|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,761 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | |
|---|---|
| Kathleen Halvorsen | Saturday Jun 1 2013, 08:27 PM Post #191 |
![]()
|
DISTRIK 12 || HP: 37 - 11 = 26 - 10 = 16 - 12 = 4|| POSISI: 1 TARGET: Floryn Lee (D4) || AP: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] | KS: [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] satu buah belati, satu buah tempat minum kulit, satu kotak biskuit dan satu kotak korek api Semua ini adalah tentang dendam. Memang seperti itu. Kathleen sudah lelah. Lehernya selalu berdenyut-denyut, jantungnya melemah. Mungkin, sebentar lagi memang sudah saatnya untuk pergi. Maaf. Dia ingin mengucapkan kata 'maaf' beribu—ratusan kali. Namun, suaranya selalu tercekat, terhenti. Kata tiap kata yang akan dikatakan selalu berhenti di ujung lidah. Tidak ada yang dapat membantunya. Dilihatnya sosok Adam yang membantunya di samping, telah gugur. Ambruk begitu saja tanpa ada pertahanan. Mungkin, memang sehabis ini Kathleen yang berikutnya. Sudah berapa banyak yang meninggal dan meregang nyawa di Arena ini? Oh, hitung juga Alph. Alph meninggal di tanah ini, di ranah ini, di Arena ini. Begitu juga Kathleen. Dia tahu bahwa tiap detik, menit yang berlalu, kemungkinan dia untuk hidup semakin menipis. Rasanya sesak dan menyedihkan, memang. Gadis berumur empat belas tahun ini belum sempat berbicara dan meminta maaf, belum sempat melakukan banyak hal untuk Distrik di mana ia berasal, Distrik Dua Belas. Maaf, Alph, karena aku tidak dapat menjadi yang terbaik. Padahal ia selalu merasa bahwa ia dapat dan harus menjadi yang terbaik, demi seorang Alph Halvorsen. Maaf, Mum, Dad, karena aku tidak bisa membanggakan kalian. Dia lelah. Dia tidak lagi sanggup untuk berada di tempat seperti ini. Kesadarannya detik demi detik menghilang dan perlahan semakin menipis. Nostrilnya sesak, berikut juga dengan dadanya. Bahunya bergerak, namun terlihat dipaksakan. Kathleen ambruk ke tanah. Sama seperti sang Adam dengan paras asia tersebut, yang sudah ambruk ke tanah terlebih dahulu. Tidak lagi ada pertahanan. Seperti itu saja dan semudah itu. Matahari masih bersinar? Tentu saja. Sudah berapa lama aku berdiri di sana? Lama sekali. Kamu ingin ikut denganku? Ke mana? Ke mana saja, asal kau percaya denganku. Ada suara-suara di dalam kepala. Bermain seperti sebuah lagu yang diputar berulang-ulang kali tanpa ada yang berani menghentikannya. Kathleen merasakan kepalanya berat, pening rasanya. Kapan waktunya? Aku sudah siap. Beritahu aku jika sudah saatnya. "I'm sorry Alph, Mum and Dad. I really am sorry." Untuk semuanya. Dia menyeret tubuh mendekati sang Adam dengan paras asia tersebut. Menyentuh keningnya sembari bergidik ngeri. Ada perasaan aneh di dalam perut, menggelanyar begitu saja. Ia mual. Kathleen Halvorsen mengerahkan seluruh tenaga untuk melempar belati yang berada di dalam kepalan tangan ke arah gadis yang sudah dengan tega serta membabi buta menyerang mereka berdua, Kathleen Halvorsen dan sang laki-laki berparas asiatik tersebut. Demi semuanya. Ini harus dihentikan. Alph, kamu di mana? Kamu lihat Kathleen, tidak? Kamu tahu? Sepertinya, sebentar lagi kita akan segera bertemu. Bagaimana menurutmu? 383 words tanpa TAG dan OOC |
![]() |
|
| Patricia Bronwyn | Saturday Jun 1 2013, 08:28 PM Post #192 |
![]()
|
