|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,747 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Maysilee Donner | Sunday Jun 2 2013, 08:53 AM Post #331 | |
![]()
|
DISTRIK 12 || HP: 100 || POSISI: 9 TARGET: DISTRIK 8 (Curealight) || AP: [result]10&8,1d10,2,10&1d10+2[/result] || KS:[result]24&24,1d24,0,24&1d24[/result] 1 pistol udara, 1 pisau, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit Semuanya seperti fatamorgana, hmm. Ada kabut tipis yang menghalangi, menyekat, barang sebentar saja—memberikan imjai menyenangkan dan surgawi, sebelum tabirnya punah dan menyisakan kengerian belaka. Bencana; di mana anak-anak saling meminta maaf sebelum mengayunkan belati. Di mana umur dilupakan, dan penjagalan terlaksana hanya berbekal nyali. Empat puluh delapan tidak bisa pulang bersama, masalahnya. Tidakkah itu harus disayangkan? Dari empat puluh delapan hanyalah satu. Bagaimana caranya kau bertahan menjadi yang satu itu, masalahnya? Keberuntungan jelas tidak cukup. Keterampilan semata pun tidak cukup. Kepintaran? Itu. Masalahnya. Dia bukanlah siapa-siapa untuk berkata, namun ada sesuatu yang bilang bahwa beberapa memiliki fisik dominan di sini. Mungkin dia bisa memanfaatkan itu. Mungkin dia bisa sombong sedikit dan memutar keadaan dengan itu. Mungkin dia memang tidak sepintar yang dia pikir; namun dia butuh melakukan ini. Lagipula, bagaimana caranya menang kalau pada diri sendiri ssaja tidak percaya? Ada kalanya kepercayaan itu goyah dan dia terpaksa harus berdiri sendirian lagi—namun tetap, tetap, dia memaksa dirinya untuk tidak berbalik ke belakang. Ada mereka-mereka yang memang sudah terlatih. Yang mampu melakukan apa saja, dari jarak sejauh apapun, dengan senjata macam apapun. Mereka-mereka itu mampu menciptakan rasa sakit meskipun tanpa bekal senjata. Maysilee, di lain pihak, selalu banyak-banyak berpikir sebelum menyerang—karena, salah bergerak, bisa saja tangannya yang remuk. Mungkin itulah alasannya. Mengapa dia selalu berhati-hati. Karena dia tidak dikaruniai bakat lain yang sejenis dengan pertarungan tangan kosong. Makanya dia agak nekat waktu sedikit memutar badannya, dan menendang gadis lawannya itu keras-keras di sisi perut. |
|
![]() |
|
|
| Madeleine Lethbridge | Sunday Jun 2 2013, 08:55 AM Post #332 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 68 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 11 (Elisa aku-tidak-tahu-nama-belakangmu) AP: [result]7&5,1d10,2,7&1d10+2[/result] || KS: [result]22&22,1d24,0,22&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu Floryn Lee itu adik dari Alethea Lee yang beberapa tahun lalu main dengan sangat bagus di hunger games. Lihat, cekatan, gesit—dan yang paling penting, sangat disayang oleh Fortuna. Hingga, well, kalau gadis cilik itu berhasil melancarkan serangan dengan telak ke lawan-lawannya, Madeleine sudah tidak sepantasnya heran. Sudah bawaan, barangkali. Padahal masih muda, tapi sudah sebegitu berbahaya. Kamu tahu, Floryn, Lethbridge kecil kita ini tak akan mau melawanmu nanti—biar saja kamu mati dulu, biar tak ada lawan seberbahaya kamu. Tapi tidak sekarang, karena kamu masih satu aliansi dengannya; she will help you. “Come on, Elisa—I am now your enemy,” jangan ganggu gadis Lee itu dulu. Lawan macam kamu terlalu lemah, Elisa; dan dia tak akan lagi membiarkan Floryn mengasah kemampuannya dengan membunuhmu. Kalau Floryn membunuh satu, Madeleine harus membunuh dua. Kalau Floryn membunuh dua, Madeleine harus membunuh empat. Dan pertanyaannya; sudah berapa nyawa yang dihilangkan gadis angelic face tersebut? Banyak—hitung saja nanti. Kini, mari fokuskan saja untuk menyerang sebanyak mungkin dan membunuh bila memungkinkan. Madeleine tidak mau kalah. Madeleine benci kekalahan. Ia maka lantas berlari, menerjang tubuh gadis itu dan berniat menancapkan pisau yang ada di tangannya, mengincar letak di mana hati berada. Di tangan Madeleine saja. Pilihlah untuk mati di tangannya. Edited by Madeleine Lethbridge, Sunday Jun 2 2013, 08:56 AM.
