|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,752 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Pinoy Annelli | Saturday Jun 1 2013, 09:58 PM Post #281 | |
![]()
|
DISTRIK 5 || HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 10 (Tume Tinkham) || AP: [result]7&7,1d9,0,7&1d9[/result] || KS: [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result] satu kotak biskuit, satu tempat minum kulit, satu belati, satu bungkus dendeng Ini sudah tidak jelas apakah mereka yang bodoh ataukah memang lawan yang terlampau cerdik. Dia dan Gavyn gagal terus mengeksekusi dua orang yang begitu bersemangat melukai mereka—yang untungnya juga belum menimbulkan sedikitpun luka untuk dirinya dengan Gavyn. Entah ilmu hitam dari sisi dunia mana yang sudah mereka praktekkan di arena hingga terjangan Pinoy seluruhnya ditepis dengan sempurna. Belatinya gatal kau tahu. Pinoy begitu menginginkan jawaban dari kecemasannya tentang bagaimana arena sudah berlanjut sekian lama dan satu per satu mulai tumbang. Dia masih berdiri dengan kedua kakinya, tampak bugar meskipun ada sedikit kedongkolan di benaknya. Aidy masih ada di dekatnya, berusaha melawan Flavea yang sudah menghabisi Adina dari distrik sebelas. Uh, Pinoy tidak tahu bagaimana perasaan dari Gavyn membayangkan rekan sau distriknya tewas tidak begitu jauh darinya. Ingin rasanya dia memberikan kode bahwa dia begitu memahami perasaan kehilangan itu tetapi tidak memiliki waktu untuk membicarakannya dengan Gavyn karena serangan balasan segera datang dalam beberapa detik. Dengan mudah Pinoy berhasil mengelaknya seolah-olah sudah bisa membaca isi pikiran dari lawannya. Annelli sulung ini menjilat bibirnya yang sudah kering. Sudah berapa lama sejak meriam pertanda permainan dimulai dibunyikan? “Kamu kok terus menghindar, Tume?” Ingin tahu saja sih. |
|
![]() |
|
|
| Madeleine Lethbridge | Saturday Jun 1 2013, 09:58 PM Post #282 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 95 – 6 (Patricia Brown) - 3 (Kevin Fremunzar) - 4 (Patricia Brown) – 7 (Kevin Fremunzer) – 1 (Patricia Brown) - 1 (Patricia Brown) || POSISI: 2 TARGET: DISTRIK 7 (Mario Spielberg) AP: [result]8&6,1d10,2,8&1d10+2[/result] || KS: [result]22&22,1d24,0,22&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu Bahkan Tuhan pun tahu siapa yang benar dan siapa yang layak mati. Madeleine makin berpuas diri dengan hasil yang sudah ia capai. Kevin Framunzer sudah tidak ada suara. Tewas barangkali. Dan tidak semudah itu ia akan membiarkanmu terkapar di sini, Kevin Fremunzer. Maka, di wajah pemuda itu, well, Madeleine sengaja berjongkok, tersenyum lebar, ia. Lantas menggoreskan mata pisau yang ia miliki ke pipi pemuda itu. Mencebiknya. Membuat kulit-kulit bahkan daging di pipi itu mengelupas dan menampilkan tulang pipi yang tegas dari si pemuda. Darah mengucur deras, tapi siapa peduli? Karena Madeleine di sini bukan untuk berbela sungkawa. Madeleine di sini untuk menepati janjinya—untuk membuatmu mati sengasara, remember? “Sudah kubilang. Kamu akan mati,” dengan sayang, ia mengelus wajah yang kini tak berdaging di bagian pipi itu. Senyumnya menceruk makin dan makin dalam. Kamu harus tahu dengan siapa kamu bertanding, Fremunzer. Kamu tadi bisa kabur, tapi kamu malah memilih untuk merusak kesabaran dan kemurahan hati Madeleine. Membuatnya murka, memperlakukannya semena-mena dan keji, dan tidak pantas. Ini semua layak kamu terima. Dan selamat tinggal. Selamat membusuk dan terinjak-injak. Madeleine sudah pergi dari posisinya semua, membiarkan dua onggokan mayat itu hancur dengan sendirinya tanpa ada niat memakamkan mereka dengan layak. Dan sekarang, well, “Hello, Atala—,” di jarak yang mampu dia jangkau. Ia melihat salah satu kawanannya yang tampak kewalahan menghadapi seseorang. “Need help?” Tuturnya tenang sembari membersihkan darah-darah yang mengotori pisaunya. Oh, pemuda yang akan menjadi lawannya kali ini