|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,771 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | |
|---|---|
| Urie Tommy | Saturday Jun 1 2013, 03:03 PM Post #91 |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 100 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 11(Nigel) || AP: [result]5&3,1d10,2,5&1d10+2[/result] || KS: [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] Hei kenapa dia tidak melawan? Tidak asyik. Cih. Urie sudah siap-siap mengingat semua gerakan menghindar dan bertahan yang ia pelajari dari Dawney dan Owyn di pelatihan, tapi si pemuda dari sebelas malah tidak melawan. Oh, sudahlah. Mungkin Dewi Fortuna sedang berpihak dengannya. Thanks berat, Dewi. Urie harus berhati-hati menjaga keseimbangan karena ia menggendong tas berukuran besar. Jatuh sedikit saja, bisa-bisa dia dikeroyok. Tidak, dia tidak mau mati disini. Di arena, oke, tapi jangan disini! Baru masuk masa sudah mati. Urie tidak mau mengecewakan keluarganya. Lagian kalau dia bertahan hidup, dia bisa tampil di TV lebih lama. Hehehe. Ngiler... Terus satu-satunya cara untuk bertahan hidup? Tentu mengalahkan lawannya sekarang. Lupakan belati, bukankah ia tahu bagaimana caranya bergulat? Urie mengayunkan kaki kanannya ke pinggang si lelaki. Gerakan favoritnya, oh yeah. Serangan dianulir, sudah diserang Jester dan Ethan. Silahkan re-dice posisi jika tak ada lawan. Edited by Jonathan Duprau, Saturday Jun 1 2013, 04:52 PM.
|
![]() |
|
| Exodus Kruchev | Saturday Jun 1 2013, 03:03 PM Post #92 |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 95 || POSISI: 7 TARGET: Stephanie White (D9) & Antonio Shadowsong (D9) || AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] & [result]11&9,1d10,2,11&1d10+2[/result] || KS: [result]7&7,1d24,0,7&1d24[/result] & [result]9&9,1d24,0,9&1d24[/result] 2 pistol udara, 1 belati, dan 1 bungkus dendeng sapi Lari. Kejar apa yang dimau. Itu yang terlintas dalam benak Exodus. Lari, pikiran yang muncul dalam pikirannya dia lakukan segera saat meriam berbunyi. Pemuda itu telah mengincar beberapa benda yang menarik perhatiannya sedari tadi, setelah distraksi alam dan penghuninya, beserta objek lain yang tersebar di Cornucopia. Dia terus berlari. Belum memikirkan beberapa peserta yang mulai berubah status menjadi lawan semenjak meriam dibunyikan. Ya, semuanya di sini mulai menjadi lawan bagi Exodus. Hanya aliansi bersama sesama Karier saja yang mungkin bukan musuhnya. Seperti biasa, Karier saling bersekutu sebelum saling menghancurkan. Seperti apa yang dilakukan Dimitri. Hmm. Diperhatikan beberapa yang juga melakukan hal yang sama dengannya. Kabur. Lari ke Cornucopia. Ambil barang sebanyak mungkin, itu yang mereka lakukan, hm? Lihat kelakukan konyol mereka. Santai saja menghadapi semua ini, bisa? Tidak perlu terburu-buru mengambil dan kabur begitu saja. Lagipula ini masih terlalu awal untuk peserta lainnya kabur. Segera tangannya meraih apa yang menurutnya bisa diambil. Dua pistol udara, satu buah belati, dan satu bungkus dendeng dirasanya sudah cukup. Mengambil yang lain lagi? Sepertinya tidak perlu. Ambil saja yang dia mau, bukankah demikian, hm. Biru jernih Kruchev itu menangkap musuh di sekitarnya. Semua mulai bertarung. Pistol udara yang dimiliki Exodus diayunkan ke bagian belakang kepala seorang pemuda dalam jaraknya. Setelah itu, dia membantu Pietronella Hart yang berada di sana, meniupkan peluru pistol udara ke salah satu peserta Distrik Sembilan. Bersyukurlah Exodus belum sampai meremukkan kepalamu, manis. Serangan ke Shadowsong dianulir. Antonio Shadowsong telah diserang Ferina Secret dan Zephaniah Lore. Edited by Jonathan Duprau, Saturday Jun 1 2013, 04:51 PM.