|
|
![]() |
|
|
| Tume Tinkham | Sunday Jun 2 2013, 08:57 AM Post #333 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 4 (Floryn Lee) || AP: [result]9&9,1d9,0,9&1d9[/result] || KS: [result]22&22,1d24,0,22&1d24[/result] dua tempat minum kulit, satu belati, satu lentera Wah, gila! Kena, ya? Tume hampir tidak percaya. Tadi dia gagal terus. Sekarang mata pisaunya mendadak mau menurut ketika diminta untuk menghajar lawan dari Freida itu. “Dan ini untuk orang lain yang sudah kau bunuh hari ini!” Tinkham dari distrik sepuluh itu mengangkat belatinya sekali lagi dan menghunjamnya ke arah Floryn. Dia sudah menunggu saat di mana dirinya bisa menjadi orang yang baik dalam membunuh orang lain. Menurutnya, ini sudah cukup baik walaupun main keroyokan begini. Floryn Lee bukan orang yang dengan mudahnya harus dilepaskan begitu saja, bukan? Freida pasti ingin Tume membalas dendamnya. Dan Tume juga begitu ingin mengatakan kepada Irish bahwa dia akhirnya paham perasaan dari gadis yang pernah menang itu, tentang bagaimana keinginan membunuh di arena akan menjadi begitu tak tertahankan bila ada orang yang kalian sayangi meninggal dengan sadis. Sekarang dia baru benar-benar mengerti. Floryn Lee harus membayarnya. Harus. Demi apa pun di dunia ini, gadis itu harus membayarnya. Dan ini benar-benar menyenangkan. Membalas dendam. Belum pernah rasanya dia menjadi senang ketika berhasil melukai orang. Berkat Shinzo kepercayaan dirinya meningkat. Dia bersama pemuda dari distrik delapan itu kembali beraksi. Dan ketika Shinzo berhasil menyabet gadis itu kembali, Tume membuat gerakan susulan dengan berusaha mencolok mata dari Floryn dengan belatinya. |
|
![]() |
|
|
| Stephanie White | Sunday Jun 2 2013, 08:58 AM Post #334 | |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 22 || POSISI: 7 TARGET: Pietronella Hart || AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]7&7,1d24,0,7&1d24[/result] (satu tempat minum kulit, tiga kotak biskuit) Sudah puas menjadikannya sasaran yang empuk wahai Hart? Si kardus itu belum melancarkan serangannya, tapi biasanya, serangan yang datang dari si kardus suka tiba-tiba dan tidak terdeteksi. Nampaknya ia memang dilahirkan untuk menjadi tukang jagal, bukan sebagai peserta karier. Nafasnya terengah-engah, kerongkongannya benr-benar kering. Ya tuhan, dia ingin minum. Satu tetes saja, biarkan ia meneguk satu tetes saja. Kepalanya kembali berdenyut dan telinganya berdenging. Bila ada satu lagi meriam yang berbunyi, ia bisa pastikan telinganya akan menjadi tuli karena denging yang tak berhenti mengacaukan penglihatannya. Memecah konsentrasi seorang Eve di arena. Seketika tubuhnya menegang, ia merasa perlu bernafas sebentar. Tangannya menyentuh tanah dengan posisi berlutut, ia tidak bisa menjamin dapat menghabisi nyawa Hart tapi setidaknya sampai keduanya bisa memutuskan untuk tidak lagi menyerangnya dan memilih mempedulikan diri mereka sendiri. Apa urusannya? Ini arena, tidak akan ada yang menyerah lebih dulu kecuali memang amal ibadahnya sudah banyak dan ia rela mati di tangan lawannya. |
