|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,755 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Ferina Secret | Saturday Jun 1 2013, 09:30 PM Post #251 | |
![]()
|
Filth. Lemah. Gadis itu mau tidak mau menampilkan seringai di sudut bibirnya, sinfully, mendapati pemuda asal Distrik Sembilan telah kehilangan tangannya. Keroyokan. Diserang banyak orang setelah tendangan pada selangkangan tadi. Ini akan berakhir, Ferina menyugesti diri, seraya mengumpulkan kekuatan pada lututnya—yang, goddamnit, mulai bergetar seperti jelly apabila kau menekan permukaannya dengan sendok. ini akan segera berakhir. Kau akan pulang, Sembilan, ke haribaan tangan sang pencipta, sama seperti Ferina yang akan kembali ke Distrik Empat. Tahu-tahu saja Ferina merangsek maju, siap dengan pistol udara di tangan, berusaha membuat tulang pipi si pemuda retak—seandainya bisa, psh. Then again, kepalanya dipukul. Pusing, selama beberapa saat. Bola mata berwarna biru bergulir, seiring dengan kepala yang ditolehkan sebagai usaha sang gadis mencari belatinya. Ada decak yang dibunyikan kedua belah bibir, tahu bahwa lemparan belatinya tadi sama sekali tidak melukai si pemilik surai cokelat dari Sepuluh. Maka matanya melebar tatkala lawan menghampiri—ha! Dia bahkan tidak diberi kesempatan merutuk semua nama yang pantas dirutukinya, lantaran refleks terlalu lambat, surainya terlanjur ditarik, sekujur tubuhnya bisa merasakan tendangan pada suatu titik. Pukulan dengan pistol, juga. Tsk, tsk, impulsif. "Kau—" Pertarungan jarak dekat, mhmm. Kali kedua lawannya melancarkan serangan, ia bisa menghindar. Ada kemungkinan hidungnya bakalan bengkok, still, keberuntungan adalah keberuntungan, bukan? Ferina menyalak tawa halus, lalu mengambil ancang-ancang. Maka selagi keduanya berada dalam jarak yang cukup dekat, Ferina menarik kerah baju sang lawan—mengacungkan belati. Guess. Mengayunkannya, ke arah leher Sepuluh. |
|
![]() |
|
|
| Floryn Lee | Saturday Jun 1 2013, 09:30 PM Post #252 | |
![]()
|
└(∵┌)└( ∵ )┘(┐∵)┘ DISTRIK 4 || HP: 72 O' MANTAB (*`д´)b || POSISI: 4 || AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] TARGET: FREIDA (D10) || KS: [result]24&24,1d24,0,24&1d24[/result] TARGET: GAVYN (D11) || KS: [result]14&14,1d24,0,14&1d24[/result] DUA BELATI, SATU TENDA Tabahkan hatinya, Tuhan. Ini sih betulan kalap. Serangannya kena sekali lagi; padahal deskripsinya udah bentuk pasrah dan rasanya mau menyerah saja. But, wait. Pemikiran itu bakalan jadi pemikiran ke seribu untuknya. Menghindar, si kecil Floryn kemudian melompat-lompat seperti anak kelinci sembari tersenyum ramah. Keningnya berkedut karena kesal. Serius, lho. TAHU CAPEK NGGAK, SIH? DIA MASIH CAPEK. “Sakit, tahu! Dasar kasar!,” bentaknya. Kemudian mulai meraih satu batu seukuran kepalan orang dewasa dan melemparnya lagi. Incarannya sih kening gadis itu. Gini-gini, Floryn jago soal melempar. Bahkan melempar kekesalannya pada orang lain. Kalau istilah kurang bekennya, ia jadi semacam tukang banting di kelasnya. Apapun dilempar ke segala arah jika sudah membuatnya kesal. Seperti saat ini. Kasar, kasar. Kata ibunya, orang kasar itu biasanya enggak punya teman! Dijauhi oleh banyak orang juga. Huh. Lah, kamu sendiri dari tadi ngapain, Floryn dear? (Ya udah lah, ya. Kalau Hada aja bisa kerasukan Solanin, Flo baru saja kerasukan Alethea) “Kalau mau main belati itu begini, tahu!,” katanya menggurui. Satu tangannya terayun untuk mengambil belati dan melemparkannya ke bagian belakang kepala pemuda berkulit gelap dari distrik sebelas. Omong-omong, kepala pemuda itu agak botak. Mengingatkannya sama korek api. Hahaha, random. Enggak apa deh, ya. Untuk memenuhi syarat gila milik si kecil itu saja, kok. |
