|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,778 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Adina Erasto | Saturday Jun 1 2013, 10:41 AM Post #21 | |
![]()
|
DISTRIK 11 HP: 75 || POSISI: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] (BARANG; BUKAN RANSEL) || RANSEL [result]10&5,1d5,5,10&1d5+5[/result] || [result]1&1,1d3,0,1&1d3[/result] x 180. (BANYAK KATA PER POST) KABOOM 5 menit sebelumnya. Cahaya remang-remang matahari menembus malu-malu dari balik kisi-kisi celah udara ruangan pemberangkatan peserta Hunger Games menuju arena Bloodbaths. Mungkin itu terakhir kalinya ia bisa melihat cahaya matahari yang sebenarnya, karena ketika ia sudah berada di dalam arena hanyalah ilusi buatan Capitol yang akan ia dapatkan. Entah setan atau rasa pesimis apa yang membuatnya menyelipkan selembar kertas pada pendamping Capitol untuk distriknya sebelum pemberangkatan arena, hanya ia memang merasa waktunya untuk hidup akan habis di arena. Quarter Quell menghadirkan makin banyak peserta kuat benilai 10, itu sama saja masuk ke sarang singa yang tepiannya penuh dengan sungai berbuaya, tanpa jalan lari, akan tetapi ada satu kejutan yang membuat Adina tersenyum walau ajalnya sudah dekat. Peserta distrik miskin, bahkan paling miskin se-Paneem memiliki poin 10. Poin yang selalu digadang-gadang peserta dari distrik karier. 2 detik sebelumnya. Adina bersiap untuk berlari, berharap alat bantu dengar terpasang dengan baik di telinga kanannya. Apa yang ia percayai saat ini? bukanlah dentuman pertandingan dimulai melainkan feeling bahwa hitungan mundur detik-detik dimulainya pertandingan telah mencapai angka 0, mengantisipasi jika alat bantu dengarnya tidak berjalan dengan baik. Ketinggalan beberapa detik juga termasuk tujuannya, jika sudah ada peserta yang berlari dan tanpa ledakan maka itulah saatnya ia untuk berlari pula. Beberapa detik untuk peserta sebanyak ini tidak berarti lebih dan harga mati ia akan mati di bloodbaths. Ketika waktu terhenti. Adina melangkahkan kakinya meninggalkan pondium mini tempat para peserta berdiri. Terasa ringan serasa ia berlari di atas awan. Kecepatan larinya? tentu ia tidak secepat yang lainnya. Peserta lain telah lebih dahulu berhambur untuk mengambil ransel, tapi baginya tak masalah jika ia tertinggal, tujuannya hanyalah ransel dan senjata. Siapa yang ingin mati di bloodbaths dengan mudah? tentu saja bukan dirinya. Jaraknya dengan ransel incarannya sudah semakin dekat. Entah sudah sejauh apa ia berlari, tujuannya hanyalah satu, keluar dari bloodbaths hidup-hidup. Adina, membungkukan tubuhnya, tangan kanan ia rentangkan untuk menyamber ransel incarannya. Hunger Games kali ini akan jauh lebih meriah. |
|
![]() |
|
|
| Nigel Sugsweye | Saturday Jun 1 2013, 10:49 AM Post #22 | |
![]()
|
DISTRIK 11 || HP: 65 || POSISI: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] || RANSEL [result]7&2,1d5,5,7&1d5+5[/result] || [result]2&2,1d3,0,2&1d3[/result] x 180 Fantastis. Bohong kalau dia bilang visualisasi yang terpampar di depannya tidak membuatnya tercengang. Langit yang begitu biru dengan hamparan padang rumput dan rumpun bunga sana-sini membuatnya mengalami sedikit disorientasi untuk beberapa saat. Visualisasi yang mengingatkannya pada rumah, Sebelasnya yang penuh dengan rumpun bunga dan tanaman-tanaman siap panen. Mengingat bahwa harusnya sekarang ini dia berada di antara