|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,749 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Stephanie White | Sunday Jun 2 2013, 08:28 AM Post #311 | |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 34 || POSISI: 7 TARGET: Pietronella Hart || AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result] (satu tempat minum kulit, tiga kotak biskuit) Dia masih menunggu serangan lain yang datang, Eve menoleh mencari Kevin yang sudah terkapar tak bernyawa, tertutup oleh petarung lain. Meski termasuk jauh, ia bisa melihat surai merah Kevin di sela-sela kaki para petarung. Pemuda itu terkapar dengan wujud yang lumayan mengerikan, membuat Eve mengerang, memekik dan nyaris menjerit, itu berarti rekan satu distriknya sudah tidak ada. Sekutunya sudah terlebih dulu mendahuluinya. Eve berusaha tenang dan fokus, serangan dari peserta karier jauh lebih mengerikan daripada melihat mayat Kevin, tapi tetap saja matanya terasa panas, seolah-olah matanya terbakar. Dia tidak tahu siapa saling serang siapa, kali ini matanya menjadi gelap. “AAAAAAAA!” Eve bangkit dengan kedua tangan menghunuskan mata pisau di depan, ia berlari berusaha menusuk lagi ulu hati Hart, matanya terpejam ketika kedua tungkainya mengoyak rerumputan. Pertempuran berdarah ini menghabiskan energinya, dia tidak peduli lagi, dia tidak peduli bila saat ia berlari kearah Hart, itu berarti menyerahkan dirinya pada tombak dan maut. Hart akan senang, mungkin. Dia akan tertawa berurai airmata karena targetnya sudah bersiap mati, tapi tidak Eve belum ingin mati. Setidaknya berikan ia kesempatan untuk menyerang Hart. |
|
![]() |
|
|
| Shinzo Kawabata | Sunday Jun 2 2013, 08:28 AM Post #312 | |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 11 (Gavyn Owyn) || AP: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] || KS: [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] Tiga tempat minum kulit, satu belati Sialan. Sudah berapa yang mati di dekatnya? Shinzo berusaha menahan napas seolah-olah benci bau anyir darah yang menurutnya telah menggapai udara bersih di tempat ini. Permainan terus berlangsung. Benturan, makian, dan derap langkah kaki berseliweran di sekitarnya. Baginya ini jauh lebih menyebalkan daripada apa pun di dunia. Shinzo ingin sekali keluar dari tempat ini. Setelah Kyle meninggal, dia hanya perlu mencari sisa anggota distriknya dan mereka bisa kabur dari sana. Shinzo bukan orang yang dengan begitu gembiranya mengirimkan serangan demi serangan tanpa melihat sekitarnya. Tapi, seperti inilah yang akan dia lakukan ketika dia menyadari sudah ada yang meninggal di dekatnya—tampaknya gadis dari distrik sepuluh. Kelak dirinya akan merasa bahagia karena bisa menghindari pembunuhan massal ini kalau dia bisa bertahan. Semangat. Semangat! Mendadak dia merasa prihatin kepada Tume Tinkham yang mendadak menjadi rekannya di arena hari ini. Mereka senasib. Tapi, Gavyn juga baru saja kehilangan Adina. Pinoy? Bagaimana Pinoy? Ah, Pinoy memiliki Aidy yang masih bertempur dengan gadis dari distrik satu. Mungkin sebentar lagi hasilnya akan keluar. Jadi, mereka berempat sama-sama menjadi orang yang memiliki rasa hilang yang berat. Jadi, harusnya mereka saling mengerti. Shinzo diam saja. Ia lebih memilih menghunuskan belatinya ke arah dada milik Gavyn. |
|
![]() |
|
|
| Ferina Secret | Sunday Jun 2 2013, 08:30 AM Post #313 | |
![]()
|
