|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,766 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | |
|---|---|
| Maysilee Donner | Saturday Jun 1 2013, 07:37 PM Post #141 |
![]()
|
DISTRIK 12 || HP: 100 || POSISI: 9 TARGET: DISTRIK 8 (Curealight) || AP: [result]8&6,1d10,2,8&1d10+2[/result] || KS:[result]21&21,1d24,0,21&1d24[/result] 1 pistol udara, 1 pisau, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit Secepat itu, detak jantungnya menjadi berantakan dan koordinasi tubuhnya mendadak memburuk. Ada waktu ketika dia nyaris limbung ke sisi—didukung panik sekaligus rasa takut. Was-was kalau ada yang menyambarnya dari belakang dan menyarangkan kapak ke perutnya. Atau kalau ada peluru nyasar yang mampir ke tengkoraknya. Nowhere is safe. Nowhere is safe. Kalimat itu dirapal bagaikan mantra, dan meskipun Maysilee tahu itu hal yang salah karena dia jadi semakin takut, dia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri. Maysilee terengah sedikit sebelum menyampirkan ransel itu asal ke belakang tubuhnya; mentamenginya dari anak-anak panah nyasar, entahlah. Dia hanya tahu lari, lari, dan lari tanpa henti sebelum tangannya berhasil menyambar apapun yang bagus. Ketangkasan orang-orang ini masih jauh lebih mengerikan dibanding dirinya, dan pada saat seperti ini, sudah ada yang menyambar entah-berapa senjata ke dalam tangan mereka. Semenjak meriam itu diledakkan, bunuh-membunuhnya sudah dimulai. Empat puluh delapan, untuk yang kesekian kalinya. Masih. Masih gila. It was madness. Dia tidak heran belum pernah ad ayang kembali dari distrik Dua Belas. Sekali turun ke Neraka yang seperti ini, Maysilee bahkan sangsi masih ada yang bisa kembali. Apanya yang Eden—sialan, kan. Ini sebuah ejekan terhadap anak-anak yang diperbudak sistem. Maysilee merutuk, dan dia tidak janji itu akan jadi yang kali terakhir. Semuanya berantakan; baik tubuhnya, pikirannya, maupun hatinya. Tangannya terus menyambar apapun yang kelihatan, berharap tak ada orang lain yang memperebutkannya. Ranselnya dipertahankan menjadi tameng. Ada bilah hitam panjang. Ada bungkusan kulit. Ada perak tajam—nah. Sebelum dia sadar, mereka telah berhadapan dua-dua. Dua gadis yang bukan Karier. Dia. Dan Haymitch Abernathy. Pemuda itu bergerak dengan ketangkasan yang luar biasa; Maysilee terhenyak sedikit, entah mengapa bisa teringat akan poin Haymitch tempo hari. Genggamannya menguat di pisaunya kala menyaksikan Haymitch terkena panah salah seorang gadis itu. Satu, dua, tiga; dia belajar untuk memperhitungkan sebelum melakukan. Dia bergerak. Menghela napas-napas pendek dan gagang pisaunya diangkat. Dengan kenekatan, dia mengarahkan sabetannya ke arah gadis satunya (Curealight.red) dan berharap serangannya cukup kuat. Tolonglah. Kawan sedistriknya di sini. |
![]() |
|
| Hada Atala | Saturday Jun 1 2013, 07:37 PM Post #142 |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 69 || POSISI: 8 TARGET: FLOYD ORDYN (D12) (kapak) & CORALINE ESTELLE (D6) (KAPAK) || AP: [result]11&9,1d10,2,11&1d10+2[/result] || KS: [result]22&22,1d24,0,22&1d24[/result] & [result]16&16,1d24,0,16&1d24[/result] 2 kapak, 1 korek api, 1 tempat minum air ukuran 2 liter Darah. Darah dimana-mana. Darah keluar dari tubuh dua orang lawannya. Bau amis langsung menghilangkan wangi semerbak yang tadi dihirupnya waktu pertama masuk Arena, dan rasanya nggak enak. Bau amis darah sama bau amis ikan yang familiar di hidung Hada sebagai penghuni Distrik Empat itu beda