|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,757 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | |
|---|---|
| Madeleine Lethbridge | Saturday Jun 1 2013, 09:10 PM Post #231 |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 95 – 6 (Patricia Brown) - 3 (Kevin Fremunzar) - 4 (Patricia Brown) – 7 (Kevin Fremunzer) – 1 (Patricia Brown) - 1 (Patricia Brown) || POSISI: 5 TARGET: DISTRIK 3 (Patricia Brown) & DISTRIK 9 (Kevin Fremunzer) AP: [result]4&2,1d10,2,4&1d10+2[/result] || KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] & [result]4&4,1d24,0,4&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu “Kamu menyebalkan. Kamu menyebalkan! APA YANG KAMU LAKUKAN!” Madeleine benar-benar sudah tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Sekuat dan seniat apapun ia berusaha, serangannya selalu saja gagal. Bukan hanya sekali. Berkali-kali. Ini membuat Madeleine makin frustrasi. Matanya kini memerah; antara menahan amarah serta kekecewaan mendalam. Pada Fortuna, pada diri sendiri, pada semuanya. Pistol yang tadi diletuskan untuk melukai Kevin Fremuzer, kini dipakai untuk memukul dahi Patricia. Kuat. Kuat sekali. Karena Madeleine marah padamu, pada kekeraskepalaanmu yang tetap berjuang dan diberkati untuk hidup, karena kamu masih berusaha mencekiknya dan berusaha hidup lebih lama lagi. Kenapa harus kamu yang sebegini beruntung? Kenapa Fortuna ingin kamu tetap hidup? Kenapa kamu tidak mau mati di tangan Madeleine? “GO DIE, YOU, THREE!” raung Madeleine keras dengan mata membelalak. Sudahi. Selesaikan ini. Madeleine hanya ingin segera pergi dari tempat ini. Mau cepat pulang—dan gadis Tiga itu membuat keinginannya jadi semakin lama. Waktu terus berjalan. Jika dia tak segera mati, bagaimana Madeleine bisa meneruskan perjalanannya dan memenangkan acara ini? Namun semarah apapun ia pada Tiga, ia masih tidak boleh lengah. Musuhnya bukan cuman satu, tapi dua. Satu lagi bahkan seorang pria. Besar. Kuat. Tidak boleh diremehkan. Lebih lagi, tipe pria yang tidak ragu menyakiti wanita. Madeleine harus awas. Madeleine harus menyakiti mereka dengan sama rata. Ha, benar—yang lalu diwujudkan dengan menggesekkan pisau ke pipi pemuda itu dengan gesit. Biar saja. Mata. Kini pipi. Madeleine berencana membuat Kevin Fremunzer buruk rupa. Sama buruk seperti hatinya. “A—a,” ia melihatnya. Jelas sekali. Untuk sejenak Madeleine terdiam, dengan wajah yang memerah dan terasa panas akibat melihat bantuan dari seorang kawan satu distriknya. Tidak lama, “Trims.” Karena yang itu bukan Kruchev yang ia mau.. |
![]() |
|
| Yasmine Silvertongue | Saturday Jun 1 2013, 09:12 PM Post #232 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 46 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 4 (CE;pistol)|| AP: [result]8&8,1d9,0,8&1d9[/result] || KS: [result]7&7,1d24,0,7&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi Tangannya terlihat mengerikan. Sama mengerikannya dengan gurat dan parut garis luka pada wajah Ethan Nestor. Lihat itu? Lihat? Sebuah karya agung milik Yasmine Silvertongue yang takkan hilang bahkan dengan berbotol-botol salep godokan Capitol sekalipun. Sukurin. Yasmine sedikit merasa puas meski ia sudah lebih lelah dua kali lipat dibandingkan pemuda itu. Apa kabar teman perempuannya, omong-omong? Yasmine tidak lagi menaruh belas kasih. Selama ini ia salah dengan bersikap berhati-hati dalam menyerang dan setiap penyesalan yang dirasakan hati kecilnya. Tidak. Arena ini memaksa Yasmine untuk berpikir layaknya binatang. Gunakan insting, percaya tidak kepada siapapun. Gadis ini telah belajar banyak seiring dengan semakin banyaknya dentum meriam yang membuat Arena semakin semarak. Ia menyerang gadis dari Empat, siapa namanya? Ferina Secret, kalau tidak salah? Dia yang melempar botol minum ke arah Yasmine di awal tadi. Beruntung ia berhasil mengelak. Tidak lucu jika ia mengalami gegar otak ringan karena sebuah pukulan dari senjata berupa tempat minum. Mau bermain keras? Ayo bermain keras. Yasmine menyodokkan pistolnya ke arah hidung sang gadis. Tidak ada yang menyukai wanita berhidung bengkok. Kemudian ia menyerang ke bagian ubun-ubun kepalanya. Masih kurang. Terakhir, Yasmine memukul Ferina di bagian pipi sebelah kanan. Keras. |
