|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,745 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | |
|---|---|
| Stephanie White | Sunday Jun 2 2013, 09:38 AM Post #351 |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 22 || POSISI: 7 TARGET: Pietronella Hart || AP: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] || KS: [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result] (satu tempat minum kulit, tiga kotak biskuit) Jangan beritahu mereka kalau sebenarnya kau sudah lelah, Eve. Eve mengelap peluh yang bercucuran, berusaha mengatur nafasnya dengan baik. Tubuhnya menegang di ujung sana, matanya semakin berkilat dengan bulir cokelat yang sudah ingin mengatup rapat-rapat. Rasanya seperti tidak adil saja, sungguh. Sebanyak apapun ia melawan, hanya sedikit dari perlawanannya yang bisa mengenai anak karier. Apa yang salah? Apa yang salah dari sekian banyak serangannya dan tidak membuahkan hasil satu pun? Kecuali tadi, kecuali giginya yang menancap tadi beberapa saat yang lalu. Eve menghela nafas, menghindari paling tidak sesuatu yang diarahkan pada tengkoraknya. Tidak kena, sayang. Sama sekali tidak kena, bila ada perlombaan menghindar, mungkin dia yang paling pintar. Peserta karier ini mungkin senang menyakiti dirinya, nanti ada saat ia akan menjemput mautnya sendiri. Sekarang biarkan ia bermain-main dulu dengan para peserta karier alih-alih malaikat maut yang menjemputnya. Mengukir senyum asimetris, setidaknya jangan ada dendam diantara kita. Baru kenal ‘kan? Atau pernah kenal? Tidak tahu, Eve. Jangan berguyonan, serang saja kakinya dengan pisau di tanganmu, sekarang. |
![]() |
|
| Exodus Kruchev | Sunday Jun 2 2013, 09:42 AM Post #352 |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 95 || POSISI: 7 TARGET: Stephanie White (D9) & Altessa Lychnia (D6) || AP: [result]6&4,1d10,2,6&1d10+2[/result] || KS: [result]14&14,1d24,0,14&1d24[/result] & [result]21&21,1d24,0,21&1d24[/result] 4 kotak biskuit Wah, berani melawan Karier, ya? Dengan santainya, Exodus menyingkir dari serangan demi serangan yang dilancarkan White. Bahkan, gadis semanis itu sampai berani menyerang organ vitalnya. Entah apa yang ada di pikiran Stephanie White hingga nekat menjatuhkannya dengan cara tidak biasa seperti itu. Pikirnya, dia bisa membuat sensasi menundukkan seorang Karier, eh? Tangan yang mencengkeram rambut gadis itu telah berganti menjadi sebuah objek untuk menampar. Telak. Berikutnya yang akan dia lakukan adalah memberikan tendangan di tulang kering korban. Sudah berapa lama Bloodbaths berjalan? Coba tebak, rasanya belum sampai matahari berada di atas mereka, tapi berapa banyak korban yang telah berjatuhan? Delapan, kalau tidak salah? Si Kevin Fremunzar sudah mati. Berapa banyak lagi hingga semua ini segera diakhiri? Tidak secepat yang kau harapkan. Bahkan, belum semua peserta dia lihat berada dalam batas seranganya. “Halo, cantik. Sendirian saja?” Jangan lupa senyum yang biasa diberikan Exodus pada kaum hawa itu, dear. “Bagaimana kalau kutemani?” Langkah pemuda itu bergerak mendekati gadis Enam dan berusaha mengunci pergerakan tangan gadis itu sebelum melawan. Dia berusaha memuntir pergelangan Altessa Lychnia. Cantik-cantik begini tidak seharusnya berada di tempat sekejam ini, bukan? Senyum pemuda itu masih mengembang sambil menatap entitas di sana. Jangan banyak berulah atau maut lebih dulu datang menjemputmu. |
![]() |
|
| Colleen Roosophire | Sunday Jun 2 2013, 09:46 AM Post #353 |