banget. Yang satu bikin mual, dan yang satu bikin kangen. Iya, Hada mendadak mellow kangen Distrik Empat di saat-saat begini. Salah banget. Tuh, gara-gara ngelamun dia kena tendang si cewek Enam lagi. Yang cowok sih tapi sempat jatuh ke atas tanah. Harusnya Hada tetap fokus, karena kalau dia nggak berhasil menghadapai dua orang ini, maka di bakal mati disini. Nggak sempet ngelihat Floryn sama sekali. OGAAAAAAAAAAH. POKOKNYA HADA MAU KETEMU FLORYN DULU. HARUS. “IH KALIAN KAN NYERANGNYA BERDUA, KAN NGGAK ADIL!” mau protes kenapa Hada nggak berhenti menyerang? Mereka juga menyerang Hada, keroyokan lagi. Sedih kan? Sedih? Mom sedih nggak ya? Hana di rumah lagi nonton dia nggak ya? Maaf ya, kalian juga harus melihat Hada diserang seperti ini. “FLORYYYYYN!” teriak lagi sambil menghantamkan kapaknya pada dua orang non karier itu kembali. |
![]() |
|
| Yasmine Silvertongue | Saturday Jun 1 2013, 07:38 PM Post #143 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 55 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 4 (CO;pistol)|| AP: [result]9&9,1d9,0,9&1d9[/result] || KS: [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi Beralih ke target ya lelaki—ah dan ya, memang ia peduli kalau ia baru saja menghantam salah seorang peserta non Karier tanpa memperhitungkan keberhasilan serangannya? Tidak, sudah ia katakan, disini antara hitam dan putih. Mereka semua adalah peserta. Mereka semua, mereka tidak diajarkan untuk mengenal kasih, tidak untuk Acara ini. Hai, Panem, menikmati keseruan bloodbath? Yasmine dapat merasakan tubuhnya semakin nyeri di berbagai titik akibat efek terpelanting atau efek dari belati dan pistol udara. Ha, coba serang dirinya, siapa bilang ia tidak bisa menyerang balik? Ia bukan semacam anak anjing yang menyedihkan, hilang dan tersesat, butuh kasih? Tidak jika sang pemberi adalah pirang dari Empat dan pasangannya pula. Awas, minggir, jangan sentuh gadis ini. Ia tidak pernah merasa seheboh dan seemosional ini. Jenis emosi yang menguras tenaga tetapi tidak menyayat hati, itu bagus, sangat bagus. Adrenalinnya terpacu begitu keras. Ia mungkin bisa membuat jantungnya bocor seketika. Tetapi hei, fokus dulu, sekarang kepada si pemilik pistol udara yang sempat membiusnya tadi. Sialan, dia. Yasmine kembali mengayunkan senjatanya. Miliknya juga pistol udara tetapi tanpa amunisi, kurang baik apa coba? Yasmine mengincar rahang si pemuda. Semoga dengan begitu ia bisa mengalami cedera dan memperlambat hasrat membunuhnya. |
![]() |
|
| Shinzo Kawabata | Saturday Jun 1 2013, 07:38 PM Post #144 |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 5 (Pinoy Annelli) || AP: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] || KS: [result]11&11,1d24,0,11&1d24[/result] Tiga tempat minum kulit, satu belati Pernahkah kalian merasa begitu ingin membunuh seseorang? Shinzo Kawabata sebenarnya tidak pernah ingin mengotori tangannya. Tapi, melihat apa yang terjadi di sekitarnya, dia tidak boleh berdiam diri. Diam sama saja dengan mati. Bila dia bergerak cepat dan berhasil membunuh barang sau atau dua orang saja, dia bisa melakukan semacamsorotan Capitol kepada dirinya dan mungkin sponsor akan tertarik datang kepadanya. Baginya untuk mencapai sponsor itu maka dia harus membunuh. Membunuh. Capitol suka darah dan dia akan mepersembahkan darah kepada mereka. Memang benar kalau di disitrik delapan dirinya tidak pernah diberikan kesempatan untuk belajar membunuh—karena mereka hidup dengan cara yang