|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Pelatihan #50 | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday May 11 2013, 08:00 PM (3,802 Views) | ||
| Lisette Bass | Saturday May 11 2013, 08:00 PM Post #1 | |
|
Day One. Don't you think this Hunger Games will be huge, hmm? Tentu saja akan sangat besar. Pesertanya saja ada empat puluh delapan orang. Dan sebuah kehormatan bagi seorang Lisette Andromeda Bass menjadi salah satu perancang arena tahun ini. Quarter Quell—don't you think so too? Tee-hee. Gadis awal dua puluh tahun itu sedang berada di bangku yang disediakan untuk jejeran orang ternama Capitol, mereka-mereka yang terlibat dengan pembuatan Arena. Pengawasan pelatihan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan namun bagus dijadikan acuan bagi mereka untuk menerka siapa yang bertahan dan siapa yang tidak layak bertahan. Sementara gadis ini sendiri mengeset matanya hanya ke kawanan karier—tentu. Terlebih pilihan karier tahun ini sampai ada delapan orang, dengan beberapa nama yang tidak kalah familiar. DDR, you sure doesn't want to move on, hmm? Sebenarnya tak begitu banyak perubahan di pos-pos yang dilakukan oleh sang gadis dan partnernya lakukan tahun ini. Aron tidak berencana meninggalkan posisinya sebagai perancang arena karena berhasil membuat distrik kesayangan Capitol mengecap kejayaannya lagi, mungkin. Entahlah. Intinya; posnya tak banyak berbeda. Pos pelatihan tahun ini ada sepuluh. Mengantisipasi peserta yang terlalu banyak sehingga satu pos akan dihuni oleh beberapa orang banyaknya. Pos pertama tetap jatuh pada tanaman beracun dan penawarannya. Mungkin untuk tahun-tahun lalu pos ini akan terlihat tidak berguna, namun sedikit spoiler—gadis Bass ini menyukai segala sesuatu yang berbau enak namun mematikan. Racun—adalah salah satu hal dari sedikit yang disukainya secara benar-benar, kau tahu. Pos kedua, pos dimana senjata-senjata bergelatakan rapi dengan beberapa pengawas latihan yang ada. Berbagai macam senjata mulai dari tombak, pedang, gada, trisula, kapak semua senjata berat lengkap baik yang terbuat dari perak, perunggu, bahkan karet. Persenjataan lengkap di pelatihan namun di arena belum tentu demikian. Pos ketiga disediakan pos ketangkasan, pos yang sama dengan dengan pos palang rintangan pada tahun lalu. Disediakan berbagai palang rintangan dengan perangkap-perangkap lengkap dengan pengawasnya yang akan membantu jika dibutuhkan. Pos keempat sendiri adalah pos gulat. Kekuatan selalu yang dipentingkan oleh para karier dan Capitol. Pos ini sendiri terletak didekat tempatnya duduk saat ini. Pos kelima adalah pos kamuflase. Pos dimana mereka diajarkan untuk menyamarkan diri menggunakan bahan-bahan di alam liar. Meski sayangnya—untuk tahun ini, mereka akan mendapat celakanya jika berusaha kabur. Capitol need more blood, darl. Pos keenam adalah pos sasaran. Ketepatan dalam melempar pisau dan ketepatan dalam memanah dibutuhkan di pos ini. Dimana para peserta dapat unjuk gigi dalam kemampuan mengukur ketepatan dan keakuratan mereka. Pos ketujuh sendiri adalah pos dimana mereka akan diajari untuk bertahan hidup di alam liar. Setidaknya Liz berbaik hati membiarkan para peserta itu mengerti bagaimana rasanya bertahan di alam liar dan memanfaatkan hal di sekelilingnya. Pos kedelapan adalah pos angkat beban. Dimana berjejer barbel sederhana hingga bola besi seberat dua puluh kilogram—dia yakin banyak yang punya tenaga berlebih tahun ini. Pesertanya bisa saja melempar dan mematahkan beberapa tulang leher yang lain, kan? Pos kesembilan adalah pos jerat. Pos dimana para peserta dituntun untuk membuat jerat dan menajamkan ketangkasan dan pemikiran mereka untuk mengungguli mereka-mereka yang kuat dan berbadan besar. Liz masih memikirkan anak-anak perempuan untuk hal ini, kau tahu. Dan yang terakhir adalah pos perlindungan. Dimana pos ini diajarkan teknik-teknik perlindungan dalam bela diri dan apa saja yang harus dihindari jika ingin bersembunyi. Walau Liz sendiri yakin mereka tak akan bisa bersembunyi darinya, kau tahu. Tee-hee. Nah cukup lengkap, kan? Baik hati kan, gadis ini? Mari mulai saja latihannya kalau begitu, peserta. Jangan terlalu menumpuk di satu post, 'kay?
