Welcome Guest [Log In] [Register]

MAY THE ODDS BE EVER IN YOUR FAVOR



[ INACTIVE ]
TERM 9: 2193 - 2194




[+] Topik AU: 4/5
[+] Visualisasi Asia: 3/3
[+] Capitol: 5/5
[+] Distrik Satu: 4/5
[+] Distrik Dua: 4/5
[+] Distrik Empat: 5/5
[+] Distrik Tiga Belas: 2/5
[+] Balita/Dewasa: 5/5



IndoCapitol


TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL
PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH
PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI
TRAINING CENTER || ARENA




Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain.

PEMENANG
HUNGER GAMES 54



{DISTRIK 1}



KREIOS EPHRAIM


MUSIM PANAS



21,3° - 23,6° C
21 Juni - 20 September
Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan.



WAKTU INDONESIA BAGIAN BARAT (JAKARTA)




Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

TWITTER & CHATBOX


Twitter
Chatbox



FORUM LOG
Waktu Update
Sabtu, 11 April 2015 Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out!

PEMBERITAHUAN
Kepada Informasi
Semua Member Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum
Semua Member Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2)
Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda.

Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru.

Bergabunglah bersama kami!

Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum:


Username:   Password:
Locked Topic
Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA
Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,765 Views)
Redemptus Maleveich
Member Avatar

Posted Image

Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala.

Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan.

Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena.

Empat puluh lima detik.

Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus.

Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi.

Tiga puluh detik.

Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa.

Lima belas detik.

Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian?

Terlambat.

KABOOM!

Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian.


Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol.
Offline Profile Goto Top
 
Replies:
Mario Spielberg
Member Avatar

DISTRIK 7 || HP: 70 || POSISI: 2
TARGET: DISTRIK 12 cowok (FLOYD) || AP: [result]3&3,1d9,0,3&1d9[/result] || KS: [result]7&7,1d24,0,7&1d24[/result]
[ b ] Ransel berukuran sedang, 1 bungkus dendeng sapi, sepasang kaus kaki, 1 tempat minum ukuran sedang, 1 kotak biskuit [ /b ]

Sebenarnya kalau mau difikir ulang agak tidak masuk akal juga dia mau melakukan hal seperti ini. Dari yang awalnya ogah-ogahan jadi menyiksa orang. Menyiksa? Terlalu kejam tampaknya. Mario lebih suka kalau dibilang dia menolong orang untuk cepat selesai dan sampai ke surge daripada lebih lama memainkan permainan busuk dari prang Capitol. Tidak sih, jangan salahkan penduduk Capitol, tidak semuanya berhati mutan tentu. Salahkan sama para pendahulu dan penggerak yang entah terbuat dari apa otaknya. Mungkin mereka dahulunya dilahirkan ketika ibu mereka sedang makan cacing kali ya jadi otaknya eror begitu.

“…”

Yang penting Mario masih suka dendeng sapi dan biskuit.

“Permisi mas.”

Satu tepukan kecil lagi mendarat ke bahu seorang pemuda dua belas kemudia menunjuk ke arah seorang gadis yang sepertinya gadis distrik karier.Distrik satu? Mungkinlah. Mario bukan orang yang mudah ingat. Lagipula ia penasaran dan rasanya mau menyapa untuk menyadarkannya bahwa perang ini sudah dimulai dan kalau gadis itu diam saja ada kemungkinan bakal di bunuh kan? Maaf saja deh, Mario mau karier atau bukan tetap tidak suka lihat orang dibunuh. Jadi sebelum gadis ini dibunuh ya mending disadarkan lebih dahulu kan?

“Tidak mengajak gadis itu main perang-perangan?”

MAIN GUNDULMU!

Dengan sebuah senyum awkward di tampilkan dan lambai-lambai pada sosok gadis yang diam saja kemudian menoleh ke pemuda dua belas yang hampir sekarat. Kasihan. Kalau sudah mati terus bagaimana mayatnya ya? Mau dibawa pulang juga tidak enak hati sama keluarga. Rasanya menyesal juga barusan menepuk pundaknya.

