Welcome Guest [Log In] [Register]

MAY THE ODDS BE EVER IN YOUR FAVOR



[ INACTIVE ]
TERM 9: 2193 - 2194




[+] Topik AU: 4/5
[+] Visualisasi Asia: 3/3
[+] Capitol: 5/5
[+] Distrik Satu: 4/5
[+] Distrik Dua: 4/5
[+] Distrik Empat: 5/5
[+] Distrik Tiga Belas: 2/5
[+] Balita/Dewasa: 5/5



IndoCapitol


TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL
PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH
PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI
TRAINING CENTER || ARENA




Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain.

PEMENANG
HUNGER GAMES 54



{DISTRIK 1}



KREIOS EPHRAIM


MUSIM PANAS



21,3° - 23,6° C
21 Juni - 20 September
Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan.



WAKTU INDONESIA BAGIAN BARAT (JAKARTA)




Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

TWITTER & CHATBOX


Twitter
Chatbox



FORUM LOG
Waktu Update
Sabtu, 11 April 2015 Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out!

PEMBERITAHUAN
Kepada Informasi
Semua Member Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum
Semua Member Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2)
Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda.

Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru.

Bergabunglah bersama kami!

Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum:


Username:   Password:
Locked Topic
Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA
Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,762 Views)
Redemptus Maleveich
Member Avatar

Posted Image

Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala.

Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan.

Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena.

Empat puluh lima detik.

Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus.

Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi.

Tiga puluh detik.

Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa.

Lima belas detik.

Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian?

Terlambat.

KABOOM!

Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian.


Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol.
Offline Profile Goto Top
 
Replies:
Kyle Blackthorn
Member Avatar

DISTRIK 8 || HP: -4 || POSISI: 4
TARGET: Floryn Lee (D4) || AP: - || KS: -
1 belati, 1 kotak biskuit, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit


Setelah melakukan selebrasi gila-gilaan, serangannya tidak kena lagi.

Mungkin Kyle tidak boleh bahagia saat berada di arena ya. Soalnya setiap kali dia terlihat gembira, dengan senyuman lebar dan penuh keceriaan, serangannya malah gagal. Harusnya dia bersedih, suram, menyesali hidupnya dengan menggambar hangman di atas tanah menggunakan ranting. Membayangkan dirinya akan seperti itu, padahal ya tidak mungkin juga. Bagaimana caranya dia digantung kalau di sini tidak ada tiang gantungan? Tempat ini begitu indah hingga awalnya sulit untuk percaya bahwa di sinilah mereka akan saling membunuh. Sulit, sangat sulit untuk dipercaya. Dia baru mempercayainya ketika darah mulai tertumpah. Rerumputan hijau mulai berwarna merah. Suasana tidak setenang awalnya. Angin sepoi-sepoi tidak lagi terdengar karena adanya pertempuran di mana-mana. Menyedihkan sekali tempat seindah ini harus dijadikan tempat pembantaian massal.

Malah baru saja, kalau tidak salah dengar, bukan suara angin yang sepoi-sepoi bertiup, bukan suara daun yang bergesek menenangkan, tapi suara meriam, pertanda bahwa ada seorang lagi yang telah tewas. Meriam ketiga. Menyedihkan sekali ya. Seorang lagi telah tewas. Entah siapa, dia juga tidak tahu. Memangnya dia kenal semua orang yang ada di arena? Tidak. Sama sekali tidak. Dia hanya kenal beberapa. Orang-orang yang dianggapnya baik, orang-orang yang dikategorikannya sebagai jahat. Hanya tahu, tidak mengenal. Bahkan ada beberapa yang tidak diketahuinya sama sekali.

"Eh, namamu siapa ya? Dari tadi kita serang-serangan tapi tidak tahu nama. Aku Kyle."

