Welcome Guest [Log In] [Register]

MAY THE ODDS BE EVER IN YOUR FAVOR



[ INACTIVE ]
TERM 9: 2193 - 2194




[+] Topik AU: 4/5
[+] Visualisasi Asia: 3/3
[+] Capitol: 5/5
[+] Distrik Satu: 4/5
[+] Distrik Dua: 4/5
[+] Distrik Empat: 5/5
[+] Distrik Tiga Belas: 2/5
[+] Balita/Dewasa: 5/5



IndoCapitol


TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL
PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH
PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI
TRAINING CENTER || ARENA




Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain.

PEMENANG
HUNGER GAMES 54



{DISTRIK 1}



KREIOS EPHRAIM


MUSIM PANAS



21,3° - 23,6° C
21 Juni - 20 September
Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan.



WAKTU INDONESIA BAGIAN BARAT (JAKARTA)




Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

TWITTER & CHATBOX


Twitter
Chatbox



FORUM LOG
Waktu Update
Sabtu, 11 April 2015 Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out!

PEMBERITAHUAN
Kepada Informasi
Semua Member Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum
Semua Member Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2)
Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda.

Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru.

Bergabunglah bersama kami!

Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum:


Username:   Password:
Locked Topic
Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA
Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,767 Views)
Redemptus Maleveich
Member Avatar

Posted Image

Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala.

Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan.

Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena.

Empat puluh lima detik.

Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus.

Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi.

Tiga puluh detik.

Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa.

Lima belas detik.

Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian?

Terlambat.

KABOOM!

Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian.


Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol.
Offline Profile Goto Top
 
Replies:
Patricia Bronwyn
Member Avatar

DISTRIK 3 || HP: 46 – 12 (Madeleine) = 34 (whud…) || POSISI: 6
Target: Madeleine (D2) || AP: [result]8&8,1d9,0,8&1d9[/result] || KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result]
(1 tempat minum kulit, 1 kotak biskuit)

Jambakannya sukses.

Tapi waktu masih berjalan dan segalanya harus diselesaikan—walaupun nampaknya yang akan diselesaikan itu Patricia. Kau tentu mengerti maksudnya, ‘kan? Ia akan dihabisi sampai mampus dan nyawanya siap melayang dalam hitungan detik, kapan pun. Arena benar-benar jauh dari rumah. Maksudnya—siapa yang menyebut Arena sebagai rumah? Kecuali seandainya kau ditanyai alamat rumah sementara kau sedang berada di sini mungkin kau terpaksa memberi alamat Arena—yang bahkan entah di mana letak sebetulnya.

Baik, kembali pada daratan, di mana jemarinya baru saja terlepas dari momen menyangkut di antara helaian surai legam milik Lethbridge yang rasanya ingin sekali ia coba jambak lagi sampai semuanya rontok dan gadis itu benar-benar kapok. Asal kau tahu, ia pernah punya pengalaman menjambak rambut orang sebelumnya, dan pada pengalaman itu sebuah jambakan keras ia tunjukan pada Phoebe—jangan tanya mengapa. Tapi dulu memang ia agak kasar terhadap adiknya kalau bertindak nakal. Bedanya, ia tak akan berharap rambut adiknya rontok, tentu saja, karena masih ada rasa kasih sayang (sekaligus karena ia lumayan mengagumi rambut pirang) dan tujuannya melakukan itu supaya adiknya kapok dan tidak mengulangi perbuatan salah lagi. Patricia sebetulnya tipikal kakak yang tidak terlalu sering bercanda, ia terlampau serius. Ia sering mengoceh, tapi hampir isi semua ocehannya adalah nasihat.

Sayangnya, di Arena ini tidak ada yang bisa dinasihati, maupun diberi pelajaran supaya jadi anak yang lebih baik, termasuk gadis dari Dua itu. Keduanya, yang berambut hitam maupun pirang. Mereka semua berdosa—bahkan sebetulnya Patricia juga berdosa. Menyiksa orang akan memberi cap perilaku buruk pada seseorang dan itu tidak akan pernah terlepas sekalipun ditebus sesuatu. Karena suatu tebusan tidak pernah ada satuan pastinya, yang berarti tidak ada di dunia ini tebusan yang setimpal. Mungkin ini hasilnya, orang jadi tak kunjung puas dan yang mereka lakukan malah saling membunuh satu sama lain. Mengenaskan sebetulnya.

