|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Pelatihan #50 | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday May 11 2013, 08:00 PM (3,801 Views) | ||
| Lisette Bass | Saturday May 11 2013, 08:00 PM Post #1 | |
|
Day One. Don't you think this Hunger Games will be huge, hmm? Tentu saja akan sangat besar. Pesertanya saja ada empat puluh delapan orang. Dan sebuah kehormatan bagi seorang Lisette Andromeda Bass menjadi salah satu perancang arena tahun ini. Quarter Quell—don't you think so too? Tee-hee. Gadis awal dua puluh tahun itu sedang berada di bangku yang disediakan untuk jejeran orang ternama Capitol, mereka-mereka yang terlibat dengan pembuatan Arena. Pengawasan pelatihan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan namun bagus dijadikan acuan bagi mereka untuk menerka siapa yang bertahan dan siapa yang tidak layak bertahan. Sementara gadis ini sendiri mengeset matanya hanya ke kawanan karier—tentu. Terlebih pilihan karier tahun ini sampai ada delapan orang, dengan beberapa nama yang tidak kalah familiar. DDR, you sure doesn't want to move on, hmm? Sebenarnya tak begitu banyak perubahan di pos-pos yang dilakukan oleh sang gadis dan partnernya lakukan tahun ini. Aron tidak berencana meninggalkan posisinya sebagai perancang arena karena berhasil membuat distrik kesayangan Capitol mengecap kejayaannya lagi, mungkin. Entahlah. Intinya; posnya tak banyak berbeda. Pos pelatihan tahun ini ada sepuluh. Mengantisipasi peserta yang terlalu banyak sehingga satu pos akan dihuni oleh beberapa orang banyaknya. Pos pertama tetap jatuh pada tanaman beracun dan penawarannya. Mungkin untuk tahun-tahun lalu pos ini akan terlihat tidak berguna, namun sedikit spoiler—gadis Bass ini menyukai segala sesuatu yang berbau enak namun mematikan. Racun—adalah salah satu hal dari sedikit yang disukainya secara benar-benar, kau tahu. Pos kedua, pos dimana senjata-senjata bergelatakan rapi dengan beberapa pengawas latihan yang ada. Berbagai macam senjata mulai dari tombak, pedang, gada, trisula, kapak semua senjata berat lengkap baik yang terbuat dari perak, perunggu, bahkan karet. Persenjataan lengkap di pelatihan namun di arena belum tentu demikian. Pos ketiga disediakan pos ketangkasan, pos yang sama dengan dengan pos palang rintangan pada tahun lalu. Disediakan berbagai palang rintangan dengan perangkap-perangkap lengkap dengan pengawasnya yang akan membantu jika dibutuhkan. Pos keempat sendiri adalah pos gulat. Kekuatan selalu yang dipentingkan oleh para karier dan Capitol. Pos ini sendiri terletak didekat tempatnya duduk saat ini. Pos kelima adalah pos kamuflase. Pos dimana mereka diajarkan untuk menyamarkan diri menggunakan bahan-bahan di alam liar. Meski sayangnya—untuk tahun ini, mereka akan mendapat celakanya jika berusaha kabur. Capitol need more blood, darl. Pos keenam adalah pos sasaran. Ketepatan dalam melempar pisau dan ketepatan dalam memanah dibutuhkan di pos ini. Dimana para peserta dapat unjuk gigi dalam kemampuan mengukur ketepatan dan keakuratan mereka. Pos ketujuh sendiri adalah pos dimana mereka akan diajari untuk bertahan hidup di alam liar. Setidaknya Liz berbaik hati membiarkan para peserta itu mengerti bagaimana rasanya bertahan di alam liar dan memanfaatkan hal di sekelilingnya. Pos kedelapan adalah pos angkat beban. Dimana berjejer barbel sederhana hingga bola besi seberat dua puluh kilogram—dia yakin banyak yang punya tenaga berlebih tahun ini. Pesertanya bisa saja melempar dan mematahkan beberapa tulang leher yang lain, kan? Pos kesembilan adalah pos jerat. Pos dimana para peserta dituntun untuk membuat jerat dan menajamkan ketangkasan dan pemikiran mereka untuk mengungguli mereka-mereka yang kuat dan berbadan besar. Liz masih memikirkan anak-anak perempuan untuk hal ini, kau tahu. Dan yang terakhir adalah pos perlindungan. Dimana pos ini diajarkan teknik-teknik perlindungan dalam bela diri dan apa saja yang harus dihindari jika ingin bersembunyi. Walau Liz sendiri yakin mereka tak akan bisa bersembunyi darinya, kau tahu. Tee-hee. Nah cukup lengkap, kan? Baik hati kan, gadis ini? Mari mulai saja latihannya kalau begitu, peserta. Jangan terlalu menumpuk di satu post, 'kay?
