|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,746 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Pietronella Hart | Sunday Jun 2 2013, 09:16 AM Post #341 | |
![]()
|
Guratan pada keningnya itu tak lagi nampak samar. Darahnya berdesir cepat dalam masing-masing pembuluhnya. Napasnya memburu, terengah-engah. Ia masih saja berada di tengah kondisi yang pelik. Di saat seperti ini, biasanya ia akan mengurung dirinya di kamar, dan baru keluar manakala keadannya sudah jauh lebih baik. Atau berdiam diri di tengah taman, sembari menyelami buku sketsanya yang sekarang mungkin telah berdebu, ditumbuhi oleh jamur yang merebak di permukaannya. Lain halnya lagi, apabila ia kelewat niat dan memutuskan untuk melempari senjata apapun yang terdapat di pusat pelatihan tempat distriknya. Selalu seperti itu, toh. "Behalf the God." Tuhannya, entah apa yang membuatnya ingat kepada sang Pencipta. Pasalnya, gadis ini sudah tak peduli lagi mengenai apa yang terlontar dari sepasang katupnya. Masing-masing rahangnya telah mengeras, dan mengatup erat satu sama lain. Kalau saja ada sosok lain yang membantunya, oh, sayang sekali. Ia, Petra gengsinya mungkin terlalu tingi. Egonya sama sekali menjadi penghalang bagi gadis tersebut untuk menurunkan taraf tersebut. Kali ini, ia memilih untuk menggunakan belati. Tak tanggung-tanggung, ia menancapkannya ke mata sang lawan. Berusaha, ia merangsek. Entah bagaimana caranya agar bisa mengenai hingga tepat sasaran. "Enyahlah." |
|
![]() |
|
|
| Stephanie White | Sunday Jun 2 2013, 09:17 AM Post #342 | |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 22 || POSISI: 7 TARGET: Pietronella Hart || AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]20&20,1d24,0,20&1d24[/result] (satu tempat minum kulit, tiga kotak biskuit) “Tidak, tidak akan pernah, Jalang!” Ia menyikut tangan-tangan bergerilya di sekitar tubuhnya, kasar. Tidak suka, Eve tidak suka ada tangan-tangan asing yang berusaha menyentuhnya untuk melukai Eve. Selama ini ia hanya bisa memberikan bogem dengan tangan kosong atau hanya menyikut atau apapun dengan tangan kosong. Tidak seperti Hart yang punya tombak sejak awal. Eve tadi sempat mengambil pisau, tetapi lemparannya meleset semua. Dia tidak mengerti, malah serangan secara fisik yang dihujani keduanya jauh lebih menyiksanya. Terbersit pikirannya akan Clause, serangan tadi, lagi mentah-mentah mengenainya. Ia berdarah lagi, Eve tak suka rasa darah, tak suka pula dengan aromanya. Seperti besi karatan yang bergumul di dalam mulutnya, Eve tidak suka. Ia menggertakkan giginya, Eve tidak boleh lemah, sungguh. Clause tidak akan senang melihatnya mengemis di arena, meminta belas kasihan untuk tidak diserang. Eve menatap sebal lawannya. Baiklah, ini sudah pertarungan antara dirinya dengan Hart. Setelah saling menyakiti, ia yakin dalam hatinya Hart mengirimkan telepati pada Exodus untuk membantunya menghabisi nyawa Eve. Iya silahkan kalian main keroyokan, tapi Eve ingin sekali saja menggigit lenganmu, Hart. Meskipun tidak terlihat seperti daging yang enak alih-alih sudah alot. |
|
![]() |
|
|
| Floryn Lee | Sunday Jun 2 2013, 09:20 AM Post #343 | |
![]()
|
