Welcome Guest [Log In] [Register]

MAY THE ODDS BE EVER IN YOUR FAVOR



[ INACTIVE ]
TERM 9: 2193 - 2194




[+] Topik AU: 4/5
[+] Visualisasi Asia: 3/3
[+] Capitol: 5/5
[+] Distrik Satu: 4/5
[+] Distrik Dua: 4/5
[+] Distrik Empat: 5/5
[+] Distrik Tiga Belas: 2/5
[+] Balita/Dewasa: 5/5



IndoCapitol


TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL
PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH
PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI
TRAINING CENTER || ARENA




Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain.

PEMENANG
HUNGER GAMES 54



{DISTRIK 1}



KREIOS EPHRAIM


MUSIM PANAS



21,3° - 23,6° C
21 Juni - 20 September
Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan.



WAKTU INDONESIA BAGIAN BARAT (JAKARTA)




Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

TWITTER & CHATBOX


Twitter
Chatbox



FORUM LOG
Waktu Update
Sabtu, 11 April 2015 Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out!

PEMBERITAHUAN
Kepada Informasi
Semua Member Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum
Semua Member Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2)
Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda.

Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru.

Bergabunglah bersama kami!

Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum:


Username:   Password:
Locked Topic
Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA
Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,738 Views)
Redemptus Maleveich
Member Avatar

Posted Image

Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala.

Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan.

Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena.

Empat puluh lima detik.

Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus.

Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi.

Tiga puluh detik.

Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa.

Lima belas detik.

Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian?

Terlambat.

KABOOM!

Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian.


Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol.
Offline Profile Goto Top
 
Yasmine Silvertongue
Member Avatar

DISTRIK 10 || HP: 75 || POSISI: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] (BARANG; BUKAN RANSEL) || RANSEL [result]6&1,1d5,5,6&1d5+5[/result] || [result]1&1,1d3,0,1&1d3[/result] x 180. (BANYAK KATA PER POST)

Pakaian dengan nuansa hijau dan cokelat telah melekat pada tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun dari Distrik Sepuluh, Yasmine Silvertongue. Rasanya semakin lekat lagi dengan mengucurnya keringat dingin sepanjang perjalanan menuju ruangan peluncuran. Apapun bisa terjadi. Yasmine tidak bisa fokus dengan perkataan dan nasihat Irish beberapa malam lalu dengan kedua adiknya di rumah, pun ia tidak bisa memusatkan pikiran pada rencana saat telah tiba di Arena dan Cornucopia nanti.

Mengapa? Mengapa ia harus terlibat ketika jumlah peserta naik seratus persen? Mengapa? Mengapa pula Capitol membuat sebuah perjanjian bahwa Hunger Games pantas melahap lebih banyak jiwa tahun ini? Apa tujuannya? Pembersihan generasi baru? Yasmine berani bertaruh, dengan tidak adanya Hunger Games, tetap tidak akan ada yang berani melakukan pemberontakan lagi. Apalagi dengan tidak diberlakukannya peningkatan jumlah peserta.

Rasa merinding dan tidak enak dalam perutnya semakin menjadi ketika ia beralih memikirkan tiga peserta lain dari Distrik Sepuluh. Apa jadinya Yasmine tanpa mereka? Dengan begitu mereka akan saling membutuhkan dan dengan harapan saling melindungi pula, tetapi khusus untuk Tume dan Harry, rasanya Yasmine semakin bertanggung jawab atas nyawa tiga rekannya itu. Semua karena ia adalah salah satu peserta yang tertua.

Gadis itu mereka ulang momen-momen kehidupan yang ia habiskan di Distrik Sepuluh. Setiap canda tawa, setiap kehidupan dan organisme di dalam hutan Distrik Sepuluh. Kebebasan yang takkan pernah ia miliki kecuali di dalam ekosistem tersebut. Aseiya dan Afsheen, mendiang Zurich dan Black, serta Sarah, seorang asing yang membuatnya tertawa, Gabriel Faraday, terakhir adalah dua Silvertongue muda di rumah. Seharusnya mereka tidak mengalami nasib yang sama dengan putri sulung Silvertongue ini. Semoga tidak.