DISTRIK 3 || HP: 46 – 12 – 4 – 11 – 9 = 10 || POSISI: 6 Target: Madeleine (D2) || AP: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] || KS: [result]18&18,1d24,0,18&1d24[/result] (1 tempat minum kulit, 1 kotak biskuit) Ternyata gadis ini cukup barbar untuk membuat cakarannya hanya sebatas sentuhan kuku yang lumayan kasar. “ARGH…” yang satu itu mungkin erangan kesakitan milik Patricia Bronwyn yang paling keras. Karena yang baru saja terjadi adalah pisau yang semula menancap di dadanya dilepas oleh sang penusuk dengan sekenanya, dan tentu saja itu amat menyakitkan. Patricia cuma bisa menahan pedih yang amat sangat. Untuk beberapa saat yang begitu panjang dan penuh siksaan ia tak mendapat bantuan sedikit pun—kecuali kalau ia menghitung aksi serangan pemuda dari Sembilan pada Lethbridge. Terima kasih, setidaknya gadis itu sempat teriterupsi dan mengalihkan perhatiannya, walaupun pada kenyataannya itu tidak begitu berhasil menghindari Patricia dari bayang-bayang Malaikat Kematian melayang dua inchi di atas ubun-ubunnya. Menakutkan rasanya kalau ia mendongak ke langit sana, pasti akan sangat menakutkan. “Ugh,” mungkin ia terlalu banyak membuat suara, tapi sikut gadis dari Dua itu cukup keras ternyata. Entah apa tujuan gadis itu melakukan serangan kecil semacam tadi. Terpikirkah oleh gadis itu bahwa ia benar akan membunuh Patricia nantinya? Ia sendiri bertanya-tanya. Apakah nasibnya akan sama seperti adiknya, Phoebe? Tewas di tangan mereka yang berasal dari salah satu distrik terkejam seantero Panem? Patricia tidak mau. Ia tak selembek itu. Kau lihat sendiri kan bagaimana ia melawan? Walaupun geraknya lebih lamban setidaknya ia masih bisa bertahan hidup sekalipun sudah ada lubang yang mendalam di perut dan luka yang lebih baru lagi di dada. Ia sudah kehilangan cukup banyak darah—apa ini artinya ia akan segera mati? Belum tentu, ‘kan? Ia masih ingat bahwa saat diserang ia harus menghindar. Ia tidak hanya akan diam saja dan membiarkan nyawanya melayang karena ulah seenak jidat gadis Dua itu. Jujur saja, ia tak mau di anggap remeh. Dan yang paling penting—walaupun ini nyaris tidak ada hubungan dengan kalimat sebelumnya, ia ingin pulang. Menemui mereka yang ia sayangi. Pierre dan ayahnya. Ia tak akan tega membiarkan mereka kehilangan satu anggota keluarga lagi setelah ibu dan Phoebe. Patricia masih punya rencana untuk melanjutkan hidup, ia juga manusia—seharusnya dara Lethbridge tahu hal manusiawi semacam itu, kecuali kalau ia memang benar tidak punya kemanusiaan lagi dalam dirinya. Dengan kata lain, ia bukan manusia, ia binatang. Semua yang di sini—terutama yang kejam, berperilaku seperti binatang. Membunuh satu sama lain, dan mungkin di saat seseorang menjadi gila, korbannya akan jadi santapan malam yang lezat. Mungkin Lethbridge berniat begitu, mungkin saja. Karena selanjutnya ia kembali menyerang, dan dengan sukses Patricia menghindar. Itu bukan keberuntungan, tapi ia memang manusia yang masih punya insting untuk melindungi diri. Dan lagi, sebilah pisau di arahkan padanya, ia kembali menghindar. Kalau ada kesempatan yang lebih luas sedikit nanti ia ingin tertawa keras di telinga Lethbridge sampai ia tuli dan tahu rasa, dengan kata lain kapok. Ia hanya ingin mengatakan bahwa gadis itu payah, dan sangat payah. “Kau tahu kau…” sret, lagi-lagi serangan dari benda tajam ditujukan padanya dan ia berhasil menghindar lagi. “…payah, ‘kan? Ngaku saja.” Ia tidak takut bicara begitu. Toh, bukankan Hunger Games itu saat paling tepat untuk saling menghina? Intinya bantai saja lawanmu, mau pakai acara fisik ataupun lisan. Dan mungkin, sebagai balasan gadis itu kembali menyikutnya. Suasana semakin sulit saja untuk dimengerti. Tapi bagi Patricia, ‘sulit’ bukan berarti sama sekali tidak bisa. Kali ini ia membuka ranselnya yang super kecil dan buru-buru mengeluarkan sesuatu dengan cermat. Na’ah, cermat, dengan kata lain ia mencari benda yang bermanfaat. Dan dikeluarkan olehnya kawat. Kemudian dengan cepat, yang ia lakukan adalah mengarahkan ujung kawatnya ke arah mata gadis Dua itu. |
![]() |
|
