|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,754 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | |
|---|---|
| Mario Spielberg | Saturday Jun 1 2013, 09:37 PM Post #261 |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 70-7-7-4-5=47 || POSISI: 2 TARGET: DISTRIK 4 (Hada) || AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result] Ransel berukuran sedang, 1 bungkus dendeng sapi, sepasang kaus kaki, 1 tempat minum ukuran sedang, 1 kotak biskuit Sial! Ini namanya menyusahkan diri sendiri dan membuang tenaga sendiri. Mario Spielberg pemuda distrik tujuh terhuyung dengan tidak kerennya karena gagal mendorong sang pemuda ikan distrik empat Hada Lalala itu. Coba kalau seandainya tadi mainnya tangan kosong, pasti rasanya tidak sesakit ini. Ya bagaimana tidak sakit kalau kena sambit kapak, tiga kali pula! Kalau mau tau rasanya ya cobakan sendiri saja ditanganmu yang sudah menebas habis dua nyawa orang tak berdosa. Hati-hati karma loh, Mario sumpahin kalah deh si manusia ikan ini supaya tidak bisa pulang kerumah. Iya, kalau dua belas dan enam sudah dibunuhnya, dan kalau sampai Mario Spielberg juga mati di tangannya, tidak segan lagi Mario akan menghantui dan berdoa supaya ini mahluk yang mirip mutan jejadian ini cepat mati! Nyahaha. “Kenapa masih disini? Sana pergi!” Seperti bicara dengan tembok rasanya. Pemuda Spielberg itu mendorong dengan tangan yang nyerinya cuma dia dan mungkin pencipta yang tahu bagaimana sakitnya akibat sambitan kapak tak berdosa dan dijadikan senjata pembunuh bagi manusi ikan itu. Spielberg muda berusaha mendorong jauh lagi sang pemuda dengan tangan yang berlumuran darah. Sebenarnya sengaja melumuri tangan dengan darah dari pundak supaya sang pemuda Atalalalala itu bisa jijik akibat darah Mario. Ya anggaplah sebagai kenang-kenangan dan donor darah gratis begitu. |
![]() |
|
| Yasmine Silvertongue | Saturday Jun 1 2013, 09:40 PM Post #262 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 42 || (belom dikalkulasi sama punya Ethan, hasilnya ga keluar)POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 4 (CE;kaki&tangan)|| AP: [result]8&8,1d9,0,8&1d9[/result] || KS: [result]13&13,1d24,0,13&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi HA! Gadis dengan modal paras cantik dan banyak gaya! Silahkan gebuk Yasmine sesuka hati. Ia dapat merasakan panas darah yang mengalir deras dari sisi lehernya. Sebuah luka yang menganga dan tak akan mudah untuk disembuhkan. Ia rasa tidak ada gunanya juga menutupi dengan satu tangan. Ia butuh obat, dan sekarang bukan saat yang tepat untuk mendapatkan obat. Jarak mereka dekat, kan? Lihat apa yang akan Yasmine perbuat terhadap paras menjijikan gadis Secret tersebut. Cuh. “ITU!? CUMA ITU YANG KAMU BISA?! Sampah.” Bentaknya setelah ia meludah seenak hati kepada si gadis Secret. Yasmine menamparnya keras pada satu sisi wajah. Kemudian ia menendang perut gadis itu. Usaha yang tidak bisa ia lakukan dengan hasil sia-sia. Harus berhasil. Harus sekuat tenaga. Penuh kemarahan karena ia hanya bisa melukai Yasmine dan bermain-main dengannya. Gadis kecil tidak berharga. Ia melepaskan diri—siapa yang ingin disentuh orang menjijikan macam Secret itu? Hah—Kemudian kakinya kembali ia arahkan ke perut Ferina. Muntah darah? Jadi tidak? Muntah pelangi saja. Sampai paru-parumu keluar kalau perlu. Dengan menggunakan kedua tangannya, Yasmine melakukan hal yang kurang lebih sama dengan apa yang ia lakukan terhadap Nestor tadi. Ia membenamkan kedua cakarnya pada tubuh Ferina. Satu di salah satu kelopak mata, satu lagi di pipi mulusnya. Kemudian ia menarik tangan itu turun. Lihat garis luka yang ia ciptakan? Lihat, itu karyanya. |