|
![]() |
|
|
| Freida Hayworth | Saturday Jun 1 2013, 09:31 PM Post #253 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 33 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 4 Floryn Lee || AP: [result]2&2,1d9,0,2&1d9[/result] || KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] (1 belati, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit, 1 pasang kaus kaki) Di sini, masih bersama Freida Hayworth, hanya seorang gadis yang hidupnya telah dipermainkan oleh nasib karena namanya dipanggil saat reaping dan kini harus berakhir di arena. Jika memejamkan mata, Freida bisa mengingat apa saja yang telah dilaluinya selama ini. Tidak terlalu berguna hingga ada sedikit penyesalan karena tidak memanfaatkan waktu yang dimiliki olehnya untuk hidup sebaik mungkin sebelum berakhir di arena. Di tempat yang sangat tidak layak untuk mengakhiri kehidupan seseorang. Terlalu kejam, terlalu berdarah-darah, terlalu ramai. Tak ada suara keheningan seperti yang bisa didengar di distriknya. Hanya suara-suara pertempuran, denting pedang dengan pedang, darah yang terciprat, teriakan kesakitan dan kesenangan. Menyakitkan walaupun hanya mendengar. Menyedihkan saat harus merasakan. Entah mengapa ada orang-orang yang begitu tak punya hati hingga pembantaian seperti ini merupakan hiburan, bukan sesuatu yang menerbitkan rasa iba. Mungkin orang-orang di sini memang tak lagi punya akal sehat. Mereka sudah tak peduli pada kehidupan orang lain. Hanya darah dan drama yang mereka inginkan. Freida menggunakan belati untuk menusuk gadis yang tadi lagi, gadis yang sama. Walaupun tidak ingin, Freida harus menggunakan senjatanya dengan lebih efektif, tidak boleh sembarangan jika ingin bertahan lebih lama. |
|
![]() |
|
|
| Yasmine Silvertongue | Saturday Jun 1 2013, 09:32 PM Post #254 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 42 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 4 (CO;pistol&tangan)|| AP: [result]7&7,1d9,0,7&1d9[/result] || KS: [result]20&20,1d24,0,20&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi LALU MEMANGNYA IA PEDULI KALAU WAJAH ETHAN JADI BURUK RUPA LEBIH BURUK DARI SNOW?! Ia rindu masa-masa ketika ayahnya dengan senang hati menggendong Yasmine di punggung. Seperti anak beruang. Mengalungkan kedua lengannya pada leher sang induk dan bergelayut manja, merasakan hangat tubuh induk melalui punggungnya. Ini? Jangan harap! Yasmine serta merta menjadikan Ethan kuda. Ia merangsek naik dan menempelkan dirinya pada punggung bidang pemuda dari distrik kelautan itu. Tangannya tidak menggantung lemas—ogah aja—ia mencekik sekuat tenaga. Sampai urat-urat Nestor terlihat dari balik permukaan kulitnya. Pistol udara yang tersampirkan pada punggungnya ia ambil, kemudian ia pukulkan ke puncak kepala Ethan. Setelah ini mungkin Yasmine benar-benar akan mengalami kesakitan luar biasa. Tetapi ia tidak peduli. Secepat mungkin ia turun dari kuda-kudaan tersebut. Kembali melayangkan cabikan pada pipi sebelah kiri Ethan. Ia tidak peduli lagi. Ia tidak peduli apa yang dipikirkan Ethan tentang dirinya, atau apa yang dipikirkan seantero Panem mengenai dirinya. Yasmine rasa, jika ia cukup tidak memiliki hati. Mungkin ia akan menusuk-nusukkan belati ke setiap jenjang tubuh lawannya tanpa perasaan bersalah, tanpa mengindahkan lolongan kesakitan atau makiannya. Sayang, Yasmine tidak pernah mahir dalam pertarungan jarak dekat. Ini, ia harap, pertama dan terakhir. |
