|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,750 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Hada Atala | Sunday Jun 2 2013, 08:17 AM Post #301 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 42 || POSISI: 8 TARGET: MARIO SPIELBERG (D7) & ARTHUR STANFORD (D3) || AP: [result]4&2,1d10,2,4&1d10+2[/result] || KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result] & [result]18&18,1d24,0,18&1d24[/result] 2 kapak, 1 korek api, 1 tempat air minum 2 liter Habis ini Hada mau bertapa dan berguru sama Wiro Sableng pokoknya. Udah nggak ngerti lagi sama dunia. Kapaknya yang sakti kayaknya ini mah, dan Hada lagi disayang dewa sampai serangannya hoki. Ya iyalah. Dia udah ngebunuh dua orang pake kapak itu. Dan dua cowok ini mungkin bakal jadi korban ketiga serta keempatnya. Pokoknya bukan salah Hada ya. Hada cuma mau ketemu Floryn aja kok dibuat susah sih. Padahal waktu yang mereka punya tinggal sedikit. Ini Hunger Games, mereka bakal mati di sini. Gimana caranya menjadi pemenang dari empat puluh delapan peserta begini coba? Dia udah keburu stress mikirin kalau dia bisa mati sebelum ketemu Floryn dulu. Hah! JANGAN SAMPE YA DEWA, PLIS PLIS...HADA MAU MATI BARENG FLORYN AJA. Iya, tau kok Hada banyak mau dari dulu. Tapi Dewa, yang Hada mau sekarang cuma satu kok. Menggenggam tangan Floryn lalu bahu-membahu satu sama lain. Hada tau mereka belum bisa kabur meninggalkan kewajiban mereka sebagai peserta Karier. Tapi, dia cuma ingin ada di sisi gadis cilik itu saja. Paling nggak, supaya dia nggak semakin gila di arena ini deh. "FLORYN! JANGAN MATI DULU!" Ngomongnya ke Floryn sih tapi kan yang di depannya bukan Floryn. Telepati, coy, telepati. Dua kapaknya diangkat, lalu disabetkan ke arah cowok rese entah dari distrik berapa ini. |
|
![]() |
|
|
| Madeleine Lethbridge | Sunday Jun 2 2013, 08:17 AM Post #302 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 68 || POSISI: 2 TARGET: DISTRIK 7 (Mario Spielberg) AP: [result]7&5,1d10,2,7&1d10+2[/result] || KS: [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu Kenangannya sedikit terputar di memori; tentang masa kecil, tentang masa remajanya, bahkan tentang masa yang berselang cuman beberapa pekan lalu. Semua orang memandangnya dengan curiga, semua orang memandangnya dengan tatapan aneh. Semua orang tampak menilainya buruk. Rambutnya tidak pirang, matanya tidak biru, atau hijau, atau warna-warna cerah lainnya yang akan tampak amat cantik bila terpantul cahaya matahari, pun tubuhnya tidak tinggi-besar dan kekar—perawakannya malah mirip orang-orang dari distrik bawah, Madeleine ini, they said. Tidak elite, tidak nampak pantas dipuji maupun disanjung. Ia menceritakan ini pada Mother, then Father—tapi apa yang dia dapat? Nothing. Mereka menyuruh Madeleine untuk bersabar, malah, sebaliknya menuduh Madeleine terlalu banyak khawatir dan paranoid. Tidak ada yang membelanya. Ia padahal cuman butuh diperhatikan, ia padahal cuman ingin dielus kepalanya bisa merasa kesedihan. Tapi toh walau sebegitu sederhana, tetap tidak ada yang mau melakukan itu untuk Madeleine. Kamu pikir kenapa? Karena Madeleine sudah tahu; tidak ada seorang pun yang akan peduli pada dirinya kecuali dirinya sendiri. Pemuda itu pun paling sama. Tidak memedulikannya. Itu strategi, pasti, agar Madeleine lengah dan bisa diserang dengan telak. Kamu tahu; strategi melambungkan untuk lalu menghempaskan? She believes that the boy there applied it. Kamu percaya, tapi kenapa seranganmu tadi gagal, Madeleine-sayang? Tidak, tidak. Kesalahan jelas ada pada Fortuna. Tapi Madeleine gemetar. Pelan, dan berupaya disembunyikan. Segera, sebelum pemuda itu bisa membalas balik—untuk ke sekian kali, ia hunuskan pisau itu. Kali ini ke pinggang si pemuda. Cepatlah. Mati saja sekarang, karena Madeleine tidak bisa menahan rasa bersalah lebih jauh dari ini. “Mati.”—“kumohon.” |
