|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,758 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Flavea Vorfreude | Saturday Jun 1 2013, 09:00 PM Post #221 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 80 || POSISI: 4 TARGET: Adina Erasto & Aidy Joselin || AP: [result]7&5,1d10,2,7&1d10+2[/result] || KS: [result]4&4,1d24,0,4&1d24[/result] & [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result] 3 Lembar Plastik dan 1 Pasang Kaus Kaki Diserang: Adina Erasto Oh, but don't you realize, princess? The hurt is already inside. Ia mencekik gadis itu dengan plastiknya sekeras mungkin, jika bisa hingga ia tak dapat bernafas lagi. Ia menangis, masih menangis. Sekarang sudah resmi, ia akan menjadi seorang pembunuh. Seorang pembunuh keji. Menjadi seseorang yang ia hindari mati-matian. Gadis itu mungkin tak dapat meresponnya lagi, mungkin tak dapat berkata-kata lagi. Mungkin talinya terlalu kuat. Tali pemutus nyawa itu. Ia bertanya-tanya berapa lama waktu yang dibutuhnya untuk dapat benar-benar menghabiskan gadis sebelas itu. Rasanya baru beberapa detik ketika plastik tersebut menjerat leher rapuh wicked witch itu. “Sleep, sleep, sleep well…” Ia bernyanyi kecil di telinga gadis itu, menuntunnya untuk tidur. Ia bahkan tak menghiraukan tusukan ke dadanya yang entah bagaimana berhasil gadis itu lakukan, tak menghiraukan serangan yang akhirnya dilakukan gadis berambut merah. Ia menuntun gadis itu untuk tidur. Tidur selamanya. Menemui tuhannya. Ia tak akan membiarkan gadis itu mati dalam keheningan. Bahkan ia tak peduli jika kata-katanya justru menyiksa. “You’re gonna see God soon, are you happy?” Flavea akan pergi ke neraka. Ia tahu. Ia tak akan dapat membangun kastil di surga. Tak akan dapat menemukan pangeran dimana pun. She’s damned. Ia tak mengatakan apa-apa lagi, dilepaskannya tali plastic tersebut dan dilemparkannya si gadis ke arah dara Joselin. Entah ia masih hidup atau tidak, jika ia masih hidup, mungkin kini ia sudah benar-benar lemah. |
|
![]() |
|
|
| Ethan Nestor | Saturday Jun 1 2013, 09:01 PM Post #222 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 87 (-5 salah rekap -4 -4 serangan Yasmine)|| POSISI: 6 TARGET: Nigel Sugsweye& Yasmine Silvertongue || AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] || KS: [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] & [result]24&24,1d24,0,24&1d24[/result] Tombak, 2 Pistol udara, 1 air minum Brengsek. Gadis Distrik sepuluh itu telah berhasil menyerangnya selama beberapa kali. Ethan mengusap tengkuk, hidung, dan giginya yang terkena serangan. Meringis, sakit tentu. Bagian itu cukup vital. Beruntung ia tak pingsan karena berhasil mengenai tengkuknya. Sedikit berkunang-kunang juga, setelahnya Ethan menghindar. Sedikit menjauh dari gadis yang lebih beringas dari pada pemuda yang ia serang. Payah. Masa ia akan kalah dengan gadis? Memalukan. Ethan segera memasang posisi. Ia menyimpan lagi pistolnya, jauh lebih nyaman menggunakan tombak. Serangannya dapat dua sisi, meskipun yang satu harus bagian tumpul. Lebih baik ia menyelesaikan urusan dengan Yasmine, daripada mati konyol di tangan gadis tersebut. Ujung yang runcing ia arahkan pada Yasmine, tepatnya pada perut si gadis. Terakhir ia menangkis serangan Yasmine yang mengincar bagian pelipis. Dan dengan gerakan gesit, Ethan mengarahkan ujung runcing itu pada perut Yasmine dengan gerakan menusuk, sementara sisi satunya yang tumpul ia arahkan para muka