|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,779 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | |
|---|---|
| Haymitch Abernathy | Saturday Jun 1 2013, 08:45 AM Post #11 |
![]()
Pemenang Hunger Games ke 50
|
DISTRIK 12 || HP: 100 || POSISI: [result]9&6,1d7,3,9&1d7+3[/result] || RANSEL: [result]1&1,1d7,0,1&1d7[/result] Abu itu berusaha tidak memedulikan empat puluh tujuh peserta lainnya. Benar-benar tak peduli dan terfokus akan hal yang baginya penting saja. Haymitch Abernathy, 16 tahun, dengan mantap dan yakin sudah memplokamirkan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa pulang—bukan hanya pengandaian dan menggantungkan asa. Wajah-wajah orang yang ia kenal di Seam perlahan seperti kilas balik di bayangannya. Ailee. Dylan. Kedua orang tuanya. Tidak ada yang bisa membuatnya jauh lebih merasa lebih hidup dibandingkan merasakan bagaimana di tengah-tengah mereka lagi. Sentimentil. Brengsek. Wajah Ailee yang pertama ia ingat. Bagaimana surai pirang sang dara membingkai dengan rapih dan apik wajah tirus itu. Dilengkapi warna samudera di manik kekasihnya; membuat Haymitch benar-benar merasa menderita jika nantinya, jika ia tewas, ia harus merelakan biner itu tak lagi menatap balik abu badai miliknya. Belum lagi vokal serta senyum yang bisa membuatnya merasa tolol seketika, bahkan dengan segala egonya, berusaha sok menolak dengan eksistensi itu. Hahaha, pun begitu—kau kira sang pemuda juga merasa nyaman apa dengan sikapnya itu? Sama sekali tidak, jenius. Kemudian wajah adiknya. Dylan tidak diharuskan mengambil tessera jika ia bisa keluar sebagai pemenang. Setidakny mempertipis kemungkinan bahwa bocah satu itu masuk ke dalam arena lebih cepat—oh, tidak. Si kuntet Abernathy yang itu tidak boleh masuk ke dalam arena. Sama sekali. Haymitch menjanjikannya untuk pulang, menang, dan membuat adiknya amin. Janji yang bertalu-talu di kepalanya sendiri. Brilian. Fantastis. Habis ini silakan hamburkan saja semua apa yang ada di kepalamu, Abernathy Muda. Orang lain pasti akan sangat senang menelanjangi pikiranmu begini—di saat kau kalut di balik sikap tenangmu. Meriam berbunyi. Bergeraklah, Haymitch. Pulang dan menang. |
![]() |
|
| Hada Atala | Saturday Jun 1 2013, 08:49 AM Post #12 |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 95 || POSISI: [result]8&5,1d7,3,8&1d7+3[/result] || RANSEL: [result]4&4,1d7,0,4&1d7[/result] Sebentar lagi Bloodbaths dimulai....kyaa kyaa.... HADA, STAHP. Tapi serius, cuma dalam hitungan detik lagi tabung tempat pemuda Atala ini berdiri akan muncul ke atas permukaan. Sekarang dia masih sendiri, tapi begitu meriam diledakkan sebagai tanda Bloodbaths, ke empat puluh tujuh peserta lainnya akan bergabung bersama dirinya...dan mereka akan mulai saling membunuh. Hada cemas. Wajar saja kan bocah lelaki bau kencur seperti dia merasa begitu menjelang arena dibuka. Bukan hanya mengkhawatirkan nyawanya sendiri, dia sih sudah pasrah dari awal namanya disebut sewaktu pemungutan suara. Ada rasa takut, marah, bingung yang berkecamuk dalam hatinya yang dia coba samarkan dengan cengiran ataupun tingkah konyolnya. Karena satu hal, dia berusaha tegar dan kuat bagi orang-orang yang dikasihinya. Mom dan Hana di Distrik 4...dan juga demi si cilik Floryn Lee. Dari semua peserta dari kampung halamannya, mungkin hanya gadis kecil Lee itu yang membuat Hada merasa harus bertahan di tempat ini. Babang Nastar dan Mbak Rahasia lebih tua dari Hada dan dia percaya mereka cukup dewasa untuk bisa menjaga diri mereka sendiri. Tapi Floryn? Biarpun si cilik itu tidak mau dianggap anak kecil, Hada menganggapnya masih kecil. Atau lebih tepatnya, menganggap Floryn sebagai