adalah.. tidak asing. Namanya Mario—pemuda yang baik sebetulnya. Ia pernah bertemu dengan pemuda itu di post pelatihan dahulu. “Bukan mauku berbuat ini..” jujur, agak berat bagi Madeleine melakukan ini. Tapi.., peluru itu sudah melesat dan membidik kaki Mario sebelum ia lantas menyesali apa yang diperbuat pada pemuda yang begitu baik hati. Ah, Madeleine yang nakal.. ..tapi dia kan hanya melakukan apa yang diperintahkan. Edited by Enrico Fooster, Saturday Jun 1 2013, 10:55 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Ferina Secret | Saturday Jun 1 2013, 09:59 PM Post #283 | |
![]()
|
Well, damn. Berdecak kesal, sangat kesal—kiranya pukulan yang sekuat itu sudah akan melukai, ...Shadowsong? Siapa nama anak ini? Apapun itu, Ferina menggigit bibir bawahnya tidak karuan. Dewi Fortuna barangkali sedang kewalahan menyaksikan, you know, sampai tidak mampu menyempatkan diri untuk melirik sekilas pada Ferina. Terserah. Dia bertarung bukan untuk diperhatikan, lagipula. Gesit, dara mengambil langkah mundur selagi mempersiapkan pistol udaranya, setelah berkali-kali gagal mewarnai ujung pistol dengan likoris berbau amis yang menggelitik olfaktori. Koordinat difokuskan: target, jantung. (—wush!) Lalu, "Speak for yourself, scatterbrain!" Wajar apabila sikap sombong menguasai diri lawan atas serangan-serangan yang telah berhasil dilancarkannya. Tetapi bersikap besar kepala untuk sebuah harga diri yang baru saja diludahkan bersama darah—tidak tahu diri. Biner biru menggelap, seolah diwarnai awan mendung, tahu apa-apa saja yang akan diperbuat kedua cakar Silvertongue (peduli setan dengan nama, ini bukan kelas menghapal!), maka Ferina menggulingkan diri ke samping. Menghindar. Ini tentang lihai-tidaknya tubuhmu dalam usaha melepaskan diri, Sayang, apabila kau tidak memiliki kekuatan untuk membalas serangan. Sayangnya, Ferina punya. "Douche." Dia bukan tipe yang banyak omong, lagipula, bodoh jika harus menghabiskan tenaganya hanya untuk memaki seseorang yang... ...akan memiliki sebuah sayatan lebar di lengan kiri, bukankah indah? |
|
![]() |
|
|
| Pietronella Hart | Saturday Jun 1 2013, 09:59 PM Post #284 | |
![]()
|
DISTRIK 2 || HP: 95 || POSISI: 7 TARGET: DISTRIK 9 (Stephanie White) || AP: [result]8&6,1d10,2,8&1d10+2[/result] || KS: [result]16&16,1d24,0,16&1d24[/result] 2 pistol udara, 1 tombak, 1 belati Patricia Bronwyn telah mati, katakan saja begitu. Mati. Tahukah, kata tersebut amat terdengar bagaikan hadiah besar yang paling gadis ini nantikan. Suatu hal yang ia harapkan, kejadiannya berulang terhadap gadis asal distrik sembilan yang menjadi lawannya kali ini. Lihat, betapa keberuntungan teramat memihak kepadanya. Atau kepada keduanya? Keduanya, bahkan nyaris tak memiliki luka satu sama lain. Tubuh milik sosok Pietronella Hart, bahkan sama sekali belum tergores sedikitpun oleh serangan yang diangsurkan oleh hama pengganggu di hadapannya. Sekalipun begitu, hanya sekelumit serangan yang mampu dikatakan berhasil terhadap Gadis White. Ini, apa namanya kalau bukan menyebalkan? Pertarungan yang terlalu imbang, tidak seru. Imbang. Haha. Harusnya, ia tak perlu berpikir demikian. Strata mereka berdua, jelas-jelas memiliki jenjang yang amat berarti. Dua dan sembilan, ada rentang tujuh distrik yang harus mereka lewati untuk dapat menyeimbangi kemampuan masing-masing. Rendah, mereka terlalu keji untuk dapat disamakan dengan sang dara. Kali ini, tak boleh gagal. Singkat saja, ia hanya ingin permainan ini cepat selesai. Sekalipun mau tak mau, harus ia akui, ia cukup senang dengan permainan semacam ini. Senang, tetapi tidak dengan peran ia adopsi sekarang. Yang membuatnya tak habis pikir, bogem malah mampu mengenai gadis sembilan. Usahanya, bahkan sama sekali tidak berbuah sia-sia. Mengerjap tak percaya, hanya sekilas. Percayalah, ia tak mau terlihat bodoh berlama-lama. Lagi, kali ini, ia mengangsurkan tungkai kanannya ke arah perut Stephanie White. Tidak semudah itu melawannya, tidak semudah demikian. |