|
![]() |
|
| Flavea Vorfreude | Saturday Jun 1 2013, 07:01 PM Post #93 |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 95 || POSISI: 4 TARGET: Adina Erasto & Aidy Joselyn || AP: [result]5&3,1d10,2,5&1d10+2[/result] || KS: [result]21&21,1d24,0,21&1d24[/result] & [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] 3 Lembar Plastik dan 1 Pasang Kaus Kaki Diserang: Adina Erasto Ia tak yakin secepat apa ia berlari, ia tak yakin apakah ini lari tercepat yang pernah ia lakukan atau bukan. Segalanya kabur ketika ia berlari, ia tak dapat peduli dengan sekitarnya dan matanya hanya tertuju pada salah satu ransel yang paling mudah diambilnya. Ia benar-benar berharap bahwa ia dapat pergi dari tempat ini secepatnya. Namun rasanya tak mungkin ia dapat berjalan bebas begitu saja tanpa terkena serangan atau tanpa menyerangnya. Dari sedikit Hunger Games yang pernah disaksikannya, hampir tak pernah ia melihat ada peserta yang dapat berlari pergi begitu saja. Tangannya meraih salah satu ransel yang ada namun kakinya yang rasanya diperintah untuk terus berlari justru terhenti dan badannya berbalik. Ia tak berniat mengambil barang apa pun yang tersebar, namun ia berakhir mengambil beberapa barang yang masih dengan mudah diraihnya. Ia memasukan barang yang dapat dimasukan ke dalam ransel dengan cepat, tangannya agak bergetar. Ia merutuk dalam pikirannya, menyuruh dirinya sendiri agar tak menunjukan bahwa ia lemah namun dengan hasil yang tak terlihat. “Floryn…hati-hati.” Ia hampir tak menyadari bahwa gadis kecil itu muncul dan mendadak melindunginya. Terkagum melihat keberaniannya di saat ia lebih kecil dibandingkan lawan-lawannya. Jika Floryn juga berani, apakah Flavea juga harus berani? Ketika ada orang lain yang berada dekat di sekitarnya, entah mengapa ia langsung merasa awas. Awas diwaktu yang tepat ketika seorang gadis yang jelas berasal dari distrik sebelas tahu-tahu menerjangnya, hampir tak dapat ia hindari namun pada akhirnya berhasil. Tanpa sadar mengayunkan tasnya ke arah gadis tersebut dan kepada orang yang berada di sekitarnya sebagai tindakan menyerang dan melawan. Ia tidak berniat untuk menyerang banyak orang sekaligus, sungguh. Namun untungnya yang digunakannya masihlah tas yang tak akan memberikan efek besar. Ia melangkah mundur satu langkah, lagi-lagi tak dapat mengatakan apa pun. |
![]() |
|
| Zephaniah Lore | Saturday Jun 1 2013, 07:02 PM Post #94 |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 90 || POSISI: 6 Target: Antonio Shadowsong - D9 dengan kapak (KS: [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result] ) dan Kristeen Franscois - D8 dengan pistol udara (KS: [result]16&16,1d24,0,16&1d24[/result] ) AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] Membawa: ransel besar, 1 kapak, 1 belati, 2 pistol udara Uhuk... uhuk... Sial. Tiba-tiba saja paru-parunya terasa sakit hingga ia terbatuk-batuk hebat. Tenaganya melemah dan kapak yang dipegangnya malah mengarah ke atas rumput alih-alih memberikan luka di tubuh kedua targetnya. Zephaniah terengah, ia mengernyit menahan sakit sambil menekan dadanya dengan sebelah tangan. Kenapa harus di saat seperti ini paru-parunya meminta perhatian? Tsk. Keringat dingin pun dengan cepat membentuk titik-titik air di pelipisnya. Zephaniah menarik napas perlahan, menghapus