Ia bergerak naik. Dan apapun yang terjadi, dengan empat puluh delapan jiwa dilempar ke tempat antah berantah dan tidak alami, Yasmine membuat janji kepada dirinya sendiri. Ia takkan mati sia-sia, tidak setelah Capitol merenggut masa depannya. Dan… oh, Dad, pastikan Silvertongue tidak merana dengan kepergian sang sulung dan kembalinya kepala keluarga.
Offline Profile Goto Top
 
Floryn Lee
Member Avatar


☆ミ(o*・ω・)ノ
DISTRIK 4 || HP: 95 || POSISI: [result]10&7,1d7,3,10&1d7+3[/result] || RANSEL: [result]4&4,1d7,0,4&1d7[/result]


She hates all of this.

Ini hanya mengingatkannya pada dua tahun sebelumnya, saat ia duduk tenang di kursi ruang makan dan mata biru kehijauan itu menatap layar kaca melihat sosok yang dikenalnya seumur hidupnya. Jadi, begini rasanya berada dalam ruangan kaca, diantarkan menuju arena dengan catatan harus saling memburu kemudian membunuh satu sama lain hingga satu orang keluar sebagai seorang pemenang. Sedih? Takut? Ehe. Sayangnya Floryn sudah mengalami hal yang lebih buruk.

Dulu, saat ayah tiba-tiba mendekapnya dan menyeretnya keluar hanya untuk menutup pandangannya dari televisi butut di rumah, si kecil Lee tahu bahwa ada yang tak beres. Ibu menangis, terisak, dan menjerit histeris hanya karena satu momen di dalam arena. Floryn tahu bahwa Capitol baru berbuat sesuatu—menyakiti kakaknya atau lebih buruk lagi. Karena seingat tiga gadis dari keluarga Lee, seorang Clara tidak akan seperti itu kecuali ada hal yang benar-benar sangat amat buruk.

Rasa penasaran yang kemudian mendorongnya nekat ke gedung pengadilan hanya untuk menonton lewat layar besar yang sering ada disana setiap tahunnya. Namun, siapa yang sangka juga coba kalau pemandangan yang disuguhkan dari layar itu justru menyita perhatian orang terhadap dirinya. Alethea Lee tewas di tangannya, genetika dari seorang Floryn Lee. Bingung. Linglung. Sama sekali enggak tahu harus kemana; itu yang putri kedua dari Edward dan Clara rasakan hingga ada satu orang yang menepuk bahunya dan menggendongnya pulang.

“Flo, kau kangen rumah nggak?”

Enggak. Dia sama sekali enggak kangen rumah—serius. Banyak banget lho yang menanyakan hal itu padanya. Enggak cuma bang Hada ataupun si pewawancara merah itu. Mantap dan penuh keyakinan, Floryn justru menggeleng, “Rumahku ada di dua tempat. Kalaupun aku enggak pulang ke distrikku, aku akan ada disana. Bareng sissy.”

Karena dia akan pulang.

Kemudian—BOOM.

Lari, lari. Tujuannya puncak terompet. Pokoknya lari.

Offline Profile Goto Top
 
Exodus Kruchev
Member Avatar

DISTRIK 2
HP: 95 || POSISI: [result]7&4,1d7,3,7&1d7+3[/result] || RANSEL: [result]3&3,1d7,0,3&1d7[/result]



Dia masih mengingat pembicaraan usai makan malam kemarin. Bukan bersama rekan distriknya, Karier yang lain, ataupun peserta lain, melainkan bersama pemuda yang memiliki rupa mirip dengannya. Kau bisa menebaknya. Bukan sebuah pembicaraan panjang, rumit, dan penuh nasehat petuah ini itu yang dikeluarkan Dimitri, bukan pula salam perpisahan dengan maksud damai dan permohonan maaf akan kesalahan di masa lalu di interaksi antar kedua Kruchev. Jauh dari semua itu, yang ada tidak lebih dari sekadar ancaman. Yang seorang terdengar mengancam, yang lain menganggap pelaku yang mengancam seperti anjing menggonggong.