|
![]() |
|
|
| Yasmine Silvertongue | Sunday Jun 2 2013, 09:01 AM Post #335 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 39 || POSISI: 6 TARGET: Terry Scott (tangan)|| AP: [result]7&7,1d9,0,7&1d9[/result] || KS: [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi[ Hng… gagal. Mungkin karena ia tidak benar-benar menargetkan pemuda ini. Tetapi… alamak, kalau tidak nanti dia bisa menyerang balik Yasmine atau malah diserang dan mati dengan kepala terputus dari tempatnya oleh kawanan Karier. Tidak, imajinasi tersebut sangat amat terlalu mengerikan. Yasmine sendiri sampai merinding dibuatnya. Gadis itu melambai-lambaikan tangan di hadapan si pemuda. Tidak ada respon. Apa mungkin dia sudah mati? Tetapi lihat itu, dia masih bernapas. Yasmine berusaha menyadarkannya disini. Helo, tidak ingin hidup lebih lama lagi? Tidak ingin kabur dari tempat biadab bak neraka ini? Terkadang sifat dan sikap masing-masing peserta perwakilan distrik mereka itu begitu unik hingga Yasmine tidak bisa berikatan atau setidaknya sampai pada titik ia mengerti. Well, mungkin sudah nasib. Gadis itu masih terus mengajak pemuda itu bicara. “Hey…” “Hey, kabur saja sana cepat!” Karena ia lelaki, diasumsikan lebih bisa bertahan hidup kan? Stereotipenya sih demikian. ”Hey, kamu bodoh ya?!” Yasmine menempeleng si pemuda. Rasanya tidak cukup. Ia meninju wajah pemuda itu juga. Meninju takkan membuanya mati kan? Sadarlah. Masa iya dia sudah hilang harapan hidup? Yasmine sungguh benci orang-orang pesimis seperti itu. Kenapa tidak bunuh diri saja sekalian kalau begitu? |
|
![]() |
|
|
| Floryn Lee | Sunday Jun 2 2013, 09:01 AM Post #336 | |
![]()
|
└(∵┌)└( ∵ )┘(┐∵)┘ DISTRIK 4 || HP: 42 AHUAHAHAHA (*`д´)b || POSISI: 4 || AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] TARGET: HARRY (D10) || KS: [result]18&18,1d24,0,18&1d24[/result] DUA BELATI, SATU TENDA Jujur sejujur-jujurnya, nih. Floryn Lee caaaapeeeek. Bukan hanya capek karena sedari tadi kakinya gesit melangkah kian-kemari. Bukan juga capek karena terus-menerus meneriakkan nama abang ketemu gedenya itu. Floryn c a p e k. Kamu tahu berapa yang tadi dibunuhnya, dan betapa dia menggumamkan maaf setelahnya? Kamu tahu dia umur berapa, dan dia sudah menyaksikan darah seberapa banyak? Kamu tahu rasanya dia ingin menangis saja dan nyusruk ke Hada Atala? Capek. Seluruh tubuhnya meneriakkan capek, namun si kecil itu hanya mengisak dalam hati saja. Wajahnya tak lagi berseri-seri, mungkin? Ah, dia tidak begitu peduli. Senjatanya digenggam asal-asalan, namun dihunus mantap. Dia hanya ingin ini cepat selesai, makanya dia akan menuntaskan tugasnya selaku Karier yang baik. summerpetrichor: Kakak-kakaaaaak. Floryn bunuuuh eeempaaaaat. Seharusnya dia ditepuk-tepuk di kepala atau semacamnya setelah ini selesai. Kepada Flavea, atau siapalah… Dia ingin memeluk Hada dengan ekspektasi nol, hanya sekadar ingin balas dipeluk tanpa harus ingat bunuh-bunuhan lagi besok. Dia tidak