adik kecilnya. Adik perempuan yang manis yang memang tidak pernah dimiliki Hada yang notabene anak paling bontot di keluarganya. Iya, meski Floryn tidak meminta Hada untuk melindunginya, Hada akan tetap berusaha melindungi semampunya. Tidak masalah jika seandainya dalam melakukan hal itu, hada justru bisa kehilangan nyawanya sendiri. Ah, tabungnya sudah berada di permukaan. Yang ada dalam pikiran Hada saat ini hanya bagaimana cara dia bisa berada dekat Floryn dan menjaganya... BOOM! "FLORYN!!!" berlari dan berteriak sekuat tenaga. ...karena itu gunanya keluarga, bukan? |
![]() |
|
| Floyd Ordyn | Saturday Jun 1 2013, 08:59 AM Post #13 |
|
DISTRIK 12 || HP: 75 || POSISI: [result]2&2,1d9,0,2&1d9[/result] (BARANG; BUKAN RANSEL) || RANSEL [result]10&5,1d5,5,10&1d5+5[/result] || [result]1&1,1d3,0,1&1d3[/result] x 180. (BANYAK KATA PER POST) Oh God.. Hari yang dicemaskannya datang juga. Floyd sudah berada dalam arena yang selama ini ia bayangkan sebagai tempat yang mematikan ternyata penampilannya sangat indah untuk hunger games kali ini. Sebenarnya ya tempat ini masih tetap mematikan, hanya saja sepertinya bukan tempat yang buruk untuk meregang nyawa. Kan di Dua Belas tidak ada gunung yang puncaknya diselimuti salju. Di depannya sudah tersedia berbagai macam barang-barang yang akan menunjang hidupnya selama permainan ini berlangsung. Berani taruhan pasti peserta yang lain sudah dengan brutalnya ingin memiliki semua senjata-senjata dan makanan-makanan itu. Waktu terus berjalan, dirinya masih menyusun strategi abal-abal. Floyd memang suka bertindak sesuka hatinya, tapi kali ini ia harus bertindak hati-hati atau nyawa melayang. Untuk amannya sih lebih baik dia langsung lari ke arah labirin dan bersembunyi. Tapi itu terlalu berisiko, bagaimana kalau tiba-tiba ada yang menyerangnya? Dia tidak memiliki apa-apa untuk bertahan. Arghhh, dia hanya ingin semuanya ini cepat berakhir, maksudnya mati ya.. Ia tidak mengharapkan hal yang muluk-muluk untuk bisa pulang dengan embel-embel juara. Hah! Mana mungkin. Bisa mati dengan cara yang tidak menyakitkan saja Floyd sudah merasa beruntung. Bukannya tidak semangat hidup, tapi memang itu realitanya kan? Ia tidak memiliki kemampuan untuk bisa bertahan melawan 47 peserta lainnya. Bisa selamat dari bloodbath ini saja sudah bagus. Pokoknya rencana abal-abal miliknya yaitu harus lari. Lari sejauh dan secepat mungkin. Dan ya mungkin dalam larinya itu boleh lah comot barang-barang yang ada dalam jangkauannya. Itung-itung untuk modal memperpanjang nyawanya yang tidak seberapa itu. BOOMM... Lari lari lari Ordyn muda, oke sip. |
![]() |
|
| Kanya Jett | Saturday Jun 1 2013, 09:03 AM Post #14 |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 65 || POSISI: [result]9&9,1d9,0,9&1d9[/result] (BARANG; BUKAN RANSEL) || RANSEL: [result]6&1,1d5,5,6&1d5+5[/result] || [result]1&1,1d3,0,1&1d1[/result] x 180. (BANYAK KATA PER POST) . Ohai. Dia merindukan ayahnya. ... Tsk. Canda. Pertama kalinya Kanya Aileen Jett masuk ke benda serupa tabung ini, ia menyentuh kaca silinder transparan yang mewah, semacam anak norak yang tidak pernah tahu barang buatan Capitol. Tapi juga mati-matian memendam rasa takutnya, berulangkali menghela napas, tak beraturan. Dan mungkin ia telah merepotkan pelatih maupun kawan satu distrik. Sebentar lagi, Sayang, sebentar lagi ia siap dan katakan `halo!