|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,770 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Stephanie White | Saturday Jun 1 2013, 07:04 PM Post #101 | |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 59 || POSISI: 7 TARGET: DISTRIK 2 [Pietronella Hart] || AP: [result]7&7,1d9,0,7&1d9[/result] || KS: [result]21&21,1d24,0,21&1d24[/result] (ransel sedang, kompas, pisau, satu set panahan) Untung saja bukan tombak, hanya sebatas bogem mentah yang membuat rahangnya sedikit ngilu. Eve memegangi rahangnya yang berdenyut dengan darah yang masih mengucur. Lumayan juga rasanya, sedikit pusing dan ia tadi sedikit terhuyung. Salahnya tadi lengah karena mencari Fremunzar, tapi di musim begini tidak seharusnya mengkhawatirkan orang lain ‘kan? Selamatkan diri sendiri terlebih dulu, setidaknya jangan sekarang. Pokoknya dia tidak ingin mati sekarang, hanya dua orang peserta karier yang ingin dia mati saat ini. Benar ‘kan dia jadi sasaran empuk bagi dua orang peserta karier. Baiklah, dia tidak tahu kenapa dua orang ini membidiknya, apakah karena ia terlalu manis? Apakah karena Eve terlalu cantik hingga peserta dari distrik dua ini iri jadi ingin membunuhnya? Ataukah Hart takut kalau ia akan main gendong-gendongan dengan Exodus yang wajahnya lebih mirip tapal kuda ketika memberengut menatapnya. Belagu memang peserta karier, mereka menyerang secara membabi buta, selain tangannya yang gemetar, ia sempat menunduk ketika Hart kembali menyerangnya dengan senjata yang ia punya. Tidak mudah sayang untuk membunuh Eve, dia wanita perkasa. Meskipun puntirannya tidak membuahkan hasil, tapi paling tidak bersamaan dengan ia merunduk, satu peluru berhasil dilewatinya. Bangga? Jelas, tapi belum penuh kalau ia belum mencari tempat yang aman, sungguh. Arena ini ingin dia mati muda, tapi Eve tidak mau. Bahkan tidak ada yang membantunya untuk bertahan hidup. Eve menoleh pada sumber peluru tadi, Exodus bin kardus tepat saat matanya menyipit dan ia berusaha menjambak rambut Hart yang mirip benang jahit. Tiba-tiba saja ia ingin sekali mencakar atau menggigit Hart di bagian wajahnya, mungkin lebih baik mencongkel matanya menggunakan pisau. Tidak, sebelum serangan datang lagi dan ia berusaha untuk menghindar. Satu bedebah, satu wanita jalang, pasangan yang cocok, ahem. |
|
![]() |
|
|
| Madeleine Lethbridge | Saturday Jun 1 2013, 07:04 PM Post #102 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 95 || POSISI: 5 TARGET: DISTRIK 3 (Patricia Brown) & DISTRIK 9 (Kevin Fremunzer) AP: [result]4&2,1d10,2,4&1d10+2[/result] || KS: [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] & [result]11&11,1d24,0,11&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu Kevin Fremunzar masih diam. Apa yang harus dilakukan Madeleine kemudian? Dari jarak yang tidak begitu jauh, ia bisa melihat kalau Patricia Brown sedang diserang oleh kawan satu distriknya: Pietronella Hart. Ia gadis yang tangguh dan kuat, sehingga untuk urusan Patricia untuk sementara akan dialihkan pada gadis itu saja. Nanti, anggap ia sebagai hidangan utama selagi urusannya dengan Kevin Fremunzar akan terlebih dulu diselesaikan. Madeleine ini bukannya berhati baja tanpa rasa welas asih, kau tahu. Tapi dia terpaksa. Maafkan dia, karena kalau bisa, pun ia tidak akan memilih jalan ini. Perdamaian adalah tempat di mana ia mau berdiri. Sungguh. Salah kamu, Kevin—salah kamu untuk berada di sini, salahmu membiarkan takdir membawamu sampai di sini, di