Welcome Guest [Log In] [Register]

MAY THE ODDS BE EVER IN YOUR FAVOR



[ INACTIVE ]
TERM 9: 2193 - 2194




[+] Topik AU: 4/5
[+] Visualisasi Asia: 3/3
[+] Capitol: 5/5
[+] Distrik Satu: 4/5
[+] Distrik Dua: 4/5
[+] Distrik Empat: 5/5
[+] Distrik Tiga Belas: 2/5
[+] Balita/Dewasa: 5/5



IndoCapitol


TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL
PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH
PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI
TRAINING CENTER || ARENA




Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain.

PEMENANG
HUNGER GAMES 54



{DISTRIK 1}



KREIOS EPHRAIM


MUSIM PANAS



21,3° - 23,6° C
21 Juni - 20 September
Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan.



WAKTU INDONESIA BAGIAN BARAT (JAKARTA)




Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

TWITTER & CHATBOX


Twitter
Chatbox



FORUM LOG
Waktu Update
Sabtu, 11 April 2015 Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out!

PEMBERITAHUAN
Kepada Informasi
Semua Member Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum
Semua Member Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2)
Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda.

Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru.

Bergabunglah bersama kami!

Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum:


Username:   Password:
Locked Topic
Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA
Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,759 Views)
Redemptus Maleveich
Member Avatar

Posted Image

Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala.

Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan.

Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena.

Empat puluh lima detik.

Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus.

Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi.

Tiga puluh detik.

Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa.

Lima belas detik.

Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian?

Terlambat.

KABOOM!

Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian.


Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol.
Offline Profile Goto Top
 
Replies:
Aidy Joselin

DISTRIK 5 || HP: 75 - 20 (FLAVEA VORFREUDE)= 55 || POSISI: 4
TARGET: DISTRIK 1 (FLAVEA VORFREUDE) || AP: [result]9&9,1d9,0,9&1d9[/result] || KS: [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result]
Ransel kecil


Menurutnya, ini adalah larinya yang paling kencang sepanjang sejarah. Namun, tetap saja ia kalah cepat dengan peserta-peserta lainnya.

Maklum, mungkin ini disebabkan oleh Aidy yang memang jarang berlari-lari selama di distriknya. Yeah, sebut saja selama enam belas tahun hidupnya, ia hanya berlari satu-dua kali, itupun hanya lari-lari kecil saja. Lagipula, ia tidak perlu berlari-lari selama hidupnya di distrik lima. Ia ini tergolong gadis yang disiplin yang tidak pernah telat datang ke sekolah, sehingga tidak perlu berlari-lari. Dan selama di pabrik, ia pun hanya memeriksa alat-alat di pabrik. Jadi, ia juga tidak perlu berlari-lari, kan?

Namun kini, ia benar-benar menyesal karena jarang berlari. Karena larinya kini tidak secepat peserta lain. Bahkan Aidy tercengang ketika peserta lain sudah menghabisi barang-barang di cornucopia dan sudah saling menyerang.

Baiklah, ini menjadi keuntungan bagi Aidy. Mereka sudah sibuk saling serang, dan bakat alaminya menjad gadis tak terlihat terasa lebih menguntungkan disini. Ternyata, menjadi yang selalu di abaikan tak selamanya buruk.

Tetapi ternyata, dari keempat puluh tujuh peserta lainnya yang ada disini, ada satu yang cukup jeli yang menyadari keberadaan Aidy di cornucopia. Aidy yang sedikit lengah dan cukup lemah karena terlalu lelah berlari, hampir saja kecolongan dengan beberapa serangan pertama dari seorang gadis yang kalau tak salah berasal dari distrik karier. Beberapa serangan yang terlihat tak sengaja hingga yang benar-benar ditujukan padanya berhasil dihindarinya. Namun untuk beberapa serangan selanjutnya, aidy rasa ia tak mampu menghindar lagi.

gadis itu seakan makin bringas saja, tangannya yang telah lemas ini ditarik paksa oleh gadis mengerikan itu lalu ia mendapatkan suatu kejutan, suatu bantingan keras di tubuh yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

"Oh, Tuhan! Aaawwwwww!" Ia mengaduh karena tulang belikatnya terbentur keras ke tanah. Benar-benar, gadis itu kuat sekali.