` pada dunia arena yang kejam. Berdiam diri di tabung itu; matanya awas mengintai peserta-peserta lain, belajar mengerti gerak-gerik mereka, pun terlihat gambaran serupa terompet raksasa berisi berbagai macam benda yang ia butuhkan. Senjata, makanan, ransel, apapun. Nah. Baunya hutan. Ia menoleh ke satu sisi, kayu-kayu pepohonan yang tinggi menjulang nampak di sensori penglihatannya. Benar, satu dari sekian topik yang selalu ia elu-elukan. Kaki jenjangnya mampu memanjat batang pohon, tak butuh pijakan di sela-sela batangnya, ia tahu bagaimana cara memanjat yang benar hingga ke puncak. Pekerjaan part-time sebagai Lead Climber dan ayah yang selalu mengajarinya membuat arena ini terlihat mudah. Yea. Jangan sesumbar, ia tahu persis. Lima detik, Sayang, tidak perlu berdoa? Ia hanya perlu berlari secepat mungkin, mengambil salah satu dari ransel-ransel itu, dan kalau sempat—ia ingin beberapa senjata yang ada di sana. Survival kit, anyone. Semua peserta juga butuh itu, ck. Ini adalah Quarter Quell di mana semua peserta sibuk dengan pikiran masing-masing, rencana yang terstruktur. Siapa. Peduli. Mereka hanya empatpuluh delapan orang yang sedang menunggu ajalnya, dan di mana salah mereka, hei, Capitols? Ada sengar debu yang menghujan di sekitar Kanya dan terasa memedihkan matanya, dan juga seolah menjadi alasan hingga kemudian, ia, mendengus. Satu detik, Sayang. Dan sungguh mengejutkan motoriknya, bahwa setelah satu detik yang penuh imajinasi, ia reflek—berlari. Kencang. Tak peduli peserta macam apa yang mungkin berada di dekatnya. |
![]() |
|
| Kristeen Franscois | Saturday Jun 1 2013, 09:04 AM Post #15 |
|
DISTRIK 8 || HP: 75 || POSISI: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] || RANSEL: [result]8&3,1d5,5,8&1d5+5[/result] || [result]1&1,1d3,0,1&1d3[/result] x 180 (BANYAK KATA PER POST) Pernah lihat sapi jagal? Itulah dia sekarang... Kakinya bergetar hebat, giginya saling bergemelatuk seperti orang menggigil. “Save me, God.” Suaranya terdengar ringkih saat berbisik kecil mengucapkannya, sementara kedua tangan mengepal di depan dada, berdoa khusyuk saat isi perutnya terasa semakin bergolak karena segala intermezzo yang membuatnya terlalu tegang seperti sekarang. Dia disini, di dalam sebuah tabung seukuran tubuh yang seakan mengisolasinya dari dunia luar dan semakin jelas membuatnya berhadapan langsung dengan arena. Kurang dari semenit lagi dan Quarter Quell kedua yang sebegitu dinantikan akan benar-benar dimulai. Hingga kemudian matanya terbuka, menatap lekat penata busananya yang ada di balik tabung berisikan dirinya. Tak banyak yang ia katakan selain rasa terimakasih yang tak terhingga karena ikatan yang telah mereka bagi sebagai tim persiapan. Sekelompok manusia yang paling ia percayai sampai detik ini yang hidup di Capitol. Dia pikir hidup ini terlalu singkat untuknya. Hidup selama tujuh belas tahun, distrik delapan beserta segala carut-marutnya, dan entah apa yang harus diluapkan lagi olehnya selain rutukkan kata kotor, munafik, baru sekarang ia ingin tahu setan seperti apa yang ada dan bercokol di masing-masing kepala orang yang ada sangkut pautnya dengan Hunger Games, para pemilik tiran, semua yang memberikan ide-ide brilian mereka untuk kegiatan sampah ini. Sampai ketika ia menyadari tubuhnya berhenti meluncur ke permukaan, perlahan ketika dinding kaca yang mengurungnya sejak dari ruangan menghilang digantikan udara segar yang begitu mewah untuknya. Matahari bersinar cukup kuat, membuat tubuhnya nikmat bukan kepalang. Matanya tak sanggup untuk sekedar berkedip karena segala yang terhampar di sekelilingnya begitu fantastis. Rasanya sama sekali tidak masuk akal jika ia mati-matian menuduh semua ini hanya pengalih perhatian yang dibuat pembina permainan agar peserta mengalami gagal fokus bahkan ketika ia juga menikmati semuanya, seperti yang lain. Langitnya, rerumputan hijau, awan-awan yang sesekali dilewati burung dengan kicauan merdu dan indah, gunung