mau mengerti kenapa sekarang dia menggenggam pedang penuh darah. Dia tidak mau ingat lagi soal ransel berat bodoh di punggungnya, yang disambarnya susah-payah waktu Arena dibuka. Dia mau melemparkan semuanya—biar selesai. Lalu ketemu Hada. Hada Atala yang sedari tadi suaranya terdengar, namun sosoknya terlihat. Kenapa dia tidak bisa bertemu kakaknya itu barang sebentar saja? “Buruan, kamu—MATIIIIIII!” Sekarang, dia belum akan meminta maaf. Setidaknya belum akan tersuarakan, sampai—dia menyabet pemuda itu, satu kali, dengan kecepatan tinggi,—dia berhasil membunuh orang ini, atau—kini dia berusaha menghunjamkan pedangnya ke bagian tubuh mana saja,—melukainya sedemikian parah sampai dia tidak bisa bergerak. Maafnya nanti. Sampai dia bisa bertemu Hada. “Bang Hadaaaa….” Suaranya lemah dan merintih, tubuhnya terhuyung letih di angin Arena, “….aku mau lihat Bang Hadaaaaaa….” Makanya, kakak yang sekarang sedang dilawannya—mati saja, cepat, ya? Mengabaikan Shinzo sama Turne. Kalian anulir, ya. Kalian udah saling serang. Non karier cuma bisa serang satu orang. DAN OUT DARI POSISI 4 KE CORNUCOPIA, TJOI |
|
![]() |
|
|
| Pietronella Hart | Sunday Jun 2 2013, 09:03 AM Post #337 | |
![]()
|
Pernah melihat bagaiamna kondisi distrik dua? Yea, mereka--penduduknya sama sekali tak mau tampil lemah satu sama lain. Sama sekali tidak ada yang sudi untuk merendahkan dirinya di hadapan penduduk yang lainnya. Keras kepala, dan sama-sama tak mau mengalah. Humoris, mungkin, tetapi dalam tanda kutip selera humornya tidak akan sama dengan apa yang dipikirkan oleh pemain peran di acara sirkus picisan. Tidak pernah sama. Distriknya berbeda, hal tersebutlah yang menjadi alasan mengapa ia akan merasa teramat malu apabila membunuh satu orang ini pun tak bisa. Yes, seorang gadis asal distrik sembilan yang seharusnya sudah mati sejak beberapa menit yang lalu. Sudah seharusnya bagi sosok tersebut untuk menyusul teman-temannya yang lain. Teman disini ialah mereka yang telah lebih dulu dijemput oleh malaikat pencabut nyawa masing-masing. Sayang sekali, ia bukan seseorang yang pandai melakukan ritual pemanggilan kepada makhluk astral tersebut. Menyebalkan, manakala ia harus bersusah payah untuk menjadikan gadis tersebut sebagai mayat. "Bisakah berhenti melawanku dan membuat semuanya tampak lebih mudah?" Ia kembali bertanya, tak bisa ditahan lagi. Kali ini, nadanya meninggi, nyaris seperti orang yang marah histeris. Nyaris. Tak bisa, sayangnya, ia sulit mengendalikan emosi kalau sudah seperti ini kondisinya. Ia kembali menusukkan mata tombak ke arah jantung sang lawan. |
|
![]() |
|
|
| Colleen Roosophire | Sunday Jun 2 2013, 09:10 AM Post #338 | |
![]()
|