Layaknya seseorang yang sedang mabuk, gadis karier itu mengarahkan tinjunya kearahnya dan seorang gadis berkulit hitam yang juga ada di tempat yang sama dengannya.

"Oh, wow, wow, perhatikan apa yang kau lakukan" Ia berusaha sebisa mungkin untuk menghindari tinju tak terarah tersebut. Namun sama seperti gadis yang layaknya orang mabuk karena sudah dikuasai oleh nafsu, Aidy pun tidak terlalu bisa menguasai dirinya. Ia pun sempoyongan ketika tinju itu tak dapat dihindarinya juga.

Dan semakin lama, para gadis ini semakin bringas saja. Aidy yang sedari tadi memeriksa isi ransel kecil yang didapatkannya itu akhirnya menemukan sesuatu yang mungkin saja dapat membantunya.

Ia mungkin tidak mendapatkan apapun di cornucopia (karena yang tersisa hanyalah barang-barang yang tak bisa dijangkaunya karena letak yang sangat tinggi), namun ia tidak perlu pesimis, ia masih punya ransel kecil ini yang menurutnya sangat praktis. Segera saja ia mengeluarkan sesuatu itu.

"Sudah cukup perkenalan kita kali ini. Oh, well... karena sepertinya kau sudah tidak berbasa-basi lagi denganku, maka aku juga akan lupakan itu" Terima ini saja sekarang.

Ia segera menyabet kawat yang didapatkannya dari dalam tas mungilnya itu. Berharap itu setimpal dengan bantingan dan dorongan yang ia terima, karena ia tidak bisa memergunakan fisiknya untuk menyakiti orang lain. Lebih baik menggunakan perantara.

pmiiw
Offline Profile Goto Top
 
Gavyn Owyn
Member Avatar

DISTRIK 11|| HP: 75 || POSISI: 1
TARGET: DISTRIK 8 (Shinzo Kawabta) || AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]9&9,1d24,0,9&1d24[/result]
dua pasang kaus kaki, satu lentera, satu korek api



Oke.

Tetap kalem.

Rasanya dia ingin memaki orang-orang yang berada di dekatnya. Dia sudah tidak sabar ingin meremukkan tubuh yang berada di dekatnya itu. Pokoknya Gavyn akan menjadi sosok yang luar biasa besar amarahnya untuk saat ini. Dia tidak peduli siapa saja yang sudah berguguran di tempat ini. Yang dia ingin hanya menyaksikan distrik sepuluh dan distrik delapan ini mati. Itu saja. Harusnya dia sibuk membantu kawan distriknya yang mungkin sedang terpuruk menghadapi masa kelam mereka—mungkin sudah hampir putus nyawanya di tangan makhluk bejat atau apa pun itu. Tapi, jelas dua orang ini tidak akan membiarkannya pergi. Ada Pinoy dari distrik lima yang membantunya, tapi menurutnya itu cukup tidak membantu karena seingatnya belum ada satupun serangan belati dari pemuda berwajah tampan itu yang masuk ke sasaran.

Tidak puas.

Belum.

Dan Gavyn merasa padang rumput ini mencemoohnya. Ia harus mencobanya sekali lagi dan kalau gagal masih akan terus mencoba. Terus. Terus saja.

Ia mengarahkan tinju tangan kanannya kepada Shinzo yang baru saja berusaha menusuknya dengan belati—yang berhasil dihindari dengan begitu epik oleh Gavyn yang sudah bosan bermain-main—sambil berharap tinjunya tepat mengenai rahang dari peserta distrik delapan itu.
Offline Profile Goto Top
 
Hada Atala
Member Avatar

DISTRIK 4 || HP: 61 || POSISI: 8
TARGET: MARIO SPIELBERG (D7) || AP: [result]7&5,1d10,2,7&1d10+2[/result] || KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result]
2 kapak, 1 korek api, 1 tempat minum air ukuran 2 liter



Habis bunuh dua orang, terus muncul satu orang lagi tiba-tiba tuh nyesekin ya.

KEMANE AJE LO BARU NONGOL? ENAK BENER HEH.

Hada sudah lelah, sungguh. Tapi dia masih mau bertahan demi melihat Floryn. Dia ada di suatu tempat di Arena ini, dan ini memakan waktu lama dari yang dia perkirakan. Dia mulai resah, gelisah dan kesal. Kenapa cowok ini muncul di saat dia merasa mulai ada harapan untuk bertemu Floryn?

