|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,753 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | |
|---|---|
| Pietronella Hart | Saturday Jun 1 2013, 09:46 PM Post #271 |
![]()
|
DISTRIK 2 || HP: 95 || POSISI: 7 TARGET: DISTRIK 9 (Stephanie White) || AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] || KS: [result]9&9,1d24,0,9&1d24[/result] 2 pistol udara, 1 tombak, 1 belati Melawannya, tidak akan semudah itu, sayang. Sementara itu, ia tidak sendirian melawan kedua sosok yang menjadi target serangnya sekarang. Bibirnya mengerucut, setengah mendengus, manakala serangannya gagal. Payah. Ia tidak terlahir untuk menjadi sepecundang ini, toh. Ada Kruchev yang membantunya menghabisi Gadis White. Sementara Maddy, mengambil andil yang cukup besar untuk menghabisi Bronwyn. Meski tetap saja, ketiga karier ini bukan manusia yang sekali menebas, mampu memanggil malaikat pencabut nyawa, no? Semisal, kawan satu distriknya, Maddy yang telah lebih dulu menghabisi nyawa Bronwyn. Itupun, memerlukan serangan berulang. Suasana yang pelik, begitu pelik. Gadis Hart mungkin hampir menjadi sosok yang mata hatinya tertutup sempurna. Ia hampir hilang akal. Apapun yang menjadi lawannya, sudah semestinya untuk mati. Tak bernyawa. Sementara itu, titel menjadi pembunuh, rasanya amat sangat ia dambakan untuk sekarang ini. Memang begitu kan, satu-satunya cara agar terlihat sebagai si-yang-paling-hebat-alih-alih-menonjol, eh. Pasalnya, ia tak ingin terlihat biasa-biasa saja. Stephanie White, anggap saja tinggal cecunguk yang ini. "Kau," Kalimatnya menggantung. Yea, harusnya adalah kalimat yang ia lontarkan barusan. Rasanya ingin sekali menumpahkan amarah kepada gadis asal distrik sembilan yang satu itu. Namun, Petra, sekali lagi memilih untuk membungkam mulutnya, dan lebih terfokus pada apa yang ia kerjakan. Habisi, panggil malaikat pencabut nyawa. Satu lagi, pikirkan cara terbaik untuk membuat hama pengganggu itu menghembuskan napas terakhir. Ujung tombak tersebut masih berusaha ia sorongkan ke bagian torso miliknya. |
![]() |
|
| Freida Hayworth | Saturday Jun 1 2013, 09:47 PM Post #272 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 33 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 4 Floryn Lee || AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]9&9,1d24,0,9&1d24[/result] (1 belati, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit, 1 pasang kaus kaki) Meriam demi meriam terus terdengar. Siapa lagi yang telah berpulang? Kathleen dan Kyle jelas telah tiada. Juga yang pasti bukan karier karena mereka tidak akan tewas di sini, kan? Mereka akan tetap hidup selama yang mereka bisa. Karena mereka adalah pion Capitol benar? Mereka yang menjadi kebanggan bagi para Capitol yang menonton Hunger Games. Karier yang diinginkan untuk menang, karier yang diidolakan untuk berlumur kejayaan, karier yang dimaksudkan untuk semakin menekan distrik bawah seperti dirinya, seperti Kyle, seperti Kathleen. Mereka yang tidak akan bisa melawan. Mereka yang hanya bisa pasrah. Belatinya diayunkan lagi, untuk menusuk gadis kecil ini. Kepalanya pening, terlalu banyak hal yang melintas di kepalanya. Mulutnya terkatup rapat, begitu diam, begitu tenang. Tidak tahu harus berbicara apa, tidak tahu harus mempertahankan diri bagaimana dengan mulutnya. Karena di sini, belati dan pedang yang berbicara. Luka dan darah yang mengalir adalah bahasa mereka. Yang lain hanyalah cameo, pelengkap untuk meramaikan suasana di arena. Arena adalah panggung utama bagi mereka yang ingin disorot oleh kejayaan. Karena para Capitol selalu menonton acara ini, kan? Mereka mengelu-elukan nama. Mereka memuja para karier. Mereka menyukai darah. |