benar. Tapi, untuk saat ini dia harus bisa membunuh. Entah Gavyn yang berhasil menghindar atau memang dirinya payah dalam menggunakan belati, serangannya tidak kena. Pemuda dari distrik delapan ini berhasil menghindar tepat waktu ketika tungkai besar dari makhluk berkulit gelap itu hendak menendang perutnya. Tapi, Shinzo belum bisa bernapas lega karena detik berikutnya semacam ada perasaan cemas muncul dan ia berhasil menghindari serangan belati milik Pinoy. Permainan berlangsung demikian cepatnya. Ia melihat Tume berusaha melukai Gavyn, namun gagal dan Shinzo hanya bisa membuat gerakan cepat memutari Pinoy dan hendak menyabetkan belatinya ke arah leher milik makhluk dari distrik lima itu. |
![]() |
|
| Floyd Ordyn | Saturday Jun 1 2013, 07:39 PM Post #145 |
|
DISTRIK 12 || HP: 8 || POSISI: 2 TARGET: hada atala || AP:[result]3&3,1d9,0,3&1d9[/result] | KS:[result]17&17,1d24,0,17&1d24[/result] plastik, dendeng, madu Dasar sempak kuda!!!!! Dosa apa sih aku ya Tuhan.. Floyd sudah tidak tau harus apa lagi. Ini ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga. Tubuhnya sudah terkulai di tanah masih kena kapak lagi. Oh please, dia itu manusia bukan kayu yang bisa dengan seenak jidatnya dipotong-potong. Tapi kali ini dia pasrah. Sudah lah terserah. Bila memang ini sudah waktunya Floyd rela untuk mati naik ke khayangan. Semoga saja nasip Kathleen bisa lebih baik tidak kena kapak berulang-ulang kali seperti ini, astaga. Dia ingin berdiri, tapi rasanya sudah tidak kuat. Ia hanya bisa memegangi kaki lawannya itu dengan harapan ia akan jatuh. Sudah itu saja, dirinya sudah tidak kuat untuk member bogem mentah kepada putra duyung itu. Dengan suara seadanya Floyd menjawab gadis Enam, “aku cuma bisa melakukan ini. Sisanya kau yang serang ya.” Dan lagi Floyd mencoba menarik salah satu kaki putra duyung. Kali ini dengan plastik yang ada. Ia melibatkan plastik ke kaki putra duyung dan menariknya. Semoga saja jatuh, ia berharab sebelum ia mati kehabisan darah. Darah anyir makin terasa di mulutnya. Astaga kapan semua ini berakhir? Aku sudah tidak kuat, tolong. |
![]() |
|
| Altessa Lychnia | Saturday Jun 1 2013, 07:43 PM Post #146 |
![]()
|
DISTRIK 6 || HP: 70 (-5, terlambat melakukan post) || POSISI: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] || RANSEL [result]9&4,1d5,5,9&1d5+5[/result] || [result]1&1,1d3,0,1&1d3[/result] x 180. (BANYAK KATA PER POST) Altessa benar tegang, sudah. Dirinya berbalut dalam pakaian hijau tua dan tubuhnya merasakan getaran. Getaran itu tentunya tidak mengenakkan, karena berbagai macam perasaan telah bercampur semuanya, seperti adonan kue yang terkadang, Catharina Lychnia membuatnya. Namun, rasa dari ‘adonan’ perasaan yang ia dapatkan sekarang ini, bukanlah pai apel yang lezat, mengeluarkan wangi harum dari dapur rumahnya. Rasa ini adalah rasa takut, khawatir, gelisah— “…” —dara Lychnia muda ini tidak pernah mengharapkan apapun mengenai ini, sungguh. Tungkainya hendak berlari, bersiap untuk segalanya. Kemampuannya akan diuji disini. Apakah dia akan mati, atau hidup setelah melarikan diri. Altessa ingin hidup. Siapa yang tidak ingin, memangnya? Altessa setengah siap dalam menghadapi ini semua. Poin pribadinya rendah, dan jelas benda itu tak akan menolongnya disini. Satu-satunya hal yang bisa menyelamatkannya adalah, keberuntungan. Dimana Remy? Coraline? Altessa tidak yakin kalau bocah yang bahkan—belum mengetahui arti yang sebenarnya dari apa yang dinamakan kematian