KENAPA BARU MUNCUL SEKARANG HAH?

Sumpah, ganggu! Dia sudah cukup merasa iba sama dua orang korbannya barusan, tapi yang satu ini cuma jadi menghalang Hada saja. Dia harus ketemu Floryn sebelum mati, tau!

“SURUH SIAPA BARU NONGOL SEKARANG WOIIIIII! LU MAMAM DEH NIH! GUE MAU KETEMU FLORYN! MINGGIR!” iya dia jelas kesal sama pahlawan kesiangan ini. Iya dia sekarang rasanya benar-benar niat mau melayangkan kapaknya ke cowok Distrik mana sih itu? Nggak tau, nggak gaul sih dia. Emang cuma Distrik Empat yang gaul dong. Hahaha. Hada udah mulai ngaco. Sudah nggak bisa berpikir jernih lagi.

Dia kalut, kalut, dan mulai frustrasi.

Floryn, Floryn, Hada nggak mau mati sekarang sebelum ketemu kamu.

“MINGGIR!” marah, ekspresinya jelas memperlihatkan. Kedua kapaknya diangkat tinggi-tinggi, diayunkan dan diarahkan ke tubuh bagian atas si cowok bego itu.
Offline Profile Goto Top
 
Floryn Lee
Member Avatar


└(∵┌)└( ∵ )┘(┐∵)┘
DISTRIK 4 || HP: 80 O' MANTAB (*`д´)b || POSISI: 4 || AP: [result]11&9,1d10,2,11&1d10+2[/result]
TARGET: KATHLEEN (D12) || KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result]
TARGET: FREIDA (D10) || KS: [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result]
DUA BELATI, SATU TENDA BIRU & SATU PEDANG BERMATA GANDA


PLEASE.

JUST DIE ALREADY.


Tusukannya makin didorong, seperti ingin merobek hingga punggung gadis dari Dua Belas itu. Air matanya sudah mulai menggenang lagi sedangkan tubuhnya gemetaran. Emosinya sudah bercampur aduk terlalu banyak dan sering. Semua luka lamanya seperti dibuka lagi, dibiarkan menganga lebar dan disiram air garam. Perih. Sakit. Dia sama sekali enggak mengharapkan yang begini; menunjukkan sisi lemahnya ke orang lain. Si kecil itu tak mau berakhir sia-sia dengan tak membalaskan dendam kakak tercintanya.

“Aku benci distrik dua belas. Aku benci marga Halvorsen. Aku benci kamu.”

Semakin dalam, sebelum akhirnya ia mundur. Biru kehijauan itu tak sanggup lagi melihat ada orang yang tersiksa karena dia. Namun kepalang basah sih, ya. Si kecil itu berbalik dan menarik napas panjang. Dengan cepat, ia melayangkan satu tinjunya ke ceruk leher lawan barunya. Dia bosan dengan semua ini. Pembuktian ini semata-mata untuk kakaknya dan Capitol—bahwa seharusnya dulu Alethea dipertimbangkan lebih lagi. Bukannya seperti ini.

“Dan kebetulan sekali, lho. Aku juga benci distrik sepuluh.”

Floryn enggak suka sama siapapun yang menyakiti bagian hidupnya. Jika semua ini telah berakhir, mungkin dia sudah siap mendapatkan jeweran lainnya dari sang kakak. Setidaknya itu lebih baik; lebih baik seperti dulu saat mereka di rumah—bahwa kakaknya ada untuknya, bukan yang lain.
Offline Profile Goto Top
 
Yasmine Silvertongue
Member Avatar

DISTRIK 10 || HP: 55 || POSISI: 6
TARGET: DISTRIK 4 (CO;pistol)|| AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]17&17,1d24,0,17&1d24[/result]
empat bungkus dendeng sapi


G….gagal.

Ia mulai tidak suka dengan lelaki di hadapannya. Ia benci. Rasanya sudah muak ia harap ada muttan yang turun dari atas langit atau muncul dari dalam bumi untuk menghabisi nyawa pemuda dari Empat tersebut. Sedikit rasa marah ia rasakan. Mengapa harus serumit ini? Mengapa, ha? Rasanya Yasmine sudah tidak ingin lagi mempertahankan sisi kemanusiaannya terhadap mereka. Apakah seorang yang dinilai barbar dan memang barbar harus dibalas dengan sebuah aksi biadab pula? Haruskah Yasmine menjadi sosok lain hanya agar ia dapat bertahan hidup di Arena?