|
![]() |
|
|
| Madeleine Lethbridge | Saturday Jun 1 2013, 09:32 PM Post #255 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 95 – 6 (Patricia Brown) - 3 (Kevin Fremunzar) - 4 (Patricia Brown) – 7 (Kevin Fremunzer) – 1 (Patricia Brown) - 1 (Patricia Brown) || POSISI: 5 TARGET: DISTRIK 9 (Kevin Fremunzer) AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] || KS: [result]13&13,1d24,0,13&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu Maafkan dia yang tidak berduka untukmu, tapi dia tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar dan maniacal begitu melihat lawannya yang paling gigih itu terkapar mengenaskan. Mati. PATRICIA BROWN MATI. Lengkungan senyum itu tanpa bisa dikendalikan jadi makin dan makin lebar. Masih belum puas, pisau itu tetap diarahkan ke perutnya; membuat luka nganga yang besar. Isi perut Patricia Brown bahkan terlihat. Usus, lambung, hati.. wajah Madeleine terciprat darah, tapi terabaikan dan tidak diberi sedikitpun atensi. Ia ingin menangis sebetulnya. Sadar; ia kini resmi jadi pembunuh. Benar. Ia mengatai orang keji, tapi sendirinya malah lebih keji. Lebih hina. “Kamu akan menyusulnya, Tujuh.” Bibir Madeleine digigit kuat-kuat untuk menguatkan dirinya yang sekarang gemetar hebat pasca membunuh satu lawan. Senyumnya tapi masih terpeta jelas di wajah. Pistol tadi tidak berguna sama sekali. Latihannya bertahun-tahun dengan senjata itu sama sekali tidak membantu. Maka, kini mengabaikan teknik-teknik yang barangkali jitu bila diaplikasikan dengan seksama dengan pistol, Madeleine lebih memilih bergantung pada pisau yang berlumuran darah di tangannya. “Are you ready?” Jangan dijawab. Karena apapun jawabanmu, Madeleine akan tetap menusukkan mata pisau tajam itu ke dada kirimu. Biarkan ia merobek rusukmu, Tujuh. Karena sama seperti Patricia, tak usah kamu buat lama—karena cepat atau lambat, di tangannya, nyawamu toh akan melayang juga. Ini hanya masalah waktu. Dan kamu tak punya itu. |
|
![]() |
|
|
| Ethan Nestor | Saturday Jun 1 2013, 09:33 PM Post #256 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 77 || POSISI: 6 TARGET: Yasmine Silvertongue || AP: [result]3&1,1d10,2,3&1d10+2[/result] || KS: [result]16&16,1d24,0,16&1d24[/result] Tombak, 2 Pistol udara, 1 air minum Gagal. Keparat. Keluarkan semua ucapan kotor yang ia ketahui sampai umur sekarang. Kalau ayah dan ibunya tahu, mereka pasti kecewa karena sang putera ternyata tidak alim nan sopan seperti keseharian di rumah. Tentu saja, mana berani Ethan mengucapkan kata tabu di hadapan ayah dan ibunya. Laz dan Vale paling sering mendengar, terutama jika ia gagal menangkap ikan. Segala sumpah serapah pasti akan keluar dari mulutnya. Tetapi Laz dan Vale sama-sama masih muda, masih lebih mengerti seperti apa gejolak kawula muda. Ethan mengerjapkan matanya beberapa kali. Serangannya gagal pasti karena pengaruh matanya. Terlihat kabur dan tidak fokus. Lagipula rasa panas luar biasa masih menyerang matanya. Sial, ini sangat mengganggu. Sesekali Ethan masih mengerjapkan mata, mencoba mencari sisi paling nyaman agar dapat melihat lawan. Dan sementara ia sibuk dengan matanya, tahu-tahu Yasmine sudah menjambak rambutnya, sekaligus mencakar lehernya. Keparat, apakah gadis itu ingin menjadi singa? Semenjak tadi serangan Yasmine yang menggunakan tangan selalu berhasil. “Keparat! Diam kau, gadis miskin!” Dan Ethan mengarahkan tinjunya pada wajah Yasmine, untuk menjauhkan sedikit gadis itu dari wajahnya. Harusnya tadi ia mengambil kapak, untuk memotong tangan gadis itu dengan keji. Dengan begitu ia bisa terhindar dari cakaran-cakran biadab milik Yasmine. Ha, kenapa lawannya begitu menyusahkan sih? Edited by Jonathan Duprau, Saturday Jun 1 2013, 09:44 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Adina Erasto | Saturday Jun 1 2013, 09:35 PM Post #257 | |