atau meninggal—akan hidup lebih dari ini. Hanya Coraline, harapan Altessa yang tersisa. Apakah ada yang namanya aliansi, berlaku disini? Jika mereka berdua masih hidup, perwakilan terakhir Enam, Altessa dengan sesegera mungkin—mencoba, maksudnya—bersekutu dengan Coraline. Ia merindukan hari-harinya di Enam. Hidupnya mungkin sudah menemui jurang akhir, ya? Bunyi meriamnya telah bergema, tungkainya berlari acak. Ia mencari tempat yang aman dalam pertumpahan darah ini. Karena dia masih ingin bermain aman. Tapi... harus diakui kalau Altessa itu bingung harus pergi kemana. |
![]() |
|
| Madeleine Lethbridge | Saturday Jun 1 2013, 07:43 PM Post #147 |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 95 – 6 (Patricia Brown) - 3 (Kevin Fremunzar) -2 (Patricia Brown)|| POSISI: 5 TARGET: DISTRIK 3 (Patricia Brown) & DISTRIK 9 (Kevin Fremunzer) AP: [result]11&9,1d10,2,11&1d10+2[/result] || KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] & [result]21&21,1d24,0,21&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu Belum ada yang melukainya dengan benda-benda tajam. Brown dengan tangan kosong, begitu pula Fremunzar. Adu tenaga, mereka itu. Dan Madeleine tidak bodoh. Dan Madeleine tidak akan meladeni mereka begitu saja tanpa senjata. Ia dikeroyok. Dan siapa yang peduli? Bahkan ia sendiri pun tak ambil pusing dengan apa yang terjadi. Cekikan, cakaran, jambakan—semua tak terasa apa-apa kini. Mungkin kebas, atau mungkin ia teralihkan. Nyawanya sedang jadi taruhan, kalau kautahu. Maka, segala bentuk rintihan-rintihan sakit harus ia tahan sebisanya. Sampai penghabisan. Ia bukan gadis yang kuat, jelas, tentu saja. Tapi ia tak akan pernah mau terlihat lemah di depan para musuh; membiarkan mereka tenggelam dalam euphoria dan kebahagiaan serta kepuasaan akibat mampu membuat lawan terlihat lemah dan kalah. No—harga diri Madeleine itu setinggi angkasa, yang tak akan dibiarkan jatuh dengan mudah dan sederhana. Bunuh dia, cincang, habisi—setelah itu baru boleh kamu injak dan permalukan dirinya. Yang walau begitu, terima resiko akan arwahnya yang akan menghantuimu. Ia ini pendendam kautahu. Dan Patricia Brown serta Kevin Fremunzar, well, adalah orang yang akan terus ia ingat sampai mati. Dengan sikutnya, Madeleine berusaha menjauhkan gadis Brown itu dari peredaran, berniat membuat gadis itu menjauh. Sementara Fremunzar muda, well, ia tendang tepat di bagian selangakangan. Baiklah, baiklah—untuk serangan kali ini, ia ladeni mereka dengan tanpa senjata. Agar mereka tahu, Madeleine yang ini tidak bisa diremehkan begitu saja. |
![]() |
|
| Flavea Vorfreude | Saturday Jun 1 2013, 07:44 PM Post #148 |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 95 || POSISI: 4 TARGET: Adina Erasto & Aidy Joselyn || AP: [result]3&1,1d10,2,3&1d10+2[/result] || KS: [result]24&24,1d24,0,24&1d24[/result] & [result]24&24,1d24,0,24&1d24[/result] 3 Lembar Plastik dan 1 Pasang Kaus Kaki Diserang: Adina Erasto Once upon a sometime, you stumble through a desolate, bloodstained land, searching, searching, but you don't know what you're looking for. Jika tak salah, gadis itu mengatakan bahwa karier harus pergi darinya. Namun mengapa ia menyerang terlebih dahulu? Flavea tak mengerti. Sama sekali tak mengerti. Padahal ia tadi belum melakukan apa pun, bahkan mengambil barang pun hanya sedikit. Jika gadis itu memang tak mau dibalas, maka ia akan pergi dan bukan terus menerus menyerangnya. Flavea tak akan mengejarnya, lagipula hal itu