Welcome Guest [Log In] [Register]

MAY THE ODDS BE EVER IN YOUR FAVOR



[ INACTIVE ]
TERM 9: 2193 - 2194




[+] Topik AU: 4/5
[+] Visualisasi Asia: 3/3
[+] Capitol: 5/5
[+] Distrik Satu: 4/5
[+] Distrik Dua: 4/5
[+] Distrik Empat: 5/5
[+] Distrik Tiga Belas: 2/5
[+] Balita/Dewasa: 5/5



IndoCapitol


TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL
PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH
PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI
TRAINING CENTER || ARENA




Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain.

PEMENANG
HUNGER GAMES 54



{DISTRIK 1}



KREIOS EPHRAIM


MUSIM PANAS



21,3° - 23,6° C
21 Juni - 20 September
Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan.



WAKTU INDONESIA BAGIAN BARAT (JAKARTA)




Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

TWITTER & CHATBOX


Twitter
Chatbox



FORUM LOG
Waktu Update
Sabtu, 11 April 2015 Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out!

PEMBERITAHUAN
Kepada Informasi
Semua Member Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum
Semua Member Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2)
Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda.

Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru.

Bergabunglah bersama kami!

Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum:


Username:   Password:
Locked Topic
Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA
Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,764 Views)
Redemptus Maleveich
Member Avatar

Posted Image

Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala.

Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan.

Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena.

Empat puluh lima detik.

Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus.

Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi.

Tiga puluh detik.

Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa.

Lima belas detik.

Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian?

Terlambat.

KABOOM!

Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian.


Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol.
Offline Profile Goto Top
 
Replies:
Stephanie White
Member Avatar

DISTRIK 7 || HP: 68 || POSISI: 7
TARGET: DISTRIK 2 [Pietronella Hart] || AP: [result]3&3,1d9,0,3&1d9[/result] || KS: [result]11&11,1d24,0,11&1d24[/result]
(ransel sedang, kompas, pisau, satu set panahan)


Kanibal. Arena ini benar-benar diciptakan tanpa memandang rasa manusiawi, sejak awal tidak ada yang namanya pertemanan. Jelas saja merasa pemangsa paling hebat itu ya distrik karier. Harusnya dia menyelipkan ratusan o di tengah huruf w. Kemudian memasang wajah terkejut di dramatisir apalagi ketika keduanya berduet mengincar Eve sebagai daging steak. Mungkin dengan siraman saus lada hitam dia akan terlihat begitu seksi. Hart akan sangat iri begitu melihat Exodus menyantapnya lebih dulu, ambigu. Terserah, ia sedang melupakan kekhawatirannya, ini tidak baik. Bila ia merasa ketakutan, maka Eve tak akan bisa bergerak, ia akan terus dihukum oleh ketakutannya sendiri. Lagi-lagi serangannya gagal, ia mendecak kesal sementara keduanya semakin gencar menyerang.

Dia tidak mengerti, harus ya mereka berduet untuk menyerang satu orang? Kenapa harus berduet? Masih banyak sasaran lain selain Eve, ia memang tidak bisa berharap banyak selain melawan keduanya. Satu menggunakan senjata senapan angin, satu lagi lebih bar-bar menggunakan tombak. Hart persis malaikat penjaga neraka hanya saja tubuhnya lebih kurus karena kekurangan energi.

Eve kembali merunduk, membelakangi Hart dan melompat berguling menghindari serangan lain. Menggeleng sejenak, ia tidak mengerti—mulai sekarang ia mendapatkan lawan yang tidak seimbang, dia salah apa pada dua orang ini? Apakah Eve pernah mencampuri urusan rumah tangga mereka hingga ia pantas menerima hukuman sebagai orang ketiga? Tidak, pikiran itu jauh sekali—bahkan ia tidak tahu kalau keduanya sudah melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.

Sudah selesai meracaunya?