![]() |
|
| Exodus Kruchev | Saturday Jun 1 2013, 09:48 PM Post #273 |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 95 || POSISI: 7 TARGET: Stephanie White (D9) & Kevin Fremunzar (D9) || AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] || KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result] & [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] 4 kotak biskuit Permulaan. Masih permulaan. Jalan cerita ini masih panjang, sayang. Jangan harap ini semua akan segera berakhir dalam waktu dekat. Bagaimana rasanya berada di Bloodbaths, hm? Lihat, wajah-wajah yang mulai menunjukkan berbagai macam ekspresi campur aduk di sana. Capek? Susah? Memang itu takdir yang harus dijalani, sayang. Capitol, kalian tentu saja tidak mau ketinggalan detik-detik menegangkan yang bertaburan sedari tadi. Sudah berapa gambar yang kalian ambil? Jangan lupa menambahkan potongan film terbaru dalam kamera perekam milik kalian karena banjir dalam belum sepenuhnya dimulai. Yang dilakukan Exodus berikutnya adalah melayangkan tamparan wajah cantik gadis White. Sudah hampir mati rasanya tidak apa-apa kalau wajah cantiknya rusak sedikit. Capitol serba bisa pasti mampu mempermak ulang wajahmu, White. Mereka tentunya memiliki peralatan canggih berteknologi tinggi yang mampu membuat segala hal menjadi terwujud. Atau kalau kau menginginkan wajah baru yang lebih cantik, silakan saja. Itu artinya Exodus bebas memperlakukan dirimu sesuka hatinya selama berada di awal permainan ciptaan mereka. Ternyata Maddy tidak selemah yang dia duga. Dia mampu menyerang Kevin dengan cara Karier. Bunuh tanpa ampun. “Bagaimana rasanya hampir mati, Kevin? Apakah kau mendengar nyanyian malaikat datang menjemput?” Tawa nyaring Exodus membuncah keluar sambil berusaha menekan leher pemuda Sembilan dengan lengannya. “Apa kau melihat bidadari cantik turun ke sini dan akan mengantarmu ke neraka?” Masih tetap bertanya dengan tekanan demi tekanan yang berusaha ditambahkan pemuda itu pada leher Fremunzar. Matilah kau segera! |
![]() |
|
| Yasmine Silvertongue | Saturday Jun 1 2013, 09:49 PM Post #274 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 39 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 4 (CO;pistol&tangan)|| AP: [result]7&7,1d9,0,7&1d9[/result] || KS: [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi “Tinju saja, hah?! Dasar Seme! Uke! Banci kau!” Ah, provokasi. Lalu gadis ini peduli? Tidak. Baginya, untuk bisa membuat para Karier yang sangat kolot dan pongah itu cacat pun ia senang. Walau jelas, ia tidak puas sama sekali. Yasmine menyadari keterbatasannya. Apalagi ia satu banding dua. Oh, buat menjadi satu banding empat, karena para Karier itu seperti muttan setengah jadi. Sama kuat, sama-sama mengancam, meski masih labil. Gadis itu terus berusaha mengelak. Ini, inilah bentuk perjuangannya. Ini, adalah segala tenaga yang ia hamburkan di Cornucopia hanya karena ia terjebak di antara dua kawanan yang sama-sama sinting dan ababil. Distrik Empat, katamu? Puh. Semua distrik Karier sama saja. Yasmine kembali memukul Ethan dengan pistolnya, kini dengan kekuatan penuh ia menargetkan rahang dan sekitar gigi pemuda itu. Ia ingin lihat gigi-gigi terawat Nestor berjatuhan. Ia ingin melihat Nestor berbadan kstaria berwajah kakek-kakek tua reyot. Ia ingin dua orang di hadapannya ini cepat enyah. Pergi. Mati dan dipeluk oleh para setan di Neraka. Tangannya kembali ia benamkan dalam-dalam ke mata Ethan. Sakit? Mampus. Sukurin. Ini rasanya sakit, baru tahu? Kasihan. Semoga seluruh bola matamu keluar dari rongganya, Nathan. Yasmine sungguh muak dengan peserta ini. |
