|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,760 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | |
|---|---|
| Yasmine Silvertongue | Saturday Jun 1 2013, 08:38 PM Post #201 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 55 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 4 (CO;pistol)|| AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]9&9,1d24,0,9&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi[ Berhasil. Yasmine, kau boleh menghela napas sesaat. Kau boleh mengeluarkan udara yang menyesakkan dada. Tidak lama. Ia tahu setiap aksinya akan mendapat sebuah balasan. Balasan yang bahkan sangat mungkin dampaknya lebih fatal dan memilukan dibanding dengan apa yang baru saja ia lakukan. Lawannya ini cowok, jangan becanda. Ia bisa mematahkan leher Yasmine dengan sesuka hati jika memang itu kehendaknya dan kebisaannya. Gadis ini mengatur napas. Berpikir secepat cahaya. Apalagi yang harus ia lakukan untuk melumpuhkan para lawan? Ia sadar dirinya gemetar hebat. Namun bukan wajah takut yang ia tampilkan. Ia datar seperti sebuah batu bata yang tidak menarik. Ia tidak menyeringai dan memprovokasi. Ia tetap waspada dan matanya liar, mengamati gerak-gerik para lawan dengan intens. Gadis tersebut tidak menyediakan waktu untuk beristirahat lama, bahkan tidak menyediakan celah agar para lawan dapat menembus benteng pertahanannya, setidaknya ia berusaha demikian. Kembali ia menyerang si pemuda. Ia tidak ingin membuang tenaga. Ia harus bisa. Gadis ini memukul Ethan keras di bagian pelipis. Keras, sampai ia amnesia, semoga. Tolong, ia hanya ingin menghemat tenaga, jangan jadikan ini serangan menjadi bumerang dan tetap saja sia-sia. Berdoa saja. Harus berhasil. |
![]() |
|
| Madeleine Lethbridge | Saturday Jun 1 2013, 08:38 PM Post #202 |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 95 – 6 (Patricia Brown) - 3 (Kevin Fremunzar) - 4 (Patricia Brown) – 7 (Kevin Fremunzer) - 1 (Patricia Brown) || POSISI: 5 TARGET: DISTRIK 3 (Patricia Brown) & DISTRIK 9 (Kevin Fremunzer) AP: [result]7&5,1d10,2,7&1d10+2[/result] || KS: [result]17&17,1d24,0,17&1d24[/result] & [result]16&16,1d24,0,16&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu “Wah! Hebat sekali!” Dengan riang, ia menepuk tangan keras-keras dan tanpa berdosa. Kali ini kedua serangannya tidak ada satu pun yang luput. Kena telak, dan mutlak, dan tidak bisa dihindarkan. Sikutnya tepat mengenai rusuk Patricia Brown yang malang, sedangkan mata pisaunya kini pun berhasil melukai mata Kevin Fremunzer yang jahat dan keji. Bagaimana Madeleine bisa tidak girang? Mother harus melihat ini. Dimitri harus melihat ini. Semua harus melihat ini. Harus—karena tidak ada orang yang boleh melewatkan saat dia bersinar. Tidak ada yang boleh membuat sinarnya tertutup lagi. Madeleine mau tempat nomor satu, dan semua orang harus melihatnya saat ia berhasil mendapatkan tempat itu. “Kamu terlihat makin tampan dengan luka itu, Tujuh,” kekehnya jenaka. Tubuh pemuda itu boleh kekar dan tinggi. Tapi Madeleine yang mungil nyatanya lebih lincah dan lihat. Kamu melukainya tadi, dengan keji dan hina, maka kamu harus menerima pembalasannya yang berkali-kali lipat dan lebih menyakitkan. Hukuman bila kamu tega menyakiti wanita memang jangan sekalipun diremehkan. “Apa kamu baik-baik saja, Tiga?” Sejenak ia menoleh, memandang lawannya yang satu lagi. “Karena kalau kamu baik-baik saja, aku akan dengan senang hati mengubahnya untukmu,” menerjang, incarannya kali ini adalah perut—yang sedari tadi ia incar namun gagal. Kali ini ganas dan geram karena gadis itu berani menggores area dekat matanya. Dan untuk si Tujuh, well.. jangan harap Madeleine akan bosan padamu. Karena sekarang gadis Lethbridge ini malah punya dendam pribadi. “Dan pelayanan khusus untuk laki-laki gentle sepertimu, tentu,” masih tersenyum, kaki Madeleine berusaha menjatuhkan Kevin Fremunzar dari posisinya yang berdiri. Karena laki-laki macam kamu harus jatuh, harus tersungkur, bersimpuh dan meminta maaf atas kelancanganmu pada wanita. |