hadapan Madeleine untuk kemudian dihabisi. “Do I hurt you, Seven?” Dengan nada prihatin, ia bertanya. Lebih mirip retoris sebetulnya, namun ia biarkan dan tetap menunggu jawaban dari si pemuda yang sedari tadi tidak berkomentar apapun. Bisukah? Gagukah? Atau serangan demi serangan yang diluncurkan secara bertubi ini membuat pemuda itu tertekan dan mengalami gangguan psikis. Tidak, tidak, tidak—Kevin barangkali cuman menguji kesabarannya. Ya, pasti begitu. Dan mari uji-balik dia itu. Tentang seberapa lama dia akan betah untuk membungkam lisan dan mengacuhkan Lethbridge belia ini. Dengan sedikit tidak sabar, well, Madeleine memegang gagang pisau itu dengan kedua tangan. Ia angkat tinggi-tinggi untuk lalu berniat tusukan ke tepat di perut pemuda tersebut—sama seperti apa yang tadi ia lakukan pada Patricia Brown. Rasanya aneh; untuk ia melakukan penyiksaan seperti ini dan tanpa perlawanan berarti. Tapi, sekali lagi, Madeleine harus memilih. Dan Madeleine memilih untuk tetap hidup. Hidup lama. Panjang umur. “Pietra di sana butuh bantuan?” Basa-basi sebetulnya, karena walau tanpa menunggu jawaban, pistol udara yang tadi ia ambil dari ransel besar dilemparkan dengan target kepala gadis bermargakan Brown tersebut. Satu, dua, tiga—Madeleine lantas tertawa melihat apa yang dilakukannya sendiri. |
|
![]() |
|
|
| Floryn Lee | Saturday Jun 1 2013, 07:04 PM Post #103 | |
![]()
|
└(∵┌)└( ∵ )┘(┐∵)┘ DISTRIK 4 || HP: 93 (*`д´)b POSISI: 4 ☆ミ(o*・ω・)ノ[ FLAVEA ] || AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] TARGET: KYLE (D8) || KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] TARGET: KATHLEEN (D12) || KS: [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result] DUA BELATI, SATU TENDA(...) & SATU PEDANG BERMATA GANDA(...); AKU SAYAAANG DDR Si kecil yang satu ini juga udah enggak ngerti lagi kok, Babang. Dia bertumpu pada pedang yang ia tancapkan pada tanah dekat kaki pada akhirnya. Napasnya memburu, dadanya naik turun karena emosinya sendiri yang terlalu berkecamuk. Seharusnya enggak kayak gini. Seharusnya Floryn bisa mengontrol amarahnya, bukannya gelap mata seperti tadi. Tapi, dia tetap berpendirian bahwa Capitol dan penghuni distrik itu yang salah. Pusat Panem terlalu sombong dan distrik yang berjuang di arena ini—yang melukai keluarganya, distriknya—seharusnya tahu bahwa saling melukai itu enggak bagus. Dia hanya mau mereka tahu apa yang Floryn rasakan. Kehilangan. Sakit hati. Hancur. “Kenapa sih kalian enggak pergi aja?,” tanyanya geram—sepenuh hati mengucapkan itu sembari jemarinya mengepalkan tangan dan kembali menarik pedangnya. Napasnya terhela berat. Nggak. Si kecil itu belum mau terlihat lemah di saat ini. Gadis cilik itu ingin Capitol tahu bahwa ia berbeda dengan Alethea. Dia tak selemah kakaknya. Dia akan pulang; bawa hal baru untuk diceritakan pada keluarganya. “Kubilang pergi aja sana!,” sekali lagi pekikan. Dia sama sekali enggak suka harus berlama-lama seperti ini. Langkahnya ringan, kedua tangannya mengangkat pedang dengan seluruh tenaganya, dan mengayunkannya ke arah leher dua lawannya tadi. Floryn hanya mau ini cepat selesai. Hanya itu, kok. Kena ataupun tidak, si kecil sudah masa bodoh seputar hal itu. “Sana pergi. Pulang. Jangan kesini!” |
|
![]() |
|
|
| Patricia Bronwyn | Saturday Jun 1 2013, 07:04 PM Post #104 | |
![]()
|