Edited by Lisette Bass, Saturday May 11 2013, 08:04 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Replies: | |
|---|---|
| Kristeen Franscois | Monday May 13 2013, 04:17 PM Post #71 |
|
Tangannya sakit karena menarik senar busurnya terlalu kencang. “Eh?” Kepalanya meneleng ke samping, mendapati seorang pemuda, dari sepuluh, mencoba berlatih dengan pisau lempar pada jalur di samping. Lantas kakinya menjauh beberapa langkah dari si pemuda sepuluh karena suara desingan pisau yang dia lemparkan beberapa kali membuatnya kurang nyaman. Lagipula siapa yang bisa menjamin pisau itu tidak bergerak meleset ke arahnya atau dua peserta dari enam yang berada tak jauh dari tempatnya berada. Beberapa detik Kristeen kembali berkonsentrasi dengan papan sasaran yang akan dibidiknya, mulutnya otomatis langsung mengatur nafas agar tangannya tidak bergetar, sampai akhirnya anak panah itu dilepaskan jari-jarinya, cepat, bersamaan dengan bunyi hantaman pada dasar papan. Seperti mematuk. Hening sebentar. Hingga ia dengar teriakkan Remy yang sepertinya kelewat kaget. “Meleset Rem,” Kepalanya menoleh anak berambut ikal itu sebelum kembali memperhatikan papan sasaran di depan sana. Anak panahnya menancap pada bagian yang kosong, mudahnya anggap saja meleset. Tapi Remy itu, dia membuat Kristeen tersenyum senang karena ucapannya barusan meskipun pada mulanya ia sedikit ragu. “Ini mudah, coba kau lakukan sekali.” Kristeen menurunkan busurnya, sekali matanya bergerak pada gadis di samping Remy, berniat menjelaskan caranya memanah seperti tadi pada keduanya. “Hanya perlu memasang anak panahnya disini,” Tangannya menuntun untuk menerapkan satu anak panah pada kait busur, disampirkan pada senarnya dan menyerahkannya pada anak yang hanya setinggi lehernya itu. “Lalu setelah yakin benda itu cukup kuat saat kau tarik maka tinggal bidik saja papan sasaran di depan sana. Kalian cobalah.” Ia mundur beberapa langkah sembari memastikan Remy dan teman perempuannya berhasil memanah lebih baik darinya. Dia mulai suka dua orang dari enam ini, sepertinya. Distrik transportasi, mereka pasti pintar, berani taruhan. Deskrip Tume, interaksi dengan Remy Browning dan Coraline |
![]() |
|
| Mario Spielberg | Monday May 13 2013, 06:59 PM Post #72 |
![]()
|
POS 7 Sepertinya lebih baik memilih pos yang sama dengan angka distriknya, tujuh. “…” Mematung sejenak sebelum akhirnya memutuskan dengan benar bahwa ia harus memasuki pos tujuh seperti yang direncanakan. Sudah ada beberapa orang disini, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Awalnya pemuda tanggung itu tidak yakin ada orang yang memilih pos tujuh. Bagaimana tidak, pos pertahanan hidup tidak selalu menarik dibanding pos gulat, pos lempar-lempar pisau atau pos angkat besi seperti itu. Lantas dirinya sendiri? Ya mau bagaimana lagi, bukankah rasanya seperti orang bodoh kalau sudah menginjakkan kaki tapi keluar lagi. “Permisi.” Mario Spielberg melangkahkan kaki mendekati instruksi dari pemandu pos. Memperhatikan dengan detail apa yang diajarkan kemudian melihat hasil kerja dari pemuda yang mungkin dari distrik sepuluh. Iya, mungkin, toh tidak terlalu mudah bagi Mario mengingat nama orang dan distriknya. Empat puluh delapan bukan hitungan mudah untuk cepat mengingat bukan? Kecuali pemuda satunya lagi, pemuda dari dua yang katanya bersaudara dengan pemenang tahun lalu. Mario bisa ingat dengan betul wajahnya. Juga dua orang peserta yang seperti anak kecil dari empat dan enam. Well, tidak meremehkan, Mario sendiri justru kasihan dengan nasib mereka. Edited by Mario Spielberg, Monday May 13 2013, 07:00 PM.