Siapa juga yang tahu bahwa Ferina akan berakhir seperti ini, di sebuah arena yang menjadi sebuah pertunjukan langsung untuk menghibur orang-orang Capitol, yang selalu dinomorsatukan. Menjadikan sebuah hewan mungkinlah masih di garis normal namun, menjadikan sebuah manusia menjadi sebuah tontonan tersendiri, caplah mereka sebagai psikopat atau semacamnya. Bagaimana indahnya anak-anak Capitol yang tumbuh tanpa merasa takut ataupun merasa gundah setiap kali pemungutan suara—entahlah hal tersebut berlaku tidak saat dirinya menapakan kakinya di lokasi tersebut. Ia sama sekali tak ingat, semuanya hanya tertuju pada kenyataan yang dihadapinya sekarang. Belasan bahkan puluhan menusuk, menembak, atau melakukan apapun yang mereka bisa hanya untuk bertahan hidup walaupun tak ada jaminan suatu saat nanti mereka bisa menjalani kehidupan mereka lagi. Semua itu tak penting, selama penduduk Capitol senang, semuanya baik-baik saja. Dunia ini—lucu sekali, percayalah. “Well, well, well nona—“ siapa namanya? Kenyataannya, gadis Secret ini bahkan tak mengingat nama lawannya, “Sepuluh, akankah lebih baik jikalau aku memberi cindera mata untukmu sebelum kau dijemput oleh malaikat kematian?” Belati yang berada di dalam genggaman tangannya menggoreskan apapun yang ada di hadapannya sekarang ini, tangan, dada, bahu, entahlah ia sama sekali tak peduli. Atensinya kini tertuju pada sosok Adam. ’Cepatlah mati, lelaki bodoh.’ Batinnya sebelum menembakan kembali pistol udara ke arah bahu sosok tersebut. |
|
![]() |
|
|
| Colleen Roosophire | Sunday Jun 2 2013, 08:30 AM Post #314 | |
![]()
|
DISTRIK 1 | POSISI: 8 | HP: 100 TARGET: CO D3(Arthur)(dengan senjata: Tonjok) | AP: [result]6&4,1d10,2,6&1d10+2[/result] | KS: [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] Barang yang diambil: kompas dan sebungkus dendeng sapi Beruntung sekali dia, si pemuda Stanford itu. Dia bisa menghindari tonjokan yang diberikan gadis itu. Tapi tenang saja, gadis dari Distrik Satu ini sudah siap untuk menonjokinya seharian. Jadi pasti suatu saat, pemuda bernama Arthur itu akan kena rasa tonjoknya juga. Lagi pula Hada juga membantunya, jadi pasti cepat atau lambat, pemuda itu akan mati juga. Hanya tinggal tunggu waktu. Entah itu beberapa menit lagi, atau beberapa detik lagi. Tangannya yang masih dikepal, diayunkan kembali ke arah batang hidung si pemuda Stanford. Kalau kena, pasti sakit, karena itu serangan ini harus kena. Tidak boleh meleset. Harus kena. Colleen sudah berjanji untuk menghabisi si pemuda Stanford ini. “Hai! Rasakan tonjokanku ini ya!” ucapnya sambil tersenyum ceria. Memang tonjokan sebelumnya meleset, tapi kali ini ia pastikan akan kena. Habis ia kasihan pada Hada, dia seperti sudah terkena 4L(Lemah, letih, lesu, lunglai) dan itu semua gara-gara Colleen terlalu senang melihat pertandingan antara Hada dan Floyd dan Coraline. Pokoknya sekarang gilirannya Colleen untuk membantai orang. |
|
![]() |
|
|
| Yasmine Silvertongue | Sunday Jun 2 2013, 08:31 AM Post #315 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 39 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 4 (CE;kaki&tangan)|| AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]20&20,1d24,0,20&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi Chuckles. Dimana dia ini? Neraka yang dihiasi dedaunan hijau sempurna dan angkasa biru cerah? Kambing. Banci. Mati. Sapi. Alay. Biadab. Semuanya. Benak gadis itu kembali terlempar ke sebuah momen di masa lalu. Ketika ia berjanji untuk melindungi kedua adiknya. Nyatanya