|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,769 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Flavea Vorfreude | Saturday Jun 1 2013, 07:07 PM Post #111 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 95 || POSISI: 4 TARGET: Adina Erasto & Aidy Joselin || AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] || KS: [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result] & [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] 3 Lembar Plastik dan 1 Pasang Kaus Kaki Diserang: Adina Erasto Flavea Vorfreude bukanlah orang jahat. Setidaknya, ia meyakini dirinya bukanlah salah satu dari orang jahat. Ia mengayunkan ranselnya ke pundaknya setelah digunakannya ransel tersebut untuk mencoba menyerang beberapa tribute yang berada di sekitarnya. Entah mengapa rasanya pergerakannya seakan tak bisa dikontrol oleh dirinya sendiri, seakan ia dikontrol oleh pihak lain yang tak terlihat. Ia takut memang kenyataannya seperti itu, bahwa ia sudah kehilangan kontrol dirinya sendiri. Dan bahkan belum beberapa menit semenjak bloodbath dimulai, ia sudah merasa seperti ini. Bagaimana jika ia berhasil bertahan? (Kau pikir, sejak kapan kau tak memiliki kontrol, dear? Sejak lama, lama sekali.) “Ma—Maaf.” Ia akhirnya dapat berbicara lagi, meski hanya sepatah kata dan terbata. Beberapa menit dan ia sudah membenci keadaan di sini. Ketika ia menatap ke sisi lain pun penyerangan sudah dimulai, teriakan-teriakan kesakitan sudah mulai muncul dan yang ingin ia lakukan hanyalah menutup telinganya dan menganggap ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir. Namun sayangnya, memang ini adalah mimpi buruk, namun mimpi buruk yang tiada berakhir hingga satu orang berhasil tetap berdiri, tetap menghirup oksigen, tetap mengedipkan mata, tetap dapat mencari kebahagiaan mereka. Pernahkan ia merasa bahagia? Ia mengatakan bahwa ia selalu merasa bahagia. Kebahagiaan yang terasa semu. Ia tak memiliki senjata karena geraknya yang lamban. Kini ia hanya dapat menyerang menggunakan tubuhnya sendiri. Rasanya tak nyaman, melakukan hal tersebut. Ia bukanlah orang yang terlalu dapat menggunakan tubuhnya sendiri sebagai senjata. Namun ia mencoba, menggunakan kakinya untuk menendang perut gadis dari sebelas dan meninju wajah gadis dari lima. Ini pertama kalinya ia melakukan hal macam ini, rasanya penuh dengan rasa bersalah. Namun ia harus, kan? Lagipula, kata ‘karier’ sudah terasa menjadi beban di pundak, seakan ia harus benar-benar menghidupkan makna banyak dari kata tersebut. Ia tak harus…kan? Ia masih bisa melakukan apa yang dianggapnya perlu, apa yang dianggapnya tak akan membahayakan? Pikiran-pikiran yang berada di kepalanya rasanya beradu dengan satu sama lain, pikiran-pikiran yang kontradiktif. Seakan ia kini terbagi menjadi dua orang, orang yang jahat dan orang yang baik. |
|
![]() |
|
|
| Yasmine Silvertongue | Saturday Jun 1 2013, 07:08 PM Post #112 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 55 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 4 (CE;pistol)|| AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]18&18,1d24,0,18&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi Disini kau tidak bisa melihat dari ciri fisik atau betapa manisnya paras seorang peserta, atau betapa polos cara bicara dan cara berpikir mereka. Pun jika mereka kurus dan nyaris hanya tulang berbalut kulit, pun jika mereka berbadan besar atau bongsor, tidak… bagi Yasmine hal itu bukan jaminan utama mereka akan mati cepat atau mudah menang. Kecuali poin sesi pribadi kemarin. Tidakkah cukup jelas? Lihat label yang tertera di atas kepala masing-masing peserta secara tak kasatmata, seperti halo para malaikat, setiap distrik