![]() |
|
| Zephaniah Lore | Saturday Jun 1 2013, 09:40 PM Post #263 |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 78 || POSISI: 6 Target: Antonio Shadowsong - D9 (KS: [result]15&15,1d24,0,15&1d24[/result] ) dan Kristeen Franscois - D8 (KS: [result]7&7,1d24,0,7&1d24[/result] ) AP: [result]4&2,1d10,2,4&1d10+2[/result] Membawa: ransel besar, 1 kapak, 1 belati, 2 pistol udara "Siapa yang kasar... kau yang menendang kakiku lebih dulu," kata Zephaniah. Ia tertawa kecil. Puas dengan hasil karyanya. Gadis itu memang lebih tampak menarik dengan sebelah kaki buntung dan darah menodai sekujur tubuhnya. Ditambah dengan raut wajah penuh amarah dan rasa benci itu. Ia tak menduga akan begitu menikmati hal ini. Mungkin ia memang sudah gila? Haha. Siapa yang peduli. Lalu lucu sekali, gadis itu menuduhnya suka pada gadis itu. Zephaniah tertawa terbahak-bahak. Hingga dadanya terasa sakit sekali. Gadis itu lucu. Lucu sekali. Uhuk... uhuk.... "Mungkin kau benar," kata Zephaniah. Ia menepis serangan gadis itu dengan mudah lalu ia membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. "Soalnya kau terlihat cantik sekali seperti ini... siapa namamu, ngomong-ngomong?" Lalu ia menempelkan bibirnya ke bibir gadis dari distrik delapan itu. Aroma besi langsung memenuhi inderanya, aroma yang ternyata enak. "Ucapan terima kasih karena telah menghiburku." Hehehe. "Itu ciuman pertamaku, loh. Sebelumnya aku belum pernah mencium gadis lain." Ah, hampir saja ia lupa pada pemuda dari sembilan. Pemuda itu juga terlalu kasihan kalau dibiarkan hidup dengan luka-luka yang begitu banyak di tubuhnya. "Sebentar, aku urus dia dulu," kata Zephaniah lalu berjalan mendekati pemuda dari sembilan. Dengan gerakan cepat, ia mengayunkan kapak di tangannya ke leher si pemuda dari sembilan. Kalau kepalanya putus, ia akan langsung mati. Ya, kan? |
![]() |
|
| Flavea Vorfreude | Saturday Jun 1 2013, 09:41 PM Post #264 |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 80 || POSISI: 4 TARGET: Aidy Joselin dan Elisa Sugsweye|| AP:[result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] || KS: [result]18&18,1d24,0,18&1d24[/result] & [result]18&18,1d24,0,18&1d24[/result] 3 Lembar Plastik dan 1 Pasang Kaus Kaki Diserang: Aidy Joselin Gagal. Huft. Serangannya gagal dua-duanya. Apakah keberuntungannya dalam menggunakan belati jauh lebih buruk dibandingkan saat ia menggunakan plastik? Kalau memang begitu rasanya sungguh ajaib. Benar-benar ajaib. Namun ia belum akan menyerah dalam menggunakan belati tersebut. Mungkin saja kan, ia sedang berusaha beradaptasi menggunakan senjata baru. Mungkin, ia juga tak terlalu yakin. Ia menatap lagi belati yang kini masih hanya dihiasi oleh darahnya. Menusukan belati tersebut ke dadanya sendiri terasa benar-benar menggoda. Tapi, ia masih ingin menemukan kebahagiaan di dunia ini. Ia masih belum menemukan pangerannya. Oh ya, tentu saja ia masih memiliki impian itu. Bagaimana mungkin ia dapat melupakan impian terbesarnya? Tak akan pernah di dalam keadaan seburuk apa pun. Tak akan pernah dan jangan harapkan ia melupakan mimpi-mimpi yang sesungguhnya menyiksanya itu. Air matanya sudah berhenti mengalir, rasa sakit di luka-lukanya sudah terasa menanggal. Masih