Lagi, ia berusaha menghindar. Mengambil pisaunya yang terjatuh di tanah, menggenggamnya erat, ia tidak peduli sekalipun Hart akan menghujamkan tombak itu ke jantungnya langsung, yang penting ia sudah berani melempar kembali pisau itu ke arah ulu hati si benang jahit.
Offline Profile Goto Top
 
Ethan Nestor
Member Avatar

DISTRIK 4 || HP: 96 || POSISI : 6
TARGET: (off roll) || AP : - || KS : -
Tombak, 2 Pistol udara, 1 air minun

Senyum terukir di wajah Ethan ketika serangannya berhasil. Rasanya menyenangkan begitu melihat lawan terluka. Oh, beginikah rasanya membunuh seseorang? Seperti inikah kebahagiaan ganjil ketika melihat orang terluka? Sebenarnya Ethan tidak pernah diajarkan umtuk dendam pada orang. Ia dilahirkan dari keluarga yang mencintai kedamaian. Pun dengan lingkungannya, yang mayoritas adalah orang-orang yang tidak pernah memusuhi orang lain. Apalagi dengan dua sahabat yang amat menyayanginya, adalah bukti bahwa Ethan Nestor bukan seorang penjagal, kan?

Namun yang seperti ini rasanya berbeda.

Lagipula keadaan ini adalah sebuah paksaan, jika ia ingin pulang hidup-hidup.

Tetapi lihatlah wajah seorang Ethan Nestor yang terlihat puas. Seringainya mengerikan, berbeda dari yang ditunjukkan sehari-hari. Ia memandang Nigel yang mengeluarkan darah akibat serangan tombaknya. Pun dengan serangan pada Yasmine yang berhasil. Ia puas. Pegangannya pada tombak semakin erat. Setelah ini ayunannya akan lebih pasti. Sebenarnya lebih menyenangkan jika memakai pedang. Merobek leher lawan hingga mengucurkan darah. Melihat cairan berbau anyir keluar bak sungai. Ah, kenapa Ethan malah mengharapkan hal itu?

Pemuda itu kembali berlari, menghindari siappun yang menyerangnya, termasuk Yasmin yang berhasil menembakkan peluru ke hidungnya. Tombak di tangannya seakan senjata dewa kematian, dan dirinya seolah berubah menjadi pencabut nyawa yang mengerikan. Bengis. Siapapun siap ia tumbangkan, jika bayarannya adalah pulang ke rumah dan kehidupan yang jauh lebih baik.

Ia masih berlari sambil memegang hidung yang banyak mengeluarkan darah. Berusaha menghentikan pendarahan. Untung serangan kedua gagal. Sampah.
Offline Profile Goto Top
 
Colleen Roosophire
Member Avatar

Distrik 1 | HP:100 | Posisi: 8
Target: co D12(Floyd) dan ce D6(Caroline) | AP: [result]8&6,1d10,2,8&1d10+2[/result] | KS: [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result] dan [result]13&13,1d24,0,13&1d24[/result]
Barang yang diambil: kompas dan sepotong dendeng


Lari. Jangan lihat belakang. Pokoknya dapat senjata dulu. Soal bertahan hidupnya, nanti dulu.

Entah mengapa, tungkainya berhenti di depan senjata yang bukan keinginannya, kapak. Padahal jika ditanya senjata apa yang ia inginkan, tentu ia akan memilih pisau atau panah. Bukan kapak. Sebuah senjata berat.

Acuh-tak acuh, ia mengambil semua benda yang ia lihat di depannya; kompas dan sepotong dendeng. Tidak lupa dirinya dengan lincah mengambil sebuah ransel berukuran besar.

Maniknya melihat peserta-peserta lain yang saat ini berada di sekitarnya. Ada Hada Atala, pemuda dari Dua Belas, dan gadia dari Enam. Colleen tidak perlu mengkhawatirkan Hada Atala, sebab pemuda itu adalah sekutunya. Itu artinya dirinya hanya perlu membantai pemuda Dua Belas itu dan gadis Enam itu. Kalau tidak salah, nama pemuda Dua Belas itu Floyd dan gadis Enam itu Caroline. Kasihan sekali mereka musti bertemu gadis Roosophire itu.

Baru saja mulai, Hada sudah teriak-teriak minta tolong bantuan pada Colleen. Padahal gadis itu sedang senang-senangnya melihat pertarungan ketiga orang yang berada di dekatnya. Pemuda Atala itu patut dipuji. Seluruh serangannya mengenai kedua sampah itu terus. Niat awalnya ia hanya ingin menonton pertunjukan Hada menghajar kedua sampah itu.