![]() |
|
| Floryn Lee | Saturday Jun 1 2013, 09:12 PM Post #233 |
![]()
|
└(∵┌)└( ∵ )┘(┐∵)┘ DISTRIK 4 || HP: 78 O' MANTAB (*`д´)b || POSISI: 4 || AP: [result]8&5,1d10,2,8&1d10+2[/result] TARGET: FREIDA (D10) || KS: [result]16&16,1d24,0,16&1d24[/result] TARGET: GAVYN (D11) || KS: [result]20&20,1d24,0,20&1d24[/result] DUA BELATI, SATU TENDA Betulan...mati. Shock, kemudian ia berjalan mundur seiring menarik bilah panjang berlumuran darah itu dari tubuh lawannya. Demi Tuhan. Sudah dua orang yang berpulang di tangannya. Setidaknya Floryn benar-benar membuktikan pada Capitol dan Alethea bahwa ia sama sekali tidak lemah. Ia ingin menunjukkan pada Reef dan Mags betapa ia hancur pada detik ini. Si kecil itu hanya butuh rumahnya untuk pulang. Ia hanya merindukan rengkuhan kakaknya setiap kali ia ingin menangis terisak. Seperti saat ini. Tubuhnya masih gemetaran hebat hingga ia menarik napas panjang. Lelah. Lemah. Lemas. Semua tenaganya sudah terkuras habis untuk menyerang dua orang ini. Kondisi tubuhnya memang sedang tak prima seperti biasanya si kecil itu di distrik. Entah bagaimana, dia membutuhkan wajah dan senyum ayahnya, tepukan pelan di puncak kepala dari ibunya, dan celotehan adik bungsunya, Andra. “Floryn betulan enggak suka distrik sepuluh, lho.” Suaranya bergetar. Dia benar-benar nyaris hancur karena ini semua. Pedang itu diarahkan pada lawannya; niatnya kali ini satu—hanya menebas leher sang lawan, membuat otak berhenti memberikan komando pada organ lain gadis itu. Lalu ia menoleh. Biru kehijauannya menatap pemuda lain berkulit gelap yang sedari tadi sibuk dengan satu orang. Tiga. Empat. Apa mungkin Floryn bisa melakukan itu semua? “Dan aku juga enggak suka sebelas.” Dia menunduk, meraih batu seukuran kepalan orang dewasa dan melemparkannya pada pemuda berkulit gelap itu. Capek. Dia mau ini semua selesai. Si kecil itu butuh rekannya. “HADAAAAA.” Teriakan itu bentuk frustasinya. |
![]() |
|
| Tume Tinkham | Saturday Jun 1 2013, 09:12 PM Post #234 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 11 (Gavyn Owyn) || AP: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] || KS: [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] *CAPEK* dua tempat minum kulit, satu belati, satu lentera Tume sudah malas mengecek apakah serangannya kena atau tidak. Dia bahkan sudah mulai pesimis sekarang. Kena atau tidak rupanya sudah mulai bisa diprediksi. Mereka seperti bermain asal-asalan. Dia tidak yakin apakah dirinya memang sedang tidak ingin membunuh atau memang lawannya itu begitu tangguh sehingga bisa menghindar terus. Lalu, Tume hampir kehabisan bahan untuk berpikir omong-omong. Hah. Dia mengambil kesempatan beberapa detik di sela-sela elakan dirinya terhadap serangan yang datang ke arahnya sambil mengecek sekitarnya. Ada Freida tidak begitu jauh darinya. Gadis itu tengah berusaha melawan serangan dari makhluk dari distrik empat. Kalau tidak salah Floryn adalah nama dari makhluk itu. Mungkin seharusnya Tume membantu Freida tetapi hal itu tidak bisa ia lakukan. Dia tidak bisa mengambil resiko untuk membiarkan punggungnya tebruka lebar—ketika dia melangkah ke arah Freida—dan membiarkan Gavyn serta Pinoy mengambil kesempatan itu. Tume harus menjaga agar tubuhnya selalu mengahdap dua orang itu untuk amannya karena dia tidak yakin Shinzo dari distrik delapan akan tetap setia dengannya. Hng, kacau, ya. Ia tidak bisa memprediksi sudah ada berapa nyawa yang dicabut dalam beberapa detik terakhir tetapi dia yakin jumlah mereka sudah sedikit menyusut daripada sebelumnya meskipun masih ada cukup banyak peserta di tempat ini. Baiklah. Kembali fokus pada usahanya untuk menusuk Gavyn! Tume mengambil ancang-ancang dan menerjang pemuda dari distrik sebelas itu dengan mengarahkan belati ke arah mata Gavyn. |