Jawabannya mungkin harus.

Bisa dirasakan dirinya menggeram kesal. Cukup. Seharusnya bisa pergi dengan aman dan nyaman kalau saja tidak dihadang oleh dua orang kurang ajar dari distrik Empat. Perawakannya boleh kecil, tetapi nyalinya sama besar dengan mulut para Karier yang banyak bicara. Bahkan lebih besar. Ia maju kembali, tanpa rasa takut dan tingkat waspada tinggi. Lagi-lagi ia menyerang bagian tulang rusuk dan tulang pipi. Segala macam tulang pipih dan pipa yang tipis dan rawan akan ia datangi dan coba untuk celakai.

Selain itu, mungkin Yasmine harus menggunakan kuku-kukunya yang masih bernuansa hasil kikiran Penata Gaya dari Capitol. Lumayan. Ia bisa menjadi kucing liar. Kita lihat saja nanti, benar?
Offline Profile Goto Top
 
Urie Tommy
Member Avatar

DISTRIK 1 || HP: 100 || POSISI: 6
TARGET: DISTRIK 8 (Kristeen - kaki) & DISTRIK 6(Altessa - belati) ||
AP: [result]3&1,1d10,2,3&1d10+2[/result] || KS: [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result] & [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result]

Bodoh.

Kalau keluarganya melihatnya dari TV Panem, apa yang akan mereka bicarakan? Apakah mereka akan mencibir betapa pengecutnya Urie karena hanya menyerang perempuan? Atau mereka akan takjub karena seorang Urie Tommy yang pecinta wanita ini tega menyerang perempuan? Yang mana pun, dia tidak suka.

Dia tidak suka melawan perempuan. Dia tidak suka memegang belati terlalu lama. Dia tidak suka bertarung. Dia tidak suka berada di arena, tepatnya, kalau membayangkan saat ini seharusnya dia sedang ongkang-ongkang kaki di rumah.

(Life must go on).

Yang dia suka hanyalah ini, lho. Betapa penampilannya masih segar dan tampan seperti biasanya, ketika peserta yang lain sudah berdarah-darah. Bahkan sudah ada yang mati, lho. Urie menyayangkan mereka yang tidak bisa tampil di TV lebih lama. Hehehe.

"Aku bosan," Ucapnya sambil berusaha menyayat kembali lengan si gadis, kemudian mengayunkan kakinya untuk menendang gadis satu lagi (yang sedang dibantai habis-habisan oleh Lore).

Hei, dia betulan bosan.
Offline Profile Goto Top
 
Madeleine Lethbridge
Member Avatar

DISTRIK 2
HP: 95 – 6 (Patricia Brown) - 3 (Kevin Fremunzar) - 4 (Patricia Brown) – 7 (Kevin Fremunzer) – 1 (Patricia Brown) || POSISI: 5
TARGET: DISTRIK 3 (Patricia Brown) & DISTRIK 9 (Kevin Fremunzer)
AP: [result]3&1,1d10,2,3&1d10+2[/result] || KS: [result]13&13,1d24,0,13&1d24[/result] & [result]22&22,1d24,0,22&1d24[/result]
2 pistol udara dan 2 botol madu


“KAMU!” Madeleine menerjang tubuh Patricia Brown dengan gusar. Mencoba menancapkan pisau ke perutnya, ketika serangannya gagal. Lagi. Dua cecunguk ini membuat Madeleine lama-lama hilang kesabaran. Ini harus segera diakhiri. Karena Madeleine mulai merasa bahwa tenaganya tidak akan bertahan lebih lama dari ini. Ia sudah terlalu memaksakan diri demi kedua orang itu. Yang dengan tidak tahu dirinya selalu saja beruntung dan membuat Madeleine kecewa. Tak tahu diri. Tak tahu terima kasih. Dibandingkan dengan para Karier lain, Madeleine sudah pasti yang paling murah hati, ia tak akan membiarkanmu tersiksa lama-lama. Tapi kenapa kalian sebegini kurang ajar pada si Lethbridge?