sudah memiliki ranking masing-masing dan terima saja fakta bahwa Sepuluh bukan termasuk ke dalam favorit meski pernah memiliki pemenang. Dengan demikian, Yasmine tidak akan menumbuhkan pesimis dan mengecamkan dalam benak bahwa ia sudah kalah hanya karena ia dihadapkan oleh… tujuh Karier? Yeah, ia takkan masalah. Mereka hanya melihat peserta lain bagai hama dan Yasmine juga melihat mereka tidak memiliki masa kecil bahagia. Kasihan. Ia bergerak cepat. Lambat laun ritme pertarungan ini mulai ia rasakan dan ia mulai beradaptasi dengan jalannya pertempuran ini. Ia dikepung, dan tentunya juga semua peserta lain. Well, ia akan hidup selamanya atau mati berjuang. Pilihan kedua tampak lebih sesuai. Siapa yang ingin hidup selamanya di bumi Panem ini? Lagi, ia memukul lawan tepat di bagian pelipis, dan tambahan, ia menggigitnya pula. |
|
![]() |
|
|
| Hada Atala | Saturday Jun 1 2013, 07:11 PM Post #113 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 73 || POSISI: 8 TARGET: FLOYD ORDYN (D12) (kapak) & CORALINE ESTELLE (D6) (KAPAK) || AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] || KS: [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result] & [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] 2 kapak, 1 korek api, 1 tempat minum air ukuran 2 liter Hada pusing, luka yang dikiranya nggak seberapa ternyata lumayanya juga ya nyerinya. Padahal cuma sekali doing kena kapak, tapi aduh, ya masa nggak sakit sih. Hada kan bukan Superman yang kebal serangan begitu. Apalagi barusan kena pukul si cewek Enam… “Sakit, oiiii!” Ya tapi, kalau dibandingin sama lawannya yang udah kena kapak berkali-kali, ini sih kayaknya sakitnya nggak seberapa parah. Ngelihat darah yang bercucuran dari luka mereka saja, Hada masih ngerasa horror. Masih merasa sedikit bersalah karena dia yang menyebabkan luka-luka itu, tapi ya mau gimanaaaaa. Mereka juga menyerang balik kan? Impas kan? Coba kalau mereka nggak ketemu dengan cara begini, pasti Hada bakal ajak mereka ke pantai, tangkepin ikan laut, bakar-bakar seafood terus makan sama-sama karena mereka seumuran—dan Hada suka berkawan kok orangnya. Sok akrab malah. Lihat saja, dia masih mengoceh kan dari tadi. Masih mengomentari betapa kompaknya cowok Dua Belas dan cewek Enam ini melawan dia. Yah, dibandingin Hada dan Colleen yang katanya sama-sama karier dan harus saling membantu, tapi Colleen entah kemana. Kecewa, deh, kecewa. Makanya dia nggak punya pilihan lain selain kembali mengangkat kedua kapaknya, menghantamkannya ke dua tubuh cowok dan cewek itu, lagi. Fokus, Hada, ayo cari Floryn sehabis ini |
|
![]() |
|
|
| Kanya Jett | Saturday Jun 1 2013, 07:12 PM Post #114 | |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 65 || POSISI: 9 TARGET: DISTRIK 12 (Abernathy) || AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]4&4,1d24,0,4&1d24[/result] (1 pisau, 1 set panahan, 1 pasang kaus kaki, 1 bungkus dendeng sapi) . And, here it comes. Sesaat pendengarannya terganggu, ada bunyi `nging` yang memekakkan telinga pasca suara ledakan—yang entah bagaimana, membuatnya berlari tanpa arah, ngasal—hingga ia berhasil mengambil satu buah ransel berukuran sedang. Tak masalah, sudah sampai sejauh ini pun, ia rasa merupakan sebuah keajaiban, atau ralat, memang kemampuannya bisa mencapai posisi ini tanpa halangan apapun. Berada di cornucopia, mengangguk, menyeloroh, menyahut, tapi matanya mencari. Dan khawatir. Dan ingin peduli. Prospek ini bahkan membuatnya lupa pada barang apa yang ingin ia ambil. Karier, mereka... satu tebasan saja sudah meluluhkan beberapa peserta dari distrik lain. Kanya Jett tidak akan takut pada kemampuan para karier yang seperti itu. Tubuh mereka besar, tinggi