keringat di pelipis lalu kembali menegakkan tubuh. Uhuk... uhuk... Saat itu tiba-tiba gadis distrik delapan tiba-tiba mencoba balas menyerangnya. Ia melompat dengan refleks yang tidak terduga, berhasil menghindar dari serangan tersebut. Gadis itu menyerangnya dengan apa? Batu? Ha. "Akhirnya," kata Zephaniah terkekeh senang. Akhirnya ada juga perlawanan yang sejak tadi ia tunggu-tunggu. Pemuda Lore itu mengambil pistol udara dan mengarahkannya pada target. Kali ini pada gadis itu lebih dulu. Ke arah dada. "Awas!" seru Zephaniah tertawa kecil. "Kalau kena kau akan tidur lama, loh!" Lalu pada pemuda distrik 9 yang masih terpaku, Zephaniah mengayunkan kapak lagi pada punggungnya, lalu ke lengannya. Siapa tahu lengan pemuda itu bisa putus jika terkena ayunan kapaknya. Hehehe. Mari. Mari kita bersenang-senang. Ia tidak gila, kok. Hanya menikmati bloodbaths. Serangan Kristeen dianulir, jadi saya deskrip menghindar. CMIIW. |
![]() |
|
| Hada Atala | Saturday Jun 1 2013, 07:02 PM Post #95 |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 79 || POSISI: 8 TARGET: FLOYD ORDYN (D12) & CORALINE ESTELLE (D6) || AP: [result]6&4,1d10,2,6&1d10+2[/result] || KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] & [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result] 2 kapak, 1 korek api, 1 tempat air minum 2 liter (....) BARU JUGA KEGIRANGAN DISAYANG SERANGANNYA KENA TERUS, EH SERANGANNYA BARUSAN JADI GAGAL. #DDRakutetapcintakamu Colleen masih asik sendiri, sementara Hada di sini sudah berdarah-darah menghadapi dua lawan yang nggak bisa dia remehkan. Biarpun non-karier, mereka sama-sama manusia yang juga berjuang melindungi diri dan nyawa mereka. Dan siapapun yang berada di kondisi terjepit kayak gini, nggak bakal menyerah gitu saja. Benar, Hada nggak bisa mengandalkan Colleen ataupun orang lain. Di Arena ini semua berjuang untuk diri sendiri. Sedih memang, Hada juga nggak mau kayak begitu, mati membunuh atau dibunuh saja udah menyeramkan, apalagi kalau mati sendiri. Rasanya miris banget. Intinya sih, Hada nggak mau mati sekaraaaaang. Nggak sebelum dia ketemu Floryn! Hahaha, dia nggak mau mati sia-sia di sini sebelum dia melihat wajah si mungil itu. Nggak muluk sih, Hada nggak berambisi buat menang, apalagi kalau sampai harus melenyapkan nyawa orang. Dia bukan mesin pembunuh seperti manusia Distrik Dua yang kejam-kejam. Dia cuma bocah biasa yang suka berenang di laut, main-main di atas kapal, mancing ikan, dan santai-santai di pulau. Aww, man, Hada jadi kangen Distrik Empat kan.... "Duuh, maaf ya, maaf kalau sakit!" Ngoceh aja terus si Hada ini, meskipun tangannya kembali mengarahkan kedua kapaknya ke dua orang itu lagi. Tapi dia rela sih kalau Floryn yang pulang ke Distrik Empat. |
![]() |
|
| Gavyn Owyn | Saturday Jun 1 2013, 07:02 PM Post #96 |
![]()
|
