodus. Tetap tenang. Kau bisa melabrak Dimitri usai latihan hari ini berakhir. Belum lama matanya beradaptasi dengan pos tujuh, sudah ada pemuda lain yang ikut mendatangi pos yang sama. Exodus hanya mengetahui pemuda itu berasal dari Distrik Sepuluh. Ya, ya, terserahlah dia mau berbuat apa di sini selama tidak mengganggu Exodus. Dia memperhatikan dengan cermat penjelasan yang diberikan pemandu pos tersebut. Tidak terlalu menarik sebenarnya, tapi bukan tidak mungkin materi yang diberikan berguna sedikit di Arena nanti. Berikutnya, kedua orang itu berjongkok bersama dan memulai cara menyalakan api. Minatnya mulai menarik perhatian pemuda Kruchev, memperhatikan apa yang dilakukan bocah Sepuluh yang berujung gagal. Exodus lantas membuang perhatiannya dari aktivitas di sana, merasa pos itu tidak terlalu memberikan manfaat untuknya kala mendengar bocah itu memanggil salah seorang gadis bernama Yasmine. Datang lagi undangan lain, hm? Seorang gadis, untungnya. |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
![]() Join the millions that use us for their forum communities. Create your own forum today. Learn More · Sign-up for Free |
|
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |













9:33 PM Jul 11