“Argh!” Tiba-tiba saja gadis dari Dua itu membalasnya dengan—sebuah tusukan lagi. Tapi kali ini lebih fatal, di bagian dadanya. Secara otomatis Patricia kembali berhenti bergerak dan tingkat kewaspadaannya menurutn lagi. Sebelah tangannya menyentuh bagian dadanya yang baru saja kena tikam balas dendam. Rupanya memang begitu mekanisme permainan ini, balas dendam. Kau tidak boleh kalah dengan lawanmu—itu tentu. Dan kalau lawanmu memang brengsk kau juga harus membalasnya dengan sama parah. Apa? Kalimatnya jadi kasar? Itu baru di dalam hatinya.

Ia belum mengutarakan kalimat kotor secara lisan di sini, bukan? Kalau begitu tunggu saja nanti—seandainya ia masih punya kesempatan untuk balas dendam terhadap gadis dari distrik yang menjadi tempat asal pembunuh adiknya. Ya, asal kau tahu, Patricia masih ingat jelas bagaimana iblis dari Dua menyiksa adiknya tanpa rasa manusiawi hingga tewas di mandi darah dengan begitu cepatnya. Ia tak mau hal itu terjadi padanya—karena ia yakin, Phoebe sendiri yang mungkin sedang mengamatinya di ‘sana’ juga tidak ingin kakaknya bernasib sama.

Darah mulai keluar dari luka yang digores pisau milik dara Lethbridge itu. Patricia berusaha tidak mengerang lagi, karena itu kesannya payah dan—oh, bahkan bukan kesan lagi, tapi memang benar payah. Dan karena ia juga masih ingin hidup (sekalipun Arena memang padang rumput penuh keputus asaan) ia kembali tegak dan berpikir cepat cara apa yang akan ia lakukan selanjutnya untuk membabat habis gadis itu. Dan yang terpikirkan olehnya saat itu cuma satu.

Mencakar wajah gadis itu sekasar yang ia bisa. Sampai ada darah yang mengalir, bukan hanya rasa sakit yang tak akan membunuh.
Offline Profile Goto Top
 
Coraline Estelle
Member Avatar

Distrik #6 || HP: 26 || Posisi: 2
Target: Hada Atala (D4-M) || AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result] ||
(Satu tempat air minum ukuran dua liter, satu botol madu, satu kompas, satu kotak biskuit)


Bogemannya keren ya.

Bahkan Cora sendiri enggak tahu kalau dia punya tenaga se-baja itu, tapi tangannya juga sakit sih. Makanya untuk beberapa detik setelah melayangkan bogem mentah ke wajah bagian kiri si pemuda Empat itu Cora sempat meringis kesakitan, bisa-bisa yang ada tangan Cora juga terluka. Kan tidak seru masa senjata makan tuan sih. Sayangnya Cora lupa untuk mundur dan mengambil jarak. Duh Cora kamu kok bodoh sih ya, enggak belajar dari pengalaman gitu. Satu sabetan kapak kembali mendarat di tubuh dara Estelle itu. Sepertinya bogem dari Cora tidak terlalu mempan, tapi setidaknya pemuda dari Empat itu tidak mengoceh lagi seperti sebelumnya. Mencari-cari Floryn, mungkin juga kehilangan kata-kata karena kalimat yang baru saja diucapkan oleh si pemuda Dua Belas, perihal Floryn yang udah on the way ke neraka.

Floryn itu siapa sih? Bocah dari Empat yang mungil itu, ha? Yang kayak Remy juga? Terus ya dia juga inget Remy. Lagi. Lagi. Lagi. Remy sekarang dimana sih? Kok enggak muncul-muncul? Apa Remy benar-benar udah pergi ke sana? Ke sebuah tempat dimana semua orang tidak lagi harus saling membunuh satu sama lain—bukan karena keadilan dijunjung tinggi melainkan karena.. sudah mati. Halah. Kok jadi sentimentil lagi ya?

Dikilitik? Hah? Apaah? Kilikitik? Oke.