![]() |
|
| Zephaniah Lore | Saturday Jun 1 2013, 09:52 PM Post #275 |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 78 || POSISI: 6 Target: Antonio Shadowsong - D9 (KS: [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] ) dan Kristeen Franscois - D8 (KS: [result]18&18,1d24,0,18&1d24[/result] ) AP: [result]10&8,1d10,2,10&1d10+2[/result] Membawa: ransel besar, 1 kapak, 1 belati, 2 pistol udara Tiba-tiba saja tubuhnya doyong ke depan, hingga ia nyaris terjatuh. Pandangannya berbayang, seperti setiap kali penyakitnya kumat. Serangannya? Tentu saja gagal. Ia terbatuk-batuk parah. Meringis kesal karena paru-parunya sudah menyulitkannya beberapa kali. Apa ia tidak boleh bersenang-senang di hari-hari terakhirnya, eh? Sekali lagi Zephaniah mengangkat kapaknya. Menjerit tertahan dan mengayunkan kapak itu kuat-kuat ke arah leher pemuda dari sembilan tersebut. Persetan dengan rasa sakit di dadanya. Ia memaksakan diri juga bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan saat itu. Paru-parunya tidak akan membunuhnya. Bukan. Ia tidak akan mati karena itu. Hahaha. "Mati saja kau! Mati!" teriaknya, teringat pada kata-kata Zinnia dulu ketika ia membantai lawannya. Uhuk... uhuk... Zephaniah terkekeh. Tubuhnya doyong ke belakang, jatuh terduduk di dekat gadis dari delapan. "Menyedihkan, eh? Punya tubuh yang menyusahkan seperti ini," kata Zephaniah seraya mengusap keringat dingin di pelipisnya, juga darah di sudut matanya. "Bagaimana keadaanmu, nona? Bagian mana dari tubuhmu yang ingin kupisahkan lagi sekarang? Tangan? Kaki yang satunya? Atau kepalamu?" Zephaniah merangkah mendekati gadis itu. Zephaniah memencet hidung gadis itu. "Kusarankan jangan kepala. Tidak seru kalau kau mati dengan cara itu." tambah deskrip Edited by Jonathan Duprau, Saturday Jun 1 2013, 09:57 PM.
|
![]() |
|
| Pietronella Hart | Saturday Jun 1 2013, 09:53 PM Post #276 |
![]()
|
DISTRIK 2 || HP: 95 || POSISI: 7 TARGET: DISTRIK 9 (Stephanie White) || AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] || KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] 2 pistol udara, 1 tombak, 1 belati Jangan dikira, tak ada yang membuatnya berjengit mundur, sembari menggelengkan kepala. Tidak semua hal bisa diterimanya dengan mudah. Satu saja; Penolakan. Ia tak pernah mau menerima kata tersebut terlontar dari apa dan siapapun yang menghadapinya alih-alih ia sendiri yang menghadap untuk menghampirinya. Semuanya, sudah seharusnya berpegang teguh pada suatu hal yang ia jadikan estimasi. Ekspektasi, segalanya harus sesuai dengan kenyataan yang tengah berlangsung. Ia tak suka apapun yang tak sesuai rencana. Tolol, rasanya, kalau mau tahu. ..........dan selama ini, ia cuma bisa merutuk, ha? Persetanlah. Bahkan, serangannya yang ditujukan kepada Gadis White untuk yang terakhir kalipun tak tepat mengenai sasaran. "Bagaimana kau melakukannya?" Kalimat tanya tersebut, tak mampu ia tahan lagi. Rasanya sudah terlanjur ingin memberontak. Lagipula, bagaimana bisa, gadis tersebut mampu menghindar dari serangannya yang terbilang cukup bertubi-tubi. Sodokan tombak, bahkan sudah beralih menjadi sodokan ranting. Begitu mudah untuk dihindari, hampir-hampir membuat gadis distrik dua ini menangis frustasi. Frustasi, selalu gagal. Apalagi? Entah untuk yang keberapa kalinya, Pietronella Hart kembali membuat bogem pada tangan kirinya. Tangan tersebut terkepal erat, ia tak tahu lagi harus berbuat apa untuk melumpuhkan gadis tersebut. Ada banyak yang bisa ia lakukan, tapi toh bagaimana kalau hasilnya selalu gagal? Keberuntungan yang naas. Tsche. |