"Hai!" ucapnya memberi salam pada Floyd itu. Lalu tangan kanannya yang sudah dikepal, diayunkannya. Menonjok perut Floyd. "Floyd kan? Sakit enggak?" tanyanya ditutupi senyuman manis.

Setelah itu tungkainya berlari ke gadis bernama Caroline itu. "Hai! Caroline?" Lalu tangan kanannya membentuk kepalan dan menonjok ke arah pipi gadis itu.

Semoga saja serangannya sakit.


Maaf lama -_-"
Offline Profile Goto Top
 
Yasmine Silvertongue
Member Avatar

DISTRIK 10 || HP: 55 || POSISI: 6
TARGET: DISTRIK 3 (irvette;pistol)|| AP: [result]2&2,1d9,0,2&1d9[/result] || KS: [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result]
empat bungkus dendeng sapi[[/enter]

Gila. Ada jimat apa yang dimiliki cowok itu? Yasmine Silvertongue seorang gadis penuh perhitungan rasanya semakin menyia-nyiakan waktu bermain adu kekuatan dengan cowok bernama Ethan Nestor tersebut. Nama, pft. Bagi gadis Silvertongue mereka semua sama saja, mereka semua sudah punya nama yaitu kawanan Karier. Seperti sebuah kelompok kecil di sekolah berisi anak-anak dengan kegemaran yang sama, sebuah geng. Ini geng? Dua belas orang? Get real, semua disini semu.

Bukan hal yang mengejutkan lagi jika nanti mereka akan memutuskan ikatan oh-so-aliansi tersebut ketika jumlah peserta semakin berkurang. Sedangkan Yasmine dengan Freida dan Tume, rasanya ia akan berpikir sepuluh kali lipat terlebih dahulu jika ia berniat untuk mengkhianati rekannya. Hanya mereka yang ia miliki, hanya mereka yang sejauh ini dapat ia percayai.

Kembali dengan fokus utamanya. Fokusnya ia posisikan untuk tiga orang disini. Kali ini, ia berusaha kembali menyingkirkan si gadis dari Tiga. Mereka tidak saling kenal, tidak apa juga jika ia berusaha mengurangi peserta, toh? Meskipun artinya ia membantu si pemuda dari distrik Dua. Dilema sekali. Yasmine menubruk gadis dari Tiga itu, kemudian menargetkan wajahnya agar menerima lebam dan memar karena gagang pistol udara tak beramunisinya. Berhasil, tolong. Mati saja, tolong.
Offline Profile Goto Top
 
Madeleine Lethbridge
Member Avatar

DISTRIK 2
HP: 95 – 6 (Patricia Brown) - 3 (Kevin Fremunzar) - 4 (Patricia Brown)|| POSISI: 5
TARGET: DISTRIK 3 (Patricia Brown) & DISTRIK 9 (Kevin Fremunzer)
AP: [result]11&9,1d10,2,11&1d10+2[/result] || KS: [result]15&15,1d24,0,15&1d24[/result] & [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result]
2 pistol udara dan 2 botol madu




God bless Kevin Fremunzar. God bless Kevin Fremunzar.

“Aku mulai berpikir kalau kamu punya mantera khusus dari Tujuh.”

Memandang tajam, ia menuduh habis-habisan. Beberapa kali serangannya gagal telak di depan pemuda itu. Dan Patricia Brown, well, malah berulang kali terkena serangannya dengan begitu sempurna dan manis. Si nakal kini berganti rupa, ternyata. Dari Patricia Brown menjadi Kevin Fremunzar yang tadi padahal terlihat lemah sekali dan tidak bisa apa-apa. Ho, mungkin yang tadi adalah tipuan. Kau tahu, semacam jebakan agar lawan menganggapmu lemah sebelum lantas menggunakan kekuatan yang sesungguhnya. Yang tersembunyi, yadda-yadda. Licik benar, kalau memang begitu.