"Kalau perlu bantuan minta sama aku saja ya."

Sepertinya tidak harus ditanya, bodoh.
Edited by Corialonus Snow, Saturday Jun 1 2013, 07:56 PM.
Offline Profile Goto Top
 
Floryn Lee
Member Avatar


└(∵┌)└( ∵ )┘(┐∵)┘
DISTRIK 4 || HP: 88 (*`д´)b
POSISI: 4 ☆ミ(o*・ω・)ノ[ FLAVEA ] || AP: [result]11&9,1d10,2,11&1d10+2[/result]
TARGET: KYLE (D8) || KS: [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result]
TARGET: KATHLEEN (D12) || KS: [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result]
DUA BELATI, SATU TENDA(...) & SATU PEDANG BERMATA GANDA(...); AKU SAYAAANG DDR


Gangguan jiwa. Obat. Teriakan.

Itu yang ia ingat dari kali terakhir ia melihat kakaknya menghembuskan napas terakhir di layar lebar di Gedung Pengadilan. Tangisnya pecah, tangannya menggapai udara kosong, dan pekikannya seperti hampa. Dia hanya ingin kakaknya pulang; dulu seperti itu. Tapi, dengan ia kini di arena—dimana ia tahu bahwa ini akan jadi tempatnya berpulang, seenggaknya dia mau membalas dendam semuanya. Dulu, seingatnya dua belas pernah menjadi salah seorang yang menyerah Alethea.

“Kubilang—pulang sana! Kalian harusnya nggak disini!,” dia kembali memekik; kali ini lebih ke arah frustasi. Ia lelah dengan semua hal ini. Keinginannya untuk membuktikan semua pun tak membantunya benar-benar merasa bugar dan waras. Justru sebaliknya. Sebuah dorongan untuk menangis, membiarkan bening asin itu meluncur dan menyusuri pipinya justru timbul—dia mau berbalik dan mencari bang Hada aja, huweeeeng.

“Aku enggak apa-apa. Flavea gimana?”

Bohong. Dia sama sekali enggak enggak apa-apa.

“Kalian ini enggak punya telinga atau bandel, sih? Pulang. Kalian harusnya enggak disini!,” teriakan lagi. Tangannya mengayunkan lagi bilah panjang itu ke ceruk leher (Kyle.red) serta kaki kiri (Kathleen.red), dan satu air matanya jatuh. Kakaknya dulu diperlakukan begini—berusaha berjuang tapi kalah karena dirinya. Perasaan bersalah itu tiba-tiba membebaninya, membuatnya pilu dan ingin mengubur dirinya sendiri hingga pusat bumi. “SANA PERGI! PULANG!”

Teriakan itu untuk... kakaknya dulu.

Yang sempat tertahan.
Offline Profile Goto Top
 
Gavyn Owyn
Member Avatar

DISTRIK 11|| HP: 75 || POSISI: 1
TARGET: DISTRIK 10 (Tume Tinkham) || AP:[result]3&3,1d9,0,3&1d9[/result] || KS:[result]17&17,1d24,0,17&1d24[/result]
dua pasang kaus kaki, satu lentera, satu korek api



Entah ada apa dengannya saat ini. Mungkin dia kurang fokus atau apa sehingga apa yang dia lakukan selalu gagal. Menurutnya dia sudah tiga kali mencoba menyerang dan gagal. Tidak mungkin dia sudah menjadi orang yang mendadak bego di tempat ini, bukan? Dia merasa itu tidak benar adanya. Kawan sedistriknya berada tidak jauh darinya, sedang berusaha melawan gadis dari distrik satu. Berani benar. Tapi, Gavyn yakin itu karena memang orang-orang dari distriknya adalah mereka yang senang memberontak dan tidak takut mati. Diam-diam Gavyn memuji keberanian dari kawannya itu untuk berani mengorek gadis dari distrik satu itu.