DISTRIK 11|| HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 8 (Shinzo Kawabata) || AP: AP: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] || KS: [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result] dua pasang kaus kaki, satu lentera, satu korek api Tidak kena. Gavyn meruang sejadi-jadinya. Baginya ini seperti kehilangan emas. Ia nyaris mengayunkan tinjunya sekali lagi ketika ada orang lain yang mengganggnya. Satu pemuda dengan tubuh kurus ikut campur. Entahlah. Dia merasa orang itu tiak satu distrik dengan Tume Tinkham. Siapa pemuda ini? Sekutunya, eh? Hah. Merasa tidak mau kalah dengan belati yang diarahkan kepadanya, Gavyn Owyn membuat gerakan menendang ke arah perut dari pemuda bernama Shinzo Kawabata itu. Distrik delapan rupanya ingin mencicipi bagaimana permainan fisik milik Gavyn. Sejauh ini pemuda bermarga Owyn ini sangat suka mengandalkan fisiknya dalam melakukan beberapa hal. Ini begitu menyenangkan ketika merasakan tinju atau tendangannya mengenai kulit. Daridulu dia memang tidak begitu suka menggunakan senjata. Tangan kosong baginya jauh lebih menarik. Gavyn menyukai kejantanan dan sensasi membuat orang lain menderita dengan tangannya sendiri. Ini membuat dirinya merasa begitu bahagia. Jadi, Gavyn baru saja memberikan tendangan ke arah laki-laki kedua yang mengusiknya sambilo berpikir mengapa ada dua orang yang berusaha mencari gara-gara dengannya. Padahal dirinya sedang ingin tidak menciderai siapapun kalau bisa. Jika keadaannya sudah begini, mau tidak mau Gavyn terpaksa bertindak. Dia harus melindungi dirinya sendiri sementara rekan sedistriknya yang berada tidak begitu jauh darinya berusaha melawan karier. Yah, semangat saja untuk mereka berdua! |
![]() |
|
| Yasmine Silvertongue | Saturday Jun 1 2013, 07:02 PM Post #97 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 61 || POSISI: 6 TARGET: offroll 2/3(tambah offroll pistol ethan) || AP: - || KS: - empat bungkus dendeng sapi Untuk ukuran seorang remaja yang tidak mendapat fasilitas berlatih layaknya para Karier. Untuk ukuran seorang remaja yang menggantungkan hidup dan isi perutnya pada sepotong daging sapi dibagi tidak rata untuk empat mulut. Untuk ukuran seorang remaja yang diremehkan dan dipandang sebelah mata hanya karena prestis dan pangkat distriknya, hm… Yasmine menganggap ini merupakan suatu ironi besar. Kasihan terhadap para Karier. Sangat kolot berapapun umur mereka saat itu. She just despise them so much. Mereka telah memiliki hampir segala materi. Bermula dari uang dan asupan makanan. Siapa di antara para Karier yang pernah mencuri dengan motif mengisi perut barang sesuap? Tidak, kecuali ia dengan bodohnya melarikan diri dari rumah. Setiap manusia memiliki cerita hidupnya masing-masing, Silvertongue muda ini tahu betul itu. Tetapi para Karier? Apa cerita mereka? Bahwa mereka sangat bosan hidup di distrik dan ingin melakukan tindakan kriminal secara legal? Well, gadis ini takkan sudi menjadi domba untuk pemuasan hasrat. Untuk usaha penyembelihan. No. Mereka belum mengalami apa yang ia alami. Karier dan jalan pikir mereka, hampir seluruhnya dari mereka. Meskipun masih ada juga yang bocah-bocah macam Leira dan bahkan lebih muda. Hm, apapun motif dan motivasi mereka di dalam Arena ini. Yasmine takkan memperhitungkan mereka sebagai kawan, tidak dengan usaha dan rayuan, kemahiran merangkai kata atau ratusan kali mereka menyelamatkan nyawanya. Memang ada yang mau menyelamatkan peserta lain beda distrik dan beda pangkat pula? Enggan, tidak yakin, dan memang hampir tidak mungkin. |
![]() |
|