![]() |
|
| Flavea Vorfreude | Saturday Jun 1 2013, 09:53 PM Post #277 |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 80 || POSISI: 4 TARGET: Aidy Joselin dan Elisa Sugsweye || AP:[result]10&8,1d10,2,10&1d10+2[/result] || KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] & [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result] 3 Lembar Plastik dan 1 Pasang Kaus Kaki Diserang: Aidy Joselin Sebuah sabetan sempurna berhasil ditorehkannya di leher dara Joselin tersebut. Namun ia tak senyum bergembira. Jika ia boleh jujur, saat ini ia tengah merasa…kosong. Sangat kosong. Seakan ia tak memiliki jiwa lagi. Ia masih memiliki jiwa, namun saat ini ia seakan lupa bagaimana cara berfungsi sepenuhnya. Fungsinya kini hanyalah seorang pembunuh, seorang asisten Grim Reaper. Ia selalu adalah seorang gadis yang mudah dimanipulasi oleh keadaan. Dan saat ini, ia berada sepenuhnya di bawah permainan keadaan. Ia memang benar-benar boneka yang dikendalikan oleh pemain boneka yang tak ia kehendaki, pemain boneka yang tak ia kenali. Tangannya digerakan oleh tali-tali yang tak terlihat, dimainkan oleh pemain yang tak terlihat. Ia tak pernah menyadari betapa bodohnya ia hingga sekarang. Namun entah mengapa ia tak dapat memutus tali-tali tersebut dan justru terus membiarkan tali-tali tersebut mengikatnya, mengendalikannya, melakukan yang tak pernah terpikirkan. Kepalanya terasa pening kembali. Namun ia yakin bahwa ini hanya dari kehilangan darah, kan? Hanya kehilangan darah. Tak lama lagi ia akan baik-baik saja, kan? Ya, ia akan baik-baik saja, akan kembali seperti barang baru. Ia menarik belatinya dan kembali menggerakan belati tersebut ke arah jantung gadis berambut merah terang itu, tak cukup menorehkan luka di leher gadis itu. Ia menarik lagi belatinya tanpa peduli serangannya berhasil atau tidak. Ia menggerakan belati tersebut ke arah dara Sugsweye, berusaha menyabet tangannya. Otaknya sudah tersetting hanya untuk mencoba menyerang dan kemudian menyelamatkan diri dari neraka dunia ini. |
![]() |
|
| Freida Hayworth | Saturday Jun 1 2013, 09:54 PM Post #278 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 21 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 4 Floryn Lee || AP: [result]9&9,1d9,0,9&1d9[/result] || KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] (1 belati, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit, 1 pasang kaus kaki) Freida tidak mau lagi mendengar ucapan anak perempuan ini. Anak perempuan ini bersikap seolah-olah ia hanya seorang bocah perempuan biasa yang tak berdosa. Tapi terus-menerus menyerangnya tanpa henti. Cara bicara dan gerakan tangannya sama sekali tidak sinkron. Dan Freida justru takut melihatnya. Dengan wajah yang lugu dan polos itu anak ini telah membunuh Kyle dan Kathleen. Bagaimana mungkin ia tidak takut? Dan sekarang yang dapat dilakukannya pun hanyalah berusaha menyerang dan membalaskan kematian Kyle Blackthorn. Anak laki-laki yang sangat baik, ceria, dan menyenangkan Kyle itu. Yang sekarang telah berada di surga. Mungkin menunggu kedatangan Freida untuk bergabung bersamanya di dunia akhirat. Senyum kecil terbit di wajahnya yang telah kotor oleh darah dan keringat. Ia ingin bertemu lagi dengan anak laki-laki Blackthorn itu. Ia ingin menyapanya lagi seperti waktu itu ia menyapanya di depan lift. Freida ingin mereka bisa bertemu lagi. Lalu makan peremen warna ungu belang oranye bersama-sama. Mengulumnya bersama. Lalu memejamkan mata menikmati rasa enaknya bersama-sama. Lalu Freida akan membagikan permen itu pada Kathleen juga. Pada Yasmine dan Tume juga nanti kalau kedua orang itu telah menyusulnya juga. Impiannya sederhana, ya? Belatinya terayun lagi. |