Oke.

Kembali ke lawannya. Ada dua orang yang begitu ingin membunuhnya di tempat ini. Mereka berdua melawannya dengan belati sementara Gavyn hanya menggunakan tangan kosong. Hidupnya tidak mungkin tamat hanya dengan dua buah belati itu. Tidak mungkin.

Gavyn masih memiliki semangat yang membara dan dirinya berhasil menghindari serangan yang diarahkan kepadanya baik dari Shinzo maupun dari Tume. Entah ada apa dengan mereka sehingga belum berhasil menghasilkan darah sedikitpun. Sebagai bentuk pembelaan diri dari mereka yang tidak bersenjata, Gavyn memilih untuk mengayunkan kakinya sekali lagi dan mengarahkannya kepada Tume. Anak laki-laki dari distrik sepuluh itu seharusnya menyadari betapa tersiksanya harus berusan dengan seorang Gavyn Owyn.
Offline Profile Goto Top
 
Adina Erasto
Member Avatar

DISTRIK 11

HP: 52 || POSISI: 4
TARGET: Flavea Vorfreude (DISTRIK 1)|| AP: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] || KS: [result]11&11,1d24,0,11&1d24[/result]
1 belati, 1 dendeng sapi, 1 lentera, dan 1 tempat minum kulit




Bloodbaths
Darah siapa yang akan disumbangkan untuk memandikan para ksatria?

Ketika hitungan detik mulainya pertandingan telah terhenti.

Desiran angin membawa hawa sejuk bagi gadis muda keturunan Stoner. Ia dapat merasakan bulu-bulu di tengkuknya mengayun mengikuti desiran angina. Gadis berkucir kuda itu kini ada di sebuah bak pemandian darah yang disebut-sebut bernama bloodbaths. Ia tidak meminta hanya nasibnya yang membawanya menuju pemandian ini.


* * *


Lentera yang baru saja ia lemparkan melayang di udara,mengarah pada kepala wanita distrik karier berambut pirang yang selama ini beradu otot dengannya dan kali ini pun serangannya gagal. Lentera itu tidak mendarat di kepala sasarannya, malah jatuh ke bawah. Entah dewa apa yang melindungi wanita karier itu, atau mungkin kini Tuhan telah membalaskan dendam kepadanya yang selama ini nyaris membuang Tuhan dari kehidupannya, bahkan selalu menyalahkan-Nya.

[color=#000bfff]“Kalau kamu nggak mau diserang, kenapa kamu nyerang aku!”[/color]

Entah apa yang dilafalkan wanita karier itu kepadanya, Adina tidak bisa mendengarnya dengan jelas, kini wanita karier itu telah menggenggam lengannya, menariknya dan meninjunya. Adina berusaha mempertahankan posisinya agar tidak jatuh, atau mungkin tangannya yang patah. Adina melayangkan tendangannya ke arah wajah wanita karier yang berusaha menjatuhkannya. Berharap tendangannya tidak meleset dan ia bisa bebas dari cengkraman yang kini menggenggam tangannya seperti lem.
Offline Profile Goto Top
 
Kyle Blackthorn
Member Avatar

DISTRIK 8 || HP: 6 || POSISI: 4
TARGET: Floryn Lee (D4) || AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result]
1 belati, 1 kotak biskuit, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit


Wow. Kena.

Untuk sesaat, Kyle berlari menjauh dari anak kecil tadi lalu melakukan selebrasi seakan dia baru saja mencetak gol yang menentukan kemenangan timnya. Dia berlari dalam lingkaran ukuran sedang, tidak terlalu besar karena nanti dia bakal terlalu capek setelah itu, tidak terlalu kecil juga karena nanti dia dikira sedang melakukan tarian pemanggil hujan kalau diameter lingkarannya terlalu kecil. Tangannya yang memegang belati dikepalkan ke udara. Meninju-ninju udara. Ekspresi wajahnya begitu gembira seakan dia telah melakukan sesuatu yang sangat luar biasa. Sungguh luar biasa.