bukan sesuatu yang efektif, kan ya? Ia masih harus mengurus non karier yang ada di sini. Tuhan, Flavea benar-benar ingin ini segera berakhir, benar-benar berakhir. Ya, ia tahu bahwa ajang ini baru dimulai, namun tetap saja rasanya ia ingin ini segera berakhir. Gadis sebelas itu bahkan tidak mengetahui namanya dan hanya menyebutnya dengan sebutan karir. Mengenalinya sebagai sesuatu dan bukan sebagai seseorang. Seakan ia tidak memiliki identitas sebagai seorang karir. Ia benci merasa seperti itu, merasa bahwa kehadirannya tak berarti dan ia hanya ada untuk membunuh. Membunuh. Mereka hanya mengharapkannya untuk melakukan hal tersebut? She felt like crying again. Ia tahu, ia memang terlalu mudah ingin menangis. Terlalu lemah. Tak diharapkan untuk menang. Rasanya mendadak ia ingin meninju sesuatu ketika ia menyadari bahwa ia hanya hiasan di sini. Ia. Bukan. Hiasan. Ia. Bukan. Hanya. Karir. Ia adalah Flavea Vorfreude. (Ia adalah seorang gadis belia yang terjebak dalam angan-angannya sendiri, ia adalah gadis tanpa kepastian.) Menutup mata dan bergerak untuk meninju dara Erasto itu lagi. Namun dapat dikatakan, tinjunya kini sudah tak terarah lagi, melesat kemana-mana. Ia hanya merasa bahwa ia mengarahkannya ke arah sang dara Erasto dan Joselin. Ia bertanya-tanya mengapa ia dahulu repot-repot menghafal nama orang-orang, di saat orang-orang bahkan tak tahu siapa dirinya. |
![]() |
|
| Coraline Estelle | Saturday Jun 1 2013, 07:46 PM Post #149 |
|
Distrik #6 || HP: 17 :3b || Posisi: 2 Target: Hada Atala (D4-M) || AP: [result]9&9,1d9,0,9&1d9[/result] || KS: [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result] || (Satu tempat air minum ukuran dua liter, satu botol madu, satu kompas, satu kotak biskuit) Perih tahu. Dulu sewaktu ia kecil, sewaktu umurnya masih menginjak lima tahun. Dia pernah bermain-main dengan pisau dapur, niatnya memang untuk membantu sang ibu, dia memang sering membantu sang ibu karena sejak kecil rumah kecil mereka hanya dihuni oleh ibu dan dirinya. Sang ayah, menikah lagi ketika Cora baru berumur dua tahun, dan mempunyai seorang anak bernama Regulus, untuk perihal nama adik tirinya itu Cora diperbolehkan untuk memberinya nama. Mengapa ia memberi nama Regulus? Karena Regulus ada bintang paling terang di langit malam, itulah yang ia ketahui. Selain itu jika tiba-tiba saja Cora merasa merindukan adiknya dia hanya tinggal melihat ke langit malam dan memandangi bintang, walau bukan Regulus melihat bintang saja sudah membuat Cora merasa tenang. Sayangnya sekarang tidak ada bintang. Suhu udara panas, sekitar tiga puluh derajad celcius kalau Cora tidak salah tebak—atau mungkin lebih? Yang jelas dia tahu kalau suhu ini akan turun srastis begitu matahari tenggelam di peraduannya. Dia hanya ingin melihat bintang sekarang. Bintang malam, dia ingin memastikan apakah Regulus masih ada di sana, apakah Regulus baik-baik saja di Distrik Enam. Bocah itu masih terlalu kecil untuk menyadari bahwa sang kakak tiri sedang berjuang lari dari kematian. Lukanya sakit sekali. Darah mengucur semakin banyak dari bekas-bekas sabetan kapan si pemuda Empat. Si pemuda Dua Belas juga nampaknya sudah lelah. Akan menemui ajalnya ya? Haha. Sama. Semoga Cora dan si pemuda Dua Belas dosanya diampuni karena sudah melukai seorang karier yang nampaknya punya niat baik mencari salah satu temannya dan mereka berdua malah menghalangi niat baiknya itu, bagaimana kalau ternyata teman si pemuda Empat itu malah tidak