![]() |
|
| Mario Spielberg | Saturday Jun 1 2013, 08:42 PM Post #203 |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 70-7 || POSISI: 2 TARGET: DISTRIK 4 (Hada) || AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]4&4,1d24,0,4&1d24[/result] Ransel berukuran sedang, 1 bungkus dendeng sapi, sepasang kaus kaki, 1 tempat minum ukuran sedang, 1 kotak biskuit Tinjunya kena? Ha! Sesuatu banget lah Mario Spielberg bisa memukul wajah orang. Kalau keahlian dalam memegang dan menggunakan kapak baginya mungkin tidak bisa diragukan karena Mario tukang kayu handal di distriknya. Tapi kalau soal tinju? Demi apapun ini pertama kalinya ia melakukan sesuatu yang luar biasa seperti ini. Sang pemuda tanggung terkikik geli dan memberikan senyum pertama yang menurutnya tanpa beban ke orang lain selai anggota keluarganya. “Maaf bung, tapi itu balasan untuk luka di tubuhku.” Menepuk pundak sang pemuda empat kemudian menunjukkan sebersit luka yang cukup mengesalkan hasil buatan tangan sang pemuda distrik ikan yang sedikit terlihat aneh itu. Memang , Mario juga mengakui kalau pemuda itu tidak jahat, buktinya sang pemuda terlihat jelas meminta maaf setelah melakukan serangan. Lagipula kalau difikir memang tidak ada cara lain selain menyerang orang lain untuk keluar dari sini meskipun itu cara yang amat jahat menurutnya. Kenapa mereka tidak sama-sama mati bunuh diri saja ya daripada membunuh orang lain. “Anggap saja pukulanku untuk membalas perbuatan mu untuk enam dan dua belas.” Mario memberi sebuah perkataan tegas yang ringan. Ya baginya memang tidak terlalu penting membalas dendam, hanya saja seseorang ahrus diberi peringatan atas apa yang telah di perbuat bukan? Dan kalau Mario tidak membalas bisa-bisa ia juga dibunuh seperti keduanya. |
![]() |
|
| Shinzo Kawabata | Saturday Jun 1 2013, 08:42 PM Post #204 |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 11 (Gavyn Owyn) || AP = [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] || KS = [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] Tiga tempat minum kulit, satu belati Shinzo yakin dia mulai merasa ada teriakan mengenaskan yang penuh nestapa entah dari arah mana. Yang jelas padang rumput di sini sudah tidak begitu suci lagi. Dia yakin sudah ada campur tangan manusia dalam menambah darah sebagai momentum dari permainan yang semakin menggila ini. Halo, semua. Bisa mainnya dipersantai? Jelas Shinzo merasa kecepatan pembunuhan massal ini begitu luar biasa hingga rasanya tidak ada yang bisa menangkap dengan jelas distrik mana yang telah kehilangan pesertanya. Tapi, dirinya agak tidak tenang kau tahu. Ada yang salah di sini dan ketika ia menoleh dan melihat Kyle sudah tidak bergerak sama sekali alias tergeletak begitu saja di hamparan rumput, mendadak Shinzo merasa begitu emosi. Anak ceria yang satu itu adalah orang pertama yang menyapa dirinya yang agak pendiam di Capitol. Dan Shinzo bahkan masih tidak bisa melupakan saat di mana keramahan anak itu membuatnya sadar bahwa orang macam beginilah yang pantas untuk dikenang atau hidup lebih lama. Kyle. Kyle. Kyle. Tidak jelas siapa pembunuh dari Kyle tetapi kalau dia tidak salah ingat terakhir pemuda itu melawan peserta dari distrik empat. Ah, sudahlah. Shinzo kini berusaha fokus pada apa yang menjadi tugasnya. Gagal menyerang Pinoy, dia mengarahkan mata belatinya ke arah Gavyn. |
![]() |
|