Edited by Lisette Bass, Saturday May 11 2013, 08:04 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Replies: | |
|---|---|
| Shinzo Kawabata | Monday May 13 2013, 10:58 PM Post #81 |
![]()
|
Pos LIMA Shinzo masih asyik dengan acara mencampur cat itu dan melumurkannya ke tubuhnya. Ia menikmati apa yang disuguhkan di pos ini sambil membayangkan aplikasinya untuk arena nanti bagaimana. Capitol benar-benar menyajikan pos yang unik. Ia tidak tahu bila pos macam ini ada dan bersyukur dia sudah masuk ke dalam pos ini. Pemuda dari distrik delapan ini ingin bersenang-senang lebih lama lagi, tapi dia punya keterbatasan waktu sehingga merasa perlu menyudahi acara bersenang-senangnya di tempat ini. Ia merasa sudah bisa menguasai garis besar dari pos ini. Masih banyak pos lain yang ingin ia cicipi. Oleh karena itu, pemuda bermarga Kawabata ini segera melangkah keluar dari posnya dan membersihkan dirinya dari ragam warna yang menempel di tubuhnya—Shinzo berhasil membuat dirinya seperti manusia pohon omong-omong. Ia tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada pemandu yang ada di pos itu dan bergegas memilih pos lain lagi. Pos apa, ya? Ini akan menjadi pos ketiganya. Dia harus memilih dengan cerdik. Tenaganya nampaknya tiak akan cukup untuk menjelajahi seluruh pos dalam satu kali sesi latihan ini. Dia akan mencicilnya. Tenang saja. Mereka punya waktu berlatih yang cukup selama beberapa hari sebelum dilempar ke arena. Jadi, tidak perlu teburu-buru—ia harus bisa menikmati semua proses yang ada. Jadi, pos apa yang akan dia pilih? Dari pos 5 ke pos nomer: [result]9&9,1d10,0,9&1d10[/result] Edited by Shinzo Kawabata, Monday May 13 2013, 10:59 PM.