DISTRIK 3 || HP: 46 || POSISI: 6 Target: Madeleine (D2) || AP: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] || KS: [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result] (1 tempat minum kulit, 1 kotak biskuit) Kakinya serasa begitu ringan dan entah bagaimana menurutnya itu pertanda buruk. Mungkin selanjutnya ia akan terjatuh, berguling di tanah dan diinjak peserta yang lain sampai tewas—ah, tunggu, jadi ini memang benar sudah Arena, 'kan? Patricia hampir tidak menyangka ia benar-benar sudah berlari dan kematian menunggu di hadapannya. Banyaknya orang di sekitarnya membuat ia agak pusing dan linglung. Entah ke mana tujuannya. Ke arah kumpulan barang dan senjata di sebelah sana? Tak sempat berpikir ia berlari ke sana. Sejenak ia merasa bodoh karena kakinya telah sukses membawanya pada titik di mana begitu banyak karir berkumpul dan nyaris tidak ada tempat untuk menginjakan kaki dengan aman di sana. Tapi ada juga peserta yang lain, bahkan ada gadis yang satu distrik dengannya. Tapi ia tidak mau begitu memikirkan yang lain. Satu hal yang muncul di benaknya, ambil barang-barang yang berguna. Manik cokelatnya bergulir dan yang pertama ia tangkap adalah sebuah ransel kecil yang masih tergeletak. Dan tanpa berpikir panjang ia mengambilnya. Kemudian ia memandang sekitar lagi dan langsung saja mengambil satu tempat minum kulit dan satu kotak biskuit untuk jaga-jaga bukan hanya kalau lapar tapi bisa saja untuk menyerang, ya ‘kan? Lalu ada sisa senjata. Baru saja tangannya terulur ke depan, bogem mentah diarahkan padanya dari seorang gadis pirang. Ia diam sejenak untuk mengenal siapa gadis itu. Rupanya salah satu gadis dari Dua, Hart. Cara menyerang mereka memang tidak pernah halus. Tunggu dulu, memangnya ada menyerang dengan cara halus? Kalaupun ada, yang melakukan pasti bukan Dua. Ia tahu ia tidak punya banyak waktu untuk mengerang kesakitan. Yang perlu ia lakukan adalah mengambil senjata. Tapi begitu ia mendongak, hampir semuanya ludes dijarah oleh para karir. Ia menoleh ke sana-sini, panik. Untuk pertama kalinya Patricia Bronwyn panik pada saat ia harus bergerak cepat. Nyatanya ia malah melambat. Merasa bodoh malah akan semakin mengganggunya. Ia menoleh, dan kali ini seorang gadis Dua yang lainnya berusaha menyerang dengan pistol udara. Ia buru-buru menghindar dan sukses dengan selamat. Tapi tidak ada kata selamat sampai ia bisa keluar dari sini. Begitu ia bergerak lagi, Hart berusaha menendangnya dan Patricia berhasil menghindar lagi. Apakah ini kelebihannya? Menghindar? Kesannya payah sekali. Tapi setidaknya itu kembali menolongnya dari sayatan gadis pirang itu, ia berguling. Selanjutnya ia berusaha lari, kabur dari tempat itu, tapi belum beberapa langkah sesuatu menembus jaketnya di bagian perut dan otomatis yang berada di balik lapisan jaket itu juga kena dampaknya. Kali ini sebuah pisau yang tajam baru saja memberi koyakan kecil pada perutnya. Pada akhirnya ia tak tahan lagi dan mengerang. Tubuhnya membungkuk, berusaha menahan rasa sakit yang kini amat terasa di bagian perutnya. Ini baru luka kecil. Karena selanjutnya, ia mendapat serangan lagi, tapi kali ini dari Hart, ya, yang rambutnya pirang lagi. Tidak habis pikir mengapa kedua gadis ini begitu mengincarnya padahal mereka punya mangsa lainnya yang bisa dilawan terlebih dahulu. Kini ia resmi dua kali terserempet serangan tombak dari Hart. Masih ada sisa-sisa kesempatan hidup dan ia tahu ia harus menggunakannya sebaik mungkin. Ia berusaha bangkit. Tapi gadis Dua yang satu lagi, ya, si Lethbridge, menyerangnya lagi, dan kena. “Ugh,” kembali ia membungkuk dan rasanya setiap luka yang ia dapat semakin perih saja. Selama beberapa saat ia tidak bisa berpikir—atau lebih tepatnya sulit berpikir. Sulit bukan berarti sama sekali tidak bisa bepikir. Dan karena itulah, otaknya menyuruhnya kembali bangkit. Dalam hitungan detik selanjutnya ia sedang berusaha menjambak surai kehitaman gadis Lethbridge keras-keras. Di post ini di tagnya ditulis pistol udara, tapi di deskrip nusuk perut, berarti gak offroll, kan ya. cmiiw. |