“Tiga, masih mau lanjut?” dengan murah hati, ia mengajukan pertanyaan. Yang retoris sebetulnya. Karena sebelum si Tiga sempat menjawab, kembali ia layangkan sebuah jambakan serta baku hantam tepat di pipi kiri gadis tersebut. Jangan menganggapnya monster atau macam-macam. Ia cuman gadis biasa, sungguh. Kalau kamu kenal dia jauh sebelum ini, kamu akan tahu seberapa lemah dirinya. Seberapa dia sebetulnya adalah gadis dengan level ketakutan amat tinggi. Tapi pahamilah—Madeleine juga sama sepertimu, dia mau hidup, dia mau punya anak banyak dan menikah dengan orang yang ia cintai sepenuh hati. Maka, mati di tempat ini adalah satu dari banyak hal yang tidak sudi dia lakoni.

Beralih dari Patricia Brown, ia kembali pada si Tujuh. “Kamu harus belajar menghargai perempuan, hei,” dan belum menyerah Madeleine menendang Kevin Fremunzer. Kali ini di perut sebab trauma akan kegagalan yang tadi. Kalau masih gagal lagi. Madeleine sehabis ini mau menggunakan pisau untuk menusuk mata Kevin Fremunzer. Janji.
Offline Profile Goto Top
 
Pinoy Annelli
Member Avatar

DISTRIK 5 || HP: 75 || POSISI: 1
TARGET: DISTRIK 10 (Tume Tinkham) || AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result]
satu kotak biskuit, satu tempat minum kulit, satu belati, satu bungkus dendeng



Napasnya memburu saat ini. Dia baru saja melakukan serangkaian kehgiatan yang begitu tidak bermakna—karena tidak melukai. Ingin rasanya berteriak dan mengamuk. Aidy di dekatnya tampak diserang oleh perempuan dari distrik satu. Pinoy ingin menolong tetapi tidak bisa. Dia sedang sibuk. Ada dua orang yang bila dirinya lengah sedikit saja akan langsung membunuhnya. Dan ini sama sekali tidak kerena. Apa kabar dua orang dari distrik lima lainnya? Pinoy hanya berharap mereka baik-baik saja karena di tempat macam begini mereka akan sulit saling menolong.

Pemuda berambut cokelat kemerahan ini menelan ludah. Sudah berapa lama permainan dimulai dan tampaknya banyak darah sudah mengalir di berbagai penjuru. Pinoy tidak tahu siapa yang sudah tumbang dan siapa yang tertawa di baliknya. Perasaannya tidak keruan untuk saat ini. Firasatnya mengatakan udara sudah bau anyir darah. Pasti ada yang sudah tewas. Lalu, dia hanya berharap itu bukan rekan satu distriknya karena Pinoy tidak ingin kehilangan mereka di awal permainan. Juga dia berusaha untuk menjaga dirinya agar tidak terluka sehingga berhasil menghindar dari serangan balasan milik Shinzo.

“Enyahlah kau!”

Pinoy menggeram dan menggunakan ujung belatinya untuk membalas serangan terakhir milik Shinzo tetapi entah mengapa dia lebih tertarik untuk menikam Tume dari belakang. Ya, Tume yang sedang asyik mengerjai pemuda bertubuh kekar dari distrik sebelas itu.

Sialan.

Anak itu rupanya mengira mereka ini payah.
Edited by Pinoy Annelli, Saturday Jun 1 2013, 08:02 PM.
Offline Profile Goto Top
 
Flavea Vorfreude
Member Avatar

DISTRIK 1 || HP: 95 || POSISI: 4
TARGET: Adina Erasto & Aidy Joselyn || AP: [result]5&3,1d10,2,5&1d10+2[/result] || KS: [result]24&24,1d24,0,24&1d24[/result] & [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result]
3 Lembar Plastik dan 1 Pasang Kaus Kaki
Diserang: Adina Erasto


Ia membuka matanya dan tangannya menepuk-nepuk kepala Floryn, seperti yang dahulu sering dilakukan ibunya kepadanya. Menepukan tangan kepala sudah semacam menjadi tanda kasih sayang, baginya. Apa yang ia ketahui sekarang kebanyakan adalah ajaran ibunya, termasuk cara mengontrol dirinya sendiri jika ia merasa marah. Terkadang kontrol diri adalah sesuatu yang baik, itu dapat memberikan sesuatu yang positif. Itu yang dikatakan oleh ibunya, maka ia berusaha menarik nafas dan kemudian ia tersenyum. Tersenyum terpaksa, memang, namun setidaknya ia berhasil tersenyum. Senyum ada sesuatu yang baik.