| Zephaniah Lore | Saturday Jun 1 2013, 08:42 PM Post #205 |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 83 || POSISI: 6 Target: Antonio Shadowsong - D9 (KS: [result]21&21,1d24,0,21&1d24[/result] ) dan Kristeen Franscois - D8 (KS: [result]15&15,1d24,0,15&1d24[/result] ) AP: [result]6&4,1d10,2,6&1d10+2[/result] Membawa: ransel besar, 1 kapak, 1 belati, 2 pistol udara Lama-lama ia bosan juga. Tidak ada perlawanan berarti dari kedua lawannya. Tapi ia cukup puas melihat gadis dari distrik delapan itu menatapnya dengan binar mata yang menyiratkan ketakutan. Ia merasakan kepuasan karena aksinya membuat gadis itu kemudian mengatainya, memohon-mohon padanya agar berhenti menyakitinya. Menyedihkan. Gadis itu tidak paham apa arti dari bloodbaths, eh? Beginilah bloodbaths. Ketika tribut-tribut dari distrik rendahan dibantai habis-habisan oleh para karir. Seharusnya mereka bangga mendapatkan kesempatan untuk mati di arena, disaksikan oleh seluruh Panem. Daripada mati kelaparan di distrik mereka sendiri. "Hehehe... kau kenal ibuku, eh? Tentu saja ia akan bangga padaku," ujar Zephaniah menyunggingkan senyum sinisnya. "Ibuku yang mengajarkan aku dan kakakku untuk tidak mengenal belas kasihan." Zephaniah menginjak luka besar di kaki gadis itu kuat-kuat. Darah merembes keluar dari sana, mengaliri rumput-rumput hijau yang segera berubah merah. Tangannya kembali mengayunkan kapak, seperti main-main menebaskannya ke lengan pemuda distrik 9 yang masih utuh. Pasti akan kelihatan lucu jika pemuda itu kehilangan kedua tangannya. Lalu kakinya, dan terakhir kepalanya. Hehehe.... Uhuk... uhuk... "Sekarang... kau," katanya lagi pada si gadis dari 8. Baru saja gadis itu mencoba menusuk matanya dengan ranting, menyebabkan sudut matanya terluka dan mencucurkan darah. Ia tersenyum, gadis itu memang menyenangkan. "Ucapkan selamat tinggal pada sebelah kakimu." Dan kapak itu pun terayun. |
![]() |
|
| Flavea Vorfreude | Saturday Jun 1 2013, 08:44 PM Post #206 |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 83 || POSISI: 4 TARGET: Adina Erasto & Aidy Joselin || AP: [result]11&9,1d10,2,11&1d10+2[/result] || KS: [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result] & [result]9&9,1d24,0,9&1d24[/result] 3 Lembar Plastik dan 1 Pasang Kaus Kaki Diserang: Adina Erasto Oh, sleeping beauty. Looks like you've dropped your standards pretty far. (Or have you raised them?) Tangannya secara otomatis langsung menutupi lukanya begitu belati tersebut terlepas dari tubuhnya. Darah, kini di tanganya ada darah. Namun bukan darah orang lain melainkan darahnya sendiri. Sungguh menyedihkan, bukan? Ia menatap tajam gadis sebelas itu. Jika Flavea hanya dilabeli sebagai karir, bolehkah ia melabeli gadis itu sebagai wicked witch? Ada air mata yang sekarang menetes dari matanya, akibat suara di kepalanya dan juga akibat rasa sakit. Sudahkah ia mengatakan bahwa ia memang adalah gadis yang lemah? Terlalu lemah hingga dia mungkin akan mati tak lama lagi. Ia diserang kembali, kali ini dapat ia antisipasi dengan bergerak secepat mungkin, menghindari arah belati tersebut menusuk. Ia melepaskan tangan dari lukanya dan kini membuat tali dari plastik yang masih dipegangnya, plastic yang kini ada bagiannya menjadi berwarna kemerahan dari tangannya. Darahnya, bukan darah orang lain. Resmi sudah kini ia menjadi karir yang paling pathetic di antara karir lainnya. Ia berlari menerjang gadis berambut kemerahan dan berusaha meninju keras wajahnya. Ia langsung berlari ke arah gadis sebelas, menalikan tali plastiknya ke leher gadis tersebut, seluruh tenaga berusaha dierahkannya. “Kau gadis nakal, kau tahu?” Ucapnya sehalus mungkin. She has had enough. “Gadis nakal harus dihukum.” |
![]() |
|