|
![]() |
|
| Haymitch Abernathy | Monday May 13 2013, 07:15 PM Post #73 |
![]()
Pemenang Hunger Games ke 50
|
Demi apapun, delapan halaman? Langkahnya masih dihentak sama, tidak gentar sedikitpun. Manik abunya menatap ke arah beberapa pos, memutari pusat pelatihan, dan masih tidak ada satu niatanpun untuk berjibaku dengan keharusan dan tawaran baik hati milik Capitol disini. Semalaman, ia mengutak-atik beberapa peralatan di dalam kamarnya—seperti layar yang bisa berganti gambar latarnya, shower mandi, lemari, dan televisi yang sampai ia bosanpun hanya akan menampilkan bagaimana jayanya kehidupan di pusat Panem; sebuah iming-iming agar keluar sebagai seorang pemenang. Brainstorming—kata siapa istilah itu hanya bisa digunakan dalam penulisan naskah radio dan pencarian ide untuk para penulis, eh? Kelam di matanya masih sibuk memerhatikan para peserta yang ada di satu ruangan ini. Segala umur, segala karakter, dan sang Abernathy masih tak habis pikir—bagaimana bisa mereka repot-repot bersikap seolah kawan dibandingkan lawan; karena pemuda dari Seam tak pernah sekalipun berusaha merosotkan kewarasannya hingga tingkat denial paling menyedihkan hanya untuk mewaraskan diri sendiri. Itu lebih menyedihkan dibandingkan menerima fakta yang ada. Medium aural kemudian mengambil alih. Ada yang menarik langkah-langkah pemuda itu mendekat pada satu post; seperti dorongan untuk segera sadar dan tahu diri bahwa kemungkinan ia justru menarik minat beberapa orang karena polahnya. Terlalu percaya diri ataupun tidak, seharusnya sikap itu memang meninggalkan kesan tanda tanya. Seharusnya, ya. Pun begitu, Abernathy meninggalkan impresinya pada beberapa orang. Si kuntet dari Enam, misalnya—yang membuatnya geram sendiri lantaran mengingatkannya pada adiknya di rumah, Dylan. Terhenti. Menatap sang instruktur, lalu bergabung begitu saja. “Mau coba duel?” Ke siapapun. [result]2&2,1d10,0,2&1d10[/result]; itu ke siapapun yang satu pos. |
![]() |
|
| Floyd Ordyn | Monday May 13 2013, 07:47 PM Post #74 |
|
Ruangan itu sudah penuh, Floyd masih diam memandangi peserta lain yang sudah sibuk dengan pos mereka masing-masing. Ia tidak tahu harus memulai dari mana, semua begitu mendebarkan. Entahlah mungkin mendebarkan bukan kata yang tepat untuk menjelaskan perasaan Floyd saat itu. Belum saatnya ia untuk takut, toh secara teknis dirinya masih ada dalam Capitol. Ia masih bisa menikmati semua kenikmatan sesaat seperti makanan enak dan pakaian bagus. Dirinya belum sampai pada fase kritis macam arena. Ia memutar bola matanya, menarik napas dalam-dalam seolah ingin membuyarkan pikirannya dari ancaman arena dan tetek bengeknya, bah menyusahkan saja. Apa sih ini? Floyd dan peserta lain harus berlatih ditonton oleh para petinggi Capitol. Buat apa mereka di sini? Mau melihat siapa yang berpotensi menang pada Quartel Quell kali ini hah? Bukankah orang-orang Capitol suka kejutan? Kenapa mereka tidak masuk saja tidak usah melihat apa yang dilakukan para tribute lalu tercengang pada bloodbath nanti? Kali saja ada tribute dari distrik bawah tau-tau membunuh para Karir kesayangan Capitol itu. Bikin kaget kan? Tapi itu urusan belakang, yang penting sekarang dirinya harus mengikuti pelatihan ini. Karena kalau tidak bisa jadi malah dirinya yang jadi santapan empuk para Karir sialan itu, huft. [result]7&7,1d10,0,7&1d10[/result] |