|
![]() |
|
|
| Stephanie White | Saturday Jun 1 2013, 10:00 PM Post #285 | |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 68-20-2-12 = 34 || POSISI: 7 TARGET: DISTRIK 2 [Pietronella Hart] || AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]15&15,1d24,0,15&1d24[/result] (satu tempat minum kulit, tiga kotak biskuit) “Sudah kubilang jangan sentuh aku brengsek!” Ia mencicit ketika surainya ditarik oleh tangan besar Exodus. Bedebah sialan, ia benci distrik karier, seenaknya saja. Cerminan dari pemimpin mereka, Eve mengerang merasakan sakit ketika kepalanya dicengkram tanpa ampun. Tubuhnya mulai melemas, mengikuti tarikan Exodus yang tak bisa diduganya sejak tadi. Padahal ia tak pernah punya dosa pada lelaki ini, tapi apa sih? Persetan dengan dosa, ya ‘kan? Siapa yang peduli? Membunuh disini saja dihalalkan, terlambat untuk menyadari ketika Exodus mulai melakukan serangan bertubi-tubi pada dirinya, ini jauh lebih sakit dari bogem mentah yang dilayangkan Hart, dan oh jangan buat dia berteriak lagi. Suaranya sudah nyaris habis, nyawanya mungkin sudah berada di tukak lambung. Sikunya mengayun keras ke belakang, meninju bagian vital Kruchev, semoga saja alat vital itu tidak bengkak dan ia bisa buang air kecil seperti biasa. Eve berusaha melepaskan cengkramannya dari Exodus, ia masih belum terima surainya ditarik semena-mena, belum pernah ada yang menyentuh kepalanya sekasar itu bahkan seorang Clause, tapi pria yang tidak berpendidikan itu berani memegang kepalanya. Sialan, bedebah tengik! Eve meludah, memuntir tangan Exodus, kalau kakinya menjangkau, ia segera mengayunkan kakinya mendarat diatas perut Kruchev, tetapi telat ia sudah ditampar terlebih dahulu. Matanya berair, ia ingin menangis tetapi menangis pun tak ada gunanya, ia hanya bisa melayangkan tinju pada Kruchev, sementara disisi lain Hart gencar menyerangnya karena mainan barunya sudah disambar peserta lain. Jangan buat kematian menjadi menyakitkan, tolong. |
|
![]() |
|
|
| Freida Hayworth | Saturday Jun 1 2013, 10:00 PM Post #286 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 9 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 4 Floryn Lee || AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result] (1 belati, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit, 1 pasang kaus kaki) Ivonette Linz, Keela Johanson, Aster Hammond. Apa kabar di Distrik Sepuluh? Apa kalian menonton dari sana? Dengan ibu dan pamanku juga? Mereka baik-baik saja, kan? Sakit pamanku tidak makin parah karena melihatku berdarah-darah di sini, kan? Kalian juga jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Oh ya Ivon, sebentar lagi aku akan bertemu dengan Black Cyan, ada pesan yang ingin kau sampaikan padanya? Aku akan dengan senang hati menyampaikannya. Dia pasti merindukanmu, Ivon. Freida mengingat kawan-kawan baiknya di Distrik Sepuluh. Mereka yang kini mungkin tengah menontonnya di alun-alun Distrik Sepuluh. Freida mengingat masa-masa kebersamaan mereka yang ternyata tidak dapat berlangsung lebih lama. Freida mengingat masa-masa bahagia yang tak dapat diulangnya kembali. Sekarang setelah ia meregang nyawa dengan seluruh tubuh bersimbah darah, ia merindukan seluruh kenangan itu. Bibirnya mengulum senyum tipis diam-diam. Dalam hatinya, ia berharap sampai tahun-tahun berikutnya Ivon, Keela, dan Aster aman dari pemungutan suara. Ia tidak mau sahabatnya menjadi sepertinya saat ini. Mati dengan didera kesakitan yang tiada akhir. Freida ingin mereka meninggal bahagia. Dengan dikelilingi orang-orang yang mereka sayangi di sekeliling mereka. Belatinya membentuk gerakan sabetan lagi. Masih mencoba melukai anak perempuan cilik yang tak akan dapat Freida pahami jalan pikirannya. Serangan dianulir karena harusnya karakter Freida Hayworth sudah mati. Edited by Jonathan Duprau, Sunday Jun 2 2013, 06:18 AM.