Padahal, bisa dikatakan bahwa dia hanya memberikan goresan pada anak kecil itu.

Bukan luka mayor. Tapi tak apalah, daripada tidak sama sekali, kan?

Atau perlukah dia menari juga? Sayang sekali, distriknya tidak memiliki tarian yang khusus, misalnya untuk menumbuhkan pohon kapas di distriknya atau untuk memunculkan ide pakaian di kepala para desainer. Tidak ada tarian yang seperti itu. Hampir semuanya mendapatkan ide dengan merenung, cara menumbuhkan kapas pun ya dengan menanam dan memberi pupuk serta merawat secara telaten. Tidak ada itu yang namanya mereka menari. Tapi dia terlalu gembira dan ingin merayakannya. Dan salah satu cara terbaik untuk merayakan adalah dengan menari. Benar, kan? Coba bilang, siapa yang tidak ingin menari setelah melakukan suatu kesuksesan. Selebrasi itu perlu.

Jadi dia menari dengan gaya seperti ini. Perhatikan baik-baik. Kedua tangannya seakan menggulung-gulung roll tisu di depan dada. Lalu kakinya menandak-nandak, satu naik yang satu menjejak tanah, begitu seterusnya. Dagunya diangkat, sombong ceritanya. Secara keseluruhan, gaya tariannya ini pernah populer pada tahun yang lampau dan disebut tarian kuda.

Kyle. Cukup selebrasinya. Cukup.

Tertawa riang, Kyle kembali mendekati anak perempuan yang tadi. Tidak seperti tadi saat dia emosi berat. Sekarang Kyle tampak berkali-kali lipat lebih ceria. Lihat saja ekspresinya itu. Dan dia baru saja memakan satu biskuit dari dalam kotaknya. Senang? Senang sekali. Akhirnya dia bisa menguyah makanan lagi, akhirnya mulutnya tidak menganggur sehingga harus terus berkata-kata supaya tidak bosan diam. Makanan memang temannya yang terbaik. Sungguh, dia tidak bohong. Makanya, berikan dia makanan yang banyak, sponsor. Eh, sekarang belum ada sponsor yang akan datang ya? Masih awal-awal begini. Harapan kosong banget kalau mengharapkan sponsor ya.

Yah, bagaimana lagi. Dia sekarat, tapi bahagia. Ironis, tapi Kyle menyukainya. Kyle menusukkan belatinya pada si anak kecil tadi sambil tersenyum lebar.

"Kamu, di arena nanti, jangan jadi anak nakal ya! Makan yang banyak biar cepat besar!"
Offline Profile Goto Top
 
Hada Atala
Member Avatar

DISTRIK 4 || HP: 69 || POSISI: 8
TARGET: FLOYD ORDYN (D12) (kapak) & CORALINE ESTELLE (D6) (KAPAK) || AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] || KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] & [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result]
2 kapak, 1 korek api, 1 tempat minum air ukuran 2 liter



GUVHE JUGA UDAH NGGAK KUAT, TOLONG. JADI KARIER ITU SESUATU YA.

Lawannya yang cowok jatuh, sudah bersimbah darah segar. Dua lawannya sudah bercucuran darah, Hada juga meskipun nggak separah mereka. Tapi tetap saja sakit meskipun sekarang Hada mencoba cuek saja. Dia nggak bisa ngeluh ataupun bermanja-manja, sekalipun dia harus menyerang dua orang sekaligus tanpa bantuan Colleen.