Satu cengiran, sambil menahan sakit karena darah yang keluar makin banyak. Sakit bangeeeet. Sebuah seringai payah muncul di wajah dara Estelle itu, Cora jelas lebih senang kalau menadapatkan tugas mengecohkan perhatian lawan. “Kita kompak, jelas dong ya.” Menjawab pertanyaan si pemuda Empat yang tadi. Soalnya Cora dan si pemuda Dua Belas jelas enggak mau mati di tangan si pemuda Empat sekarang. Ya kali mati di bloodbaths, cita-cita Cora tadi kan mati kalau sudah masuk dua puluh empat besar. Sekarang masih empat puluh delapan besar, masih ada setengah peserta yang harus mati baru Cora boleh mati. Ambil kesimpulan seenaknya sendiri.

Oke, jadi hentikan meracaunya dan kembali fokus pada si pemuda Empat yang ada di hadapannya sekarang. Cora bersiap-siap, mencoba membenarkan kuda-kudanya. Satu tendangan ke perut si pemuda Empat[/i] ia layangkan. Jelas ia tumpukan kemarahan pada tendangannya itu, jadi jangan tanya kalau tendangan ini bakalan sakit banget atau gimana. “Yep, dua roang lebih baik jelas.” Menggumam, mengomentari ucapan si pemuda Dua Belas. Walau hanya mengulangi perkataan pemuda itu saja. Coraline Estelle memang sejak dulu selalu setuju dengan prinsip ‘dua lebih baik dari pada satu’, makanya mereka dua orang melawan satu orang. Non karier melawan seorang karier, seharusnya mereka bisa melawan, ehm, menghabisi si pemuda Empat. Si pemuda dari Distrik Ikan. Aha. Ssemoga saja tidak ada yang menghantui Cora setelah ini karena telah menyebut Distrik Empat sebagai Distrik Ikan, hah. Padahal Cora juga sering menyebut distriknya sendiri dengan Distrik Kendaraan, sebagai sebuah inovasi saja supaya tidak terlalu membosankan dengan angka-angka.

Berbicara soal angka, berapa prosentase Cora dapat menghabisi pemuda itu dalam beberapa tendangan selanjutnya? Sebelum akhirnya dia mati. Duh enggak keren ya mati di tangan karier di bloodbaths. “Ada rencana bagus gak?” Tanya Cora kepada si pemuda Dua Belas, siapa tahu dia punya rencana yang lebih bagus. Strategi gitu, biar mereka enggak menghabis-habisin waktu dan tenaga gitu. Karena lama-lama capek juga. Satu sabetan melayang lagi.

“HEH. GANTIAN KEK.” Kepslok, iya saking marahnya. Gantian gitu nyerangnya jangan dobel-dobel. Sialan lah. Satu luka di tubuh Cora. Ha.
Offline Profile Goto Top
 
Adina Erasto
Member Avatar

DISTRIK 11

HP: 55 || POSISI: 4
TARGET: Flavea Vorfreude (DISTRIK 1)|| AP: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] || KS: [result]11&11,1d24,0,11&1d24[/result]
1 belati, 1 dendeng sapi, 1 lentera, dan 1 tempat minum kulit




Bloodbaths
Darah siapa yang akan disumbangkan untuk memandikan para ksatria?


“Menjauhlah dariku karier, biarkan aku hidup!!”

Tangan Adina menyambar lentera yang tergeletak tak jauh dari kaki kirinya. Ia mengayunkan lenteranya mengarah ke wajah wanita karier di depannya. Jika ini meleset maka habislah ia, akan terjebak di dalam bloodbaths menghabiskan sisa hidupnya untuk berjuang agar malaikat maut tidak mengambilnya lewat tangan-tangan bocah yang kini sedang kesetanan di dalam arena.
Sekali lagi, wanita karier itu berhasil menghindar darinya.