DISTRIK 1 | POSISI: 8 ke 1 | HP: 100 TARGET: CO D3(Isaac)(dengan senjata: Tampar) & CE D9(Stellaria)(dengan senjata: Tonjok) | AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] | KS: [result]7&7,1d24,0,7&1d24[/result] & [result]13&13,1d24,0,13&1d24[/result] Barang yang diambil: kompas dan sebungkus dendeng sapi Tamparannya kena. Meninggalkan bekas merah di pipi si pemuda dari Tiga. Sangat disayangkan, padahal ganteng, tapi di wajahnya ada merah-merah berkas ditampar. Rasanya seperti dia itu baru diputusin cewek. Iya enggak sih? "Dasar kau brengsek!" teriaknya dan menampar pemuda itu lagi. Masih menggunakan tenaga yang sama. Tapi bedanya, tadi Colleen menampar pipinya yang kiri, sekarang gadis bersurai pirang itu menampar pipi kanannya. Jadi impas, kanan-kiri merah karena ditampar. "Kau juga Stellaria!" Lalu tangan kanannya menonjok gadis itu lagi. Kali ini di perutnya. Kalau tadi tonjokannya meleset, sekarang ia pastikan untuk tepat mengenai sasaran. Kalau bisa, dia ingin gadis Stellaria itu mengeluarkan seluruh isi perutnya ketika ia terkena tonjokannya itu. Bingung mau cerita apa lagi. Kayaknya seluruh isi otak Colleen, sudah ia ceritakan. Atau karena dia stress dan gugup di Arena, jadinya yang ia ceritakan hanya sedikit. Pastinya saat ini, Colleen ingin bergabung dengan kawanan karir lainnya. Memang masih ada beberapa yang sibuk membunuh orang, tapi ada juga yang isthirahat. Tentunya waktu isthirahat untuk gadis Roosophire itu masih lama, karena masih ada beberapa sampah yang perlu ia bersihkan. Cepatlah mati sampah. Jangan membuang-buang waktu Colleen. |
|
![]() |
|
|
| Hada Atala | Sunday Jun 2 2013, 09:11 AM Post #339 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 42 || POSISI: CORNUCOPIA TARGET: - || AP: - || KS: - 2 kapak, 1 korek api, 1 tempat air minum 2 liter MAKASIH YA DEWA, AKHIRNYA MATI JUGA! Kalau serangannya yang tadi gagal membuat si cowok ku yuk itu mati, dia sudah nggak tau harus gimana. Tapi untungnya dewa keberuntungan masih berpihak padanya, dan semoga berpihak kepada Floryn juga. Karena Hada nggak tau Floryn ada dimana, dia memutuskan untuk berlari ke Cornucopia dengan barang jarahannya yang seabrek. Kenapa? Karena dia pikir dia bisa mendeteksi keberadaan Floryn dari puncak terompet yang tak berpenghuni itu. Arena ini lebih luas dari perkiraannya, ternyata. Dan meskipun dari tadi dentuman meriam terdengar beberapa kali, dia sudah nggak bisa melihat dengan jelas. Kabur, pandangannya buram. Nafas Hada tersengal-sengal waktu dia tiba puncak terompet. Sesak, dia terbatuk-batuk, begitu parah sampai dia memuntahkan isi perutnya keluar. Mual, pusing, bau darah, rasa furstrasi itu bercampur aduk di udara dan membuatnya gila. "Uhuk....hoekkk..." Mengelap liurnya dengan lengan bajunya. He's trying to pull his self back together. Sungguh, dia masih shock. Tangannya gemetar hebat dan nggak bisa dia kendalikan. Dadanya masih terasa nyeri, dan tubuhnya mendadak terasa lemas. Lukanya mungkin nggak seberapa parah, tapi rasanya udah kayak mau mati. Tapi Hada belum mau mati, tidak sebelum dia bertemu Floryn. Dia sudah bilang kan? Dia sadar mungkin ini akan berakhir sebentar lagi. Makanya, dengan sisa tenaga yang masih dia punya, Hada berusaha memanjat puncak terompet Cornucopia demi mendapatkan visi yang lebih baik. Darah dan mayat dimana-mana, Hada