mereka-mereka yang memetik buah-buahan serta memanen persediaan makanan untuk dibagikan ke distrik lain membuatnya jadi kangen pada rumah. Dimana ada Sergio, Barbara, kedua orang tuanya... —dan Elisa, dimana gadis itu? Adiknya yang harus merasakan perjuangan yang sama sepertinya di Arena yang kejam ini. Dia tidak habis pikir dengan apa yang diinginkan oleh yang ada di atas sana mengenai dirinya dan Elisa yang cukup beruntung masuk ke tempat terkutuk ini, dimana bahkan tempat ini menjadi lebih mengerikan dengan peserta yang ada dua kali lipat lebih banyak dibanding yang sebelum-sebelumnya. Pemuda itu padahal akan hidup dengan tenang di distriknya, hanya memikirkan adik-adiknya setelah tahun ini selesai namun siapa sangka dia memang harus menyusul sahabatnya di alam sana. Mungkin, John sudah menunggunya serta mengharapkan dia menebas beberapa kepala karier terlebih dahulu sebelum berpulang ke sana. It doesn't matter. He will, anyway. Sulung Sugsweye itu berdiri di salah satu tabung yang tersedia. Menjadi salah satu dari keempat puluh delapan peserta yang berada di Arena. Menikmati harum semerbak yang memabukkan, pun demikian rasa-rasanya dia masih tidak bisa mengenyahkan keresahan dan kegelisahannya menghadapi ajang bunuh-bunuhan yang akan terjadi beberapa saat lagi. Mengingat Elisa harus merasakan hal yang sama tak membuat semuanya menjadi baik. Rasanya semua makanan yang tadi dia makan untuk jaga-jaga bisa dia muntahkan begitu saja di sini. Tekanan alam bawah sadar yang dialaminya membuat kakinya bergetar lemas. Namun dia harus tetap kuat, sebagai seorang kakak laki-laki yang bertanggung jawab, dia akan menjaga Elisa. Bagaimana pun caranya. Meriam diletuskan. Yang perlu dilakukan hanyalah lari, temukan Elisa dan segera kabur secepat mungkin. Now, go. Nigel Sugsweye. |
|
![]() |
|
|
| Aidy Joselin | Saturday Jun 1 2013, 11:00 AM Post #23 | |
|
DISTRIK 5 || HP: 75 || POSISI: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] (BARANG; BUKAN RANSEL) || RANSEL [result]8&3,1d5,5,8&1d5+5[/result] || [result]2&2,1d3,0,2&1d3[/result] x 180. (BANYAK KATA PER POST) Tempat ini begitu indah untuk dijadikan tempat rekreasi. Namun, Aidy tahu bukan itu tujuannya berada disini. Melainkan sangat berbanding terbalik dengan segala hal yang berbau rekreasi. Yang menganggap bahwa Hunger Games tak pernah ada, pasti akan menganggap bahwa tempat ini indah dan menyenangkan, dan mungkin itu juga yang berada di dalam bayangan para Capitol. Tapi untuk peserta sepertinya, sudah sewajarnya ia mengerti apa yang akan dihadapinya disini, surga yang kelam. Sebelumnya di pusat pelatihan, ia memang sudah melihat wajah-wajah para peserta. Namun, Aidy tidak terlalu menandai wajah-wajah mereka. Paling tidak, yang ia kenali hanyalah beberapa orang yang berada satu pos bersamanya, itu juga sebagian besar berasal dari distriknya. Meskipun tidak terlalu memerhatikan wajah-wajah mereka, namun kali ini ia dapat melihat perbedaan aura wajah mereka. Mungkin ada yang ketakutan, berharap keajaiban agar tetap hidup, dan ada pula yang mengerikan, bernafsu untuk membunuh. Dan mungkin, mimik wajah Aidy adalah campuran dari keempatnya. Ketika meriam berdentum, para peserta segera berlari. Meski Aidy tidak bisa lari sekencang mereka, namun Aidy juga ikut melakukannya. Lari sekencang yang ia bisa. Edited by Corialonus Snow, Saturday Jun 1 2013, 11:11 AM.