| Madeleine Lethbridge | Saturday Jun 1 2013, 08:47 PM Post #207 |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 95 – 6 (Patricia Brown) - 3 (Kevin Fremunzar) - 4 (Patricia Brown) – 7 (Kevin Fremunzer) – 1 (Patricia Brown) || POSISI: 5 TARGET: DISTRIK 3 (Patricia Brown) & DISTRIK 9 (Kevin Fremunzer) AP: [result]8&6,1d10,2,8&1d10+2[/result] || KS: [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result] & [result]4&4,1d24,0,4&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu “Hah, kamu beruntung lagi, ya.” Bibir mungil itu mengerucut kecewa dan kentara, tanpa sama sekali ada usaha untuk ditutup-tutupi. Patricia sudah mirip nyaris orang sekarat tapi masih saja diberi keberuntungan banyak. Tidak adil. Kasihan. Gadis yang malang. Kamu harusnya membiarkan Madeleine membantumu lepas dari rasa sakit ini. Kamu harusnya membiarkan Madeleine mengumbar kebaikan hatinya untuk membebaskanmu dari rasa sakit yang tanpa ujung ini. Kenapa kamu bertahan? Kenapa kamu memaksakan diri? “Calm, Three, calm—I will help you. So let me—,” dengan gesture tenang dan menyugesti. Madeleine, mencerukkan bibir dan membentuk senyum lebar dengan kedua mata memandang lekat. Rambut gadis itu dijambak, untuk kemudian didoangakkan dan memamerkan leher jenjang yang berbekas goresan pisau. Yang lalu, well, berniat dibuat makin dalam lukanya. Kevin Fremunzer berusaha menggigit lehernya tadi. Bagaimana mungkin?! “How dare you..” Madeleine murka, kamu tahu. Ia mendesis marah. Laki-laki macam apa yang berani bertindak sekurang ajar itu. Maka, dengan penuh kemarahan dan tanpa welas-asih yang ada untuk diberikan, Madeleine mengincar lagi bola mata kanan pemuda itu dan menusuknya tanpa ampun. Kevine Fremunzar, you are such a disgusting man, you should die. Makin cepat makin baik, karena Madeleine sudah tidak ada minat melihat kamu bernyawa, semena-mena dan berlaku seolah wanita itu sama dengan kaummu. Madeleine tidak pernah terima. Tidak akan terima. |
![]() |
|
| Adina Erasto | Saturday Jun 1 2013, 08:48 PM Post #208 |
![]()
|
DISTRIK 11 HP: 2 || POSISI: 4 TARGET: Flavea Vorfreude (DISTRIK 1)|| AP: [result]3&3,1d9,0,3&1d9[/result] || KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] 1 belati, 1 dendeng sapi, 1 lentera, dan 1 tempat minum kulit Bloodbaths Darah siapa yang akan disumbangkan untuk memandikan para ksatria? Adina melayangkan tendangannya pada wanita karier berambut pirang yang sedari tadi mendorongnya, namun tendangannya meleset begitu juga dengan serangan pisau belatinya. Bagaimanapun Ia tak patah arang. Adina kembali melayangkan serangnnya dengan pisau belatinya ke arah dada wanita karier itu. Sampai kapan ia akna berlaku seperti itu? Adina tidak mau ambil pusing. Seberapa pun habisnya tenaganya ia kana terus berusaha mempertahankan nasibnya, hidupnnya. Ia punya hal untuk hidup kenapa harus orang lain yang mengambilnya dengan cara undian? Itu benar-benar kejam! tapi mungkin sekejam itukah dirinya yang berdoa agar namanya tidak pernah terpanggil di dalam Hunger Games dan membayangkan jika gadis yang ia tidak pernah sukai kehadirannyalah yang mengikuti Hunger Games dan kemudian mati di arena. Mengingat pemikirannya terdahulu dan kenyataannya saat ini membuat hati Adina begitu miris. Kini walau doanya telah dikabulkan oleh Tuhan, ia sendiri juga harus merasakannya di tahun terakhir pemungutan suaranya. Kenyataan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Apakah itu sebagai bentuk penebusan dosa-dosanya? Jika iya, itu adalah cara penebusan dosa yang benar-benar sempurna untuknya, kini Adina menangis dalam hatinya. Serangan dianulir. Karakter Adina Erasto harusnya sudah mati. Edited by Jonathan Duprau, Sunday Jun 2 2013, 03:38 AM.