menjulang, namun insting mereka seperti hewan liar. Bagus, tapi sungguh, itu manusia atau robot, ha; sehingga mudah sekali mencelakai orang lain? Ekor matanya menelisik, menjumpai keberadaan barang-barang lain yang menyita perhatiannya. Secepat kilat, ia mengambil satu pisau, yang disampingnya ada satu set panahan. Dua senjata ini, lumayan. Satu jarak dekat, sementara yang satu jarak jauh. Tapi ia sangsi pada penggunaan panahan, mengingat jarang sekali memakai senjata tersebut—kecuali saat pelatihan ia pernah memegang anak panah. Lalu, sepasang kaus kaki disambarnya. Sayang sekali, waktu malam hari biasanya akan menjadi sangat dingin dan ia tak pernah tahan pada cuacanya. Dan yang terakhir, satu dendeng. Ia, manusia. Ia juga, bisa lapar. Dan tiba-tiba, di hadapannya, sepasang peserta dari distrik duabelas muncul. Satu lagi, err, peserta distrik delapan. Entahlah. Seringainya tertantang, sosok peserta yang mendapatkan nilai tinggi di sesi pribadi. Sedangkan ia, berapa? Ha. Abernathy, uh? Ia tak mungkin salah mengenali. "Hi, Twelve?" Kanya berkelit, membelakangi sosok pirang tersebut. Lalu, dengan sisi busur panahnya yang lumayan panjang, tanpa sengaja ia menyodok lengan kanan si pemuda. Ia ingin melarikan diri secepatnya, serius. |
|
![]() |
|
|
| Kyle Blackthorn | Saturday Jun 1 2013, 07:13 PM Post #115 | |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 17 || POSISI: 4 TARGET: Floryn Lee (D4) || AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]21&21,1d24,0,21&1d24[/result] 1 belati, 1 kotak biskuit, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit Kena, tapi sepertinya cuma serangan minor ya. Tidak apa-apa, yang penting kena. Tehee. Mudah puas bahkan untuk hal-hal sederhana seperti itu memang dia ini. Bagaimana ya, dia bukan orang yang ambisius. Keinginannya hingga sebelum namanya disebutkan dalam reaping hanyalah bisa makan enak setiap hari. Tidak usah makan enak juga tak apa-apa, yang penting dia bisa makan setiap hari, yang penting ada makanan yang masuk ke dalam perutnya setiap hari. Tidak muluk-muluk. Dia juga makan apa saja yang bisa dimakan, tidak pernah meminta yang aneh-aneh seperti steak atau buah-buahan mahal yang tidak tumbuh di distriknya. Tidak mungkin juga kalau tidak bisa didapatkan di distriknya, bagaimana cara dia makan juga. Mau cari di mana, kan? Tidak muluk-muluk. Cuma mau makan. Intinya itu saja. Jadi ya, ketika namanya disebutkan dalam reaping, dia hanya merasa senang karena bisa merasakan apa yang pernah dirasakan oleh kakaknya dulu. Debaran jantung yang tidak mau berhenti, tangan yang ingin terus bergerak untuk melukai lawan. Mungkin Kyle tidak akan bisa membunuh siapa-siapa di sini, tapi dia tidak peduli. Dia puas hanya dengan merasakan ini semua. Kakaknya, dia akan segera menyusul sang kakak, masa depan yang terasa menyenangkan, sangat menyenangkan. Mungkin dia juga tidak akan protes jika harus tewas di bloodbath. Untuk apa juga protes, kan? Memangnya dia bisa protes pada siapa? Saat dia telah tiada nanti, tubuhnya mati, tidak bisa bergerak, berbicara, apalagi makan. Jadi mau protes pada siapa? Tidak bisa protes. Makan saja mustahil ya. Wah, wah. "Apa sih, KECIL! Kamu kok senang sekali menyerangku. Serang yang lain sana! Nanti kutraktir kamu makan! Atau kuberi dendeng!" Eh! Kok diberi dendeng! Nanti dia makan apa! Halah, padahal sudah mau mati saja masih sempat memikirkan dendeng yang mungkin tidak akan pernah dimakannya. Konyol memang Kyle ini. Masih memikirkan dendeng walaupun tubuhnya sudah berdarah-darah, sudah luka-luka. Berdiri saja... masih sanggup kok, tenang saja. Dia masih menggenggam belatinya erat-erat, belum ingin tumbang sebelum menorehkan luka lebih banyak pada lawannya. Kalau dia tidak melukai lawannya dalam volume yang besar, dia bisa mati gentayangan, tahu. Gentayangan di arena. Nah lho, bagaimana coba caranya. Tidak tahu juga bagaimana caranya, yang pasti dia mau gentayangan kalau sampai mati di bloodbath. Jahat ya, padahal dia kan salah satu pejuang yang hebat. Malah dibunuh di awal-awal. Jahat anak kecil ini. Jahat. Malah merajuk. |