![]() |
|
| Freida Hayworth | Saturday Jun 1 2013, 09:12 PM Post #235 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 45 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 4 Floryn Lee || AP: [result]7&7,1d9,0,7&1d9[/result] || KS: [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result] (1 belati, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit, 1 pasang kaus kaki) Gadis ini ingin hidup. Dia tidak ingin tewas di sini, ingin melanjutkan ke tahap selanjutnya, ingin sehat. Walaupun dia harus terkejut saat mendapati Kyle yang menyerangnya. Kebetulan, tidak sadar, hanya karena posisi mereka yang tidak cocok. Kyle mungkin juga tidak dengan sengaja melakukannya, kan? Kyle anak baik, tidak mungkin sengaja melukainya. Freida mempertahankan dirinya, hanya dengan belati, senjata yang terbilang berguna untuk memenuhi harapannya bertahan lebih lama lagi. Dia akan terus berjuang walaupun terasa berat untuk benar-benar melukai orang dengan belatinya ini. Lagi, gadis ini berlari, mendorong sesosok anak kecil yang terus-menerus menyerang Kathleen dan Kyle. Kedua anak itu tampak tidak sehat lagi. Apa yang harus dilakukannya? Tidak ada kemampuan mengobati yang dimilikinya. Dia hanya bisa membantu menyerang sosok yang terus melukai kedua anak itu. Karena Kathleen semakin sekarat. Melihat begitu banyak darah yang telah tertumpah, karier yang terlihat bahagia dengan melakukannya. Mereka ini orang-orang yang tidak sehat pikirannya hingga bisa melakukan hal sekejam ini. Masih bisa tertawa walaupun telah membunuh orang-orang tak berdosa. Freida ingin bertahan, ingin melewati wilayah bloodbath ini, hanya supaya bisa berkumpul dengan Yasmine dan Tune lagi. Bersama-sama. Edited by Corialonus Snow, Saturday Jun 1 2013, 09:17 PM.
|
![]() |
|
| Hada Atala | Saturday Jun 1 2013, 09:15 PM Post #236 |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 61 || POSISI: 8 TARGET: MARIO SPIELBERG (D7) || AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] || KS: [result]14&14,1d24,0,14&1d24[/result] 2 kapak, 1 korek api, 1 tempat minum air ukuran 2 liter HADA KAYAKNYA KESURUPAN SOLANIN. #SIAPAITUSOLANIN Mendadak jadi beringas, si Hada. Nggak tau keturunan siapa. Keluarga Atala yang beringas ya cuma cewek-ceweknya saja. Makanya Hada selalu merasa dia dijajah sama ibu dan kakaknya, Hana. Iya, Hada itu anak baik, penurut, takut sama perempuan ganas macam perempuan-perempuan Atala yang dia kenal. Tapi kayaknya Hada nggak bakal menjadi orang yang sama lagi. Dia ingat, dia seorang pembunuh sekarang. Iya, dia seorang pembunuh. Jadi membunuh satu orang lagi juga nggak apa-apa kan? Boleh kan? Hada sudah muak, dia ingin cepat-cepat bertemu Floryn. Mungkin sudah tidak ada waktu lagi. Dengar kan? Sudah berapa meriam yang diledakkan berurutan? Apa salah satunya itu Floryn? Hada nggak mau memikirkan itu lebih jauh. Dia hanya harus berusaha. Harus menyerang. Harus bertemu Floryn. “KAMU NGGAK TAU YA ARTI KATA MINGGIR? KAMU MAU MATI? JANGAN HALANGI AKU!” geram, dia meneriaki cowok menyebalkan itu penuh emosi. Serangan cowok itu sih tadi berhasil dihindarinya, tapi tampaknya dia belum juga mau enyah dari hadapan Hada. "BERISIK AH! MINGGIR SANA!" Dia nggak punya waktu banyak dan mungkin Floryn juga begitu. Dia harus cepat. Harus cepat. Dua kapaknya kembali dihantamkan, berkali-kali ke tubuh cowok terkutuk itu. |