(*`д´)b DISTRIK 4 || HP: 26 || POSISI: 10 DUA BELATI, SATU TENDA “HADAAAA. KAMU DIMANA?” Dia sudah enggak peduli sama sekali dengan arena ini. Bohongan. Bau anyir di atas tanah dan rerumputan yang berbau manis membuat gadis cilik itu pusing. Semuanya ternyata enggak seindah yang dia bayangkan. Air matanya tumpah begitu saja begitu ia selesai dengan yang terakhir. Dia sudah membunuh lima orang. Setidaknya itu seimbang untuk kakaknya. Alethea harusnya sudah benar-benar tenang kan dengan ini semua? Si kecil itu sudah membalaskannya, ‘kan? Berlari dan berlari. Bahunya seperti merosot jatuh. Tangannya menyeret pedang yang dibawanya sejak tadi. Tenaganya sudah habis. Asanya yang digantung tadi sudah tidak bisa ia lihat jelas. Pembuktiannya pada Capitol sudah dilepaskannya tadi. Yang bisa dilakukannya sekarang hanya menangis dan terus berlari mencari rekannya. Well, pucuk dicinta ulam pun tiba. Indra dengar menangkap suara dari satu-satunya orang yang bisa membuatnya tetap waras. Nggak mau—hiks—pokoknya nggak mau, nggak mau, nggak mau, nggak mau. Nggak mau. Ini rengekan seorang bocah umur tiga belas tahun yang kejeblos Arena, wahai kamu yang menonton. Sebuah isakan di dalam hati, di mana luarnya dia tidak tahu harus tampak seperti apa lagi. Kali ini, dia hanya tahu berlari. Berlari yang cepat, namun untuk waktu yang lama. Berputar dan menembus bau darah dan entah ke mana. Dia hanya mau lari, yang jauh, yang gesit, agar tak ada yang menangkapnya dari belakang dan bilang dia harus kembali membunuh. Da-dah, pedang. Da-dah, darah. Sayonara, dia belum mau ketemu. Meskipun barusan—huek—dia melewati tempat penjagalan. Ada mata yang dicungkil, atau… isi perut yang dikuras, entahlah, entahlah, entahlah… “HADAAAA.” Dia mau ketemu rekannya. Hanya pemuda Atala itu yang membuatnya sadar kalau ia masih seorang anak kecil. Langkahnya semakin cepat begitu melihat orang yang memanggilnya tadi. Hada disana. Tangisnya benar-benar pecah. Tangannya kemudian menggapai-gapai tangan yang berusaha menggendongnya. Kemudian dia memeluk pemuda itu erat; menangis disana dan gemetar ketakutan. “Takut. Takut.” Dia sudah membunuh lima. Si kecil itu mau pulang. Dia tidak mau tahu lagi. Tidak mau. Tidak peduli. Dia sudah bunuh empat nyawa, dan mungkin dia akan terkutuk di Neraka. Bayangkan. Anak gadis umur tiga belas, merengek maaf kala mencabut nyawa, lalu menyesal setelahnya. Tapi dia melakukannya tiga kali lagi, masih dengan maaf yang sama, demi bertemu kakaknya sesudahnya. Kini, setelah kamu melarikan diri, Floryn, kamu mau apa? Berdoa supaya tidak dikutuk di alam baka? Rasa-rasanya, Floryn akan disiksa. dagh, semua. |
|
![]() |
|
|
| Madeleine Lethbridge | Sunday Jun 2 2013, 09:24 AM Post #344 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 68 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 11 (Elisa aku-tidak-tahu-nama-belakangmu) AP: [result]8&6,1d10,2,8&1d10+2[/result] || KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu Yang itu gagal. Tapi Madeleine belum menyerah, tenang saja. Ia masih berusaha menancapkan dan merobek perut gadis itu dengan bentuk vertical. Tidak ada lagi senyum atau basa-basi karena Madeleine harus segera mengakhiri ini dan beristirahat. “Mari buat kesepakatan, Eleven,” sudah datar, muka maupun suara gadis ini. Hanya sorot matanya yang jadi menajam. “Aku memberimu pilihan—mati cepat dan tanpa penderitaan, atau berlama-lama mati dan tersiksa.” Kesabaran Madeleine adalah hal yang paling tidak bisa diajak kompromi. Ia tak pernah suka berlama-lama menunggu sesuatu. Dan bukankah lagipula kematian yang bagus adalah yang cepat terjadi? Jadi, Elisa, jangan keras kepala. Kekuatan Madeleine ditumpukan pada lengan, diarahkan seluruhnya untuk membuat gadis itu tidak bisa melakukan apa-apa. Pisaunya, well, mungkin tidak lagi menancap tegas seperti tadi. Tapi cukup, harusnya cukup untuk membuat Sebelas terluka dan tidak bisa berlari terlalu jauh. Ah, malang—lari kemana pun percuma, sebetulnya, sama saja. Karier ada di mana-mana. Satu langkah salah, gadis itu malah bisa jatuh di tangan Karier yang berhati lebih kejam. Madeleine ini padahal versi Karier yang paling mulia hatinya, kamu tahu. Maka dari itu, jangan ke mana-mana. Tetaplah di sini dan biarkan Madeleine menghabisimu dengan caranya. Dengan cara yang manis dan tanpa penderitaan. Satu tebasan saja. |