|
![]() |
|
| Pietronella Hart | Monday May 13 2013, 11:08 PM Post #82 |
![]()
|
Alright, Bass. They need blood, she knows. ... Sebelah alisnya berjingkat naik, satu dari banyak kebiasaan yang ia lakukan di tengah lelucon seperti ini. Pelatihan, Capitol bahkan menyediakan tempat pelatihan yang menurutnya, tidak akan berarti banyak. Tahu sendiri, waktu yang disediakan untuk berlatih pun tidak akan berlangsung lama-lama. Pikirannya mungkin tidak sampai untuk mempertimbangkan betapa perbuatan mereka kini amat membuang-buang waktu. Pandangannya berpelisir ke sekitar, semuanya terasa konyol campur mengenaskan. Napasnya dihela, sudah tak habis pikir. Andai kata, mereka mengeluarkan undang-undangan yang isinya mewajibkan seluruh peserta untuk turut andil di dalamnya. Meskipun kurang lebihnya, Gadis Hart merasa tidak dirugikan sama sekali, kecuali adisional mengenai sesuatu yang menggelikan. Tidak ada yang berubah, rasanya. Pos disini sama banyaknya dari tahun ke tahun, sepuluh, dan terus dalam jumlah yang sama. Bedanya, dahulu ia menjadi penonton, dan tidak dengan sekarang. Ia sungguhan mengadopsi peran salah seorang peserta di dalamnya. Gadis enam belas tahun yang tentu saja, tidak akan pernah siap untuk menghadapi kekalahan. Ia tak siap untuk mati bahkan, bisa dibilang. Tidak peduli. Orang lain harus mati, semata agar dirinya menang. Masing-masing pos, serta masing-masing tema yang berbeda satu sama lain. Sepuluh, silahkan pikirkan hal menyenangkan apa saja yang terdapat di dalamnya. Meski bagaimana pun juga, ia merasa tidak asing dengan beberapa di antara kesepuluh pos tersebut. Asal tahu saja, distrik dua memiliki tempat pelatihan sendiri. Yea, mungkin tidak sebesar yang terdapat disini. Namun, secerdas atau senorak apapun pejabat Capitol, mereka tidak akan bisa semudah itu menghilangkan homesick dalam diri gadis ini. Untuk sekali saja, ia merasa teramat menggelikan—Pietronella Hart rindu rumah. Sementara satu-satunya cara untuk kembali, ialah menguasai permainan, dan keluar sebagai pemenang. Quarter Quell, usahanya mesti dua kali lipat. ...to where i will be. Dipercepat sajalah. [result]9&9,1d10,0,9&1d10[/result] || OP-IN |
![]() |
|
| Yasmine Silvertongue | Monday May 13 2013, 11:11 PM Post #83 |
![]()
|
POS 7 Survival. Pos yang bisa dibilang hampir merupakan kegiatan keseharian Yasmine saat ia memiliki waktu senggang di Sepuluh dahulu. Well, pada dasarnya, ia hampir selalu memiliki waktu senggang di distrik. Kini bersama dengan Tume, ia turut mengikuti jalannya pelatihan. Apakah ini hanya perasaannya saja atau pos ketujuh lambat laun menjadi cukup ramai. Berbagai macam remaja dari beragam distrik. Begitu dekat. Ha, paranoid melanda. Berusaha untuk tidak begitu... menarik perhatian, hanya fokus pada pekerjaan di hadapannya. Atau fokus kepada pekerjaannya dengan Tume, dia sedang apa? Sedikit kaku untuk melempar banyak seulas senyum pada peserta lain--Karier--sedikit lebih baik apabila ia mulai menaruh perhatian pada sesuatu hal. Bahkan berusaha untuk tidak menangkap perhatian salah seorang Kruchev. Tume mana, Tume mana. "Tadi udah sampai pos mana aja, Tume?" Tume, lirik lirik Kruchev (...) |
![]() |
|
| Shinzo Kawabata | Monday May 13 2013, 11:15 PM Post #84 |
![]()
|
Pos SEMBILAN Ada pos yang kelihatannya begitu sederhana. Saking sederhananya Shinzo bingung sebenarnya apa yang ditawarkan oleh pos itu. “Permisi.” Shinzo memberi kode kepada pemandu yang berada di pos itu untuk menjelaskan kepadanya apa yang akan dia lakukan di pos tersebut. Sang pemandu menjelaskan dengan nada malas-malasan bahwa ini adalah pos jerat dan yang perlu Shinzo lakukan di sini adalah membuat jerat secepat dan sebagus mungkin. Kegunaan dari jerat adalah menipu musuh dan juga menangkap hewan yang bisa digunakan untuk makanan di saat perut lapar. Tidak buruk. “Tunjukkan caranya.” Lalu, Shinzo sudah duduk manis di pos itu—dengan pose bersila—sambil memperhatikan pemandu itu dengan lihainya mengambil beberapa sulur tanaman yang tersedia di dalam kotak kayu serta menunjukkan kepada pemuda itu bagaimana cara membuat simpul mati dan juga simpul hidup. Ini seperti pengetahuan baru untuk Shinzo karena di distriknya mereka biasanya bermain-main dengan benang dalam menciptakan kreasi unik di atas pakaian dan dia sempat berpikir kalau sulur dan benang itu beda tipis. Tapi, ternyata dia salah. Sulur agak lebih alot dan kalau Shinzo tidak berhati-hati malah tangannya sendiri yang terluka. Bahkah getah yang muncul dari sulur tanaman yang diremas terlalu kuat ketika saling dihubungkan bisa cukup mengganggu. Hmm. Shinzo mencoba dulu kalau begitu. Simpul mati dan hidup. Oke. Edited by Shinzo Kawabata, Monday May 13 2013, 11:19 PM.