![]() |
|
| Ethan Nestor | Saturday Jun 1 2013, 09:16 PM Post #237 |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 79 || POSISI: 6 TARGET: Yasmine Silvertongue || AP: [result]7&5,1d10,2,7&1d10+2[/result] || KS: [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result] Tombak, 2 Pistol udara, 1 air minum “JAUHKAN TANGANMU DARI WAJAHKU, BRENGSEK!” Kacau, Ethan kacau. Ketika ia sedang menyerang Nigel, tangan gadis itu berhasil mencakarnya. Belum cukup sampai di situ, tangan itu berhasil mencolok matanya. Menusuk dengan jahanam hingga Ethan harus berteriak kencang. Mungkin tak berhasil menarik perhatian kawanan lain. Ya, ya, bahkan ia pun tak peduli dengan mereka. Ia sibuk dengan urusannya sendiri. Sejenak Ethan meraung kesakitan, menyayangkan serangan Yasmine yang harus mengenai wajah mulusnya. Demi apapun, pasti tak akan ada yang memberikan sponsor padanya. Tangan kirinya memegang bagian mata, merasakan panas luar biasa yang ia derita. Beruntung, tidak sepenuhnya buta. Ia masih bisa melihat cukup baik, meski tidak sefokus sebelumnya. Bahkan terdapat bercak darah pada tangannya. Keparat, kuku gadis itu seperti setan. Kini Ethan tak mau bermain-main lagi. Raungan kedua, ia benar-benar marah. Dengan darah yang menghiasi wajahnya, serta darah yang keluar dari mata, menambah kebengisan seorang Ethan Nestor. Ia meninggalkan Nigel sejenak, lebih berurusan pada Yasmine. Gadis ini berbahaya. Ethan mengangkat tombaknya kembali, mengarah pada perut Yasmine lagi. Ia ingin mencabik-cabik tubuh gadis itu, mengeluarkan isinya sekalian kalau bisa. Ia tahu bahwa dirinya berhasil berubah menjadi boneka milik Capitol. Tak apa, sekali lagi, jika bayarannya adalah pulang hidup-hidup. Biarkan ia berubah menjadi pembunuh. Biarlah Laz dan Vale menyadari sisi lain dari dirinya. |
![]() |
|
| Yasmine Silvertongue | Saturday Jun 1 2013, 09:17 PM Post #238 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 46 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 4 (CO;tangan)|| AP: [result]2&2,1d9,0,2&1d9[/result] || KS: [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi Rasakan itu, Nestor. Oh, cukup. Yasmine ingin menyudahi ini semua. Sejoli itu—puih—mereka tidak bisa mencari mainan lain? Jika mereka memang pasangan dan sangat mendambakan anak, Yasmine bukan pilihan yang tepat, tuan dan nyonya. Kiranya ia berusia berapa tahun? Empat belas? Sepuluh? Dua tahun? Sial. Ketika orang asing datang dan meremehkan dirinya, itu langkah yang salah. Lima. Meriam kelima berbunyi dan akhirnya Capitol mendapat suguhan yang menarik. Semakin banyak dan ini belum—ia yakin—ini belum berhasil memuaskan keinginan para Pembina Permainan. Lebih banyak darah. Lebih banyak mayat, mungkin begitu sorak mereka. Dasar pemerintahan sinting. Yasmine rasa lima belum cukup, mungkin mereka meminta sepuluh? Tidak… dengan begitu banyaknya peserta di Cornucopia, sepuluh bukan angka yang cukup besar untuk dapat menyebut Cornucopia sebagai tempat Bloodbath. Kembali fokus kepada Ethan Nestor. Tangannya terasa gatal untuk kembali bersarang di dalam mata pemuda itu. Kejam dan sinting, memang, tetapi apa yang tidak akan ia lakukan demi memukul mundur lawannya itu? Tidak. Ia akan melakukan segala hal. Karena segala hal telah dihalalkan disini. Yasmine kembali menjambak rambut milik Ethan. Kekuatannya tiada banding untuk adu tinju dan panco, jadi mari lakukan ini dengan gaya seorang gadis biasanya. Ia menjambak dan menendang ulu hati Ethan, terakhir ia kembali mencakar leher pemuda itu. "MAKAN BRENGSEKMU!" |
![]() |
|