|
![]() |
|
| Mario Spielberg | Saturday Jun 1 2013, 08:49 PM Post #209 |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 70-7 || POSISI: 2 TARGET: DISTRIK 4 (Hada) || AP: [result]9&9,1d9,0,9&1d9[/result] || KS: [result]13&13,1d24,0,13&1d24[/result] Ransel berukuran sedang, 1 bungkus dendeng sapi, sepasang kaus kaki, 1 tempat minum ukuran sedang, 1 kotak biskuit “Ngomong-ngomong kalau aku pukul seperti tadi tidak sakit kan?” Mario, dear, bukan saatnya untuk basa-basi. Spielberg muda itu berusaha untuk berbaik hati dan seramah mungkin pada pemuda distrik empat yang katanya tukang cari ikan itu. Siapa namanya? Hada Atala? Ya baguslah daripada namanya Terius Patinus atau Tongkolus Emasun, kan aneh kedengarannya. Lagipula sebenarnya Mario sedikitnya mengagumi loh busana dari empat meskipun ia bangga akan busana distrik tujuhnya yang menolong pemuda usia tanggung ini untuk tidak menunjukkan tubuhnya yang tidak terlalu bagus. Tapi lebih beruntung lagi kemarin dia belum dapat luka kapak dari pemuda ini. Ironis, dirinya yang ahli menggunakan kapak, memperoleh poin Sembilan karena kapaknya malah harus terluka karena kapak juga. Lain kali kalau Mario menang ia mungkin akan berhenti dan membuang semua kapaknya dirumah. Omong-omong sejak kapan ceritanya jadi tentang kapak? “Maksudnya yang seperti ini tadi loh.” Mario mengulang pukulan yang sama seperti sebelumnya ke pemuda empat tepat di pundak. Cuma sekedar ingin mereka ulang tidak masalah kan? Lain ceritanya kalau yang ia reka ulang adegan tinju yang menyakitkan atau adegan kapak dari sang pemuda Atala. Maaf saja ya, Mario tidak sudi melakukan reka ulang di serang kapak. “Kalau sakit ya maaf deh, anggap tidak sengaja.” |
![]() |
|
| Kristeen Franscois | Saturday Jun 1 2013, 08:50 PM Post #210 |
|
DISTRIK 8 || HP: 39 || POSISI: 6, TARGET: Zephaniah Lore – D1 || AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]14&14,1d24,0,14&1d24[/result] 1 bungkus dendeng sapi, 1 lentera, 1 kotak biskuit, 1 tempat minum kulit Boom! ... Boom!! .......... “Kyle!!!!” Tubuhnya bergetar hebat menyadari rekan satu distriknya telah tewas. Ia tidak bisa menyelamatkannya dari anak perempuan empat yang sempat membuatnya jijik karena berhasil mencapai puncak cornucopia beberapa menit lalu. Sedetik ia hanya bisa mematung membayangkan Kyle yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri harus tewas secepat itu. Bagaimana keluarganya di distrik delapan harus rela melihat anak laki-laki mereka berpulang. Ia mengerling sekitar beberapa kali berusaha menemukan Winny dan Shinzo yang masih sibuk di kejauhan. Untunglah mereka berdua masih bertahan, semoga saja. Kepalanya kembali bergeser, kali ini betul-betul menatap Zephaniah yang ada beberapa langkah di hadapannya. “Lore,” Ia menelan ludahnya pahit. “Tidakkah kau menyesali ini semua?” Juga Urie, ia menatapnya sambil menahan sakit di kaki. “Tidakkah kalian menyesal, uh?” Ini menyakitkan, sungguh menyakitkan. Melihat mayat-mayat mulai berjatuhan hanya karena sesuatu yang menyedihkan yang mereka sebut Hunger Games. Permainan sampah. Dan sayang sekali ia harus menjadi salah satu pengisi perannya. Detik ini Kristeen adalah bagian dari Hunger Games, bagian dari manusia-manusia berhati kotor. Ia menangis ketika melihat anak laki-laki dari distrik satu itu sama sekali tidak menggubris kata-katanya, kembali menghantamkan kapak di tangannya pada pemuda sembilan yang sekarat. “Kubilang hentikan Lore, aku benar-benar kesakitan sungguh....” Lagi-lagi gilirannya diserang. Dengan cepat ia menghindar, kemudian menendang kencang tulang kering lawannya. Semoga itu cukup keras untuknya. |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |















9:33 PM Jul 11