Iya, Hada bakal melakukan apapun untuk ketemu Floryn Lee sekarang. Nggak mau muluk-muluk lagi mencoba ngelindungin si kecil itu karena dia pun sudah cukup kewalahan gara-gara dikeroyok begini. Cuma ingin lihat senyum Floryn yang bakal mengingatkan si bungsu Atala ini pada sinar matahari yang terbit di ufuk timur Distrik Empat.

Arena ini, meskipun tempatnya indah sekali, Hada nggak ingin berlama-lama di sini. Ini bukan rumahnya, bukan DIstrik Empat yang menyenangkan. Di sini nggak ada laut. Nggak ada lumba-lumba yang loncat di atas permukaannya di laut lepas. Coba saja dia kenal Floryn lebih dekat sebelum mereka masuk Arena, Hada ingin ajak Floryn naik kapalnya, terus membawa Floryn melihat titik dimana ikan paus besar kadang-kadang muncul.

Tapi, dia ada di sini, dan dia masih belum bertemu Floryn.

Hada merasa kakinya ditahan oleh cowok yang berguling di tanah, meminta si cewek Enam yang menyerang Hada. Hada berusaha menghindar dan berhasil. Sedih sih, melihat mereka tetap berjuang meski sudah berdarah-darah.

“Maaf,” gumam Hada pelan, menumbukkan mata kapaknya ke arah tubuh Dua Belas dan Enam, semoga untuk yang terakhir kalinya.
Offline Profile Goto Top
 
Kathleen Halvorsen
Member Avatar

DISTRIK 12 || HP: 37 - 11 = 26 || POSISI: 1
TARGET: Floryn Lee (D4) || AP: [result]3&3,1d9,0,3&1d9[/result] | KS: ][result]4&4,1d24,0,4&1d24[/result]
satu buah belati, satu buah tempat minum kulit, satu kotak biskuit dan satu kotak korek api


Darah merembes. Bau anyir memenuhi nostril. Kathleen tidak menikmatinya, namun ia perlahan merasakan bahwa kesadarannya semakin menjauh. Atau mungkin hanya dia yang berpikir seperti itu, membesar-besarkan, seperti itu. Air mata masih menggenang di atas pelupuk, rasanya berat. Namun, Kathleen tetap berusaha untuk tidak berkedip.

Karena dia tahu ketika air mata tersebut melewati pipinya, pertahanannya akan runtuh.

Semua yang sudah dipersiapkan, semua yang sudah dibentuk selama ia berada di Capitol akan runtuh.

Dia ingat dengan percakapan-percakapan kecil dengan seorang laki-laki bernama Haymitch tersebut saat malam. Penuh dengan sarkasme memang laki-laki yang satu itu. Kathleen belum pernah melihat laki-laki tersebut sebelumnya selama ia hidup.

Memang, dulu poros kehidupannya hanyalah pada hal-hal yang berada di dekatnya. Seperti: Mum, Dad, Alph dan sekitarnya. Tidak pernah jauh dan lebih dari itu. Namun, dia ini bukan seorang apatis, karena dia diam-diam memperhatikan beberapa wajah-wajah asing yang kerap kali melewati perkarangan rumahnya.

Terkadang, dia tahu bahwa seseorang menyelinap masuk dari belakang perkarangan rumahnya dan mengambil setangkap roti.

Kathleen diam.

Dan sampai saat ini Kathleen belum pernah melihat wajah asing tersebut kembali.

Dulu seseorang pernah berkata bahwa ia harus selalu melawan jika memang Kathleen merasa benar. Namun, hal seperti ini sudah berada di luar batas kemanusiaan yang benar. Ini adalah tingkah laku makhluk bar-bar. Dan memang benar faktanya selama ini bahwa Alph tidak layak untuk berada di sini, di tempat ini.

Di tempat yang penuh dengan darah dan pertikaian.

Penuh dengan manusia bar-bar.

Maka dia bangkit dan berdiri dengan tegap. Masih dengan tangan kanan menutupi leher, menekan luka goresan yang terbekas akibat sayatan dari pedang milik gadis yang berasal dari Distrik Empat tersebut.