dengan puncak salju seputih kapas, ah, sayang, sayang sekali akan banyak darah merah pekat mengalir di tempat sebaik ini. Cornucopia emas ada di pusat arena, empat puluh delapan peserta termasuk dirinya berada mengitari setengah lingkaran (seperti bulan separuh) dengan posisi acak yang membuatnya sedikit kesulitan bahkan untuk mengenali dimana tempat pasti ketiga rekan distriknya berada. Barang, ransel, peralatan, makanan, semuanya tersebar lebih dekat, sementara senjata berada lebih jauh di mulut terompet raksasa itu, dan semua orang tahu, puncak Cornucopia adalah hadiah bagi mereka yang cukup pintar dan punya nyali untuk bergerak kesana. Kumpulan senjata elite yang lebih sering di hak milik oleh kawanan karier. Bloodbaths selalu terjadi disini, apalagi dengan jumlah peserta sebanyak ini mustahil untuk dapat lolos melarikan diri. Sekarang sahabatnya adalah malaikat maut. |
![]() |
|
| Kathleen Halvorsen | Saturday Jun 1 2013, 09:07 AM Post #16 |
![]()
|
DISTRIK 12 || HP: 70 || POSISI: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] (BARANG; BUKAN RANSEL) || RANSEL [result]8&3,1d5,5,8&1d5+5[/result] || [result]2&2,1d3,0,2&1d3[/result] x 180. (BANYAK KATA PER POST) Ia menahan napasnya. Semua kenyamanan yang disediakan oleh Capitol mungkin hilang dalam beberapa menit setelah ini. Mungkin ia akan mati dengan cara paling menakutkan yang bahkan tak pernah ia pikirkan, ia toh hanya seorang gadis dua belas, distrik yang tak memiliki satupun pemenang. Ia masih mengingat wajah-wajah tribute dari tiga tahun terakhir, terutama kakaknya. Bagaimana ia merasakan momen yang persis sama dengannya, kecuali sekarang ada empat puluh delapan peserta. Kathleen takut. Ia sedang tidak merasa aman. Mungkin itu juga yang dirasakan semua peserta. Kathleen tidak merasa aman, ia tak mungkin bergantung dengan Floyd, kan? Dimana ia? Floyd selama ini memang sangat baik dengannya, tapi bukannya ia menghargai nyawanya lebih daripada apapun? Sementara tribute dua belas lainnya? Well, Haymitch Abernathy, Kathleen sempat bercakap-cakap sebentar dengannya, kalau memang dapat dikategorikan sebagai bercakap-cakap. Ia bukan seorang pemuda yang ramah berbeda dengan Floyd. Yang lainnya? Mereka semua orang asing, Kathleen berharap ia dapat bertemu dengan kakaknya sekarang, mungkin ia selalu bertingkah seperti ia tangguh dan sebagainya, tapi ia percaya, mungkin hanya Alph satu-satunya orang yang dapat ia percaya, dan ia sudah lama untuk pergi. Kathleen belajar untuk tidak bergantung kepada siapapun, karena ia sendiri yang dapat menentukan nasibnya. Dan semoga keberuntungan menyertainya hari ini, dan hari-hari seterusnya. |
![]() |
|
| Antonio Shadowsong | Saturday Jun 1 2013, 09:15 AM Post #17 |
![]()
|
DISTRIK 9 || HP: 75 Posisi: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] || Ransel: [result]9&4,1d5,5,9&1d5+5[/result] || [result]2&2,1d3,0,2&1d3[/result] x 180 Detak jantungnya tak bisa melambat ketika ia mulai dibawa ke arena dengan tabung kaca. Orang-orang tiap distrik turut bermunculan setelah Antonio berdiri di atas piringan logam. Suara hitung mundurnya terlalu lambat, tahu. Ini bukan soal jatuh dari pohon lagi, luka yang akan didapat pasti lebih parah. Bukan jatuh dari pohon lagi, mungkin terluka karena ditebas pedang, kena panah, atau mungkin keracunan? Entahlah. Antonia... nonton tidak? Sepintas pertanyaan itu menyembul di dalam otaknya, tidak ada yang ia pikirkan saat ini selain kematian dan Antonia Shadowsong. Gadis mungil bisu itu pasti sedang menonton bersama satu distrik sembilan bersama kedua orang tuanya. Lalu apalagi yang akan terjadi nanti? Ketika kamera akan menyorot bagaimana sang kakak