|
![]() |
|
| Tume Tinkham | Monday May 13 2013, 11:49 PM Post #85 |
![]()
|
POS 7 “Oi, Exodus.” Benar itu namanya, bukan? Tume sudah mencari tahu nama-nama peserta Quarter Quell dan megingat dengan jelas yang mana saja distrik karier sehingga dia harus menghindari mereka di arena. “Aku tidak tahu kau ada di pos ini. Kok diam saja, eh?” Ia nyengir. Ya sudahlah kalau memang merasa sudah hebat dan tidak ingin berlatih. Saking pendiamnya distrik karier yang satu ini, Tume bahkan tidak sadar kalau dirinya berada satu pos dengan Exodus—mungkin dia punya hubungan dengan Dimitri Kruchev yang menang tahun lalu. Kadang-kadang Tume iri kepada mereka yang berasal dari distrik karier karena mereka begitu mudah dalam menguasai beberapa ilmu. Sementara Tume sibuk membedakan mana jerat yang cocok untuk menangkap babi hutan, mereka dilatih untuk membunuh. Benar-benar berbeda. Mungkin ini yang membuat kawanan karier dengan mudah beradaptasi di arena daripada distrik kelas bawah. Pft. Apa boleh buat. “Yasmine, sini. Kau ikut aku membuat api. Ini bisa berguna di arena nanti lho. Aku tadi sudah dari pos yang mengajarkan tentang racun yang ada di arena, pos kamuflase, dan pos sasaran. Aku paling suka pos tentang racun.” Tume melambai ke arah peserta perempuan yang sedistrik dengannya itu. Ia mengangsurkan dua buah batu ke arah perempuan itu untuk dicoba. Tume memang gagal membuat api tetapi dia bisa mencobanya lagi. Tidak ada kata menyerah, bukan? Tidak semua orang hebat harus berhasil di percobaan pertama mereka karena sesungguhnya orang yang dilahirkan untuk berbakat seperti itu cukup langka dan dia bukan termasuk salah satu di antaranya. "Eh, maaf. Aku tidak sadar kau juga di sini, Mario." Ada satu peserta lain yang juga terlewat dia sapa. Bicara ke Exodus Kruchev, Yasmine Silvertongue, dan Mario Spielberg. Edited by Tume Tinkham, Tuesday May 14 2013, 12:11 AM.