![]()
|
DISTRIK 11 HP: - || POSISI: 4 1 belati, 1 dendeng sapi, 1 lentera, dan 1 tempat minum kulit *~ LAST POST ~* Bloodbaths Darah siapa yang akan disumbangkan untuk memandikan para ksatria? Sayangnya bukan termasuk darah Adina Erasto, ia tidak menyumbangkan darahnya melainkan jiwanya. 5 menit sebelumnya. Adina masih mencoba menusukan belatinya ke arah dada wanita distrik karier di depannya, jika wanita itu tidak mau menyerah meninggalkannya untuk keluar hidup-hidup dari bloodbaths maka apa yang harus ia lakukan agar keluar bertahan hidup? tentu dengan nasibnya sendiri. Tidak sekalipun ia menyangka menghalau wanita karier untuk mendapatkan senjata malah menyusahkannya begini. Apakah pilihannya salah atau memang nasibnya sudah ditakdirkan seperti itu? hati kecil Adina kembali berguman, entahlah. Berkali-kali Adina menusukan belatinya, berkali-kali itu pulalah wanita itu menghindar darinya. Kini rasanya ia sudah kehabisan tenaga, bernafas pun terasa sulit, tapi ia masih belum menyerah, begitu pula dengan si wanita karier. Wanita itu berbalik dan menerjangnya. Mengikat leher Adina dengan tali plastik. Nafas Adina tercekat. Spontan ia melepaskan genggaman belatinya dan berusaha beraih tali yang menjerat lehernya. Semakin kuat Adina berusaha menarik talinya lepas dari lehernya semakin kuat pula tli plastik itu menembus tenggorokannya, sehingga tak ada lagi yang bisa ia katakan maupun pikirkan. Adina berusaha menendang-nendang sekuat tenaga, tapi ia hanya menendang udara di depannya, karena wanita karier itu menjeratnya dari belakang. Jantung Adina makin berdegup kencang, kini ia bisa merasakan suhu tubuhnya meningkat, sekilas tadi ia sempat berpikir bahwa tindakan sepontannya menjatuhkan belatinya merupahkan tindakan bodoh, jika belati itu masih ada bersamanya mungkin ia bisa memotong talinya walau harus melukai lehernya sendiri. Kini tidak ada lagi yang bisa Adina pikirkan selain udara. Ia ingin menarik nafasnya panjang. Begitu panjang sampai ia bisa merasakan leganya menghirup oksigen yang akan masuk ke paru-parunya. Adina merasakan kini tangannya mulai kebas. tidak ada lagi yang bisa ia rasakan selain sakitnya tubuhnya, seperti seluruh darah panasnya naik ke menjulur ke otaknya. Kepalanya kini terasa sakit, badannya terasa lemas tak bertenaga, Adina terkulai lemas. Seperti inikah rasanya mati? Adina merasakan sakit yang begitu mendalam ketika ia merasakan ada seseorang yang berusaha menariknya, Adina merasakan tubuhnya ditarik melayang. Tidak ada gerakan apapun yang bisa ia lakukan dengan tubuhnya kini. Tubuhnya terasa begitu kaku untuknya. Sesekali ia mendengar dengungan memekikan telinga yang berasal dari alat bantu dengarnya sebelum akhirnya ia bisa mendengar suara yang begitu jernih, begitu bersih. Suara yang pernah ia dengar 8 tahun yang lalu. Suara orang berlari, suara senjata beradu, suara orang berteriak bahkan suara jantung yang berdetak. Inilah Bloodbaths. |
|
![]() |
|
|
| Aidy Joselin | Saturday Jun 1 2013, 09:36 PM Post #258 | |
|