Senyumnya kali ini samar-samar. Antara mau tertawa bahagia atau suram. Soalnya dia cemas, kalau dia tertawa dan tersenyum lebar-lebar, serangannya tidak kena. Kalau dia suram kan serangannya bisa kena. Jadi dia pasang senyum suram, miris, sedih, galau, semacam itu. Semua yang dilakukannya ini hanya punya satu tujuan, supaya serangannya kena dan supaya serangan anak kecil ini pada dirinya tidak kena. Kombinasi yang sangat bagus bukan? Iyalah, dia capek juga kalau kena serangan terus. Sakit, coy.

Tangannya yang tidak memegang belati terulur untuk menepuk-nepuk pucuk kepala anak kecil ini dengan lembut.

"Kamu manis kalau tidak main serang begini. Maaf ya."

Senyumnya galau sekali.

Terus serangan dari anak kecil ini kena lagi. Sedih ya, serangannya tidak kena-kena, serangan anak kecil ini kena terus. Mungkin dia harus jadi kecil dulu baru serangannya bisa kena. Tapi ya masa dia jadi kecil dulu.

Kemudian senyumnya melebar.

"Kudoain kamu cepat mati, Floryn Lee. Aku gentayangin kamu. Aku teror kamu. Kalau kamu hidup, kalau kamu menang, kamu tidak akan hidup tenang. Kamu akan jadi gila."

Lalu berlari mendekati Freida.

"Freida! Selamat berjuang ya!"

Kecup singkat pipinya Freida sambil tersenyum lebar.

Lalu dia membaringkan diri di atas rerumputan. Matanya terpejam. Tangannya disatukan di atas perut. Ya, seperti layaknya tokoh film-film, di mana si tokoh bisa melakukan banyak hal sebelum dia tewas, begitu juga Kyle Blackthorn. Bolehlah tahu bagaimana rasanya mengutuk orang dan bagaimana rasanya mengecup pipi seorang gadis dewasa.

TEWAS. Hai, Floryn : ) Hai, Freida :") #Kyle
Offline Profile Goto Top
 
Floyd Ordyn

DISTRIK 12 || HP: 0 =)) || POSISI: 2
TARGET: - || AP: - || KS: - (udah mati, weeek~)


Sudah cukup. Please berenti menyiksa Floyd. Ia mau menikmati detik-detik terakhirnya mencium wangi bunga-bunga memabukan yang mencemari udara di arena ini.

Tolong kepada peserta dari distrik mana itu dirinya tidak memperhatikan, Colleen bala bala, berhenti menonjok perut orang yang sudah mati. Percuma nona, bagai menggarami laut. Lebih baik kau tonjok lelaki dengan dua kapak ditangannya yang sudah berani menghabisi nyawa pemuda dekil dari Dua Belas ini.

Jadi seperti ini rasanya sekarat. Saat dimana pikiran dan hati mu jadi aneh, tidak bisa dideskripsikan, hanya bisa dirasakan. Jadi seperti ini rasa yang dirasakan Alph sahabatnya itu ketika mati diseruduk Mutt. Semoga saja setelah ini Floyd mendapat tempat yang lebih baik dari arena jahanam ini, lebih baik dari Dua Belas yang penuh dengan abu batu bara.

Untuk mom & dad, maaf kalau Floyd tidak bisa pulang. Maaf kalau Floyd mati, sepertinya tugas untuk memberi makan dan mengganti sempak kambing harus dialihkan kepada mom & dad. Jangan sedih juga kalau nanti hanya tinggal berdua di rumah. Bikin saja anak baru lagi dan berdoa jangan terpilih untuk ikut mainan macam ini, eh.

Untuk Kath, maaf ya kalau Floyd tidak bisa memenuji janjinya untuk melindungi dirimu. Sepertinya mulai saat ini Kath harus bisa menjaga diri sendiri. Floyd akan menunggu di khayangan bersama dengan Alph. Berjuang ya!

Untuk tribute distrik Enam, teman seperjuangan melawan putra duyung, semoga kamu bisa bertahan. Kalau kuat ya ayo sini bareng Floyd kita pergi ke kayangan untuk kumpul bersama para tetua.