|
![]() |
|
| Pietronella Hart | Tuesday May 14 2013, 12:16 AM Post #86 |
![]()
|
POS 9. Tetapi, mengapa? Disini, pos ini adalah satu-satunya tempat yang menjadi perhentiannya. Masih dalam rumusan yang sama; 'Mengapa harus pos ini?' Dalam pikiran gadis ini, membunuh toh tidak harus pandai menggunakan jerat. Apa? Ia tidak cukup pengecut sampai menggunakan jerat, dan membuat orang lain binasa di dalam jebakan yang ia buat sendiri. Ia bahkan merasa mampu untuk membunuhnya langsung dengan mata pisau yang barangkali nantinya ia dapatkan, Deduksinya, tidak harus, Ada banyak hal yang bisa ia lakukan di pos lain, dan tentu saja, jauh lebih berguna untuknya bertahan hidup. Ia tidak seharusnya membuang-buang waktu di tempat ini. Tidak seharusnya, dan sama sekali bukan keinginannya. But life must go on, she can't move yet. Mengedar, pandangannya mengedar lagi-lagi. Setelah sebelumnya, sepasang tungkainya digerakkan menuju suatu pos yang ia maksud sedari tadi. Pos sembilan, kau tahu, bukan sesuatu yang masuk dalam daftar pencapaiannya hari ini. Membuat jerat, sekedar informasi, ia bukan tipikal gadis yang telaten membuat simpul demi simpul. Ia benci melakukan hal yang jelas-jelas memakan waktu. Seseorang lebih dulu tiba disana. Memintai seseorang yang tengah berjaga untuk mengajarkan bagaimana caranya membuat jerat yang baik. Otaknya, sedikitnya berusaha mengingat-ingat entitas yang kebetulan berada satu pos dengannya waktu itu. Bergeming sesaat, tidak membutuhkan waktu lama bagi daya ingatnya. Delapan, ia hanya mengingat nomor yang secara kasat mata tampil begitu saja. Tapi memangnya ia peduli apa? Pedulinya, hanya cara menyelesaikan ini secepat mungkin. Simpul jeratnya. |
![]() |
|
| Irvette Schwan | Tuesday May 14 2013, 01:01 AM Post #87 |
![]()
|
Pos 4 - #2 Hah, dia ternyata nggak buruk-buruk amat! Dugaannya bahwa si gadis entah siapa itu berasal dari distrik 1 sepertinya agak terpatahkan setelah aksinya tadi. Biasanya kan, orang-orang dari distrik 1 mirip-mirip dengan distrik 2, agak-agak gahar dan kalau dalam urusan menghindar dan menyerang pasti sudah jago. Sukses membanting gadis tadi membuatnya jadi merasa sedikit bangga. Percaya deh, keberhasilan Irvette dalam melakukan sesuatu itu kecil kemungkinannya. Kalau berhasil ya waw sekali. "Yang tadi ngajak gulat siapa..." Ia tidak tahu kalau gulat ada easy waynya. Kalau ada, itu benar-benar pengetahuan yang baru. Ya namanya gulat pasti ujungnya ada banyak memar di sekujur tubuh. Memar yang bakal jadi penghias di tubuh selama berhari-hari...kalau besoknya tidak gulat lagi. Si gadis membingungkan itu bergerak untuk menabraknya. Eh, bentar, ada gerakan menabrak dalam gulat? Sayangnya ia tidak berhasil mengingatnya karena terburu-buru menghindar dari tubrukan si gadis bersenyum aneh itu. Ia sendiri hampir terjatuh saat menghindar karena terburu-buru. Keberuntungan masih ada dipihaknya saat ini, woo! Gadis itu menabrak udara kosong. Bukan karir deh ya.... Kayaknya bukan. Ck. Harus tidak sih menghafal itu dari mana ini dari mana? Ia baru berpikir bahwa itu mungkin perlu juga, untuk mengimbang-ngimbang kekuatan mereka. Gadis itu bangun lagi setelah menerjang udara kosong. Bangkit dari kejatuhan....bisa dibilang secara harfiah memang begitu. "Maklum, hobi kerja keras, jadi tenaganya gak kira-kira." Kerja keras darimana. Padahal kerjaan sehari-harinya kalau tidak sekolah, kerja, ya