Nigel. Jauh lebih beringas dari pada tadi, dan Ethan menyimpan pistolnya untuk jaga-jaga serangan jauh. Beruntung tadi ia bisa mengenai Yasmine, walaupun serangan jarak jauhnya tak begitu bagus dibandingkan menggunakan tombak atau pedang. Dan Ethan masih berharap minimal mendapat pedang bermata dua atau belati. Ia bisa menari-nari sambil merobek kulit lawan. Menyisakan padang rumput indah dengan genangan merah pekat yang berbau besi. Sunggu sayang sekali. Bagaimana jika di televisi? Apakah Laz dan Vale melihatnya dari rumah? |
|
![]() |
|
|
| Patricia Bronwyn | Saturday Jun 1 2013, 09:02 PM Post #223 | |
![]()
|
DISTRIK 3 || HP: 46 – 12 – 4 – 11 – 9 = 10 || POSISI: 6 Target: Madeleine (D2) || AP: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] || KS: [result]16&16,1d24,0,16&1d24[/result] (1 tempat minum kulit, 1 kotak biskuit) Sukses, tapi gadis itu belum tewas, mungkin matanya hanya menjadi buta atau bahkan cuma serasa kelilipan. Tidak bagus, itu artinya serangannya sama saja tidak berguna alias tidak lain arti dengan ‘tidak menyerang’. Patricia mendengus sekeras yang ia bisa—ini semua efek emosinya yang membuncah begitu saja. Di sini semua terjadi begitu cepat sampai-sampai ia tidak sempat berpikir bagaimana caranya untuk mengatur emosi dan perasaannya. Yang bisa ia rasakan hanya marah dan marah. Serang dan serang. Anehnya, tidak ada kata bunuh dan bunuh. Mungkinkah itu terlalu berat untuk dilakukannya? Tapi ini momentum bunuh-membunuh. Seharusnya ia melakukan itu seringan mungkin, ‘kan? Kenapa rasanya harus berat? Apakah karena membunuh adalah suatu aktifitas yang menelan nyawa adiknya? Tapi di samping itu membunuh juga bisa jadi ajang balas dendam. Sudah begitu, lawan mainnya kebetulan sekali asalnya dari distrik tempat lahirnya sang pembunuh yang merenggut nyawa Phoebe. Tidak bisa dibiarkan, distrik ini telah menelan banyak nyawa dan mereka tidak ada kapok-kapoknya, seolah kata ‘dosa’ dihapus sampai selenyap-lenyapnya dari kamus dan otak mereka. Memang kurang ngajar. Yang sebetulnya kurang ngajar adalah setan yang turun temurun memasuki nurani anak-anak itu, membuat mereka kehilangan akal dan berubah total menjadi perasuk mereka. Dan karena sudah terlanjur begitu, terpaksa mereka harus dimusnahkan. Ya, bukan hanya perasuknya, tapi juga korbannya. “Aku? Baik-baik saja? Hah,” entah gadis ini terlalu kekanak-kanakan atau otaknya lebih parah daripada mereka yang dijuluki otak udang. “Seharusnya kau tahu jawabannya—” hup, ia agak melompat ke samping karena baru saja menghindari serangan gadis itu yang hampir selalu ditujukan pada perutnya. Ada apa sih dengan perutnya sampai-sampai gadis itu benar-benar ingin membuat lubang besar di sana? Mencuri sisa makanan di sana? Sinting kuadrat. “—well, kecuali kau mau jawaban detil. Memang, aku orang yang sangat beruntung, dan aku merasa baik-baik saja.” Patricia kemudian melakukan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, yakni menyeringai. Anggap saja itu sebagai tanda bahwa ia bahagia (dalam makna gila) karena telah bertarung banyak dengan gadis dari Dua itu. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa pertarungan ini akan jadi begitu sengit. Karir lawan non-karir, seharusnya menjadi pertarungan yang cepat tuntas dan darah mengucur di mana-mana, tapi nyatanya untuk sementara waktu yang begitu panjang (dan tidak bisa disebut sementara waktu lagi) dara Lethbridge ini memang terlalu payah dan bodoh. Maaf, bukan bermaksud mengatai orang bodoh, tapi ego sebagai orang pintar yang juga berasal dari distrik di mana anak-anak dididik dengan benar dan mayoritas otaknya berkapasitas besar membuatnya menganggap orang lain yang tidak lebih pintar darinya seperti itu. “Ah!” Nyaris saja ia dijambak lagi. Gadis ini benar-benar tidak bisa berpikir rupanya, cara menyerangnya pun meniru gaya Patricia. Sudah begitu serangan lainnya hanya berupaya menusuk bagian ini dan itu tapi gagal terus. Maunya apa, sih? Apa Patricia harus mengguruimu di sini? Apakah sempat? Dan apakah kau mau? Sayangnya Arena itu bukan sekolah sama sekali, ya. Tapi itu semua membuat rambutnya benar-benar berantakan, selain karena diserang tapi juga karena banyak pikir (ya, serius, banyak pikir suka berefek pada rambutnya). Sehingga kadang matanya tertutupi helaian rambutnya yang panjang dan sama sekali tidak berponi—well, sebetulnya ia punya, tapi terlalu panjang untuk disebut poni. Ia menjadi sulit melihat dan konsentrasinya buyar. Tapi selanjutnya ia berusaha fokus lagi, ia tidak boleh meleng, gadis itu harus dibantai. Dan ia cukup senang melihat gadis itu terlihat frustasi karena gagal terus. Walaupun selanjutnya ia langsung diterjang sampai rubuh, tapi gadis itu tetap saja gagal menyentuhkan ujung senjata tajamnya pada kulit Patricia lagi. Kali ini pakai tatap-tatapan malah. Hah, mau apa dia? Tak suka lama ditatap begitu, ia kembali bangkit, balik menerjang, dan tambahan spesialnya, ia berusaha mencekik gadis itu. |
|
![]() |
|
|
| Hada Atala | Saturday Jun 1 2013, 09:02 PM Post #224 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 61 || POSISI: 8 TARGET: MARIO SPIELBERG (D7) || AP: [result]4&2,1d10,2,4&1d10+2[/result] || KS: [result]22&22,1d24,0,22&1d24[/result] 2 kapak, 1 korek api, 1 tempat minum air ukuran 2 liter Enak kan telat muncul? Jadi nggak dapet kapak kan tuh…Dua-duanya udah Hada ambil, yang satu buat dikasih ke Floryn sih rencananya. Biarpun tadi sempat rebutan sama si cowok Dua Belas, akhirnya Hada berhasil mengambil dua-duanya. Bodo amat mau dikata serakah ambil semua senjata, sama buat Colleen pun nggak ada. Dia ada di sini buat ngelindungin dirinya dan Floryn, kapak itu digunakan Hada buat alasan itu. SERAH ELO DAH. Kesabaran Hada mulai habis, ada insting aneh yang tiba-tiba muncul mengambil alih kesadarannya. Sebelum ini dia masih bisa ngerasa kasihan sama dua lawannya, tapi sekarang yang ada dia malah ingin menghajar cowok sialan ini dengan senang hati. Iya, nyebelin sih kamu. Tiba-tiba muncul depan Hada di saat yang nggak tepat. “KAN UDAH GUE BILANG MINGGIR!” Hada beringsut maju, kapak masih ada di kedua tangannya. Dia layangkan secara bersamaan, sekarang. Satu mengincar kepala, satu mengincar dada. Kalau dua-duanya kena, Hada bakal bersyukur banget. Dia pengen lawannya cepat mati. Dia sudah tidak peduli. Karena dia tau, dia bisa mati kapan saja di tempat ini, dan dia nggak mau nyesel karena nggak sempat melindungi Floryn. Padahal dia sudah berjanji mau melindungi gadis kecil itu. |
|
![]() |
|
|
| Pinoy Annelli | Saturday Jun 1 2013, 09:02 PM Post #225 | |
![]()
|