Dan untuk putra duyung dari Empat, opo kowe?!


Hanya hal itu yang terpikir oleh Floyd saat itu. Sekarang ia sudah pergi. Tenang meninggalkan para tribute yang lain, peace out.

Offline Profile Goto Top
 
Jester Holt

DISTRIK 2 || HP: 95 - 5 (Irvette) = 90 || POSISI: 5
TARGET: DISTRIK 11 (Nigel) & DISTRIK 3 (Irvette) || AP: [result]4&2,1d10,2,4&1d10+2[/result] || KS: [result]16&16,1d24,0,16&1d24[/result] & [result]17&17,1d24,0,17&1d24[/result]
2 Pistol Udara, 1 Kapak, 1 Belati



Birunya menyapu pemandangan yang terhampar di depannya. Awalnya, ketika tabung aneh itu melambungkan tubuhnya ke atas, ia menganggap bahwa landscape tersebut tanpa cela, terlalu sempurna, dan membuatnya kagum serta sedikit takut. Sesuatu yang sempurna selalu berakhir tak bagus. Namun kini —entah menit keberapa ia berada di sini— baru ia merasakan kesempurnaan yang mengerikan dari landscape ini. Keindahan yang membutuhkan pembasmian sebagai penyeimbangnya.

Para kawanan liarnya tengah mengambil peran masing-masing. Tak ada kecurangan yang terjadi sekarang, hanya sebuah penegasan bahwa yang kuatlah yang menang. Inilah hukum rimba meskipun secara harfiah mereka sedang tak berada di rimba. Hukum itu fleksibel bisa terapkan dimana saja.

Pemuda berkulit gelap itu terlihat semakin menyedihkan. Rambut bergelombang yang terkembang sempurna itu telah sedikit berbentuk bulat karena kapak yang bermain di kepala pemuda itu itu. Lihat? Pemuda ini memang bagian dari sekumpulan tikus got yang terlalu takut untuk mati namun tak bisa berbuat apa-apa. Kapaknya kembali menancap di tempurung kepala pemuda itu, mendiamkan disana sejenak sebelum kembali mencabutnya. Biarlah pemuda ini sedikit menyesapi penderitaan manis yang diciptakan pemuda ini.

“Puas dengan rambut barumu, teman?”

Dicabutnya kapak itu sehingga kembali melebarkan daging yang terbuka di tempurung kepala lelaki itu. “Kematian hanya terasa sakit diawal, namun indah pada akhirnya.” Kemudian kembali membenamkan kapak itu ke tempurung kepala pemudanya.

Pemuda ini akan dibuatnya seperti kayu bakar, yang akan terbelah oleh kapaknya.

Atensi kembali terganggu oleh gadis yang ada di dekatnya, melihat gadis itu membangkitkan rasa perih pada bagian vital tak terlindungnya. Sudahkah ia mengatakan bahwa para gadis memiliki evolusi tercepat ketimbang para lelaki? Susunan genetika pada darah mereka berubah seiring berkembangnya jaman. Etika leluhur yang seharusnya mereka amalkan, malah mereka tinggalkan. Sosok manis semanis gulali berubah menjadi sosok penyuka kekerasan. Cih, seharusnya para gadis itu belajar siapa yang patut mengontrol mereka.

Dan, pernah terpikir olehnya bahwa evolusi tabiat perempuan tercepat dipegang oleh distrik dua, namun kali ini ia salah. Para gadis dari distrik lain juga memiliki kecepatan evolusi yang terus meningkat. Cih, kenapa para gadis menggenggam kelemahan bagian vitalnya namun kenapa para lelaki tidak.

Membunuh berarti bertahan. Bertahan berarti menang. Dan gadis yang mempunyai bibir abstrak di depannya sekarang adalah salah satu hama yang patut ia bunuh.