|
![]() |
|
|
| Madeleine Lethbridge | Saturday Jun 1 2013, 07:17 PM Post #116 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 95 – 6 (Patricia Brown) || POSISI: 5 TARGET: DISTRIK 3 (Patricia Brown) & DISTRIK 9 (Kevin Fremunzer) AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] || KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] & [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu Apa yang sekarang terjadi? Kemarin ia masih jadi gadis yang manis—jadi gadis yang bahkan tidak berani bertatap muka dengan orang asing. Tetapi sekarang. Lihat, apa yang kita temukan? Gadis clumsy itu sudah hilang, terkubur, terkikis bersama satuan waktu yang belum lama berlalu. Waktu sudah tak jelas kini menunjuk jam berapa, namun matahari masih menyengat dengan panas. Kapan ini berakhir? Kapan semua ini ia lalui? Kapan ia bisa kembali pulang? Kapan, kapan, kapan—dan tidak ada jawaban. Dan tidak ada yang tahu. Karena mereka semua di sini sama. Cuma pion; hanya bidak-bidak siap dikorbankan untuk kepuasan pribadi—yang mana kapan mereka bermain pun tak bisa ditentukan sendiri. Tapi harus menunggu, menanti si bos besar di balik layar menghentikan permainan. Atau.. mati saja. Melepaskan diri secara sukarela. “Ugh.” Mendengus kesal. Serangannya gagal. Kedua-duanya. Madeleine ingin merutuk banyak. Tapi ditahan. Patricia mujur benar bisa lusut dari pistol yang ia lempar. Masih dengan kejengkelan yang sama, ia lalu menatap Kevin Fremuzar dengan bibir yang mengerucut. Secara keseluruhan, memang ia yang harusnya kalah dalam pertandingan ini. Lawannya ini kekar, bertubuh bagus pun. Yang walau minus poin-poin penting bocoran langsung dari beberapa orang. Kau tahu, kan, distrik dua ialah distrik kesayangan. Lebih-lebih, mereka sudah jauh lebih dulu dipersiapkan untuk menghadapi ini. Jadi, well—Kevin itu kalah strategi. Atau, salah mendapat musuh. Pisau yang tadi luput menyerang itu tetap dipegang kuat. “Jangan bergerak, biarkan aku menyelesaikan ini dengan cepat—biarkan aku membantumu mengakhiri ini semua.” Tuturnya dengan senyum samar dan sedikit menyugesti. Kalau dituruti, adalah bodoh benar pemuda itu; tapi pun bila tidak dituruti, Madeleine sudah terlebih dulu menubruk tubuh pemuda itu, berusaha mengunci pergerakannya dengan mencoba menahan tangan Kevin Fremunzer supaya tidak menyerang balik. Sementara pisaunya, dari belakang ia arahkan untuk menusuk punggung. “Don’t move,” masih tersenyum, ia mengujar. Tapi tanpa di duga, ia lalu dijambak. Oh, la la. Patricia Brown melawan. “Argh!” Meringis. Ia tanpa pikir panjang ganti mengarahkan pisau miliknya ke dada si Brown kurang ajar. |
|
![]() |
|
|
| Flavea Vorfreude | Saturday Jun 1 2013, 07:18 PM Post #117 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 95 || POSISI: 4 TARGET: Adina Erasto & Aidy Joselyn || AP: [result]11&9,1d10,2,11&1d10+2[/result] || KS: [result]14&14,1d24,0,14&1d24[/result] & [result]9&9,1d24,0,9&1d24[/result] 3 Lembar Plastik dan 1 Pasang Kaus Kaki Diserang: Adina Erasto Sang sisi gelap terus menerus mengatakan bahwa ia perlu membunuh, terus menerus mengejeknya bahwa ia tak memiliki niat yang kukuh untuk mencapai mimpinya. Dara Vorfreude tersebut hanya dapat berteriak dalam hati membatah perkataan tersebut, namun suara tersebut tak mau berhenti, terus menerus muncul. Sang