“Menangkan Hunger Games ini demi Distrik Dua atau lebih baik kau membusuk di dalam sana.”

Jadi, sekarang dia mulai disetir oleh seorang bernama Dimitri Kruchev, hm?

Dia tidak butuh panduan, sekalipun dia berbagi darah dengannya, si bocah yang baru saja memenangkan Hunger Games terakhir. Sampai detik ini, Exodus masih melihat Dimitri sebagai anggota keluarganya, bukan sebagai pemenang yang lantas dihormati dan dielu-elukan. Suatu kebanggaan akan kemenangan yang katanya harus menjadi milik titel Karier. Kebanggaan. Keberuntungan. Apa itu yang harus mulai dipertimbangkan? Omong kosong. Exodus tidak mau peduli dengan hak istimewa yang kini dikecap oleh adiknya.

Helaan nafas cukup panjang terdengar di sekeliling ruangan tertutup itu. Sejenak dia merapikan kembali pakaian yang dikenakan. Cukup nyaman dan ringan. Tidak menghalangi gerak anggota tubuh dan langkahnya berjalan ke sana kemari di dalam ruangan. Waktunya telah tiba. Langkah pemuda itu terdengar agak menimbulkan gema saat melangkah menuju tabung yang telah dipersiapkan. Pintu tabung tertutup rapat lalu mengantarkan Kruchev kedua—pengganti Kruchev yang lama—ke atas permukaan bumi.

Yang terdeteksi oleh tubuhnya adalah kicauan burung-burung yang berterbangan, dilanjutkan dengan pemandangan indah yang belum pernah dilihatnya seumur hidup. Terlalu cerah dan menyilaukan bagi pemuda ini. Birunya belum terbiasa menangkap visual alam yang mengagumkan. Matanya disipitkan sambil memperhatikan ke sekeliling tempatnya berpijak. Selanjutnya, dia memperhatikan barang-barang di luar dengan cermat. Begitu banyak barang, jauh lebih banyak barang. Kembali dia memperhatikan alam di sana. Begitu bebas.

Akan kubuktikan kau tak berhak mengaturku, Dimitri.
Offline Profile Goto Top
 
Ethan Nestor
Member Avatar

Distrik 4 || HP: 100 || Posisi: [result]6&3,1d7,3,6&1d7+3[/result] || Ransel: [result]6&6,1d7,0,6&1d7[/result]

Siap ataupun tidak, semuanya sudah dimulai.

Ethan menarik nafas panjang ketika padang rumput tebentang luas di hadapannya, sementara ada dua tempat yang berbeda, yang siap untuk menjadi pelariannya setelah mendapatkan ransel dan makanan. Ia tak bisa lagi lari dari kenyataan. Kembali ke distrik, berenang ceria di pantai ala bocah yang tak kenal dosa. Sungguh, sebenarnya hal itu yang ia harapkan, andai ia tak hidup di dunia yang brengsek seperti ini.

Badannya tegap sempurna, khas orang yang selalu ditempa fisiknya. Apalagi dengan seragam yang diberikan Capitol yang pas melekat pada tubuh atletisnya. Ha, kalau seperti ini bisa menarik sponsor banyak, bahkan rela bertelanjang dada sekalipun. Asalkan para sponsor itu dapat menyelamatkannya.

Matanya melirik empat puluh tujuh peserta lain yang siap merampas ransel dan senjata. Lihat, lihat, mata mereka sama nyalangnya, walaupun beberapa terlihat pasrah tak berdaya. Kemudian matanya lebih meneliti para Karier, kawanan yang harus bisa diajak kerja sama melawan distrik non-karier yang dua kali lebih banyak.

Fuh.

Ethan mengepalkan tangannya, mulai membungkukkan badan siap untuk berlari. Ia siap bertarung, membunuh, membantai siapapun yang ada di arena.

Itu karena dia siap untuk menang.