| Mario Spielberg | Saturday Jun 1 2013, 07:03 PM Post #98 |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 70 (-5 karena terlambat) || POSISI: [result]2&2,1d9,0,2&1d9[/result] (BARANG; BUKAN RANSEL) || RANSEL [result]6&1,1d5,5,6&1d5+5[/result] || [result]1&1,1d3,0,1&1d3[/result] x 180. (BANYAK KATA PER POST) Buset dah, rasanya tadi Mario Spielberg si pemuda cuek setengah mampus ini baru saja melamun memikirkan mau berlari kemana, kenapa tiba-tiba semua sudah berlari jauh dan hampir sudah saling menyerang? Demi apa, jangan-jangan ia sudah melamun dan menyia-nyiakan waktu lebih dari lima menit? Atau memang semua peserta ini larinya cepat dan sudah memikirkan strategi matang jauh-jauh hari. Dirinya? Mustahil, untuk memikirkan caranya bertahan hidup saja Mario ogah-ogahan apa lagi untuk memikirkan strategi tarung. Mau cepat mati? Tidak juga sih. Yah namanya juga takdir, meskipun ia tidak memikirkan kalau takdirnya strategi menang ya tetap saja menang. Benar ‘kan? Sudahlah, daripada lebih lama melongo melihat pembunuh sadis dimana-mana beraksi mendingan ambil langkah seribu dan berlari secepat mungkin supaya tidak mencolok perhatian orang. Berusaha ambil apa yang masih bias diambil dan selamatkan perut, eh, nyawa lebih dahulu. Syukur-syukur kalau tidak ketemu musuh meskipun mustahil dengan jumlah lawan empat puluh tujuh. Ya mau bagaimana lagi? Mario Spielberg bukan orang berdarah dingin yang suka dengan darah atau membunuh orang. Lucu bukan? Manusia sempat berfikir amat sadis seperti tidak punya hati atau fikiran. Terlalu tidak realistis, mungkin mereka mutan samaran. Tau lah, yang penting lari dulu. |
![]() |
|
| Irvette Schwan | Saturday Jun 1 2013, 07:03 PM Post #99 |
![]()
|
DISTRIK 3 || HP: 63 || POSISI: 5 TARGET: DISTRIK 2 – JESTER HOLT || AP: [result]5&5,1d8,0,5&1d8[/result] || KS: [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result] Satu kotak Biskuit, Satu Tempat Minum Kulit, Satu Kantong Tidur, Satu Lentera Diserang: Jester Holt Iya, Irvette lari secara terlambat karena otaknya mendadak bekerja lebih lambat dibandingkan sebelumnya. Tahu tidak, kalau tidak salah tubuh manusia itu mengandung 5.6 liter darah. Itu tubuh manusia rata-rata, kalau yang tidak rata-rata sih entah berapa. Jangan tanya, ia tahunya yang rata-rata. Memori otaknya terlalu sedikit untuk menyimpan seluruh informasi. Jangankan soal informasi macam itu, makan apa kemarin saja ia sudah lupa. Nah, katanya juga supaya bisa mati, manusia harus kehilangan sekitar 60 persen dari jumlah darah tersebut. Nah lagi, kenapa informasi ini penting? Tidak tahu juga, orang Irvette tidak bisa menghitung berapa banyak darah yang hilang kalau ternyata nanti darahnya hilang….disedot vampir. Selain larinya terlambat, larinya juga lambat. Iya, ia ketinggalan jauh dari orang lain, makanya ia berusaha mempercepat larinya. Astaga, padahal dulu ia sering lari kok…kalau terlambat sekolah atau kalau dikejar anjing. Percaya deh, dua hal itu sangat sering terjadi sampai-sampai tidak bisa dihitung dengan jari lagi. Sumpah, ia juga tidak mengerti kenapa anjing cinta banget sama dia sampai-sampai hobi kejar-kejar dia sampai di lari ke rumah dan mengunci pintu. Padahal ia belum pernah pelihara binatang, lho. Ternyata hasil lari (berusaha) super cepatnya itu lumayan juga, ia berhasil berlari sejauh…entah berapa meter. Nggak terlalu jauh atau terlalu dekat dengan curnopopia, pokoknya. Buru-buru ambil barang yang masih kelihatan available. Ambil barang tuh memang lebih baik kayak ambil pacar, mending