|
|
![]() |
|
|
| Maysilee Donner | Saturday Jun 1 2013, 11:04 AM Post #24 | |
![]()
|
DISTRIK 12 || HP: 100 || POSISI: [result]9&6,1d7,3,9&1d7+3[/result] || RANSEL: [result]3&3,1d7,0,3&1d7[/result] Mereka dilatih. Empat puluh delapan anak yang direncanakan untuk saling membunuh digabungkan dalam satu gedung yang sama, satu ruangan yang sama, dan dilatih berbarengan. Sang dara mulai berpikir Capitol memang tidak pernah cukup berotak untuk melaksanakan segala sesuatu—namun di saat itulah ia mulai sadar, mungkin inilah cara sesungguhnya mereka mengintimidasi para penghuni distrik. Menunjukkan pada kedua belas distrik bahwa mereka yang memegang kendali. Bahwa mereka yang memiliki kekuatan. Pikiran itu datang padanya; bahwa Capitol memiliki maksud dan tujuan di balik seluruh tindakan mereka. Seperti sekarang. Bloodbaths. Tanpa sengaja, ia teringat akan pelatihan. Layaknya jamuan makan yang mengharuskan seluruh peserta makan malam bersama-sama, semua ini ide yang konyol. Kau dan musuh-musuhmu bersosialisasi seperti kenalan formal tapi beberapa waktu lagi kalian akan saling mencabut nyawa. Kurasa ada ironi yang ingin Capitol tonjolkan. Atau tragedi. Penduduk distrik selalu bilang Capitol menyukai drama. They really do. Ada saat-saat di mana dua belas merasa menyedihkan. Bahwa ajang ini lebih seperti ajang mempermalukan distrik sang Donner alih-alih lomba bertahan hidup. Tidak, bahkan beberapa orang sudah memutar balik konsepnya. Bukan lomba bertahan hidup, melainkan ajang bunuh. Ia bahkan tidak tahu apakah ia bisa membunuh. "Kurasa mereka tetap sama. Bodoh seperti biasanya." Meriam kemudian melonglong, menyuruh sang dara untuk terjaga. Pikiran itu, kilas balik itu sempat membuatnya terkesima dulu, saat menatap layar. Mendadak sadar bahwa pikiran Maysilee otomatis merespons, kuharap juga begitu—sangat mengharapkannya. Kemudian, sang dara berlari, berusaha meraih apa yang dapat ia raih untuk bertahan hidup. Dia ingin pulang. Hanya itu. |
|
![]() |
|
|
| Jester Holt | Saturday Jun 1 2013, 11:04 AM Post #25 | |
|
“Listen to me, Jester . Hiduplah untukku.” Jemari kurus milik wanita itu membentuk pola-pola abstrak di telapak tangannya. Seakan melukiskan bahwa masih ada harapan juga keinginan mutlak dari wanita itu. Ingin sekali pemuda ini tertawa namun yang akan keluar hanyalah sebuah suara yang tertahan di pangkal tenggorokannya. Dan, ia memilih untuk mengangguk singkat sambil menarik telapak tangannya. Harapan akan membunuhmu, bukankah seperti itu? Harapan akan membuatmu seperti manusia yang terlalu naif juga terlalu menganggap semuanya baik-baik saja. Harapan juga akan menipumu dengan mengirim gambaran visual yang berusaha menenangkanmu, bahkan kau bisa melihat kebahagian serta kepuasan dari gambaran tersebut. Sungguh menggelikan. Lalu tanpa kau sadari perlahan demi perlahan pertahananmu melemah. Well, kematian akan membayangimu setelahnya. Tewas termakan oleh harapanmu sendiri. Cara mati yang begitu konyol. Sepasang jenjangnya melangkah ke dalam tabung transparan dengan gaya congkak yang selalu dimilikinya yang bahkan sudah menjadi kebiasaannya. Kesombongan yang menutupi pikiran kalutnya akan wanita yang melukiskan pola abstrak itu. Ibunya, tengah berdoa ditengah kumpulan kitab penuh omong kosong demi keselamatan anaknya. Tuhan sekarang hanyalah sebuah peran omong kosong. Peran yang selalu dipuja oleh para sekumpulan manusia lemah yang terlalu pengecut untuk melihat kenyataan. Untaian kata ratapan yang mereka anggap sebagai doa itu sama sekali tak akan mengubah apapun, hanya membuang