DISTRIK 5 || HP: 55 || POSISI: 4 TARGET: DISTRIK 1 (Flavea Vorfreude) || AP: [result]9&9,1d9,0,9&1d9[/result] || KS: [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] Ransel Kecil[ /b ] Oh sial! Aidy sedikit menyesal karena tidak mendatangi pos yang mengajari cara menggunakan senjata ketika di pelatihan. Kini, ia merasakan bagaimana ia membutuhkan sesuatu untuk dijadikan senjata. Ia ini terlalu lemah untuk menggunakan fisiknya sebagai senjata, dan juga ia memiliki rasa bersalah yang lebih besar jika menyakiti orang lain menggunakan anggota tubuhnya sendiri dibandingkan dengan perantara. Lagipula, ia tidak cukup percaya diri untuk menyerang menggunakan tubuh seperti yang dilakukan kedua gadis yang berada di dekatnya itu. Namun, apa daya, kawat yang digunakannya sebagai senjata tidak menghasilkan efek apapun. Ya, terang saja, Aidy memang sering berurusan dengan kawat, namun kawat yang tidak dialiri listrik? Itu bukanlah keahliannya. Entah apa lagi yang dilakukan gadis karier itu, namun rasanya, dia itu ingin sekali mendorong gadis berkulit hitam itu ke arah Aidy. Dan sudah pasti, ia juga ikut rubuh ketika tubuh gadis kulit hitam itu menghantam tubuhnya. Cukup jauh darinya, namun masih dalam jarak pandang, ia menangkap sosok Anneli yang juga memiliki masalah yang sama sepertinya. Aidy dan pemuda itu sepertinya harus benar-benar sadar kalau tempat ini sangat jauh berbeda dengan distrik lima. Ugh, rasanya ia ingin membuat per listrik agar ia dapat segera meloncat menjauh dari sini. atau setidaknya mampu menendang dan memberikan setruman yang mampu melumpuhkan siapapun sasarannya. Namun sepertinya kedaan tidak mendukung Aidy untuk melakukan itu sekarang. Ia melihat gadis yang kalau tidak salah berasal dari distrik sebelas itu keadaannya terlihat buruk. Sudah berapa lama ia bergulat dengan gadis karier itu? Aidy merasa miris melihatnya. Wajahnya mungkin terlihat sangat dingin dan seakan ingin melahap siapapun di hadapannya hidup-hidup. Namun pada kenyataannya, ia ini hanyalah gadis lemah luar dalam. Lemah fisik dan batinnya. Batinnya tidak kuat untuk melihat kejadian-kejadian mengerikan seperti ini. Kalau ia bisa, sebenarnya ia tidak ingin menyakiti siapapun disini. Namun kalau keadaannya sudah seperti ini, dirinya tersakiti dan orang lain juga mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah dibandingkan dirinya, tentu saja ia tidak akan tetap diam seperti biasanya, Ia ini bukan sebuah patung yang hanya bisa menjadi saksi bisu sebuah peristiwa. Ia ini juga manusia yang bisa merasakan sakit dan tak terima. Gadis itu tak bergerak, terdiam, setelah usaha kerasnya untuk memertahankan hidupnya. Ia seharusnya... Aidy tidak kuasa... Titik bening menetes ke atas tanah, tapi segera dihilangkannya dengan cepat. Tanda berduka, tanda ia juga tidak terima dengan keadaan seperti ini, yang menimpa gadis sebelas itu, yang menimpa dirinya, yang menimpa peserta lainnya. Namun ia tidak ingin memerlihatkannya dengan jelas. Dan sekarang, gadis ini terbakar amarah, merah menyala, seperti surai terangnya. Tidak ada listrik, kawat pun juga tidak berhasil, mau tidak mau pun pilihan terakhirnya adalah anggota tubuhnya. Meski sebenarnya ia benar-benar tidak ingin menggunakannya, namun kali ini ia benar-benar terpaksa. Jadi pada akhirnya... Ia membenturkan kepalanya pada kepala si gadis karier itu. Pening sudah pasti akan dirasakannya, darah sudah pasti akan mengalir dari dahinya, namun ia rasa, itu adalah senjata terkuatnya selain tangan dan kakinya. Aidy tidak mengahafal nama peserta. Aidy hanya menghafal asal distrik peserta. |
|
![]() |
|
|