sisi putih mengatakan bahwa ia tak harus membunuh. Mengatakan bahwa ia masih dapat melakukan hal yang benar. Terkadang, perkataan ini tak sekeras perkataan sang sisi gelap. Dan ia takut suara tersebut akan menghilang, tak lagi muncul. Ia ingin suara tersebut tetap ada, karena ia takut, benar-benar takut. Ada dua suara yang saling menyahut di kepala dan ia merasa seperti orang yang sudah kehilangan akal sehat. Ataukah ia memang tak pernah memiliki akal sehat? “Diam, diam, diam,” ia bergumam pada dirinya sendiri. Bukan, bukan pada dirinya, melainkan pada suara-suara tersebut. Ia tak dapat fokus pada apa yang seharusnya dilakukannya ketika ia sendiri tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia ingin menangis, menangis karena kebingungan. Namun ia menatap Floryn yang terlihat kuat dan ia menahan dirinya sendiri untuk tak jatuh dalam lubang kebingungan, lubang yang tiada akhir. She braces herself for the worst. Ia menatap 3 lembar plastik yang ada di tangannya. Ia hanya sempat mengambil barang tersebut, seluruh barang lain telah diambil oleh orang lain. Sejenak ia mendapatkan ide untuk membuat plastik tersebut berguna. Ia memasukan dua lembar plastik yang lain ke dalam tasnya dan membuka satu lembar yang tak ia masukan. Ia menyerang gadis lima dengan gerakan tendangan yang mengayun sambil memperlebar plastik tersebut, setelah berhasil memperlebar bergerak ke belakang gadis sebelas dan membekap wajah gadis itu dengan erat menggunakan si plastik. Tidak ada darah yang terlibat. |
|
![]() |
|
|
| Ferina Secret | Saturday Jun 1 2013, 07:19 PM Post #118 | |
![]()
|
"Don't you fret, darlings. It'll be over soon." Kata siapa? Pada akhirnya, semua itu hanyalah kata-kata penghibur kosong tanpa makna. Lihat saja dari pengucapan Ferina yang penuh ejek, tanpa penghiburan, walaupun kata-kata itu benar adanya. Jangan menolak. Jangan menolak kematianmu, karena semua itu hanya membuat semuanya menjadi menyakitkan juga berlangsung lebih lama. Jangan membantah, turuti saja, niscaya akhir yang bebas rasa sakit akan datang dan pengorbanan ini, dunia ini, akan berakhir atasmu. Juga membuat hidup gadis Secret ini menjadi lebih menarik selama berada di Capitol, bukan begitu? Bukankah semua ini hanyalah permainan semata, hm? Yap, permainan tag seperti yang dilakukannya sewaktu kecil dulu. Bermain pedang-pedangan dari kayu seperti yang dilakukan di saat pelatihan dulu, di distrik. Semua itu bukan masalah. Semua itu bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan Hunger Games. Di tempat ini, mereka mengorbankan nyawa mereka—bukan dollar, bukan barang kesayangan, bukan lagi harga diri dan rasa malu. Nyawa—dan kalaupun kau berdalih bahwa kau mempunyai 7 nyawa sekalipun seperti kucing, maka kaupun akan mati juga. Ya, kan? Gadis Secret ini menendang kemaluan si anak lelaki—apa? Kau ingin berkata kalau perbuatan gadis ini terlalu barbar, hm? Apa ia akan menghentikan perbuatannya dan berkata, 'Ups, maaf sekali,' dan bertingkah seperti anak gadis yang manis, seperti anak-anak lain? Tsche. Dalam mimpimu. Di arena ini, kebarbaran adalah hal biasa, toh arena ini sesungguhnya hanya panggung sandiwara semata—ya kan? Tak ada gunanya sikap, tak ada gunanya perilaku yang mulia kalau pada akhirnya—kau pun dibunuh juga. Cih. Sementara memandangi gadis sepuluh dengan sorot mata penuh kekesalan, hell, kenapa tak mati juga? "Well well well, harus kuapakan, kau, Sepuluh?" Ferina Dorian benci sekali dia harus terperangkap dengan para cecurut menyedihkan ini, sungguh. "Diam, bodoh." Gadis itu kemudian melemparkan belatinya. edit HP Edited by Jonathan Duprau, Saturday Jun 1 2013, 07:35 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Pinoy Annelli | Saturday Jun 1 2013, 07:19 PM Post #119 | |