Belatinya yang tadinya gagal menciptakan lubang ketiga di hidung menjulang gadis itu, kembali ia lakukan. Gadis itu patut mati dalam keadaan konyol dan tolol. Atau gadis itu butuh lubang telinga baru di jidat mulusnya untuk dapat mendengar lebih baik lagi? Mungkin itu adalah ide bagus tapi akan dilakukannya lain waktu, setelah ia berhasil membuat lubang ketiga di telinga gadis itu.

Jester, bertahan tak berarti membunuh.

Bertahan tanpa membunuh akan menciptakan kematian konyol, mother.
Offline Profile Goto Top
 
Urie Tommy
Member Avatar

DISTRIK 1 || HP: 100 || POSISI: 6
TARGET: DISTRIK 8 (Kristeen) & DISTRIK 6(Altessa) ||
AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] || KS: [result]13&13,1d24,0,13&1d24[/result] & [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result]

Kenapa di tempat ini banyak ceweknya, coba. Urie kan jadi merasa bersalah. Merasa jadi pengecut, masa' ngelawan cewek terus. Dia tidak seliar Lore yang tega melakukan hal sekejam itu pada perempuan, ya. Tidak. Urie harus memejamkan mata dulu waktu kedua insan itu bertarung. Seram.

Ah, muncul bayangan darah di benaknya. Dia harus berperang.

"Aaaaaaaggghhh~!" Mau teriak sekeras apapun juga nggak akan kedengaran di tempat yang sedang ramai ini. Waktunya mencari lawan lagi... Oke, dia memang merasa bersalah pada gadis cantik dari Delapan ini, tapi apa boleh buat eh? Urie mengayunkan belati ke arah samping gadis itu, ketika matanya menangkap sosok korban lain.

"Maaf!" Jeritnya agak kencang sambil mengayunkan pisau yang ia genggam di tangannya yang bebas, mengayunkannya ke korban yang lain.

Perempuan lagi.
Offline Profile Goto Top
 
Yasmine Silvertongue
Member Avatar

DISTRIK 10 || HP: 55 || POSISI: 6
TARGET: DISTRIK 3 (irvette;pistol)|| AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result]
empat bungkus dendeng sapi[


Ia baru saja mendengar dentum meriam.

Dirinya?


Ia mati?

Tetapi ia masih dapat merasakan kehidupan melalui kelima panca indranya. Bukan, bukan dia. Ia masih hidup. Sungguh dentum meriam itu telah menghentikan detak jantungnya barang beberapa detik. Mengejutkan. Sudah ada yang mati, seharunya itu tidak mengejutkan. Mungkin karena selama ini Yasmine hanya menonton dari balik layar, tidak merasakannya sendiri. Tidak mendengarnya dengan sangat jelas sehingga seluruh bulu kuduknya merinding. Siapapun itu, Yasmine berharap ia tidak lagi menderita.

Kembali kepada target-targetnya. Oh Tuhan, sulit sekali melawan pemuda dari Empat dan gadis dari Tiga itu. Yasmine sungguh tampak membuang tenaga meski wajahnya tidak menunjukkan hal tersebut. Susah payah ia menyamarkan kelelahan yang ia alami. Kini Capitol butuh berapa nyawa lagi hm? Tidak mungkin hanya tiga atau lima, pasti mereka membutuhkan setidaknay dua digit. Yasmine mengukuhkan pikirannya, ia tidak ingin menjadi satu diantara mereka yang tumbang hari ini.

Pistol itu ia arahkan kepada si gadis dari Tiga. Mengincar tepat di bagian leher. Menimbulkan suara patah tulang tampaknya sangat baik, meski penerapannya mungkin takkan mudah. Tetapi tolong, Yasmine harus berusaha. Jika ia bisa melumpuhkan tiga orang ini, akan jadi baik hidup Yasmine di Arena. Setidaknya untuk beberapa waktu.
Offline Profile Goto Top
 
Adina Erasto
Member Avatar

DISTRIK 11

HP: 52 || POSISI: 4
TARGET: Flavea Vorfreude (DISTRIK 1)|| AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result]
1 belati, 1 dendeng sapi, 1 lentera, dan 1 tempat minum kulit




Bloodbaths
Darah siapa yang akan disumbangkan untuk memandikan para ksatria?