selamat karena sudah terlanjur kehabisan darah terlebih dahulu dan si pemuda Empat terlambat menyelamatkan temannya karena terhalan oleh Cora dan si pemdua Dua Belas? Oh, itu terdengar begitu jahat, jahat sekali. Tendangannya berhasil mengenai perut si pemuda Empat, walau ia yakin tidak akan berbuat banyak seperti serangan kapan dari si pemuda Empat itu. Satu bogem mentah kembali melayang ke wajah pemuda itu, terserah. Tapi tenaga Cora sudah hampir habis, walau ia juga tidak mau menyerah begitu cepat sekarang. Coraline Estelle masih punya mimpi-mimpi kecil yang harus ia capai, seperti memeluk Altessa dan meminta maaf karena jarang berbicara dengannya semenjak menginjakkan kaki di Capitol. Ada rasa bersalah yang terselip di dada Cora ketika mengingat batapa egoisnya dia selama di Capitol. Dia hanya memikirkan bagaimana dia bsia bertahan hidup selama di Arena nantinya dan juga dia sibuk memikirkan bagaimana dia tidak menjadi sasaran empuk seperti Remy ketika di Arena. Dia terlalu egois dengan memikirkan dirinya sendiri. “YA MAAF.” Dia enggak tahu kenapa dia harus minta maaf—walau tetap pakai kepslok—karena pada dasarnya yang harus minta maaf itu kan si pemuda Empat. Tapi dia cuma mau bilang itu aja kok, maaf karena sudah main bogem, main tendang. Jelas ini bukan diri Cora yang sebenarnya, Cora yang asli tidak akan melukai orang lain. Apakah ini yang diinginkan oleh Capitol? Melihat orang-orang polos seperti Cora berubah menjadi mesin pembunuh untuk mendapatkan title seorang pemenang? Kalau boleh memilih sebenarnya Cora lebih memilih untuk bertemu dengan Valene dan Lee sekarang juga. Kalau boleh sekalians ama duo Anderson yang sudah lama mati. Nanti mereka minum teh sama-sama ya. Mellownya kumat mendadak. |
![]() |
|
| Yasmine Silvertongue | Saturday Jun 1 2013, 07:46 PM Post #150 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 55 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 4 (CE;pistol&tangan)|| AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi Ia harus fokus. Tolong lah, ia harus bisa fokus. Segala kemampuannya telah ia perhitungkan disini. Ia tidak bisa kehilangan satu lagi kesempatan. Ia harus bisa… selamat. Benaknya terbagi dua. Bodoh, jika jalan pikirnya terpecah bagaimana Silvertongue ini bisa fokus? Sekelebat gambaran akan kedua adiknya dengan wajah tegang yang ia ingat betul memenuhi otak Yasmine. Tidak bisa ia enyahkan. Maaf, beribu kata maaf belum pantas ia ucapkan sekarang. Gadis itu mensugesti diri. Mencoba mengimajinasikan ekspresi wajah lain kecuali ketegangan dan gurat kesedihan dari dua adiknya. Wajah manis Leira, ia dan mata biru terangnya yang selalu ceria, selalu secerah langit biru, bahkan lebih mengundang daripada langit jejadian Cornucopia ini. Jess dengan intensitas pandangannya. Mereka, mereka di rumah mendoakan Yasmine, bersama Afsheen dan Aseiya. Mereka, karena mereka Yasmine belum boleh gagal. Belum boleh. Kembali ia mencakar wajah lawan di hadapannya, tak sampai disitu, gadis Silvertongue ini bahkan menendang dan menarik surai lawan. Rasakan sebuah kesakitan tanpa adanya darah. Dikira darah itu segala-galanya yang dapat membuat seseorang lemah? Tidak. Keberadaannya disini telah melumpuhkan Yasmine, mematikan secercah harap yang pernah bersemayam dalam dirinya. Tidak. Tidak perlu kata menyesal. Sekarang jalani saja. Jalani, ia memukul target dengan gagang pistol. |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |















9:33 PM Jul 11