DISTRIK 5 || HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 8 (Shinzo Kawabata) || AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]17&17,1d24,0,17&1d24[/result] satu kotak biskuit, satu tempat minum kulit, satu belati, satu bungkus dendeng Dia belum mau mati. Dan demi apa dua orang yang diserangnya itu masih saja berdiri tegap di sana seolah-olah tida ada usaha pembunuhan di dekat mereka??? Pinoy Annelli mulai merasa kurang nyaman. Beberapa makhluk di sekitarnya sepertinya tumbang satu per satu dan dia melihat Aidy sedang melawan Flavea dari distrik satu. Pinoy ingin sekali membantunya tetapi dia bukan sosok yang bisa meninggalkan urusannya di sini. Biarlah perempuan mengurus urusan mereka. Urusannya ada di sini. Sesama lelaki akan membuat forum tersendiri, seolah-olah dunia mereka berada terpisah dari makhluk-makhluk yang bertumbangan di dekat mereka. Ia yakin padang rumput sudah menjadi tempat yang tidak menggiurkan. Mereka yang tersisa akan berusaha makin keras agar diri masing-masing bisa pulang ke distrik masing-masing. Mendadak Pinoy merasa ada kemelut di dalam dirinya. Harusnya ini tidak seperti yang ia pikirkan. Sejak kapan dia menjadi seseorang yang begitu ingin membunuh? Dan juga ketika Tume serta Shinzo berusaha untuk mencelakainya, tetap saja Pinoy tidak punya alasan untuk meladeni mereka. Mengapa dia tidak lari saja? Kabur. Itu jauh lebih aman. Nanti dia bisa memikirkan strategi lebih lanjut. Tapi, nalurinya berkata tidak. Alih-alih lari, Pinoy malah mengarahkan belatinya ke arah Shinzo. Ia tidak peduli kena di bagian mana. |
|
![]() |
|
|
| Yasmine Silvertongue | Saturday Jun 1 2013, 09:03 PM Post #226 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 46 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 4 (CO;tangan)|| AP: [result]8&8,1d9,0,8&1d9[/result] || KS: [result]24&24,1d24,0,24&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi BEDEBAH! MODAL BADAN SAJA BESAR DAN KEKAR! ISTINYA PASTI HANYA STEROID! Kau tahu, jantungnya kini memompa darah lebih dari batas tidak normal, apalah itu namanya, mungkin tidak punya nama. Kemudian kepalanya terasa berdenyut-denyut nyeri. Ia memicingkan mata memfokuskan arah pandang. Kurang ajar. Gila. Mengapa Yasmine harus bertemu dengannya? Membuang waktu dan tenaga, ia juga mengacaukan rencana dan strategi gadis Silvertongue ini. Sialan, Nestor. Sialan. Anak kurang ajar. Kau tahu apa yang Yasmine lakukan selanjutnya? Sebuah gerakan yang sangat beresiko, dapat membuat tulang punggungnya berderak patah dan tercerai berai mungkin. Namun itu masih mungkin. Ini yang sudah tidak memiliki kebimbangan lagi: keputusan sang gadis untuk melompat dan menyerang Ethan Nestor menggunakan sepuluh jemari tangannya. Yeah, itu benar. Yasmine mencakar Ethan Nestor di muka. Di seluruh wajah, omong-omong. Tidak cukup sampai disitu, satu jemarinya memiliki kuku palsu yang masih lebih mulus dibandingkan yang lain. Makan ini, Nestor! Buta sekalian! Kata siapa distrik sepuluh itu rendahan? Mereka semua disini menjadi monster karena perlakuan Karier. Oh tunggun, tepatnya Yasmine disini berubah menjadi liar dan semacam monster karena para Karier. Tusuk. Tusuk matanya dengan tangan telanjang. |
|
![]() |
|
|
| Freida Hayworth | Saturday Jun 1 2013, 09:04 PM Post #227 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 53 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 4 Floryn Lee || AP: [result]2&2,1d9,0,2&1d9[/result] || KS: [result]22&22,1d24,0,22&1d24[/result] (1 belati, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit, 1 pasang kaus kaki) Freida percaya akan adanya kehidupan di dunia akhirat setelah mereka berpulang. Untuk itu ia bersyukur karena di akhir hayatnya ia dapat mencicipi kehidupan yang jauh lebih nyaman daripada kehidupannya yang lama. Tidak