Dia terengah-engah, begitu juga lawannya. Maniknya bergulir, memperhatikan sebuah sosok yang berada di sampingnya, melawan sang gadis. Kathleen juga tidak tahu menahu tentang sosok laki-laki tersebut, namun jauh dalam di dalam lubuknya dia senang bahwa masih ada sosok yang mau melindunginya.

Kathleen tahu bahwa dia tidak pernah sendiri.

Ada Alph.

Mum.

Dad.

Kelopaknya matanya bergerak. Kathleen bergeming. Indera pendengarannya dipasang dengan baik; ada teriakan di mana-mana, suara pisau yang menebas dan membeset daging, suara darah yang mengucur dengan perlahan. Ada bau anyir dari darah yang ke luar dari daging, bau rerumputan dan matahari tertutupi dengan bau kuat dari darah tersebut. Nostrilnya merasa sesak dengan bau tersebut.

Air matanya turun ke kelopak.

Dan dia tahu bahwa detik itu Kathleen Halvorsen bukan lagi Kathleen Halvorsen yang dulu.

Dia berlari menghampiri gadis tersebut, berusaha menusuk belati yang masih berada di tangannya yang bebas ke arah dada si gadis.

Untuk Alph.
Offline Profile Goto Top
 
Urie Tommy
Member Avatar

DISTRIK 1 || HP: 100 || POSISI: 6
TARGET: DISTRIK 8 (Kristeen) ||
AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] || KS: [result]7&7,1d24,0,7&1d24[/result]

sigh

Tidak, dia tidak bisa menyerang perempuan. Hei, ini bukan memelas, ya. Urie yang seorang pecinta perempuan, mana mungkin tega menyerang makhluk yang berbeda gender itu. Dan lagi, dia tidak akan menyerang orang yang sudah keburu dia kenal.

"Maaf." Senyum. Awkward.

Yak, ayo move on.

Urie memutar-mutar belatinya, mencari target lain. Distrik karier? Urie geleng-geleng kepala. Tidak mau. Urie malah berpikiran mau bekerja sama dengan para karier nantinya. Paling tidak, dia harus bertahan hidup hingga keluar dari bloodbaths. Distrik lainnya--?

... mungkin dia harus membantu 'rekan'nya dulu daripada bingung cari lawan.

Lagi-lagi melakukan gaya yang sama, mengayunkan belati ke lengan si gadis dari sembilan. Mana yang katanya nggak tega menyakiti cewek?


Serang Kristeen. Cmiiw.
Maaf Yasmine, nggak lihat list lawan orz padahalbisangedrama
Offline Profile Goto Top
 
Zephaniah Lore
Member Avatar

DISTRIK 1 || HP: 90 || POSISI: 6
Target: Antonio Shadowsong - D9 (KS: [result]13&13,1d24,0,13&1d24[/result] ) dan Kristeen Franscois - D8 (KS: [result]16&16,1d24,0,16&1d24[/result] )
AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result]
Membawa: ransel besar, 1 kapak, 1 belati, 2 pistol udara




"Ups... kena...," ujar Zephaniah pada gadis dari distrik 8 dan pemuda distrik 9 itu sambil terkekeh. "Bagaimana rasanya? Sakit? Kakimu hampir putus karena kapakku...." Ia menoleh pada si pemuda distrik 9. "Seperti lengannya... lepas dari tubuh...." Lalu menatap gadis itu lagi. "Kupastikan kakimu akan bernasib sama seperti lengannya. Bagaimana? Kau senang?"

Uhuk... uhuk...