![]()
|
DISTRIK 1 | POSISI: 1 | HP: 100 TARGET: CO D3(Isaac)(dengan senjata: Tampar) & CE D9(Stellaria)(dengan senjata: Tonjok) | AP: [result]7&5,1d10,2,7&1d10+2[/result] | KS: [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result] & [result]9&9,1d24,0,9&1d24[/result] Barang yang diambil: kompas dan sebungkus dendeng sapi Serangannya pada gadis itu kena. Tapi serangannya yang ditujukan pada Isaac, meleset. Setidaknya, kedua bocah itu sudah sekarat. Sekali serang lagi, pasti mati. Gadis Roosophire itu hanya perlu melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. "ISAAC! Mati kau!" Lalu tangan kanannya diayunkan kembali. Menampar pipi kanan pemuda Tiga itu. Kenapa sih!? Padahal hanya tinggal tampar doang, tapi susah banget. Meleset terus. Pokoknya, kali ini tidak boleh meleset. "AKU TAHU TAMPARANKU TADI SAKIT!" "Stellaria, jadilah gadis yang baik, dan mati lah. Kay?" tanyanya sambil memberikan senyum manis dan cerah. Jarang-jarang orang akan melihat senyum seperti ini di Arena nantinya. Jadi mumpung gadis Roosophire itu mengeluarkan senyumnya, lebih baik, nikmati saja senyumannya. Peserta yang mati semakin banyak. Tentunya kebanyakan dibunuh karir. Atau jangan-jangan, semuanya dibunuh karir. Tenang saja, Colleen akan menambah jumlah yang mati hari ini. Sekarang juga. Saat ini. Di tempat ini. Di Cornucopia yang cantik dan megah cetar-membahana ini. Tangannya yang masih dikepal, menonjok gadis Stellaria itu lagi. Dirinya ingin melihat lebih banyak drama. Seharusnya gadis Sembilan itu memuntahkan sesuatu. Entah itu darah atau makanan. Pokoknya gadis bermanik biru itu ingin melihat ada sesuatu yang keluar dari mulut Stellaria. |
![]() |
|
| Madeleine Lethbridge | Sunday Jun 2 2013, 09:47 AM Post #354 |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 68 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 11 (Elisa aku-tidak-tahu-nama-belakangmu) AP: [result]3&1,1d10,2,3&1d10+2[/result] || KS: [result]7&7,1d24,0,7&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu Kadang dia berharap bisa jadi Aletea Lee yang amat beruntung. Oh, atau Solanin pun tidak apa, well. Sama beruntungnya dan disayang Fortuna. “Hmpth,” Gagal, gagal, gagal—maaf Elisa, tapi dia tak akan membiarkanmu mati tenang sebab ini. Tidak menyerah, pisau itu tetap diarahkan dengan cara yang sama, berniat membentuk garis horizontal kecil. Tapi kali ini tenaganya lebih tegas. Tangan Elisa berusaha dicengkeram agar ia lebih mudah melakukan apa yang dia mau. Elisa itu perempuan, kekuatan mereka harusnya sama. Tidak mirip saat ia melawan Kevin Fremunzer dan berujung menuai gagal berkali-kali. Lebih lagi, Madeleine itu istimewa—dia tahu lebih banyak strategi yang tidak kamu tahu. Elisa itu distrik sebelas. Yang ada di tempat amat bawah. Dua dari bawah melawan dua dari atas. Bisa kamu lihat seberapa kamu dan Madeleine sebegitu jauh terpautnya, kan, Elisa? Jadi, menyerahlah. Okay? “Tadinya padahal aku ingin berbuat baik—tapi kamu tidak mau,” tapi kamu tidak mati-mati, dan Madeleine lama kelamaan jadi mendengki. Ia geram dan gusar, tapi untuk kali ini bisa ditahan karena kamu baru membuatnya gagal dua kali. Ah atau tiga? Who cares. Yang satu ini, sebabnya, well, ia percaya tak akan gagal lagi. |
![]() |
|