apa kalau ia harus membayar mahal harganya dengan nyawa. Toh tanpa dirinya yang harus dihidupi, ibunya bisa memberikan seluruh uang keluarga mereka untuk biaya pengobatan pamannya. Jauh lebih baik begini. Ibu dan pamannya mungkin sempat sedih, tapi Freida yakin seiring berjalannya waktu mereka akan segera melupakan kengerian ini dan kembali melanjutkan hidup. Memang selalu harus ada yang dikorbankan, bukan begitu? Ia bisa merasakan dan membaui cipratan darah di sekelilingnya, dapat mendengar jelas bunyi robekan daging manusia, pekikan kesakitan, langkah-langkah sepatu menginjak rerumputan, berdesakan. Lalu deru napasnya sendiri, dan detak jantungnya yang memburu. Kepalanya pusing. Tapi dia tidak ingin berhenti di sini. Dia harus menemui Yasmine dan Tume. Mereka sudah berjanji, dan Freida tidak akan mengingkarinya. Ia percaya Yasmine dan Tume pun akan berusaha untuk menepati janji yang mereka buat bersama dengan Irish Cloverfield—pelatih mereka yang sangat baik. Kini ia mencoba mengayunkan belatinya. Ke arah yang masih sama. Gadis kecil yang telah berkali-kali menyerangnya. Freida memejamkan matanya lagi. Pening. |
|
![]() |
|
|
| Zephaniah Lore | Saturday Jun 1 2013, 09:06 PM Post #228 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 78 || POSISI: 6 Target: Antonio Shadowsong - D9 (KS: [result]20&20,1d24,0,20&1d24[/result] ) dan Kristeen Franscois - D8 (KS: [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result] ) AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] Membawa: ransel besar, 1 kapak, 1 belati, 2 pistol udara Ah, meleset. Uhuk... uhuk... "Hahaha... maaf, ya. Mataku luka, aku jadi salah menyarangkan kapakku," kata Zephaniah seraya membersihkan darah dari matanya. Diliriknya Urie sekilas, berharap pemuda itu berhasil menyerang dengan benar agar gadis menyedihkan ini cepat-cepat kehilangan nyawanya. "Hey, Urie... serang yang benar," kata Zephaniah terkekeh. Gadis dari delapan ti itu sudah mulai memohon-mohon. "Gadis ini... sudah tidak sanggup. Dia ingin cepat mati." Lalu ia menoleh lagi pada gadis itu. "Benar, kan?" Dan tersenyum. "Aku tidak menyesal. Kenapa harus menyesal? Bukankah memang ini yang harus kita lakukan saat berada di arena? Kau tidak diajari itu?" Sial. Gadis itu tiba-tiba menendang tulang keringnya. Zephaniah jatuh berlutut dan sial bagi gadis itu karena lututnya malah menekan luka di kakinya. "Ouch... ini pasti sakit sekali, eh?" Zephaniah terbatuk-batuk lagi. Ia mendekati gadis itu, menatapnya sambil memiringkan kepala. "Kenapa kau menyedihkan begini, sih? Padahal aku masih ingin bersenang-senang denganmu." Oh, ia tidak lupa pada pemuda dari sembilan itu tentu saja. Ia mengambil sebongkah batu dan melemparnya asal ke arah pemuda tersebut lalu mengembalikan atensinya pada gadis dari delapan. "Tunggu sebentar, kau takkan sadar saat kakimu terpisah dari tubuhmu. Hehe... lalu, aku akan membereskanmu dengan cepat. Supaya kau tidak kesakitan lagi." Ia mengayunkan lagi kapaknya. Demi gadis itu. Uhuk... uhuk... "Jangan menangis. Aku akan melakukannya dengan cepat. Janji." |
|
![]() |
|
|
| Jester Holt | Saturday Jun 1 2013, 09:06 PM Post #229 | |
|