|
|
![]() |
|
|
| Madeleine Lethbridge | Sunday Jun 2 2013, 08:00 AM Post #287 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 68 || POSISI: 2 TARGET: DISTRIK 7 (Mario Spielberg) 2 pistol udara dan 2 botol madu OFFROLL Tidak bermaksud sentimentil, tapi Madeleine itu memang gadis yang tahu balas budi dan jasa. Ia tak akan dengan mudah melupakan kebaikanmu semasa dulu, walau sekecil apapun. Mario Spielberg, well, dikenal tidak lama dan cuman sekilas. Kenalan, saat dulu di pelatihan kamuflase. Ya, memang hanya itu—tapi Madeleine tidak akan melupakan cara kamu menyemangatinya, Tujuh. Dia ini lawan, tapi kamu kala itu memperlakukannya dengan baik. Ingat, dia ingat semuanya. Tapi walau begitu, apa yang bisa dia lakukan untukmu? Kamu diincar, kamu ditargetkan—kenapa tadi kamu memilih melawan Karier? Career is always win, don’t you remember? Kalau tidak ingat, dia disini untuk mengingatkanmu. “Sekarang aku lawanmu,” Hada di sana, entah, biar dia cari musuh baru atau hal-hal lain yang dikiranya menarik. Madeleine jadi agak tidak enak hati akibat mencuri lawan. Tapi Hada tidak mampu melawannya, jadi biarkan Madeleine memberikan sedikit bantuan. Bukankah ia gadis manis yang amat baik? Tanpa upah—tentu saja. Dia tidak butuh imbalan apa-apa untuk bantuan yang ia tawarkan padamu ini. Cukup pergi, menyingkirlah; jangan halangi lampu sorot yang nanti akan mengarah pada Madeleine, yang akan mengikutinya kemana pun ia berada. Madeleine di sini untuk bersinar. Dan, Hada, sekalipun aliansi, dia tetap tidak akan membiarkanmu mencuri perhatian yang seharusnya tercurah pada gadis ini. Tidak. Sama sekali tidak. |
|
![]() |
|
|
| Kristeen Franscois | Sunday Jun 2 2013, 08:01 AM Post #288 | |
|
DISTRIK 8 || HP: 6 || POSISI: 6, TARGET: Zephaniah Lore - D1 || AP: [result]2&2,1d9,0,2&1d9[/result] || KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] 1 bungkus dendeng sapi, 1 lentera, 1 kotak biskuit, 1 tempat minum kulit Tendangannya barusan meleset karena rupanya Lore lebih cepat menyadari serangan itu. Sementara Urie Tommy berhasil membuat punggungnya tergores belati yang rasanya sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit akibat serangan kapak Zephaniah sebelum-sebelumnya. Ia mendelik jijik, “No, you’re a bad boy, Urie.” Tangannya keburu menghalau belati anak laki-laki itu hingga tidak terjadi luka serius untuknya. “Kau jelek, bodoh, sialan, bocah tengik, gila.... Aaaaarrrrg... Menyebalkan....” Kristeen meludahinya. Toh sekarang dia sudah sama saja seperti binatang, tidak perlu pakai etika-etika lalalala. Lalu satu gerakan lagi ketika tangannya menjambak rambut Urie Tommy setelah berhasil mengelak dari tendangannya, lagi-lagi. Mata hazelnya menatap sinis ketika Zephaniah mulai mengalihkan atensinya agar tetap berada dalam sudut matanya yang liar itu, yang punya tatapan terlalu tajam. Wajah laki-laki itu mendekat sangat cepat, bahkan ketika ia tidak menyadari bibir mereka berdua sudah saling bersentuhan beberapa saat dan entah mengapa sekarang ia merasa seperti gadis sampah yang digilir. Ah, murahan sekali sayang. Benar-benar murahan. “You’re a great kisser, darl—” Bibirnya tersenyum manis sekali ketika itu. Ketika Zephaniah mencampakkannya selama beberapa waktu untuk kembali mencoba menjagal si distrik sembilan. “Give me another one, would you?” Suaranya dibuat amat sangat lembut ketika ia menatap mata Zephaniah lekat-lekat, dan dengan keras lengannya bergerak menyikut bagian vital Zephaniah. Bagian paling menyedihkan seorang laki-laki kalau kau masih ingin dibilang begitu. Ia tidak yakin apakah itu menyakitkan atau tidak tapi yang jelas apapun perlakuannya pada Zephaniah pasti akan membuat laki-laki itu kesal bukan main. Seperti sekarang, saat wajahnya ditekan begitu keras dengan telapak tangan Zephaniah yang berbau darah. “Kau tahu,” Kristeen sudah sangat kacau. Suaranya begitu kering, darah segar mengalir dari hidungnya yang sangat anyir dan membuatnya mual. “Aku tidak membencimu, Zeph.” Air matanya menetes pelan-pelan, matanya dibiarkan menatap anak laki-laki itu, memerhatikan wajahnya dengan seksama. “Tidak akan pernah.” Tapi aku benci mereka. |