kini ia berakhir di dalam Arena. Dengan kondisi fisik yang sudah kepayahan dan tiada banding dengan dua idiot dari distrik Empat. Inikah cara gadis Silvertongue itu melindungi adiknya dari tangan Capitol? Rasanya tidak cukup. Ia dapat membayangkan kedua adiknya berdoa dan berharap. Mungkin bahkan menimbun uang agar dirinya bisa mendapatkan sponsor. Tapi ini? Ia ingin mengerang rasanya. Bisa ia bayangkan Jess yang diam dilanda kemarahan, mengapa kau tidak coba lebih keras lagi?! Sementara Leira mungkin akan membuat kedua pipinya merah padam beserta matanya, banjir air mata, kau berjanji akan menjaga diri. Sakit. Ini sebuah rasa sakit yang tiada banding. Bahkan tidak dengan sayatan pisau atau tinju dari ikan-ikan yang menjelma menjadi manusia tolol macam pasangan Empat ini. Gadis dari distrik Empat itu… keparat. Yasmine kembali menyarangkan tinju pada rahang, dan menendang tulang kering gadis Empat tersebut. Ini belum selesai. Mari, selesaikan kalau begitu. “Diam, jalang.” Satu lagi hantaman pada mata kanan Ferina. |
|
![]() |
|
|
| Remy Browning | Sunday Jun 2 2013, 08:31 AM Post #316 | |
![]()
|
DISTRIK 6 || HP: 0 Hitungan mundur itu rasanya lama-lama membuat sakit telinga si bocah kecil surai merah itu. Remy cilik hampir saja memuntahkan isi perutnya saat ia dibawa ke arena. Entah kenapa, tapi remy memang sudah tidak enak badan sebelum berangkat kesini. Tapi mau bagaimana lagi? Remy tidak bisa lari kan? Bocah cilik Browning itu hanya bisa mengikuti permainan yang menjeratnya alih-alih tidur di ranjangnya di distrik enam yang hangat terbebas dari tugas dan di jaga oleh mamah. Ah mamah, Remy cilik benar-benar merindukan mamahnya. Kalau ia pulang ia pasti akan memeluk mamah terlebih dahulu. Tapi sayang hal itu tidak bisa terjadi. Ketika hitungan mundur selesai Remy kecil berlari semampunya kemudian terhenti di tengah jalan. Semua yang ia lihat kabur dan tidak jelas. Remy kecil berkeringat dan ketakutan, seolah ia baru saja di bius oleh hal yang amat sangat mematikan. Samar ia mencoba mencari tempat berpijak yang aman, berlari sejauh mungkin dan bersandar entah pada apa. Pohon? Tidak tahu, bahkan mungkin hanya halusinasinya saja. Remy semakin tercekal di tenggorokan. Apa yang salah? Sarapannya? Penyakit asma lamanya? Atau semacam gas beracun masuk ke hidungnya? “Ka…” Samar bocah kecil itu berusaha berbicara, tapi tetap bisa. Perlahan ia memejamkan matanya dan tersenyum lemah. Setetes air mata jatuh di pipinya sambil tangannya memegang lemah tenggorokan. Maafkan Remy, Kak Coral, Kak, Altessa, Remy tidak bisa lebih lama… Tiba-tiba lehernya seperti dicekik dan ia tidak bisa bernafas. Sepertinya asma memang menyerangnya dan Remy kecil tidak akan bisa bertahan lama. Perlahan seolah menghabiskan nafas terakhir ia bergumam pelan dan merintih kesakitan. Menuju akhir hidupnya yang amat singkat. “Kak Pinoy..” rintih kecil terdengar. “Maaf.. Re.. my.. Tidak tepat.. janji.” Ia merintih lagi dan menahan tangis. “Happy Birth..day kak.” Mamah maafkan Remy, Remy tidak akan pernah kembali ke distrik. boleh kan ikutan last post :"| |
|
![]() |
|
|