terasa namun tak sesakit tadi. Tubuhnya sudah mulai membiasakan diri dengan rasa sakit, namun ia ragu tubuhnya masih dapat mengatasi rasa sakit dari luka yang mungkin akan datang. Tubuhnya tak sekuat itu, belum lagi mengingat adanya infeksi yang mungkin datang. Ia berusaha menendang lutut dara Sugsweye yang masih berada di dekatnya, menendang sekeras mungkin hingga mungkin menghasilkan cedera. Ia kemudian berbalik ke araha dara Joselin, kini mengincar leher gadis tersebut sabagai sasaran sabetan belatinya. Menghindari pula serangan dari gadis itu yang datang hampir bersamaan ketika ia tiba di sana. |
![]() |
|
| Freida Hayworth | Saturday Jun 1 2013, 09:41 PM Post #265 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 33 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 4 Floryn Lee || AP: [result]7&7,1d9,0,7&1d9[/result] || KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] (1 belati, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit, 1 pasang kaus kaki) Situasi arena masih sama. Jeritan di sana sini. Memekikkan kesakitan karena robekan pedang, kapak, dan benda-benda tajam lainnya yang dimulai oleh para karir. Freida tidak tahu apa yang ditanamkan di kepala para karir ini saat mereka bertumbuh besar di distrik masing-masing. Semua orang punya hati, right? Semua orang punya hati manusia yang berperikemanusiaan, right? Bagaimana mungkin mereka sanggup melakukan ini semua? Barangkali sejak kecil mereka telah diharuskan membunuh orang lain? Dilatih untuk mengayunkan pedang dan kapak untuk memenggal kepala dan memotong tangan? Siapa yang tega melakukan itu? Apa sebenarnya yang mengawali semua ini? Freida tak pernah dapat mengerti. Capitol? Dendam masa lampau? Perpecahan yang hanya tinggal sejarah? Mengapa harus dibawa-bawa sampai generasi mereka? Mengapa Hunger Games ini tak kunjung berhenti? Freida dapat mengajukan ribuan pertanyaan sekarang. Kalau sebelum ini ia menjadi seorang gadis baik dengan mendengarkan ibunya, Rita Hayworth, bercerita bahwa mereka harus bersyukur karena masih mendapat kehidupan di Distrik Sepuluh, sekarang setelah melihat pertumpahan darah ini dengan mata kepalanya sendiri, ia tidak mungkin diam saja. Kan? Dan yang dapat dilakukannya sekarang hanyalah mengayunkan belati. Lagi. Masih untuk anak perempuan yang telah mengeksekusi Kyle. |
![]() |
|
| Madeleine Lethbridge | Saturday Jun 1 2013, 09:43 PM Post #266 |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 95 – 6 (Patricia Brown) - 3 (Kevin Fremunzar) - 4 (Patricia Brown) – 7 (Kevin Fremunzer) – 1 (Patricia Brown) - 1 (Patricia Brown) || POSISI: 5 TARGET: DISTRIK 9 (Kevin Fremunzer) AP: [result]8&6,1d10,2,8&1d10+2[/result] || KS: [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu Gagal lagi, tapi jangan khawatir. Madeleine kini hanya terfokus padamu, dia akan mencurahkan semua perhatian untukmu, maka dari itu. Tak akan lagi ada Patricia-patricia lain yang akan mencuri atensinya, tak ada lagi Tiga yang membuatnya geram. Semua setelah ini akan hanya tentang Tujuh; Kevin Fremunzer. Dengan gesit, pisau yang tadi luput mengenai dada kiri pemuda itu dengan cepat ia alihkan untuk menusuk pusar si pemuda. Biar saja—mungkin nasibnya akan sama dengan Patricia Brown. Tapi Madeleine bisa menjanjikan kalau pemuda itu akan mati dengan cara yang lebih menyakitkan dan tidak semudah Patricia. Lebih sakit lagi. Karena Madeleine mau membunuhnya pelan-pelan. Mata itu—yang tadi