| Mario Spielberg | Saturday Jun 1 2013, 08:28 PM Post #193 |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 70-7 || POSISI: 2 TARGET: DISTRIK 4 (Hada) || AP: [result]8&8,1d9,0,8&1d9[/result] || KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] Ransel berukuran sedang, 1 bungkus dendeng sapi, sepasang kaus kaki, 1 tempat minum ukuran sedang, 1 kotak biskuit Ya sudah deh daripada main Tanya dengan orang yang lagi perang mending ikutan saja kali ya. Habisnya dari tadi Mario sendiri tidak tahu mau nyerang pake apa. Dendeng sapi? Ya tidak mungkin kan. Rasanya makan dendeng sapi lebih enak daripada dipakai jadi senjata. Manggut-manggut melihat dua orang yang sedang asyik menerjang menyerang sang pemuda distrik karier sambil sesekali menghela nafas. Curang ah, sang karier punya kapak sedangkan mereka berdua tangan kosong. Mario sih maklum kalau mereka berdua bisa kalah nantinya. “Mas, kalau bisa jangan pakai kapak dong, tidak adil.” Ya beginilah jadinya kalau seorang pemuda anti sosial yang jarang bicara tiba-tiba di suruh interaksi dan berperang melawan empat puluh tujuh orang. Bahkan Spielberg muda ini sendiri curiga jangan-jangan ia sudah kerasukan jiwa peserta yang sudah mati jadi ia berubah banyak bicara dan suka menasehati seperti ini. Tapi siapa? Hng lebih tepatnya tidak usah dibahas sih. Bukankah jadinya bikin takut saja? Lantas ini kenapa jadi bahas jiwa yang sudah mati sih? Tolong si gadis distrik enam saja deh daripada dia mati terus Mario Spielberg harus melawan sendiri dua orang karier. Walaupun pada kenyataannya terlambat. Satu orang sudah gugur di depan matanya. Mungkin sudah ada yang lain yang sudah lebih dahulu, tapi yang tepat di hadapannya sudah ada satu orang. Pemuda dua belas yang diserang oleh pemuda empat. Demi apa, bagaimana kalau si enam menyusul dan Mario satu-satunya disini? “Maaf gundulmu, sakit bego!” Mario memukul wajah sang pemuda dari empat yang baru saja mengusiknya setelah menghajar habis sang gadis enam. Kalau soal enam dan dua belas sih tidak masalah. Kalau Mario? Ini curang namanya! Mario kan tidak bisa membalas dengan tepat karena dewi fortuna mengganggunya sedari tadi. |
![]() |
|
| Yasmine Silvertongue | Saturday Jun 1 2013, 08:28 PM Post #194 |
![]()
|
center]DISTRIK 10 || HP: 55 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 4 (CO;pistol)|| AP: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] || KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi[[/center] Jangan salahkan dirinya jika ia mulai merapalkan kata makian dan gerutu. Yasmine tidak habis pikir dengan gadis Tiga dan pemuda Empat. Mereka pakai jimat? Mereka memiliki keluarga pendoa yang sangat saleh dan disayang Tuhan? Tidak, itu imajinasi yang terlalu jauh. Jika mereka disayang Tuhan—sampai segitunya—tentu mereka takkan dijebloskan kemari. Mereka hanya beruntung. Dan keberuntungan memang memihak. Itulah sebabnya, Capitol selalu mengulang-ulang kalimat tersebut. Keberuntungan. Sial memang paradigma hidup ini. Yasmine meludah. Dahaga mulai merambat dan menggerogoti kerongkongannya. Ini telah berlangsung lama. Dentum meriam belum juga heboh seperti kembang api Capitol. Harusnya seperti itu, itulah harapan dan ekspektasi para penonton di balik layar. Gemuruh dan meriam yang bersahutan. Tanda bahwa sangat banyak peserta mati bergelimpangan. Tidak bisa jika gadis Tiga dan pasangan dari Empat itu saja yang mati sedangkan dirinya hidup? Harus. Harus bisa. Setidaknya, ia harus hidup. Tidak akan ada meriam yang mewakili dirinya hari ini. Silvertongue itu kembali menghantam pemuda Empat di bagian gigi depan. Sekalian dengan hidung karena satu arah vertikal. Tak lupa ia juga menyodokkan pistolnya ke arah tulang rusuk si pemuda. Ia tidak takut mau badannya kekar atau tidak. Come and get me. |
![]() |
|