![]() |
|
| Hada Atala | Saturday Jun 1 2013, 09:58 PM Post #279 |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 55 || POSISI: 8 TARGET: MARIO SPIELBERG (D7) || AP: [result]8&6,1d10,2,8&1d10+2[/result] || KS: [[result]10&8,1d10,2,10&1d10+2[/result] 2 kapak, 1 korek api, 1 tempat minum air ukuran 2 liter DEWA, HADA SAYANG DEWA. DEWA MASIH SAYANG HADA KAN? Kalau sayang, kenapa serangan Hada barusan bisa dihindari si cowok dudul ini sih? Padahal kan Hada sudah berdoa dalam hati. Minta dewa merestui serangan Hada….Tapi nggak apa-apa, Hada sabar, Hada masih sayang Dewa gimanapun juga. Hada menarik dan menghela nafas, mencoba mengembalikan kewarasannya saat ini. Dengan kapak penuh darah di tangannya dan bau anyir yang menyengat hidungnya. Dia merasa gila. Merasa kalap. Frustrasi, dan begitu menggebu-gebu untuk menghabisi lawannya. Nggak bosan-bosan Hada bilang, kalau ini semua dilakukannya untuk bisa ketemu little miss sunshinenya lagi. Nggak apa-apa kalau dia nggak pulang ke Distrik Empat. Yang penting dia bisa bersama Floryn di sini, berjuang sama-sama, mengandalkan satu sama lain layaknya saudara. Adik kecil yang tidak pernah Hada punya. Dia ingin menjadi perisai Floryn, dia rela kalau harus menanggung luka asalkan Floryn tidak menderita… Sungguh, Dewa… Boleh ya, kali ini serangannya kena? “AKU MAU KESANA TAPI KAMU MALAH MUNCUL, KAMPRET!” Masih emosi, iyalah. Dia makin murka. Nggak boleh ada yang menghalangi dia untuk bertemu Floryn. Nggak ada seorang pun, termasuk Capitol yang sekarang mungkin sedang gembira melihat mereka saling membunuh. Menarik leher baju cowok itu, lalu menyabetnya dengan kapak yang ada ditangannya. |
![]() |
|
| Floryn Lee | Saturday Jun 1 2013, 09:58 PM Post #280 |
![]()
|
└(∵┌)└( ∵ )┘(┐∵)┘ DISTRIK 4 || HP: 46 AHUAHAHAHA (*`д´)b || POSISI: 4 || AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] TARGET: FREIDA (D10) || KS: [result]22&22,1d24,0,22&1d24[/result] DUA BELATI, SATU TENDA Siapa yang bilang jadi salah seorang dari kawanan Karier itu enak? Yang enak itu es krim, bukan jadi kawanan Karier. Dasar bodoh. Merintih, meringis, dan mengaduh lagi. Sepertinya kapasitas untuk melakukan itu semua tidak akan pernah habis sampai bloodbaths selesai. Kepalanya pusing, sungguh. Bau anyir dimana-mana tidak membuatnya merasa lebih baik. Bau manis dari rerumputan tadi menghilang. Raib seketika dan digantikan warnanya dengan merah pekat. Mau muntah aja, hoek. Sepuluh juga pernah jadi lawan kakaknya, kan? Ingatannya enggak seburuk Alethea, kok. Ia ingat detail yang membuatnya murka, muak, dan enggan. Senyum di wajahnya—yang selalu awalnya adalah senyum ramah, kali ini terkesan licik dan menyebalkan setelah tusukan lain di anggota tubuh lawannya. Begini lagi. Kepribadiannya seperti panel dalam satu ruangan. Mudah berubah; mati dan hidup lagi. “Aku capek.” Itu frustasi. Dia benar-benar bosan dengan ini semua. Ingin mengakhirinya secepat kilat dan berbalik, mencari rekannya dan memeluknya erat. Mau menangis dan mencari ketenangannya sementara waktu. Pikirannya pecah; fokusnya buyar. Ia kembali memukuli gadis itu tanpa peringatan sebelumnya. Lelah. Dia butuh rumahnya; sekarang. Rumah yang selalu mengomel kalau ia pulang dalam keadaan kotor—lihat baju si kecil itu? Berlumuran darah. Amis. Bau. Enggak suka sama sekali. Huhu. Alethea enggak kangen Floryn? |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |
















9:33 PM Jul 11