|
![]() |
|
|
| Kevin Fremunzar | Saturday Jun 1 2013, 07:05 PM Post #105 | |
![]()
|
Distrik 9 ||HP 49||Posisi 5 Target : Madeleine Lethbridge: |AP=[result]2&2,1d9,0,2&1d9[/result] ||KS= [result]13&13,1d24,0,13&1d24[/result]| 1 tempat minum kulit, 2 Kotak Biskuit, 1 Kantung Tidur Kevin berlari begitu cepat setelah terdengar dentuman suara meriam. Syukurlah karena ia dikaruniai kaki jenjang yang sangat membantunya dalam berlari. Niatnya ia ingin langsung lari ke bagian puncak cornucopia-dapat dipastikan pada bagian tersebut terdapat senjata lebih mematikan dan makanan yang mungkin berlimpah. Tapi itu terlalu beresiko. Semua pasti menginginkan dan mendapatkan sesuatu yang lebih. Terlalu tamak akan membuatmu rugi. Definisi rugi di arena bisa berarti mati lebih cepat. Belum saatnya Kevin mati (mungkin). Tanpa pikir panjang Kevin mengambil semua benda yang terlintas dalam jarak larinya. Pertama tangannya terjulur mengambil ransel kecil.Tak jauh dari ransel kecil tersebut ia melihat dua kotak biscuit tergeletak begitu saja dan dengan cepat ia mengambil dua kotak biskuit tersebut. Ia terus berlari dan sekarang ia menjatuhkan pandangannya pada Kantung tidur. He needs it, pikirnya. Sial. Dari tadi Kevin belum mendapatkan sesuatu untuk menyerang. Dia diam dan mengedarkan pandangannya untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan dan itu adalah kesalahan terbesar yang dibuat Kevin. Diam berarti menjadi sasaran empuk, menjadi target yang bisa diserang dari sudut manapun. Dan benar saja. Tubuh Kevin terkena tembakan beberapa kali. Dia menoleh kekiri dan kanannya mencari sumber arah tembakan dan belum berhasil menemukan sang kancil yang terus membidiknya tanpa ampun. Mata Kevin mulai buram akibat tembakan beruntun yang mengenai tubuhnya. Untungnya peluru terakhir yang ditembakkan berhasil dihindari Kevin dengan tidak sengaja . Menit berikutnya, sang kancil licik telah keluar dari sarangnya dan menghampiri Kevin dengan sebilah pisau. Kehabisan peluru, mungkin. Pandangan Kevin masih buram, sepertinya peluru yang ditembakkan itu berisi bius, secara samar sosok dihadapannya ini menusuk belati ke lengannya dan telak kena tanpa Kevin bisa hindari. Berdarah? Jelas. Saatnya balas dendam. Kevin dalam pandangannya yang masih kabur, mencoba memberikan bogem mentah dengan tangannya lain yang tidak terluka pada bagian rahang gadis tersebut. Lets see dengan keadaan demikian berharap saja pukulan Kevin mengenainya. |
|
![]() |
|
|
| Yasmine Silvertongue | Saturday Jun 1 2013, 07:05 PM Post #106 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 61 || POSISI: 6 TARGET: offroll 3/3 || AP: - || KS: - empat bungkus dendeng sapi Tidak ada peluang untuk mengangkat kakinya dari tempat ini. Nol persen kemungkinan. Ia mulai kehilangan ritme napas dan detak jantungnya bekerja sampai titik maksimum. Rasanya ia tidak pernah berdiri di tempat dengan berpindah-pindah beberapa kali namun tetap selelah ini. Pertarungan sangat intens dan begitu sengit