| Yasmine Silvertongue | Sunday Jun 2 2013, 09:48 AM Post #355 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 39 || POSISI: 6 TARGET: Terry Scott (Pistol)|| AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]22&22,1d24,0,22&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi “Kamu tuh ngerti nggak sih?!” Hanjir. Rasanya seperti bicara dengan mumi. Atau boneka. Atau patung. Bahkan dengan avos rasanya masih lebih manusiawi. INI?! Yasmine menyeretnya pergi. Sekarang sungguh kesempatan emas untuk bisa pergi dari Cornucopia. Tetapi apa? Apa yang dilakukan si pemuda? Ia menahan diri! Gila ya?! Mau mati di Bloodbath sih bilang saja daritadi. Meledakkan diri kalau perlu malah. Yasmine berubah geram. Ia mengambil pistolnya. Merasakan bobot benda itu pada tangan sebelum kembali melayangkan serangan bertubi-tubi pada siapapun itu nama pemuda dari distrik berapa juga tidak tahu. Gila, diajak untuk selamat bersama malah menghalangi Yasmine untuk hidup lebih lama. Dunia ini memang setan. “Sudah! Sudah hoi sudah!” Ia menggebuk si peserta dengan gagang pistol udaranya pada bagian ubun-ubun dan kening. Kemudian memukulinya lagi pada bagian punggung dan tubuh depan, di bagian dada. Lama-lama Yasmine tidak merasa pemuda itu mengalami disorientasi. Mungkin ia mengajak Yasmine—yang berniat membantunya—untuk mati bersama. Dasar sinting. Ogah. Lebih baik ia tidak ada di Arena ini. Andaikan Yasmine bisa menukar jiwanya dengan Freida, atau Harry, tolong lah… ia akan sangat tergoda untuk melakukannya. Memang tidak tahu diuntung! |
![]() |
|
| Maysilee Donner | Sunday Jun 2 2013, 09:50 AM Post #356 |
![]()
|
DISTRIK 12 || HP: 100 || POSISI: 9 TARGET: DISTRIK 8 (Curealight) || AP: [result]4&2,1d10,2,4&1d10+2[/result] || KS:[result]15&15,1d24,0,15&1d24[/result] 1 pistol udara, 1 pisau, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit Lihat? Berantakan. Semuanya porak-poranda, dan yang cantik sudah tidak lagi rupawan. Yang segar sudah merangsek jadi basi. Yang asri sudah berubah jadi layu. Secepat itulah keadaan berubah, dan Maysilee Donner tidak suka. Seolah semua orang berlarian kemana-mana, dan dia tidak bisa menyusul. Serangannya selalu seperti itu—lambat, tidak cukup kuat. Semua orang memiliki pace mereka sendiri, dan mereka mengerikan hanya dengan itu. Dia tidak lagi mengerti apa itu batas fisik. Rasanya seperti semua orang memiliki bakat alami dalam menendang, memukul, ringkasnya—membunuh. Atau itu hanya besar di niat? Maksudnya, kalau dia lihat ke sekitar sekarang juga… sudah banyak meriam yang berbunyi, kan. dan dia tidak seharusnya menghitung. Seolah ada tanduk yang muncul, dan lidah yang bercabang. Ada trisula merah di satu tangan dan Grim Reaper memperhatikan dengan sabit siap. Banyak yang tercabut. Banyak yang menghilang dan tumbang. Banyak darah yang menyimbahi tanah, tidak ada keraguan, tidak ada antisipasi: seolah dia sudah tahu, Karier memang semengerikan ini. Dia tidak berani lagi menilai situasi. Sedari tadi, dia sudah mendengar banyak. Jerit-jerit, isak tangis, bahkan ada sedikit tawa yang dengan mengerikannya tervokal. Terkadang pula, telinganya menuli, sehingga yang terdengar hanyalah detak jantungnya sendiri. Dia terengah dan menarik napas seiring kakinya menjejak lagi. Teknik yang itu dipelajarinya sekali waktu di Pusat Pelatihan. Tendangannya tidak pernah cukup kuat, namun biarlah—yang penting dia menyerang. Pisaunya masih di tangan. Dia tidak menyukai pertarungan jarak dekat, namun dia ingin menyimpan pistol udaranya untuk nanti. Maysilee menarik napasnya, menata detak jantungnya sesaat. Menatap sang gadis yang tadi terkena serangannya dua kali. Pandangannya setengah meminta maaf, namun pula setengah menyesal karena merasa harus meminta maaf. Karena kalau dia tidak bergerak, memangnya lawannya itu tidak bakal membunuhnya? Dia maju lagi. Pisaunya bergerak maju, ditodong ke arah perut gadis itu. Berusaha menusuk. |