Dan sebuah meriam yang bergema menjadi penanda permainan telah dimulai. Tak perlu menunggu lama. Ia harus mencari apapun yang bisa digunakan untuk bertahan hidup. Dan Ethan Nestor telah melesat cepat, berusaha mendahului siapapun.
Offline Profile Goto Top
 
Freida Hayworth
Member Avatar

DISTRIK 10 || HP: 70 || POSISI: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] (BARANG; BUKAN RANSEL) || RANSEL [result]9&4,1d5,5,9&1d5+5[/result] || [result]1&1,1d3,0,1&1d3[/result] x 180. (BANYAK KATA PER POST)


Irish bilang mereka harus segera lari secepat mungkin menyelamatkan diri ke area yang tidak terlalu terbuka begitu pertandingan resmi dimulai.

Freida mengingat instruksi itu baik-baik dan di dalam benda bundar yang membawanya ke atas arena, ia bertekad akan mematuhinya. Setidaknya kalau ia bisa selamat dari bloodbath, mungkin saja Irish akan senang dan mungkin bangga. Bukankah itu hal baik? Dapat membahagiakan orang di hari-hari terakhirnya menghirup napas di bumi? Ia juga akan langsung mencari Yasmine, Tume, dan Harry nanti, lalu mengajaknya berlari menyelamatkan diri bersama. Mereka akan terus bersama selama mungkin. Itu janji yang mereka buat. Dengan begitu mereka berempat mungkin dapat membuat hari Irish Cloverfield sedikit lebih cerah. Di matanya, Irish hampir tidak pernah merasakan kebahagiaan, kalau dengan bertahan hidup lebih dari satu hari dapat mencipta senyum di wajah gadis itu, Freida akan berusaha melakukannya. Ia senang bila dapat membahagiakan orang lain.

Namun ketika naik ke atas, ketika ia menghirup udara segar dari padang rumput luas di sekelilingnya, ketika melihat puluhan remaja seusianya berjajar membentuk lingkarang raksasa, ketika melihat bahwa tak ada cara untuk mengambil beberapa benda dari tengah-tengah sana tanpa melawan salah satu dari puluhan peserta haus darah ini, Freida tahu mustahil menepati janji Irish. Tidak mungkin menyelamatkan diri tanpa mengambil benda apapun untuk digunakan selama menyembunyikan diri nanti. Kalaupun nekat hidup tanpa bahan pangan pun, tidak mungkin berlari ke hutan tanpa dicegah oleh salah satu peserta ini, terutama yang berdiri sangat dekat dengan posisinya.

Habislah ia.
Offline Profile Goto Top
 
Stephanie White
Member Avatar

DISTRIK 9
HP: 75 || POSISI: [result]7&7,1d9,0,7&1d9[/result] || RANSEL [result]6&1,1d5,5,6&1d5+5[/result] || [result]2&2,1d3,0,2&1d3[/result] x 180



Matanya memandang langit yang bersinar cerah. Tepatnya, ia memandang harapan yang menggantung di sana. Kemudian ia mencari kamera TV yang sudah pasti diletakkan di tempat-tempat tertentu. Mereka pasti menampilkan satu per satu wajah peserta sebelum pembunuhan massal ini dimulai. Dan salah satu di antara ribuan penonton, kakaknya sudah pasti setia berada di depan televisi, memastikan bahwa Eve akan selalu baik-baik saja.

Atau malah tidak melihat acara ini sama sekali?

Gadis kecil itu mengigit bibirnya, khawatir. Bagaimana tidak? Wajah peserta lain terlihat begitu semangat, siap membasmi apapun yang ada di Arena. Sedangkan ia? Meskipun langit cerah tetapi keyakinannya perlahan mulai menipis. Ia tak membayangkan jika harus membunuh empat puluh tujuh peserta lain. Membunuh satu saja rasanya tak mampu. Tentu saja ia tak bisa menyamakan antara peserta dengan kelinci yang biasa ia hujam dengan pisau. Mereka pasti berbeda ‘kan?

Seiring mendekat dengan permulaan game, jantung Eve berdetak semakin kencang. Ia harus mendapatkan sesuatu yang bisa membuatnya bertahan di Arena. Makanan yang banyak serta minuman. Lalu senjata. Semoga ia mendapat pisau, belati, pedang, ataupun panah. Empat senjata itulah yang paling efektif untuk bertahan hidup. Yea, karena memang hanya empat benda itu yang bisa ia kuasai dengan baik.