![]() |
|
| Antonio Shadowsong | Monday May 13 2013, 08:08 PM Post #75 |
![]()
|
Ternyata ruangan pelatihan ini terlalu ramai. Setidaknya Antonio berpikir begitu ketika dirinya terjebak di antara para peserta Hunger Games. Ah, banyak sekali sih, dan pos-pos pelatihan sudah ramai dicoba oleh para peserta. Antonio sendiri sejujurnya tak sabar untuk mencoba salah satunya, ia ingin mencoba memegang senjata. Selama ini, ia hanya menyerang anak-anak yang mencari mati dengan batu atau kayu. Kejadian berikutnya orang tua si anak datang membawa korban pukulan Antonio beserta bukti-buktinya. Setelah itu, Antonio baru dipukuli ayahnya lagi, katanya Antonio memang tidak berbakat membuat bangga keluarganya. "..." Buat apa? Kalau Antonio baru masuk Hunger Games kali ini, ayahnya baru bangga? Bangga karena bisa menghibur Capitol? Dalam mimpimu. Namun tetap saja ia harus bisa bertahan hidup demi Antonia. Bagaimana ya kabar adik perempuannya itu sekarang? Antonio melihat para pemain lain berpencar ke pos-pos. Kali ini dia harus aktif meski tidak tahu harus ke mana. Tapi—hah, coba saja masuki salah satu, siapa tahu nanti jadi suka. Pos yang akan dimasuki: [result]2&2,1d10,0,2&1d10[/result] ETA: Lupa menghilangkan spasi dice (...) Edited by Antonio Shadowsong, Monday May 13 2013, 08:09 PM.
|
![]() |
|
| Floyd Ordyn | Monday May 13 2013, 08:30 PM Post #76 |
|
POS 7 Jadi setelah berkeliling rasanya lebih baik jika dirinya mampir ke pos 7. Tak ada salahnya kan berlatih agar tetap bertahan di dalam arena jahanam itu? Meskipun kalau boleh jujur ia lebih memilih untuk mati di kamarnya tersedak makanan enak dari Capitol alih-alih diserang kawanan karir atau mutt di arena, cuih. Tapi sepertinya Floyd terkena buah simalakama karena rasa tidak suka berlebih kepada kawanan karir. Lihat saja sekarang dirinya ada dalam satu pos dengan salah satu pemuda dari Dua entah siapa namanya, tidak penting. Pemuda Ordyn itu menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba untuk tidak merasa terintimidasi dengan adanya pemuda dari Dua itu. Sebenarnya tidak ada hal salah yang dilakukan para kawanan karir itu terhadap dirinya, kenal saja tidak. Hanya saja Floyd merasa terancam, dirinya takut, ia begitu rapuh di dalam sana. Hatinya bergejolak tak tenang saat memperhatikan pemandu dari pos 7 menjelaskan tentang hal-hal yang perlu ia perhatikan jika ingin bertahan lebih lama di arena. Maniknya melirik ke arah tribute lainnya untuk sepersekian detik lalu menuju pemandunya lagi. Perutnya mual, ia butuh udara segar. cenderung pasif tapi op-in kok ' '/ |
![]() |
|
| Altessa Lychnia | Monday May 13 2013, 09:12 PM Post #77 |
![]()
|