waktu saja. Ibunya termasuk diantara para pengecut itu, berlindung dibalik makhluk bernama Tuhan demi menciptakan sebuah harapan. Permainan ini sama sekali tak mengenal Tuhan. Kau bisa mati kapan saja disana, dengan cara yang sama sekali tak bisa kau pikirkan apalagi kau inginkan. Tak ada doa yang yang akan menyelamatkanmu. Tangan Tuhan sangat disayangkan tidak mempunyai kuasa untuk bermain disana, untuk menyelamatkan para pengecut yang memujanya. Sekarang hanyalah tangan para capitol itu yang bermain dengan kuasa penuh. Tuhan hanyalah omong kosong, kau dengar itu, mother? We’ll see, mother. Tabung itu menutup aksesnya seketika lalu membawanya ke atas—entah kemana. Dan sekarang yang ia butuhkan adalah mengingat sedikit yang bisa ia ingat dari para pelatihnya. Berusaha mengamalkannya demi kepuasan nafsu pribadi. Well, hentikan untaian ratapan omong kosong itu sekarang. Tak ada gunanya. Just waste your time Landscape asing terhampar di depannya, tak ada sedikitpun distorsi disana. Ia merasa asing serta kagum dalam waktu yang bersamaan dengan apa yang ia lihat, lalu menutupinya dengan mengendurkan otot di bahunya. Sepasang birunya menatap penuh perhitungan ke segala titik disana, memperhitungkan taktik demi taktik yang bisa digunakan. Sudut bibirnya berkedut dengan sikap tak sabaran. Dengan sudut matanya, ia dapat melihat kawanannya. Kawanan pemburunya. Game on. |
|
![]() |
|
|
| Pietronella Hart | Saturday Jun 1 2013, 11:17 AM Post #26 | |
![]()
|
DISTRIK 2 || HP: 95 || POSISI: [result]7&4,1d7,3,7&1d7+3[/result] (BARANG; BUKAN RANSEL) || RANSEL: [result]7&7,1d7,0,7&1d7[/result] Tik tok tik tok... Detak menuju kematian. Bisakah kau mendengarnya? Seringai getir itu muncul menghiasi raut wajahnya. Kedua rahangnya saling mengatup, amat kuat. Sekalipun mereka mengatakan karier sebagai mesin pembunuh yang stratanya masih di bawah Capitol, mereka ini bukan tercipta seperti halnya muttan. Mata hatinya belum terlalu kelam. Ia masih bisa memandang betapa ketakutannya umat yang pernah mengalami hal serupa. Kondisi yang—she's being pretend to be—terus membuatnya merasa terpojokkan, tak boleh tampil lebih lemah dibandingkan distrik rendahan lain. Walaupun toh, nalurinya sendiri yang berkata demikian. Tujuannya masih sama; Ia ingin pulang. Pernahkah berpikir kalau hari ini merupakan hari terakhir ia melihat matahari? Naif. Ia terlalu naif untuk berkata 'tidak'. Sekali saja, ia memandang ke atas. Hari yang cerah, seharusnya menjadi bumbu penyedap di tengah aktivtas mandi darah yang tak lama lagi bakal berlangsung dengan meriah. Tentu saja meriah, karena penjuru dunia selalu berusaha menampilkan apa yang tengah berlangsung di dalamnya. Berhasil disoraki, mati pun sama saja. Satu-satunya orkesta yang paling berkesan mengejek, ialah kicau burung yang sekarang didengarnya. Keindahan pemandangan yang kemudian, disalahartikan sebagai sesuatu yang mengerikan. Masalahnya, ia bermasalah. Sekalipun tak peduli bagaimana caranya arena dirancang, kecuali hal-hal yang menjurus pada pembantaian. Cepat atau lambat, mereka cuma punya dua pilihan; Membunuh atau dibunuh. Pasalnya, menjadi orang baik itu selalu sulit, baginya. Munafik. Ia, Petra bahkan sama sekali tak pernah berpikir untuk mati dengan cara dibunuh. Sepanjang hidupnya, melukai merupakan cara terbaik untuk bertahan. It's ten! Hitungannya, tak lebih dari sepuluh detik sejak hembusan napasnya barusan. Biru terangnya mulai bergerak, seolah berusaha menggeledah isi pikiran masing-masing peserta. Di sisi lain, ia menginginkan bagiannya yang paling besar. Estimasi selalu dibutuhkan, rite? Pun ia harap, tak ada yang mengernyit konyol, teruntuk siapapun yang menanamkan alat pelacak dalam tubuhnya. Empat puluh tujuh peserta, kalau ia bisa menghabisi semuanya. BOOOOMM! —MEANS FLAUNT. Bergerak. Apapun caranya, ia harus lari lebih cepat dibandingkan yang lain. Ambil apapun yang berguna sampai tak bersisa, karena semua itu miliknya. Simple principle, either. |