ambil yang available dibandingkan yang sudah taken, kalau ambil yang sudah taken bisa-bisa nanti menimbulkan masalah. Oh, sungguh, percayalah, Irvette mau jauh-jauh dari masalah di sini, tapi biasanya masalah datang sendiri, sih. Nggak tau kenapa, masalah cinta banget sama Irvette, kayak anjing cinta Irvette. “BEEEGOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!” Itu reaksinya ketika mendadak ada cowok bertampang sok yang minta digampar mendadak menyerangnya, di bibir pula. Sakit, tjoy, sakiiiiiiiiiiiiiiiiiiit. Apalagi teriakannya langsung tidak kedengaran super aneh. Astagfirullah, dia salah apa, baru juga mungut barang udah diserang. Salah apa, salah apa, salah apaaa. Sakit, mak, sakit. Ia langsung bergerak mundur dan memegangi bibirnya yang sekarang sepertinya sudah jadi dua. Pengen nangis, sumpah pengen nangis. Irvette dosa apa sampai kayak gini, dosa apaaa. “Hafatam dsfsjbdgdgdfgd dfsfsdg….” Itu suaranya mendadak menangis, tahu. Iya, akhirnya tidak tahan juga. Biarin deh dibilang cengeng, orang emang sakit. Sumpah kayaknya orang itu nggak pernah ngerasain rasanya dipisauin. Mana ia nggak punya senjata, lagi. Helpless abis. “Beho, hamu behoooo!” Baca: Bego, kamu begooooo! Bego sepertinya sudah jadi kata makian favoritnya sekarang. Maunya sih teriak, jahat, kamu jahat jahat jahat, tapi yang keluar malah yang lain. Sedot ingus, harus istigfar berapa kali, sih. Mak, sepertinya ia akan mati di bloodbath beneran, mak. Dan kayaknya anggota badannya nggak akan utuh, hiks, ia bakalan kehilangan beberapa bagian tubuh, hiks. Takdir itu kejam, kejam. “Fang, hualem nafa Fang.” Baca: Bang, kalem napa Bang. Ia bergerak mendekati pemuda dari distrik dua itu dan kemudian menggerakan kakinya untuk menendang anunya. Katanya kalau laki-laki itunya kenapa-napa, rasanya bakal sakit banget. Ya siapa tahu kena dan ternyata benar-benar sakit sampai-sampai kejantanan si pemuda bakal dipertanyakan. Habis gimana, ia kan nggak punya senjata. Mau menyerang pakai apaan, coba, selain mengorbankan bada sendiri. Yang penting ia sempat balas dendam, lah. Kalau mati yang penting jangan berubah jadi setan gentayangan. Ogah, masih ogah jadi setan tanpa anggota badan. Ia benci setan macam itu, sering banget muncul di mimpinya, tjoooy. Masa ia jadi mimpi buruknya sendiri? Tragis amat. |
![]() |
|
| Coraline Estelle | Saturday Jun 1 2013, 07:03 PM Post #100 |
|
Distrik #6 || HP: 48* || Posisi: 2 Target: Hada Atala (D4-M) || AP: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] || KS: [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result] || (Satu tempat air minum ukuran dua liter, satu botol madu, satu kompas, satu kotak biskuit) Kepada pemuda Empat yang baik hati telah melukai Cora. Kita sehati kali ya, kok dari tadi tabrakan terus. Ihik. Untung serangannya yang terakhir gagal ya, kalau berhasil Coraline Estelle mungkin benar-benar akan mati sekarang juga, habis melihat pemuda Empat yang kelihatannya sewaktu pelatihan kalem-kalem aja, begitu sampai di Arena jadi gahar gitu mainannya kapak pula. Ya mungkin Cora juga sih, walau dia enggak pakai acara sabet-sabetan kapak, dia kan enggak punya senjata apa-apa. Hahaha. Terus Cora sudah mulai bosen main tendang-tendangan, walau yang terakhir ini tendangannya berhasil mengenai tulang kering si