| Flavea Vorfreude | Saturday Jun 1 2013, 08:31 PM Post #195 |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 83 || POSISI: 4 TARGET: Adina Erasto & Aidy Joselin || AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] || KS: [result]22&22,1d24,0,24&1d24[/result] & [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] 3 Lembar Plastik dan 1 Pasang Kaus Kaki Diserang: Adina Erasto Flavea. Yes, Mother? What are you doing? I don’t know. Memang ia tak mengerti apa yang tengah dilakukannya. Ia tak tahu apa yang dilakukannya. Otaknya tak sepenuhnya menyerap apa yang tengah dilakukannya. Ia hanya mengikuti instingnya, melawan dan terus melawan meski penyerangan yang dilakukannya menyalahi apa yang moralnya katakan. Ia mencoba terus menerus untuk tak mendengarkan moralnya. Ia mencoba menjadi apa yang orang ekspetasikan darinya. Namun entah mengapa tetap saja rasanya ia gagal total, bahkan ia tak berhasil memenuhi keinginan dirinya sendiri. Ada banyak suara, suara kesakitan, suara senjata beradu. Namun yang paling menyakitkan adalah suara kesakitan. Ia berusaha menulikan dirinya sendiri, tak mendengarkan hal lain dan fokus. Sayang, fokusnya sangat mudah tercecer. Acak-acakan, berganti dari satu tempat ke tempat yang lain. Di saat karier lain berhasil membunuh satu peserta—bahkan Floryn sudah berhasil membungkam selamanya salah satu peserta—ia masih berkutat dengan yang itu-itu saja. Mungkin itulah salah satu alasannya mengapa ia gagal. Ia sudah cukup tega untuk melukai, namun ia belum cukup tega untuk membunuh. Entah kapan ia akhirnya bisa merasa cukup kuat untuk benar-benar mengambil nyawa orang lain. Ia kembali diserang, kini benar-benar menggunakan belati. Ia membeku, belati tersebut berhasil menusuknya dan ia berteriak kesakitan. Tak dalam, namun tetap rasanya sakit. Ini pertama kalinya seumur hidup ia merasakan rasanya ditusuk. “Kamu tau, kamu orang yang lebih jahat dariku.” Kini ia sepenuhnya meyakini itu ketika ia berusaha mendorong gadis itu agar melepaskan tusukannya, lagi-lagi mendorong gadis itu ke arah gadis lain. Sudah mulai berpola, eh? |
![]() |
|
| Exodus Kruchev | Saturday Jun 1 2013, 08:32 PM Post #196 |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 95 || POSISI: 7 TARGET: Stephanie White (D9) & Kevin Fremunzar (D9) || AP: [result]8&6,1d10,2,8&1d10+2[/result] & [result]11&9,1d10,2,11&1d10+2[/result] || KS: [result]20&20,1d24,0,20&1d24[/result] & [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] 4 kotak biskuit Karena memang ini yang dibuat oleh Capitol, sayang. Tempat penjagalan dengan tampilan semenarik ini dibuat untuk kita semua. Empat puluh delapan peserta diberikan hadiah cuma-cuma demi menyambut hari besar mereka. Quarter Quell kedua yang terdengar begitu agung dan mulia di telinga congek mereka. Percuma saja kalau kalian menghindar dan mencoba angkat kaki dari lapangan hijau nan luas ini. Apa yang kau bisa buat selain tegak berdiri dan menyambut semua pemain di sini? Gadis bernama Stephanie White (oh, jangan tanya Exodus tahu dari mana) seperti belut licin yang nyaris lepat dari cengkeraman pemuda Kruchev. Liat dan licin. Nah, nah, apa yang bisa dia lakukan bersama dua orang Karier selain adu fisik. Jangan kabur dulu sebelum . Dia berusaha menjambak surai gadis itu, ingin menariknya sekuat mungkin agar tidak bisa kabur. Sangat disayangkan, mereka belum sempat berkenalan lebih lanjut, tapi main kabur saja. Siapa yang bisa menyangka mereka masih bisa bertemu lagi di kemudian hari ketika mandi darah ini berakhir. Bertemu di akhirat terdengar terlalu di awang-awang. Jika Dimitri bisa pulang, maka dia pun harus bisa pulang. Dikiranya hanya dia yang bisa mengecap semua kemenangan yang ditumpahkan padanya semenjak Hunger Games keempat puluh Sembilan berakhir apa. Dia tidak iri hati. Exodus tahu dia lebih berarti daripada bocah ingusan itu. Tidak ada reaksi balik dari Kevin Fremunzar. Antara menginginkan hadiah berikut atau tidak menyangka akan kehadiran Exodus. Masih tetap sama. Dia memberika tinjuan pada titik pertama. Exodus tidak akan melepaskan target incarannya, tahu. Terima saja hadiah bernilai tak seberapa ini dari pemuda Kruchev. Tidak perlu banyak bacot dan rutukan akibat ulah dari tamu tak diundang, kawan. Anggap saja sebagai tali silahturahmi sebelum ajal menjemput. Dua orang kawan menemani kematianmu, bukankah itu terdengar sangat baik dan manusiawi? |