Adina kembali mengarahkan tendangannya pada si pirang karier yang sedari tadi mengarahkan pukulan ke arahnya. Tendangannya berhasil mengenai sasarannya. Kini Adina berhasil melepaskan diri dari wanita itu. Adina menggenggam dengan kuat belatinya yang baru ia ambil dari sakunya bersamaan ketika ia melancarkan tendangannya. Apakah Tuhan kini berpihak kepadanya? Atau itu memang murni karena usahanya sendiri?

Entahlah.

Seperti halnya peserta karier yang dikenal kegigihannya, ternyata wanita itu juga mewarisinya. Ia menerjang Adina sehingga tubuhnya jatuh terjerembab. Menimpa peserta lain yang bersama dengan dirinya ikut menyerang wanita karier berambut pirang.

Bersamaan dengan apapun dirinya saat ini yang jelas ia tahu, bahwa tidak ada yang bisa disebut sebagai manusia untuk saat ini di sini. Hanya naluri bertahan hidup yang saat ini telah merasuki seluruh peserta Quarter Quell. Jika naluri adalah sebuah roh, maka dapat dikatan bahwa Hunger Games kali ini, tepatnya di dalam bloodbaths telah terjadi kerasukan masal—48 peserta telah kerasukan.

Mungkin termasuk dirinya. Adina memantapkan hatinya, genggaman tangannya pada pisau belatinya semakin menguat. Ia memang tidak pernah suka olahraga, mungkin lemah dalam hal itu, tapi jika untuk membunuh untuk mempertahankan hidupnya maka ia pun bisa menjadi singa betina yang sedang kelaparaan. Adina kembali mengarahkan belatinya ke arah wanita karier dengan membabi buta.
Offline Profile Goto Top
 
Floryn Lee
Member Avatar


└(∵┌)└( ∵ )┘(┐∵)┘
DISTRIK 4 || HP: 80 O' MANTAB (*`д´)b || POSISI: 4 || AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result]
TARGET: KATHLEEN (D12) || KS: [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result]
TARGET: FREIDA (D10) || KS: [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result]
DUA BELATI, SATU TENDA BIRU & SATU PEDANG BERMATA GANDA


Dia sempat menghindar saat tinjuan itu melayang ke arahnya—mengenai pipinya dan memberikan luka disana. Ia mendesis. Matanya kemudian mendelik marah. Sejauh ini, tidak ada yang menyerangnya demikian. Floryn Lee bukan tipikal yang bisa terima begitu saja dengan semua hal yang menekannya semenjak hari itu—lagi dan lagi wajah sekarat kakaknya yang muncul. Mendesis pelan, ia kemudian meraih tangan lawannya, memuntirnya sampai sudut yang menyakitkan.

“Aku enggak pernah suka beberapa distrik,” tuturnya seperti sedang mendongeng—seperti yang akan dilakukan Alethea sebelum ia berbaring dan ditemani bunga tidur. Kesal, marah, murka, dan tidak suka; bahkan benci. Distrik bawah seperti yang satu ini tak boleh membuatnya lemah hanya karena—tunggu. Halvorsen? Halvosern yang itu?

Bagus sekali, ya. Siapa yang menyangka bahwa sejarah terulang kembali, eh? Sebuah seringai tanpa sadar ia tunjukkan seiring satu tinju melayang ke perut gadis itu. “Aku enggak suka distrik Dua.” Si kecil itu diberitahu rahasia kecil. “Terus distrik Sepuluh.” Semua masih berkaitan dengan kakaknya. “Dan Dua Belas.” Sebuah tendangan.