Ia menatap si Patricia lekat-lekat seolah ingin mengawasi apa yang akan dilakukan gadis itu. Mengamatinya dengan tanpa mengalihkan pandangan, agar siapa tahu Patricia tidak akan memiliki kesempatan untuk mengelak jika diperlakukan demikian. Ini keterlaluan. Fortuna tidak adil dan pilih kasih. Kenapa serangannya pada gadis itu melulu gagal sedangkan gadis itu berulang kali meloloskan serangan kepadanya dan berhasil (walau tidak meninggalkan bekas luka yang berarti). Madeleine ini sebetulnya tukang iri. Dan bahkan sebuah keberuntungan pun bisa menyulut rasa irinya sampai seperti ini.

Oh, dan untuk si Tujuh yang tadi berhasil ia lukai untuk kali kesekian. Ia merogoh pistol yang tadi disimpan. Tanpa memandang, ia mengarahkan pistol itu ke tepat jantung. Mati saja sekarang kamu, Kevin Fremunzer, karena Madeleine sudah tidak sudi berlama-lama menyimpan urusan denganmu. Laki-laki banci. Tidak punya harga diri. Siapa tahu di neraka nanti kamu bisa bertemu banyak wanita yang bisa kamu sakiti.

Ia kini lebih mau mengorek lebih tentang Patricia—yang barangkali keluarganya punya jampi-jampi khusus yang membuat gadis ini kerap dilewatkan oleh sabit Dewa Maut. Hah.
Offline Profile Goto Top
 
Exodus Kruchev
Member Avatar

DISTRIK 2
HP: 95 || POSISI: 7
TARGET: Stephanie White (D9) & Kevin Fremunzar (D9) || AP: [result]4&2,1d10,2,4&1d10+2[/result] & [result]6&4,1d10,2,6&1d10+2[/result] || KS: [result]9&9,1d24,0,9&1d24[/result] & [result]18&18,1d24,0,18&1d24[/result]
4 kotak biskuit



Exodus yang ini sudah bukan Exodus yang dulu lagi. Kau bangga dengan kelakukan saudaramu sendiri, Dimitri? Kalian senang telah mengubah pemuda ini menjadi binatang barbar yang kau lakukan pada Dimitri, Capitol?

Nah, kalian bisa mulai merekam semua kejadian yang terjadi mulai detik ini. Ambil sudut pandang yang bagus untuk menunjukkan pada Panem bagaimana kalian berhasil membuat pion-pion dalam permainan buatan kalian menghabisi satu per satu target yang masih ramai berpijak di sekitar terompet. Lihat baik-baik raut muka pemuda satu ini. Tidakkah kalian lihat dia mulai menikmati alur jalannya pertarungan dengan begitu nikmat? Ambil fokus tajam dari setiap bidikan lensa tersembunyi kalian, Capitol. Kalian tentu tidak mau ketinggalan Quarter Quell yang sangat kalian agungkan.

Jemarinya yang berhasil menggenggam erat surai kemilau gadis White segera menciptakan gerakan menarik tanpa ampun. Helaian yang indah, helaian yang malang. Stephanie White yang malang. Turut berduka jika Exodus membuat rambutnya rontok dalam sekejap tanpa izin lebih dulu. Kau pun pastinya sudah tahu resiko jika berhadapan dengan satu Karier, apalagi dua Karier. Jadi, pejamkan matamu dan berdoalah sekhidmat mungkin sebelum mati kehabisan darah, Sembilan. Tidurlah dengan lelap. Exodus akan memberikan tidur paling nyenyak yang bisa kau peroleh selama penghujung hidupmu.

Begitulah dengan pasangannya yang lain. Sembilan juga, si Kevin Fremunzar. Lengan Exodus berusaha menjepit seerat mungkin leher Kevin agar tak mampu mengambil napas. Membuatnya tersesak dalam kelam abu karena tidak terjadi pertukaran oksigen dan karbon dioksida dalam tubuhnya. Ini yang harus kau terima karena berani melawan Maddy kecil, mate.
Offline Profile Goto Top
 
Mario Spielberg
Member Avatar

DISTRIK 7 || HP: 70-7-7 || POSISI: 2
TARGET: DISTRIK 4 (Hada) || AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result]
Ransel berukuran sedang, 1 bungkus dendeng sapi, sepasang kaus kaki, 1 tempat minum ukuran sedang, 1 kotak biskuit

Iya, tahu, barusan ia mempermalukan diri sendiri dengan melakukan adegan reka ulang tapi memukul pundaknya meleset.