|
![]() |
|
|
| Pietronella Hart | Sunday Jun 2 2013, 08:18 AM Post #303 | |
![]()
|
DISTRIK 2 || HP: 95 || POSISI: 7 TARGET: DISTRIK 9 (Stephanie White) || AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] || KS: [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result] 2 pistol udara, 1 tombak, 1 belati Tidak kena, oh. "Hah, bagaimana kau melakukannya?" Sama halnya seperti yang ia rasa sejak beberapa menit sebelumnya, ia mulai menjelma frustasi. Masih saja, ia selalu tak memiliki keberuntungan dengan senjata yang ia layangkan kepada gadis tersebut. Masa iya, Petra mesti selalu menggunakan tangan kanannya atau tungkai atau mengantukkan kepalanya kepada sang gadis hanya demi melukai sosok tersebut. Apalagi, betapa tolol mendapati bahwa ia sendiri toh telah diberkati banyak senjata. Dua buah pistol udara, sebilah belati, dan sebuah tombak yang tajamnya bukan main. Iya, dia ini hanya dipermainkan oleh nasib. Teruskan saja, tsche. Sedikit mempercundangi diri, terkadang lebih baik daripada tidak memberikan perlawanan sama sekali. Berulang kali kegagalan tersebut terjadi pada dirinya, dan tentu saja ia tak secepat itu menyerah. Di sisi lain, Gadis White malah melayangkan pisau ke arahnya. Meski demikian, ia buru-buru berjengit, dan menghindar secepat yang ia bisa. Refleksnya kali ini cukup baik. Ia mendengus. "Beraninya," Terputus sampai disitu, dan ia kembali mengepalkan tangan kiri, dan melayangkannya kepada paras sang gadis. |
|
![]() |
|
|
| Stephanie White | Sunday Jun 2 2013, 08:18 AM Post #304 | |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 34 || POSISI: 7 TARGET: Pietronella Hart || AP: [result]9&9,1d9,0,9&1d9[/result] || KS: [result]16&16,1d24,0,16&1d24[/result] (satu tempat minum kulit, tiga kotak biskuit) Apa? Daritadi serangannya memang tidak terkena satupun, sejak awal. Tidak tahu apa yang salah, apa karena kepalanya yang semakin lama semakin berdenyut hebat atau karena dia tidak mahir dalam bertarung? Memang pada saat pelatihan, nilainya tidak bagus-bagus amat. Serius, tapi itu bukan menjadi patokan seberapa kuat orang itu bisa menyerang. Setelah tusukannya meleset, ia tidak yakin tangannya bisa mengarahkan posisi pisau dengan benar selain karena tangannya yang sudah gemetar. Gemetar antara takut karena selama ini tidak ada satupun serangannya yang bisa membuat dua peserta karier merasa jera selain ia yang terus menghindari serangan keduanya. Apa ini belum selesai? Harus berapa banyak lagi yang mati? Berapa banyak lagi yang harus meregang nyawa? Eve ingin lari sekuat tenaga, tapi sejauh apapun dia berlari kawanan ini akan tetap memburunya dan akan membuat kematiannya semakin menyakitkan. Disela-sela perlawanannya, ia merasa kedua pasangan ini semakin memburunya, nafasnya mulai terengah-engah menjauhi keduanya. Tidak, Stephanie White belum menyerah. Kepalanya menggeleng kuat-kuat, sesekali ia memegangi pelipisnya yang terasa berdenyut menyakitkan. Di menit berikutnya ia merasa kewalahan sendiri, selain ia mencoba berdiri dengan tangannya berusaha menghujamkan pisau ke ulu hati Hart dan kakinya mencoba menjangkau dada Kruchev, satu saja serangan, biarkan mereka tahu rasanya, tolong. |
|
![]() |
|
|