Memang tidak ada dicatatan manapun bahwa karier itu distrik lemah, mereka telah mendapatkan pelatihan untuk menyambut hari ini sedari mereka mulai belajar berbicara—mungkin. Adina kembali menyiapkan diri untuk kembali menyerang wanita di depannya, serangan berturut-turut merupakan cara yang ampuh untuk menyerang distrik karier, tapi terlambat wanita itu telah lebih dulu menyerangnya. Tendanga wanita karier yang entah siapa namanya itu mengarah ke perut Adina mengenai tangannya yang baru saja akan mengayunkan lenteranya. Adina terpukul mundur beberapa langkah, lenteranya kembali jatuh.

Kini nafas Adina memburu, ia tidak bisa mendengar suara-suara di sekitarnya, membuat keadaan hening di tengah kekacauan yang ia lihat. Adina sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia menyadari bahwa posisinya bukanlah untuk lama-lama berpikir. Adina mengambil lenteranya yang jatuh dan melemparkannya ke arah kepala wanita karier yang tadi menendangnya.
Offline Profile Goto Top
 
Flavea Vorfreude
Member Avatar

DISTRIK 1 || HP: 95 || POSISI: 4
TARGET: Adina Erasto & Aidy Joselyn || AP: [result]10&8,1d10,2,10&1d10+2[/result] || KS: [result]21&21,1d24,0,21&1d24[/result] & [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result]
3 Lembar Plastik dan 1 Pasang Kaus Kaki
Diserang: Adina Erasto


“Kalau kamu nggak mau diserang, kenapa kamu nyerang aku!”

Ia sudah bukan orang baik lagi. Ia sudah berubah menjadi orang yang jahat. Sesuatu yang tak ia inginkan. Kepalanya terasa pening sekarang, tak dapat berkonsentrasi secara penuh. Tak dapat fokus terhadap satu hal saja, semuanya seakan berubah menjadi satu gambaran kabur yang tak dapat diartikan. Tubuhnya seakan bukan tubuhnya, seakan ia adalah sebuah boneka yang dimainkan oleh seorang Puppet Master. Pernah merasakan bagaimana banyak keinginanmu berlawanan dengan satu sama lain? Bertarung dengan satu sama lain untuk didahulukan?

Itu adalah salah satu hal yang sedang terjadi padanya. Ia tak tahu apa yang harus dipenuhinya, keinginan untuk mempertahanakan diri dan menjadi seorang survivor atau keinginan untuk mengikuti moralnya. Keduanya ingin dipenuhi namun sang pemilik keinginan dalam keadaan bimbang. Maka ia membiarkan tubuhnya sendiri bergerak. Namun masih ia tak dapat membiarkan sisinya yang tak disukainya menguasai.

Ia bertarung untuk tak membiarkannya sepenuhnya mengambil alih, mengapa ia harus menyerah sekarang? Pertarungannya jadi terasa percuma jika ia menyerah sekarang. Ia masih sanggup untuk tak menyerah, maka ia tak akan melakukan hal tersebut.

“Flo, Flo, kamu nggak kenapa-napa, kan?”

Memastikan. Baginya karier adalah keluarganya, mereka akan melindungi satu sama lain meski hanya sementara. Maka dari itu sekarang ia menganggap Floryn sebagai adiknya. Namun ia menyesal karena tak bisa melindunginya, justru yang terjadi sebaliknya. Seharusnya ia yang melindungi, bukan ia yang dilindungi. Seharusnya Floryn yang dilindungi, bukan ia yang melindungi.

Ia merasa seperti seorang manusia gagal, sekarang.

Ia mengambil tangan salah satu gadis yang menjadi sasarannya untuk membanting gadis tersebut dan kemudian melakukan hal yang sama terhadap gadis yang lain. Ia ingat bahwa ini pernah diajarkan dalam pelatihan. Pelatihan gulat, kan? Ia ragu mempelajari itu, namun anehnya justru yang ia ragu pelajari justru yang menjadi berguna baginya.
Offline Profile Goto Top
 
Zephaniah Lore
Member Avatar

DISTRIK 1 || HP: 90 || POSISI: 6
Target: Antonio Shadowsong - D9 (KS: [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result] ) dan Kristeen Franscois - D8 (KS: [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result] )
AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result]
Membawa: ransel besar, 1 kapak, 1 belati, 2 pistol udara




Hehehe.