nyaris ia cungkil—apakah masih berfungsi? Jika tidak, well, Madeleine akan membantumu menghilangkan benda tak berguna itu. Kalau bisa menjadikannya benda keramat. Semacam jimat—memasangkannya sebagai bandul di kalung selama berada di arena. Doesn’t it sound great, Fremunzer? “Harusnya kamu mati daritadi, sebelum aku semurka ini,” tidak ada sisa kebaikan di hatinya untuk dibagi pada pemuda itu. Tidak ada barang secuilpun. Maka jangan salahkan ia atas apa yang akan ia lakukan setelah ini. Ini bukan jalan yang Madeleine pilih—untuk berubah jadi perempuan tukang jagal. Tapi pilihan Tuhan, bukan begitu? Ia memang ditakdirkan untuk menjadi seperti ini. Dan dengan berubah menjadi sosok yang seperti sekarang, apakah boleh ia bilang kalau ia adalah sedang menuruti perintah Tuhan? Karena Madeleine sama sekali tidak mau disalahkan atas semua yang sudah terjadi. |
![]() |
|
| Floryn Lee | Saturday Jun 1 2013, 09:43 PM Post #267 |
![]()
|
└(∵┌)└( ∵ )┘(┐∵)┘ DISTRIK 4 || HP: 55 AHUAHAHAHA (*`д´)b || POSISI: 4 || AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] TARGET: FREIDA (D10) || KS: [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result] DUA BELATI, SATU TENDA INI TEH MAU DESKRIP APA LAGI, HAH? Dia mau berguling ke kanan, berguling ke kiri. Terus makan beling sekalian kalau perlu. Tingkat kesintingannya sudah melebihi kapasitas. Bahkan kesurupan Alethea saja tak akan membantunya sama sekali. Meringis, mengaduh, kemudian ia justru tertawa terbahak-bahak ke arah lawannya. Tahu yang namanya mau koprol dadakan? Nih, Floryn sedang mengalaminya. Jari penggeraknya sudah mulai keriting di keyboard. Sampah. “HUADAO.” Bagus banget enggak tuh teriakannya? Berang, kemudian Floryn mendorong gadis itu dan memukulinya. Ternyata begini rasanya, ya. Sekujur tubuhnya ngilu, sakit, dan terasa tak bisa digerakkan. Floryn butuh obat, butuh rumahnya, dan butuh—“HADAAAAA.” Nama itu yang berkali-kali ia sebutkan. Ia butuh dengar suara rekannya untuk menguatkannya. Untuk membuatnya kembali seperti tadi; yang yakin bahwa ia tak lemah sama sekali. Nom nom nom nom. Masih rakus, ia kemudian menghujamkan belatinya ke bahu gadis itu. “SAKIT, TAHU!” IYA, TAHU. TERUS KAMU DAN BELATI ITU APA? |
![]() |
|
| Mario Spielberg | Saturday Jun 1 2013, 09:45 PM Post #268 |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 47 || POSISI: 2 TARGET: DISTRIK 4 (Hada) || AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] Ransel berukuran sedang, 1 bungkus dendeng sapi, sepasang kaus kaki, 1 tempat minum ukuran sedang, 1 kotak biskuit Makan tuh darah Mario yang segar dan lengket, makan! Sedikit mengelap sisa darah ditelapak tangan ke bajunya Mario Spielberg langsung cepat mengelap peluh di dahinya. Keren, dikira kalau memukul dengan tangan lengket karena darah itu bakalan licin dan meleset, ternyata justru malah kena. Ya kenapa tidak dari tadi saja dia tahu caranya. Kesal sih memang, darahnya yang suci dan belum pernah membunuh orang itu harus bertengger manis di tubuh manusia ikan distrik empat yang namanya Hada Lalala dan mau menyelamatkan Floryan atau siapalah yang sudah membunuh dua orang manusia normal tepat di depan matanya. Cih, tidak sudi rasanya. “Kau mau tetap hidup kan? Melindungi orang kan?” Dengan sekuat tenaga mendorong jauh mahluk aneh yang menyerang membabi buta sedari tadi dengan kapak tak bersalah supay pemuda itu meninggalkannya sendirian. Ya kalau kita damai sejak awal kan enak bang, situ tidak capek dan Mario Spielberg juga tidak capek. Mending santai-santai dengan tenaga penuh seperti teman cewekmu dari distrik satu itu. Enak kan? Sumpahin kalah juga baru tahu rasa! “Sana pergi, bawa kapakmu juga!” Kalau bisa bawa juga ratu sejagad dari distrik satu itu. Enak bener dia punya tenaga penuh, tidak kotor, tidak berdarah, dan tidak harus membunuh siapapun sama sekali. Tapi yakin deh, sumpahnya Mario terkabul pasti! |