Betapa sayangnya si pemuda yang ada didepannya sekarang. Potongan rambut baru yang membingkai wajahnya terlihat cukup membuat orang akan berpaling menatapnya. Darah yang terus mengalir dari tempurung kepala si pemuda itu semakin membuat rambutnya lepek hingga semakin menegang di sepasang pipinya. Ia tahu kalau salah satu dari anggota kawanannya juga mengincar nyawa si pemuda itu, namun entah mengapa si pemuda itu masih bertahan meskipun tanpa perlawan. Sepasang matanya terlihat memercikan harapan. Harapan yang omong kosong belaka. Harapan akan menghipnotismu hingga kau menganggap bahwa kau tak akan pernah menemui kematian. Namun kenyataannya tidak. Kematian memilihmu, teman. Ia kembali mencabut kapak yang tertanam di tempurung kepala pemuda itu. Melihat pada daging segar yang mencuat dari kepalanya, kapak pemuda Holt ini sama sekali belum menghancurkan tempurung kepala ataupun mungkin belum menyentuhnya. "Lihatlah, kepalamu hanya berisi gumpalan daging pembelot dan kurasa aku harus menghancurkannya." Kapaknya kembali terayun di genggamannya dan menghantam tempurung kepala bebal si pemuda untuk kesekian kalinya. "Sekarang berdoalah pada Tuhanmu, teman." Anggap saja pemuda ini memberikan keringanan untuk menghela nafas terakhir. Dan sekarang ia beralih pada gadis yang ada di dekatnya. Tak ada lagi kilat permainan di matanya seperti sebelumnya. Sudut-sudut bibirnya berkedut pelan kemudian hilang sejenak karena sekarang nuansa hatinya tengah memburuk oleh serangan yang sudah berkali-kali gagal. Pemuda itu tak dikenal sebagai pemuda yang selalu gagal dalam melakukan sesuatu. Apalagi membunuh, mungkin lebih halusnya menyakiti adalah salah satu keahliannya. "Kau seperti menghabiskan simpanan suasana baikku, nona." Dan, sepertinya kau butuh hukuman. "Kau tahu apa ganjarannya?" Mati. Tik. Tok. Mari kita membuat lubang telinga baru sekaligus lubang hidung ketiga khusus untukmu, nona yang suka bermain kasar. |
|
![]() |
|
|
| Mario Spielberg | Saturday Jun 1 2013, 09:10 PM Post #230 | |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 70-7-7-4 || POSISI: 2 TARGET: DISTRIK 4 (Hada) || AP: [result]2&2,1d9,0,2&1d9[/result] || KS: [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] Ransel berukuran sedang, 1 bungkus dendeng sapi, sepasang kaus kaki, 1 tempat minum ukuran sedang, 1 kotak biskuit Mario Spielberg juga tidak mau mati sebelum ketemu- -ketemu siapa? Mario Spielberg pemuda tanggung dari distrik tujuh itu menggerutu kesal. Pasalnya ia sudah dilukai di pundak dan rasanya tidak enak banget tahu tidak! Ya bagaimana bisa tidak enak, dia tidak punya satupun senjata dan dia tidak punya perlawanan selain tangan dan tubuhnya. Dan ketika pundaknya luka otomatis ia aka kekurangan tenaga dan akhirnya gagal mendorong. Iya! Cuma mendorong saja tidak kena seperti mendorong angin kosong. Siapa yang tidak bete coba? Lagi pula kalau si pemuda empat tadi diam saja dan pura-pura tidak tahu kan bisa selamat tanpa harus berhadapan dengan Mario dan mengurangi tenaganya sendiri. Capek kan? SALAH SENDIRI SIAPA YANG MULAI. “Curang kau!” Mario memegangi pundaknya yang nyeri. Ada darahnya euy! hanya tidak sadar saja ternyata dia sudah berdarah. Kalau sadar mungkin Mario sudah marah dan makan hati sama pemuda ini. Bisa-bisa Mario bakal ambil kapaknya dan menancapkan benda pemotong kayu itu dengan empuk. Ingat pemotong kayu, bukan pembunuh orang. “Lawan dengan tangan tidak bisa, ya pakai kaki.” Menendang tulang kering sang peserta empat menjadi salah satu bahan balas dendamnya. Sungguh deh, harusnya ada kapak nyasar kea rah Mario dan mencobakan ke pemuda empat itu kalau kapak itu tidak enak kalau menancap di kaki. |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |

















9:33 PM Jul 11