Semakin menyenangkan. Adrenalin terpompa semakin banyak di tubuh kurus pemuda Lore itu. Tak ada yang akan menyangka seorang Zephaniah yang penyakitan dan jarang bicara itu ternyata menyukai apa yang tengah dilakukannya saat ini. Ia kini paham mengapa Zinnia begitu menyukai darah seperti orang gila. Nampaknya kesukaan itu menurun kepadanya. Ia juga menyukai warna yang merembes dari luka orang-orang, menodai pakaian mereka, menetes dan menggenang di daratan. Bau amisnya yang pekat bahkan membuatnya semakin awas.

Uhuk... Uhuk...

Semuanya akan sempurna kalau saja paru-parunya bisa melupakan rasa sakitnya sejenak. Cih.

Zinnia, Zinnia, ia semakin mirip dengan Zinnia. Hanya saja ia takkan jatuh seperti Zinnia karena cinta. Zephaniah tidak jatuh cinta pada siapa-siapa, dan tidak berencana untuk itu. Tak satu orang pun akan ia beri belas kasihan. Setidaknya tidak sekarang. Dia ingin bisa menguasai permainan ini. Darah, sayatan, bahkan mungkin tebasan itu akan menjadi adiksinya. Jauh lebih baik begitu dibandingkan harus lemah karena satu individu.

Kapak itu berat. Tapi ia kembali mengangkatnya, mengayunkannya pada gadis distrik 8 itu lagi. Ia tersenyum miring, berharap paling tidak ayunan kapaknya bisa memutuskan sebelah kaki gadis itu. Lalu sekali lagi kapak itu terayun untuk pemuda dari distrik 9 yang begitu berharap untuk mati. Pada lengannya lagi.

Uhuk... Uhuk...

Offline Profile Goto Top
 
Madeleine Lethbridge
Member Avatar

DISTRIK 2
HP: 95 – 6 (Patricia Brown) - 3 (Kevin Fremunzar) -2 (Patricia Brown) || POSISI: 5
TARGET: DISTRIK 3 (Patricia Brown) & DISTRIK 9 (Kevin Fremunzer)
AP: [result]8&6,1d10,2,8&1d10+2[/result] || KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result] & [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result]
2 pistol udara dan 2 botol madu


Mother pernah bilang kalau seorang perempuan harusnya tenang dan berkelakuan terpelajar. Terlahir di Distrik Dua tidak membawa banyak arti bagi Madeleine Lethbridge—kecuali, ya, sedari kecil ia sudah dibiasakan dengan senjata-senjata maut dan latihan-latihan keras guna memenangkan the annual hunger games yang entah mengapa amat berarti. Dari layar televise, ia sudah menyaksikan ini berkali-kali seumur hidup. Membunuh, dikejar, dibunuh.. semuanya. Dulu, ia pikir ia akan tahu trick-trick yang bisa digunakan untuk bertahan hidup karena mengamati lekat-lekat di tiap hunger games yang berlangsung sebelum ini. Tetapi, well—tidak semudah itu rupanya. Tidak sesederhana itu.

Serangan yang ia lakukan ke Kevin gagal. Lagi—dan ini membuat geram setengah mati. Tidak, tidak, tidak—semua ini keliru, dan ia tidak bisa terus begini.

Tusuk, tusuk, tusuk—pisau itu diputar tepat di dada Patricia Brown dengan keji; pelampiasan dari Kevin Fremunzer yang gagal ia serang. Mungkin Patricia Brown itu membawa sial, dan kedatangan gadis itu segera meluruhkan semua keberuntungan yang tadi membanjir di tubuh Madeleine. “Gadis nakal harus dihukum,” ujarnya, masih bersematkan senyum lebar.

Membalas perlakuan dari Patricia Brown yang tadi—yang pun ditambah dengan satu cakaran kurang ajar, Madeleine balas menjambak surai pirang kotor itu dengan keras dan tanpa ampun, sementara tangannya yang satu lagi, well—mencabut pisau dari dada gadis Brown itu dan, “Tidak melupakan aku, kan, Tujuh?” kini si pisau ganti diarahkan di paha si pemuda Tujuh yang tengah mencekiknya, berniat merobek kaki itu. Satu cekikan, dibalas dengan satu tusukan. Harusnya ini adil.