![]() |
|
| Pietronella Hart | Sunday Jun 2 2013, 09:53 AM Post #357 |
![]()
|
DISTRIK 2 || HP: 80 || POSISI: 7 TARGET: DISTRIK 9 (Stephanie White) || AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] || KS: [result]16&16,1d24,0,16&1d24[/result] 2 pistol udara, 1 tombak, 1 belati Ia nyaris selalu mengerling berulang ke arah sisi lainnya. Tak jarang, ia kemudian beralih memeriksa kondisi lain. Berharap-harap cemas manakala bakal ada serangan kedua dari pihak entah siapa. Mana tahu kalau ternyata Pats hidup lagi mayatnya, jadi zombi. Blah. Nasibnya apes sekali, dia ini. Tak habis pikir sama sekali jikalau ia menuju kepada apa yang diperbuat oleh teman-temannya yang lain. Floryn Lee, bahkan sudah beringsut ke puncak terompet. Jauh, nun jauh disana. Sementara dia ini, masih saja berurusan dengan sosok yang serupa dari waktu ke waktu. Gadis itu membunuh lima, kalau tak salah. Kurang rajin apa, bahkan sampai menghitung keberhasilan milik orang lain. Sempat-sempatnya. Miliknya sendiri pun nyaris tak ada peningkatan. Bobrok sekali. Entah apa yang bakal dipikirkan oleh para warga yang berada di distriknya. Menonton. Sudah dapat dipastikan, mereka barangkali tengah menonton pertunjukkannya yang ditudungi oleh kesialan semata. Oh ya, tertawalah. Untung saja, ia tak bertelinga panjang. Hurr. Tidak tahu lagi. Yang jelas, ia asal menancapkan belatinya di sembarang tempat. Masa bodoh. |
![]() |
|
| Stephanie White | Sunday Jun 2 2013, 09:53 AM Post #358 |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 21 || POSISI: 7 TARGET: Exodus Kruchev || AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] (satu tempat minum kulit, tiga kotak biskuit) Kalau Hart lelah melihat Eve melawan, Eve juga sudah lelah menyakiti Hart sejak tadi. Beberapa serangannya memang meleset sih. Dia lebih lelah lagi, dikepung dua orang, apalagi Exodus yang tangannya persis karet. Mendengus sebal, coba saja nih beberapa menit lagi Exodus pasti muncul dan langsung menyerang Eve tanpa ampun, entah menjambak atau mengepang rambutnya. Terserah yang mana saja, lelaki itu hobi sekali bermain dengan kepalanya. Tangannya ringan sekali, beberapa menit yang lalu Eve ditampar, ditonjok, dianu-anukan pokoknya oleh Exodus, Eve menahan sabar, teramat sabar. Anggap saja ia kaum proleta yang lebih banyak nurut pada kaum borguis. Tapi memang benar sih, kawanan karier ‘kan memang beberapa tingkat diatas distrik lain, apalagi ini distrik dua. Hoo, yasudahlah ya… Dia bisa saja pasrah setelah ini. Tapi Eve tak suka menyerah begitu saja bahkan ketika ia bertengkar dengan Clause, sifat keras kepalanya seringkali muncul, tidak mau mengalah. Makanya Hart mungkin pegal dengan perlawanan Eve sama halnya ia pegal hati ketika Exodus kembali menyerangnya. Ini bagian paling menyebalkan ketika si kardus kembali menyerangnya. Sampah, kau tahu sampah? “Hobi ya jambak-jambak rambut orang, Subur?” Eve berbalik ketika surainya ditarik paksa, sedangkan tulang kering terkena serangan, ia mundur beberapa langkah. Menahan sakit dan terduduk, ia merangkak perlahan meraih satu pisau. Dilemparnya kepada Exodus tanpa berusaha melihat bagian mana yang menjadi incarannya. |
![]() |
|