mati, dia pasti tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Terang saja sih, like brother like sister, Antonia sama tidak ekspresifnya dengan Antonio. Bahkan beberapa orang yang menyambangi rumah mereka bertanya-tanya mengapa orang tua mereka yang ramah luar biasa bisa memiliki dua anak yang tidak tahu bagaimana caranya tersenyum. Kelainan? Tidak tahu juga, memang Antonio peduli? Berapa detik lagi? Antonio mengetuk pelan piringan logam pada tempatnya berdiri, detik ini seperti dikonversi menjadi jam. Lama sekali. Matanya mengawasi empat puluh tujuh peserta lainnya dengan datar. Mungkin saja Antonio tampak tidak ingin mengejar ataupun membunuh mereka. Mungkin saja Antonio akan bersembunyi entah di mana saja. Padahal sebenarnya, ia ingin semua orang di hadapannya ini matimatimatimati. Antonio jago menyembunyikan niat di balik garis wajah. Langkahnya ia persiapkan kembali pada tiga detik terakhir, bersiap mengeluarkan kemampuannya berlari cepat. 3... Antonia, kamu lihat aku sekarang? Kuharap Ibu dan Ayah tidak menyeretmu keluar... 2... Bagaimana kabarmu? Aku masih baik-baik saja... seperti kataku, sampai saat ini aku baik-baik saja. 1... Tapi sekarang— KABOOM! —Kau harus bersiap diri melihat bagaimana aku mati nanti... Ah lupakan, sekarang ia mengubur semua memorinya dalam-dalam, ia butuh konsentrasi penuh untuk acara saling bantai manusia ini. Langkah awalnya cukup berlari. Ha ha ha ha ha... |
![]() |
|
| Ferina Secret | Saturday Jun 1 2013, 09:59 AM Post #18 |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 100 || POSISI: [result]6&3,1d7,3,6&1d7+3[/result] (BARANG; BUKAN RANSEL) || RANSEL: [result]2&2,1d7,0,2&1d7[/result] Arena. Pada akhirnya, tabung yang memuat para peserta bergerak, memindahkan mereka, para tumbal, untuk kembali menjejak tanah, menghirup udara yang bisa dibilang terlalu manis untuk menjadi nyata. Hitungan mundur pun dimulai, dan sekarang ia bisa memperhatikan lansekap yang ada, di mana pemandangan yang jarang dilihat di distriknya tertata apik, membuatnya sejenak terlupa kalau ia sekarang sedang berada dalam kungkungan Capitol, bukannya surgawi. Dan kalau ia menutup matanya dan menghirup napas dalam-dalam, ia bisa membayangkan dengan nyaris nyata siulan cannary riang, juga percik air terjun yang terdengar riuh, tak lupa juga desir angin yang menerpa badannya lembut. Tapi ini arena, Ferina, takkah kau sadari itu? Dan pada akhirnya, setelah beberapa lama, biner biru itu terlihat lagi dengan kilat determinasi penuh setelah menyadari bahwa tindakannya tadi hanya sia-sia semata. Menikmati keadaan, memang adalah hal yang bagus kalau acara ini sesungguhnya hanyalah permainan semata yang tak menimbulkan bahaya apapun, tapi ini adalah Hunger Games. Ia bukan lagi di Capitol tempat segala sesuatu yang apik bertempat, dunia yang gemerlapan bagai glitter dan confetti warna-warni. Sekarang ia berada di sisi gelap Capitol, bermain dengan permainannya demi dirinya (atau rekan sedistriknya, ia tak masalah) menjejak distrik sendiri suatu hari nanti, berada di sisi Capitol bagian darah, teriakan kesakitan dan nyawa direnggut, berada. "Ferina, berjanjilah sesuatu, nak." "......apa?" "Berjanjilah... bahwa kau akan menjadi seperti ayahmu di arena. Kau memang benci padanya, tapi... maukah kau menjadi dirinya? Demi... bertahan hidup?" ".......baiklah, demi Ibu. Bukan demi siapapun." Lima detik. Gadis Secret itu memejamkan mata, seraya menghirup udara sebanyak-banyaknya karena ia tahu, sebentar lagi ia harus menahan napasnya karena bau anyir yang menguar di udara, menyoreti langit dengan warna merahnya yang berkilat. Empat detik. Ingatannya memutar kenangan-kenangan