Gigitannya makin kuat ketika dirasa tak ada satupun tanda permainan dimulai. Bagaimana ini? Apakah ia sudah boleh melangkah? Apakah ia sudah bisa kabur? Tetapi peserta lain belum bergerak, hingga—

KABOM!!

Eve melonjak terkejut. Sudah mulaikah? Reflek, ia berlari sekencang-kencangnya menjauh dari yang lain. Mencari benda-benda yang bisa digunakan untuk bertahan hidup.
Offline Profile Goto Top
 
Kyle Blackthorn
Member Avatar

DISTRIK 8 || HP: 70 || POSISI: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] (BARANG; BUKAN RANSEL) || RANSEL: [result]6&1,1d5,5,6&1d5+5[/result] || [result]2&2,1d3,0,2&1d3[/result] x 180. (BANYAK KATA PER POST)

Akhirnya.

Kyle bersemangat sekaligus takut menanti-nanti saat di mana dia akan berdiri di atas lingkaran, bersiap-siap untuk masuk ke arena dan tidak kembali ke rumah. Ya, Kyle tidak berencana untuk kembali. Dia ingin merasakan apa yang dialami kakaknya di sini sepuas-puasnya. Seandainya dia bisa kembali, itu adalah bonus. Tapi dia sendiri ragu kemenangan akan menjadi miliknya. Ada 47 orang yang harus dikalahkannya untuk menjadi pemenang. Sangat mustahil baginya untuk menang, kan?

Sebentar lagi, hanya tinggal hitungan detik sebelum dia bisa menginjakkan kaki di arena.


Impiannya sejak sang kakak menjadi tribute.

Tanpa sadar, Kyle menahan napasnya akibat antusiasme yang melandanya. Dia benar-benar fokus untuk terjun ke arena, bersiap untuk bergerak secepat mungkin begitu tanda yang menunjukkan bahwa mereka sudah boleh mulai bergerak muncul. Dia tahu, kemampuannya tidak sebaik para distrik karier. Tapi dia akan berusaha sebisanya.

Tidak ingin cepat kalah. Ingin mengikuti jejak kakaknya yang mampu bertahan cukup lama di arena. Entah sampai tersisa berapa orang hingga kakaknya tewas. Orang tuanya tidak mengizinkan dia untuk menonton acara tersebut saat ditayangkan di televisi. Yang dia tahu, kakaknya hebat dan dia akan menjadi seperti kakaknya. Malah lebih hebat lagi kalau bisa.
Edited by Enrico Fooster, Saturday Jun 1 2013, 09:33 AM.
Offline Profile Goto Top
 
Irvette Schwan
Member Avatar

DISTRIK 3 || HP: 75 || POSISI: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] (BARANG; BUKAN RANSEL) || RANSEL [result]10&5,1d5,5,10&1d5+5[/result] || [result]3&3,1d3,0,3&1d3[/result] x 180. (BANYAK KATA PER POST)

Ia yakin bahwa dalam waktu beberapa menit lagi maka ia sudah akan ada di…mana lah, mau surge atau neraka terserah.

Kece tidak sih kalau mati tersandung?

Atau mati karena terlalu mager bergerak?

Nggak sih, ia sedang tidak mager. Lagipula mendadak panas dingin sendiri. Ia jadi berharap bahwa ia tidak bisa merasakan sakit, karena nanti kalau bertarung pasti ia bakal sakit-sakitan karena luka. Asal tahu saja, luka yang sakit dan Irvette Schwan bukanlah kombinasi yang bagus. Jika ia sedang merasa sakit, maka ia akan merasa kesal dan irritable, dan jika sudah seperti itu, maka ia akan dua kali lebih menyebalkan dibandingkan biasanya. Coba saja kalau membuat orang sebal bisa membunuh mereka, pasti ia bisa menang deh.