Dengan cepat, diambilnya pedang yang sempat diabaikannya, kemudian menghunuskannya tepat ke bagian ulu hati gadis itu. Halvorsen; terlebih nama itu. Floryn sama sekali enggak suka dengan semua distrik yang dulu pernah membuat Alethea menderita. Enggak suka sama sekali.

Kemudian pemuda yang menyerangnya dari tadi merebut atensinya. Ia berbalik dan menatap wajah itu. Ada perasaan bersalah dan lubang besar yang seperti akan menariknya jatuh. Setitik cairan bening asin kembali menyusuri pipinya. Mendekat, kemudian ia menutup mata itu untuk beristirahat selama-lamanya dengan telapak tangannya yang cukup bersih. Floryn Lee, tiga belas tahun, dan benar-benar sudah membunuh orang.

Fokus lagi. "Kau juga. Jangan diam saja. Kau seharusnya enggak disini!" Belatinya di arahkan ke lengan atas gadis lainnya disana.

Lihat, Capitol?

Dia. Tidak. Lemah.
Offline Profile Goto Top
 
Kristeen Franscois

DISTRIK 8 || HP: 39 || POSISI: 6, TARGET: Zephaniah Lore – D1 || AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result]
1 bungkus dendeng sapi, 1 lentera, 1 kotak biskuit, 1 tempat minum kulit



Ia menangis semakin kencang karena rasa sakit di kakinya yang begitu kuat. Dua kali kakinya dihantam kapak dan ia yakin luka di bagian sana begitu parah hingga ia bisa merasakan darah yang keluar semakin deras. Giginya bergemelatuk menahannya ketika ia coba untuk berdiri dengan susah payah dan meraih ranting runcing di atas hamparan rumput yang dinodai banyak darah.

“Ibumu akan sangat bangga anaknya menjadi pecundang sepertimu,” Wajah tolol itu membuatnya jijik hingga Kristeen berani meludahinya tepat disana. “Kau, kakakmu mati dan kau pikir...... Kau sialan!” Air matanya deras mengalir. Sungguh, sebetulnya ia ketakutan setengah mati. Ia tidak akan mampu melewan bocah itu dengan tenaganya yang sudah sekian banyak terkuras habis. Badannya lemas sekali karena banyak mengeluarkan darah.

“Hah.........” Nafasnya berat ketika bocah itu berada di atasnya dan mulai mencekik lehernya. “Hentikan Lore.....” Kristeen meronta-ronta ketika paru-parunya semakin kekurangan oksigen. “Kumohon hentikan, ini sakit...” Tangannya meraih rambu bocah itu dan menariknya kencang sekali hingga akhirnya terpaksa ia lepaskan karena ada satu hantaman keras di perutnya entah karena apa. Ia menggelepar seperti ikan kekurangan air, tangannya dibiarkan menyentuh bagian itu dan berusaha membalas.

“Kau kejam sungguh,”

Ia bergerak maju berusaha menusukkan ranting ke mata lawannya setelah berhasil menghindar dari serangan Urie dengan belatinya.
Offline Profile Goto Top
 
Madeleine Lethbridge
Member Avatar

DISTRIK 2
HP: 95 – 6 (Patricia Brown) - 3 (Kevin Fremunzar) - 4 (Patricia Brown) – 7 (Kevin Fremunzer) || POSISI: 5
TARGET: DISTRIK 3 (Patricia Brown) & DISTRIK 9 (Kevin Fremunzer)
AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] || KS: [result]20&20,1d24,0,20&1d24[/result] & [result]16&16,1d24,0,16&1d24[/result]
2 pistol udara dan 2 botol madu


Madeleine lelah, kamu tahu?

Ia sudah menyerang dari tadi. Tenaganya sudah terkuras banyak. Di pelatihan dulu, ia pernah bercerita pada Pietronella akan kelemahannya ini. Tapi Pietronella bilang kalau sebagai seorang distrik dua, ia pasti memiliki naluri—kamu tahu, semacam insting membunuh dan stamina yang biasanya tidak disadari karena kurang diperhatikan. Madeleine ingin percaya kala itu, tapi mengingat tubuhnya yang amat ringkih dan pesakitan, ia jelas tidak percaya dan malah tersinggung; merasa direndahkan dan disindir. Padahal, sekarang ia tahu kalau semua ucapan kawan sedistriknya benar.