Ia menghindari tendangan dari gadis lawannya, mengelak dengan menundukan badan. Lucu, tak ada senjata yang mereka gunakan. Tubuh mereka adalah senjata mereka, membuat pertarungan ini menjadi pertarungan yang terasa adil. Tinju di lawan tinju, tendangan di lawan tendangan. Tak ada belati yang menggores, tak ada kapak yang menghancurkan tengkorak, tak ada pedang yang menusuk.

Flavea, meski seorang karir, namun tak memiliki kemampuan karir.

Semuanya murni keberuntungan dan ia berusaha mensyukuri keberuntungan tersebut. Ia bergerak lagi menjauh dari Floryn dan kemudian kakinya bergerak untuk mencekal keempat kaki lawan-lawannya agar mereka terjatuh. Sejauh ini benar-benar tak ada darah dan bersih. Ia mensyukuri hal tersebut. Setidaknya belum ada darah di tangannya meski ia tak sepenuhnya bersih.

Ia menarik nafas dan mengepalkan tangannya, berusaha membangun keberanian dan ketekadannya. Ia merasa bahwa ia sudah menemukan keinginan mana yang akan didahulukannya.

Kemampuan untuk bertahan.
Offline Profile Goto Top
 
Kristeen Franscois

DISTRIK 8 || HP: 45 || POSISI: 6, TARGET: Zephaniah Lore – D1 || AP: [result]3&3,1d9,0,3&1d9[/result] || KS: [result]20&20,1d24,0,20&1d24[/result]
1 bungkus dendeng sapi, 1 lentera, 1 kotak biskuit, 1 tempat minum kulit



Ia tersungkur ke tanah, matanya berkunang-kunang seperti disorot lampu tembak dengan watt besar, kepalanya pusing, benar-benar pusing. Ia baru sadar ketika meraba lehernya dan mencabut jarum dengan obat bius yang ditembakkan Lore dengan senapan udaranya. Ia tidak bisa fokus, segalanya seperti berputar. Badannya melemah, hampir mati rasa malah. Beberapa detik berlalu tapi selama itu juga visualnya semakin buruk. Yang ia dengar hanya suara bocah setan itu. Dia terkekeh seperti tukang jagal.

Suara-suara hantaman, atau tikaman, tusukkan, pukulan, ah, membuatnya mual. Bau anyir darah di sekelilingnya membuatnya muntah.

Wajahnya pias, ia hampir kehilangan kesadaran tepat ketika bayangan Lore yang mengayun kapak memaksanya untuk bergerak, tapi mustahil, keadaannya bukan untuk menghindar. Tubuhnya lemas karena efek obat bius yang ditembakkan pistol udara barusan.

“Ahhh...”

Air matanya muncul tanpa ia inginkan. Kakinya hangat karena darah mulai mengalir dari luka yang menyakitkan tepat di betisnya. Ia ingin menjerit sekencang-kencangnya tapi suara teriakkan itu tidak muncul. Tangannya meronta-ronta, berusaha menggapai bagian tubuh Lore yang mana saja yang bisa diraihnya.

Matanya melihat Urie Tommy berusaha menikamnya dengan belati tapi sayang Kristeen terlanjur menghindar.

Teriakan lain. Lore kembali menganyunkan kapaknya...

“Kau tak pantas hidup Lore,”

Menyayat bagian yang sama.

“AAAAAHHH.............”

Tangannya meraup tanah kering yang tercukil dari bawah rumput tempatnya berbaring kesakitan, perlahan kesadarannya mulai pulih karena rasa sakitnya yang melebihi efek obat bius. Dengan cepat tanah itu dilemparkan ke wajah Lore agar pengelihatannya terganggu, lantas ia bergerak meraih batu yang sempat digunakannya untuk dilemparkan ke bagian kepala bocah itu.