| Madeleine Lethbridge | Sunday Jun 2 2013, 08:33 AM Post #317 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 68 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 11 (Elisa aku-tidak-tahu-nama-belakangmu) AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] || KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu Banyak. Boom, boom, boom—banyak letusan yang terdengar bertubi-tubi dan malah mirip perayaan. Itu suara kematian, tapi hati Madeleine malah terasa hangat. Nyaman. Tenang. Bukan ia seorang yang ‘sakit’, tapi pikirkan lagi; siapa yang tidak senang melihat bila musuh sudah banyak yang berjatuhan? Tidak ada, well, kecuali bila memang mati adalah tujuanmu sekarang, di sini. Napas Madeleine terengah. Lelah. Dua musuh sebelumnya sudah cukup menghabiskan tenaga. Ia belum sempat istirahat barang sejenak. Tapi siapa butuh itu? Ia bisa istirahat sepuasnya nanti, setelah ini semua berakhir. Sepuasnya. Dengan segala kebaikan orang-orang dan banjiran ucapan terima kasih dari para penduduk distrik yang dulu menyepelekannya. Akan terbayarkan lunas—semuanya, usahanya, kerja kerasnya, ini semua. Tidak aka nada yang sia-sia—tidakkah itu yang Capitol janjikan untuk mereka? “Hah,” napasnya terengah berat begitu melihat serangannya gagal lagi. Ini menyebalkan. Tapi Hada sudah membunuhnya. Mario Spielberg mati. Ia membungkuk, berjongkok di samping mayat itu. “You must be rest in peace,” tuturnya tenang. “And thank you.” Untuknya yang masih sempat menyematinya untuk bertahan di saat-saat terakhir. Tidak lama berduka, tentu, karena Madeleine harus segera mengakhiri ini. Berpindah dari Hada, ia lantas menuju posisi di mana Floryn berada. Gadis itu mungil, kecil, dan manis. Tapi siapa sangka ia amat lihat dalam bertarung. Dari jauh tadi sempat beberapa kali ia memperhatikan. Serangan gadis itu nyaris tak pernah luput. Dan, SHOT! Dari jarak yang tidak begitu dekat, Madeleine menembakkan pistol udara yang ada di tangannya dan berarah pada lengan gadis distrik 11 itu. |
|
![]() |
|
|
| Stephanie White | Sunday Jun 2 2013, 08:34 AM Post #318 | |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 34 || POSISI: 7 TARGET: Pietronella Hart || AP: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] || KS: [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result] (satu tempat minum kulit, tiga kotak biskuit) Bermain-main dengan maut, mengajak malaikat kegelapan untuk berdansa dan itu mudah sekali. Sama seperti Hart ingin mencongkel matanya, sayang ia menahan tangan gadis itu terlebih dulu. Menaikkan alisnya, tersenyum samar. Dia sudah bilang, menyakiti dirinya tak semudah itu. Gadis jahannam memang, matanya yang berkilat semakin membuat Eve ingin mencoloknya dengan tombak yang menjadi senjatanya sendiri. Mengangkat sikunya dan membenturkannya pada bagian rahang Hart, sementara ia masih bersiap menunggu serangan dari Exodus. Pria itu selalu tak terduga. Di satu sisi Eve merasa tidak adil menjadi tumbal peserta karier, sialan. Ini benar-benar membuatnya lelah, tapi tidak bisa didiamkan begini saja. Bahkan berguling, menonjok, menjambak, sekalipun ia mencakar muka keduanya mereka tidak akan menyerah. Baginay Stephanie White adalah mainan yang bagus untuk dihancurkan, terlalu bagus dan merupakan makanan paling lezat di arena. Sekali lagi ia melayangkan tinjunya pada rahang Hart, bola matanya mulai berkilat lagi. Berusaha menatap mata Hart dan tombaknya yang sudah jelas-jelas ingin diarahkan kepadanya atau pisaunya yang mungkin ingin sekali dia hunuskan ke jantung Eve. Tidak sayang, ia belum ingin mati. Puh! |
|
![]() |
|
|
| Ferina Secret | Sunday Jun 2 2013, 08:34 AM Post #319 | |
![]()
|