sehingga akan lucu sekali jika tiba-tiba terhenti begitu saja. Mereka takkan pernah berhenti tanpa ada salah satu di antara mereka merenggang nyawa. Namun membunuh tidak semudah yang kelihatannya, terutama ketika lawanmu adalah orang dengan segala nilai tambah dari berbagai aspek. Kemampuan, ciri fisik, tekad, sponsor, semua. Bahkan tidak ada waktu untuk mengedarkan pandang memeriksa keadaan rekannya. Ia begitu terkukung dalam lingkaran setan ini. Terjebak di antara mereka yang begitu haus darah. Membantai orang-orang yang tidak diperlukan. Yasmine menggeram kesal. Tidak terberkatilah para didikan Karier yang dalam benaknya hanya ingin menang, menang, menang, dan menang saja. Berapa lama lagi ia mampu bertahan? Terus mengelak dan berusaha menyerang dengan mengirit pengeluaran tenaga sebisa mungkin? Dan jika benar hanya keberuntungan lah yang berpihak dan berperan saat ini, Yasmine menginginkannya, ia membutuhkannya, lebih dari apapun saat ini. Tentu ia ketakutan, tetapi rasanya waktu untuk memelihara jiwa yang kecil dan rapuh itu telah lewat. Kini ia harus melangkahi beberapa lawan, sebelum dirinya sendiri jadi korban. |
|
![]() |
|
|
| Floyd Ordyn | Saturday Jun 1 2013, 07:05 PM Post #107 | |
|
DISTRIK 12 || HP: 38 || POSISI: 2 TARGET: Hada Atala || AP: [result]2&2,1d9,0,2&1d9[/result] || KS: [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result] kantong plastik, 1 dendeng, 1 madu Sumpah ini sempak banget.. Kenapa serangan yang dalam pikiran Floyd bakal jadi serangan yang mutakir malah berhasil dihindari sama pria duyung itu sih? Apa lagi dia masih teriak-teriak Floryn, tsah. Sekali lagi teriak Floryn sepertinya pria duyung itu bisa ambil hadiah piring di infomasi terdekat—huft. “Floryn mu sudah on the way ke neraka, tau!” Well, itu hanya kalimat ngaco yang terucap spontan dari bibir Floyd. Dia tidak tau menau dimana Floryn yang dimaksud itu, ah peduli amat. Ngomong-ngomong, bagaimana Kath? Floyd jadi kepikiran untuk sesaat. Ya semoga saja Kath lebih beruntung dari dirinya saat ini, berhasil mendapatkan senjata dan berhasil menghindari serangan dari kawanan kair atau peserta non-karir. Sekarang dia tidak punya barang lain yang bisa dia gunakan selain kantong plastik yang tadi. Ya, dipakai saja lagi, toh serangannya yang tadi berhasil dihindari. Sama seperti dirinya yang berhasil menghindari serangan pria duyung yang terakhir. Huahh, akhirnya. Tapi tetap saja keadaanya sekarang tidak mulus lagi. Luka di sana sini, sedangkan pria itu masih baik-baik saja, sial.. Hal serupa juga menimpa gadis dari Enam tadi. Ia sekarang beralih dengan tendangan, nggak salah sih. Tapi sepertinya lebih baik kalau plastiknya ia simpan dulu. Melawannya dengan tendang-tendang dan cubit-cubit ala gadis Enam saja, lebih menjanjikan. Plastiknya disimpan untuk tidur nanti lantaran ia tidak bisa menemukan kantung tidur. “Terus tendang dan cubit dia saja. Bila perlu dikelitikin. Itu akan membantu. Aku akan coba dengan hal lainnya. Two is better than one..” HUAHAHAHA ngaco. Sial dia kena serang lagi. Oke lah kali ini Floyd mencoba untuk memukul perut pria duyung dengan tenaga yang ia punya. Sana kau kembali saja ke lautan, huh! |
|
![]() |
|
|