![]() |
|
| Tume Tinkham | Saturday Jun 1 2013, 08:34 PM Post #197 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 5 (Pinoy Annelli) || AP: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] | KS: [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] dua tempat minum kulit, satu belati, satu lentera Meleset lagi. Lalu, dia tidak punya banyak waktu untuk meratapi nasibnya karena bocah berumur sepuluh tahun ini dengan sigap melompat mundur daripada kena serangan balasan. Dan baginya ini sesuatu yang cukup adil meskipun dirinya merasa begitu ingin melukai salah satu di antara Gavyn maupun Pinoy—bahkan keduanya. Dia tahu sudah ada beberapa peserta yang tumbang. Belum sampai setengah menurutnya karena masih ada puluhan peserta yang sibuk dengan lawan mereka masing-masing atau berdiam diri saja karena terkejut barangkali. Irish bilang beberapa di antara mereka mungkin terlalu gugup untuk memulai serangan atau bahkan untuk mempertahankan diri sehingga orang seperti itu akan mati sia-sia. Tume jelas berbeda. Ia akan melawan sampai tetes darah penghabisan. Ia menggenggam erat-erat pisaunya, berkelit dari tusukan belati milik peserta dari distrik lima dan dengan teriakan keras segera saja membalas menghunjamkan ujung belati ke arah tubuh Pinoy. Tidak ada waktu untuk memikirkan apakah ini perbuatan yang terpuji atau tidak. Capitol tengah melihat bagaimana anak berumur dua belas tahun ini berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk dirinya dan distriknya. Baginya ini sudah cukup menjelaskan tentang perjalanan heroik seorang Tume Tinkham. Gutsche akan bangga terhadapnya. Tume bukan anak pengecut. |
![]() |
|
| Kevin Fremunzar | Saturday Jun 1 2013, 08:35 PM Post #198 |
![]()
|
Distrik 9 ||HP 38||Posisi 5 Target : Madeleine Lethbridge: |AP= [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] | KS= [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] | 1 tempat minum kulit, 2 Kotak Biskuit, 1 Kantung Tidur Tidak ada namanya keadilan ketika semua peserta sudah berada di dalam arena. Tidak ada juga yang namanya kesetaraan gender. Semua garis batas tersebut yang awalnya memang sudah samar dan tak jelas kini semakin sirna bahkan hilang. Lihat saja buktinya. Kevin memerlakukan gadis ini seperti lawan dalam arti sebenarnya. Ia memukul, mencekik dan segala bentuk fisik yang dapat diperbuatnya untuk melukai lawannya tersebut—karena memang ia tidak menemukan senjata lain dan terpaksa menggunakan tubuhnya sendiri sebagai senjata. Begitu pula gadis yang erlihat polos tersebut ternyata lebih beringas dari seorang serigala yang kelaparan Lengan Kevin sudah terluka, pahanya pun tak luput dari serangannya dan sekarang apa? Mata cokelatya tak luput terkena serangan. Dikasih makan apa sih gadis ini ketika ia masih tinggal di distrik? Makan paku? Ha mustahil. Mungkin saja gadis ini sengaja dikasih suplemen tambahan berupa zat kimia yang entah apa namanya tersebut yang membuat hormone progesterone dan estrogen hilang digantikan dengan nafsu membunuh bagaikan seorang terlatih nan professional. Gigit. Itulah pilihan yang Kevin ambil untuk menyerang. Ia akan terus menyerang, ketika kedua lengannya tak berfungsi ia akan menggunakan kakinya. Atau ketika kakinya terluka pun ia menggunakan mulutnya untuk menggigit seperti yang dilakukannya sekarang. Menggigit sekeras mungkin pada bagian leher bak vampire kelapran yang haus akan darah. |
![]() |
|
| Adina Erasto | Saturday Jun 1 2013, 08:35 PM Post #199 |
![]()
|