Itu kalau ia tidak mati duluan gara-gara koprol gagal. Kalau mati duluan sih ya nggak sempet bikin orang sebalnya. Tapi beneran deh, rasanya mendadak pengen koprol. Koprol ke Cuporconia—apalah itu namanya susah.

Berdiri di sini dengan 47 peserta lain rasanya horror, sumpah. Apalagi kalau lihat ekspresi semua orang, ekspresinya horror semua. Kayaknya cuma Irvette yang pasang wajah kalau mati ya sudah kalau tetap hidup ya sudah juga. Beneran deh, pasrah. Lagian yang berduka kalau ia mati paling keluarganya. Ia agak yakin seminggu sesudah ia mati kakaknya bakal melompat-lompat bahagia lagi menyadari bahwa tidak akan ada yang menghabiskan stok gula lagi.

Astaga, countdownnya lama abis. Bikin gemes dan bikin pengen teriak-teriak buat cepet-cepet, toh mau countdownnya lama atau sebentar ujung-ujungnya bakal sama, yang menang cuma satu biji.

3…

Three is a charm, katanya. Hubungannya sama count down sih tidak tahu apaan, berhubung yang di count down itu charmnya kayaknya angka 1 atau 0. Dari tadi, ia berusaha mengingat Hunger Games tahun lalu gaharnya gimana—

2…

—tapi sama sekali tidak bisa ingat. Semuanya brutal sih. Mungkin ada kepala yang putus. Tapi ia nggak mau kepalanya putus, ya masa nanti ia menjelma jadi hantu tanpa kepala. Kan nggak kece. Plis. Ia cocoknya itu jadi—

1!

—jadi hantu macam apa aja asal yang badannya lengkap.

LARI OY, LARI!
Offline Profile Goto Top
 
Urie Tommy
Member Avatar

DISTRIK 1 || HP: 100 || POSISI: [result]6&3,1d7,3,6&1d7+3[/result] (BARANG; BUKAN RANSEL) ||
RANSEL: [result]2&2,1d7,0,2&1d7[/result]


Astaga. Musuhnya banyak amat!

Urie tidak berhenti melihat kanan-kiri, menghitung ada berapa total orang yang akan mengikuti bloodbath. Tetap saja empat puluh tujuh, omong-omong, tidak akan berkurang jadi dua puluh tiga apalagi jadi satu orang. Banyak orang yang harus dia bunuh untuk dapat selamat--dan berkumpul bersama keluarga lagi--tetaplah empat puluh tujuh orang. Orang yang dapat membunuhnya juga tetap berjumlah empat puluh tujuh. Dia tidak menyangka Hunger Games benar-benar senyata ini (kemana saja dia selama enam belas tahun ini?) Apakah ini juga yang dilihat Dawney sebelum kematiannya? Ruang terbuka beserta peserta lainnya, barang-barang dan senjata bertumpuk tak jauh dari posisi mereka sekarang. Kesimpulan: menakutkan.

Berhenti berkhayal, Urie sayang! Kematianmu di depan mata. Ha. Ha. Ha. (Ketawa miris)

Oh ayolah! Ingat poinnya di sesi pribadi. Dia meraih poin sembilan dari sepuluh poin, bukan? Berarti Urie sudah punya cukup bakat untuk melakukan aksi bunuh membunuh ini, tahu. Fokus, Urie Tommy!! Fo-kus.

Lelaki enam belas tahun ini mengambil napas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya dengan amat pelan (hingga dia merasa sesak sendiri). Hal itu ia lakukan berulang-ulang selama tiga kali. Bunyi KABOOOM mengejutkan terdengar sebelum ia berhasil menghembuskan napas yang keempat (dan dia langsung menghembuskan napas tanpa "pelan-pelan", tentunya).

"AAAAA HYAAAAAK!!" Urie menjerit, sebagai pemacu adrenalin, juga untuk meramaikan suasana. Biarin.
Edited by Enrico Fooster, Saturday Jun 1 2013, 08:55 AM.
Offline Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
Go to Next Page
« Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic »
Locked Topic


Theme design by Drama, theme coding by Lewis. of Outline and edited by Ntin, Ubi, and Ilma.