tentang adiknya, tentang ibunya, tentang... dia. Tentang momen-momen sederhana yang baginya tak terlupakan, tentang momen-momen yang tak lekang dimakan usia. Yang membuatnya tersenyum, meyakinkannya kalau kebahagiannya semata-mata berada di distrik empat. Tiga detik. Citra-citra tak mengenakkan tentang ayahnya muncul, melekat kuat, mencengkram... menghapuskan senyum dari kurva kembarnya. Tapi bukannya mengusir, gadis itu malah membuat ingatan-ingatan itu tak pudar, terus diulang, memperhatikan setiap gerak, setiap detil. Dua detik. Gadis itu teringat percakapannya dengan mentornya beberapa hari lalu, yang berusaha mencari tahu kenapa seorang Ferina Dorian menggapai posisi sebagai peserta, menggantikan adik Reef. Mengingat permintaan terakhirnya, membuat Reef berjanji untuk menjaga Maggie. Maggie—semua ini hanyalah untuk adik kecilnya semata. Menjaganya dari kemungkinan-kemungkinan yang tidak ingin ia lihat terpatri di wajah sang adik, juga menimbulkan masalah-masalah baru—kalau gadis sulung Secret tidak kembali. Satu detik. Kedua binernya terbuka, dengan determinasi baru. Bahwa ia akan menang, dan satu-satunya cara untuk menang maka ia akan menjadi sang ayah. Meniru gerak-geriknya dengan caranya sendiri, dengan mengadopsi pandangan-pandangan sang ayah. Berlainan dengan prinsipnya, keyakinannya, tapi gadis itu sudah terlalu lama mengulur waktu. Sudah terlalu lama ia mengundur, dan ini adalah saatnya. Showtime. Gadis itu bergerak, berlari kencang. Mengambil perbekalan dan persenjataan, dengan kilat yang berbeda di bola matanya. Ayahnya sendiri sudah berkata bahwa ia memang ditakdirkan untuk ini, kan? Bahwa gadis itu akan berkecimpung di arena. Bahwa tangannya sudah bernoda darah, dia sudah disumpahi— —mpfft, tolol. Memangnya dia akan membunuh sebagai siapa, bangkai busuk dalam tanah yang bernisankan Daniel Secret? HIDUP NEMBOOOK! #heh. Gak usah dibaca gapapa, toh yang penting dice roll . .)_ |
![]() |
|
| Kevin Fremunzar | Saturday Jun 1 2013, 10:26 AM Post #19 |
![]()
|
DISTRIK 9 || HP: 70 || POSISI: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] (BARANG; BUKAN RANSEL) || RANSEL [result]8&3,1d5,5,8&1d5+5[/result] || [result]1&1,1d3,0,1&1d3[/result] x 180. (BANYAK KATA PER POST) Akhirnya semua mimpi buruk yang terus saja menghantui mimpi Kevin setiap malam semenjak namanya terpilih menjadi salah satu peserta hunger games yang kelima puluh menjadi kenyataan pada hari ini. Ya hari ini, hari dimana keempat puluh delapan peserta dikumpulkan pada satu arena dan saling membunuh untuk merebut tahta juara. Kata membunuh seakan sudah menjadi bahasa keseharianan yang lumrah digunakan warga Capitol sama halnya seperti ucapan selamat pagi ketika kau bangun. Sedangkan nyawa peserta sudah dianggap mainan yang bisa digunakan semaunya dan dibuang ketika sudah mulai membosankan. Argh, brengsek! Suka tidak suka Kevin sudah-harus menjadi bagian dalam permainan yang diciptakan Capitol, menggantunkan nyawanya pada kemampuan dirinya sendiri dan belas kasih golongan yang disebut sponsor. Bloodbaths. Bloodbaths itu hanyalah bagian pendahuluan dalam drama panjang yang dibuat tirani pemerintahan Capitol. Empat puluh delapan peserta adalah kumpulan boneka dan harus mematuhi skrip yang dibuat dengan apik dengan latar tempat yang sengaja di setting demi mendramatisir keadaan serta pemain tambahan lain berupa mutt dan sejenisnya. Semua hal tersebut pasti sudah disiapkan dan bisa dimunculkan/dimanipulasi/digerakkan kapan saja ketika keadaan mulai membosankan. Dan dalam hitungan jam atau bahkan menit saja beberapa ‘boneka’ tersebut akan jatuh bergelimpangan, berserakan dan sudah tak bernyawa lagi. KABOOM! Bunyi meriam terdengar, memecah kesunyian yang ada, membuat kicauan burung terhenti. Langit biru seakan terbelah. Semua telah dimulai dan pasti akan berakhir, gumamnya meyakinkan diri sendir. Kevin mengambil nafas dalam satu tarikan panjang dan mulai berlari sekencang mungkin, berusaha untuk mengambil benda-benda yang dapat memperpanjang usianya. Dia masih ingin hidup lebih lama. |