DISTRIK 11 HP: 13 || POSISI: 4 TARGET: Flavea Vorfreude (DISTRIK 1)|| AP: [result]2&2,1d9,0,2&1d9[/result] || KS: [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] 1 belati, 1 dendeng sapi, 1 lentera, dan 1 tempat minum kulit Bloodbaths Darah siapa yang akan disumbangkan untuk memandikan para ksatria? Adina mengarahkan belatinya pada wanita karier yang tadi menerjangnya sehingga membuat dirinya jatuh terjerembab, dan kali ini serangannya pun membuahkan hasil. Darah segar menetes dari belatinya. Entah setan apa yang membuatnya bisa melakukan itu kepada manusia, bahkan dipikiran paling liarnya sekalipun tentang wanita yang dulu sempat ia benci karena kehadirannya membawa duka baginya tida pernah ia berpikiran untuk melukainya langsung dengan belati sehingga berdarah dan mati. Nafas Adina makin memburu, bola matanya berputar liar—mencari-cari tindakan apa yang akna ia lakukan kini. Lari? tentu saja itu pilihannya, tapi apakah ia bisa lari dari kerumunan orang-orang yang haus darah ini? tatapan Adina nanar. Menyingkirlah! Adina berusaha menyingkirkan tubuh peserta yang ikut jatuh bersamanya. Entah siapa peserta yang ikut jatuh bersamanya, yang jelas Adina tidak akan memburu wanita itu. Sudah cukup baik wanita itu tidak ikut menyerangnya. Adina kembali siaga, goresan belati pada wanita karier telah membangkitkan semangatnya untuk hidup yang telah lama amati suri. Ia kembali melayangkan tendangan ke arah lutut wanita karier agar terjatuh dan kemudian menusukan belatinya ke arah dada. |
![]() |
|
| Maysilee Donner | Saturday Jun 1 2013, 08:37 PM Post #200 |
![]()
|
DISTRIK 12 || HP: 100 || POSISI: 9 TARGET: DISTRIK 8 (Curealight) || AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] || KS:[result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] 1 pistol udara, 1 pisau, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit Lihat? Semuanya bergerak dengan c e p a t. Dan kalau dia tidak bisa mengimbangi, o, dia akan tertinggal—jangan nilai dirimuu berdasarkan sesi tertutup kemarin, Sayang, kamu mungkin lebih parah dari itu. Ha ha. Mungkin memang belum saatnya berpikir negatif. Bukan waktunya dia menjadi pesimis pula. Dia tahu. Lebih mengerti dari siapapun, barangkali. Namun, di belakang kepalanya, menghadapi kawanan yang bagaikan haus darah dan bak setan, tidak ada pelebih-lebihan, dia betul-betul merasa jatuh. Terbunuhnya Maysilee Donner bisa terjadi kapan saja. Kau tahu, kematian itu terjadi karena hal-hal yang bodoh. Entah terkena batu di kepala, atau jatuh tersungkur di atas senjata. Dia bisa mati karena ketololannya sendiri, siapa yang tahu. Bloodbaths adalah satu hal yang mengerikan. Tempat di mana semua visual menipu. Apa-apaan, rumput hijau dan udara surga. Apa-apaan, alam asri sejauh mata memandang. Kalau kau melihat dengan seksama, di atas hijau, ada merah. Ada upacara penyembelihan yang terjadi, oleh anak-anak muda berbalut pakaian cantik dan berparas dewi. Belum apa-apa, kulit yang belum lama dipoles telah tergores. Tidak ada setengah jam, katakanlah, bisa saja nyawa-nyawa melayang. Semuanya terlalu cepat. Terlalu cepat tercipta dan terlalu cepat rusak. Maysilee Donner tidak mengerti konsep penciptaan dan penghancuran, dia tidak mau mengerti pula. Semuanya terlalu banyak dan terlalu mengerikan untuk ditangkap logikanya. Mungkin, pada saat seperti ini, yang penting adalah menghilangkan semua logika, tutup mata, dan berharap seranganmu kena. Jangan pedulikan teriakan. Jangan pedulikan tangisan. Jangan pedulikan dosa-dosamu kala mencabut nyawa. Kalau kau mau hidup, cuma ini caranya. Makanya, saat seranganmu gagal, harus dicoba lagi—seperti menghunjam bahu lawanmu, mungkin, dan berharap kau tidak lemah-lemah amat kali ini. |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
![]() Join the millions that use us for their forum communities. Create your own forum today. Learn More · Register Now |
|
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |


















9:33 PM Jul 11