bahkan sudah tidak mengenali lagi sebagian besar dari mereka. Yang pasti bukan Floryn. Floryn, mana sih kamu!? Lalu di sana, dia melihat sosok kecil dengan surai pirang yang dikuncir ke belakang. Dia tau betul itu siapa karena sosok itu yang dicarinya selama ini. MAKASIH YA DEWA, FLORYN MASIH HIDUP. "FLORYN! SINI! AKU DI SINI!" Teriakannya lantang supaya gadis cilik itu bisa mendengarnya dari kejauhan. Dan ternyata, Floryn menyadari keberadaannya! Gadis kecil yang tampak sama payahnya dengan dia itu berbalik dan berlari dengan ransel segede gaban dan senjata tajam di tangannya. Nggak tega sih, tapi dia juga rasanya nggak sanggup harus lari ke arena pembantaian itu lagi. Segera setelah Floryn sampai, tangannya menarik sekuat tenaga tubuh kecil itu naik ke atas bersamanya dan tanpa basa-basi, lengannya segera merangkul tubuh Floryn Lee itu dengan lega. "Maaf ya, Floryn, aku tidak melindungimu sesuai janjiku..." dia bergumam lirih, mengelus-elus puncak kepala Floryn dengan lembut. "Aku di sini sekarang, jangan terpisah lagi dari aku ya." Karena kalau Hada harus mati, dia mau mati melindungi Floryn. godmod Floryn udah dibolehin ya T__T |
|
![]() |
|
|
| Madeleine Lethbridge | Sunday Jun 2 2013, 09:15 AM Post #340 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 68 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 11 (Elisa aku-tidak-tahu-nama-belakangmu) AP: [result]4&2,1d10,2,4&1d10+2[/result] || KS: [result]17&17,1d24,0,17&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu Jadi, berhasil lagi. Bibir mungil itu membentuk sebuah lengkung senyum yang amat lebar. Tidak ditutupi. Bahkan kalau bisa benar-benar dipamerkan. “Apa yang kamu rasakan, Elisa?” berbasa-basi, tapi tulus bertanya. Ia kadang ingin tahu apa yang korbannya rasakan akibat perlakukannya. Akibat apa yang telah ia lakukan. Pisau itu lantas ditancapkan makin kuat. Kuat, kuat, kuat—dengan sebentuk senyum yang terlukis di wajah Madeleine yang manis. Sama sekali tidak merasa bersalah kali ini. Karena mungkin, well, hatinya sudah kebas dan mati hingga tidak lagi menyisakan sendu-pilu sebab melukai sesama manusia yang pun berhak untuk hidup. Pisau itu ditarik ke bawah, mencoba membuat luka di sekitar perut Elisa makin lebar. Ia mau membuat inisial nama di perut itu nanti, saat mayat gadis ini sudah tergeletak tak berdaya. Biar Madeleine bisa puas memperlakukannya dengan semena-mena. Perlawanan adalah jelas menyenangkan. Pemberontakan adalah hal yang bisa membuatnya merasa tertantang. Tapi jika terus bergerak seperti ini… Madeleine akan susah membuat lambang yang bagus, kamu tahu—sedangkan padahal Madeleine cinta kesempurnaan. “Kita belum berkenalan sebelum ini, ya,” dengan polos dan tanpa sedikit pun mengurangi tenaga di pisau itu, Madeleine bertanya. “Madeleine Lethbridge, District Two.” Ucapnya dengan satu kekeh pelan. Karena, Elisa, kamu harus ingat nama orang yang akan membunuhmu. |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |

















9:33 PM Jul 11