| Freida Hayworth | Saturday Jun 1 2013, 09:37 PM Post #259 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 33 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 4 Floryn Lee || AP: [result]8&8,1d9,0,8&1d9[/result] || KS: [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] (1 belati, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit, 1 pasang kaus kaki) "Kamu harus belajar menyukai apapun yang tidak kamu sukai kalau begitu." Tersenyum pada gadis kecil yang terus-menerus menyerangnya, pada gadis yang telah mencabut nyawa Kathleen dan Kyle di usia sebelia ini, pada gadis yang tidak seharusnya melakukan ini semua. Hati Freida terasa pedih saat melihat gadis ini, yang seharusnya masih bermain dengan boneka, atau mungkin berlayar di atas laut mengingat distrik mereka adalah satu-satunya distrik yang memiliki wilayah perairan, kan? Seharusnya gadis sekecil ini tidak memegang pedang sungguhan untuk membunuh orang lain. Seharusnya tidak begini. Tapi siapalah dia untuk berkata seperti ini, untuk mencegah hal seperti ini tidak terjadi lagi? Dia bukan siapa-siapa, hanya tribute yang terpilih karena kesialan yang diterimanya. Hanya seseorang yang memang berada di sini untuk menjadi korban, sumber penghiburan bagi orang-orang yang jenuh dengan kemewahan, menjadi peringatan bagi semua penghuni distrik untuk tidak bermain-main dengan Capitol. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti alur yang telah dibuat oleh Capitol. Dia hanya bisa menurut, tidak protes, tidak berkata apa-apa, tidak boleh melawan. Terus melukai lawannya, gadis kecil yang seharusnya tidak bersalah. Yang mau tidak mau harus dilakukannya untuk mempertahankan diri sendiri. |
|
![]() |
|
|
| Gavyn Owyn | Saturday Jun 1 2013, 09:37 PM Post #260 | |
![]()
|
DISTRIK 11|| HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 10 (Tume Tinkham) || AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]9&9,1d24,0,9&1d24[/result] dua pasang kaus kaki, satu lentera, satu korek api Napasnya menjadi-jadi saat ini. Dia berusaha menekan emosinya. Dia berusaha untuk berperilaku layaknya manusia. Tapi, dia gagal. Gagal. Adina sudah meninggal. Ia melihat tubuh itu tak bernyawa lagi di saat dia berusaha menghindari serangan yang ditujukan kepadanya—yang datang dari Shinzo dan juga Tume. Ia merasa yakin ini adalah ulah dari Flavea, perempuan dari distrik satu. Baginya tidak ada orang yang bisa membunuh Adina dengan cepat, kecuali perempuan barbar itu. Mungkin dia bisa berhadapan satu lawan satu dengan perempuan itu tetapi dia melihat sudah ada lawan dari perempuan itu—seorang gadis dengan rambut merah yang menurutnya adalah peserta dari distrik yang sama dengan Pinoy. Ya, sudahlah. Biarkan distrik lima itu yang membalas dendam dari Adina. Menurutnya, permainan semakin tidak asyik dengan meninggalnya Adina. Pft. “Kau diam saja, Shinzo! Akan kubunuh anak kecil ini!” Gavyn menunjuk dada Tume dengan murka. Setelah itu dia segera melayangkan tinjunya sekali lagi ke arah sosok kecil itu sambil berharap tidak ada hindaran. Dia sudah capek merasa dibodohi oleh anak kecil dari distrik sepuluh itu. Baginya seharusnya permainan dengan Tume Tinkham bisa berakhir dengan cepat. Tapi, entah mengapa Tume selalu berhasil menghindarinya di saat terakhir. Ini benar-benar menggeramkan. Dia tidak ingin diaggap menyiksa anak kecil, tapi Tume Tinkham ini adalah pengecualian karena ana itu begitu lihai menghindarinya. Mengacuhkan serangan dari Floryn Lee 1 dan Floryn Lee 2 karena sudah diserang oleh Tume Tinkham dan Shinzo Kawabata. |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
![]() ZetaBoards gives you all the tools to create a successful discussion community. Learn More · Register Now |
|
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |
















9:33 PM Jul 11