| Mario Spielberg | Sunday Jun 2 2013, 08:19 AM Post #305 | |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: - >w< Ransel berukuran sedang, 1 bungkus dendeng sapi, sepasang kaus kaki, 1 tempat minum ukuran sedang, 1 kotak biskuit Jadi cewek yang cuma nonton dengan tenaga penuh lebih dari kawanan biasa pula seolah dia bisa menang itu enak ya. Datang-datang main tonjok pula, demi apapun deh sumpahin kalah situ entar, masih mending si manusia ikan ini yang menang. Fuu, doa orang mati itu cepat dijamah tahu! “…” Ya kali ini ia sudah benar-benar menyerah rasanya, buat apa juga dia bertahan selama ini? Tidak jelas juga sebenarnya. Tapi ya mau bagaimana lagi, setidaknya menggores luka dan menambah memar pada tubuh manusia ikan distrik empat itu menjadikan pembalasan menyenangkan bagi seorang Mario Spielberg. Kalau membalas pukulan dari nona seenak sendiri? Gak deh, menghabiskan tenaga saja, mending Mario bobo dan cepat bertemu keluarganya disurga. Biarkan saja si nona sok hebat itu bangga akan diri sendiri padahal toh sebenarnya yang menghabisi tenaganya si manusia ikan. LAGIAN SIAPA YANG KAU SEBUT OM? TANTE JELEK! Mario Spielberg membaringkan dirinya di rerumputan empuk dan memejamkan mata seraya tersenyum senang. Di lihatnya dari kejauhan dua orang manusia tersenyum kearahnya, mungkin mereka orang tua kandung Mario, entahlah, siapa yang tahu. “Hei ikan, kejar teman kecilmu sana, aku capek mau istirahat.” Masih bisa bicara juga ternyata kalau sekarat. Pada nona distrik dua juga yang pernah satu pos bersamanya? Ya semoga dia bisa bertahan, jujur saja Mario tidak tega gadis itu terluka atau mati di arena. Gadis itu mengingatkannya dengan sosok gadis baik hati yang pernah memberikannya makanan penyambung hidup. Sudah deh, jangan ganggu dulu ya, Mario mau tidur, capek tahu! "Kau juga, bertahanlah di arena." Senyum terakhir tanpa membuka mata pada sang nona distrik dua kemudian Mario tertidur untuk selamanya. |
|
![]() |
|
|
| Yasmine Silvertongue | Sunday Jun 2 2013, 08:20 AM Post #306 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 39 || POSISI: 6 TARGET: Scarlett Reed (pistol&kuku)|| AP: [result]7&7,1d9,0,7&1d9[/result] || KS: [result]4&4,1d24,0,4&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi[ Tidak sadar juga?! Yasmine hanya bisa pasrah. Dan merasa kasihan juga. Gadis ini mungkin mengalami cacat mental sebelum maupun sesudah Arena ini dimulai. Ia tidak menyalahkannya. Hal ini tergolong berat bagi mereka yang tinggal di distrik-distrik selain Karier. Semua memiliki keluarga, semua memiliki orang yang ia percayai, memiliki mimpi dan secari kertas bertuliskan namamu menghancurkan segalanya. Atas dasar kasihan itu kah Yasmine akhirnya tega mengirim gadis ini ke alam baka? Ada apa dengan dirinya? Mengapa ia memiliki profesi sebagai malaikat pencabut nyawa disini? Tetapi semua harus membunuh jika tidak ingin dibunuh. Gadis ini… kasihan. Yasmine tidak tahan melihatnya hidup tanpa perlawanan namun mati dengan keji dan tidak terhormat pula. Gadis Silvertongue itu mengusap kepala sang gadis sejenak. “Maaf.” Kali ini ia tidak membunuh karena merasa murka dan karena merasa bahwa lawannya sungguh pantas mendapatkan perlakuan sedemikian rupa layaknya Nestor dan Secret. Gadis ini lebih baik tidak merasakan Arena sama sekali. Yasmine, dengan satu pukulan yang masih terasa bimbang, menghajar tempurung kepala sang gadis. Maaf. Tetapi kalau ia bisa, bunuh diri pun ia mau. Tetapi itu hanya akan membawa kejatuhan bagi Keluarga dan Distrik Sepuluh. |
|
![]() |
|
|