| Kyle Blackthorn | Saturday Jun 1 2013, 07:05 PM Post #108 | |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 17 || POSISI: 4 TARGET: Floryn Lee (D4) || AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result] 1 belati, 1 kotak biskuit, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit Wow. Super sekali. Super. "NENG! Beraninya sama orang yang diam saja nih!" Iya lho, tadi Kyle betulan lagi diam saja, lagi lihat-lihat pemandangan yang menyenangkan di sekelilingnya. Terus tiba-tiba ada anak kecil yang menyerangnya menggunakan pedang. PEDANG! Padahal apa salah Kyle. Dia cuma laki-laki lima belas tahun yang sedang menikmati indahnya arena, hanya melakukan serangan pada Freida, gadis dari sepuluh yang telah dikenalnya sebleum ini, dan gadis dari dua belas yang imut-cantik-unyu saat anak kecil ini menyerangnya dengan pedang! Dasar perempuan, sukanya mempermainkan laki-laki.... Bukan, Kyle. Bukan. Tidak ada hubungannya itu. "Dan siapa yang gangguin Flavea...." Orang baik seperti dia, mana tega berbuat jahat pada orang lain, apalagi mengganggu. Kalau dengan Kyle Blackthorn itu, adanya cerita diajak makan bersama, diajak main bersama, diajak menghabiskan waktu bersama dalam keindahan. Tidak ada ceritanya Kyle Blackthorn mengganggu seorang gadis. Flavea itu gadis yang bermain gelembung sabun itu, kan? Orang baik seperti itu, walaupun dari distrik karier, tidak mungkinlah dia jahat. "Kamu jangan asal menuduh!" Bibirnya dimanyunkan. Lalu menyabetkan belatinya ke anak kecil itu. Begini, begini, Kyle sudah belajar menggunakan belati saat di pusat pelatihan. Dari yang sebelumnya hampir tidak pernah menggunakan benda tajam untuk melukai orang lain, sekarang jadi punya kemampuan untuk melukai orang lain. Memang itu gunanya pusat pelatihan, kan? Bukan soal survival game seperti bertahan hidup di hutan belantara, bagaimana cara mencari makan dan menemukan sumber mata air serta berburu makan malam, bukan soal itu. Tapi tentang bagaimana membunuh orang supaya dia menjadi satu-satunya peserta yang bertahan hidup, berhasil melalui arena ini dengan selamat. Ya, selamat, bukan utuh. Karena dia tidak yakin kalau dia bisa keluar dari arena dengan kondisi utuh. Bayangkan saja. Ada 47 peserta lain. Terdengar sangat mustahil untuk bisa keluar hidup-hidup dari sini, kan? Dia sih tidak muluk-muluk. Berhasil keluar dari bloodbath saja dia sudah bahagia kok. Sudah lebih dari puas dan senang. Setidaknya, dia tidak payah-payah amat. Semacam harga diri yang tidak ingin direndahkan begitu. Tidak ingin kalah dari kakaknya. Ingin membuktikan diri (entah pada siapa karena kakaknya tidak akan bisa melihat) bahwa dia mampu seperti kakaknya. Bahwa dia suka makan, tapi tidak lemah. Cie, Kyle. "Freida! Serang anak kecil ini nih! Biar dia kapok menyerangku!" Berseru pada gadis dari sepuluh yang tadi sempat diserangnya itu. Maaf ya, yang tadi itu tidak sengaja, serius deh. Dia tidak akan melakukannya lagi, kalau tidak terpaksa. Tehee. |
|
![]() |
|
|
| Ferina Secret | Saturday Jun 1 2013, 07:06 PM Post #109 | |
![]()
|
"....." Beruntung, eh, gadis sepuluh ini? Serangannya tidak ada yang terkena. Bahkan tikamannya ke bagian dada pun diselamatkan posisi gadis itu yang tersungkur, tidak mengenai ujung bilahnya. Hah, sialan. Kampret. Dilindungi apa, gadis sepuluh ini? Jimat? Mantra? Dewi Fortuna, hm? Satu yang ia tahu, satu yang gadis itu percayai, bahwa sesungguhnya tak pernah ada Tuhan di dunia ini. Tak pernah ada. Karena kalau ada, kenapa Dia yang begitu diagungkan tidak menyelamatkannya dari suatu hal yang hina, perampokan harkat dan martabat yang begitu tidak manusiawi oleh ayahnya sendiri? N'ah. Tak pernah ada kata Tuhan dalam setiap detik hidupnya. Tubuh gadis distrik itu