makan dan tidur dan terkadang merecoki orang lain. Ia super yakin kalau itu sama sekali tidak bisa disebut sebagai kerja keras. "Nggak perlu, aku nggak mau kayak ikan siap digoreng." Omongannya dari tadi tanpa pikir terus, deh. Dan gadis itu lari-lari lagi. Kenapa harus menerjang terus, deh? Ia baru saja kembali ke mode mager bahkan untuk melangkahkan kaki menghindar. Tapi toh pada akhirnya ia menghindar lagi, kembali berhasil menghindari terjangan itu. Sayangnya gadis yang turut diterjangnya tidak seberuntung dirinya. Sampai sekarang, Irvette masih berhasil terus memasang poker face. Irvette mengambil lengan gadis penerjang itu dan mencoba menariknya, kemudian ia mencoba melakukan gerakan memiting yang pernah dilakukan kakaknya terhadapnya. Balas dendam pada orang yang salah, yeah. Colleen, masih cuma berhasil kalau prima => [result]15&15,1d15,0,15&1d15[/result] |
![]() |
|
| Pietronella Hart | Tuesday May 14 2013, 01:21 AM Post #88 |
![]()
|
POS 9. Ia bukannya awam dalam hal demikian. Beberapa bulan silam, ayahnya sempat mengajarkan kembali sang gadis dalam membuat pola simpul. Pola tertentu yang tentu saja, akan lebih memudahkan mangsa agar terjerat, dan mempersulit oknum yang sama untuk lepas. Kelihatannya saja mudah, tetapi bukan berarti ia tertarik. Ia sama sekali tidak berminat untuk belajar hal tersebut lebih lanjut. Namun, mengetahui adanya pos yang ditempatkan khusus untuk membahas hal tersebut, ya, mau tak mau. Pasalnya, manusia seperti dirinya ini tidak akan pernah puas. Ia, Petra inginnya menguasai semua. Semua yang dipunyai Capitol saat ini. Waktu itu, diambilnya beberapa utas tali yang pilinannya terlihat amat kuat. Ia menyeringai pelan, kemudian membiarkan dahinya dikernyitkan. Selama beberapa saat, yang dilakukannya menatap sekedar. Memandangi, tanpa tahu tahapan apa saja yang mesti dilalui olehnya. Anggap saja, ia terlalu malas untuk menghampiri, apalagi melakukan kontak dengan sosok yang katanya adalah ahli di pos sembilan. Tidak akan, sampai ia menyerah pun. Malah lebih baik mencari pos lainnya yang jelas lebih baik, dan bermanfaat. Salah satu utasnya, ia timpa dengan yang lain. Diikat, simpul yang kalau dilihat lebih jeli lagi, akan tampak betapa berantakannya buah karya gadis ini. Masalahnya sekarang, ia tidak peduli seburuk apapun miliknya. Asal membuat, asal jadi, dan ia bisa pergi. Meski sedikitnya, bermain dengan simpul agaknya mengulang memori yang telah lama tidak terpakai. Lagipula toh, ia bukannya warga sembilan yang sepantasnya menguasai hal ini. Jatah makannya tidak bergantung pada berapa banyak jumlah hasil tangkapan, selama ini. Keluarganya cukup makmur, tetapi mudah kehilangan. Lihat, lihat saja siapa yang sekarang berada di Capitol. Cemberut, memandangi simpulnya yang sampai kapanpun tak ada peningkatan. Belum jadi pula. Lama-lama kesabarannya habis atau memang sudah hasis sekarang juga. Geram juga. Hurr. |
![]() |
|
| Colleen Roosophire | Tuesday May 14 2013, 01:37 AM Post #89 |
![]()
|