![]() |
|
| Urie Tommy | Saturday Jun 1 2013, 09:46 PM Post #269 |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 100 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 8 (Kristeen - kaki) & DISTRIK 6(Altessa - belati) || AP: [result]4&2,1d10,2,4&1d10+2[/result] || KS: [result]11&11,1d24,0,11&1d24[/result] & [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result] Meriam lagi. Sudah berapa orang? Sambil menghentakkan kakinya, berusaha menginjak si gadis Delapan di bagian perut, ia memandangi sekitarnya. Sudah agak sepi, rumput yang tadinya hijau sudah jadi berwarna kemerahan. Darah. Euw, menyeramkan, sumpah. Urie tidak pernah membayangkan dirinya akan berdiri di tengah-tengah darah seperti ini. Sejujurnya, Urie sekarang sudah mulai terbiasa. Mau tak mau, kau tahu? Dirinya sendiri menggenggam senjata tajam, tidak mungkin dia tidak terbiasa sekarang. RALAT--HARUS terbiasa. Kalau tidak, jelas dia tidak akan menang. Di sekitarnya hanya terdengar suara teriakan, tertawaan (mungkin dari distrik karir lainnya), dan senjata. Jujur, mendengar itu semua dalam satu waktu rasanya pusing. Sambil menyerang bagian perut si gadis Enam dengan belatinya, Urie misuh-misuh. "Apakah mereka tidak bisa diam sedikit?" grumble grumble. |
![]() |
|
| Hada Atala | Saturday Jun 1 2013, 09:46 PM Post #270 |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 55 || POSISI: 8 TARGET: MARIO SPIELBERG (D7) || AP: [result]11&9,1d10,2,11&1d10+2[/result] || KS: [result]17&17,1d24,0,17&1d24[/result] 2 kapak, 1 korek api, 1 tempat minum air ukuran 2 liter GUVHE LELAH OIIIIII. PLIS, PLIS, MATI AJA DEH KAMU, SIAPAPUN KAMU NAMANYA. Hada mau istirahat, sungguh, luka yang dialaminya lumayan serius. Dia habis melawan dua orang, dan sekarang ini lawannya yang ketiga. Sendirian. Sendirian pula. Dia mungkin nggak bisa nangis, tapi dia bisa marah. Marah sekali. Rasanya dia belum pernah merasa semarah ini. Lawannya belum juga nyerah. Hada harus gimana lagi? Dikapak berkali-kali juga belum mati. Ini kenapa bisa begini? Apa lawannya begitu sakti sampai dia kebal serangan senjata tajam hah? NGGAK TAU APA KALAU SEBENARNYA HADA ITU TITISAN WIRO SABLENG?? Masih geram, serangan pemuda itu membuatnya nyeri. Tapi Hada harus bertahan. Harus bertahan, demi apapun, dia harus berhasil pergi dari sini dan mencari Floryn. Dia nggak peduli, nggak peduli dengan nyawanya sendiri, asalkan dia bisa melihat gadis kecil itu lagi. Jadi mungkin, seperti ini ya perasaaan kakaknya Floryn waktu di Arena juga? Hada nggak tega kalau Floryn juga harus merasakan sakit yang sama seperti dirinya. Dia baru 13 tahun, masih kecil, masih banyak hal yang harus dia lakukan di dunia ini ya Dewa…. Dewa, kalau Dewa sayang sama Hada, tolong, biarkan Hada membunuh cowok ini ya. Hantamkan lagi kapaknya, sekuat tenaga. Mar, tadi dopost, kamu salah rekap, tadi Hada ngurangin kamu 9 terus 5 =)) Yang bener berapa sih HP kamu? |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |

















9:33 PM Jul 11