|
![]() |
|
|
| Pietronella Hart | Sunday Jun 2 2013, 09:24 AM Post #345 | |
![]()
|
Oh. Gagal. Lagi. Baiklah. Setelah ini apa? Aroma di area bloodbaths bahkan semakin lama, semakin menyengat. Bau liquid merah segar yang lebih mirip seperti bau besi berkarat itu semakin merebak. Sudah lumayan banyak yang telah menjadi mayat, bahkan sebelum ia sampai berhasil membunuh hama pengganggu yang satu ini. Merutuk saja terus, tanpa tahu apa yang bakal terjadi apabila ia meneruskan tindakannya tersebut. Tidak, ia tak pernah tenang dengan kondisi sepelik sekarang. Inginnya cepat menyudahi perkelahian ini, dan biarkan ia beralih pada hal lainnya. Cecunguk lainnya. "Lama-lama bosan melawanmu." Entah mengapa, ini lebih terdengar seperti anak kecil yang baru saja merajuk, karena keinginannya tidak mampu tersampaikan. Benar, ia bisa saja berlaku demikian. Kelewat frustasi. Kalau ia berada di tengah keluarganya, mungkin mereka tak akan mau menanggapi omongan semacam ini. Tidak akan pernah. Itulah sebabnya, mengapa menjadi keras kepala itu terlampau menyenangkan baginya. Menitah siapapun dan apapun berdasarkan apa yang ia kehendaki. Ia mengepalkan tangan, dan melayangkannya ke arah torso sang gadis. Lalala |
|
![]() |
|
|
| Colleen Roosophire | Sunday Jun 2 2013, 09:31 AM Post #346 | |
![]()
|
DISTRIK 1 | POSISI: 1 | HP: 100 TARGET: CO D3(Isaac)(dengan senjata: Tampar) & CE D9(Stellaria)(dengan senjata: Tonjok) | AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] | KS: [result]13&13,1d24,0,13&1d24[/result] & [result]22&22,1d24,0,22&1d24[/result] Barang yang diambil: kompas dan sebungkus dendeng sapi Meleset. Kedua serangannya meleset. Sialan. Padahal hanya sekali serang lagi, mereka sudah mati. Lebih tepatnya, Isaac mati dan Stellaria sekarat. Tapi mengapa musti meleset!? "Maaf ya Isaac. Tamparanku sakit enggak tadi?" ucapnya, lalu mengayunkan tangannya kembali. Menampar pipi kanan pemuda itu lagi. Kali ini, ia akan pastikan untuk kena. Ia ngin pemuda Tiga itu mati dengan kedua pipinya merah. Kan lucu, seperti mati karena tersipu atau mati karena diputusin cewek. "Stellaria. Kau memang hebat, tapi sudah waktunya untukmu untuk tidur." ucapnya sambil menonjok perut gadis Sembilan itu. Seperti yang ia katakan sebelumnya, ia sangat ingin melihat Stellaria mengeluarkan seluruh isi perutnya ketika ditonjok. Pasti akan dramatis sekali. Mati dengan makanan dan darah keluar dari mulutnya. Walaupun kalau dipikir-pikir lagi, kejadian seperti itu bisa menjadi kejadian yang menjijikan. Apa Colleen capai? Tidak sama sekali. Dari tadi Colleen kerjanya hanya menontoni Hada membunuh empat orang berturut-turut, tanpa perlu bantuannya. Karena itu, sekarang, Colleen ingin membunuh kedua anak ini yang mukanya saja sudah bikin gadis pirang itu muak. Muak dengan waktu yang ia gunakan untuk membunuh kedua sampah itu. Masa ia menghabiskan waktu yang cukup lama hanya untuk membunuh kedua bocah itu? Lebih baik ia membantu karir lain seperti gadis Lee itu atau si Hada. Walaupun nantinya Hada tidak akan menyisakan apa-apa pada Colleen. |
|
![]() |
|
|