Zephaniah meringis, menekan dadanya yang lagi-lagi membuatnya merasakan sakit. Tapi tatapannya tetap terpaku pada gadis distrik 8 itu, mendengarkan ocehannya bahwa Zephaniah adalah anak setan dan sebagainya. Hahaha. Gadis itu tidak tahu bahwa ia... keturunan keluarga Lore... dalam darahnya mengalir darah orang-orang yang tidak tahu belas kasihan. Dulu ia pikir ia berbeda, tapi nyatanya, ia sama saja. Oh, ralat. Ia lebih parah dari Lore-Lore yang lain.

Ia menjilat bibirnya yang kering, sekali lagi mengangkat kapaknya dan menyerang membabibuta. Baik si pemuda maupun si gadis takkan ia biarkan lolos dari bloodbaths. Tidak akan.

"Hiaaaaa!" seru Zephaniah seraya mengayunkan kapaknya dengan cepat. Jangan harap bisa menghindar. "Jangan menghindar... hehehe... lawan aku."

Uhuk... uhuk...

Karena percuma saja, pada akhirnya akan mati juga. Ya, kan?
Offline Profile Goto Top
 
Exodus Kruchev
Member Avatar

DISTRIK 2
HP: 95 || POSISI: 7
TARGET: Stephanie White (D9) & Kevin Fremunzar (D9) || AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] & [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] || KS: [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] & [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result]
4 kotak biskuit



Cornucopia sudah penuh manusia. Karier dan non-karier. Berebut pasokan yang disebut-sebut sebagai perpanjangan hidup selama di Arena atau lebih tepatnya menyerahkan hidup kepada kematian, sementara Capitol dan Panem menyaksikan setiap gerak-gerik peserta di luar sana. Kalian senang ini terjadi? Kalian memang menginginkan pembantaian berdarah pada empat puluh delapan peserta, bukan? Mau menghindar dari semua ini terdengar percuma. Tidak ada jalan mundur dari sini karena tujuan rangkaian permainan ini hanya membunuh atau dibunuh dan pemuda ini lebih memilih pilihan pertama.

Siku lengannya diarahkan ke leher perempuan bermarga White. Hendak membuat alur pernapasan gadis itu tersedak akibat hantaman benda secara tiba-tiba. Tangan kosong atau bersenjata tidak ada perbedaan bagi Exodus. Yang penting, bisa membuat lawannya kesakitan atau terluka sudah cukup.

Pandangannya bergulir ke sekeliling areanya hingga kemudian menemukan seorang yang dikenalinya. Tungkainya bergerak mendekat ke salah satu rekan dari distrik yang sedang berkutat dengan pemuda Sembilan. Nah, tidak baik seorang perempuan melawan laki-laki sendirian.

“Maddy manis, butuh bantuan untuk menghajar pemuda ini, sayang?” Kekehannya terdengar dari balik wajahnya yang masih terkesan ramah untuk ukuran peserta Karier. Tanpa menunggu jawaban ya atau tidak, dipersilahkan atau tidak, Exodus memberikan sebuah tinjuan ke arah perut Fremunzar. Lantas, dia melihat wajah korbannya dengan ekspresi malaikat suci yang tak berdosa, meski faktanya dia mulai mencatatkan sederet daftar panjang berisi dosa. Berdosa. Ya. Sejak datang ke Capitol, pemuda ini sadar dia akan memperpanjang daftar dosa duniawinya. Dia sudah berdosa sejak awal, apalagi yang bisa dilakukannya selain itu? Menyucikan diri alih-alih menambah tumpukan dosa yang ada.

Kruchev ini senang, tahu. Begini rasanya membunuh, berhadapan dengan kerumunan lawan lemah, sampah buangan yang tak digubris Capitol? Pantas saja cuplikan wajah di balik layar kaca setiap tahun memperlihatkan tanda barbar, bengis—binatang. Senyumnya terukir kembali.
Offline Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
ZetaBoards gives you all the tools to create a successful discussion community.
Learn More · Register for Free
Go to Next Page
« Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic »
Locked Topic


Theme design by Drama, theme coding by Lewis. of Outline and edited by Ntin, Ubi, and Ilma.