Offline Profile Goto Top
 
Yasmine Silvertongue
Member Avatar

DISTRIK 10 || HP: 55 || POSISI: 6
TARGET: DISTRIK 4 (CE;pistol)|| AP: [result]2&2,1d9,0,2&1d9[/result] || KS: [result]14&14,1d24,0,14&1d24[/result]
empat bungkus dendeng sapi


Well, sakit. Tentu saja sakit, bodoh. Yasmine mungkin takkan bisa selamat sampai nanti ketika jumlah peserta sudah tidak sebanyak ini. Heck, sesungguhnya ia hanya ingin keluar dari Bloodbath. Perkara akankah ia selamat sampai tahap berapa hampir tidak ia pedulikan lagi. Sebut saja gadis ini takut berharap banyak, mengetahui dirinya memiliki terlalu banyak minus poin. Ibunya selalu mengajarkan Yasmine untuk menapaki tanah—stay grounded—atau dengan kata lain legowo. Ia menjunjung tinggi nilai itu, terlebih karena sekarang ia hampir tidak memiliki apapun untuk mempertahankan diri.

Kini dengan begitu banyak lawan yang mengepung area tempat ia berada, dengan dua peranakan dari distrik Empat yang sangat berkecukupan…. Mpft, ia tidak akan mengatakannya, ia belum mau menyerah. Jadi mereka hanya berani menyerang yang lemah? Persis sesuai dugaan. Jadi di mata mereka, Yasmine ini tergolong yang lemah? Well, para Karier dan otak udang mereka, Yasmine tidak akan pernah bisa berpikir sesuai dengan jalan pikir mereka berduabelas.

Lagi. Yasmine terus berusaha untuk membuat mereka mundur, mereka yang menghalangi Yasmine. Jangan bermain-main. Dipikirnya lucu ya menjadikan manusia lain sebagai boneka? Yasmine menyentakkan diri, berusaha mengelak apapun hasilnya, seberapa parah luka yang tertoreh pada kulit akan ia tahan sesaat, selama ia bisa. Yasmine memukul kepala targetnya.
Offline Profile Goto Top
 
Kyle Blackthorn
Member Avatar

DISTRIK 8 || HP: 17 || POSISI: 4
TARGET: Floryn Lee (D4) || AP: [result]2&2,1d9,0,2&1d9[/result] || KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result]
1 belati, 1 kotak biskuit, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit


Ada apa sih ini, kok dia gagal lagi? Masa meleset lagi. Apa-apaan.

Kalau begini ceritanya, lebih baik dia tiduran saja di atas rerumputan, kabur dari yang lain, meninggalkan tempat ini dalam damai. Daripada begini, kan? Diberi harapan kosong bahwa dia bisa mendaratkan serangan pada lawannya, bahwa dia bisa melakukan sesuatu untuk mengurangi laju gerakan lawannya. Ini masih tahap awal dan dia tahu bahwa dia tidak akan lolos dari babak ini. Babak kolam darah karena dia sudah berdarah-darah seperti ini, bagaimana mau lanjut? Sudah susah sepertinya. Padahal masih ada banyak peserta lain, mengapa bukan mereka saja yang dihabisi oleh anak kecil ini? Padahal dia kan bukan anak nakal ya, cuma anak polos yang herannya malah didekati oleh anak kecil mesin pembunuh ini. Heran, heran sekali. Sangat heran. Apa sih maunya?

Kalau tahu begini ceritanya, lebih baik dari awal dia kabur saja dari kolam darah. Tidak perlu sok-sok jagoan dengan bertarung di sini. Kalau kabur, dia masih hidup sampai sekarang, kan? Tidak berdarah-darah dan terancam tidak bisa melanjutkan lagi ke tahap selanjutnya karena dibunuh oleh anak kecil, perempuan pula. Mau ditaruh di mana harga dirinya nanti? Mukanya yang tampan ini mau ditaruh di mana? Di laci? Terus dia pakai muka siapa? Muka si anak kecil? Pinjam muka begitu ya ceritanya? Boleh juga tuh. Tapi bagaimana caranya pinjam muka ya. Diambil dulu begitu mukanya? Dikuliti pakai belati lalu diambil khusus mukanya.