|
![]() |
|
|
| Hada Atala | Sunday Jun 2 2013, 08:02 AM Post #289 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 42 || POSISI: 8 TARGET: MARIO SPIELBERG (D7) & ARTHUR STANFORD (D3) || AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] || KS: [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result] & [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result] 2 kapak, 1 korek api, 1 tempat air minum 2 liter GIMANA RASANYA DIKAPAK-KAPAK, HAH? MAMAM TUH MAMAM! Serius, Hada udah kayak psikopat gila deh ini. Menyerang cowok bawel menyebalkan membabi buta dengan kapaknya begini. Dia bener nggak peduli lagi kalau cowok itu bisa mati kalau Hada terus-terusan menyerangnya tanpa henti. Dia kalap dan kalut. Kombinasi mematikan orang yang sudah habis kesabarannya. Siapa suruh muncul di depannya? Siapa suruh menyerang balik? Bodo amat pokoknya. Hada harus ketemu Floryn. Hada harus ketemu Floryn. Hada harus ketemu Floryn. Dia terus merapal kalimat itu dalam hati, kalimat yang berfungsi sebagai mantra yang membuat Hada bertahan sampai sekarang. Kayaknya sebentar lagi dia bakal gila beneran kalau dia nggak ketemu Floryn. Omong-omong Hada kayaknya mendengar teriakan Floryn beberapa kali deh? Tapi dia nggak yakin dan nggak bisa mencari dari mana datangnya asal suara itu. Ya iyalah, dari tadi Hada diganggu lalat-lalat nakal non karier sih. SEBEL BANGET COY. NGGAK TERIMA COY. Hada bukannya punya dendam kesumat sama peserta dari distrik bawah sih. Cuma ini namanya dia beneran kesel. Harus ngelawan tiga orang demi bisa ketemu Floryn, tanpa bantuan Colleen. Rasanya frustrasi tau gak? HADA FRUSTRASI! MIKIRIN NASIB FLORYN YANG MUNGKIN SEDANG TERLUKA JUGA SEPERTI DIA. "FLOOOOOORYYYYYYYN? KAMU DIMANA SIIIIH," Abaikan dulu si laler satu ini, kapak lagi aja badannya. LAH MALAH NAMBAH SATU. HAH. Mati dong, mati. |
|
![]() |
|
|
| Urie Tommy | Sunday Jun 2 2013, 08:03 AM Post #290 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 100 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 8 (Kristeen - pisau) & DISTRIK 6(Altessa - belati) || AP: [result]7&5,1d10,2,7&1d10+2[/result] || KS: [result]18&18,1d24,0,18&1d24[/result] & [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] ... DEMI TUHAAAAAAN!! (Rasanya dia mau menggebrak meja apabila ada satu di Dekatnya, untuk menciptakan efek yang lebih dramatis) "Aku tidak akan mau melawanmu, Kawan," Ujarnya, merujuk kepada sang rekan sedistrik. Urie tidak tahan melihat seorang perempuan disiksa habis-habisan. Rasanya dia tidak ingin menolong si rekan lagi, tidak kuat melihat kondisi si gadis. Namun meninggalkan Lore hanya akan membuat Urie sebagai calon korbannya. Tidak. "Meskipun aku tidak akrab dengannya, tolong maafkan ulah distrik kami, ya." Ucapnya usil kepada si gadis malang sebelum menggerakan pisaunya ke arah leher gadis tersebut. Leher mulus. Urie mau. (Apa yang dia pikirkan?) Oh ya, di sisi lainnya juga ada gadis lain dari Enam. Tidak, Urie tak akan sekejam Lore. Dia mendekati gadis Enam, memainkan ujung jarinya di pergelangan tangan si gadis, tersenyum pelan, "Jangan takut." Itu yang dirinya katakan sebelum mendorong gadis Enam untuk membantingnya ke tanah. |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |
















9:33 PM Jul 11