p o s - 6 Pos sasaran, adalah pos keenam. Menjadi tujuan selanjutnya untuk Lychnia muda yang entah mengapa, masih ingin melanjutkan pelatihannya di tempat ini meskipun badannya, sedikit sakit. Dijatuhkan ke lantai itu tentu saja sakit, sudah lagi, tenaga bergulat yang kuat. Langkah tungkainya terhenti, memerhatikan beberapa senjata yang bisa dipakai dalam pos yang paling membutuhkan akurasi ini. Panah? Sepertinya dia tidak terlalu pandai menggunakannya. Atensinya berpaling pada pisau-pisau lempar yang berderet. Berpikir sejenak, Altessa memutuskan untuk mengambil sebilah pisau lempar. Penggunaannya sekilas mirip dengan pisau yang ada di dapur rumahnya, tapi dilempar. "Bisa beri penjelasan?" tanyanya pada sang pemandu. Dan dimulailah, penjelasan bagaimana melempar pisau pada boneka dumi berbentuk manusia, dengan beberapa titik vital. Sesekali mengangguk-angguk mendengar penjelasan. Dia mengetahui bahwa yang lainnya, rata-rata mengambil panah, hm. "Oke, biar kucoba," Tapi sepertinya tidak enak juga menyapa orang yang ia kenal di pos yang sama. Bulir kebiruannya menatap dua entitas dari Enam. "Hai, Remy, Coraline." Menyungging senyum pada teman sedistriknya itu. Fokus Altessa mulai terpaku pada sasaran di hadapannya, dan dengan sebilah pisau yang ia ambil dari tadi, mencoba melemparnya, sembari tarik nafas dan hembuskan. interaksi ke Remy & Coraline. [result]10&10,1d10,0,10&1d10[/result] <--tepat sasaran kalau hasilnya prima. |
![]() |
|
| Aidy Joselin | Monday May 13 2013, 09:19 PM Post #78 |
|
POS 10 Tidak butuh waktu terlalu lama, kini beberapa peserta lain juga mendatangi pos yang sama dengannya, sebagian besar sih berasal dari distriknya juga. Yeah, kurang lebih saat-saat ini menjadi ajang berkumpul bagi peserta dari distrik lima sebelum nantinya akan berpisah-pisah. Atau bisa juga… saling membunuh. Tidak terlintas sedikitpun di benak seorang Aidy Joselin untuk membunuh orang lain, apalagi orang-orang distriknya sendiri. Meskipun dirinya ini memang gadis yang tertutup, pendiam, dan lebih banyak menyendiri, tapi, ia tidak memiliki alasan apapun untuk menghabisi nyawa orang lain. Yeah, kecuali nanti, satu-satunya alasannya adalah untuk bertahan hidup. Tapi, sebisa mungkin, jika ada cara untuk bertahan hidup yang lain selain membunuh, Aidy akan melakukannya. Dan untuk itu maka diadakannya pos ini. Pasti pos ini mengajarkan hal-hal itu. Si gadis dari distrik dua belas itu kembali lagi ke pos dimana Aidy berada, lalu gadis itu bertanya dari mana asal mereka—Aidy dan teman sedistriknya. "Distrik Lima. Mau ikut berlatih bersama? Kita bisa memulainya bersama-sama." Jawab Pinoy. Aidy mengangguk, "Hey, aku Aidy. Kau sendiri?" Ia memerkenalkan diri pada gadis itu, sungguh jarang dilakukan oleh gadis Joselin ini sekalipun di distriknya sendiri. Namun sekarang, apalah arti sebuah nama? Paling tidak hanya untuk kenangan. "Aku juga sama sepertinya, dari lima. Mari berlatih sama-sama" Sebelum kita saling membunuh sama-sama nantinya. Ia kembali mendengarkan penjelasan sang pemandu setelah selesai menyapa. Sang pemandu menjelaskan beberapa istilah yang biasa digunakan untuk bertahan hidup. Menurut apa yang dikatakan pemandu, cara untuk bertahan hidup yang pertama adalah Size Up the Situation, yaitu peserta harus pandai dalam menilai situasi, setiap kondisi lingkungan dan