Kyle. Horor banget sih!

Terpaksa. Keadaan memaksanya untuk begini. Semua terserah padamu aku begini adanya~ Jangan menyanyi. Kyle. Eh, memangnya itu tadi lagu? Dia cuma mencurahkan isi hatinya yang teraniaya oleh anak perempuan kecil. Harga dirinya terluka. Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi~ Aku tenggelam dalam lautan luka dalam~ Sakit ya. Sakit sekali hati ini ketika harga dirinya harus dilukai seperti ini. Sudahlah, sakit ya sakit, tewas saja sana, kalau protes dan menyanyi terus.

Diam deh, diam.

Tapi bagaimana dong. Kau tak tahu, betapa rapuhnya aku~ Terkena serangan terus-menerus, bagaimana bisa dia tidak rapuh? Karena luka membekas buatku selamanya kan rapuh. Tega? Tega membuatnya seperti ini? Yah, namanya karier, walaupun masih anak kecil, tetap tega memang. Tetap jahat, tetap tidak berperikemanusiaan.

Padahal Kyle cuma pecinta makanan yang terdampar di distrik delapan di mana industri utamanya adalah fashion. Sedih ya.

Dia menyabetkan belatinya lagi pada si anak kecil cerewet.

"HEYAHAAAAH!"
Edited by Enrico Fooster, Saturday Jun 1 2013, 10:15 PM.
Offline Profile Goto Top
 
Kristeen Franscois

DISTRIK 8 || HP: 71 || POSISI: 6, TARGET: OFF ROLL || AP: - || KS: -
1 bungkus dendeng sapi, 1 lentera, 1 kotak biskuit, 1 tempat minum kulit



Ia pikir serangannya tadi sudah cukup keras setidaknya untuk menghancurkan tempurung lutut seseorang. Tapi rupanya lelaki satu itu bergerak cukup cepat sehingga yang barusan tidak melukainya. Mungkin membuat lawannya terluka dengan batu tidak terlalu buruk apalagi jika keadaannya se-alot ini. Mulanya ia fikir serangan tadi bisa membuat lelaki distrik satu itu mengalami cedera, sayang, dia gesit. Masa bodoh sih tapi.

Hunger Games baru berlangsung beberap menit dan sudah banyak sekali pertumpahan darah disini. Rasanya mengerikan, mereka seperti bukan manusia lagi, bahkan tidak seperti binatang. “Kau anak setan, Lore!” Ia berdiri. Bergerak sedikit ke arah peserta sembilan yang terluka di sampingnya. Kalau pun iya ia akan lebih membela sebangsanya daripada harus kehilangan sisi manusia seperti setan ber-kapak yang menjadi fokus matanya di depan sana. Tangannya masih memegang batuan koral yang menjadi senjatanya dengan kuat-kuat, setidaknya hanya itu yang bisa dilakukannya untuk bertahan dari serangan Zephaniah Lore yang membabi buta seperti sedang kerasukan.

Matanya sedari tadi tidak pernah berpindah, hanya memandangi wajah lawannya dengan siaga. Bila pemuda itu menyerangnya sebisa mungkin ia akan menghindar bagaimana pun caranya. Lore hanya bocah laki-laki biasa, dia bisa sakit, dia bisa merasakan pedihnya luka jika ada yang menyerang mengenai tubuhnya, dan yang paling penting dia juga bisa mati. Cepat-cepat ia menjulurkan tangannya pada si pemuda sembilan, membantunya berdiri agar dia bisa bertahan dari serangan-serangan lain. Darah segar berwarna merah pekat mengotori tangannya ketika itu, luka yang dibuat Lore cukup menyakitkan, karena nyatanya pemuda di sampingnya itu dua kali kena serangan.

“Bertahanlah untuk keluargamu di sembilan.”

Dia berbisik. Kemudian melepaskan tangannya ketika ia sadar Lore tidak akan menyia-nyiakan waktunya dengan menonton dua proletariat dari distrik geladak berbincang di tengah arena. Menyedihkan bukan.

...

Pats!