| Yasmine Silvertongue | Sunday Jun 2 2013, 09:36 AM Post #347 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 39 || POSISI: 6 TARGET: Terry Scott (tangan)|| AP: [result]5&5,1d9,0,5&1d9[/result] || KS: [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi “GILA! KAMU GILA YA?! SADAR DONG! DON’T JUST STAND THERE!” Yasmine ini frustasi sekali, sungguh. Masalahnya, tadi ia sudah memulangkan satu jiwa ke dunia lain tanpa bahkan mengenal latar belakang atau bahkan identitas si gadis. Kasihan, tetapi ia juga merasa bersalah. Sangat amat bersalah. Sedangkan pemuda ini? Melakukan hal yang tepat sama dengan si gadis itu. Astaga. Otaknya sudah dimakan oleh kecoa macam apa, hah? Dentum meriam berbunyi. Sekonyong-konyong, Yasmine menoleh dan mengedarkna pandangan. Gadis itu mendapati tubuh Harry tergeletak lemas tak berdaya di rerumputan hijau. Rumput yang tidak lagi tampak mengundang dengan begitu banyak darah berceceran. Harry Thompson mati. Sekarang tinggal dirinya dan Tume. Pelakunya. Gadis keparat bermuka manis itu. Lagi. Tadi Freida, sekarang Harry?! Tume… tolong, Tuhan, tolong jangan Tume, tolong. “Dengar, kau lebih baik pergi atau kau mati juga sekarang. Tidak menghargai nyawa sekali sih?!” Emosional gadis ini. Tetap tidak ada respon. “DUNGU YA?!” Dasar tidak tahu diuntung. Yasmine meninju tepat di pelipis. Kalau begitu memang lebih baik ia mendapat kehidupan lain dan bukan di Panem beserta Hunger Games ini. Leira, Jess, tolong jangan tiru temperamen kakakmu ini. Ia tidak bisa dikatakan menyesal. Ia telah merasakan banyak kehilangan hanya dalam waktu beberapa jam. Itu sangat pahit. Yasmine tidak akan memaafkan gadis kecil bak tuyul itu. |
|
![]() |
|
|
| Ferina Secret | Sunday Jun 2 2013, 09:36 AM Post #348 | |
![]()
|
“Sialan.” Umpatan terdengar lirih, juga decak pelan bisa didengar siapapun yang berada di dekatnya namun, kenyataan sepertinya tak ada yang peduli juga kendati mereka berada di dekatnya sekarang ini. Ia menarik napas tanpa suara lalu menghembuskannya panjang seolah lelah dengan semua ini—ingin mengakhiri namun nyawanya sendiri yang menjadi taruhan. Konyol, damai mungkin dinomor satukan dahulu namun satu kata itu kini hanyalah kata picisan yang berlaku sebaliknya dari makna kata itu tersendiri. Mereka ingin sebuah perdamaian namun, dibalur dengan rapi kata tersebut dengan darah yang berceceran selama beberapa puluh tahun ini. Kapan akan berakhir? Berdoa tak akan menjawab semuanya, mungkin hanya akan membuatnya berakhir di liang kubur—atau mungkin menjadi makhluk ciptaan Capitol, mendaur ulang tubuhnya menjadi sebuah bentuk lainnya hanya dengan sedikit kemiripan untuk menunjukan siapa mereka sebenarnya. Tragis memang namun, seperti Capitol pernah peduli saja dengan hal tersebut, semata hanyalah raga yang tak berguna yang kemudian dijadikan sebuah bentuk yang kiranya berguna bagi mereka lalu melenyapkannya hanya dalam hitungan detik. "You worthless bitch." Bibirnya berdarah karena bogem mentah, terkena gigi yang memberikan luka. Sialan, sepuluh sialan, jahanam. Biarkan saja mati dibunuh karier lain, kalau dia beruntung di Cornucopia ini. Biarkan saja mati dibunuh muttan. Tapi kalau gadis itu bertemu dengannya lagi, gadis itu akan ia cincang sampai tak berbentuk. Camkan itu, Sepuluh. Susul teman sedistrikmu—kalau tidak salah ia melihat rekan si gadis sudah berlumur darah, ditinggalkan. Payah. "Ethan, pergi saja. Biarkan saja dia dimakan mutt. Tak berguna." Gadis Secret itu mengajak rekan sedistriknya untuk menyingkir, dengan sorot mata benci terpatri di binernya untuk si gadis Sepuluh. Menarik lelaki Nestor itu menjauh, mencari mangsa lain, mencari korban lain. Gotcha. "Mau kemana, Lima? Main-main dengan kami dulu, oke?" ujarnya dengan belati yang diayun-ayunkan ringan, dengan senyum timpang tanda arogan. Setahunya, Alethea tidak pernah seperti ini. Reef juga. Mags... entah. Luke, jelas tak pernahnya. Tapi Abby, pernah melakukan hal yang sama seperti dirinya. Killing machine, hm? Dengan gerakan cepat, gadis itu menghujamkan belatinya ke leher si anak lelaki Lima, menorehkan luka, merembeskan darah segar. |