pemuda Empat itu, pasti agak sakit. Tulang kering itu kalau di tendang keras-keras itu bisa patah tau, atau kalau lebih mending sih agak bengkak dan menyebabkan susah berjalan karena kesakitan. Iya, kesakitan. Apakah sekarang Coraline Estelle terdengar seperti orang yang psiko? Gemar melihat orang lain kesakitan dan anyway itu enggak Cora banget, Coraline Estelle dari Distrik Enam adalah seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang menyukai glukosa berlebih tapi tidak gemuk-gemuk dan baik hati kepada seluruh orang yang ia temui. Sedangkan sekarang? Apa dia sudah berubah? Tapi masih belum ada ekspresi membunuh di wajahnya, tidak ada senyum timpang atau seringai seperti serigala jahat yang sering ia lihat pada gambar sebuah buku dongeng tentang seorang anak perempuan bertudung merah yang ingin berkunjung ke rumah neneknya. Soal nenek, Cora jadi ingat dengan neneknya, sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan neneknya, mungkin sebentar lagi dia akan bertemu dengan neneknya itu—di alam sana. Kalau bisa sih sama si pemuda Empat ini. Dia mau balas dendam, sekalipun di alam sana, dia tentu masih bisa balas dendam bukan kepada orang yang sudah melukainya? Cora masih bisa memberikan sumpah serapah walau dia sudah mati bukan? Dan sudah Cora katakana kalau sumpah serapah orang yang sedang tersiksa atau yang sedang teraniaya adalah doa paling manjur sepanjang masa. Cora sumpahin aja lah si pemuda Empat ini tak lama akan menemui ajalnya setelah Cora, walau tidak di tangan Cora juga tidak apa-apa. Yang jelas Cora sudah marah sekarang. Langkahnya mundur, mencoba kembali mengambil spasi antara dirinya dengan si pemuda Empat. Dia sudah belajar dari pengalaman sehingga dia juga enggak mau kena serangan kapak mendadak lagi dari si pemuda Empat itu. Cora enggak mau nambah luka lagi di badannya, kan enggak lucu juga kalau ternyata dia selamat dari si pemuda Empat tapi akhirnya tak lama mati karena kehabisan darah. Berbicara soal darah dan luka, Cora masih sempat berpikir kalau lukanya tidak segera ditutup atau dibiarkan terbuka dan kotor seperti sekarang, dia malah takut akan terkena tetanus—atau apa namanya itu. Itu jauh lebih mengerikan ketimbang mati karena tertusuk atau tertembak pistol, tapi bukan berarti juga Cora mau mati karena ditusuk pisau atau ditembak oleh pistol. Cora mendekat dan satu bogem mentah melayang ke wajah bagian kiri si pemuda Empat. Peduli setan dengan imej anak baik-baiknya yang bakalan rusak sebentar lagi. Ya terserah juga sih mau ngatain Cora nyeremin atau gimana. Klise, ini demi hidup dan mati. Kalimat itu sepertinya akan terus menghantui hidup dan pikiran Cora untuk beberapa hari ke depan hingga akhirnya dia menemui ajalnya. Agak mengerikan memang masa nanti tidurnya dihantui oleh mimpi-mimpi buruk, misalnya digentayangi oleh para pendahulunya dari Enam. Enggak apa-apa sih kalau yang gentayangin badannya masih utuh-utuh, kalau udah terpisah-pisah gitu? * ; cmiiw, karena di Panduan tertulisnya 53, berarti saya salah rekap. Hasilnya 48 (…) |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
![]() ZetaBoards gives you all the tools to create a successful discussion community. Learn More · Sign-up for Free |
|
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |

















9:33 PM Jul 11