| Tume Tinkham | Sunday Jun 2 2013, 08:20 AM Post #307 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 5 (Pinoy Annelli) || AP: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] || KS: [result]17&17,1d24,0,17&1d24[/result] dua tempat minum kulit, satu belati, satu lentera Ia menghembuskan napasnya ketika tahu belatinya tidak berhasil melukai laki-laki itu. Sambil melompat mundur, Tume tidak sengaja menoleh ke samping dan menemukan Freida yang baru saja dihabisi oleh Floryn. Freida? Yang benar saja. Tume merasa ini hanya mimpi saja. Freida yang menjadi anggota distrik sepuluh sudah tiada. Entah Yasmina sudah tahu akan hal ini atau tidak. Irish mungkin memperhatikan mereka dari tempat lain tetapi dia tahu kalau pelatih dari Freida itu akan merasa perasaan kehilangan yang besar. Sejauh ini Tume tidak pernah merasa begitu kehilangan. Bukan sembarang kehilangan, tapi lebih pada rasa kehilangan yang membuatnya merasa tidak ada jalan lain yang mesti ia lakukan lagi melainkan terus memberontak. Pada akhirnya Capitol akan tersenyum bangga melihat Floryn membunuh Freida bukan karena dendam atau apa, tapi karena kesenangan membunuh. Ia tidak mau menghitung sudah berapa banyak nyawa melayang dalam beberapa menit terakhir karena ia harus fokus pada serangan Pinoy berikutnya. “Enak saja!” Tume membalas Pinoy. Ia mengacungkan belatinya lagi dan berusaha menusuknya ke wajah Pinoy. Tume sudah capek mesti berada di tempat yang penuh dengan manusia seperti ini. Lagi pula, tubuh Freida yang tergeletak begitu saja membuat dirinya terguncang hebat. |
|
![]() |
|
|
| Ferina Secret | Sunday Jun 2 2013, 08:21 AM Post #308 | |
![]()
|
Mati. Mati. Mati. Adalah kata-kata yang terus diulang-ulang di dalam benaknya, terus menerus tanpa henti. Gadis ini bosan, gadis ini menginginkan pertumpahan darah yang terjadi secara spontan, tanpa suatu bentuk pencegahan, penguluran waktu. Gadis ini menginginkan merah darah mengalir dari tubuh korbannya, dengan roh yang ditarik secara perlahan-lahan, menyakitkan, lewat kedua tangannya sendiri. Gadis ini ingin menjadi sang pembunuh, merasakan darah mengalir di tangannya sekali lagi, karena tangannya sendiri. Karena buah pikirannya sendiri. Karena desas-desus bahwa gadis itu bodoh, sesungguhnya bukanlah suatu hal yang rasional. Tanyakan kenapa ke gadis ini, dan kau akan mendapatinya mendengus meremehkan. Gadis ini akan menggeleng pelan sambil menganggapmu sebagai angin lalu yang berhembus ke arahnya, tapi pada kenyataannya adalah ia memang tidak bodoh. Kalau ia bodoh seperti yang dianggap orang-orang, maka apakah ia bisa menorehkan darah di tangannya saat belia? Bagaimana ia bisa menyingkirkan orang terbrengsek di hidupnya, hidup ibu dan adiknya, hidup keluarganya? Bagaimana ia bisa menyingkirkan orang itu tanpa bekas yang membuat orang lain terpana, terpukau, serta tanpa kecurigaan dari orang-orang di sekitarnya dan juga penjaga perdamaian? "Mati kau, Sepuluh. Mati. Mati." Gadis Secret ini meraih surai si anak perempuan dengan keras setelah tendangan dan pukulannya, menjambak, membuat wajah si gadis terbenam di tanah dengan keras. Juga menjambaknya, mengangkat kepala si anak untuk dihujamkan lagi ke tanah berulang kali hingga berdarah. Gadis Secret ini merasa sakit, jelas (dia masih manusia, kan?) jugakesal. Panggil dia dengan sebutan jalang, setan maupun iblis, sesungguhnya ia tak perduli. Ia hanya ingin membuat korbannya terluka dengan cara yang mengenaskan, dengan cara yang menyakitkan karena gadis itu sudah membuang waktunya dengan tidak pergi secepatnya ke neraka. Melimpahkan kekesalan, karena kepada siapa lagi ia harus mencurahkannya? "Bunuh dia, Ethan. Bunuh. Tikus ini menyebalkan." Bosan, lalu jambakannya ia sentakkan, dilepas dengan efek yang membuat si gadis linglung ke tanah. Beralih kepada si anak lelaki yang tak juga mati menyusul rekan-rekan sejawatnya, dengan tangan yang sudah putus, lalu menghujamkan belatinya dalam-dalam ke arah dada si anak lelaki. "Mati. Mati. Mati." Edited by Jonathan Duprau, Thursday Jun 6 2013, 11:20 AM.