|
![]() |
|
|
| Zephaniah Lore | Saturday Jun 1 2013, 11:21 AM Post #27 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 100 || POSISI: [result]6&3,1d7,3,6&1d7+3[/result] (BARANG; BUKAN RANSEL) || RANSEL: [result]2&2,1d7,0,2&1d7[/result] Sudah dimulai. Uhuk... uhuk... Zephaniah menarik napas, menghembuskannya. Melakukan itu berulang-ulang sementara kapsul kaca di mana ia berdiri di dalamnya bergerak naik perlahan-lahan. Begitu matanya bisa melihat keadaan di cornucopia, Zephaniah memanfaatkan itu untuk memperhatikan sekelilingnya. Pemandangannya indah. Lebih indah daripada arena tempat Zinnia mati dulu. Tapi rasanya justru semakin ironis, karena tempat yang sebenarnya terlihat seperti tempat untuk berlibur dan bersenang-senang itu... akan jadi tempat yang menyerupai neraka. Zephaniah tahu seberapa mengerikannya bloodbaths itu. Namun kali ini ia sendiri yang akan berada di sana. Dengan jumlah tribut dua kali lipat lebih banyak dari biasanya. Uhuk... uhuk... Zephaniah teringat pada Zinnia. Lalu pada ibunya. Dua orang itu adalah rumahnya. Namun rumahnya sudah tidak ada lagi di mana-mana. Tinggal di rumah sepupunya pun tidak memberikan sesuatu yang menyenangkan. Zia mati, dan tidak ada yang tahu kenapa. Zephaniah mengepalkan tinjunya. Hanya ia, dan Maria yang tahu rahasia di balik kematian Zia. Maria sudah bungkam selamanya. Dan sebentar lagi... atau beberapa hari lagi jika beruntung, ia pun akan membawa rahasia itu tersimpan rapat. Dipandanginya tiga orang tribut dari distrik satu yang lain. Ketiganya lebih besar darinya. Tapi bukan berarti mereka akan melindunginya, kan? Di tempat ini barangkali mereka akan membuat semacam aliansi, tapi pada akhirnya mereka tetap akan saling bunuh karena hanya boleh ada satu pemenang. BOOM! Oh, tenanglah. Zephaniah Lore ini tidak berambisi untuk menang. Tapi ia juga tak mau mati begitu saja. |
|
![]() |
|
|
| Coraline Estelle | Saturday Jun 1 2013, 12:09 PM Post #28 | |
|
Distrik #6 || HP: 75 || Posisi: [result]2&2,1d9,0,2&1d9[/result] (Barang) || Ransel: [result]6&1,1d5,5,6&1d5+5[/result] || Banyak kata: [result]3&3,1d3,0,3&1d3[/result] x 180 Dia cuma mau bilang; Hai. Canda sih. Sebenarnya Coraline Estelle—gadis yang berdiri dengan menggenggam kedua tangannya itu—pernah berkata kepada ibunya, perihal jika hari ini datang. Hari dimana dia memulai permainan favorit Capitol, The Hunger Games. Cora bilang ke ibunya; ’Aku mau setor nyawa aja kalau kepilih.’ Nadanya pun terdengar meremehkan, seperti dia yakin kalau ia akan bebas dari permainan ini. Hingga sekarang ia merutuki dirinya sendiri karena sudah pernah berkata seperti itu, Dewa di Capitol mungkin mendengar doa meremehkannya sehingga sekarang Cora harus membayar kata-katanya yang keluar hampir setahun lalu itu. Semalam, Cora tiba-tiba saja kangen ibunya, adik tirinya, penduduk Distrik Enam lainnya. Padahal biasanya Cora cuek-cuek aja tuh, karma kali ya? Apa Cora terdengar seperti seorang remaja labil? Padahal umurnya sudah tujuh belas tahun, umurnya sudah bisa dikategorikan sebagai umur tua sebagai seorang peserta, coba bandingkan sama Remy dan bocah dari Distrik Empat yang sama-sama