perubahan-perubahannya harus betul-betul diperhatikan agar selamat. Kedua, Undue Haste Make Taste, jangan tergesa-gesa, biar lambat asal selamat. Setiap tindakan hendaknya dipikirkan untung ruginya. Kesalahan dalam pengambilan keputusan dapat berakibat kematian. Nah, pesan yang ini akan selalu diingat oleh Aidy. Jangan gegabah, agar selamat. Ketiga, Vanquish fear and panic. Kemampuan untuk menguasai diri dari rasa takut dan panik yang dapat menumpulkan nalar dan pikiran yang jernih. Aidy tentu tidak tahu ketakutan apa yang nanti dihadapinya ketika Hunger Games dimulai. Ketakutan akan laba-laba, semut pohon, ular, atau… peserta lain? Bagaimana Aidy dapat menguasai rasa takutnya dan tetap berpikiran jernih sementara ia tidak tahu apa yang akan dihadapinya nanti? Pasti itu akan sulit sekali… Dan terakhir, sang pemandu mengajarkan mereka tentang tehnik bertahan hidup di laut, di padang es, di hutan, dan di gurun. Membuat Aidy tidak bisa menebak yang mana yang harus digunakannya nanti untuk menghadapi situasi di Hunger Games nanti. Dari penjelasan sang pemandu, Aidy merasa sudah mengerti. Dan kini, saatnya ia harus beralih pada pos yang lain untuk menambah keahlian dan pengetahuannya. "Uh, sepertinya aku cukup disini. Mungkin aku harus pindah ke pos lain untuk.. uhm, kalian tahu lah, berlatih lagi" Ia berpamitan pada peserta yang berada satu pos dengannya itu. "Pinoy, mau latihan bersama lagi? Bagaimana kalau ke pos kamuflase?" Interaksi dengan Kathleen & Pinoy Source: Pecinta Alam Pindah ke pos lima Duh, maaf nembok lagi, orz |
![]() |
|
| Pinoy Annelli | Monday May 13 2013, 10:06 PM Post #79 |
![]()
|
POS 10 Pinoy memperhatikan kelanjutan dari pengantar pemandu di pos itu tentang teknik berlindung secara gamblang. Bahkan dia diperbolehkan untuk praktek memanjati pohon di mana katanya dia harus lihai atau berhati-hati agar tidak meninggalkan jejak apa pun. Menurutnya, ini sedikit lebih mudah daripada memanjati tiang listrik di distrik lima. Pinoy cukup ahli dalam hal ini dan dia sama sekali tidak akan merasa kesulitan bila harus mencapai tempat berlindung di atas pohon dalam waktu beberapa detik saja. Ia bersyukur karenanya. Berikutnya, mereka diajar tentang tanda-tanda perubahan yang akan terjadi di arena seperti penurunan suhu yang tiba-tiba dan bagaimana mereka mendeteksinya. Juga disarankan untuk tidak berlama-lama di suatu sempat karena cuaca bisa berubah dengan drastis bila seorang peserta dianggap terlalu lama berada di suatu tempat dengan tujuan mereka harus bergerak mencari tempat lain. Ini informasi baru bagi Pinoy dan dia memastikan merekam semuanya di ingatannya. Ketika pemandunya sudah bicara mengenai hewan-hewan yang bisa mereka waspadai di arena, Pinoy mendadak merasa dirinya akan payah dalam hal ini karena ia tidak pernah bisa memahami apa arti dari tingkah laku binatang jika dia disuruh mendeteksi arah pergerakan binatang untuk mencari tempat yang aman bila seandainya ada musibah terjadi—karena hewan cenderung punya intuisi lebih tajam dalam mendeteksi bahaya dan berpindah ke lokasi yang aman sehingga peserta boleh membuntuti mereka