dibantingnya ke tanah, kesal, tak peduli apa yang akan terjadi pada si korban. Kalaupun ternyata tulangnya ada yang berderak patah ke tanah pun ia tak perduli, justru malah bagus, bukan begitu? Biarkan saja, biarkan gadis itu tergeletak di tempat, mati—mpfft, tidak seru sekali kalau pada akhirnya gadis itu malah mati duluan di acara pembukaan, tapi lagi-lagi, semakin banyak yang mati berarti semakin dekat langkahnya ke rumah. There, there. Siapa bilang kalau Ferina adalah Ferina yang dulu, hm? Yang diejek sebagai dumb blonde, yang ditertawakan.... Tidak lagi. Bukan lagi gadis yang melambaikan tangan di chariot, bukan lagi gadis yang merasa seperti putri semalam. Bukan lagi gadis naif yang menitipkan salam kepada lelaki di distrik jikalau ia terpaksa tak akan pulang. Gadis sulung Secret bukan lagi gadis yang sama, camkan itu. Dan kalau kau berinteraksi dengannya sebelum arena ini dibuka, maka, well. Dan dia tak lupa dengan si lelaki distrik rendah yang tadi diserangnya, oh, jangan harap, sayangku. Belah belatinya masih mulus, tanpa darah—tajam dan meminta korban. Meminta noda darah, meminta suara teriak kesakitan. Diarahkannya bilah itu ke tubuh si anak lelaki, lebih tepatnya ke arah ulu hati, mengharapkan ada darah yang membanjir. Ini bloodbaths, what do you expect, darlings? |
|
![]() |
|
|
| Adina Erasto | Saturday Jun 1 2013, 07:06 PM Post #110 | |
![]()
|
DISTRIK 11 HP: 75 || POSISI: 4 TARGET: Flavea Vorfreude (DISTRIK 1)|| AP: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] || KS: [result]11&11,1d24,0,11&1d24[/result] 1 belati, 1 dendeng sapi, 1 lentera, dan 1 tempat minum kulit Bloodbaths Darah siapa yang akan disumbangkan untuk memandikan para ksatria? Adina berlari dengan sigap menyambar belati di sebelahnya, kemudian dendeng sapi yang tidak jauh berada di dekatnya dan kotak biskuit. Tak luput ia sempat menerjang wanita karier yang ada di dekatnya. Adina menubruk wanita karier itu agar jatuh ke tanah, tentu saja ia tidak bermaksud melukainya saat ini—diantara pertandingan perebutan barang-barang. Tidak seperti yang ia duga, ternyata wanita karier di depannya itu sulit untuk dijatuhkan—Ya tentu saja karena dia karier. Bodohnya dia! Kini dendeng sapi dan kotak biskuitnya malah yang jatuh ke tanah. Adina meregangkan jaraknya pada wanita karier di depannya, ia memutar tubuhnya sambil menunduk untuk menghindari serangan balasan. Ia kembali menyambar dendeng sapinya yang terjatuh, meninggalkan kotak biskuitnya yang terlalu jauh dari jangkauannya. Adina berlari memutar menjauh untuk mengamankan dirinya. Kini di wilayahnya, makin banyak distrik karier yang berlalu lalang, bahkan sesama distrik non karier pun kini sudah saling serang menghadirkan pemandangan yang jauh lebih mengerikan dari yang selama ini ia bayangkan. Entah sudah berapa lama ia sempat tertegun menyaksikan pemandangan di sekitarnya. Berdoa adalah pilihannya saat ini, saat dimana ia justru mulai tidak mempercayai adanya Tuhan ketika hidup yang ia harus jalani begitu sulit. Tidak terpikirkan apapun oleh Adina mengenai belatinya, ia malah mencari-cari barang yang bisa ia gunakan sebagai senjata. Tangan Adina menyambar lentera yang tergeletak tak jauh dari kaki kirinya. Ia menyambarnya dan mulai mengibaskannya kembali pada wanita karier di depannya. Sasarannya kini adalah wajah wanita itu. “Menjauhlah dariku karier, biarkan aku hidup!!” |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |

















9:33 PM Jul 11