kecil dan sama-sama unyu. Omong-omong Remy kemana ya? Sebelum Cora lari keluar, Cora mau unyelin Remy dulu, peluk Altessa dan Calyx juga. Sejak awal keberangkatan mereka, Cora memang memilih untuk menyendiri, selain menyesuaikan pakaiannya—warnanya hijau tua omong-omong, jadi dia berpikir kalau dia bisa berkamuflase di balik dedaunan nantinya. Tapi, Capitol pasti punya alasan tersendiri mengapa pakaian ini diberi warna hijau tua dan coklat. Tidak semata memberi warna saja bukan? Ya sudah lah. Omong-omong sekarang sepertinya waktu berjalan cepat, berapa detik waktu yang ia miliki? Enam puluh detik sebelum akhirnya meriam atas nama Coraline Estelle bergaung dan katakan selamat tinggal pada Capitol dan hai pada Distrik Enam—sebagai seonggok daging tanpa nyawa. Hng, oke. Berhenti melantur. Rambutnya dikuncir kuda dan Cora ingin mendapatkan warna rambutnya yang dulu. Warna merah maroon, bukannya coklat. Dia merasa yang sekarang berdiri sambil menatap peserta lain, mencoba menelaah apa yang sedang mereka pikirkan bukanlah dirinya, bukan seorang Coraline Estelle dari Distrik Enam. Entah siapa. Lima belas detik. Cora tidak yakin bisa bertahan, dia terlalu pesimis. Selama pelatihan saja ia tidak mendapatkan banyak hal, hanya cara melempar dan kamuflase menggunakan cat. Jelas Cora tidak yakin akan ada kaleng-kaleng cat di Arena nanti. Jadi mungkin pos kamuflase agak kurang berguna, untuk sekarang. Pos Enam? Melempar senjata? Panahan? Itu kalau nantinya Cora mendapat senjata semacam itu, bagaimana kalau akhirnya Cora mendapat senjata yang tidak sesuai dengan apa yang telah ia pelajari. Haha. Berdoa saja—pada siapa itulah pertanyaan sebenarnya. La—ri? |
|
![]() |
|
|
| Colleen Roosophire | Saturday Jun 1 2013, 12:25 PM Post #29 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 100 || POSISI: [result]8&5,1d7,3,8&1d7+3[/result] (BARANG; BUKAN RANSEL) || RANSEL: [result]1&1,1d7,0,1&1d7[/result] Inilah saatnya untuk menunjukan seluruh kemampuan yang ia miliki. Saat ini dirinya sudah berdiri di dalam tabung yang siap untuk mengirim para peserta, termaksud dirinya, ke dalam Arena. Semoga saja Arena tahun ini bagus dan indah, jadinya jika ia mati, tempat ia mati adalah tempat yang bagus dan dapat menenangkan jiwanya. Ia sudah siap. Aku sudah siap. Hela nafasnya beberapa kali. Apakah ia gugup? Tentu saja. Sesaat lagi, dirinya akan memasuki sebuah tempat dimana ia akan mempertaruhkan nyawanya untuk bertahan hidup. Bertahan hidup dari 47 orang lainnya, walaupun sebelasnya adalah sekutunya. Yang ia harus lakukan pertama-tama nantinya di Arena, ketika ia dan peserta-peserta lainnya baru dinaikan ke Arena, ia harus tahu dimana letak para Karir berdiri. Jangan sampai ia membacok orang yang berdiri di sebelahnya yang ternyata sekutunya. Hal kedua yang harus ia lakukan ketika baru masuk ke dalam Arena, ia harus tahu mau mengambil senjata apa dan dimana letak senjata itu ditaruh di Cornucopia. Ngomong-ngomong, senjata apa yang akan ia gunakan? Mungkin pisau. Atau panah. Tapi tombak juga terdengar menarik. Bingung. Jika sudah tahu, ia tinggal berlari ke arah senjata tersebut. Kalau ia sudah mendapatkan senjata yang ia inginkan, ia hanya perlu membantai para sampah nantinya. Sampah seperti gadis dari Enam itu, yang bernama Irvette, yang ia temui di pos empat pada pelatihan para peserta tempo hari. Baru kena serang sekali, langsung kabur. Pengecut sekali. Sampah seperti dia, tidak akan bertahan lama di Cornucopia nantinya. Setelah menunggu selama beberapa detik, akhirnya tabung besi yang ia naiki dinaikan. Seperti apakah bentuk Arena dimana ia akan bertarung? Silau. Colleen tidak dapat mempercayai maniknya sendiri. Pemandangan yang berada di depannya bukan bentuk Arena seperti biasanya. Kali ini, lebih indah. Jauh. Cornucopia berdiri di tengah-tengah padang rumput yang luas dan dihiasi bunga-bunga. Di satu sisi, ada hutan. Dan di sisinya yang lain, ada sebuah gunung yang menjulang tinggi. Langitnya sangat cerah dan bagus. 