| Kristeen Franscois | Saturday Jun 1 2013, 09:18 PM Post #239 |
|
DISTRIK 8 || HP: 30 || POSISI: 6, TARGET: Zephaniah Lore – D1 || AP: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] || KS: [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result] 1 bungkus dendeng sapi, 1 lentera, 1 kotak biskuit, 1 tempat minum kulit “Kau anak baik Urie, seharusnya kau tidak sekasar itu padaku.” Lihat, lihat, kedok apa yang dipakai Urie Tommy sekarang. Ia mengingatnya sebagai anak mesum yang suka menggoda gadis-gadis, salah satu contohnya Yasmine—sekutunya. Dia kelihatan sangat baik meskipun aksinya selalu terlihat mengganggu. Seperti dugaannya, karier adalah aktor dan aktris kampungan, tindak tanduk mereka sebelum dan sesudah arena bisa mudah sekali ditebak. Pantasnya laki-laki seperti mereka segera operasi kelamin saja biar lebih cocok untuk berhadapan dengannya, sementara yang gadis-gadis heboh sisanya suruh mengulang kelas drama mereka di distrik. Akting mereka bau sarden busuk. Terlalu mudah terendus. Nah, nah, nah, memang laki-laki tidak tahu malu ya, seenaknya saja menendang perempuan seperti mereka sedang bermain sepak bola saja. Seharusnya mereka malu masih disebut laki-laki. “Sudah kubilang tidak perlu kasar begitu kan...” Ia mendengus jengah. Nafasnya ditarik pajang satu kali. Cepat-cepat kepalanya menoleh Zephaniah, “Bukan aku ingin cepat mati Lore, tapi aku hanya lelah karena pertarungan denganmu. Aku menyesal harus bertemu denganmu tahu tidak.” Karena kaki ini, karena kapak sialan itu, karena kau Lore. .... Lagi-lagi bocah satu itu menekan lukanya dengan keras, dan Kristeen hanya bisa berteriak sekuat yang ia bisa ketika kapak itu kembali mengiris epidermisnya dan berdarah. “Kalau kau suka padaku bilang saja tidak usah menyiksaku begini!” Kristeen memukul-mukul lengan bocah itu dan memilih untuk meninju hidungnya dengan alas sepatunya yang ber-sol tebal. |
![]() |
|
| Mario Spielberg | Saturday Jun 1 2013, 09:19 PM Post #240 |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 70-7-7-4-9 || POSISI: 2 TARGET: DISTRIK 4 (Hada) || AP: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] || KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] Ransel berukuran sedang, 1 bungkus dendeng sapi, sepasang kaus kaki, 1 tempat minum ukuran sedang, 1 kotak biskuit Gini nih akibatnya kalau melawan orang yang makannya mungkin empat sehat lima sempurna ditambah ikan satu kilo sedangkan diri sendiri tidak cukup gizi dan makan saja syukur-syukur dapet. Mario hampir memaki saking kesalnya tiga serangan bertubi darinya tidak kena sasaran. Hah, kalaupun ia mati sebenarnya tidak harus mengkhawatirkan apa-apa. Harusnya mungkin Mario mengalah saja dan membiarkan pemuda distirk ikan itu menyelamatkan siapa tadi? Floridin? Udin? Klorin? Entah siapa sedang dia tidak ada niat menyelamatkan siapapun. Tapi semua berubah saat sang pemuda memaki dan menyerangnya bertubi-tubi. Siapa juga mau ngalah untuk orang tidak punya hati. “Ya sudah sana pergi bawa kapak mu!” Mencoba menendang jauh sang pemuda Atala supaya enyah dari hadapannya dan menolong si Florydyna atau siapalah yang mau dia tolong. Entah kena atau tidak yang jelas rasanya sudah nyeri sekali tiga kali kena timpuk kapak. Rasanya beneran kalau Mario bisa pulang ia akan diam-diam membakar habis kapak yang ada dirumah dan di distrik sekalian. Biar deh jadi Avox daripada melihat kapak lagi, Spielberg itu sudah muak sungguh. Bahkan menyebutnya saja sudah membuat mual. “Jangan ganggu aku lagi, pergi sana!” Kau yang mulai ya kau juga yang harus mengakhiri, empat. Terdengar familier ditelinga, entahlah, mungkin Mario mulai tidak waras. |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |
















9:33 PM Jul 11