Tangannya mencengkeram leher si gadis, kencang. “Diam, cerewet.” Tak tahukah kalau gadis ini sedang menyusun skenario kematianmu? “Hanya aku yang boleh berbicara, di sini, di antara kita berdua.” Gadis Secret itu tersenyum licik, dengan sorot mata tak seperti biasanya (well, well, berada di arena sudah mengubah dia, merubah mereka semua, bukan begitu, hm, pembina permainan?), dengan iris biru yang terlihat menggelap beberapa tone setelahnya. Gadis ini memang tak pernah membayangkan hidupnya akan sebegini tragis, walaupun ketragisan yang ada memang ia bawa sendiri ke hidupnya, mengingat ia memang mengajukan diri untuk mengikuti permainan ini. Bunuh atau dibunuh. Sama-sama pulang, tapi dengan nyawa atau tak ada nyawa. Maggie, apa kabarnya di rumah? Apakah ia justru menangis melihat kakak perempuannya menjadi monster di Arena? Tapi sekelebat pikiran itu tak ia hiraukan, tak ia pedulikan sementara pikirannya yang haus darah mencari cara untuk melukai lawan-lawannya. Sudah berapa lama ia berada di tempat ini, hm? Sudah berapa meriam yang nanti akan berbunyi, menandakan berapa jiwa yang pergi? Dan dari sekian banyak meriam, berapa jiwa yang akan menjadi hasilnya, buah tangannya membunuh? Saat ini, belum ada. Akankah ada? Harus. Pergerakan si anak lelaki dihadangnya dengan pukulan dengan pangkal belati tepat di ulu hati, yang akan membuat si anak lelaki membungkuk-bungkuk kesakitan, sudah jelas. Sampah. Kalau menghindari pukulan dari seorang anak perempuan berusia 16 tahun saja tidak bisa, jelaslah bahwa lelaki itu takkan bertahan hidup lebih lama. Mati saja kau, distrik rendah. Bilah pendek itu dilekatkan ke leher gadis sepuluh, teasing her skin, teasing her breath. Ada suara tercekat yang keluar, dan itu bukan dari miliknya, jelas. Oh, siapa yang tak akan kaget kalau lehermu ditempeli bilah dingin bernoda darah, hm? “Bagaimana aku akan menghabisimu, Sepuluh….” Ujung panjangnya dilekatkan ke leher si gadis, menimbulkan tetesan darah baru. “…ada saran? Atau akan kupanggilkan Ethan untuk ke sini, menghabisimu. Pilih mana?” |
|
![]() |
|
|
| Pietronella Hart | Sunday Jun 2 2013, 08:35 AM Post #320 | |
![]()
|
Ia tak tahu bagaimana reaksi kedua orang tuanya, manakala melihat serangan yang dilancarkan oleh dirinya ini sama sekali tidak berbuah manis. Lihat, coba lihat sendiri bagaimana napasnya memburu, dan menatap dengan sorot mata tak percaya. Kepalanya pening sekarang, bukan karena kesakitan. Akan tetapi, lebih kepada pemikirannya yang kelewat frustasi menghadapi gadis di dekatnya tersebut. Menyerang sendiri, dan ia tak pernah mampu menyambangi serangan yang dilancarkan. Berbeda halnya apabila ada orang lain yang membantu, seolah ia memang membutuhkan hal apapun yang dapat membuat lawannya sedikit lengah. Sedikit saja. Entah bagaimana caranya. Kesal. Tak peduli, ia bahkan nyaris mengamuk dengan keadaan yang terpaksa menghimpitnya sedemikian rupa. Biru terangnya bergulir ke arah pistol udara yang jelas-jelas hanya tersisa beberapa peluru lagi. Pelurunya yang barusan terbuang dengan sia-sia. Meleset, ia tak tahu bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Mengenaskan. Hidupnya sekarang teramat sangat mengenaskan. Hilang akal, ia melayangkan benda berpeluru tersebut kepada sang gadis. Katakanlah, tinju. Mungkin tidak masalah kalau ia menghantam salah satu bagian tubuh Gadis White menggunakan senjata yang tidak seharusnya diperuntukkan bagi hal tersebut. Namun, masa bodoh, toh. Ia pun tak dapat menjamin keberhasilan. |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |
















9:33 PM Jul 11