![]()
|
DISTRIK 5 || HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 8 (Shinzo Kawabata) || AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result]|| KS: [result]15&15,1d24,0,15&1d24[/result] satu kotak biskuit, satu tempat minum kulit, satu belati, satu bungkus dendeng Berkatilah dia. Berkatilah dia. Berkatilah dia. Pinoy mendadak merasa temat ini begitu menyeramkan. Seumur hidupnya dia tidak pernah berada di tempat ini. Dia juga tidak menyangka bisa meyerang peserta dari distrik delapan yang notabenenya bukan orang yang pernah membuat dia merasa ingin menaruh dendam. Juga anak kecil di sana—Tume Tinkham—bukan sosok yang menurutnya perlu dibantai. Tapi, dia ingin hidup. Pinoy Annelli masih ingin hidup. Teriakan demi teriakan bergema di sekitarnya. Langit masih tetap biru dan awan berarak dengan sempurna. Padang rumput akan memakan korban sebentar lagi, pikirnya. Serangannya ke arah Tume meleset. Pinoy begitu nelangsa mengetahui fakta yang satu ini. Baginya hidup di sini makin berat seiring dengan berjalannya waktu dan dia akan mempertahankan dirinya ke titik paling rendah sekalipun. Dia tidak akan menyerah. Orang-orang dari distriknya bukan tipikal yang mudah menyerah. Seingatnya Pinoy tidak pernah begitu ingin hidup seperti yang sekarag ini dia rasakan. Distrik lima terasa begitu jauh di matanya. Dia begitu ingin pulang dan saking inginnya dia pulang, dia rela melakukan apa pun. Perbuatan semenjijikkan apa pun akan dia lakukan. Ketika Shinzo tampak bergerak mendekati Gavyn dan berusaha menusuknya dengan belati, Pinoy berderap di belakang pemuda itu dan berusaha menghunuskan belatinya sekali lagi ke pemuda dari distrik delapan itu. Entah mengapa menurutnya akan jauh lebih berharga bila dirinya mendukung Gavyn—yang badannya kekar—daripada mendukung Shinzo maupun Tume. |
|
![]() |
|
|
| Yasmine Silvertongue | Saturday Jun 1 2013, 07:21 PM Post #120 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 55 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 4 (CO;pistol)|| AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi Ini barbar. Dan sangat amat menyedihkan. Tetapi berlari kabur lebih tidak masuk akal lagi, kecuali kau benar-benar ingin mati cepat. Cornucopia begitu semarak. Denting pedang yang beradu dan baku hantam terdengar dimana-mana. Ini, ini adalah lagu favorit Capitol. Darah, darah adalah warna pujaan orang-orang sinting yang menjebloskan mereka semua disini. Erangan dan umpatan, kata makian dan pinta pun mewarnai Arena. Namun Yasmine sendiri begitu fokus dengan lawan-lawan yang berpotensi menyerangnya, ia tidak lagi memikirkan orang lain yang jauh, ia tidak lagi memikirkan bagaimana cara mengobati luka. Ia… ia hanya ingin berjuang. Berjuang dan pergi dengan bebas dan lancar. Tetapi tidak memungkinkan dengan melayangnya sebuah belati anak panah yang salah arah karena angin, atau tombak yang salah sasaran. Ia bisa menjadi korban siapa saja sekarang, dengan begitu sesaknya Cornucopia. Sementara di puncak sana, satu gadis kecil dari Distrik Empat bertengger manis layaknya setan berwajah jelita nan polos menunggu pertarungan ini selesai. Well, anak kecil. Kalau ia dihadapkan pada Tume dan gadis kecil itu pun ia mungkin akan berpikir dua kali untuk menyerang terlebih dahulu. Lagi-lagi pistolnya yang masih dalam keadaan prima ia arahkan ke bagian wajah. Memang target paling mudah dan memiliki peluang melumpuhkan terbesar itu ya di wajah. Ada mata, ada tulang hidung, ada pelipis, ada geligi. Ah, kini Yasmine menghantam targetnya tepat di hidung. |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |
















9:33 PM Jul 11