![]() |
|
| Flavea Vorfreude | Saturday Jun 1 2013, 10:34 AM Post #20 |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 95 || POSISI: [result]4&1,1d7,3,4&1d7+3[/result] || RANSEL: [result]1&1,1d7,0,1&1d7[/result] She was a golden girl Immersed in a hard core world Karena inilah saatnya bagi seorang Flavea Vorfreude untuk bangun dari mimpi-mimpi palsunya, menghadapi kenyataan yang terus menerus dihindarinya, bangun dari delusi-delusi yang justru menjebaknya dan membuatnya lemah. Sayangnya, ia tetap menolak untuk bangun, tetap tertidur dan masih berpikiran serba positif, hal yang bagi orang lain akan cukup memuakan. Tangannya dingin ketika ia akan masuk ke dalam tabung yang akan membawanya ke arena, namun ia tak menggigil. Kedua tangannya terkepal dan kepalanya menunduk. Ia terdiam, tak mengatakan apa-apa. Jika saja keadaannya lain maka ia akan menjadi orang pertama yang berusaha memecahkan suasana hening yang ada. Ia ingin namun entah mengapa dadanya terasa sesak hingga sulit mengeluarkan sepatah kata pun. Mendadak ia ingin menyentuh tangan ayahnya, tangan yang meski selalu dingin namun selalu memberikan rasa nyaman. Mungkin tak lama lagi, ia akan bertemu dengan ibunya. Ia merindukan ibunya, merindukan caranya menceritakan cerita-cerita sambil menepuk-nepuk kepala Flavea yang terbaring di pahanya. Merindukan caranya memberitahu Flavea bahwa semuanya akan baik-baik saja dan ia akan mendapatkan happily ever after yang ia pantas dapatkan. Ia sendiri bertanya-tanya, apakah nanti ia masih pantas mendapatkan happily ever after itu? Ia tak tahu dan tak yakin apakah ia akan melakukan sesuatu yang membuatnya tak pantas mendapatkan hal tersebut. Ketika tabungnya berhenti bergerak melawan gravitasi, ketika ia dihadapkan dengan padang rumput yang indah, seakan tak akan ada pertumpahan darah di sana. Sesekali ia mencuri pandang ke beberapa orang dan kepalanya membunuh. Ia menahan diri untuk tak menangis. Ia tak mau berada di sini. Sama sekali tak mau. Ini bukanlah mimpinya, bukanlah apa yang diinginkannya. Apa yang telah diperbuatnya hingga ia harus berada di tempat ini? Ia bukan gadis yang nakal, ia tak pernah menyakiti siapa pun. Dan sekarang ia harus menyakiti orang lain? Hidup ini lucu dan memuakan, ya. Matanya menutup ketika hitungan mundur sudah dimulai, ia mulai berdoa dan meminta izin pada ibunya di surga sana. Memintanya untuk menantinya di sana, meminta maaf jika pada akhirnya ia akan melakukan sesuatu yang berlawanan dengan ajaran-ajaran yang pernah diajarkan sang ibu. Ia menyesal sudah lama tak meletakan karangan bunga lagi di makam sang ibu, menyesal belum sempat bercerita banyak lagi. Nanti, jika pada akhirnya ia berakhir di tempat yang sama, ia akan menceritakan banyak hal. Namun ia belum bahagia dan ia merasa belum pasti bahagia jika disanalah tempatnya. Bibirnya ikut menghitung mundur dan ia sendiri tak dapat terlalu berdiri tegang, Gugup. Ia tidak mau terluka, tak ingin meneteskan darah. Namun seiring dengan ia berlari ketika hitung mundur tersebut berhenti, ia tak dapat berhenti berpikir bahwa pada akhirnya ia pasti akan terluka. Pada akhirnya, ia akan membalas dendam pada orang yang melukainya. |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |
















9:33 PM Jul 11