|
![]() |
|
|
| Pietronella Hart | Sunday Jun 2 2013, 09:37 AM Post #349 | |
![]()
|
HAHAHAHAGAGALSAJATERUSHAHAHAHA "Na'ah.. urm, White?" Harusnya, benar. Harusnya ia masih bisa mengingat nama anak perempuan itu dengan sebenar-benarnya. White, nama keluarga yang kini bersemayam di daerah distrik sembilan. Ia tak pernah percaya, menghabisi anak ini saja bahkan membuat ia mengerahkan seluruh akalnya. Terlalu bermain dengan kekerasan, pun rasanya tidak. Serangannya yang membabi buta itu tak pernah lagi mengenai sasaran. "Mengapa kau tidak menyerah saja?" Ia menimpali perkataannya barusan. Iya, menyerah. Bagaimana menurutmu, tubuh yang sudah berubah jauh lebih buruk ketimbang keadaan kali pertama menginjakkan kaki di Cornucopia. Ini namanya negoisasi kecil-kecilan. Toh, ujung-ujungnya bakal mati, kan? Berbeda halnya dengan seorang Pietronella Hart yang hanya mengetahui ulu hatinya tak sengaja tertusuk pisau atau apalah itu yang sempat ditancapkan oleh si lawan. Jalang, oh. "Terima kasih, terserah kau." Sayang sekali, ia bahkan malas memedulikan omongan gadis tersebut. Barusan, ia kembali menyeringai sakit berkat tumpuan yang diberikan oleh lawannya tersebut. Terus saja, teruskan saja. Ia toh tidak akan pernah mau mengalah. Sekalipun bosan, yea. Lagi, ia kembali beralih pada belatinya, dan menghunuskannya ke arah perut. |
|
![]() |
|
|
| Madeleine Lethbridge | Sunday Jun 2 2013, 09:37 AM Post #350 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 68 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 11 (Elisa aku-tidak-tahu-nama-belakangmu) AP: [result]5&3,1d10,2,5&1d10+2[/result] || KS: [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu Lee sudah tidak ada. Baguslah. Setelah garis vertical panjang, Madeleine mengarahkan pisaunya di ujung garis, lantas membuat satu garis horizontal kecil. Manis, luka itu tampak manis, terlebih berpenghias darah segar yang mengucur dan merembesi pakaian Elisa si Sebelas. Begitu pula dengan tangan Madeleine yang sudah penuh akan noda darah, wajahnya, pakaiannya. All red—dan berbau anyir. Mayat-mayat beronggokan di sekitar, dan tidak ada satu pun dari tributes yang mau peduli. Maka dari itu jangan mati. Kematian hanya akan membuatmu dilupakan. Maka dari itu Madeleine tidak mau mati, karena Madeleine adalah gadis yang mau dikenang, tidak mau dengan mudah dilupakan. Apalagi sebab ini, permainan ini. No.. just no. “Great—teruslah begini dan jadi lah anak baik.” Madeleine memamerkan satu senyum dengan pandangan mata malah nyaris kosong. Luka itu ditatap, lantas ditekan kuat untuk menimbulkan rasa sakit. Pekikan—memekiklah, buat Madeleine merasa senang. Karena semakin kamu membuat dia senang, semakin cepat dia akan menyelesaikan ini buatmu. “Apa kamu ada permintaan khusus?” pisau itu, well, kini akan ditarik membentuk garis miring. “Madeleine, promise you will be all good. Tidak akan pernah melakukan kejahatan dengan alasan apapun.” “Yes, Mother. I will.” Janji manusia adalah sama sekali tidak bisa dipercaya. |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
![]() ZetaBoards gives you all the tools to create a successful discussion community. Learn More · Sign-up Now |
|
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |















9:33 PM Jul 11