Sesuatu menyerang lehernya, seperti disengat lebah.
Offline Profile Goto Top
 
Kathleen Halvorsen
Member Avatar

DISTRIK 12 || HP: 37 || POSISI: 1
TARGET: Floryn Lee (D4) || AP: [result]3&3,1d9,0,3&1d9[/result] | KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result]
satu buah belati, satu buah tempat minum kulit, satu kotak biskuit dan satu kotak korek api


Dia selalu diajarkan untuk selalu berwaspada. Namun, sayangnya, hal tersebut kerap kali lupa untuk diindahkan oleh gadis berumur empat-belas tahun ini. Menurutnya, sebuah kehidupan harus dibawa dengan kesenangan dan kebahagiaan; tawa dan canda.

Kathleen Halvorsen adalah tipikal gadis berumur empat-belas tahun yang sangat santai, sebenarnya. Begitu feminim dan naif, begitu jika orang-orang sekitar akan gambarkan sosok gadis dengan surai berwarna coklat muda ini. Dia selalu menyukai hal-hal yang manis dan berhubungan dengan alam, seperti sesemakan bunga yang sengaja ia rawat di depan perkarangan rumah.

Tidak banyak, hanya sebesar dua genggam kepalan tangan orang dewasa. Namun, itu sudah cukup, mengingat tidak ada banyak hal yang dapat dilakukan oleh gadis Halvorsen muda yang satu ini. Asa-nya nyaris kandas ketika ia mengetahui bahwa Alph meninggal di Arena. Dan kini, mengetahui bahwa ia sendiri berada di Arena... hal tersebut terasa sangat ganjil.

Aneh.

Seperti ada sesuatu yang salah.

Mungkin takdir mereka.

Namun, siapa yang pernah tahu?

"NO!" Kathleen histeris begitu melihat dari jauh sana ada adegan tembak menembak. Perilaku bar-bar, tidak masuk diakal. Semua adegan yang berada di sekitarnya membuat gadis berumur empat-belas tahun ini bergidik ngeri, bulu kuduknya meremang.

Ini medan pertumpahan darah. Ini adalah tempat di mana Alph Halvorsen meregang nyawa, meninggal. Di sini, di tempat ini.

Ada seorang gadis, tidak jauh dari umurnya, sepertinya. Namun, wajahnya asing. Kathleen pernah melihat gadis tersebut, beberapa kali. Di tempat pelatihan dan saat-saat ia masih berada di Capitol. Oh, koreksi, saat-saat mereka masih di Capitol.

Kata gadis tersebut dia benci dengan mereka.

Mereka siapa? Capitol?

Kathleen tidak tahu.

Pisau ditujukan ke lehernya. Namun ia bergerak, sayangnya, tidak secepat yang ia kira. Darah di mana-mana, darah di sekujur lehernya jatuh perlahan, merembes ke kain pakaiannya dan menyisakan bercak merah tua di jaket berwarna coklat miliknya.

Ah, bukan, milik Capitol.

Kathleen Halvorsen tidak memiliki apa-apa kecuali jiwanya.

Dia kehilangan kakaknya, Alph. Seharusnya itu cukup.

"Kamu," ia berbisik sembari tangan kanan menekan bagian lehernya. Berusaha menahan darah yang perlahan ke luar. Air matanya menggenang, tertahan di pelupuk. Pelupuknya memberat, namun Kathleen tetap bertahan. Karena dia harus bertahan.

Dia harus bertahan.

"Jangan."

Dia letih. Dia lelah. Dia tidak ingin berbuat lebih jauh lagi.

"Mengapa," seperti itu? Suaranya tercekat, dia tidak tahan lagi. Tangannya yang bebas segera mengambil sebuah belati. Lalu —masih dengan menahan air mata jatuh dari pelupuk—gadis belia ini segera menghantamkan belatinya ke dada sang gadis tersebut.

Maaf. Maaf. Maaf

Kathleen Halvorsen harus melakukan ini. Masih harus ada yang menjaga Mum. Dia harus kuat, demi Alph, demi seluruh keluarga Halvorsen yang tersisa.

Offline Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Free Forums. Reliable service with over 8 years of experience.
Learn More · Register for Free
Go to Next Page
« Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic »
Locked Topic


Theme design by Drama, theme coding by Lewis. of Outline and edited by Ntin, Ubi, and Ilma.