60… 59… 58… Sebentar lagi Quarter Quell kedua akan dimulai. Sebentar lagi acara bunuh-bunuhan yang sudah ditunggu-tunggu akan dimulai. Sebentar lagi ia harus mempertaruhkan nyawanya. 50… 49… 48… 47… Senjata apa yang akan ia pakai? Ia sudah memutuskan untuk menggunakan pisau. Kalau ia tidak dapat, ia akan pakai panah. Jika tidak dapat juga, maka ia akan pakai tombak. Jika masih tidak dapat, terpaksa ia menggunakan senjata apapun yang ia lihat. Mau itu kapak, pedang, trisula, atau pistol bius. 40… 39… 38… 37… Untuk informasi saja, Colleen itu anti-pedang. Jika banyak orang sangat suka menggunakan pedang, dirinya bukan salah satunya. Entah mengapa, ia benci sekali dengan pedang. Mungkin karena berat. 29… 28… 27… Sebentar lagi. Ia harus siap-siap lari. 20… 19… 18… Arena ini memiliki wangi yang enak. Mungkin karena bunga-bunga yang ada di sekitar Cornucopia kali ya? 5… 4… 3… Tungkainya sudah memasang ancang-ancang. Sudah mempersiapkan diri untuk berlari secepat kilat. 2… 1… Lari! Secepatnya! Tapi wangi Arena ini sangat enak. |
|
![]() |
|
|
| Winona Curealight | Saturday Jun 1 2013, 12:56 PM Post #30 | |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 65 || POSISI: [result]3&3,1d9,0,3&1d9[/result] || RANSEL: [result]7&2,1d5,5,7&1d5+5[/result] || [result]1&1,1d3,0,1&1d1[/result] x 180. (BANYAK KATA PER POST). . Aroma serupa abu ini tidak familiar. Satu hal pasti, kau tak bisa benar-benar yakin kapan enampuluh detik ini akan selesai. Tidak, bukannya Winny ingin cepat-cepat berlari ke arah gedung berbentuk terompet itu dan mengambil perlengkapan yang ia butuhkan, lalu pergi begitu saja. Dara berkaki jenjang ini sudah tahu apa yang harus dilakukan, terima kasih untuk pelatihan di Capitol selama beberapa hari lalu, dan mungkin kalau saja ia tidak harus ke tempat ini, ia akan menghela napas lega selama satu tahun ke depan. Bermain-main dengan Zoey, merajut, merancang baju bagus, bersekolah—yea, kalau saja. Dan kali ini, rasanya, ia hanya sanggup berharap bahwa sebuah keajaiban datang. Katakanlah, hidup lebih lama. Peserta mana yang tidak mau? Omong-omong, bagaimana kabar Zoey, ya? Hingga dalam enampuluh detik terakhirnya, ia sanggup berhalusinasi dengan adanya gelak tawa kecil Zoey yang mengalun merdu, bulir biru dalamnya melebar—menatap ekspresif ke arahnya, sebelum kemudian bibir sewarna mawar pagi itu meretaskan senyum kecil. Pipinya berseri-seri, seperti sosok gadis kecil yang diberi permen favoritnya. Ia, rindu, Zoey. Kalau boleh, ia ingin memberi kecupan kecil di dahi adiknya itu. ...jadi, apakah ini yang dirasakan Vensha tahun lalu? Merindukan keluarganya? Life, it goes on. Tak ada yang benar-benar tahu takdir manusia, yus. Ditelengkan kepalanya ke arah para peserta, kebanyakan dari mereka fokus pada satu titik, atau coba lihatlah tatapan membunuh yang menguar dari para distrik karier. Bukan takut. Ini, lebih pada—pesimis. Akankah dirinya keluar sebagai pemenang? Bisakah? —boom. Lari, selamatkan nyawamu, Winny. Edited by Corialonus Snow, Saturday Jun 1 2013, 01:21 PM.
|
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |















9:33 PM Jul 11