|
|
![]() |
|
|
| Hada Atala | Sunday Jun 2 2013, 08:25 AM Post #309 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 42 || POSISI: 8 TARGET: MARIO SPIELBERG (D7) || AP: [result]10&8,1d10,2,10&1d10+2[/result] || KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] 2 kapak, 1 korek api, 1 tempat air minum 2 liter HADA UDAH NGGAK NGERTI LAGI POKONYAAAAAAA. Ciyusan deh, dia sendiri heran kenapa dia bisa kayak gini. Persis banget sama mesin pembunuh dari distrik Dua yang nggak Hada suka. Hahahaha. Gila ya Hunger Games, gila ya Bloodbaths, bisa ngebuat Hada jadi sosok seseorang yang dia sendiri benci. Pembunuh. Hada seorang pembunuh. Tangannya sudah berlumur darah dari tiga manusia. Mimpi apa dia semalam? Di tempat yang persis banget sama surga ini, Hada justru harus membantai orang. Padahal kan asik kalau seandainya semua orang di sini saling menyayangi dan piknik bersama-sama. Padang rumput kayak gini....Hada yakin nggak bakalan ada di Distrik Empat atau distrik manapun. Eh, mungkin nggak ya di sini ada putri duyung juga? NGAREP AJA LU COY. Dan...dia sudah mulai melantur, pikirannya sudah semakin nggak waras. Kalau ini cuma mimpi buruk, dia mau bangun sekarang juga. Nggak perlu takut mati kebunuh, nggak perlu ngebunuh orang dan nggak perlu terpisah dari Floryn. Nah kan, Hada sadar dia benar-benar peduli sama si cilik itu. Dan dia sama sekali nggak peduli sama cowok kampung yang satu ini. Nggak peduli kalau kapak di dua tangannya yang diarahkannya ke tubuh cowok itu bisa merenggut nyawanya. Kesal. Sumpek. "MATI SANA! GUE MAU KETEMU FLORYN!" Hajar sekali lagi, kemudian berbalik. Bodo, bodo. Dia mau cari Floryn. Puncak terompet! Mungkin disana. "FLORYYYYYN!" |
|
![]() |
|
|
| Pietronella Hart | Sunday Jun 2 2013, 08:27 AM Post #310 | |
![]()
|
DISTRIK 2 || HP: 86 || POSISI: 7 TARGET: DISTRIK 9 (Stephanie White) || AP: [result]5&3,1d10,2,5&1d10+2[/result] || KS: [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result] 2 pistol udara, 1 tombak, 1 belati Masih tak bisa? Baiklah. Demi apapun, rasanya ia ingin menendang bokong Snow sekarang juga. Tahu tidak, sudah berapa jumlah tenaga yang ia keluarkan demi melumpuhkan gadis tersebut. Tak habis pikir, ia masih tak habis pikir dengan apa yang menimpanya sekarang ini. Apalagi namanya kalau bukan persetan? Sekarang, ia malah nyaris menemukan titik buntu. Senjata tidak bisa, sama halnya dengan kontak fisik. Lain halnya dengan sang gadis yang berada tepat di hadapannya tersebut. "My!" Ia mengaduh, mendapati senjata tersebut kini bersarang di atas ulu hatinya. Tidak, tidak semudah itu berhadapan dengan gadis asal dua, sayang. Tidak boleh menjadi semudah itu. Ia marah, marah, dan marah. Menggeram, sembari mengusap salah satu bagian torsonya yang terluka. Ini parah, dan ia nyaris kehabisan cara untuk mengakali nasib. Ia dipecundangi nasib. Tsche. Tak mau ambil pusing, Petra buru-buru menyambar salah satu senjatanya yang lain. Belum pernah digunakan sekalipun, asal kau tahu. Sekali saja, ia menembakkan peluru dari salah satu pistol udaranya ke arah Gadis White. Klik. |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |
















9:33 PM Jul 11