| Madeleine Lethbridge | Sunday Jun 2 2013, 09:58 AM Post #359 |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 68 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 11 (Elisa aku-tidak-tahu-nama-belakangmu) AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] || KS: [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu Alethea, Alethea, Alethea. Solanin, Solanin, Solanin. Ia sudah tidak percaya pada Fortuna. Omongkosong—tidak pernah berpihak kepadanya. Jadi kini, ia percayakan sepenuhnya keberuntung Madeleine pada dua nama yang tadi ia gumamkan dalam hati. Jangan kecewakan dia, ya? Karena kepercayaan Madeleine itu rapuh dan mudah hilang. Sekali ia percaya dan dikecewakan, tak akan lagi dia mau menaruh percaya padamu untuk kali kedua. She didn’t believe in second chance. Tidak pernah percaya. Kali ini tanpa banyak basa-basi, well, Madeleine mengencangkan pegangan pada pisau yang ada di tangannya. Membuat garis miring, membuat garis horizontal, membuat banyak garis. Biar ini semua tidak semakin membuang waktunya serta kesabarannya yang berharga. Rambut gadis berkulit gelap itu ia tarik kasar, membuat kepala gadis itu mendongak. “Mati saja, would you? Karena aku bosan,” tersenyum miring dan ganjil, Madeleine menusukkan pisau itu makin dalam. Makin dan makin dalam. Menggores sekaligus melukai. “Kalau kamu tidak juga mati, kubuat kamu lebih menderita dari ini,” masih tersenyum, ia memainkan rambut gadis itu—berniat menggundulinya saja. Kamu seharusnya tahu kalau Madeleine tidak pernah bercanda dengan apa yang dia ucapkan. Jadi, well, “You choose.” |
![]() |
|
| Colleen Roosophire | Sunday Jun 2 2013, 09:59 AM Post #360 |
![]()
|
DISTRIK 1 | POSISI: 1 | HP: 100 TARGET: CO D3(Isaac)(dengan senjata: Tampar) & CE D9(Stellaria)(dengan senjata: Tonjok) | AP: [result]3&1,1d10,2,3&1d10+2[/result] | KS: [result]15&15,1d24,0,15&1d24[/result] & [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result] Barang yang diambil: kompas dan sebungkus dendeng sapi Meleset. Kedua serangannya meleset. Nyebelin enggak sih? Nih dua bocah, susah banget sih matinya. Padahal hanya tinggal sekali serang juga mati. Sekarat aja bangga. Tanpa berbasa-basi lagi, Colleen menonjok perut gadis Stellaria itu dan menampar pipi kanan pemuda Isaac itu. Bingung mengapa ia hanya menyerang dengan jurus yang sama? Itu karena agar lebih dramatis, bukan begitu? Menurutnya sih begitu. Dia berjuang seperti ini agar Codette yang berada di rumah, salut padanya. Juga dengan pelatihnya Demian Hogg. Apa lagi, ia sangat ingin membuat Presiden Snow bangga padanya. Jika ia membuat pelatihnya dan Presiden Snow bangga, pasti ia bisa keluar dari Arena ini dengan selamat dan pasti dirinya akan mendapatkan macam-macam penghargaan. "Kalian berdua mati dong." Ucap sambil memasang wajah sepolos-polosnya. Doakan saja dewa merestui serangannya kali ini. Jika direstui, pasti kedua sampah di depannya akan mati. Lalu, Colleen bisa berpindah dari kedua sampah ini, ke sampah yang lain. Atau mungkin dirinya bisa isthirahat. Maniknya berputar mengelilingi seluruh Cornucopia. Sepertinya yang masih aktif hanya para karir ya. Dan beberapa non-karir. Sisanya yang tidak aktif, tinggal tunggu ajal saja. Contohnya kedua sampah di depannya yang dari tadi tidak bertindak sama sekali. Membalas serangan gadis Roosophire saja tidak. Dasar sampah! Mampus saja. Kalian tidak berhak mendapatkan waktu gadis dari Distrik Satu ini. |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |















9:33 PM Jul 11