Sangat benar.

Ia bergerak hanya dengan bermodalkan intuisi. Kemampuan bertarungnya adalah nol. Bahkan untuk membunuh seekor tupai pun belum pernah, ia ini. Tapi tiba-tiba saja semua berubah. Hidup Madeleine berubah. Dan di hadapannya kini, sudah ada dua orang-siap-bunuh. Yang akan tanpa ragu dihabisi bila memungkinkan. Tubuhnya sakit. Sakit sekali—luka yang dibuat kedua orang itu bukan sebuah luka goresan yang bisa hilang. Tapi luka dalam. Jambakkan, cekikkan, pukulan—semua dilancarkan pada organ dalam. Dan Madeleine, bisa kamu lihat, adalah cuman wanita biasa yang tidak bertubuh sekeras dan sekuat pria.

Namun walau begitu, ia menyeringai lebar melihat luka yang ia buat pada mata Kevin Fremunzer. Pemuda itu layak mendapatkannya. Lelaki yang berani dan tega menyerang wanita adalah spesiel paling keji dan hina, yang harus segera dibumihanguskan tanpa ampun. Sementara kegagalannya menyerang Patricia tidak lagi dihiraukan. Kini, menyikut rusuk Patricia kuat-kuat agar tidak lagi melakukan hal yang tidak diinginkan seperti menjambaknya mirip tadi. Ia kini mengarahkan mata pisaunya untuk membuat luka di mata Kevin Fremunzer yang satu lagi. Wah, Madeleine kita adil sekali. Tidakkah kamu pikir begitu?
Offline Profile Goto Top
 
Hada Atala
Member Avatar

DISTRIK 4 || HP: 69 || POSISI: 8
TARGET: CORALINE ESTELLE (D6) (KAPAK) & MARIO SPIELBERG (D7) || AP: [result]7&5,1d10,2,7&1d10+2[/result] || KS: [result]20&20,1d24,0,20&1d24[/result] & [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result]
2 kapak, 1 korek api, 1 tempat minum air ukuran 2 liter



Hebat. Hada harus mengakui semangat hidup cewek dari Distrik Enam itu. Kapaknya berkali-kali melayang mengenai tubuh kecil tak berdaya itu dan dia masih bertahan.

Hada iba, merasa sedih sekaligus bersalah karena dia yang menyebabkan cewek itu nyaris mati begini.

Dia jadi ingat sama cewek aneh yang sempat ditemuinya di dermaga sebelum pemungutan suara. Emerald si Aneh. Gimana ya kabar dia saat ini? Apa dia sedang menonton Hada di rumahnya? Kalau dia berhasil pulang ke Distrik Empat, apa dia bakal masih mau temenan sama Hada yang seorang pembunuh?

Iya, Hada pembunuh, dan itu kenyataannya.

Dia pikir dia nggak bakalan bisa membunuh orang, tapi demi Floryn—demi seseorang yang dianggap sebagai adiknya, dia harus berjuang, melawan, menyerang layaknya mesin pembunuh berdarah dingin. Dia nggak punya hati seorang pembunuh.

“Maaf ya, istirahatlah dengan tenang,” Hada menggumam lirih dan tatapannya sedih, diiringi dengan kapak di kedua tangannya yang dilayangkan ke tubuh cewek itu lagi.

Dan ternyata, waktu Hada mengira semuanya baru berakhir, muncul satu cowok lagi.

“Maaf.”

Kapaknya sekarang diarahkan ke tubuh cowok itu.
Offline Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Create a free forum in seconds.
Go to Next Page
« Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic »
Locked Topic


Theme design by Drama, theme coding by Lewis. of Outline and edited by Ntin, Ubi, and Ilma.