Pos 4-Post #4 Dirinya mulai bosan dengan gulat. Rasanya, dirinya sangat ingin memegang sebuah senjata saat ini. Entah senjata apa, yang penting senjata. Entah itu pisau, panah, tombak, atau kapak. Mungkin setelah menghabisi gadis Tiga ini, ia akan berpindah pos ke pos enam atau dua. Ya, lawannya berkurang. Gadis dari Enam itu kabur terbirit-birit setelah tubuhnya berhasil ditabrak oleh Colleen. Sampah. Maniknya hanya membentuk tatapan meremehkan ketika melihat gadis Enam itu berpindah pos ke pos Enam. Mungkin jika dirinya berpindah ke pos itu, ia akan bertemu dengannya lagi. Mungkin. Colleen sih ogah saja bertemu dengan orang yang itu-itu melulu. Bosan lihatnya. Terutama yang kelas sampah gitu. Seketika, tiba-tiba sebuah tangan ingin menyerangnya. Ya, tangan si Tiga. Tapi, sayangnya tangan Colleen lebih cepat dari gadis geladak dari Tiga tersebut. Maaf saja ya. Kau diberi kesempatan tadi, tapi tidak sekarang. Tidak lagi. Dirinya sudah muak dibanting ke tanah dua kali. "Eh eh eh. Mau apa tadi?" tanya Colleen itu sambil menggoyangkan jari telunjuknya. "Nakal ya." Beberapa detik berikutnya, Colleen sudah menarik gadis itu, dan sudah mencoba melemparnya ke lantai. Mungkin jika berhasil, gadis geladak Tiga itu akan terlempar beberapa centi. Tapi kalau gagal, mungkin Colleen hanya akan terlihat seperti sedang narik-narik tangan orang. Dari dulu memang Colleen terkenal cukup lemah di distriknya. Lebih lemah dari gadis-gadis lain. Tapi, itu bukan artinya Colleen itu lemah sepenuhnya. Jika boleh dibandingkan, mungkin Colleen lebih kuat dari pada pemuda bernama Magnus Leclancher, pemuda yang mengikuti Hunger Games ke 48 dari distriknya, yang terlalu lemah untuk bisa memasuki posisi enam teratas. Lebih tragisnya, mati pada posisi ke tujuh. Memalukan. Memuakkan. Irvette. Kalau ganjil berhasil, genap gagal: [result]9&9,1d10,0,9&1d10[/result] |
![]() |
|
| Shinzo Kawabata | Tuesday May 14 2013, 01:45 PM Post #90 |
![]()
|
Pos SEMBILAN Ini tidak begitu rumit. Simpul yang ia buat berhasil dipuji dalam waktu singkat dan pemandunya beranjak memberikan dia cara membuat jerat yang dipilin dan diikatkan ke sulur tertentu serta diakhiri dengan simpul mati—atau hidup. Shinzo memperhatikan dan berpikir apakah dia punya waktu untuk melakukan hal seperti ini di arena. Pemandunya seakan membaca pikirannya dan menjelaskan bahwa jika dia hendak tidur sebaiknya memasang jerat sebagai perangkap di beberapa meter dari lokasinya berada sebagai metode mencegah musuh mendekat atau bisa juga sebagai perangkap hewan untuk makanan setelah bangun nanti. Shinzo masih sibuk melihat cara membuat jerat sederhana ketika dilihatnya seseorang memasuki posnya. Ia menoleh dan menemukan gadis pirang dengan iris biru. “Pietronella.” Ia mengenal nama dari gadis itu sebagai salah satu dari kawanan karier. Gadis itu mencoba membuat simpul dan nampaknya tidak terlalu berhasil. “Kurasa kau tidak perlu terburu-buru melakukannya. Itu memang kelihatannya sulit tetapi sebenarnya mudah saja. Mau kubantu?” Mereka tidak berada di arena. Sedikit bermurah hati mengajarkan lawan tidak apa-apa. Toh dia tidak berharap akan kena perangkap dari jeratan milik perempuan itu—senjata makan tuan ceritanya—saat di arena nanti. Juga dia sedikitnya tahu kalau dirinya adalah tipikal yang akan berhati-hati di arena dalam melangkah sehingga tidak perlu khawatir terjebak dengan jebakan sederhana—sejauh ini pemandu di tempat itu baru mengajarkan teknik membuat jerat sederhana. Interaksi ke Pietronella Hart. |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
![]() Join the millions that use us for their forum communities. Create your own forum today. Learn More · Sign-up for Free |
|
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |













9:33 PM Jul 11