“Hei distrik empat, kau bisa sulap ya?”

Ya mau bagaimana lagi, habisnya Cuma memukul pelan pundak kok bisa tidak kena. Jangan-jangan sang pemuda distrik ikan ini bisa sulap berpindah tempat secara cepat atau bisa menghindar dengan tepat. Ya kalau memang begitu Mario Spielberg mau-mau saja diajarkan. Bahkan kalau disuruh jadi pengikutnya juga tidak apa deh yang penting Mario bisa ilmu kebal. Ya namanya juga usaha, dalam keadaan perang seperti ini ilmu kebal itu berguna sekali omong-omong. Siapa tahu dia jadi bisa melindungi teman sesame distriknya atau peserta yang jauh lebih muda seperti anak kecil rambut keriting dari enam. Omong-omong anak itu mana ya? Tidak terlihat batang hidungnya? Atau jangan-jangan langsung bersembunyi dan tidak akan muncul lagi? Ya lebih baik daripada dia kena kapak nyasar seperti yang dilakukan beberapa orang.

Bercanda sih.

“...”

TAPI MAIN KAPAKNYA UDAHAN DONG.

“Sakit bego! Lagian siapa suruh sok berani ngelawan dua orang sekaligus.”
Mario mendorong kesamping sang pemuda empat. Maksudnya sih ingin membalas dendam, ya tapi mau bagaimana lagi kalau tidak punya senjata? Kalau tidak bisa main lempar senjata ya pakai tenaga saja deh, meskipun pundaknya nyeri sekarang. Hah sial, kenapa juga ia harus ikut permainan aneh seperti ini.
Offline Profile Goto Top
 
Freida Hayworth
Member Avatar

DISTRIK 10 || HP: 53 || POSISI: 1
TARGET: DISTRIK 4 Floryn Lee || AP: [result]8&8,1d9,0,8&1d9[/result] || KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result]
(1 belati, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit, 1 pasang kaus kaki)


Dan bukankah pada saat-saat terakhir kau mengetahui bahwa hidupmu hanya tinggal beberapa hari, kau akan menjalani hidup lebih baik? Lebih hidup. Dalam hal apapun itu. Berusaha membayar lunas semua kesalahanmu dulu, mungkin. Atau mencoba melakukan hal-hal berisiko yang sebelum ini tak pernah kau punya nyali menjajalnya. Atau mungkin mencurahkan perhatian dan kasih sayang lebih pada orang-orang yang kau sayangi. Bukankah pola pikir setiap orang saat tahu ajal menjelang selalu seperti itu? Sama saja dengan dirinya. Freida Hayworth ingin menjalani hari-hari terakhirnya dengan lebih hidup. Ia ingin membuat Irish Cloverfield tersenyum kecil melihatnya berjuang di arena. Ia ingin bersama-sama dengan Yasmine, Tume, dan Harry melawan musuh bersama, mencoba saling menguatkan, bertahan hidup bersama. Meski hanya beberapa hari—atau mungkin malah beberapa menit saja—tak mengapa. Asalkan mereka masih bisa bersama. Begitu kan janji mereka?

Ia tidak tahu lagi siapa yang berada di depannya, hingga lagi-lagi ia menyabetkan belatinya ke seseorang yang berada di depannya. Anak perempuan yang relatif lebih kecil darinya. Entah siapa. Yang jelas asalkan orang ini bukan Yasmine atau Tume, Freida tidak akan menurunkan belatinya. Selain rekan-rekan Distrik Sepuluhnya, semua bisa jadi musuh. Musuh yang akan menusuknya terlebih dahulu kalau Freida tidak menyerang terlebih dulu. Tujuannya sama sekali bukan untuk melukai orang itu, tentu. Ia hanya perlu mencari jalan agar dapat bertemu dengan Yasmine dan Tume. Itu saja. Lalu mereka akan melarikan diri ke hutan bersama.

Sakit.
Offline Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Join the millions that use us for their forum communities. Create your own forum today.
Learn More · Sign-up Now
Go to Next Page
« Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic »
Locked Topic


Theme design by Drama, theme coding by Lewis. of Outline and edited by Ntin, Ubi, and Ilma.