bila ingin selamat. Sebagai penjelasan terakhir, pemandunya bicara soal medan yang ada di arena dari padang pasir, pegunungan, hutan hingga laut. Semuanya memiliki kesulitan medan tersendiri. Ini membuat kepala Pinoy terasa pening. Arena mendadak terasa begitu menyeramkan daripada pesertanya sendiri sehingga untuk membuat dirinya normal, ia memutuskan untuk ikut pindah pos bersama Aidy. Dilihatnya gadis itu sudah berniat untuk menyudahi ilmu di pos ini. “Aku ikut denganmu, Aidy. Scarlet dan Kathleen bisa ikut kalau mau.” Ikut pindah dengan Aidy Joselin ke pos 5. |
![]() |
|
| Scarlet Reed | Monday May 13 2013, 10:49 PM Post #80 |
![]()
|
POS 10 Singkat kata, yang dilakukannya kala itu hanya melangkah, mendekati salah satu pos yang dipilihnya secara acak. Fokusnya tidak terlalu memerhatikan apa-apa saja yang terdapat di dalamnya. Malah sebenarnya, ia tidak terlalu peduli dengan apa yang disajikan sekarang ini. Toh, pelatihan yang sekiranya dilakukan tak berlangsung dengan lama, tak akan membuat perubahan drastis terhadap kemampuannya sekarang ini. Masih saja serupa dengan tahun yang lalu, mungkin semacam itu. Hanya saja, sejauh ini, ia justru melihat banyak peserta dengan wilayah kelahiran yang sama berada di lokasi tersebut. Sedikit berjinjit dari jauh, sembari menatap lurus melewati pundak seseorang, hingga sampailah sorotnya pada suatu kerumunan. Senyumnya dilebarkan, tak sabar menghampiri. Langkahnya pun dipercepat. Mereka itu, distrik lima. "Aidy!" Ia balas menyerukan nama kawan satu distriknya itu. Sesama peserta yang siap mati, perempuan, serta surai kemerahan mereka yang penampakannya hampir serupa. Kemudian, binernya memutar ke arah lain, dan mendapati sosok lain yang turut familier. "Pinoy! Kau juga disini, rupanya. Yah, inginnya sih, tak usah repot-repot latihan." Iya, curang sekali, masa mereka hanya berdua tanpa mengajak Gadis Reed. "Lockhn ya, urm, aku tidak tahu." Transparan. Bahunya dikendikan. Kemudian, datang lagi seorang gadis lainnya. Kalau tak salah, sosok tersebut merupakan Halvorsen, distrik dua belas yang saudaranya sudah lebih dulu terjun ke arena dua tahun silam. Mengenaskan. "Distrik lima, kalau kamu?" Ia balas bertanya, sembari tersenyum sumir. Kedua temannya yang berasal dari distrik serupa itu memilih untuk meninggalkan pos perlindungan terlebih dahulu. Tampaknya, mereka memang telah berada lebih dulu disana. Berkebalikan dengan Gadis Reed yang malah baru datang. Pos kamuflase, tampaknya lebih seru. Meski bagaimana pun juga, ia tak mau melepaskan rasa penasarannya begitu saja. Penasaran bagaimana seseorang bisa lihai menggunakan kelihaiannya untuk menanggalkan dirinya. Kau tahu, menghilang dari pandangan seseorang atau malah menjurus kepada latihan untuk melarikan diri. Lari dan bersembunyi. Kalau saja kata 'lari' bisa semudah itu ia aplikasikan di arena nanti. "Iya, nanti aku nyusul, ya." Sambil melambaikan tangan. Pinoy, Aidy, Kathleen. Cmiiw :") ETA: Salah deskrip, baiklah Edited by Scarlet Reed, Monday May 13 2013, 11:51 PM.
|
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |













9:33 PM Jul 11