Offline Profile Goto Top
 
Kevin Fremunzar
Member Avatar


Distrik 9 ||HP 41||Posisi 5
Target : Madeleine Lethbridge: |AP= [result]7&7,1d9,0,7&1d9[/result] | KS= [result]22&22,1d24,0,22&1d24[/result] |
1 tempat minum kulit, 2 Kotak Biskuit, 1 Kantung Tidur



Hahaha

Lihat .. Lihat. Meski darah segar yang mengalir ditangan Kevin, ia masih cukup tenaga untuk mencekik leher mungil si kancil. Sekarang kancil licik telah berada dalam genggaman Kevin. MAti, mati, bunuh bunuh. Entah dimana kata-kata tersebut terngiang-ngiang dikepalanya seakan ada maniak pembunuh yang merasuk jiwa Kevin. Ia memejamkan matanya menikmati setiap teriakan yang mungkin keluar ketika seseorang dalam keadaan tercekik.

Baru saja ia menikmati kesenangan mencekik bahkan ia sudah Menganalogikan dan Membayangkan bahwa kancil yang sudah berada dalam tangannya ini adalah pimpinan Capitol. Pahanya sudah tertusuk oleh belati yang sama membuat ia berteriak dan mengerang kesakitan. “aaarghhhhhh. Gadis Brengsek!” Setelah berhasil menghindari serangan bertubi-tubi yang diberikan gadis ini, Kali ini ia mengempalkan tangannya, berusaha meninju rusuk gadis ini tanpa ampun dengan niat mematahkan beberapa rusuk hingga gadis ini tak dapat bergerak.

Dalam hitungan menit saja, tangan dan pahanya sudah terluka. Kevin masih tidak dapat membayangkan apa yang terjadi pada menit berikutnya. Semangat untuk hidupnya entah kenapa perlahan-lahan memudar sebanding dengan kucuran darah yang mengalir pada tangan dan kakinya. apakah ia dapat berhasil bertahan atau malah dewa kematian akan segera mengambil nyawanya dan meninggalkan jasadnya bergelimpangan bersama jasad-jasad lainnya.

Offline Profile Goto Top
 
Yasmine Silvertongue
Member Avatar

DISTRIK 10 || HP: 55 || POSISI: 6
TARGET: DISTRIK 4 (CO;pistol)|| AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result]
empat bungkus dendeng sapi[


Ia pontang-panting. Seperti pendekar juga tidak pantas menjadi sebutan baginya. Melawan dua Karier dan satu gadis dari Tiga yang tampaknya sudah pasrah untuk mati, ya? Lambat laun ia mungkin jadi berpikir dengan cara para Karier—dan itu menajiskan—bahwa yang tinggal disini adalah mereka yang mau berjuang sampai titik darah penghabisan. Bukan hiperbolis, tetapi untuk mencapai suatu tujuan, sudah lazim untuk berusaha daripada hanya duduk diam berpangku tangan.

Gadis itu menyeka keringatnya. Masih terus berusaha mengabaikan sakit di berbagai tempat. Luka yang membuat kepalanya pening. Peluh yang menetes tiada henti dan terkadang membuat matanya mengerjap akibat menerima asin likuid itu. Sejauh ini belum ada dentum meriam. Wow, sehebat itu kah kemampuan bertahan dan bertarung seluruh peserta di Arena? Ini gila saja. Berapa banyak waktu yang mereka miliki sebelum Capitol mendadak bosan dan muttan mulai dikeluarkan? Sejauh ini belum pernah ada muttan yang beraksi kala Bloodbath berlangsung, tetapi selalu ada yang pertama kali.

Ia tidak ingin membayangkan hal yang macam-macam. Kini masih dengan pistol udaranya, Yasmine meninju wajah target, kemudian memukul tengkuk targetnya dengan pistol tersebut. Pistol kuat, tidak akan rusak. Kini setidaknya berhasil. Ia sangat berharap bisa pergi dengan damai dan hidup-hidup dari lapak biadab ini.


itu...Ethan HP minus 4 darimana?
Offline Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Enjoy forums? Start your own community for free.
Learn More · Register for Free
Go to Next Page
« Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic »
Locked Topic


Theme design by Drama, theme coding by Lewis. of Outline and edited by Ntin, Ubi, and Ilma.